You are on page 1of 17

Nama : Dewi Ayu Shifa

NIM : 201010360311117
Demokrasi di Negara Swiss
Abstraksi
Sebenarnya, apakah yang dimaksud dengan demokrasi? Terdapat berbagai pendapat
tentang demokrasi itu sendiri yang para ahli dan ilmuwan menjelaskan bahwa demokrasi itu
merupakan suatu wadah untuk menyalurkan gagasan, pikiran, ideologi maupun pendapat
untuk khalayak umum. Sedangkan secara etimologis, demokrasi sendiri diartikan sebagai
pemerintahan oleh rakyat. Berbeda lagi dengan pendapat para seniman yang mengartikan
demokrasi sebagai kebebasan berekspresi, mengeluarkan gagasan dalam bentuk seni maupun
pikiran, mengemukakan gagasan-gagasan dalam suatu pola tertentu. Bagi saya sendiri,
demokrasi merupakan suatu sistem kebebasan untuk mengemukakan pendapat, ide, inisiatif
dan kreatifitas saya pada beberapa orang maupun khalayak umum.
Dalam konteks ini, saya ingin membahas tentang demokrasi yang ada pada negara
Swiss. Bagaimana kehidupan bermasyarakat rakyat Swiss? Bagaimana sistem
pemerintahannya? Apakah sudah sesuai dengan sistem demokrasi? Maka, akan saya bahas
dulu tentang sistem pemerintahan negara Swiss. Negara Swiss menganut sistem
pemerintahan presidensial parlementer, negara Swiss memiliki presiden namun hanya sebagai
simbol pemersatu bangsa karena yang menjalankan pemerintahan adalah perdana menteri dan
kabinetnya. Jadi, pada dasarnya pemimpin dari negara Swiss merupakan perdana menteri.
Bentuk dari negara Swiss sendiri merupakan negara federal, yang dalam sistem pemilihan
umumnya menggunakan sistem demokrasi langsung. Penduduk memilih anggota parlemen
secara langsung dengan diwakili majelis federal yang dianggap telah menyerap semua
aspirasi penduduk. Anggota parlemen inilah yang akan memilih tujuh orang untuk menjadi
kepala Negara. Karena ketujuh orang tersebut sama-sama berstatus perdana menteri yang
mengepalai departemen dan salah satunya akan dipilih sebagai presiden yang secara
bergantian menduduki jabatan tersebut tiap tahunnya.
Swiss terbagi atas 26 kanton, enam diantaranya terkadang dianggap sebagai separuh
kanton karena berawal dari pemisahan tiga kanton dan dampaknya hanya ada satu wakil
dalam Dewan Negara. Ibukota Negara ini Bern. Kota-kota penting lainnya adalah Zurich,
yang merupakan kota terbesar (yang dinobatkan sebagai kota yang memiliki kualitas hidup
terbaik di dunia pada tahun 2006 dan 2007, dan Jenewa yang menjadi lokasi berbagai badan
internasional seperti PBB, WHO, ILO, dan UNHCR. Swiss berbatasan dengan Jerman,
Perancis, Italia, Austria, dan kerajaan kecil Liechtenstein. Masyarakatnya menuturkan banyak
bahasa dan terdapat empat bahasa resmi, yaitu bahasa Jerman, Perancis, Italia dan bahasa
Romansh yang kurang popular. Swiss kaya dengan sejarah sebagai sebuah Negara yang
netral tanpa memandang masa perang atau damai ( dan tidak pernah terlibat dalam perang
terhadap pemerintahan asing sejak tahun 1815). Oleh karena itu, ia dijadikan tuan rumah
pelbagai organisasi internasional seperti PBB, yang meskipun markas besarnya ada di New
York City namun banyak mendirikan kantor di wilayah ini.
1

Metodologi
Dalam penelitian ini saya mengguanakan metode historis. Metode Historis merupakan
metode yang digunakan dalam penelitian untuk menjabarkan sejarah aspek yang diteliti.
Dalam konteks ini relevansi penggunaan metodologi historis adalah untuk mengetahui
sejarah Negara Swiss dalam system demokrasi pemerintahannya. Dengan mengetahui
sejarahnya, maka dapat dianalisa seberapa besar demokratisasi dalam system pemerintahan
Negara Swiss.
Analisa
Disini mari kita jabarkan terlebih dahulu apakah makna dari demokrasi itu?
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Begitulah
pemahaman yang paling sederhana tentang demokrasi, yang diketahui oleh hampir semua
orang.
Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya
berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan
(demokrasi perwakilan). Istilah ini berasal dari bahasa Yunani (dmokrata)
kekuasaan rakyat, yang dibentuk dari kata (dmos) rakyat dan (Kratos)
kekuasaan, merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4
SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun
508 SM.
Berbicara mengenai demokrasi adalah memburaskan (memperbincangkan) tentang
kekuasaan, atau lebih tepatnya pengelolaan kekuasaan secara beradab. Ia adalah sistem

1
www.AnneAhira.com

manajemen kekuasaan yang dilandasi oleh nilai-nilai dan etika serta peradaban yang
menghargai martabat manusia. Pelaku utama demokrasi adalah kita semua, setiap orang yang
selama ini selalu diatasnamakan namun tak pernah ikut menentukan. Menjaga proses
demokratisasi adalah memahami secara benar hak-hak yang kita miliki, menjaga hak-hak itu
agar siapapun menghormatinya, melawan siapapun yang berusaha melanggar hak-hak itu.
Demokrasi pada dasarnya adalah aturan orang (people rule), dan di dalam sistem politik yang
demokratis warga mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur
pemerintahan di dunia publik. Sedang demokrasi adalah keputusan berdasarkan suara
terbanyak.
Prinsip-prinsip demokrasi, dapat ditinjau dari pendapat Almadudi yang kemudian
dikenal dengan soko guru demokrasi. Menurutnya, prinsip-prinsip demokrasi adalah:
1. Kedaulatan rakyat;
2. Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah;
3. Kekuasaan mayoritas;
4. Hak-hak minoritas;
5. Jaminan hak asasi manusia;
6. Pemilihan yang bebas dan jujur;
7. Persamaan di depan hukum;
8. Proses hukum yang wajar;
9. Pembatasan pemerintah secara konstitusional;
10. Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik;
11. Nilai-nilai tolerensi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat.

