You are on page 1of 34

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sindrom immunnodefisiensi didapat (Acquired Immunodeficiency
Syndrome, AIDS), Sindrome ini pertama kali ditemukan oleh Michael
Gottlieb pertengahan tahun 1981 pada penderita pria homoseksual
dan pecandu narkotik suntik di Los Angles, Amerika Serikat. Sejak
penemuan ini, dalam beberapa tahun dilaporkan lagi sejumlah
penderita dengan syndrom yang sama dari 46 negara bagian Amerika
Serikat lainnya. Penyebaran AIDS terjadi secara cepat ke berbagai
benua. Dampak yang terlihat pada penderita beserta keluarganya, serta
belum diketahuinya cara penanganan dan pengobatannya
menyebabkan keresahan psikosial yang sangat besar di kalangan
masyarakat. Pada awalnya penyebab AIDS belum diketahui secara
pasti. Namun, banyak pihak yang menduga bahwa strain virus yang
asli berasal dari monyet dan simpanse di Afrika. Para ahli telah
menemukan sejenis virus yang mirip pada seekor monyet Afrika
Barat. Menurut hipotesa yang menarik tetapi belum dapat dibuktikan,
para ahli menduga bahwa virus itu mulanya masuk ke dalam tubuh
manusia sebagai akibat sampingan dari percobaan-percobaan malaria
mulai tahun-tahun 1920-an hingga 1950-an. Pada percobaan-
percobaan tersebut, manusia disuntik dengan darah dari monyet dan
simpanse yang kemungkinan mengandung virus yang ternyata kelak
menjadi HIV. Tujuan dari eksperimen ini sebenarnya adalah untuk
melihat apakah parasit malaria di dalam tubuh binatang- binatang
tersebut akan dapat juga menulari tubuh manusia.



2

Dokter-dokter 1980-an juga mulai mengamati adanya penderita di
kalangan pria muda dengan jenis kanker sel darah yang langka yaitu sarcoma,
demikian pula PCP. Pasien- pasien ini dan mereka yang pernah ditangani
oleh Gottlieb memiliki satu persamaan yaitu semuanya gay. Oleh karena
itulah syndrome tanpa nama itu diberi julukan gay plague atau gay
cancer. Penyakit yang tadinya dianggap sebagai sampar gay atau gay
plague ternyata dapat menyerang heteroseksual, terutama orang-orang yang
menggunakan jarum suntik, mitra seksnya, bayi dari ibu terinfeksi dan
penderita hemofilia(yang mendapat transfusi darah tercemar HIV). Jelas
bahwa virus ini tidak mengenal apakah tubuh yang diserangnya milik
seorang gay, heteroseks atau bayi baru lahir (AIDS & PMS dan
Perkosaan hlm 28-30). Pada akhir tahun 1983 para peneliti
menemukan suatu jenis retrovirus yang mulanya diberi nama
Lympadenopati associated virus. Kemudian pada bulan Mei tahun
1986 disepakati menggunakan satu nama yaitu Human
Immunodeficiency.


B. Rumusan Masalah

1. Mengapa kita membahas tentang HIV/AIDS
2. Apa saja yang melatar belakangi HIV/AIDS


C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian HIV/AIDS
2. Untuk mengetahui Gejala dari HIV/AIDS
3. Untuk mengetahui patofisiologi HIV/AIDS
4. Untuk mengetahui penyebab HIV/AIDS
5. Untuk mengetahui cirri-ciri terkena HIV/AIDS
6. Untuk mengetahui dampak HIV/AIDS
3

7. Unyuk mengetahui penularan HIV/AIDS
8. Untuk mengetahui pencegahan HIV/AIDS
9. Untuk mengetahui penanganan HIV/AIDS
10. Untuk mengetahui Gizi ODHA


D. Manfaat
1. Dapat memahami mengenai HIV/AIDS
2. Dapat memahami hal-hal yang melatar belakangi terjadinya HIV/AID






















4

BAB II
PEMBAHASAN
A. HIV/AIDS
1. Pengertian HIV/AIDS
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang
dapat menyebabkan AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang
bernama sel CD4 sehingga dapat merusak sistem kekebalan tubuh
manusia yang pada akhirnya tidak dapat bertahan dari gangguan penyakit
walaupun yang sangat ringan sekalipun.Virus HIV menyerang sel CD4
dan merubahnya menjadi tempat berkembang biak Virus HIV baru
kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sel darah
putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan
tubuh maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak memiliki
pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek
biasa.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang
menyebabkan AIDS. HIV termasuk dalam subset dari retrovirus yang
disebut lentivirus (atau virus lambat), yang berarti bahwa ada interval -
kadang tahun - antara infeksi awal dan timbulnya gejala. Setelah
memasuki aliran darah - melalui selaput lendir atau-ke-darah kontak
darah - HIV menginfeksi CD4 + T sel dan mulai untuk meniru dengan
cepat. Para ilmuwan percaya bahwa ketika virus memasuki tubuh, HIV
mulai untuk menonaktifkan sistem kekebalan tubuh dengan menggunakan
respon agresif tubuh kebal terhadap virus menginfeksi, mereplikasi dan
membunuh sel-sel sistem kekebalan tubuh. Bertahap kerusakan fungsi
kekebalan tubuh dan perusakan akhirnya dan imunologi organ limfoid
adalah pusat untuk memicu imunosupresi yang mengarah ke AIDS.


5

Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan tahap
akhir dari infeksi HIV. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)
merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. AIDS (Acquired
Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency
Syndrome) merupakan kumpulan berbagai gejala dan infeksi sebagai
akibat dari hilangnya sistem kekebalan tubuh karena infeksi dari HIV
(Human Immunodeficiency Virus). HIV ditemukan di dalam cairan tubuh
manusia, dan paling banyak ditemuin pada darah, cairan sperma, dan
cairan vagina. Centers for Disease Control menetapkan definisi AIDS,
yang terjadi pada orang yang terinfeksi HIV dengan kurang dari 200
CD4+T sel dan orang-orang dengan HIV yang mengembangkan beberapa
infeksi oportunistik. Pada tahun 1992,CDC merumuskan kembali AIDS
untuk memasukkan 26 CDC-didefinisikan AIDS indikator penyakit dan
kondisi klinis yang mempengaruhi orang-orang dengan HIV lanjut.
a. Hubungan Antara HIV Dan AIDS
HIV menyebabkan AIDS dengan cara merusak sel-sel
system kekebalan tubuh sampai sistem kekebalan tubuh tidak bisa lagi
melawan infeksi lain yang biasanya akan mampu mencegah.
Dibutuhkan sekitar sepuluh tahun rata-rata untuk seseorang dengan
HIV untuk mengembangkan AIDS. Namun, rata-rata ini didasarkan
pada orang dengan HIV memiliki diet yang wajar , dan seseorang
yang kurang gizi mungkin kemajuan dari HIV menjadi AIDS lebih
cepat.

