You are on page 1of 10

1

Frekuensi Infeksi Malaria di Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Bukittinggi tahun
2012
Ali Arsyad
11103084453441


ABSTRAK
Malaria merupakan penyakit infeksi yang harus diberantas dan dikurangi disebabkan oleh
beberapa tipe parasite yaitu: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium
malariae, dan Plasmodium ovale.Berdasarkan data Ditjen PP & PL Depkes RI tahun 2009
penyebab malaria tertinggi adalah Plasmodium vivax (55.8%), kemudian Plasmodium
falciparum(40.2%) dan berdasarkan data riskesdas 2010 yang mendapatkan 86.4%
penyebab malaria adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax sebanyak 6.9%.
Dalam rangka pengendalian penyakit malaria banyak hal yang sudah maupun yang sedang
dilakukan baik skala global maupun nasional. Malaria merupakan salah satu indikator dari
target Pembangunan Millennium (MDGs) dimana ditargetkan untuk menghentikan
penyebaran dan mengurangi kejadian insiden malaria di tahun 2015 yang dilihat dari
indikator menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat malaria.
Telah dilakukan penelitian secara retrospektif pada tanggal 23Agustus 2013, didapatkan
hasil penelitian pemeriksaan malaria di Laboratorium Rumah Sakit Islam Ibnu Sina
Bukittinggi selama tahun 2012, didapatkan 244 sampel pemeriksaan dan ditemukan kasus
malaria sekitar 5% ( 12 sampel ) dimana 2,4% ( 6 sampel ) disebabkan oleh Plasmodium
vivax, 2% ( 5 sampel ) disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan 0.6% ( 1 sampel )
mix Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Dalam pemeriksaan malaria ini
menggunakan metode sediaan darah tipis dan rapid test malaria.
2

Latar belakang
Malaria
merupakansalahsatupenyakitinfeksiseriusd
ankomplek yang dihadapi manusia.
Penyakit ini terutama disebabkan empat
spesies parasite protozoa (Plasmodium
falcifarum, Plasmodium vivax,
Plasmodium malariae, Plasmodium ovale)
yang menginfeksi sel darah merah
manusia. (Trigg dan Kondrachine,1989)
Penyakit malaria telahdiketahuisejak
zamanYunani. Klinis penyakit malaria
adalahkhas, mudah dikenal karena suhu
tubuh yang
naikturundanteraturdisertaimenggigil,
makapadawaktuitusudahdikenalfebristersia
nadanfebriskuartana.
Disampingituterdapatkelainanpadalimpa,
yaitusplenomegali: limpa membesar dan
menjadikeras, sehinggadahulupenyakit
malaria disebutdemamkura. (Pribadi,1998)
Di Indonesia sampaisaatinipenyakit
malaria
masihmerupakanmasalahkesehatanmasyara
kat.Angka penderita
penyakitinimasihcukuptinggi, terutama di
daerah Indonesia bagiantimur.
Plasmodium family Plasmodiidae dan ordo
coccidaidae, sampai saat ini dikenal empat
macam yaitu Plasmodium falciparum,
Plasmodium vivax, Plasmodium malariae,
Plasmodium ovale dan jenis ini jarang
sekali dijumpai di Indonesia. ( Hiswani,
2004).
Di
daerahtrasmigrasidimanaterdapatcampuran
penduduk yang berasaldaridaerah yang
endemisdantidakendemis malaria, di
daerahendemis malaria
masihseringterjadiletusan Kejadian Luar
Biasa (KLB) malaria.
Olehkarenakejadianluarbiasainimenyebabk
aninsiden rate penyakit malaria
masihtinggi di daerahtersebut.
Dewasainiupayapemberantasanpenyaki
t malaria dilakukanmelalui,
pemberantasanvektorpenyebab malaria
(nyamuk Anopheles)
dandilanjutkandenganmelakukanpengobata
nkepadamereka yang didugamenderita
malaria
ataupengobatanjugasangatperludiberikanpa
dapenderita malaria yang
terbuktipositifsecaralaboratorium.(
Hiswani, 2004 )
Malaria
merupakansalahsatumasalahkesehatanmas
yarakat yang
dapatmenyebabkankematianterutamapadak
elompokrisikotinggiyaitubayi, anakbalita,
ibuhamil, selainitu malaria
secaralangsungmenyebabkan anemia
dandapatmenurunkanproduktivitaskerja.Pe
nyakitinijugamasih endemis
disebagianbesarwilayah Indonesia.
Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga
tahun 2001 terdapat 15 juta kasus malaria
dengan 38.000 kematian setiap tahunnya,
diperkirakan 35% penduduk Indonesia
tinggal didaerah yang beresiko tertular
malaria, dari 438 Kabupaten/Kota yang
ada di Indonesia 338 Kabupaten/Kota
merupakan endemis malaria.
Dalamrangkapengendalianpenyakit
malaria banyakhal yang
sudahmaupunsedangdilakukanbaikdalamsk
ala global maupunnasional. Malaria
merupakansalahsatu indicator dari target
Pembangunan Milenium (MDGs),
dimanaditargetkanuntukmenghentikanpeny
ebarandanmengurangikejadianinsiden
malaria padatahun 2015 yang dilihatdari
indicator
menurunnyaangkakesakitandanangkakema
tianakibat malaria. Global Malaria
Programme (GMP) menyatakanbahwa
malaria merupakanpenyakit yang
harusterusmenerusdilakukanpengamatan,
monitoring danevaluasi,
sertadiperlukanformulasikebijakandanstrat
3