Asas pokok demokrasi
Gagasan pokok atau gagasan dasar suatu pemerintahan demokrasi adalah pengakuan
hakikat manusia, yaitu pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan yang sama dalam
hubungan sosial.

Berdasarkan gagasan dasar tersebut terdapat 2 (dua) asas pokok demokrasi, yaitu:
(1) Pengakuan partisipasi rakyat dalam pemerintahan, misalnya pemilihan wakil-wakil rakyat
untuk lembaga perwakilan rakyat secara langsung, umum, bebas, dan rahasia serta jurdil;
dan
(2) Pengakuan hakikat dan martabat manusia, misalnya adanya tindakan pemerintah untuk
melindungi hak-hak asasi manusia demi kepentingan bersama.
Pemilihan umum secara langsung mencerminkan sebuah demokrasi yang baik

Ciri-ciri pemerintahan demokratis
Istilah demokrasi diperkenalkan kali pertama oleh Aristoteles sebagai suatu bentuk
pemerintahan, yaitu suatu pemerintahan yang menggariskan bahwa kekuasaan berada di
tangan banyak orang (rakyat). Dalam perkembangannya, demokrasi menjadi suatu tatanan
yang diterima dan dipakai oleh hampir seluruh negara di dunia.

Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut.
1. Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan politik, baik
langsung maupun tidak langsung (perwakilan).
2. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang.
3. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara.
4. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga perwakilan
rakyat.
2


Sejarah Negara Swiss
Sejarah Awal
Suku pertama yang diketahui di daerah ini adalah anggota budaya Hallstatt dan La Tne.
Budaya La Tene tumbuh dan berkembang selama Abad Besi akhir dari sekitar tahun 450 SM,
kemungkinan dengan beberapa pengaruh dari peradaban Yunani dan Etruska. Salah satu
kelompok suku terpenting di kawasan Swiss adalah Helvetii. Pada tahun 15 SM, Tiberius I,
yang akan dicalonkan sebagai Kaisar Romawi yang ke-2, dan saudaranya Drusus,
menaklukkan Pegunungan Alpen, menggabungkan mereka ke Kekaisaran Romawi. Daerah
yang dihuni oleh suku Helvetii yang kemudian menurunkan nama Confoederatio Helvetica
awalnya menjadi bagian Provinsi Gallia Belgica Romawi dan kemudian ke Germania
Superior, sementara bagian timur Swiss modern digabungkan ke Provinsi Raetia.
Di Abad Pertengahan Awal, dari abad ke-4, perpanjangan arah barat Swiss modern
menjadi wilayah Raja Burgundia. Suku Alemani menempati dataran tinggi Swiss pada abad
ke-5 dan lembah Alpen pada abad ke-8, membentuk Alemania. Swiss modern kemudian

