You are on page 1of 14

1

Isu-Isu Pencemaran Lingkungan: Studi Kasus Politik Pertambangan


Goldfields dan PT Newmont Minahasa Raya



Jurusan Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Malang
2013














2

PENDAHULUAN

Pertambangan berskala besar secara teoritis mempunyai sejumlah dampak positif bagi
negara berkembang, terutama untuk menghasilkan pemasukan melalui pajak, royalti dan
ekspor, menciptakan lapangan kerja serta merangsang pembangunan ekonomi lokal. Namun,
dalam praktiknya, potensi keuntungan tersebut kalah oleh dampak negatif dari pertambangan
skala besar:
Kerusakan lingkungan: pencemaran air dan udara, dan perusakan lingkungan akibat
limbah buangan, adalah hal yang umum terjadi pada operasi pertambangan. Jumlah
limbah sangat besar yang seringkali beracun dihasilkan (sebagai contoh, untuk
menghasilkan satu ton tembaga akan tercipta 110 ton limbah) dan seringkali dibuang
ke aliran sungai. Sekitar 150 kecelakaan lingkungan pertambangan terjadi antara
tahun 1983 dan 2002, dimana 15 diantaranya melibatkan sianida. Badan Pelindungan
Lingkungan Amerika Serikat mengatakan bahwa kontaminasi air dari pertambangan
merupakan salah satu dari tiga ancaman keamanan ekologi di dunia.
Hak asasi manusia: operasi pertambangan telah lama dikaitkan dengan pelanggaran
HAM paling berat, dimana perusahaan pertambangan dituduh terlibat dalam berbagai
tingkat dalam pelanggaran HAM itu. Pertambangan juga bertanggung jawab atas
memburuknya konflik yang sudah ada serta menciptakan ketegangan dalam
masyarakat.
Kesehatan: Polusi debu dapat menimbulkan penyakit yang parah pada para pekerja
tambang, sementara berdirinya kota-kota tambang berkaitan dengan peningkatan
penyebaran HIV/AIDS. Air yang terkontaminasi dari tambang dapat menimbulkan
penyakit yang ditularkan melalui air.
Kecelakaan industri: Organisasi Buruh Inernasional (ILO) menyatakan bahwa
pertambangan telah menyebabkan lebih banyak kecelakaan kerja fatal pada tenaga
kerjanya dibandingkan industri lain apapun. Di Cina, 5.900 pekerja tambang batubara
kehilangan nyawa mereka di tahun 2005 saja rata-rata 16 pekerja tewas per hari.
Pekerja AngloGold Ashanti yang tewas mencapai 80 orang selama dua setengah tahun
hingga Juni 2007; perusahaan besar pertambangan TauTona di Afrika Selatan ditutup
pada awal November 2007 setelah terjadi serangkaian kematian pekerja tambang.
Perubahan iklim: Industri pertambangan diyakini mengkonsumsi sejumlah besar (7-
10%) produksi energi dunia. Kajian Industri Ekstraktif Bank Dunia mencatat bahwa
industri ekstraktif adalah penyumbang besar persoalan perubahan iklim. Pemimpin
3

Anglo American Sir Mark Moody-Stuart mengakui bahwa perusahaannya saja
memiliki konsumsi energi sebesar yang dikonsumsi negara Finlandia.
1