b. Perbedaan Antara HIV Dan AIDS
AIDS adalah penyakit yang dikembangkan oleh orang yang
hidup dengan HIV, yang merupakan organisme virus. Istilah AIDS
berlaku untuk tahapan yang paling lanjut infeksi HIV. Walaupun hasil
tes HIV-positif tidak berarti bahwa seseorang telah AIDS, kebanyakan
orang akan mengembangkan AIDS sebagai akibat infeksi HIV
mereka.
6

Ada empat tahap utama dalam perkembangan orang yang
terinfeksi HIV berkembang AIDS. Periode setelah infeksi HIV awal
yang disebut periode jendela. Hal ini disebut ini karena periode ini
mencerminkan jendela waktu antara infeksi dengan virus dan ketika
mengembangkan antibodi HIV dalam aliran darah. Tes HIV yang
mencari antibodi yang diambil selama ini dapat menyebabkan negatif
palsu, meskipun antibodi biasanya muncul dalam waktu enam bulan
setelah infeksi awal.
Serokonversi mengacu pada periode waktu di mana tubuh Anda
sedang sibuk memproduksi antibodi HIV, berusaha untuk melindungi
diri terhadap virus. Ini adalah masa setelah infeksi awal ketika banyak
orang mengalami gejala flu dan pembengkakan kelenjar getah bening
- ini merupakan tahapan yang sangat menular. Setelah kebanyakan
orang seroconvert, mereka biasanya mengalami periode bebas gejala
atau periode tanpa gejala. Tahap ini dapat berlangsung dari 6 bulan
sampai lebih dari 10 tahun, bervariasi dari orang ke orang. Meskipun
orang dengan HIV tidak mengalami gejala, virus masih bereplikasi di
dalam tubuh dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Setelah
periode ini, parah CD4 + T hilangnya sel mengarah ke masa gejala,
dimana tubuh mengalami gejala-gejala yang terkait dengan HIV. Ini
adalah tahap terakhir sebelum berkembang AIDS.

2. Gejala HIV/AIDS
Satu-satunya cara untuk menentukan infeksi HIV harus
diuji , sebagai gejala dan periode laten bervariasi dari orang ke orang.
Adalah umum selama dua sampai empat minggu pertama infeksi yang
orang mengalami gejala flu dan pembesaran kelenjar getah bening. Hal
ini karena virus berpindah ke berbagai organ dalam tubuh, khususnya
organ-organ limfoid. Selama tahap ini orang yang sangat menular dan
HIV hadir dalam jumlah besar di cairan vagina.
7

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, berikut ini adalah
gejala yang mungkin peringatan tanda-tanda infeksi HIV:
a. Cepat berat badan
b. Batuk kering
c. Berulang demam atau berkeringat di malam sedalam-dalamnya
d. Mendalam dan kelelahan yang tidak dapat dijelaskan
e. Pembengkakan kelenjar getah bening di selangkangan, ketiak/leher
f. Diare yang berlangsung selama lebih dari seminggu
g. Putih bintik-bintik atau noda yang tidak biasa di lidah,di tenggorokan
h. Pneumonia
i. Merah, coklat, merah muda atau bercak keunguan pada atau di bawah
kulit atau di dalam mulut, hidung atau kelopak mata
j. Kehilangan memori, depresi dan gangguan neurologis lainnya
k. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan
l. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan.
m. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan
n. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis
Gejala minor :
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
b. Dermatitis generalisata yang gatal
c. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang
d. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita




8

3. Patofisiologi HIV AIDS.
Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah
sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan
terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human
Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan
dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu
antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun,
maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain
dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T 4 yang
juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha
mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi. Dengan menurunya jumlah
sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti
berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T
penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus
(HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama
bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapat berkurang dari
sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300
per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi. Sewaktu sel T4 mencapai kadar
ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul,
Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan
menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah.
Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah
200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau
dimensia AIDS.
Patofisiologi AIDS sangat kompleks, seperti halnya dengan semua
sindrom. Pada Hal ini melemahkan sistem kekebalan tubuh dan
memungkinkan infeksi oportunistik. T limfosit sangat penting untuk
respon kekebalan tubuh dan tanpa mereka, tubuh tidak dapat melawan
infeksi atau membunuh sel kanker. Mekanisme CD4
+
T deplesi sel
berbeda di fase akut dan kronis. Selama fase akut, HIV-diinduksi lisis sel
9

dan membunuh sel yang terinfeksi oleh sel T sitotoksik account untuk
deplesi sel T CD4
+,
walaupun apoptosis juga dapat menjadi faktor.
Selama fase kronis, konsekuensi dari aktivasi kekebalan umum ditambah
dengan hilangnya bertahap kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk
menghasilkan sel T baru muncul untuk menjelaskan penurunan lamban
dalam jumlah sel T CD4
+.
Meskipun gejala defisiensi imun karakteristik
AIDS tidak muncul selama bertahun-tahun setelah seseorang terinfeksi,
sebagian besar CD4
+
T hilangnya sel terjadi selama minggu pertama
infeksi, terutama di mukosa usus, pelabuhan yang mayoritas limfosit
ditemukan dalam tubuh. Alasan hilangnya preferensial CD4
+
T sel
mukosa adalah bahwa mayoritas CD4
+
T sel mukosa mengungkapkan
coreceptor CCR5, sedangkan sebagian kecil CD4
+
T sel dalam darah
melakukannya. HIV mencari keluar dan menghancurkan CCR5
mengekspresikan
CD4
selama infeksi akut. Sebuah respon imun yang kuat
akhirnya kontrol infeksi dan inisiat fase laten klinis. Namun, CD4
+
T sel
pada jaringan mukosa tetap habis seluruh infeksi, meskipun cukup tetap
awalnya menangkal infeksi yang mengancam kehidupan. Continuous
hasil replikasi HIV dalam keadaan aktivasi kekebalan umum bertahan
selama fase kronis. Aktivasi kekebalan tubuh, yang tercermin oleh negara
aktivasi peningkatan sel kekebalan dan pelepasan sitokin pro inflamasi,
hasil dari aktivitas beberapa produk gen HIV dan respon kebal terhadap
replikasi HIV terus-menerus. Penyebab lainnya adalah kerusakan pada
sistem surveilans kekebalan penghalang mukosa yang disebabkan oleh
penipisan mukosa CD4
+
T sel selama fase akut penyakit. Hal ini
mengakibatkan pemaparan sistemik dari sistem kekebalan tubuh untuk
komponen mikroba flora normal usus, yang pada orang sehat adalah
disimpan di cek oleh sistem imun mukosa. Aktivasi dan proliferasi sel T
yang hasil dari aktivasi kekebalan memberikan target segar untuk infeksi
HIV. Namun, pembunuhan langsung dengan HIV saja tidak dapat
menjelaskan menipisnya diamati CD4
+
sel T karena hanya 0,01-0,10%
dari CD4
+
T sel dalam darah yang terinfeksi.
10