2
file:///arti-demokrasi-dalam-sistem.html

terbagi antara Kerajaan Alemannia dan Burgundia. Keseluruhan kawasan itu menjadi bagian
Kekaisaran Frankia di abad ke-6, menyusul kemenangan Chlodwig I atas Alemanni di
Tolbiac pada tahun 504, dan kemudian bangsa Frankia mendominasi Burgundia.
Dari tahun 561, Raja Guntram dari Merovingia, cucu Chlodwig I, mewarisi Kerajaan
Burgundia Frankia, yang membentang dari barat hampir sejauh Sungai Rhein. Di timurnya,
suku Alamanni diperintah di bawah kadipaten nominal di Frankia, karena bangsa Frankia
mengisi kekosongan akibat menurunnya pencapaian Bizantium Romawi ke barat. Dari masa
ini, bangsa Frankia sedang mulai membentuk watak tritunggal yang akan mencirikan sisa
sejarahnya. Daerah ini secara lebih lanjut terbagi atas Neustria di barat (yang hanya disebut
sebagai Frankia pada masa itu; nama Neustria tidak muncul dalam tulisan hingga 80 tahun
kemudian), Austrasia di timur laut dan Burgundia.
Sepanjang sisa abad ke-6 dan awal abad ke-7, kawasan Swiss berada di bawah
hegemoni Frankia, dengan bangsa Frankia yang banyak diselimuti dengan perselisihan
tentang masalah suksesi di antara sub-kerajaan Frankia (yang para rajanya masih bertalian
darah). Pada tahun 632, menyusul kematian Chlothar II, seluruh wilayah Frankia
dipersatukan dalam masa yang singkat di bawah Dagobert I, yang disebutkan sebagai raja
terakhir Merovingia yang bisa melaksanakan tugas kerajaan. Di bawah Dagobert I, Austrasia
beragitasi untuk pemerintahan sendiri sebagai alat menghadapi pengaruh Neustria, yang
mendominasi mahkamah kerajaan. Dagobert dipaksa oleh aristokrat Austrasia yang kuat
untuk mengangkat anaknya yang masih bayi, Sigibert III, sebagai raja bawahan Austrasia
pada tahun 633. Kelemahan pemerintahan baru itu menjadi nyata, dan memimpin mereka
yang ditundukkan oleh bangsa Frankia yang mempertimbangkan untung-rugi pemberontakan.
Setelah Sigibert III menderita kekalahan militer di tangan Radulf, Raja Thringen pada tahun
640, suku Alemani juga memberontak terhadap kekuasaan Frankia. Masa kemerdekaan
Allemani berikutnya berlangsung kurang-lebih hingga pertengahan abad ke-8.
Wali Istana telah diangkat oleh Raja Frankia sebagai pejabat pengadilan sejak awal
abad ke-7 untuk bertindak sebagai penengah antara raja dan rakyat. Namun, menyusul
kematian Dagobert I pada tahun 639, dengan pewaris mahkota yang masih balita di Neustria
(Chlodwig IIberusia 2 tahun) dan Austrasia (Sigibert IIIberusia sekitar 4 tahun), para
pejabat tersebut mendapatkan kekuasaan yang lebih besar, akhirnya mengakhiri kekuasaan
penguasa Merovingia, dan mengambil alih tahta Frankia sendiri. Langkah pertama diambil
oleh Wali Istana Austrasia, Grimoald I, yang meyakinkan Sigibert III yang tak beranak untuk
mengadopsi puteranya sendiri Childebert si Anak Pungut sebagai pewaris tahta.
Di saat yang sama di istana Neustria, Wali Istana Erchinoald, dan penggantinya,
Ebroin, juga bertambah kekuasaannya di belakang Chlodwig II, dan penggantinya Chlothar
III. Ebroin mempersatukan kembali Kerajaan Frankia dengan mengalahkan dan mendepak
Childebert (dan Grimoald) dari Austrasia pada tahun 661.
Putera bungsu Chlothar III, Childerich II dinobatkan sebagai Raja Austrasia, dan
bersama-sama mereka memerintah negeri. Ketika Chlothar III meninggal pada tahun 673,
Childerich II menjadi raja seluruh negeri, berkuasa dari Austrasia, hingga saat ia dibunuh 2
tahun kemudian oleh anggota elit Neustria. Setelah kematiannya, Theuderich III, putra
Chlodwig II, naik tahta, berkuasa dari Neustria. Ia dan wali istananya Berchar, menyatakan
perang atas Austrasia, yang dikuasai oleh Dagobert II, putra Sigibert III, dan Pippin dari
Heristal (Pippin II), Wali Austrasia. Theuderich and Berchar dikalahkan oleh Pippin dalam
Pertempuran Tertry (687), yang setelah itu Pippin diangkat sebagai satu-satunya Wali
segenap bangsa Frankia, menyatakan diri sebagai Adipati dan Pangeran segenap bangsa
Frankia. Pippin adalah hasil perkawinan 2 wangsa yang kuat; Wangsa Pippin dan Arnulf.
Kemenangannya di Tertry menandai akhir kekuasaan Merovingia.
Pippin kembali merasakan kemenangan militer dalam kampanye membawa kembali
bangsa Frisia di pesisir utara Eropa kembali ke kontrol bangsa Frankia. Antara tahun 709-
712, ia berperang dalam kampanye serupa terhadap Alemanni, termasuk yang di perbatasan
Swiss sekarang, dan berhasil mendudukkan lagi penguasa Frankia, yang pertama sejak
pemberontakan Alemanni pada tahun 640. Namun, kendali bangsa Frankia atasnya dan
daerah sekitar lainnya hilang ketika perang perebutan tahta di antara bangsa Frankia meletus
menyusul kematian Pippin pada tahun 714.
Perang tersebut merupakan kelanjutan dari persaingan Neustria-Austrasia yang tak
berakhir. Putera Pippin yang lahir di luar nikah, Karl Martell (anak dari kekasih Pippin
Chalpaida), telah dinyatakan sebagai Walikota Austrasia oleh bangsawan Austrasia
bertentangan dengan janda Pippin, Plektrudis, yang lebih memilih cucundanya Theudoald
yang berusia 8 tahun, untuk diangkat. Neustria menyerang Austrasia di bawah Chilperich II
yang telah diangkat oleh rakyat Neustria tanpa persetujuan bangsa Frankia lainnya. Titik
balik perang terjadi di Pertempuran Ambleve, ketika Karl Martell mengalahkan pasukan
bangunan Neustria dan Frisia di bawah Chilperich II dan Walikota Raganfrid dengan