Pada kasus Internasional terdapat wilayah Afrika Selatan dimana negara tersebut
merupakan salah satu wilayah yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah terutama dalam
hal sumber tambangnya, maka tidaklah mengherankan jika negara ini menjadi rebutan para
investor tambang. Banyak sekali perusahaan-perusahaan tambang yang beroperasi di Afrika
Selatan sehingga berdampak pada keadaan lingkungan yang memprihatinkan. Banyak kasus
pencemaran yang terjadi, belum lagi keselamatan dan kesehatan pekerja juga kadang
terabaikan sehingga kekayaan alam di Afrika Selatan di lain sisi memberi dampak negatif di
balik sisi positifnya
Perusahaan tambang yang beroperasi di Afrika Selatan salah satunya adalah Gold
Field, yang merupakan pertambangan penghasil emas terbesar keempat di dunia, dengan
penurunan perolehan hasil tambang pada tahun 2012 saja pertambangan gold field mengeruk
emas 3,25 juta ons pada tahun.
2
Keuntungan yang besar tersebut seharusnya dapat
memberikan perbaikan kualitas kerja dan meminimalisir kerusakan lingungan yang terjadi,
namun pada tahun 2007 perusahan tambang ini mendapatkan gugatan dari ribuan pekerjanya
karena menyebabkan gangguan pernapasan dan paru paru pada pekerjanya, atau yang mereka
sebut dengan Silikosis (penyakit paru-paru) dimana hal itu dianggap disebabkan oleh
kelalaian pihak perusahaan.
3
Selain itu, keselamatan para pekerja kurang diperhatikan yaitu
ditunjukkan dengan banyaknya kecelakaan kerja yang terjadi. Sekitar 240.000 pekerja
tambang turut serta dalam mogok pertama secara nasional dan mengangkat masalah
keselamatan pekerja, seperti yang diberitakan oleh BBC Indonesia seperti berikut:
Pekerja tambang melakukan mogok kerja. Lebih dari 180 buruh tambang tewas
tahun ini dalam kecelakaan tambang. Pemogokan itu diperkirakan akan
menyebabkan terhentinya produksi perusahaan global, AngloGold Ashanti, Gold
Fields and Harmony, dan serikat buruh berharap, perusahaan-perusahaan itu
akan mengeluarkan lebih banyak anggaran untuk keselamatan pekerja. Serikat
buruh juga berharap pemogokan itu akan memaksa pemerintah untuk menindak

1
Canadian Mining Companies Destroy Environment and Community Resources in Ghana, dalam situs
MiningWatch Canada yang diunggah pada Agustus 2005, sumber http://www.miningwatch.ca/canadian-
mining-companies-destroy-environment-and-community-resources-ghana
2
Produksi dan laba penambang emas gold field ltd turun
http://financeroll.co.id/news/65876/produksi-dan-laba-penambang-emas-gold-field-ltd-turun
3
Sebuah Tambang Emas DiGugat Karena Penyakit Paru-Paru
http://idesehatbugar.blogspot.com/2012/09/sebuah-tambang-emas-digugat-karena.html
4

pemilik tambang yang gegabah. "Para buruh mengatakan apa yang terjadi
sudah cukup. Keselamatan diperlukan," kata Erick Gcilitshana, kepala
keselamatan pda Buruh Tambang yang memprakarsai mogok. "Industri ini
membuat janji bohong sementara korban terus meningkat.
4

Padahal sebenarnya dari awal perusahaan Gold Fields ini telah memiliki MoU dengan
pemerintah setempat untuk senantiasa beroperasi dengan mengedepankan prinsip keamanan
dan kelestarian lingkungan.
Seperti halnya kasus diatas, Ghana yang merupakan anak perusahaan gold field yang
ada di Ghana juga memiliki kasus yang serupa terkait isu perusakan lingkungan. Setengah
bagian dari Kabupaten Tarkwa adalah tambang besar milik Ghana, yang mana tambang
tersebut menunjukkan adanya dampak sosial dan lingkungan yang besar karena booming
tambang emas. Pertambangan di sana menyebabkan 30.000 orang kehilangan tempat
tinggalnya karena gusuran dari perusahaan tambang selama kurun waktu 1990-1998, sungai
dan aliran air terkontaminasi, dan juga menyebabkan hancurnya pertanian dan lahan hutan.
Dua-pertiga dari tanah di Tarkwa telah dijual ke perusahaan multinasional dengan
kompensasi yang minim untuk pemilik setempat. Dislokasi mempengaruhi setiap aspek dari
struktur sosial dan telah menyebabkan tingginya tingkat prostitusi, kenaikan angka penderita
AIDS, disorganisasi keluarga dan pengangguran karena orang-orang kehilangan ladang
pertanian mereka. Polisi melakukan intervensi ketika orang-orang menolak untuk
meninggalkan tempat tinggal mereka dan menuntut kompensasi yang adil dari perusahaan
untuk tanah, tanaman pangan, dan rumah mereka yang hilang.
5