egi yang tepat.( Buletin malaria Kemenkes:
2011)

Bukittinggi yang bersuhu rendah dan
berada didaerah pegunungan tidak
memungkinkan untuk nyamuak malaria
berkembang biak, di Rumah Sakit Islam
Ibnu Bukittinggi masih dijumpai kasus
terjakitnya penyakit malaria pada pasien,
Berdasarkan permasalahan ini, penulis
ingin mengetahui apakah penyakit malaria
berkembang di Bukittinggi dengan
memeriksa perjalanan penyakit
berdasarkan pemeriksaan ke Laboratorium
Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Bukittinggi
baik pasien rawat inap anatau pun
kunjungan ke Poliklinik selama tahun
2012. Untuk itu, dilakukan penelitian
dengan judul Frekuwensi Infeksi
Malariadi RumahSakit Islam
IbnuSinaBukittinggitahun 2012.
TINJAUAN PUSTAKA
Malaria
Malaria adalah suatu penyakit yang
disebabkan oleh protozoa, genus
plasmodium dan hidup intra sel yang dapat
bersipat akut dan kronik. Transmisi
berlangsung di lebih dari 100 negara
dibenua Afrika, Asia, Oceania, Amerika
Latin, Kepulauan Karibia dan Turki. Kira
kira 1,6 milyar penduduk daerah ini berada
selalu dalam resiko terkena malaria. Tiap
tahun ada 100 juta kasus dan meninggal 1
juta didaerah Sahara Afrika. Sebagian
besar yang meninggal adalah bayi dan
anak anak, P. malariae dan P.
falciparum terbanyak diderah ini.
(Zulkarnain dan Setiawa,2006)
Parasit malaria pada manusia terdapat
empat spesies: Plasmodium vivax,
Plasmodium falciparum, Plasmodium
malariae, dan Plasmodium ovale. Pada
kera ditemukan spesies spesies parasit
malaria yang hampir sama dengan parasit
manusia antara lain: Plasmodium
cynomolgi menyerupai Plasmodium vivax,
Plasmodium knowlesi menyerupai
Plasmodium falciparum dan Plasmodium
malariae, Plasmodium rodhaini pada
chimpanzee di Afrika dan Plasmodium
brasilianum pada kera di Amerika Selatan
sama dengan Plasmodium malariae pada
manusia. Manusia dapat diinfeksi oleh
parasit malaria kera secara alami dan
secara eksperimental, begitupun sebaliknya
dapat terjadi. ( Pribadi,1998)
Cara infeksi
Waktu antara nyamuk menghisap darah
yang mengandung gametosit sampai
mengandung sporozoid dalam kelenjer
liurnya disebut masa tunas ekstrinsik.
Sporozoid adalah bentuk infektif, infeksi
dapat terjadi dengan dua cara: 1) secara
alami melalui vector, bila sporozoid
dimasukkan kedalam badan manusia
dengan gigitan nyamuk dan 2) secara
induksi, bila stadium aseksual dalam
eritrosit secara tidak sengaja masuk
kedalam badan manusia melalui darah,
misalnya dengan transfusi, suntikan atau
secara congenital (bayi baru lahir
mendapat infeksi dari ibu yang menderita
malaria melalui darah plasenta), atau
secara sengaja untuk pengobatan berbagai
penyakit (sebelum perang dunia II).
(Pribadi,1998)
Daur hidup parasit malaria
Infeksi parasit malaria pada manusia mulai
bila nyamuk anopheles betina menggigit
manusia dan nyamuk akan melepaskan
sporozoit kedalam pembuluh darah dimana
sebagian besar dalam waktu 45 menit akan
menuju ke hati dan sebagian kecil sisanya
akan mati di darah. Di dalam sel parenkim
hati mulailah perkembangan aseksual
(intrahepatik schizogony atau pre-
erythrocyte schizigony). Perkembangan ini
memerlukan waktu 5,5 hari untuk
4