menggunakan siasat yang jitu dan tak biasa. Karl menghantam ketika pasukan Neustria
sedang berbaris pulang setelah kemenangan di Kln atas Plektrudis dan anaknya Theudoald.
Dari tahun 717, Karl telah menegaskan keunggulannya, dengan kemenangan atas Neustia
dalam Pertempuran Vincy, kemudian mengawali kekuasaan Karolingia atas Kekaisaran
Frankia.
Setelah tahun 718, Karl, yang merupakan komandan yang ulung, memulai
serangkaian perang untuk memperkuat dominasi bangsa Frankia atas Eropa Barat, yang
termasuk membawa kembali bangsa Alemannia ke bawah hegemoni bangsa Frankia, dan
malah, pada tahun 720-an, memaksa beberapa unsur Alemannia ikut serta dalam perangnya
terhadap tetangga mereka di timur, Bayern.
Namun, Alemania tetap gelisah, dengan Adipati Lantfrid di akhir 720-an,
mengungkapkan kemerdekaan dengan mengeluarkan revisi hukum bangsa Alemania. Karl
menyerang lagi pada tahun 730 dan menaklukkan bangsa Alemania dengan senjata. Karl
mungkin banyak dikenal karena menghentikan gerak maju bangsa Arab ke Eropa Barat
dalam Pertempuran Tours pada tahun 732.
Ketika Karl meninggal pada tahun 741, dominion atas Frankia terbagi antara kedua
putranya dari pernikahan pertama, yakni Pippin si Cebol dan Karlmann. Karlmann diberikan
Austrasia, Alemania dan Thringen, sementara Pippin mengambil kendali atas Neustria,
Provence dan Burgundia (termasuk Swiss Barat sekarang).
Dari tahun 743, Karlmann bersumpah untuk menegakkan kendali yang lebih besar
atas Alemania, dan akhirnya mengakibatkan penangkapan, penahanan, dan eksekusi beberapa
ribu bangsawan Alemani dalam pengadilan berdarah di Cannstatt, 746.
Karlmann mundur ke biara pada tahun 747, meninggalkan Pippin mendapatkan tahta
Frankia (setelah pemungutan suara di kalangan bangsawan) pada tahun 751. Lebih lanjut,
Pippin memperkuat kedudukannya dengan membentuk sebuah persekutuan, pada tahun 754,
dengan Paus Stefanus II, yang kemudian sepenuhnya datang ke Paris untuk memberikan
upacara perminyakan suci atasnya sebagai raja di Basilika St. Denis. Pada gilirannya, Pippin
menundukkan Lombardia dan memberi sumbangan untuk Keeksarkaan Ravenna dan
menduduki daerah sekitar Roma untuk gereja. Ini merupakan titik balik dalam sejarah Gereja
Katolik Roma dan Eropa Barat, karena kemudian memberi pertanda pada peristiwa di bawah
Charlemagne yang menuju pembentukan Kekaisaran Romawi Suci. Dinyatakan bahwa Paus
Stefanus II menangguhkan Sumbangan Konstantinus yang dipalsukan selama
perundingannya dengan Pippin. Sumbangan itu merupakan titah kekaisaran yang dipalsukan
untuk diakui dikeluarkan oleh Konstantinus untuk menghadiahi dominion kepada Paus
Silvester I dan semua penggantinya atas daerah yang tak hanya Kekaisaran Romawi Barat,
namun juga semua bagian Yudea, Yunani, Asia, Trakia, dan Roma.
Pada saat kematian Pippin pada tahun 768, Kekaisaran Frankia diwariskan kepada
putranya Charlemagne dan Karlmann I. Karlmann menarik diri ke biara dan meninggal tak
lama setelahnya, meninggalkan Karl, kemudian dikenal sebagai Charlemagne yang
legendaris, sebagai penguasa Frankia satu-satunya. Charlemagne mengembangkan
kedaulatan Frankia untuk memasukkan Sachsen, Bayern, dan Lombardia di Italia Utara dan
ia mengembangkan kekaisarannya ke daerah Austria sekarang dan sebagian Kroasia. Ia
menawari janji perlindungan Frankia yang terus-menerus kepada Frankia, dan ia
memperlakukan biara sebagai pusat pembelajaran.
Charlemagne kemudian muncul sebagai pemimpin Kristen Barat. Dari tahun 1200,
dataran tinggi Swiss terdiri atas dominion Wangsa Savoia, Zhringer, Habsburg dan Kyburg.
Ketika Wangsa Kyburg jatuh pada tahun 1264, Habsburg di bawah Raja Rudolf I (menjadi
kaisar pada tahun 1273) memperluas daerah kekuasaannya ke dataran tinggi Swiss.
Konfederasi Swiss Kuno
Konfederasi Swiss Kuno merupakan persekutuan antara komunitas lembah Alpen
tengah. Konfederasi tersebut memfasilitasi pengelolaan kepentingan umum (perdagangan
bebas) dan menjamin keamanan jalur perdagangan gunung yang penting. Piagam Federal
1291 yang disetujui di antara komune pedesaan Uri, Schwyz, dan Unterwalden dianggap
sebagai dokumen pendirian konfederasi; meskipun persekutuan serupa mungkin sudah ada
beberapa dasawarsa sebelumnya.
Dari tahun 1353, ketiga kanton yang asli telah bergabung dengan Glarus dan Zug dan
negara-negara kota Lucerna, Zurigo dan Berna untuk membentuk "Konfederasi Kuno" dari 8
negeri yang ada hingga akhir abad ke-15. Ekspansi tersebut menyebabkan peningkatan
kekuasaan dan kemakmuran untuk federasi itu. Dari tahun 1460, konfederasi tersebut
mengendalikan sebagian besar wilayah selatan dan barat Rhein ke Pegunungan Alpen dan
Jura, khususnya setelah kemenangan terhadap Wangsa Habsburg (Pertempuran Sempach dan
Nfels), atas Charles sang Pemberani dari Burgundia selama tahun 1470-an, dan keberhasilan
serdadu sewaan Swiss. Kemenangan Swiss dalam Perang Swabia terhadap Liga Swabia
Kaisar Maximilian I pada tahun 1499 berpuncak pada kemerdekaan de facto dari Kekaisaran
Romawi Suci.
Konfederasi Swiss Kuno telah mendapatkan reputasi sebagai pilih tanding terhadap
perang-perang awal tersebut, namun ekspansi federasi menderita kemunduran pada tahun
1515 akibat kekalahan Swiss dalam Pertempuran Marignano, yang mengakhiri masa "heroik"
dalam sejarah Swiss. Kesuksesan Reformasi Zwingli di beberrapa kanton menimbulkan
perang antar-kanton pada tahun 1529 dan 1531 (Kappeler Kriege). Tak sampai lebih dari 100
