You are on page 1of 11

1

TEORI SEBAB AKIBAT DAN APLIKASINYA PADA BIDANG KAJIAN


AGAMA & KESEHATAN
1


Oleh:

Selamat RIYADI
2


ABSTRAK
Makalah ini mendeskripsikan tentang teori sebab akibat dan aplikasinya dalam bidang
agama dan kesehatan. Aspek-aspek yang diuraikan dalam tulisan ini mencakup pandangan filsafat
teori sebab akibat dari beberapa filosof, teori sebab akibat (kausalitas) secara umum, definisi dan
prinsip-prinsip teori sebab akibat serta aplikasinya pada bidang agama dan kesehatan.
Teori sebab akibat secara umum adalah bahwa setiap akibat ada penyebabnya. Terdapat
banyak kesamaan dan sedikit pertentangan tentang toeri sebab akibat. Manifestasi teori sebab
akibat pada bidang agama dan kesehatan menunjukkan realitas akan komprehansif dan keterkaitan
antara bidang agama dan kesehatan.
Agama dan kesehatan memiliki asosiasi yang timbal balik. Mengacu pada teori sebab
akibat bahwa setiap akibat ada penyebabnya, maka setiap penyakit ada penyebab dan juga ada
obatnya sehingga diperlukan kesadaran untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan. Kata Kunci:
filsafat, teori, kausalitas, agama dan kesehatan.

A. Pendahuluan
Sebagaimana definisi yang dikemukakan oleh Aristoteles dan N.
Driyakara tentang filsafat
3
, pengkajian Teori Sebab Akibat merupakan salah satu
objek pemikiran dalam filsafat. Istilah lain dari Teori Sebab Akibat yang biasa
disebut adalah Hukum Sebab Musabab
4
, Kausalitas dan Hukum Sebab Akibat
5
.
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana, Fuad Hasan, Fung Yu Lan dan Harun
Nasution
6
, filsafat termasuk filsafat tentang sebab akibat pada dasarnya adalah
berfikir. Dengan kata lain filsafat teori sebab akibat bekerja berdasarkan akal
pikiran dengan logika-logika.

1
Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Islam Thought (Pemikiran Isalm) pada
Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2012.
2
Staf di Direktorat Bina Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan, mahasiswa Program
Doktoral Agama dan Kesehatan Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3
Amsal Bakhtiar. Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia. Jakarta: PT.
Rajawali Pers, 2009, 7-8. Aristoteles menyebut filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda.
Selanjutnya, N. Driyakara memandang filsafat sebagai permenungan yang sedalam-dalamnya tentang
sebab-sebab ada dan berbuat permenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya, sampai
mengapa yang penghabisan.
4
Sudarsono. Filsafat Islam. Jakarta: Rineka Cipta, 2010, 47.
5
Juraid Abdul Latief. Manusia, Filsafat dan Sejarah. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012, 85.
6
Amsal Bakhtiar. Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, 8-9. Sutan Takdir
Alisjahbana menyatakan bahwa filsafat adalah berpikir dengan insaf (teliti, menurut suatu atuarn yang pasti).
Fuad Hasan berpendapat bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal (mulai dari radix-nya
sesuatu gejala, dari akarnya sesuatu yang hendak dipermasalahkan, dan Fung Yu Lan memandang filsafat
adalah pikiran yang sistematis dan refelekasi tentang hidup serta Harun Nasution menyebutkan bahwa filsafat
adalah berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma, dan agama) dan
dengan sedalam-dalamnya, sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.

2

Spektrum luas filsafat tentang teori sebab akibat meliputi pembicaraan
yang sangat mendasar dan debatable, menyangkut tentang Tuhan, alam semesta
dan lain-lain dengan melibatkan banyak filosof. Perdebatan yang mengemuka
dengan argumennya masing-masing dengan pendekatan dan titik tertentu
menunjukkan adanya persamaan. Sesuai dengan etimologi filsafat yang berarti
cinta kebijakan atau kebenaran (love of wisdom)
7
, maka persinggungan yang ada
diharapkan akan menjadi pencerahan bersama.
Pembahasan tentang teori sebab akibat dan aplikasinya pada dasarnya
mencakup dalam berbagai disiplin ilmu yang ada. Hal ini sesuai dengan yang
dikemukakan oleh Plato bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang
ada
8
.
Mengingat luasnya cakupan tentang filsafat teori sebab akibat, dalam
tulisan ini akan diuraikan secara umum dan ditambahkan denagn aplikasi pada
bidang kajian agama dan kesehatan sehingga lebih membumi.

