You are on page 1of 3

Pada pasien ini awalnya di diagnosis febris dengan trombositopenia dan vomitus

berdasarkan anamnesis yaitu demam sejak 3 hari SMRS, serta terdapat sakit kepala, muntah,
kurang nafsu makan, keringat malam dan batuk. pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda
vital yaitu TD = 90/60 mmHg, suhu = 37,6
0
C, nadi 100 x/m dan pada pemeriksaan laboratorium
di dapatkan hematokrit 33 leukosit 3.300, Hb 10,7 dan trombosit 123.000 sehingga akhirnya
masuk ruang perawatan.
Setelah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, maka
diagnosis pada pasien ini adalah DBD derajat I dengan diagnosis banding demam e.c suspek
viral infection dan diagnosis tambahan berupaTBC paru dalam terapi OAT 1 bulan dengan gizi
kurang disertai diagnosis laryngitis pada hari 1 perawatan di RS dan GEA pada perawatan ke 2
di RS, setelah di beri terapi, maka diagnose akhir pada pasien adalah DBD derajat I dan
laryngitis serta diagnose tambahan TBC paru on OAT 1 bulan terapi dengan gizi kurang.
Anamnesis yang mengarah ke demam dengue adalah secara epidemiologi, Indonesia
merupakan salah satu Negara di Asia yang endemic DBD dan terdeteksi ke 4 serotype dari
dengue ada di Asia, Indonesia termasuk dalam kategori A menurut data WHO 2011.
1
demam
sejak 3 hari SMRS tinggi, mendadak, menetap (akibat adanya respon imun terhadap virus
dengue sehingga terjadi aktivasi mediator inflamasi yang mengakibatkan peningkatan suhu
tubuh) yang disertai menggigil, sakit kepala, lemas, inaktif, riwayat di lingkungan sekolahnya
ada teman yang mengalami keluhan serupa sekitar 1 minggu lalu dan di diagnosis DBD. pasien
mempunyai riwayat keluhan sama 3 tahun lalu dan di diagnose sebagai demam dengue,
kemungkinan inilah yang menyebabkan pada pemeriksaan serologi Ig G (+) dikarenakan Ig G
dapat bertahan hingga beberapa tahun setelah infeksi.
2
Pemeriksaan fisik yang menunjang ialah suhu 39
0
C(febris), Rumple leed (+) dikarenakan
adanya fragilitas kapiler yang meningkat sehingga saat dilakukan pembendungan terjadi
perembesan plasma dan darah.
3
Hasil lab didapatkan trombositopeni ringan (100.000-150.000 sel/mm) (karena adanya
infeksi sekunder dengan serotype virus dengue yang heterolog, antibody yang telah ada
sebelumnya akan mengenai virus lain yang menginfeksi lalu membentuk kompleks antigen-
antibody yang menyebabkan aktivasi komplemen yang memicu agregasi trombosit serta
destruksi trombosit oleh RES).
4
Hb dan hematokrit yang menurun dapat disebabkan pemberian
cairan (infuse) yang menyebabkan kekentalan darah menurun, leukopeni (karena virus masuk ke
intrasel dan dikenali sebagai antigen yang memicu datangnya leukosit untuk melawan virus
tersebut sehingga kadarnya menjadi turun. diff count monositosis (shift to the right yang
menandakan infeksi virus) dan dengue Ig G dan Ig M (+). Ig G dengue (+) menandakan infeksi
dengue terdahulu yang pernah diderita dan sudah sembuh, akan terdeteksi dengan kadar rendah
di darah pada minggu pertama, meningkat bertahap dan bertahan dalam waktu lama ( beberapa
tahun) sedangkan Ig M dengue (+) menunjukan infeksi sekunder dari dengue dengan serotype
yang berbeda, Ig M akan terdeteksi setelah hari ke 3-5 demam, meningkat tajam dalam 2 minggu
dan bertahan sampai 2 3 bulan. Ig M yang positif menunjukkan kemungkinan diagnosis yang
tinggi untuk dengue.
2
pada infeksi primer, Ig G akan muncul di hari ke 14 sedangkan pada
infeksi sekunder akan muncul di hari ke 2.
3
Jadi, menurut kriteria dengue WHO 2009, untuk mendiagnosis DBD ialah demam 2-7
hari serta manifestasi perdarahan, hasil lab trombositopeni, tanda plasma leakage dan atau hasil
pemeriksaan serologis pada penderita tersangka DBD menunjukkan hasil positif atau terjadi
peninggian Ig G saja atau Ig M dan Ig G pada pemeriksaan dengue rapid test, dimana hasil ini
sesuai dengan klinis dan labolatorium yang terdapat pada pasien.
2
Menurut kepustakaan, penatalaksanaan DBD pada pasien ini mengacu pada IDAI 2008
dalam pedoman tatalaksana DBD derajat I/II yaitu protocol 3, sedangkan untuk maintenance
digunakan menurut Holiday & segar.
4, 5
jadi dibutuhkan IVFD untuk rehidrasi dengan cairan
kristaloid RL 52 tpm sambil pantau tanda tanda vital tiap 3 jam, ht dan trombosit tiap 6 jam, bila
ada perbaikan (tidak gelisah, nadi kuat, TD stabil, dieresis cukup, Ht turun) maka cairan
dikurangi dan diturunkan bertahap kurangi tetesan dan mulai maintenance yaitu IVFD RL 24
tpm, bila membaik, maka turunkan tetesan lagi dan stop IVFD pada 24-28 jam bila tanda vital/Ht
stabil dan diuresis cukup.
4, 5

pemberian obat lainnya diberikan untuk diagnose tambahan dan untuk simptomatik.
Prednisone untuk mengatasi laryngitis, OAT untuk TBC paru, sanadryl untuk mengatasi batuk,
paracetamol sebagai antipiretik jika demam, lakbon untuk mengatasi diare dan ranitidine untuk
simptomatik nyeri ulu hati. Pada dasarnya, tidak diperlukan pemberian antibiotic pada pasien
dengan DBD, dikarenakan penyebab dari DBD endiri adalah virus Dengue. Pemberian
antibiotika pada pasien ini dimungkinkan sebagai profilaksis saat pemasangan infus saat lokasi
pemasangan menjadi bengkak.