tahun kemudian, pada tahun 1648, di bawah Perjanjian Westfalen, negara Eropa mengakui
kemerdekaan Swiss dari Kekaisaran Romawi Suci dan kenetralannya (ancien rgime).
Selama masa modern dalam sejarah Swiss, otoritarianisme yang sedang berkembang
dalam keluarga patrisiat dan krisis keuangan pada meletusnya Perang Tiga Puluh Tahun
menimbulkan perang petani Swiss 1653. Dengan latar belakang perjuangan ini, konflik antara
kanton Katolik dan Protestan mengerucut, meletuskan kekerasan lanjutan dalam Pertempuran
Villmergen pada tahun 1656 dan 1712.
Era Napoleon
Pada tahun 1798, pasukan Revolusi Perancis menaklukkan Swiss dan menegakkan
konstitusi baru yang seragam, yang memusatkan pemerintahan negeri dan secara efektif
menghapuskan kanton. Rezim baru itu, dikenal sebagai Republik Helvetia, amat tidak
populer. Negeri ini ditegakkan oleh pasukan penyerang asing dan menghancurkan tradisi
yang sudah berlangsung selama berabad-abad, membuat Swiss tak lebih dari negara satelit
Perancis. Penindasan Perancis yang dahsyat dalam Pemberontakan Nidwalden di bulan
September 1798 adalah contoh adanya penindasan oleh Angkatan Darat Perancis dan
perlawanan penduduk setempat atas pendudukan itu.
Ketika perang pecah antara Perancis dan saingannya, angkatan Rusia dan Habsburg
menyerang Swiss. Pada tahun 1803, Napoleon megorganisasi pertemuan politikus Swiss dari
kedua belah pihak di Paris. Hasilnya adalah UU Mediasi yang banyak memulihkan otonomi
Swiss dan memperkenalkan konfederasi atas 19 kanton. Untuk selanjutnya, banyak politik
Swiss yang akan menyeimbangkan tradisi kanton atas pemerintahan sendiri dengan keperluan
pemerintahan pusat.
Pada tahun 1815, Kongres Wina benar-benar memulihkan kembali kemerdekaan
Swiss dan negara Eropa setuju untuk mengakui kenetralan Swiss secara tetap. Perjanjian itu
menandai saat ketika Swiss berperang untuk kali terakhir dalam konflik internasional.
Perjanjian itu juga memungkinkan Swiss untuk menambah wilayahnya, dengan masuknya
Kanton Wallis, Neuchatel, dan Genve inilah juga untuk yang terakhir kalinya Swiss
mengembangkan wilayahnya.
Negara Federal
Restorasi kekuasaan ke patrisiat hanya sementara. Setelah masa huru-hara dengan
benturan kekerasan yang terjadi berulang kali seperti Zriputsch pada tahun 1839, perang
saudara pecah di antara kanton Katolik dan beberapa kanton lainnya pada tahun 1847
(Sonderbundskrieg). Perang itu berlangsung selama sebulan, menyisakan kurang dari 100
korban. Betapapun kecilnya Sonderbundskrieg nampak bila dibandingkan dengan perang dan
kerusuhan di Eropa lainnya di abad ke-19, Sonderbundskrieg menyisakan dampak besar bagi
psikologi dan masyarakat Swiss. Perang itu membuat semua orang Swiss mengerti perlunya
persatuan dan kekuatan kepada tetangga Eropanya. Orang Swiss dari semua tingkatan
masyarakat, entah Katolik, Protestan, ataupun dari aliran liberal maupun konservatif, sadar
bahwa kanton-kanton itu akan banyak menguntungkan jika kepentingan ekonomi dan
keagamaannya digabungkan. Berkat mereka yang menyokong kekuatan kanton (Sonderbund
Kantone), majelis nasional dibagi di antara majelis tinggi (Dewan Negara Swiss) dan majelis
rendah (Dewan Nasional Swiss). Sehingga, kepentingan federasionalis pun diperhitungkan.
Swiss mengadopsi konstitusi federal dan penggunaan referendum (kewajiban bagi setiap
amandemen konstitusi) pada tahun 1848. Konstitusi itu menyediakan kekuasaan terpusat
untuk pemerintahan sendiri pada isu setempat ketika lepas dari kanton. Pada tahun 1850,
franc Swiss menjadi mata uang tunggal Swiss. Konstitusi itu diamandemen secara meluas
pada tahun 1874 untuk menanggapi bertambahnya penduduk dan Revolusi Industri.
Konstitusi itu memperkenalkan referendum fakultatif untuk hukum di tingkat federal.
Konstitusi itu juga menentukan tanggung jawab federal untuk pertahanan, perdagangan, dan
masalah hukum.
Pada tahun 1891, konstitusi itu direvisi dengan unsur kuat luar biasa atas demokrasi
langsung, yang tetap unik sampai sekarang. Sejak saat itu, perbaikan politik, ekonomi, dan
sosial yang berkelanjutan sudah memberi ciri sepanjang sejarah Swiss.
Sejarah Modern
Swiss tidak diserang selama kedua Perang Dunia. Selama Perang Dunia I, Swiss
menjadi tempat tinggal Vladimir Illych Ulyanov (Lenin) dan tetap di sana hingga tahun 1917.
Kenetralan Swiss banyak dipertanyakan dengan adanya peristiwa Grimm-Hoffmann pada
tahun 1917, namun hanya berlangsung singkat. Pada tahun 1920, Swiss bergabung dengan
LBB, dan Dewan Eropa pada tahun 1963.
Selama Perang Dunia II, rencana serangan terperinci dipersiapkan oleh Jerman,
namun Swiss tak pernah diserang. Swiss dapat tetap merdeka melalui gabungan pencegahan
militer, konsesi ekonomi ke Jerman, dan nasib baik karena peristiwa yang lebih besar selama
perang menunda misi tersebut. Percobaan oleh Partai Nazi Swiss yang kecil untuk
menimbulkan Anschluss oleh Jerman gagal total. Pers Swiss mengkritik keras Reich Ketiga,
yang sering membangkitkan amarah kepemimpinannya. Di bawah Jenderal Henri Guisan,
mobilisasi massal angkatan militan diperintahkan. Strategi militer Swiss berubah dari salah
satu pertahanan statis di perbatasan untuk melindungi jantung ekonomi menjadi strategi
pergeseran jangka panjang terorganisasi dan penarikan ke kedudukan yang kuat dan terbekali