B. Teori Sebab Akibat (Kausalitas) Secara Umum
Teori Sebab Akibat (Kausalitas) pada dasarnya telah muncul seumur
dengan peradaban manusia, bahkan seusia dengan alam ini dan realitas eksistensi
itu sendiri. Manusia sebagai makhluk yang berakal berupaya mencari sebab-sebab
dari setiap kejadian. Dengan mengetahui sebabnya berarti memahami akar dan
sumber akibat atau kejadian
9
.
Dalam literatur disebutkan bahwa sebuah hukum dasar kehidupan pertama
kali dikemukakan oleh Socrates lebih dari 400 tahun sebelum masehi yang disebut
Kausalitas atau Hukum Sebab Akibat. Hukum kausalitas menyatakan bahwa
Setiap akibat dalam hidup ada penyebabnya
10
.
Mengacu pada ilmu logika bahwa proposisi tersusun dari premis minor
dan premis mayor. Misalnya A dari B (premis minor) dan B dari C (premis

7
Amsal Bakhtiar. Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, 6.
8
Amsal Bakhtiar. Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia, 7.
9
Mohammad Adlany. Keberadaan Tuhan. Sumber:http://maulanusantara.wordpress.com /2012/01/
05/ keberadaan-tuhan/ (diakses: 10/12/2012)
10
Sumber:http://www.tipsmutipsku.com/2012/10/mencapai-kebahagiaan-dalam-
tanggungjawab.html (diakses: 7/12/2012)

3

mayor), maka A dari C. Jika menolak prinsip kausalitas, maka mustahil
melahirkan silogisme dari proposisi itu, yaitu A dari C. Menolak kausalitas artinya
ragu B dari A dan juga ragu B dari C, akhirnya mustahil menyimpulkan A dari C.
Jadi, silogisme A dari C hasil dari adanya hubungan keniscayaan dari dua premis
minor dan mayor. Hubungan keniscayaan itu disebut hubungan kausalitas atau
hubungan sebab akibat
11
.
Prinsip kausalitas adalah melihat fenomena hubungan sebab akibat antara
yang satu dengan yang lainnya (jika a, maka b) dan bersifat pasti. Pada alam,
misalnya dapat dipahami sebagai rangkaian gerak sebab akibat/kausalitas dan
bukan sebagai gerak tanpa arah yang jelas, yang tidak bisa di prediksi. Dapat
dikatakan bahwa peranan hukum sebab akibat dalam realitas alam, yaitu alam
fisik dikendalikan oleh hukum sebab akibat alami
12
.
Beberapa filsuf mendefinisikan kausalitas sebagai berikut:
1. Al-Farabi berkata, Sebab adalah sesuatu yang niscaya ada dan hadir bersama
dengan akibat
2. Ibnu Sina menyatakan, Sebab adalah sesuatu yang meniscayakan sesuatu
yang lain, dan akibat mesti aktual karena keaktualan sebabnya
3. Mulla Sadra menyatakan, Sebab memiliki dua pengertian. Pertama, sebab
adalah wujud sesuatu yang memancarkan realitas eksistensi yang lain dan
ketiadaan sebab berefek pada ketiadaan realitas itu. Kedua, sebab adalah
wujud yang meniscayakan kebergantungan hakiki realitas lain, dan ketiadaan
akibat karena ketiadaan sebabnya
4. Syekh Isyraq Suhrawardi berkata, Maksud sebab adalah sesuatu yang
keberadaannya meniscayakan sesuatu yang lain dan memustahilkan
kejamakan sebab.
Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sebab
merupakan realitas wujud yang meniscayakan kebergantungan mutlak dan hakiki
segala eksistensi eksternal lainnya. Contohnya, secara hakiki api dan panas
memiliki hubungan khusus yang disebut kausalitas atau hubungan sebab akibat.