Plasmodium falciparum dan 15 hari
untukPlasmodium malariae. Setelah sel
parenkim hati terinfeksi, terbentuk sizont
hati yang apabila pecah akan
mengeluarkan banyak merozoit ke
sirkulasi darah. Pada P. vivax dan P. ovale,
sebagian parasit di dalam sel hati
membentuk hipnozoit yang dapat bertahan
sampai bertahun tahun, dan bentuk ini
yang akan menyebabkan terjadinya relaps
pada malaria.


Gambar 1. Siklus hidup parasit malaria
Sumber : Depkes 2008

Setelah berada dalam sirkulasi darah
merozoit akan menyerang eritrosit dan
masuk melalui reseptor permukaan
eritrosit. Pada P. vivax reseptor ini
berhubungan dengan factor antigen Duffy
Fya atau Fyb. Hal ini menyebabkan
individu dengan golongan darah Duffy
negatif tidak terinfeksi malariaP.vivax.
Reseptor untuk P. falciparum diduga suatu
glycophorins, sedangkan pada P. malariae
dan P. ovale belum diketahui.
Patogenesis
Patogenesis malaria falciparum
dipengaruhi oleh paktor parasit dan factor
penjamu (host). Yang termasuk dalam
factor parasit adalah intensitas trasmisi,
densitas, parasit, dan virulensi parasit.
Sedangkan yang masuk dalam factor
penjamu adalah tingkat endemisitas daerah
tempat tinggal, genetic, usia, status nutrisi
dan status imonologi. Parasit dalam
eritrosit (EP) secara garis besar mengalami
2 stadium, yaitu stadium cincin pada 24
jam I dan stadium matur pada 24 jam ke II.
Permukaan EP stadium cincin akan
menampilkan antigen RESA (Ring-
Erithrosyte Surgase Antigen) yang akan
menghilang setelah parasit masuk stadium
matur. Permukaan membran EP stadium
matur akan mengalami penonjolan dan
membentuk knob dengan Histidin Rich-
Protein 1 (HRP1) sebagai komponen
utamanya. Selanjutnya bila EP tersebut
mengalami merogoni, akan dilepaskan
toksin malaria berupa GPI yaitu
glikosilfosfatidinositol yang merangsang
pelepasan TNF- dan interleukin-1 (IL-1)
dari magrofag
Manifestasi umum malaria
Malaria mempunyai gambaran
karakteristik demam periodic, anemia,
splenomegali. Masa inkubasi bervariasi
pada masing- masing Plasmodium.
Keluhan prodromal dapat terjadi sebelum
terjadinya demam berupa kelesuan,
malaise, sakit kepala merasa nyeri di
punggung, nyeri sendi dan tulang, demam
ringan, anoreksia, perut tak enak, diare
ringan dan kadang kadang dingin.
Keluhan prodromal sering terjadi pada
vivax dan ovale, sedang pada P.
falciparum dan P. malariae keluhan
prodromal tidak jelas bahkan gejala dapat
mendadak.
Gejala yang klasik terjadi trias
malaria secara berurutan: periode dingin
(15-60 menit): mulai menggigil, penderita
sering membungkus diri dengan selimut
atau sarung dan saat menggigil sering
seluruh badan bergetar, diikuti dengan
meningkatnya temperatur diikuti dengan
periode panas: muka penderita merah, nadi
cepat, dan panas badan tetap tinggi
beberapa jam diikuti dengan keadaan
5