Pencemaran udara dan air yang berasal dari operasi pertambangan di Tarkwa juga
telah menyebar malaria, TBC, silikosis, konjungtivitis akut dan penyakit kulit. Tambang yang
menggunakan teknologi resapan tumpukan sianida (cyanide heap leach technology) dengan
cara penyemprotan sianida pada bijih (ore) untuk mengekstraksi emas. Saluran-saluran dan
bendungan yang difungsikan untuk menyimpan sianida sangat berpotensi mengalami
kebocoran dan bahkan tidak berfungsi sama sekali. Pada bulan Juni 1996, kebocoran di
Teberebie Gold fields mengirimkan 36 juta liter larutan sianida ke dalam sungai Angonaben,
anak sungai dari Sungai Bonsa. Tanaman kakao dan kolam ikan hancur dan masyarakat

4
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/12/printable/071204_safrica.shtml
5
Mengipasi Bara Api: Peran perusahaan pertambangan Inggris dalam konflik dan pelanggaran HAM, dalam
http://www.waronwant.org/component/docman/doc_download/42-mengipasi-bara-api-indonesian-translation-
of-fanning-the-flames data berasal dari penulisan dan penelitian berjudul Fanning The Flames untuk War on
Want yang dilakukan oleh Mark Curtis, diterbitkan pada bulan November 2007, yang diterjemahkan oleh Ima
Susilowati; Korektor: Adriana Sri Adhiati untuk Down to Earth Kampanye Internasional untuk Lingkungan
Hidup Yang Berkeadilan di Indonesia http://dte.gn.apc.org
5

setempat mengeluhkan adanya gejala gatal-gatal akibat penggunaan air yang telah tercemar
tersebut. Para petani yang terkena sanksi menuntut perusahaan untuk kompensasi pada tahun
1997 dan kasus ini terus berlanjut.
6

Pada bulan Juni 2003 Pemerintah Ghana diminta perusahaan untuk mengesahkan
peraturan untuk membuka ribuan hektar hutan lindung negara untuk pertambangan, jika
permintaan itu tidak diloloskan maka perusahaan mengatakan akan memindahkan produksi
tambangnya ke negara-negara dengan peraturan yang lebih ramah. Perusahaan telah
menyatakan dengan jelas bahwa reputasi Ghana sebagai sebuah situs yang menarik bagi
investasi asing bergantung pada kesediaan pemerintah yang memungkinkan mereka untuk
menambang hutan. Perusahaan-perusahaan juga telah mengeluarkan rentetan propaganda
pro-pertambangan dan menjanjikan bantuan materi untuk membujuk publik demi mendukung
rencana tersebut.
Pertambangan (bersamaan dengan penebangan hutan, dan pembangunan-
pembangunan lainnya) telah menghancurkan sebagian besar hutan lindung Ghana (hanya
12% yang tersisa), padahal sepuluh hingga dua belas ribu orang menggantungkan hidupnya
pada hutan lindung secara langsung untuk mendapatkan makanan dan sebagai mata
pencaharian. Sungai dan anak sungai di cagar alam yang memasok air ke banyak desa dan
kota-kota telah tercemar bahan kimia beracun sehingga akan menghancurkan sistem perairan
yang menyediakan air minum bagi jutaan orang di Ghana.
7

Perusahaan Gold Fields sendiri memiliki visi yang berdasar pada pertambangan yang
berkelanjutan, artinya penambangan dilakukan dengan memepertimbangkan kelestarian
sumber daya alam dan juga keadaan lingkungan di sekitarnya termasuk pada keselamatan
pekerja. Namun perlu diketahui bahwa terdapat pula visi lainnya yang mendahului visi
tersebut yaitu poin-poin yang menjadi dasar operasi perusahaan tersebut seperti The global
Leader, Global, Sustainable Gold Mining, Gold Mining yang mana ke semua point itu justru
mencerminkan sikap pertambangan yang cenderung melakukan ekspansi sebesar besarnya
demi mencapai profit yang diinginkan.
8