Penyebab utama dari CD4
+
T hilangnya sel muncul hasil dari
kerentanan mereka untuk apoptosis meningkat ketika sistem kekebalan
tubuh tetap diaktifkan. Meskipun baru sel T terus diproduksi oleh timus
untuk menggantikan yang hilang, kapasitas regeneratif timus secara
perlahan dihancurkan oleh infeksi langsung thymocytes dengan HIV.
Akhirnya, jumlah minimal CD4
+
sel T yang diperlukan untuk
mempertahankan respon imun yang cukup hilang, yang mengarah ke
AIDS.
a. Sel terpengaruh
Virus, yang pernah masuk melalui rute, bertindak terutama pada sel-
sel berikut:
1) Lymphoreticular sistem:
(a) CD
4
+ T-sel Helper
(b) Makrofag
(c) Monosit
(d) B-limfosit
(e) Tertentu sel endotel
2) Sistem saraf pusat:
(1) Mikroglia dari sistem saraf
(2) Astrosit
(3) Oligodendrocytes
(4) Neuron - secara tidak langsung oleh aksi sitokin dan gp-120
b. Efeknya
Virus memiliki efek cytopathic tapi bagaimana melakukannya
masih belum cukup jelas. Hal ini dapat tetap aktif dalam sel untuk
waktu yang lama, meskipun. Efek ini diduga terjadi karena interaksi
CD. Sebuah update berlangsung pada bulan September 2005.
11

Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah
ditangani pada orang sehat.
1) Tahap I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai

AIDS
2) Tahap II: termasuk manifestasi mukokutan kecil dan berulang infeksi
saluran pernapasan atas
3) Tahap III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama
lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah dan TB paru
4) Tahap IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis dari esophagus,
trakea, bronkus atau paru-paru dan sarkoma Kaposi, penyakit ini
adalah indikator AIDS.
c. CDC sistem klasifikasi
Ada dua definisi utama untuk AIDS, baik yang dihasilkan oleh
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Definisi yang lebih
tua adalah untuk mengacu AIDS menggunakan penyakit yang dikaitkan
dengan, misalnya, limfadenopati, penyakit ini setelah itu penemu HIV
awalnya bernama virus. Pada tahun 1993, CDC memperluas definisi
AIDS untuk memasukkan semua orang positif HIV dengan sel T count
+

CD4 di bawah 200 per uL darah atau 14% dari seluruh limfosit.
Mayoritas kasus AIDS baru di negara maju menggunakan baik definisi
ini atau pra-1993 definisi CDC. Diagnosis AIDS masih berdiri bahkan
jika, setelah perawatan, jumlah sel T CD4
+
meningkat di atas 200 per uL
darah atau penyakit terdefinisi AIDS lainnya sembuh.
d. Tes HIV
12

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi HIV.
Kurang dari 1% dari penduduk perkotaan yang aktif secara seksual di
Afrika telah diuji, dan proporsi ini bahkan lebih rendah pada populasi
pedesaan. Selain itu, hanya 0,5% wanita hamil mendatangi fasilitas
kesehatan perkotaan menasihati, diuji atau menerima hasil tes mereka.
Sekali lagi, proporsi ini bahkan lebih rendah di fasilitas kesehatan
pedesaan. Tes HIV secara rutin digunakan untuk infeksi pada neonatus
dan bayi (misalnya, pasien yang lebih muda dari 2 tahun), yang lahir dari
ibu HIV-positif, tidak memiliki nilai karena adanya antibodi ibu terhadap
HIV dalam darah anak. Infeksi HIV hanya dapat didiagnosis dengan
PCR, tes DNA HIV pro-virus di limfosit anak-anak.
4. Penyebab HIV/ AIDS
Penyebab timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan
sepenuhnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa virus HIV
telah ada di dalam tubuh sebelum munculnya penyakit AIDS ini. Namun
kenyataan bahwa tidak semua orang yang terinfeksi virus HIV ini
terjangkit penyakit AIDS menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang
berperan di sini. Penggunaan alkohol dan obat bius, kurang gizi, tingkat
stress yang tinggi dan adanya penyakit lain terutama penyakit yang
ditularkan lewat alat kelamin merupakan faktor-faktor yang mungkin
berperan. Faktor yang lain adalah waktu. Penelitian terakhir menunjukkan
bahwa kesempatan untuk terkena AIDS meningkat, bukannya menurun
dikarenakan faktor waktu.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa HIV secara terus menerus
memperlemah sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan
menghancurkan kelompok-kelompok sel-sel darah putih tertentu yaitu sel
T-helper. Normalnya sel T-helper ini (juga disebut sel T4) memainkan
suatu peranan penting pada pencegahan infeksi. Ketika terjadi infeksi, sel-
sel ini akan berkembang dengan cepat, memberi tanda pada bagian sistem
13

kekebalan tubuh yang lain bahwa telah terjadi infeksi. Hasilnya, tubuh
memproduksi antibodi yang menyerang dan menghancurkan bakteri-
bakteri dan virus-virus yang berbahaya Selain mengerahkan sistem
kekebalan tubuh untuk memerangi infeksi, sel T-helper juga memberi
tanda bagi sekelompok sel-sel darah putih lainnya yang disebut sel T-
suppressor atau T8, ketika tiba saatnya bagi sistem kekebalan tubuh untuk
menghentikan serangannya. Biasanya kita memiliki lebih banyak sel-sel
T-helper dalam darah daripada sel-sel T-suppressor, dan ketika sistem
kekebalan sedang bekerja dengan baik, perbandingannya kira-kira dua
banding satu. Jika orang menderita penyakit AIDS, perbandingan ini
kebalikannya, yaitu sel-sel T-suppressor melebihi jumlah sel-sel T-helper.
Akibatnya, penderita AIDS tidak hanya mempunyai lebih sedikit sel-sel
penolong yaitu sel T-helper untuk mencegah infeksi, tetapi juga terdapat
sel-sel penyerang yang menyerbu sel-sel penolong yang sedang bekerja.
5. Ciri-ciri terkena penyakit HIV/AIDS
Ciri-ciri penyakit HIV/AIDS adalah seseorang bisa mengalami
penurunan imunitas atau daya tahan tubuh, hal ini bisa kita lihat seorang
yang terinfeksi virus tersebut akan mudah sakit seperti flu yang lama
sekali sembuhnya..jika sudah stadium lanjut akan menjadi sangat rentan
sekali dia bisa mengalami komplikasi berbagai penyakit. seperti diare,
infeksi saluran pernafasan, lepuh kulit, berat badan terus menurun
sehingga penderita tampak kurus dan kering. Ciri secara kasat mata utk
HIV suliut terdeteksi. Untuk Aids biasanya dibarengi dgn infeksi lain jika
kondisinya sdh sangat serius. Yang paling umum adalah radang paru2 dan
phisik. Untuk memastikannya periksa darah adalah cara terbaik.
Berdasarakn stadiumnya dapat kita lihat dibawah ini :
a. Stadium Pertama : HIV
Infeksi dimulai dengan masuknya HIV kedalam tubuh dan
diikuti terjadinya perubahan serologik ketika antibodi terhadap
virus berubah dari negatif menjadi positif. Rentang waktu dari
14

