You are on page 1of 8

Peran Pers di Era Orde

Baru dan Reformasi


Oleh :
- Dewi Ayu Shifa (NIM : 201010360311117)
- Wayan Ulandari (NIM : 201010360311134)
- Fhika Risky Meisandy (NIM : 201010360311105)
- Arsyi Nabiela Nora Safitri Achjat (NIM : 201010360311129)

Pers Masa Orde Baru
Pada masa ini, pers bisa dikatakan tidak ada fungsinya untuk
warga negara. Pers sangat terlihat hanya sebagai boneka
penguasa. Tidak ada kebebasan berpendapat yang dijanjikan
pemerintah pada awal awal kekuasaan orde baru.
Keberadaan pers diawasi secara ketat oleh pemerintah di
bawah naungan departemen penerangan. Hal ini dilakukan
untuk mengantisipasi hal hal buruk di dalam pemerintahan
orde baru sampai di telinga masyarakat.
Pers tidak bisa melakukan apapun selain patuh pada aturan
yang ditetapkan oleh pemerintah. Aspirasi masyarakat untuk
pemerintah tidak tersalurkan sama sekali. Hal ini dikarenakan
komunikasi politik yang terjadi hanya top down. Artinya pers
hanya sebagai komunikator dari pemerintah ke rakyat
Pers tidak dapat melakukan fungsinya sebagai
komunikator dari rakyat ke pemerintah. Selain
itu, pemberitaan yang disalurkan ke masyarakat
mengenai pemerintah harus merupakan berita
berita yang menjunjung tinggi keberhasilan
pemerintah. Yang diberitakan hanyalah sesuatu
yang baik.
Apabila suatu media nekat menerbitkan
pemberitaan pemberitaan miring soal
pemerintah, bisa di pastikan nasib media tersebut
berada di ujung tanduk.

9 Elemen Dasar Bill Kovach Mengenai
Jurnalisme
1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian
kebenaran
2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara
3. Esensi utama jurnalisme adalah disiplin verifikasi
4. Jurnalis harus menjaga indepedensi dari objek liputannya
5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau
independen dari kekuasaan
6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling kritik
dan menemukan kompromi
7. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi
menarik dan relevan
8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan
proporsional
9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani
personelnya

Pers Masa Reformasi
Tidak bisa dipungkiri bahwa pers pada masa orde
baru sangat berbeda dengan pers pada masa
reformasi. Tidak ada kebebasan pers pada masa
orde baru.
Namun, saat orde baru tumbang, pers seperti
kehilangan kendali. Arus kebebasan dibuka lebar
lebar secara spontan. Gelombang kebebasan
pers tercipta secara besar besaran, bukan
perlahan dengan proses yang seharusnya.
Suatu kebijakan yang monumental karena dianggap
sebagai tonggak dimulainya kebebesan pers di
Indonesia yakni dikeluarkannya Permenpen No.
01/per/Menpen/1998, tentang Kententuan Ketentuan
SIUPP. Pada Permenpen ini, sanksi pencabutan SIUPP
maupun pembreidelan bagi pers ditiadakan.
Ada lima peraturan, baik berupa Peraturan Menteri
maupun Surat Keputusan Menteri, yang
keseluruhannya menghambat ruang gerak pers,
dicabut. Puncaknya adalah dikeluarkannya Undang-
Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Terdapat pasal
di dalam undang-undang ini yang menyatakan
pencabutan semua undang- undang pers yang ada
sebelumnya.
Sejak saat itu, tidak ada lagi kebijakan pemerintah yang
memberatkan pers. Akibatnya, permintaan untuk izin
penerbitan meningkat.

Kendala-kendala yang Dihadapi
Pers
Peranan Pers Dalam Peristiwa Revolusi Mei 1998",
dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana peranan
pers dalam peristiwa revolusi Mei 1998 serta
mengetahui kendala-kendala yang dihadapi oleh pers
dalam menjalankan peranannya tersebut.
Pers selama orde baru senantiasa dibatasi ruang
geraknya oleh pemerintah, dengan kata lain
dilakukannya kontrol yang ketat oleh pemerintah
terhadap pers, namun dalam situasi dan kondisi seperti
itu pers tetap mampu berperan dalam mewujudkan
demokrasi di Indonesia, khususnya dalam peristiwa
revolusi Mei 1998.



Terima Kasih