Di Indonesia sendiri kasus serupa juga telah dialami, merebaknya kasus-kasus
kerusakan lingkungan mulai dari yang kecil sampai ke tahap yang bersifat serius merupakan
dampak dari terakumulasinya kerusakan dalam jangka waktu yang relatif lama. Berbagai
faktor menjadi penyebab terjadinya kerusakan lingkungan tersebut, mulai dari perilakau

6
ibid
7
ibid
8
Situs resmi pertambangan Vision, values and goal, akses dari http://www.gold
fields.co.za/com_gf_overview.php (06/05/2013, 10.36 AM)
6

individu yang tidak care terhadap alam sampai pada masalah yang ditimbulkan oleh kegiatan
ekonomi (bisnis) yang mengeksploitasi alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Masalah-
masalah terkait bisnis dan kerusakan lingkungan merupakan masalah kekinian yang patut
diselesaikan sesegera mungkin, khususnya di Indonesia.
Merebaknya kasus-kasus kerusakan lingkungan mulai dari yang kecil sampai ke tahap
yang bersifat serius di Indonesia merupakan dampak dari terakumulasinya kerusakan dalam
jangka waktu yang relatif lama. Berbagai faktor menjadi penyebab terjadinya kerusakan
lingkungan tersebut, mulai dari perilaku individu yang tidak care terhadap alam sampai pada
masalah yang ditimbulkan oleh kegiatan ekonomi (bisnis) yang mengeksploitasi alam untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Semakin banyaknya industri-industri pertambangan yang
mulai muncul di Indonesia, tak pelak industri pertambngan tersebut melakukan sesuatu hal
yang merusak lingkungan agar mendapatkan keuntungan besar. Masalah-masalah terkait
bisnis dan kerusakan lingkungan merupakan masalah kekinian yang patut diselesaikan
sesegera mungkin, khususnya di Indonesia.
Salah satu masalah kerusakan lingkungan akibat dari kegiatan ekonomi yang ada di
Indonesia adalah pencemaran lingkungan di Teluk Buyat karena aktivitas pertambangan oleh
PT Newmont Minahasa Raya (PT. NMR). Perusahaan tambang emas PT. NMR adalah
perusahaan penanaman modal asing (PMA) yakni anak perusahaan Newmont Gold
Company, USA. Bermula dari beroperasinya PT. NMR tersebut mulai bermunculan masalah-
masalah terutama yang berkaitan terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan.
Kasus pencemaran Teluk Buyat merupakan salah-satu dari sekian banyak kejahatan
korporasi atau corporate crime yang terjadi di Indonesia. Kebijakan investasi pemerintah
yang memberikan konsesi pada investor asing untuk mengeksploitasi sumber daya alam
Indonesia ternyata telah membawa dampak pada keselamatan hidup manusia maupun sistem
lingkungan di sekitarnya, sebagaimana yang dialami oleh penduduk di pesisir Teluk Buyat.
Teluk Buyat yang berada di Minahasa, Sulawesi Utara adalah lokasi pembuangan limbah
tailing
9
tambang PT. NMR. Karena kegiatan pertambangan skala besar oleh PT. NMR
tersebut, ekosistem perairan laut di Teluk Buyat rusak parah akibat buangan tailing setiap
hari. Bukan saja itu, kondisi masyarakat di sekitar Teluk Buyat yang menggantungkan
hidupnya dari hasil laut dan harus bertahan hidup di wilayah tersebut karena tekanan