11
Mohammad Adlany. Keberadaan Tuhan. Sumber:http://maulanusantara.wordpress.com /2012/01/
05/ keberadaan-tuhan/ (diakses: 10/12/2012)
12
Sumber: http://www.slideshare.net/WiwinWahyuni/pengertian-filsafat. (diakses: 7/12/2012)

4

Dengan kausalitas, manusia bisa menghubungkan antara satu realitas dengan
realitas lain serta menentukan sebab dan akibat dari realitas-realitas tersebut. Jadi
sebab, akibat dan hubungan sebab akibat (kausalitas) memiliki realitas yang tak
terpungkiri. Dalam perspektif filsafat Islam, prinsip dan hubungan kausalitas
bersifat universal dan tak terbatas pada alam tertentu, tapi terterapkan pada semua
alam baik alam materi maupun alam non- materi. Hubungan kausalitas tidak ada
kaitannya dengan penginderaan lahiriah tapi berkaitan dengan persepsi akal dan
dibuktikan lewat pengkajian-pengkajian rasional
13
.
Dalam pandangan para filosof, pandangan terhadap objek sebagai kajian
filsafat tentunya terdapat pertentangan, perdebatan atau keberterimaan. Demikian
halnya pandangan terhadap teori sebab akibat juga diwarnai dengan adanya
penolakan.
Sebagian filosof barat beraliran empiris seperti David Hume menolak
hubungan kausalitas itu. Mereka beranggapan bahwa yang bisa diempiriskan
hanyalah api dan panas bukan hubungan khusus yang bersifat niscaya (kausalitas).
Segala realitas yang mustahil terempiriskan tidak dikategorikan sebagai realitas
yang berwujud. Hubungan kausalitas itu mustahil terempiriskan maka tak
berwujud. Selanjutnya dikatakan bahwa segala pengetahuan manusia bersumber
dari hal-hal yang empiris. Menurutnya, jika terdapat keberhubungan antara satu
realitas dengan realitas lain, hubungan ini hanya bersifat kebetulan, bukan karena
adanya hubungan kausalitas. Keberhubungan dua realitas itu senantiasa terjadi,
keberadaan api memunculkan panas, maka hubungan kausalitas antara kedua
realitas itu terbentuk dalam pikiran. Immanuel Kant, filosof besar asal Jerman
mengambil jalan lain dalam menyikapi hubungan kausalitas itu. Menurutnya
kausalitas atau hubungan hakiki sebab akibat hanya terwujud di alam pikiran dan
bukan di alam eksternal. Hubungan itu dikatakan ada di alam eksternal jika bisa
diaplikasikan kedalam fenomena ruang-waktu di alam materi. Hubungan
kausalitas itu tak bermanfaat jika mustahil terterapkan dalam koridor ruang-
waktu. Kant dan Hume sepakat bahwa pengetahuan berasal dari realitas empiris.

13
Mohammad Adlany. Keberadaan Tuhan. Sumber:http://maulanusantara.wordpress.com /2012/01/
05/ keberadaan-tuhan/ (diakses: 10/12/2012)

5

Hume berbeda pendapat dengan Kant dalam hal bahwa walaupun pengetahuan
kita di peroleh dari realitas-realitas empiris, ini bukan berarti semua pengetahuan
berasal dari realitas empiris
14
.
Dalam pendekatan sejarah dijelaskan berbagai peristiwa (masalah) dengan
merangkaikan berbagai fakta dalam sintesis hubungan kausalitas sebagai akibat
(cause-effect) sehingga setiap fenomena merupakan akibat (consequence) dari
sebab sebelumnya (antecendent cause). Masalah kausalitas merupakan bagian dari
masalah eksplanasi sejarah yang luas dan mendalam serta merupakan masalah
metodologis. Peristiwa yang terjadi hampir merupakan aksioma bahwa segala
sesuatu mempunyai sebab-sebab. Kausalitas adalah suatu rangkaian peristiwa
yang mendahului dan peristiwa yang menyusul
15
.