berkeringat, kemudian periode berkeringat:
penderita berkeringat banyak dan
temperatur turun dan penderita merasa
sehat. Trias malaria lebih sering terjadi
pada infeksi P. vivax, pada P. falciparum
menggigil dapat berlansung berat ataupun
tidak ada. Periode tidak panas berlangsung
12 jam pada P. falciparum, 36 jam pada P.
vivax dan P ovale, 60 jam pada P.
malariae.
Anemia merupakan gejala yang
sering dijumpai pada infeksi malaria.
Beberapa mekanisme terjadinya anemia
ialah: pengrusakan eritrosit oleh parasit,
hambatan eritropoiesis sementara,
hemolisis oleh karena proses complement
mediated immune complex,
eritrofagositosis penghabatan pengeluaran
retikulosit, dan pengaruh sitokin.
Pembesaran limpa ( splenomegali ) sering
terjadi penderita malaria. Beberapa
keadaan klinik dalam perjalanan infeksi
malaria ialah:
a. Serangan primer
Keadaan mulai dari akhir masa inkubasi
dan mulai terjadi serangan paroksismal
yang terdiri dari dingin/menggigil, panas,
berkeringat. Serangan paroksismal ini
dapat pendek atau panjang tergantung dari
perbanyakan parasit dan keadaan
immunitas penderita.
b. Periode latent
Periode tanpa gejala dan tanpa parasitemia
selama terjadinya infeksi malaria.
Biasanya terjadi diantara dua keadaan
paroksismal.
c. Recrusdescense
Berulangnya gejala klinik dan parasitemia
dalam masa 8 minggu sesudah berakhir
serangan primer. Recrusdescense dapat
terjadi berupa berulangnya gejala klinik
sesudah periode latent dari serangan
primer.
d. Recurrence
Berulangnya gejala klinik atau parasitemia
setelah 24 minggu berakhirnya serangan
primer.
e. Relapse atau Rechute
Berulangnya gejala klinik atau parasitemia
yang lebih lama dari waktu serangan
periodic dari infeksi primer yaitu setelah
periode yang lama dari masa latent (sampai
5 tahun), biasanya terjadi karena infeksi
yang tidak sembuh atau oleh bentuk diluar
eritrosit (hati) pada malaria vivax atau
ovale.( Harijanto,2006)
Malaria berat
World Health Organization (2006)
mendefinisikan malaria berat jika terdapat
parasitemia P. falciparum fase aseksual
dengan disertai satu atau lebih gambaran
klinis atau laboratoris berikut ini:
a. Manifestasi klinis antara lain:
Kelemahan, gangguan kesadaran,
respiratory distress (pernafasan asidosis),
kejang berulang, syok, edema paru,
perdarahan abnormal, ikterik dan
hemoglobinuria.
b. Pemeriksaan laboratorium antara
lain:
Anemia berat, hipoglikemia, asidosis,
gangguan pungsi ginjal, hiperlaktatemia,
hiperparasitemia.(Zulkarnain danSetiawan,
2006)