9
Tailing adalah mineral ampas yang berukuran sangat halus sebagai sisa suatu proses pengolahan biji.
7

kemiskinan harus menerima akibat dari pencemaran dan perusakan ekosistem Perairan Teluk
Buyat.
Salah satu organisasi lingkungan yang menonjol dalam pengangkatan isu-isu
lingkungan hidup di Indonesia adalah Wahana Lingkungan Hidup (WALHI). Isu tentang
tailing di Teluk Buyat yang diangkat oleh WALHI adalah tailing berbahaya karena
mengandung merkuri, tailing PT. NMR tidak terlindungi dengan baik karena ada proses up-
welling. Tailing menyebabkan gatal-gatal, tailing menyebabkan pendapatan nelayan
menurun
10
. Hal inilah yang kemudian mendorong WALHI menggugat PT. NMR dengan
tuduhan merusak lingkungan dan meresahkan masyarakat sekitar Teluk Buyat. Akan tetapi
dalam persidangan, WALHI kalah dalam gugatannya tersebut.
Menanggapi berbagai keluhan masyarakat dan kontroversi menyangkut pencemaran
di Teluk Buyat tersebut, pemerintah daerah kemudian melakukan penelitian yang ditunjuk
berdasarkan Surat Penunjukan (SP) Gubernur Provinsi Sulawesi Utara Nomor 3 Tahun 1999.
Penelitian pertama dilakukan oleh Tim Independen yang terdiri atas beberapa peneliti
Universitas Sam Ratulangi dan Pemda Sulawesi Utara. Hasil penelitian tersebut
mengindikasikan adanya pencemaran sejumlah logam berat di sekitar pipa pembuangan
tailing. Kesimpulan tersebut dibantah oleh pihak PT. NMR yang membiayai penelitian
tersebut. PT. NMR menyangkal tailing sebagai sumber pencemaran dan menuding tambang
rakyat di Sungai Totok sebagai sumber pencemaran. PT.NMR menolak hasil tersebut dan
menyatakan metodologi penelitian tersebut tidak valid dan kurang memadainya peralatan
laboratoriun di Universitas Sam Ratulangi
11
.
Hasil penelitian ini, menjadi kontroversi antara pemerintah Propinsi Sulawesi Utara
dengan pihak PT. NMR. Padahal tim peneliti telah memberikan solusi kepada pihak PT.
NMR untuk memperpanjang pipa pembuangan tailing ke arah laut lepas yang memiliki
kedalaman di atas 100 meter jika ingin terus mempertahankan sistem pembuangan tersebut.
Untuk mengatasi kontroversi tersebut akhirnya diputuskan dibentuk tim penelitian baru yaitu
Tim Terpadu, yang terdiri atas pihak PT. NMR, Pemda Sulut, DPRD Sulut, dan beberapa
peneliti Universitas Sam Ratulangi. Penelitian yang hasilnya dituliskan oleh pihak PT. NMR

10
Strategi Komunikasi Organisasi Non Pemerintah (Ornop) Lingkungan Hidup (Studi Kasus Strategi dan
Program Komunikasi WALHI dalam Penanganan Isu Tailing PT Newmont Minahasa Raya) Periode 1999-2002,
akses dari http://lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=81987&lokasi=lokal (4/5/2013, 1:23 PM)
11
Pengadilan Menolak Seluruh Tuntutan yang Diajukan WALHI, akses dari
http://www.antaranews.com/view/?i=1198217215&c=PRW&s= (4/05/2013, 7:34 PM)
8

tersebut menyimpulkan bahwa kandungan sejumlah logam berat di air dan sedimen Perairan
Teluk Buyat masih dalam ambang batas aman.
Dengan adanya dua kesimpulan berbeda tersebut, terjadilah polemik di tengah publik
dan pemerintah daerah. Untuk memperkuat argumenya kemudian PT. NMR, mengundang
peneliti asing yaitu CSIRO (Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization)
lembaga penelitian dari Australia. Dalam hasil studinya menunjukkan perairan Teluk Buyat
tidak tercemar logam berat dan konsentrasi logam pada jaringan tubuh ikan berada pada
kisaran normal. Hasil penelitian CSIRO ini menegaskan hasil penelitian Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) / National Institute for Minamata Disease (yang dikeluarkan pada 4
Oktober 2004) dan laporan penelitian Tim Terpadu Pemerintah Indonesia (yang dikeluarkan
pada 19 Oktober) menyimpulkan bahwa tidak terjadi pencemaran di perairan Teluk Buyat
12
.
21 Desember 2007 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengeluarkan putusan yang
menyatakan bahwa WALHI tidak dapat membuktikan tuntutan pencemaran lingkungan dan
pelanggaran peraturan yang diajukannya terhadap PT. NMR, Departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral Republik Indonesia, dan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia.
Oleh karena itu, Pengadilan menolak seluruh tuntutan terhadap para tergugat
13
. Putusan yang
dibuat atas dasar bukti-bukti yang diajukan selama persidangan kasus perdata selama lima
bulan menyatakan bahwa Teluk Buyat tidak tercemar dan PT. NMR telah mematuhi seluruh
peraturan dan perizinan selama kegiatan operasinya. PT. NMR dibebas-murnikan dari seluruh
dakwaan dan tuntutan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan di Teluk Buyat dalam
persidangan kasus pidana yang berlangsung selama 21 bulan. Dalam persidangan tersebut
telah didengar kesaksian dari 63 saksi dari dalam dan luar negeri, yang kemudian dituangkan
dalam putusan bebas murni setebal 279 halaman yang dikeluarkan oleh Majelis Hakim (yang
terdiri dari lima anggota) Pengadilan Negeri.