masuknya HIV hingga tes antibodi positif disebut Window
Period, lamanya 1 ? 6 bulan. Pada stadium ini sudah dapat
menularkan bahkan sangat menular.
b. Stadium Dua : Asimptomatik (tanpa gejala)
Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat H I
V tetapi tubuh tidak menunjukkan gejala sakit. Keadaan ini
dapat berlangsung rata-rata 5 ? 10 tahun. Fase ini juga menular
walau penderita tampak sehat-sehat saja.
c. Stadium Tiga : Pembesaran kelenjar limfe
Fase ini ditandai dengan pembesaran kelenjar limfe secara
menetap dan merata, tidak hanya muncul pada satu tempat dan
berlangsung lebih dari satu bulan. .
d. Stadium Empat : AIDS
Keadaan ini disertai dengan adanya bermacam-macam
penyakit antara lain penyakit konstitusional, penyakit syaraf
dan penyakit infeksi sekunder.

6. Dampak HIV AIDS
Ada beberapa Dampak yang timbul bagi orang HIV AIDS
yaitu :
a. Dampak Demografi
Salah satu efek jangka panjang endemi HIV dan AIDS yang
telah meluas seperti yang telah terjadi di Papua adalah dampaknya
pada indikator demografi. Karena tingginya proporsi kelompok umur
yang lebih muda terkena penyakit yang membahayakan ini, dapat
diperkirakan nantinya akan menurunkan angka harapan hidup. Karena
semakin banyak orang yang diperkirakan hidup dalam jangka waktu
yang lebih pendek, kontribusi yang diharapkan dari mereka pada
ekonomi nasional dan perkembangan sosial menjadi semakin kecil
15

dan kurang dapat diandalkan. Hal ini menjadi masalah yang penting
karena hilangnya individu yang terlatih dalam jumlah besar tidak akan
mudah dapat digantikan. Pada tingkat makro, biaya yang berhubungan
dengan kehilangan seperti itu, seumpama meningkatnya pekerja yang
tidak hadir, meningkatnya biaya pelatihan, pendapatan yang
berkurang, dan sumber daya yang seharusnya dipakai untuk aktivitas
produktif terpaksa dialihkan pada perawatan kesehatan, waktu yang
terbuang untuk merawat anggota keluarga yang sakit, dan
lainnya,juga akan meningkat.
b. Dampak Terhadap Sistem Pelayanan Kesehatan
Tingginya tingkat penyebaran HIV dan AIDS pada kelompok
manapun berarti bahwa semakin banyak orang menjadi sakit, dan
membutuhkan jasa pelayanan kesehatan. Perkembangan penyakit
yang lamban dari infeksi HIV berarti bahwa pasien sedikit demi
sedikit menjadi lebih sakit dalam jangka aktu yang panjang,
membutuhkan semakin banyak perawatan kesehatan. Biaya langsung
dari perawatan kesehatan tersebut semakin lama akan menjadi
semakin besar. Diperhitungkan juga adalah waktu yang dihabiskan
oleh anggota keluarga untuk merawat pasien, dan tidak dapat
melakukan aktivitas yang produktif. Waktu dan sumber daya yang
diberikan untuk merawat pasien HIV dan AIDS sedikit demi sedikit
dapat mempengaruhi program lainnya dan menghabiskan sumber
daya untuk aktivitas kesehatan lainnya. Penelitian yang dilakukan
oleh John Kaldor dkk pada tahun 2005 memprediksi bahwa pada
tahun 2010, bila upaya penanggulangan tidak ditingkatkan maka 6%
tempat tidur akan digunakan oleh penderita AIDS dan di Papua
mencapai 14% dan pada tahun 2025 angka angka tersebut akan
menjadi 11% dan 29%. Meningkatnya jumlah penderita AIDS berarti
meningkatnya kebutuhan ARV. Rusaknya sistem kekebalan tubuh
telah memperparah masalah kesehatan masyarakat yang sebelumnya
16

telah ada yaitu tuberkulosis. Banyak penelitian yang menunjukkan
bahwa kejadian TB telah meningkat secara nyata di antara kasus HIV.
TB masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang
utama di Indonesia dimana setiap tahunnya ditemukan lebih dari
300.000 kasus baru, maka perawatan untuk kedua jenis penyakit ini
harus dilakukan secara bersamaan.
c. Dampak Terhadap Ekonomi Nasional
Mengingat bahwa HIV lebih banyak menjangkiti orang muda
dan mereka yang berada pada umur produktif utama (94% pada
kelompok usia 19 sampai 49 tahun), epidemi HIV dan AIDS memiliki
dampak yang besar pada angkatan kerja, terutama di Papua. Epidemi
HIV dan AIDS akan meningkatkan terjadinya kemiskinan dan ketidak
seimbangan ekonomi yang diakibatkan oleh dampaknya pada individu
dan ekonomi. Dari sudut pandang individu HIV dan AIDS berarti
tidak dapat masuk kerja, jumlah hari kerja yang berkurang,
kesempatan yang terbatas untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji
yang lebih baik dan umur masa produktif yang lebih pendek. Dampak
individu ini harus diperhitungkan bersamaan dengan dampak ekonomi
pada anggota keluarga dan komunitas. Dampak pada dunia bisnis
termasuk hilangnya keuntungan dan produktivitas yang diakibatkan
oleh berkurangnya semangat kerja, meningkatnya ketidakhadiran
karena izin sakit atau merawat anggota keluarga, percepatan masa
penggantian pekerja karena kehilangan pekerja yang berpengalaman
lebih cepat dari yang seharusnya, menurunnya produktivitas akibat
pekerja baru dan bertambahnya investasi untuk melatih mereka. HIV
dan AIDS juga berperan dalam berkurangnya moral pekerja (takut
akan diskriminasi, kehilangan rekan kerja, rasa khawatir) dan juga
pada penghasilan pekerja akibat meningkatnya permintaan untuk
biaya perawatan medis dari pusat pelayanan kesehatan para pekerja,
pensiun dini, pembayaran dini dari dana pensiun akibat kematian dini,
17