C. Aplikasi Teori Sebab Akibat dalam Kajian Agama dan Kesehatan
Teori sebab akibat dalam kajian agama diantaranya adalah pemikiran
tentang Tuhan. Filosof Al Kindi dan Al Farabi berkesimpulan bahwa Tuhan
adalah sebab pertama (first cause)
16
. Filosof termahsyur, seperti Aristoteles dan
Thomas Aquinas menyebut sebagai penyebab tanpa penyebab, causa prima,
penyebab pertama, atau bahkan penggerak pertama
17
. Hubungan hakiki antara
eksistensi dan Tuhan disebut niscaya artinya eksistensi dan Tuhan adalah dua hal
yang mustahil terpisahkan yaitu wujud Tuhan pasti ada, mustahil tiada, niscaya
dan senantiasa ada. Wujud Tuhan, dalam istilah filsafat, disebut Wujud Wajib
(wjib al-wujud)
18
.
Islam menetapkan tujuan pokok kehadirannya untuk memelihara agama,
jiwa, akal, jasmani, harta, dan keturunan bagi umat manusia. Anggota badan
manusia pada hakekatnya adalah milik Allah yang dianugerahkan-Nya untuk
dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, bukan untuk disalah gunakan. Dari

14
Mohammad Adlany. Keberadaan Tuhan. Sumber:http://maulanusantara.wordpress.com /2012/01/
05/ keberadaan-tuhan/ (diakses: 10/12/2012).
15
Juraid Abdul Latief. Manusia, Filsafat dan Sejarah. Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012, 85-86.
16
Sudarsono. Filsafat Islam. Jakarta: Rineka Cipta, 2010, 27-38
17
http://argumentislam.wordpress.com/2009/12/25/al-quran-menjawab-kesimpulan-mengingkari-
premis-%E2%80%9causa-prima%E2%80%9D-melalui-filsafat-kosmologi-qalam/ (diakses: 03/12/2012)
18
Mohammad Adlany. Keberadaan Tuhan. Sumber:http://maulanusantara.wordpress.com /2012/01/
05/ keberadaan-tuhan/

6

beberapa ayat Al-Quran dan hadits Nabi di atas, dapat tarik sebuah korelasi
(hubungan) bahwa Islam sangat menekankan tentang kebersihan, baik kebersihan
jasmani maupun rohani. Di satu sisi Allah memerintahkan untuk menjaga
kesehatan dan kebersihan fisik, di sisi yang lain Allah juga memerintahkan untuk
menjaga kesehatan mental dan jiwa (rohani). Kesehatan manusia dapat
diwujudkan dalam beberapa dimensi, yaitu jasmaniah material yang disembuhkan
oleh keseimbangan nutrisi, kesehatan fungsional organ yang disembuhkan oleh
energi aktivitas jasmaniah, kesehatan pola sikap yang dikendalikan oleh pikiran,
dan kesehatan emosi-ruhaniah yang disembuhkan oleh aspek spiritual
keagamaan.
19
.
Dalam konsep umum dan realitas tentang kesehatan sesungguhnya banyak
yang sejalan dengan teori sebab akibat. Status kesehatan seseorang maupun
masyarakat sebagai akibat dipengaruhi oleh banyak faktor yang merupakan sebab.
Sebagai contoh adalah ketika seseorang melaksanakan PHBS (Perilaku Hidup
Bersih dan Sehat), maka kecenderungan ia akan dalam kondisi kesehatan yang
baik. Demikian juga berlaku sebaliknya. Contoh lain adalah kejadian kecelakaan
yang banyak disebabkan oleh faktor manusia, dan masih banyak lagi kejadian atau
teori-teori dalam kesehatan yang intinya adalah perwujudan dari teori sebab
akibat.
Secara ilmiah, penyakit (disease) dapat diartikan sebagai gangguan fungsi
fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat dari infeksi atau tekanan dari
lingkungan. Dengan demikian penyakit itu bersifat obyektif. Sedangkan sakit
(illness) adalah penilaian individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit
dan bersifat subyektif. Fenomena subyektif ditandai dengan perasaan yang tidak
enak. Konsep Kesehatan untuk Semua dapat diartikan sebagai kesehatan
merupakan kebutuhan setiap individu, baik orang yang sakit maupun yang sehat,
kesehatan juga merupakan kebutuhan manusia dari berbagai kelangan baik dilihat
dari ekonomi (kaya-miskin), sosial (kalangan elit atau wong alit), geografik (desa-
kota), psikologi perkembangan (bayi, anak, remaja, dewasa, atau manula) maupun