Pemeriksaan darah untuk malaria
a. Tetesan preparat darah tebal
6

Merupakan cara terbaik untuk menemukan
parasit malaria karena tetesan darah cukup
banyak dibanding tetes darah tipis. Sedian
mudah dibuat khususnya untuk studi di
lapangan. Ketebalan dalam membuat
sedian perlu untuk memudahkan
identifikasi parasit. Pemeriksaan parasit
dilakukan 5 menit ( diperkirakan 100
lapang pandangan dengan pembesaran
kuat). Preparat dinyatakan negatip bila
setelah diperiksa 200 lapang pandangan
dengan perbesaran kuat 700 1000 kali
tidak ditemukan parasit. Hitung parasit
dapat dilakukan pada tetes tebal dengan
menghitung jumlah parasit per 200
leukosit. Bila leukositnya 10.000/ul maka
hitung parasitnya ialah jumlah parasit
dikalikan 50 merupakan jumlah parasit per
mikro-liter darah.
b. Tetesan darah tipis
Digunakan untuk identifikasi jenis
plasmodium, bila dengan preparat darah
tebal sulit ditentukan. Kepadatan parasit
dinyatakan sebagai hitung parasit (parasite
count), dapat dilakukan berdasar jumlah
eritrosit yang mengandung parasit per
1000 sel darah merah. Bila jumlah parasit
> 100.000/ul darah menandakan infeksi
yang berat. Hitung parasit penting untuk
menentukan prognosa penderita malaria,
walaupun komplikasi dapat timbul dengan
jumlah parasit yang minimal. Pengecatan
dilakukan dengan Giemsa, atau
Leishmans, atau Field dan juga
Romanowsky. Pengecatan Giemsa yang
umum dipakai pada beberapa laboratorium
dan merupakan pengecatan yang mudah
dengan hasil yang cukup baik.
c. Tes Antigen: P-F test
Yaitu mendeteksi antigen dari P.
falciparum (Histidine Rich Protein II).
Deteksinya sangat cepat hanya 3 5 menit,
tidak memerlukan latihan khusus,
sensitivitasnya baik, tidak memerlukan alat
khusus. Deteksi untuk antigen vivaxs
sudah beredar dipasaran dengan metode
ICT. Tes sejenis dengan mendeteksi laktat
dehidrogenase dari plasmodium (pLDH)
dengan cara immunochromatographik
telah dipasarkan dengan nama tes
OPTIMAL. Optimal dapat mendeteksi
dari 0 200 parasit/ul darah dan dapat
membedakan apakah infeksi P. falciparum
atau P. vivax. Tes ini sekarang dikenal
sebagai tes cepat (Rapid test).
d. Tes serologi
Tes serologi mulai diperkenalkan sejak
tahun 1962 dengan memakai teknik
indireck fluorescent antibody test. Tes ini
berguna mendeteksi adanya antibodi
spesipik terhadap malaria atau pada
keadaan dimana parasit sangat minimal.
Manfaat tes serologi terutama untuk
penelitian epidemiologi atau alat uji saring
donor darah. Titer > 1:200 dianggap
sebagai infeksi baru dan titer > 1: 20
dinyatakan positip. Metode metode tes
serologi antara lain: indirect
haemagglutination test, immune-
precipitation techniques, ELISA test,
radio-immunoassay.
e. Pemeriksaan PCR (Polymerase
Chain Reaction)
Pemeriksaan ini dianggap sangat peka
dengan teknologi amplifikasi DNA, waktu
dipakai cukup cepat dan sensitivitas
maupun spesifitasnya tinggi. Keunggulan
tes ini walaupun jumlah parasit sangat
kecil dapat memberikan hasil positip.
(Harijanto, 2006)
Di Indonesia sampai saat ini masih
merupakan masalah kesehatan masyarakat,
terutama didaerah Indonesia bagian timur.
Penyakit malaria umumnya adalah genus
Plasmodium family plasmodiadae dan
ordococcidiidae, sampai saat ini dikenal
empat macam parasite malaria yaitu:
7