dan meningkatnya biaya asuransi. Pengembangan program
pencegahan dan perawatan HIV di tempat kerja yang kuat dengan
keikutsertaan organisasi manajemen dan pekerja sangatlah penting
bagi Indonesia. Perkembangan ekonomi akan tertahan apabila
epidemi HIV menyebabkan kemiskinan bagi para penderitanya
sehingga meningkatkan kesenjangan yang kemudian menimbulkan
lebih banyak lagi keadaan yang tidak stabil. Meskipun kemiskinan
adalah faktor yang paling jelas dalam menimbulkan keadaan resiko
tinggi dan memaksa banyak orang ke dalam perilaku yang beresiko
tinggi, kebalikannya dapat pula berlaku pendapatan yang berlebih,
terutama di luar pengetahuan keluarga dan komunitas dapat pula
menimbulkan resiko yang sama. Pendapatan yang besar (umumnya
tersedia bagi pekerja terampil pada pekerjaan yang profesional)
membuka kesempatan bagi individu untuk melakukan perilaku resiko
tinggi yang sama: berpergian jauh dari rumah, pasangan sex yang
banyak, berhubungan dengan PS, obat terlarang, minuman keras, dan
lainnya.
d. Dampak Terhadap Tatanan Sosial
Adanya stigma dan diskriminasi akan berdampak pada tatanan
sosial masyarakat. Penderita HIV dan AIDS dapat kehilangan kasih
sayang dan kehangatan pergaulan sosial. Sebagian akan kehilangan
pekerjaan dan sumber penghasilan yang pada akhirnya menimbulkan
kerawanan sosial. Sebagaian mengalami keretakan rumah tangga
sampai perceraian. Jumlah anak yatim dan piatu akan bertambah yang
akan menimbulkan masalah tersendiri. Oleh sebab itu keterbukaan
dan hilangnya stiga dan diskriminasi sangat perlu mendapat perhatian
dimasa mendatang.

18


7. Penularan HIV/AIDS
HI V dapat menular melalui :
a. Hubungan seks yang tidak terlindung baik melalui vagina, anal
maupun oral dengan pasangan yang mengidap HIV/AIDS.
b. Tranfusi darah yang mengandung HIV/AIDS
c. Jarum suntik, alat tusuk lainnya (akupunktur, tindik, tatto),
pisau cukur, sikat gigi bekas dipakai orang yang mengidap
HIV/AIDS
d. Pemindahan virus dari ibu hamil pengidap HIV/AIDS kepada
janin dan ASI
HI V tidak menular dengan :
a. Hidup serumah dengan penderita HIV/AIDS, asal tidak
berhubungan seksual.
b. penderita HIV/AIDS bersin, batuk, berkeringat, mengeluarkan
airmata
c. Digigit serangga, nyamuk dan binatang peliharaan
d. Berenang bersama-sama di kolam renang
e. Menggunakan toilet bersama-sama
f. Makan dan minum bersama
g. Jabat tangan, mengobrol, memeluk, berciuman pipi,
bersonggolan badan.








19


8. Pencegahan HIV/AIDS
Tindakan-tindakan untuk mencegah penularan HIV AIDS jika
anda belum terinfeksi HIV AIDS.
a. Pahami HIV AIDS dan ajarkan pada orang lain. Memahami
HIV AIDS dan bagaimana virus ini ditularkan merupakan
dasar untuk melakukan tindakan pencegahan, sebarkan
pengetahuan in ke orang lain seperti keluarga, sahabat dan
kerabat.
b. Ketahui status HIV AIDS patner seks anda. Berhubungan seks
dengan sembarang orang menjadikan pelaku seks bebas ini
sangat riskan terinfeksi HIV, oleh karena itu mengetahui
status HIV AIDS patner seks sangatlah penting.
c. Gunakan jarum suntik yang baru dan steril. Penyebaran paling
cepat HIV AIDS adalah melalui penggunaan jarum suntik
secara bergantian dengan orang yang memiliki status HIV
positif, penularan melalui jarum suntik sering terjadi pada
IDU ( injection drug user).
d. Gunakan Kondom Berkualitas. Selain membuat ejakulasi
lebih lambat, penggunaan kondom saat berhubungan seks
cukup efektif mencegah penularan HIV AIDS melalui seks.
e. Lakukan sirkumsisi / khitan. Banyak penelitian pada tahun
2006 oleh National Institutes of Health (NIH) menunjukkan
bahwa pria yang melakukan khitan memiliki resiko 53 % lebih
kecil daripada mereka yang tidak melakukan sirkumsisi.
f. Lakukan tes HIV secara berkala. Jika anda tergolong orang
g. dengan resiko tinggi, sebaiknya melakukan tes HIV secara
teratur, minimal 1 tahun sekali. Pencegahan bagi penderita
yang sudah terkena infeksi.


20


9. Penanganan HIV AIDS
Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk HIV atau AIDS.
Metode satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada
penghindaran kontak dengan virus atau, jika gagal, perawatan
antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara
signifikan, disebut post-exposure prophylaxis (PEP). PEP memiliki
jadwal empat minggu takaran yang menuntut banyak waktu. PEP juga
memiliki efek samping yang tidak menyenangkan seperti diare, tidak
enak badan, mual, dan lelah.
a. Terapi antivirus
Penanganan infeksi HIV terkini adalah terapi antiretrovirus
yang sangat aktif (highly active antiretroviral therapy, disingkat
HAART). Terapi ini telah sangat bermanfaat bagi orang-orang yang
terinfeksi HIV sejak tahun 1996, yaitu setelah ditemukannya HAART
yang menggunakan protease inhibitor. Pilihan terbaik HAART saat
ini, berupa kombinasi dari setidaknya tiga obat (disebut "koktail) yang
terdiri dari paling sedikit dua macam (atau "kelas") bahan
antiretrovirus. Kombinasi yang umum digunakan adalah nucleoside
analogue reverse transcriptase inhibitor (atau NRTI) dengan protease
inhibitor, atau dengan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor
(NNRTI). Karena penyakit HIV lebih cepat perkembangannya pada
anak-anak daripada pada orang dewasa, maka rekomendasi
perawatannya pun lebih agresif untuk anak-anak daripada untuk orang
dewasa. Di negara-negara berkembang yang menyediakan perawatan
HAART, seorang dokter akan mempertimbangkan kuantitas beban
virus, kecepatan berkurangnya CD4, serta kesiapan mental pasien,
saat memilih waktu memulai perawatan awal.
Perawatan HAART memungkinkan stabilnya gejala dan
viremia (banyaknya jumlah virus dalam darah) pada pasien, tetapi ia
21