19
http://kangmuz.wordpress.com/2011/07/29/memahami-ayat-ayat-dan-hadits-nabi-tentang-
kesehatan/ (diakses: 7/12/2012)

7

status kesehatan (sakit/sehat), orang sakit membutuhkan penyembuhan (kuratif)
dan orang sehat membutuhkan adanya promotif (peningkatan), preventif
(pencegahan), rehabilitatif (perbaikan), dan konservatif (pemeliharaan). Seluruh
aktivitas manusia dari bangun pagi, aktivitas, tidur, hingga bangun kembali di
waktu berikutnya terkait dan berpengaruh terhadap kesehatan
20
.
Alat kerja filsafat yaitu berfikir berpengaruh jiwa. Dengan berfikir yang
sehat, maka akan menumbuhkan jiwa sehat pula. Kesalahan dalam melakukan
manajemen aktivitas dapat menyebabkan terganggunya kesehatan, seperti salah
tidur, salah makan, salah cara membaca, salah berpakaian, salah berdandan, dan
sejenisnya dapat menyebabkan terganggunya kesehatan. Berbicara mengenai
penyebab penyakit dikenal adanya multi cause. Artinya bahwa satu jenis penyakit
yang timbul dapat disebabkan oleh banyak faktor. Selain bahwa ada yang disebut
sebagai penyebab utama atau agent tunggal untuk beberapa jenis penyakit
tertentu, yang biasanya adalah penyakit-penyakit infeksius. Hal ini juga tidak
terlepas dari pengaruh lingkungan yang ada, termasuk daya tahan tubuh,
kekebalan, suhu lingkungan dan lain-lain.
Demikian juga pada penyembuhan penyakit. Satu jenis penyakit kadang
tidak cukup disembuhkan oleh satu jenis obat. Misalnya, seorang dokter kadang
menggunakan teknik polifarmasi, yaitu memberikan obat lebih dari 1 jenis dengan
tujuan menyembuhkan 1 jenis penyakit. Sebuah penyakit bisa ditandai dengan
adanya beberapa yang tampak. Pada pemaknaan sebuah perilaku, sebuah tindakan
manusia dapat memiliki makna lebih dari 1 sehingga tindakan manusia tidak
bersifat mutlak, melainkan bersifat relatif dan kontekstual. Untuk perilaku sosial
dapat lebih bersifat relatif dan kontekstual, maka pola yang berkembang bisa
berupa satu sebab melahirkan satu akibat, satu sebab melahirkan lebih dari 1
akibat, banyak penyebab, melahirkan satu akibat, banyak penyebab melahirkan
banyak akibat, variasi penyakit dan teknik pengobatan, satu sebab melahirkan satu
akibat. Aplikasi atau perwujudan kausalitas tersebut, diantaranya adalah kulit
yang tergores oleh senjata tajam menyebabkan luka berdarah, seseorang
menderita sakit gigi kerap kali merasakan berbagai rasa sakit yang lain misalnya