Plasmodium falcifarum penyebab
malaria tropika
Plasmodium vivax penyebab
malaria tertiana
Plasmodium malariae penyebab
malaria quartana
Plasmodium ovalle jenis ini jarang
sekali dijumpai di Indonesia,
karena umumnya banyak kasus
terjadi di Africa dan Pasifik barat.
(Hiswani:2004)
Vector malaria di Indonesia
Konfirmasi fektor telah dilakukan
sejak tahun 1919 sampai tahun 2009, dan
selama periode tersebut terdapat 25 spesies
ditemukan positif membawa parasit
malaria. Menurut tempat berkembang biak
vector malaria dapat dikelompokkan dalam
tiga tipe yaitu berkembang biak
dipersawahan, pebukitan/hutan dan
pantai/aliran sungai. Vector malaria yang
berkembang biak di daerah persawahan
adalah An. Aconitus, An. Annullaris, An.
Barbirostris, An. Kochi, An. Karwari, An.
Nigerrismus, An. Sinensis, An. Tasellatus,
An. Vagus, An. Latifer. Vector malaria
yang berkembang biak di perbukitan/hutan
adalah An. Balabacensis, An. Brancrofti,
An. Punculatus, An. Umbrosus. Sedangkan
untuk daerah pantai/aliran sungai jenis
vector malaria adalah An. Flavirostris, An.
Koliensis, An. Ludlowi, An. Minismus, An.
Punctulatus, An. Paragensis, An.
Sundaicus, An. Subpictus. Waktu aktivitas
menggigit vector malaria yang sudah
diketahui yaitu jam 17.00 18.00, sebelum
jam 24 (20.00 23.00), setelah jam 24
(00.00 04.00). vector malaria yang
aktivitas menggigitnya jam 17.00 18.00
adalah An. Tesselatus, sebelum jam 24
adalah An. Aconitus, An. Annullaris, An.
Barbirostris, An. Kochi, An. Sinensis, An.
Vagus, sedangkan yang menggigit setelah
jam 24 adalah An. Farauti, An. Koliensis,
An. Leucosphyrosis, An. Unctullatus.
Perilaku vector malaria seperti tempat
berkembang biak dan waktu aktivitas
menggigit ini sangat penting diketahui oleh
pengambil keputusan sebagai dasar
pertimbangan untuk menentukan intervensi
dalam pengendalian vector yang lebih
efektif.
Upaya pengendalian malaria
Tingkat penularan malaria dapat
berbeda tergantung factor
setempatsepertipolacurah air hujan
(nyamuk berkembang biak pada lokasi
basah). Kedekatan antara lokasi
perkembang biakkan nyamuk dengan
manusia serta jenis nyamuk diwilayah
tersebut. Beberapa daerah angka kasus
yang cendrung tetap sepanjang tahun
Negara tersebut digolongkan sebagai
endemis malaria, didaerah lain ada musim
malaria yang biasanya berhubungan
dengan musim hujan. (WHO report,2010)
Upaya untuk menekan angka
kesakitan dan kematian dilakukan melalui
program pemberantasan malaria yang
kegiatannya antara lain meliputi diagnosis
dini, pengobatan cepat dan tepat,
surveilans, dan pengendalian vector yang
kesemuanya ditunjukan untuk memutus
mata rantai penularan malaria. Indicator
keberhasilan Rencana Strategis
Kementrian Kesehatan Tahun 2010 2014
adalah menurunkan angka kesakitan
malaria dan kematian penyakit malaria,
pada tahun 2015 menjadi 1 per 1000
penduduk dari baseline tahun 1990 sebesar
4,7 per 1000 peduduk. Indicator lain yang
perlu diperhatikan adalah target MDGs
yaitu angka kematian malaria. Upaya
pengendalian malaria dan pencegahan
malaria dapat dilakukan yaitu:
a. Pemakaian kelambu
Pemakaian kelambu adalah salah satu dari
upaya pencegahan penularan penyakit
8

malaria. Melalui bantuan Global Fund
(GF) komponen malaria ronde 1 dan 6
telah dibagikan kelambu berinsektisida ke
16 provinsi. Kelambu dibagikan terbanyak
di Provinsi Nusa Tengara Timur (NTT),
sedangkan di Sumatra Barat tidak ada
laporan, cakupan kelambu berinsektisida
yang dibagikan kepada penduduk yang
berisiko malaria terbanyak pada tahun
2007 adalah Timor Leste (25,54%), tahun
2008 dan 2009 adalah Srilangka (23,21%
dan 40,39%)
b. Pengendalian vector
Untuk meminimalkan penularan malaria
maka dilakukan upaya pengendalian
terhadap Anopheles sp sebagai nyamuk
penular malaria. Beberapa upaya
pengendalian vector yang dilakukan
misalnya terhadap jentik dilakukan
larviciding ( tindakan pengendalian larva
Anopheles sp secara kimiawi,
menggunakan insektisida), biological
control (menggunakan ikan pemakan
jentik), manajemen lingkungan dan lain
lain.
c. Diagnosis dan pengobatan
Selain pencegahan, diagnosis dan
pengobatan malaria juga merupakan upaya
pengendalian malaria yang penting.
Pemeriksaan Sedian Darah (SD) untuk
diagnosis malaria, untuk pemeriksaan
sedian darah dari tahun 2008 sampai tahun
2010 terjadi peningkatan penderita
malaria klinis yang diperiksa sedian
darahnya. (Buletin Malaria Depkes, 2011 )
Metode penelitian
Pemeriksaan malaria di Laboratorium
Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Bukittinggi
menggunakan metode slade sedian darah
tipis dan rapid test. Sampel berasal dari
rujukan dokter untuk pemeriksaan malaria,
metode sedian darah tipis secara
mikroskopis mengunakan pewarnaan
untuk melihat malaria stadium cincin dan
gamet, sedangkan rapid test mendeteksi
secara imuno-enzimatik suatu protein kaya
histidin II yang spesifik parasite (immune-
enzymatic detection of the parasite-specific
histidine rich protein II)
Pemeriksaan malaria
1. Pemeriksaan menggunakan rapid
test
- Diambil kit rapid test
- Dikeluarkan advantage malaria
card dari bungkusnya.
- Diambil 5 ul sampel (serum)
mengunakan pipet yang terdapat
dalam kit atau menggunakan mikro
pipete 5 ul, teteskan ke sampel well
A pada malaria card.
- Diambil 5 tetes buffer dan teteskan
pada well B
- Hasil dibaca setelah 20 menit.