tidak menyembuhkannya dari HIV ataupun menghilangkan gejalanya.
HIV-1 dalam tingkat yang tinggi sering resisten terhadap HAART dan
gejalanya kembali setelah perawatan dihentikan. Lagi pula,
dibutuhkan waktu lebih dari seumur hidup seseorang untuk
membersihkan infeksi HIV dengan menggunakan HAART. Meskipun
demikian, banyak pengidap HIV mengalami perbaikan yang hebat
pada kesehatan umum dan kualitas hidup mereka, sehingga terjadi
adanya penurunan drastis atas tingkat kesakitan (morbiditas) dan
tingkat kematian (mortalitas) karena HIV. Tanpa perawatan HAART,
berubahnya infeksi HIV menjadi AIDS terjadi dengan kecepatan rata-
rata (median) antara sembilan sampai sepuluh tahun, dan selanjutnya
waktu bertahan setelah terjangkit AIDS hanyalah 9.2 bulan.
Penerapan HAART dianggap meningkatkan waktu bertahan pasien
selama 4 sampai 12 tahun. Bagi beberapa pasien lainnya, yang
jumlahnya mungkin lebih dari lima puluh persen, perawatan HAART
memberikan hasil jauh dari optimal. Hal ini karena adanya efek
samping/dampak pengobatan tidak bisa ditolerir, terapi antiretrovirus
sebelumnya yang tidak efektif, dan infeksi HIV tertentu yang resisten
obat. Ketidaktaatan dan ketidakteraturan dalam menerapkan terapi
antiretrovirus adalah alasan utama mengapa kebanyakan individu
gagal memperoleh manfaat dari penerapan HAART. Terdapat
bermacam-macam alasan atas sikap tidak taat dan tidak teratur untuk
penerapan HAART tersebut. Isyu-isyu psikososial yang utama ialah
kurangnya akses atas fasilitas kesehatan, kurangnya dukungan sosial,
penyakit kejiwaan, serta penyalahgunaan obat. Perawatan HAART
juga kompleks, karena adanya beragam kombinasi jumlah pil,
frekuensi dosis, pembatasan makan, dan lain-lain yang harus
dijalankan secara rutin . Berbagai efek samping yang juga
menimbulkan keengganan untuk teratur dalam penerapan HAART,
antara lain lipodistrofi, dislipidaemia, penolakan insulin, peningkatan
risiko sistem kardiovaskular, dan kelainan bawaan pada bayi yang
22

dilahirkan. Obat anti-retrovirus berharga mahal, dan mayoritas
individu terinfeksi di dunia tidaklah memiliki akses terhadap
pengobatan dan perawatan untuk HIV dan AIDS tersebut.

b. Penanganan eksperimental dan saran
Telah terdapat pendapat bahwa hanya vaksin lah yang sesuai
untuk menahan epidemik global (pandemik) karena biaya vaksin lebih
murah dari biaya pengobatan lainnya, sehingga negara-negara
berkembang mampu mengadakannya dan pasien tidak membutuhkan
perawatan harian. Namun setelah lebih dari 20 tahun penelitian, HIV-
1 tetap merupakan target yang sulit bagi vaksin. Beragam penelitian
untuk meningkatkan perawatan termasuk usaha mengurangi efek
samping obat, penyederhanaan kombinasi obat-obatan untuk
memudahkan pemakaian, dan penentuan urutan kombinasi
pengobatan terbaik untuk menghadapi adanya resistensi obat.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa langkah-langkah pencegahan
infeksi oportunistik dapat menjadi bermanfaat ketika menangani
pasien dengan infeksi HIV atau AIDS. Vaksinasi atas hepatitis A dan
B disarankan untuk pasien yang belum terinfeksi virus ini dan dalam
berisiko terinfeksi. Pasien yang mengalami penekanan daya tahan
tubuh yang besar juga disarankan mendapatkan terapi pencegahan
(propilaktik) untuk pneumonia pneumosistis, demikian juga pasien
toksoplasmosis dan kriptokokus meningitis yang akan banyak pula
mendapatkan manfaat dari terapi propilaktik tersebut.

c. Pengobatan alternative
Berbagai bentuk pengobatan alternatif digunakan untuk
menangani gejala atau mengubah arah perkembangan penyakit.
Akupunktur telah digunakan untuk mengatasi beberapa gejala,
misalnya kelainan syaraf tepi (peripheral neuropathy) seperti kaki
kram, kesemutan atau nyeri; namun tidak menyembuhkan infeksi
23

HIV. Tes-tes uji acak klinis terhadap efek obat-obatan jamu
menunjukkan bahwa tidak terdapat bukti bahwa tanaman-tanaman
obat tersebut memiliki dampak pada perkembangan penyakit ini,
tetapi malah kemungkinan memberi beragam efek samping negatif
yang serius. Beberapa data memperlihatkan bahwa suplemen
multivitamin dan mineral kemungkinan mengurangi perkembangan
penyakit HIV pada orang dewasa, meskipun tidak ada bukti yang
menyakinkan bahwa tingkat kematian (mortalitas) akan berkurang
pada orang-orang yang memiliki status nutrisi yang baik. Suplemen
vitamin A pada anak-anak kemungkinan juga memiliki beberapa
manfaat.

Pemakaian selenium dengan dosis rutin harian dapat
menurunkan beban tekanan virus HIV melalui terjadinya peningkatan
pada jumlah CD4. Selenium dapat digunakan sebagai terapi
pendamping terhadap berbagai penanganan antivirus yang standar,
tetapi tidak dapat digunakan sendiri untuk menurunkan mortalitas dan
morbiditas.
Penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa terapi pengobatan
alteratif memiliki hanya sedikit efek terhadap mortalitas dan
morbiditas penyakit ini, namun dapat meningkatkan kualitas hidup
individu yang mengidap AIDS. Manfaat-manfaat psikologis dari
beragam terapi alternatif tersebut sesungguhnya adalah manfaat paling
penting dari pemakaiannya. Namun oleh penelitian yang
mengungkapkan adanya simtoma hipotiroksinemia pada penderita
AIDS yang terjangkit virus HIV-1, beberapa pakar menyarankan
terapi dengan asupan hormon tiroksin. Hormon tiroksin dikenal dapat
meningkatkan laju metabolisme basal sel eukariota

dan memperbaiki
gradien pH pada mitokondria.

d. Obat-obatan
Pengobatan HIV/ AIDS yang sudah ada kini adalah
dengan pengobatan ARV (antiretroviral) dan obat-obat baru
24

lainnya masih dalam tahap penelitian. Jenis obat -obat
antiretroviral :
Attachment inhibitors (mencegah perlekatan virus pada sel
host) dan fusion inhibitors (mencegah fusi membran luar virus
dengan membran sel hos). Obat ini adalah obat baru yang
sedang diteliti pada manusia.
1) Reverse transcriptase inhibitors atauR T I , mencegah
salinan RNA virus ke dalam DNA sel hos. Beberapa obat-
obatan yang dipergunakan saat ini adalah golongan Nukes
dan Non-Nukes.
2) Integrase inhibitors, menghalangi kerja enzim integrase
yang berfungsi menyambung potongan-potongan DNA
untuk membentuk virus. Penelitian obat ini pada manusia
dimulai tahun 2001 (S-1360).
3) Protease inhibitors (PIs), menghalangi enzimp rotease
yang berfungsi memotong DNA menjadi potongan-
potongan yang tepat. Golongan obat ini sekarang telah
beredar di pasaran (Saquinavir, Ritonavir, Lopinavir, dll.).
4) Immune stimulators (perangsang imunitas) tubuh
melalui kurir (messenger) kimia, termasuk interleukin-2
(IL-2), Reticulose, HRG214. Obat ini masih dalam
penelitian tahap lanjut pada manusia.
5) Obat antisense, merupakan bayangan cermin kode
genetik HIV yang mengikat pada virus untuk mencegah
fungsinya (HGTV43). Obat ini masih dalam percobaan.

Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini
menghambat pengubahan RNA menjadi DNA dan menghambat
pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu
pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase,
25

sedangkan yang membantu pembentukan protein-protein
aktif disebut rotese.
genetic yang tersimpan pada RNA virus harus diubah terlebih
dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses
pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan
DNA dihambat, maka proses pembentukan protein juga
menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus
yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan
obat-obatan penghambat enzim reverse transcriptase tidak
secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di dalam
tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat
proses pembentukan virus baru, dan proses penghambatan ini
pun tidak dapat menghentikan proses pembentukan virus baru
secara total.
Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak
berkembang adalah penggunaan penghambat enzim protease.
Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk
protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses
pembentukan partikel virus yang baru. Pada mulanya, protein-
protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak aktif.
Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan
harus dipotong pada tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan
protease. Protease akan memotong protein pada tempat
tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan
akhirnya akan menghasilkan protein yang nantinya akan dapat
membentuk protein penyusun matriks virus (protein struktural)
ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.

26

10. Gizi ODHA
Zat gizi di dalam makanan kebutuhannya tergantung pada
bagaimana makanan dimanfaatkan untuk pertumbuhan, reproduksi,
dan pemeliharaan kesehatan. Makanan mengandung zat gizi yang
berbeda antara lain mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin,
dan mineral yang masing masing bahan makanan memiliki nilai
yang berbeda sesuai dengan kelompoknya. Bahan makanan dengan
zat gizi yang baik dan seimbang diperlukan ODHA (Orang Dengan
HIV/AIDS) untuk mempertahankan, meningkatkan fungsi sistem
imun dan meningkatkan kemampuan tubuh untuk memerangi infeksi,
dan menjaga ODHA tetap aktif dan produktif menjalani hidupnya.
Ketika HIV menyerang seseorang, maka kekebalan tubuh alami untuk
melawan penyakit dan kuman akan memburuk. Ketika system
kekebalan tubuh ODHA melemah, maka kuman mengambil
keuntungan dari keadaan ini yang dapat menyebabkan penyakit pada
penderita seperti demam, batuk, gatal, diare kronik, pneumonia, TBC,
dan sariawan. Waktu yang dibutuhkan HIV menjadi AIDS tergantung
kepada status kesehatan dan status gizi penderita sebelum dan selama
terinfeksi oleh virus. Banyak penderita yang hidup dengan virus
antara 10 tahun atau lebih jika mereka mampu menjaga kondisi dan
keseimbangan gizi untuk dirinya. Jika seorang ODHA mempunyai
status gizi yang baik, maka daya tahan tubuh akan lebih baik sehingga
memperlambat memasuki tahap gawat AIDS (acquired immune
deficiency syndrome).
27



Sumber : A Guide for Nutritional Care and Support, 2004
Kebutuhan gizi pada ODHA berbeda beda sesuai dengan kondisi
individu dan perkembangan penyakitnya. Kebutuhan energi meningkat
sekitar 10 sd 30 % dari kebutuhan normal, untuk kebutuhan protein
berkisar antara 1,5 sd 2 gram/kg berat badan, sedangkan kebutuhan lemak
dan karbohidrat normal. Pemenuhan kebutuhan gizi dapat didapat dari
makanan yang sehari hari dikonsumsi oleh ODHA.
Konsumsi makanan dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan
sangat diperlukan untuk menunjang kesehatan, pertahanan tubuh dan
mempertahankan berat badannya agar tidak turun drastis. Tetapi pada
kenyataannya hal tersebut tidaklah mudah, ada beberapa hal yang
menyebabkan jumlah makanan yang dikonsumsi tidak sesuai kebutuhan.
Beberapa masalah makan biasanya ditemui antara lain menurunya nafsu
makan, berubahnya pengecapan, sariawan, dan lainnya. Untuk mengatasi
hal tersebut dapat dilakukan beberapa usaha, antara lain :
a. Konsumsilah makanan yang padat gizi, misalnya susu, jus kacang
hijau, es krim, roti isi, makanan yang ditambahkan margarine, alpukat
dan kacang kacangan dan hasil olahannya.
b. Konsumsilah makanan dalam porsi kecil dan sering terutama apabila
dalam kondisi mual dan tidak nafsu makan.
28

c. Makanan utama dalam bentuk makanan padat dan tinggi kalori,
misalnya krim sup, sereal dengan susu, ikan goreng tepung, sup ayam.
d. Makanan rendah kalori ditaruh diakhir sajian/setelah makan, misalnya
buah, minuman manis, agar agar.
e. Makanlah secara perlahan dan santai serta ciptakannya suasana yang
menyenangkan. Bahan makanan yang dianjurkan antara lain :
Daging, ikan, ayam, dan telur sebagai sumber lauk hewani. Kacang
kacangan dan produk olahannya karena mengandung energi dan
protein untuk memenuhi kebutuhan gizi, Tempe dan produknya,
selain tinggi protein dan vitamin B12 tempe juga mengandung
bakterisida yang dapat membantu mengatasi dan mencegah diare,
Kelapa dan produk olahannya yang dapat membantu memenuhi
kebutuhan lemak sekaligus sebagai sumber energi. Kelapa juga
sebagai sumber MCT (medium chain trygliserida) yang mudah
diserap. Sayur sayuran berwarna seperti wortel, daun daunan,
kacang panjang dan buncis yang mengandung zat dan vitamin
peningkat daya tahan tubuh dan sebagai anti radikal bebas, Buah
buahan untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin.
Makanan dalam bentuk matang. Air masak, bersih dan aman.
f. Jagalah kebersihan makanan dan alat makan yang digunakan.
Bahan makanan tidak dianjurkan adalah :
g. Bahan makanan yang menimbulkan gas, seperti ubi, kol, sawi,
nangka,duarian.
h. Makanan yang terlalu berlemak, seperti santan kental, daging
berlemak, jeroan, gorengan. Makanan yang terlalu berlemak akan
akan menambah rasa mual terutama jika keluhan tersebut sedang
dialami.
i. Makanan dengan bumbu yang merangsang, misalnya cabe, lada dan
cuka.
j. Bahan makanan mentah seperti lalapan.
29

k. Makanan yang kurang masak seperti sate, telur setengan matang, stik
daging.
l. Minuman bersoda dan beralkohol.
Contoh menu dalam sehari :
Pagi :
Nasi
Omelet
Setup Wortel
Susu
Pukul 10.00 Jus kacang hijau
Siang :
Nasi
Ikan bumbu kuning
Tempe bumbu tomat
Sup Sayuran
Jus Melon
Pukul 16.00 Puding buah
Malam :
Nasi
Daging semur
Tahu goreng
Sayur bening bayam
Pisang
Pukul 21.00 Biskuit
30