baik di atas Pegunungan Alpen yang dikenal sebagai Rduit. Swiss menjadi markas penting
untuk mata-mata kedua belah pihak selama konflik dan sering menengahi komunikasi antara
Blok Poros dan Sekutu.
Perdagangan Swiss diblokir oleh Sekutu dan Blok Poros. Kerja sama ekonomi dan
tambahan pinjaman kepada Reich Ketiga beragam menurut kemungkinan invasi yang
dirasakan, dan adanya mitra dagang lainnya. Konsesi mencapai puncaknya seminggu setelah
jaringan KA penting melintasi Perancis Vichy diperparah pada tahun 1942, menyebabkan
Swiss sepenuhnya dikelilingi oleh Sekutu. Sepanjang jalan perang, Swiss menahan lebih dari
300.000 pengungsi, 104.000 pasukan asing, diinternir menurut Hak dan Kewajiban Blok
Netral yang digarisbawahi dalam Konvensi den Haag. 60.000 pengungsi adalah penduduk
sipil yang melarikan diri dari penyiksaan oleh Nazi. Dari semuanya, 26.000-27.000 adalah
Yahudi. Namun, kebijakan imigrasi dan suaka yang ketat seperti hubungan keuangan dengan
Jerman Nazi menimbulkan kontroversi. Selama perang, Angkatan Udara Swiss
mempekerjakan pesawat di kedua belah pihak, menembak jatuh 11 pesawat Luftwaffe
pengganggu pada bulan Mei dan Juni 1940, kemudian juga pengganggu lain setelah
perubahan kebijakan menyusul ancaman dari Jerman; lebih dari 100 pesawat pengebom
Sekutu dan awaknya diinternir selama perang. Antara tahun 1944-1945, pengebom Sekutu
mengebom sembarangan kota Schaffhausen (membunuh 40 jiwa), Stein am Rhein, Vals, Rafz
(18 jiwa terbunuh), dan yang paling tak populer, pada tanggal 4 Maret 1945 Basilea dan
Zrich dibom.
Wanita diberikan hak memilih dalam di tingkatan kanton pada tahun 1959, di tingkat
federal pada tahun 1971, dan setelah perlawanan, di kanton terakhir Appenzell Rhodes-
Intrieures pada tahun 1990. Setelah hak pilih di tingkat federal, wanita cepat naik dalam
kepentingan politik, di mana wanita pertama yang menjadi anggota dewan tinggi adalah
Elisabeth Kopp (19841989). Presiden wanita pertama adalah Ruth Dreifuss, dipilih pada
tahun 1998 untuk menjadi presiden pada tahun 1999. (Presiden Swiss dipilih tiap tahun dari
antara 7 anggota dewan tinggi). Presiden wanita kedua adalah Micheline Calmy-Rey yang
memegang jabatan tinggi di Swiss pada tahun 2007. Ia berasal dari daerah Kanton Valais
(Jerman: Wallis) yang menuturkan bahasa Perancis. Sekarang ia bergabung dengan 7 anggota
kabinet/dewan tinggi oleh 2 wanita lain, Doris Leuthard dari Kanton Argovie dan Eveline
Widmer-Schlumpf dari Kanton Grischun.
Pada tahun 1979, daerah di dalam perbatasan Kanton Berne melepaskan diri,
membentuk Kanton Giura. Pada tanggal 18 April 1999, penduduk dan kanton Swiss bersuara
berkenaan dengan konstitusi federal yang direvisi sempurna.
Pada tahun 2002, Swiss menjadi anggota penuh Perserikatan Bangsa-bangsa,
meninggalkan Vatikan sebagai negara berdaulat terakhir yang tidak ikut PBB. Swiss
merupakan anggota pendiri EFTA, namun tidak menjadi anggota European Economic Area.
Permohonan keanggotaan di Uni Eropa dikirim pada bulan Mei 1992, namun tak berlanjut
sejak EEA ditolak pada bulan Desember 1992 ketika Swiss menjadi satu-satunya negara yang
meluncurkan referendum untuk EEA. Sudah terjadi beberapa referendum atas masalah UE,
dengan reaksi beragam terhadapnya dari penduduknya, permohonan keanggotaan telah
dibekukan. Namun, secara bertahap hukum disesuaikan dengan UE dan pemerintah telah
menandatangani sejumlah perjanjian bilateral dengan UE. Swiss, bersama dengan
Liechtenstein, sudah dikelilingi oleh negara anggota UE sejak keanggotaan Austria pada
tahun 1995. Pada tanggal 5 Juni 2005, pemberi suara di Swiss dengan persetujuan oleh 55%
mayoritas bergabung dengan persetujuan Schengen, hasil yang dianggap oleh komentator UE
sebagai tanda dukungan oleh Swiss, negeri yang sejak dahulu disebut-sebut sebagai negara
independen, netral, atau isolasionis.
Eksekutif
Sistem pemerintahan Swiss memang unik. Menjadi negara federal sejak 1948. Swiss
menganut sistem demokrasi langsung, dan pemerintahannya terdiri oleh 7 anggota yang
dipilih oleh Federal Assembly. Ketujuh orang itu sekaligus memimpin departemen utama.
Status mereka bisa juga disebut menteri. Yang menarik, ketujuh orang pilihan itu secara
bergantian menjadi presiden. Jabatan sebagai presidennya masing-masing selama satu tahun.
Jika disederhanakan Swiss yang luasnya 41.400 Km2 dipimpin secara kolektif oleh
presidium yang terdiri dari tujuh orang. Ketua presidium yang digilir itu memegang jabatan
presiden. Dengan sistem federal, negara federalnya disebut canton. Ada 26 kanton yang kini
berhimpun menjadi Swiss. Sebanyak 17 canton adalah canton Swiss-Jerman (berbahasa
Jerman), 4 canton Swiss-Romande (berbahasa Perancis), 1 canton berbahasa Itali (Ticino), 3
canton bilingual Perancis-Jerman, dan 1 canton (Graubnden) trilingual Jerman, Italia dan
Rumantsch. Itulah sebabnya bahasa nasional di Swiss ada empat.
Canton-canton ini mempunyai otonomi luas seperti hal sistem negara federal. Mereka
menentukan secara penuh aturan daerah. Masalah internasional, kehakiman, pertahanan,
keuangan negara dipegang oleh pemerintahan pusat. Sedangkan anggota parlemen (Federal
assembly) berasal dari utusan canton. Mereka inilah yang menentukan tujuh menteri utama
yang akan menjadi presiden secara bergiliran. Presiden sebagai kepala negara juga
merangkap sebagai kepala pemerintahan (Perdana Menteri).