2. Pemeriksaan sedian darah tipis
- Dibuat slade sedian darah tipis.
- Slade sedian dibiarkan kering,
- Setelah kering letakkan slade
sedian diatas rak dengan tetesi
beberapa tetes methanol selama 5
7 menit.
- Setelah methanol kering bubuhi
sediaan dengan larutan giemsa 1:20
selama 20 menit.
- Dibuang zat warna dengan
membilas sediaan dengan air,
dibiarkan kering.
- Setelah kering periksa sediaan
dibawah mikroskop pada lapang
pandang imersi.
- Diamati jika ditemukan parasite
Plasmodium
Hasil
Tabel 1. Frekuensi infeksi malaria di Rumah Sakit Islam
Ibnu Sina Bukittinggi tahun 2012
9

Bulan jumlah Pf Pv Pm Po
Januari 21 1 1 - -
Februari 23 - - - -
Maret 16 - - - -
April 17 1 - - -
Mei 15 1 - - -
Juni 20 1 2 - -
Juli 24
- 2
- -
Mix Pf+Pv
1
Agustus 28 1 1 - -
September 20 - - - -
Oktober 19 - - - -
Nofember 25 - - - -
Desember 16 - - - -
Jumlah pasien = 244 5 6 - -

Keterangan:
P f = Plasmdium falciparum
P v = Plasmodium vivax
P o = Plasmodium ovale
P m = Plasmodium malariae


Dari hasil data pemeriksaan Laboratorium
pasien Rumah Sakit Islam Ibnu Sina
Bukittinggi yang telah dilakukan
pemeriksaan 244 sampel selama tahun
2012 di jumpai kasus infeksi malaria
positif lebih kurang 5 % ( 12 sampel ).
Dari 12 sampel positif malaria
didapatkan2,4% ( 6 sampel) disebabkan
oleh Plasmodium vivax, 2% ( 5 sampel )
disebabkan oleh Plasmodium falciparum
dan 0.6% ( 1 sampel ) mix Plasmodium
falciparum dan Plasmodium vivax.


Gambar 1. Frekuensi infeksi malaria di Rumah Sakit
Islam
Ibnu Sina Bukittinggi tahun 2012
Dari grafik frekuensi infeksi malaria di
Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Bukittinggi
tahun 2012 diatas ditemukan terjadi
peningkatan kasus infeksi malaria pada
bulan juni dan juli 2012 karena disebabkan
oleh faktor lingkungan, peningkatan curah
hujan, dan pasien rujukan dari Rumah
Sakit dan pusat kesehatan lainnya di luar
Bukitinggi.

Saran
- Menghindari perjalanan ke daerah
endemis malaria untuk
menghindari infeksi malaria.
- Untuk memperhatikan kebersihan
lingkungan dan melakukan
tindakan preventif terhadap vector
malaria.
- Melakukan promosi kesehatan
untuk menghindari terinfeksi
malaria.
- Kepada para medis untuk
memberikan obat malaria yang
sesuai untuk mencegah resistant
terhadap obat malaria dan malaria
yang berulang.
- Melakukan pemeriksaan segera jika
terkena infeksi parasit malaria.
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
22
24
26
28
Malaria
Positif
Malaria
Negatif
10


DAFTAR PUSTAKA

DirekrurJendralPengendalianpenyakitdanK
esehatanLingkunnganDepartemenKesehata
nPedomanPenatalaksanaanKasus Malaria
di Indonesia.2008
Hiswani Gambaran Penyakit dan
VektorMalaria di
IndonesiaFakultasKesehatanMasyarakat.
USU.2004
J. Mitra & Co. Pvt. Ltd. Advantage
Malaria Card
KemenKes RI, Epidemiologi malaria di
Indonesia, Pusat data dan imformasi
Kemenkes. 2011
Kosasih E.N. tes Laboratorium Klinik
Sederhana. USU. 1992
Pribadi, Wita. Parasitologi Kedokteran
edisi 3. FK UI. 2000
Soebrata,R.Ganda. Penuntun Laboratorium
Klinik. Dian Rakyat. 2007