Nutrisi bagi HIV adalah Nutrisi yang baik membantu
mempertahankan kekuatan sistim kekebalan tubuh anda, sehingga
anda dapat lebih baik melawan penyakit. Diet yang baik memperbaiki
kualitas hidup. Kehilangan berat badan, wasting, serta malnutrisi tetap
menjadi masalah dalam HIV, walaupun dengan pengobatan
antiretroviral yang lebih efektif, dan dapat memberi andil bagi
perkembangan penyakit HIV. Nutrisi yang baik membantu tubuh
memproses banyaknya obat-obatan yang harus dikonsumsi orang
dengan HIV. Diet (dan olah raga) dapat membantu mengatasi gejala-
gejala seperti diare, mual-mual, dan kelelahan, serta juga dengan
redistribusi lemak dan kelaian metabolis seperti gula darah, kolesterol,
dan trigliserida tinggi.
Protein merupakan bahan dasar dari otot, organ tubuh, serta
dari banyak zat yang membentuk sistim kekebalan tubuh anda. Bila
anda tidak menyediakan cukup banyak kalori dan protein melalui
makanan, maka tubuh anda akan menggunakan proteinnya sendiri (otot)
untuk mengganti kekurangan bahan bakar tersebut. Hal ini
mengakibatkan kelemahan dalam tubuh dan sistim kekebalannya.
Jumlah asupan protein yang direkomendasikan (RDA) adalah 0.8-1.0
gram per kilogram berat badan untuk orang dewasa sehat. Lebih banyak
protein dibutuhkan untuk mempertahankan atau membentuk berat
badan ideal bagi orang dengan HIV, antara 1.2-2.0 g/kg berat badan.
Asupan protein tidak boleh lebih dari 15-20% total kalori; diet protein
yang sangat tinggi dapat mengakibatkan tekanan pada ginjal. Daging
sapi rendah lemak, daging unggas tanpa kulit, dan ikan merupakan
sumber protein yang baik. Telur dan produk susu rendah lemak juga
baik. Selain sumber protein hewani ini, anda juga dapat memperoleh
protein dari biji-bijian (seperti kacang polong), dan kacang-kacangan.
Sayur dan produk gandum seperti roti gandum, pasta, barley, dan beras
mengandung jumlah protein yang rendah.
31

Lemak merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Asupan
lemak yang dianjurkan adalah kurang dari 30% (25% lebih baik) dari
total asupan kalori per harinya, namun jenis lemak yang diasup juga
berpengaruh. Lemak jenuh meningkatkan risiko penyakit jantung
(CVD). Orang dengan HIV dapat mengalami kolesterol dan trigliserida
tinggi akibat obat-obatan, sehingga harus berhati-hati terhadap CVD.
Asam lemak Omega-3 (sejenis lemak tak jenuh ganda), yang ditemukan
dalam ikan dan jenis makanan lain, memberi perlindungan terhadap
CVD. Ada 3 jenis lemak yaitu :
a. Lemak Jenuh
Anjuran: 7% atau kurang dari total asupan kalori.
Sumber makanan: daging berlemak, daging unggas dengan
kulit, butter, makanan bersumber susu, serta minyak kelapa
dan kelapa sawit.
b. Lemak tak jenuh tunggal
Anjuran: 10% atau lebih dari total asupan kalori.
Sumber makanan: biji-bijian, minyak kanola dan olive,
alpukat, dan ikan.
c. Lemak tak jenuh ganda
Anjuran: 10% atau kurang dari total asupan kalori.
Sumber makanan: ikan, walnut, biji dan minyak flax, serta
jagung, kacang kedelai, minyak bunga matahari dan safflower.
Kalori merupakan energi dalam makanan. Kalori
menyediakan bahan bakar bagi tubuh untuk tetap bekerja. Bila
anda HIV-positif, anda perlu meningkatkan jumlah makanan
yang anda konsumsi untuk mempertahankan berat badan ideal
anda. Anda paling tidak membutuhkan 34-40 kalori per
kilogram berat tubuh ideal. Namun kebutuhan kalori anda
akan lebih meningkat pada saat infeksi dan demam yaitu :
32

1) Bila berat badan anda stabil dan tidak ada infeksi oportunistik,
gunakan 34-40 kalori/kg. Contoh: Bila berat badan anda 70kg,
anda mungkin membutuhkan 2,380 kalori per harinya
(menggunakan 34 kalori/kg)
2) Bila anda memiliki infeksi oportunistik, gunakan 40 kalori/kg.
Contoh: Bila berat badan anda 70kg, anda mungkin
membutuhkan 2,800 kalori/hari.
3) Bila anda kehilangan berat badan, gunakan 50 kalori/kg.
Contoh: Bila berat badan anda 70kg dan telah kehilangan 5kg
dalam 6 bulan terakhir, anda membutuhkan 3,500 kalori per
hari. (Ingat bahwa kalori yang berasal dari makanan yang sehat
dan padat nutrisi akan lebih bermanfaat bagi kesehatan anda
daripada kalori dari gula dan lemak).
Suplemen yang baik Bila anda kehilangan berat badan dan
tidak memiliki sumber makanan yang memadai, bicarakan dengan
dokter anda mengenai penambahan suplemen gizi. Namun sebisa
mungkin makan diet berkualitas tinggi yang padat nutrisi untuk
meningkatkan berat badan. Orang dengan HIV tidak selalu makan
100% dari nutrisi yang dianjurkan per hari. Mengkonsumsi satu atau
dua tablet multivitamin/mineral (tanpa extra iron) dapat melengkapi
paling tidak 100% dari nutrisi yang dianjurkan per harinya. Selalu
informasikan dokter anda mengenai suplemen yang anda gunakan.







33

BAB IV
PENUTUP
2. Kesimpulan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang
menyebabkan AIDS. HIV termasuk dalam subset dari retrovirus yang
disebut lentivirus (atau virus lambat), yang berarti bahwa ada interval -
kadang tahun - antara infeksi awal dan timbulnya gejala. Setelah
memasuki aliran darah - melalui selaput lendir atau-ke-darah kontak
darah - HIV menginfeksi CD4 + T sel dan mulai untuk meniru dengan
cepat.
timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan
sepenuhnya. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa virus HIV
telah ada di dalam tubuh sebelum munculnya penyakit AIDS ini.
Namun kenyataan bahwa tidak semua orang yang terinfeksi virus HIV
ini terjangkit penyakit AIDS menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain
yang berperan di sini. Penggunaan alkohol dan obat bius, kurang gizi,
tingkat stress yang tinggi dan adanya penyakit lain terutama penyakit
yang ditularkan lewat alat kelamin merupakan faktor-faktor yang
mungkin berperan.

3. Saran
Menurut pandangan agama HIV / AIDS itu buruk, karena
penularan pun terjadi melalui cara yang dilarang oleh agama. Salah
satunya HIV / AIDS ditularkan melalui hubungan seks bebas. Agar kita
semua terhindar dari AIDS, maka kita harus berhati-hati memilih
pasangan hidup, jangan sampai kita menikah dengan pasangan yang
mengidap HIV / AIDS, karena selain dapat menular kepada diri kita
sendirim juga dapat menular kepada janin dalam kandungan kita. Kita
juga harus berhati-hati dalam pemakaian jarum suntik secara bergantian
dan tranfusi darah dengan darah yang sudah terpapar HIV.

34

DAFTAR PUSTAKA