20
Riksa Wibawa Resna. Kesadaran Sosial dalam Kesehatan. (diakses: 7/12/2012)

8

saja pusing, reaksi emosional yang tinggi dan tidak saat makan. Orang yang
terkena hujan, perut kosong, jarang olahraga, kemudian dia menderita sakit
demam. Kemudian orang yang terlalu capai dan tidak disiplin dalam akut makan
bisa terkena sakit maag yang menyebabkan komplikasi penyakit tifus. Dalam
hukum alam penyakit seseorang ini di lingkungan kedokteran pun diakui
tentang tidak adanya hukum kausalitas yang monoliti (satu sebab dengan satu
akibat)
21
.
Islam memiliki aturan dan tuntunan yang bersifat komprehensif, harmonis,
jelas dan logis. Islam mengajarkan kesehatan bagi individu maupun masyarakat.
Nabi Muhammad SAW bersabda, Kesehatan merupakan salah satu hak bagi
tubuh manusia. Kesehatan merupakan hak asasi manusia, sesuatu yang sesuai
dengan fitrah manusia. Islam menegaskan perlunya istiqomah memantapkan
dirinya dengan menegakkan agama Islam. Satu-satunya jalan dengan
melaksanakan perintah perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya serta tetap
selalu berupaya untuk sabar, mencari pengobatan ketika sakit serta melaksanakan
perilaku hidup bersiah dan sehat, senantiasa menjaga, memelihara dan
meningkatkan kesehatan. Allah berfirman:
''Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh-penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan
petunjuk dan rahmat bagi orang-orangnya yang beriman'' (QS:Yunus 57).
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Setiap penyakit pasti memiliki obat. Bila sebuah obat sesuai dengan penyakitnya
maka dia akan sembuh dengan seizin Allah Subhanahu wa Taala. (HR.
Muslim).
Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam bersabda:


21
Riksa Wibawa Resna. Kesdaran Sosial dalam Kesehatan. (diakses: 7/12/2012)

9

Tidaklah Allah menurunkan sebuah penyakit melainkan menurunkan pula
obatnya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
22
.
Aristoteles menyatakan hukum sebab-akibat merupakan bagian dari
hukum asosiasi. Menurutnya tanggapan-tanggapan yang mempunyai hubungan
sebab-akibat akan saling berasosiasi. Contohnya, melihat daerah slum, lingkungan
yang buruk, ingat akan penyakit menular yang tinggi
23
. Dalam bidang kedokteran
forensik, pembuktian ada atau tidaknya peristiwa berupa ada tidaknya cedera pada
korban atau perlakuan salah/kesengajaan/kelalaian dari pelaku. Identifikasi
merupakan puncak dari pembuktian keseluruhan diri korban, karena peristiwa
(dugaan pembunuhan atau kecelakaan) bertujuan menghilangkan atau berakibat
hilangnya diri atau ciri unik korban. Pendokumentasian bukti fisik tersebut (pada
mayat mulai dari spesimen/serpihan/potongan sampai ke rekonstruksi keseluruhan
potongan tersebut).
Namun, perlu diingat bahwa identifikasi juga diperlukan pada korban
hidup (seperti kasus penentuan keayahan), sehingga fakta dan bukti tersebut perlu
juga didokumentasikan. Hubungan sebab akibat antara temuan yang ada di tubuh
korban dengan pelaku/pelanggar/pencelaka. Dalam konteks ini hubungan tersebut
dikenal sebagai kausalitas linear, yakni 1 sebab menyebabkan 1 akibat (atau 1
sebab 1 akibat). Kemudian disusul dengan pengelompokan hubungan-hubungan
sebab akibat tersebut, yang pada bagian akhirnya dibuat penarikan kesimpulan
yang paling masuk akal
24
.
Menurut World Health Organization (WHO) sehat adalah keadaan
sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomis. Tujuan Islam mengajarkan hidup yang
bersih dan sehat adalah menciptakan individu dan masyarakat yang sehat jasmani,
rokhani, dan sosial sehingga umat manusia mampu menjadi umat yang pilihan.
Beberapa unsur dan perilaku tuntunan agama yang juga secara jelas bernilai sehat,
diantaranya adalah sehatnya hati dan jasmani, nikmat sehat, memakan makanan