Apabila dilihat dari peran demokrasi dalam Negara Swiss, maka dapat saya jabarkan
sebagai berikut :
Sistem Demokrasi Pemerintahan
Sistem pemerintahan Swiss memang unik. Menjadi negara federal sejak 1948. Swiss
menganut sistem demokrasi langsung, dan pemerintahannya terdiri oleh 7 anggota yang
dipilih oleh Federal Assembly. Ketujuh orang itu sekaligus memimpin departemen utama.
Status mereka bisa juga disebut menteri. Yang menarik, ketujuh orang pilihan itu secara
bergantian menjadi presiden. Jabatan sebagai presidennya masing-masing selama satu tahun.
Swiss dipimpin secara kolektif oleh presidium yang teridi dari tujuh orang. Ketua
presidium yang digilir itu memegang jabatan presiden. Dengan sistem federal, negara
federalnya disebut canton. Ada 26 kanton yang kini berhimpun menjadi Swiss. Sebanyak 17
canton adalah canton Swiss-Jerman (berbahasa Jerman), 4 canton Swiss-Romande (berbahasa
Perancis), 1 canton berbahasa Itali (Ticino), 3 canton bilingual Perancis-Jerman, dan satu
canton (Graubnden) trilingual Jerman, Italia dan Rumantsch. Itulah sebabnya bahasa
nasional di Swiss ada empat.
Canton-canton ini mempunyai otonomi luas seperti hal sistem negara federal. Mereka
menentukan secara penuh aturan daerah. Masalah internasional, kehakiman, pertahanan,
keuangan negara dipegang oleh pemerintahan pusat. Sedangkan anggota parlemen (Federal
assembly) berasal dari utusan canton. Mereka inilah yang menentukan tujuh menetri utama
yang akan menjadi presiden secara bergiliran. Presiden sebagai kepala negara juga
merangkapa sebagai kepala pemerintahan (Perdana Menteri).
Demokrasi Pertahanan dan Keamanan Negara
Selain negara terkaya, Swiss ini ada persamaannya dengan TNI yaitu netral.
Negara ini mempertahankan ke netralan nya sejak tahun 1815, yang dengan demikian sampai
hari ini, Swiss tidak pernah punya musuh ,dengan demikian tidak pernah terlibat dalam
peperangan apapun. Itu sebabnya banyak sekali organisasi internasional yang merasa
nyaman untuk ber home base di Swiss. Tidak kurang dari 2 organisasi dibawah naungan
PBB bermarkas di Swiss. Sebagian besar pertemuan Internasional di dunia lebih senang
memilih Swiss sebagai tempat penyelenggaraannya. International Red Cross dan juga WTO,
World Trade Organisation memilih Swiss sebagai basis kegiatannya.
Negara Swiss, tidak mempunyai daerah perairan laut lepas, walaupun mempunyai
beberapa danau yang cukup besar. Dengan kondisi itu, maka Angkatan Perang Swiss tidak
memiliki unsur Angkatan Laut.
Sistem keamanan di Swiss sangatlah ketat, hal ini yang menjadikan Swiss sebagai
salah satu negara paling aman di dunia. Tingkat kejahatan dan kriminalitas di Swiss bisa
dikatakan sangat rendah dan keramah-tamahan antara penduduk terjalin dengan erat hampir
di setiap pelosok daerah di Swiss. Komunikasi sesama penduduk terbiasa untuk saling
menyapa pada saat bertemu di jalan, meskipun mereka tidak kenal satu sama lain. Dan juga
aturan tata cara hidup serta kebudayaan Swiss yang tidak memperbolehkan keributan/hingar
bingar setelah jam 10 malam di wilayah manapun di Swiss, terkecuali mendapatkan ijin dari
pihak Kepolisian setempat.
Demokrasi Ragam Budaya dan Bahasa Masyarakat
Sekitar 20-30% dari jumlah total populasi Negara Swiss tersebut adalah pendatang
asing, baik pekerja maupun mahasiswa yang tinggal dan belajar di Swiss. Dengan luas negara
kurang lebih 41.285 km2, menjadikan Swiss sebagai salah satu negara terkecil di dunia.
Swiss memiliki beberapa kota besar yang terkenal di dunia, diantaranya: Zurich, Jenewa
(Geneva), Basel dan kota pusat pemerintahan Bern. Swiss memiliki beberapa bahasa yang
digunakan sehari-harinya oleh penduduk setempat, yakni Bahasa Jerman (65% dari total
populasi), Bahasa Perancis (20% dari total populasi), Bahasa Itali (10% dari total populasi),
Bahasa Romawi (1% dari total populasi) dan beberapa bahasa lainnya. Kekayaan bahasa
inilah yang menjadikan nilai tambah bahwa negara Swiss sangat terkenal akan kebudayaan
masyarakatnya yang beraneka ragam.
Demokrasi Kewarganegaraan di Swiss
Negara yang terkenal akan kebersihannya ini, juga memiliki penduduk yang sangat
bersahabat terhadap siapa saja yang datang mengunjunginya. Mereka terdiri dari orang-
orang yang sangat menjaga nilai-nilai kekeluargaan. Para orang tuanya memperoleh
perhatian yang tinggi dari generasi mudanya. Dapat dikatakan, di Swiss nyaris tidak dikenal
istilah rumah jompo.
Mereka sangat menghormati warganya yang berprestasi. Beberapa dapat disebutkan
disini, seperti Albert Einstein, ahli fisika kenamaan, Aguste Piccard, seorang jagoan
Aeronautika. Roger Federer, Martina Hingis dan Stephane Lambiel yang menguasai tenis
dunia dan juga Andre Bossert sang jagoan golf.
Seluruh penduduk, sudah dapat merasakan keadilan merata diantara mereka. Fasilitas
pelayanan umum sangat prima, sebagai wujud dari pemerintahan yang semata-mata hanya
mendahulukan kepentingan orang banyak. Tidak ada satu pejabatpun yang berkeliaran
dijalan raya menggunakan sirene, apalagi mobil pengawal. Bahkan Presiden Swiss, dikenal
sebagai orang yang sering bepergian dengan menggunakan fasilitas pelayanan publik. Beliau
antri membeli tiket kereta sebagaimana yang dilakukan rakyatnya, tanpa ajudan,
pengawalan dan duduk di gerbong yang juga umum digunakan sebagai angkutan masa
biasa. Ini menjadi suatu bukti indahnya suatu demokrasi yang tak sekedar nama.
3