22
http://arifcahya.blogspot.com/2011/01/hadist-tentang-kesehatan.html. (diakses: 7/12/2012)
23
Soekidjo Notoatmodjo, Pendidikan dan Perilaku Kesehata. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2003,
143.
24
Agus Purwadianto. Peranan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Menopang Sistem Etikolegal untuk
Membingkai Profesionalisme Dokter. Etikolegak Edisi Desember 2007 (Vol. 7 No. 5). (diakses: 3/12/2012)

10

yang baik, tidak berlebih dalam makan, larangan meniup tempat makan/minum,
mencuci tangan sebelum tidur, bersuci sebagian dari iman, bersyiwak, mencuci
tangan setelah tidur, mandi, kebersihan hati dan jiwa, olahraga dan berobat
25
.

D. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum,
Hukum Kausalitas berbunyi, Setiap Akibat Membutuhkan Sebab. Hal penting
dalam teori sebab akibat, mencakup diantaranya Prinsip Kausalitas, Gamblangnya
Teori Kausalitas, Hakikat Kausalitas, Keidentikan Sebab dan Akibat, Hubungan
Keniscayaan Sebab dan Akibat, Kebersamaan Hakiki Sebab dan Akibat, serta
Hubungan Sebab Akibat Hanya Pada Wujud.
Agama dan kesehatan memiliki asosiasi yang timbal balik. Mengacu pada
teori sebab akibat bahwa setiap akibat ada penyebabnya, maka setiap penyakit ada
penyebabnya. Demikian juga akibat berupa sehat juga ada penyebabnya, misalnya
saja perilaku hidup yang bersih dan sehat. Hal yang sama pada penyakit, baik
secara agama maupun kesehatan diharapkan untuk dilakukan pengobatan karena
menurut agama setiap penyakit ada obatnya. Selain mengobati, hal penting
lainnya adalah melakukan promosi, proteksi dan pencegahan terhadap gangguan
kesehatan dan keagamaan secara parsial maupun menyeluruh.

DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal. Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia.
Jakarta: Rajawali Pers, 2009
Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum, 2008
Hashman, Ade. Rahasia Kesehatan Rasulullah: Meneladani Gaya Hidup Sehat
Nabi Muhammad SAW. Jakarta: PT. Mizan Republika, 2012.
http://kangmuz.wordpress.com/2011/07/29/memahami-ayat-ayat-dan-hadits-nabi-
tentang-kesehatan/
http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/06/09/hadits-dan-kesehatan-
larangan-minum-sambil-berdiri/
http://arifcahya.blogspot.com/2011/01/hadist-tentang-kesehatan.html
http://argumentislam.wordpress.com/2009/12/25/al-quran-menjawab-kesimpulan-
mengingkari-premis-%E2%80%9Ccausa-prima%E2%80%9D-melalui-
filsafat-kosmologi-qalam/

25
http://arifcahya.blogspot.com/2011/01/hadist-tentang-kesehatan.html. (diakses: 7/12/2012)

11

http://ustanobasaperadaban.blogspot.com/2012/06/proses-dan-causa-prima-
tuhan.html
http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2039097-hakikat-hukum-
kausalitas/#ixzz2DyTQezuD
http://maulanusantara.wordpress.com/2012/01/05/keberadaan-tuhan/
http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/2039097-hakikat-hukum-
kausalitas/
http://ustanobasaperadaban.blogspot.com/2012/06/proses-dan-causa-prima-
tuhan.html
Ismail, Ilyas, Hotman, Prio. Filsafat Dakwah: Rekayasa Membangun Agama dan
Peradaban Islam. Jakarta: Kencana, 2011
Latief, Juraid Abdul. Manusia, Filsafat dan Sejarah. Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2012.
Nata, Abuddin. Studi Islam Komprehensif. Jakarta: Kencana, 2011, cet. I.
Purwadianto, Agus. Peranan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Menopang Sistem
Etikolegal untuk Membingkai Profesionalisme Dokter. Etikolegak Edisi
Desember 2007 (Vol. 7 No. 5)
Sudarsono. Filsafat Islam. Jakarta: Rineka Cipta, 2010