Kesimpulan
Disini setelah kita menganalisa tentang sejarah Negara Swiss, dapat kita simpulkan
bahwa meskipun Swiss merupakan Negara federal namun Negara ini menggunakan system
demokrasi langsung dalam pemilihan kepala negaranya. Negara ini juga pernah dikepalai
oleh presiden perempuan, hal ini menjelaskan bahwa hak warga negaranya sangat dijunjung
tinggi. Tingkat kejahatan dan kriminalitas di Swiss bisa dikatakan sangat rendah dan
keramah-tamahan antara penduduk terjalin dengan erat hampir di setiap pelosok daerah di
Swiss. Komunikasi sesama penduduk terbiasa untuk saling menyapa pada saat bertemu di
jalan, meskipun mereka tidak kenal satu sama lain. Dan juga aturan tata cara hidup serta
kebudayaan Swiss yang tidak memperbolehkan keributan/hingar bingar setelah jam 10
malam di wilayah manapun di Swiss, terkecuali mendapatkan ijin dari pihak Kepolisian
setempat. Demokrasi juga tercermin pada beragamnya warga Negara dan agama di Negara
Swiss. Di Swiss nyaris tidak dikenal istilah rumah jompo. Pemerintah sangat menghormati
warganya yang berprestasi.
Fasilitas pelayanan umum sangat prima, sebagai wujud dari pemerintahan yang
semata-mata hanya mendahulukan kepentingan orang banyak. Tidak ada satu pejabatpun
yang berkeliaran dijalan raya menggunakan sirene, apalagi mobil pengawal. Bahkan
Presiden Swiss, dikenal sebagai orang yang sering bepergian dengan menggunakan fasilitas
pelayanan publik. Beliau antri membeli tiket kereta sebagaimana yang dilakukan rakyatnya,
tanpa ajudan, pengawalan dan duduk di gerbong yang juga umum digunakan sebagai
angkutan masa biasa. Ini menjadi suatu bukti indahnya suatu demokrasi yang tak sekedar
nama.

3
file:///sistem-pemerintahan-swiss.html

Daftar Pustaka

Budiyanto. 2005. Kewarganegaraan. Erlangga : Jakarta
www.AnneAhira.com
file:///sistem-pemerintahan-swiss.html
file:///arti-demokrasi-dalam-sistem.html
Chapy Hakim. 2009. Switzerland. Posting di www.chappyhakim.kompasiana.com
Jpnn.2008. Olahraga: Swiss, Negeri Mini dengan Demokrasi Unik. http://www.jambi-
independent.co.id/home/modules.php