12
ibid
13
ibid

9

PEMBAHASAN

A. Kasus Internasional

Pada bab ini penulis akan menganalisa bagaimana keadaan pertambangan
emas di Afrika Selatan dengan lebih fokus melihat kasus Gold Fields yang berpusat di
Kabupaten Tarkwa yang ada di wilayah Ghana, dimana akan dibahas pula sudut
pandang mengenai kasus ini. Dalam membahas masalah diatas kami menggunakan
beberapa konsep dan sudut pandang yang dapat dilihat, pertama kami melihat negara
sebagai aktor tunggal pengendali regulasi dan memiliki wewenang dalam suatu
keadaan dinegaranya. Kedua adalah peran korporasi dalam hal ini gold field sebagai
perusahaan pertambangan, disini kami melihat kekuasaan yang dimilikinya pada suatu
negara. Ketiga kami juga akan melihat bagaimana peran civil society dan
masyarakatnya serta kekuatan yang dimiliki. Ketiga aspek itu merupakan hal yang
wajib ada dan memiliki porsi yang seimbang guna memepertahankan kemajuan dan
kepentingan bersaam.
Dalam bukunya Miriam Budiardjo dapat disimpulkan bahwa kewenangan
adalah suatu prilaku yang dikarenakan adanya kedudukan yang dilegitimasi pada
suatu bidang yang mana menjadikannya bertindak sesuai batasan yang diperoleh pada
kedudukan tersebut.
14
Sedangkan dari data dan pemberitaan yang didaapt kami
menemukan bahwa negara menggunakan kewenangannya untuk terus mendorong
kemajuan dari gold field. Hal ini dapat kita lihat bahwa pada bulan Desember 1999,
polisi menembak dan melukai sembilan orang ketika ada demonstrasi menentang
PHK 1.000 pekerja oleh perusahaan tambang Gold Fields Ltd. di tambang Tarkwa
akibat katidak inginan warga untuk meninggalkan lokasi pertambangan dan
kemarahan warga atas pencemaran air yang berlanjut pada masa paceklik. Padahal
kesalahan utama terletak pada korporasi namun pemerintah bukannya menindak
korporasi justru menyerang masyaraakt sipil. Dari konsep dan data yang ada maka
jelas terlihat adanya penyelewengan kewenagan yang dimiliki negara yang
seharusnya digunkan untuk mengayomi warga negara dan memfasilitasi
kebutuhannya justru memfasilitasi kebutuhan korporasi.

14
budiardjo, miriam. Dasar dasar ilmu politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 1993
10

Selanjutnya kita akan melihat bagaimana korporasi memiliki kekuasaan yang
terkadang melebihi negara, ini terlihat pada tahun 2003 pihak korporasi menekan
pemerintah untuk membuat regulasi atau ijin pembukaan lahan tambang yang mana
berakibat pada pembabatan hutan di wilayah tersebut. Pada awalnya pemerintah
masih mempertimbangkan permintaan tersebut namun karena adanya tuntutan
korporasi yang mana bila d]tidak dituruti akan berlanjut pada pemutusan kontrak dan
pencabutan investasi tambang di negara tersebut maka pada akhirnya negara
mengiyakan keinginan korporasi. Dapat diartikan bahwa korporasi mengetahui celah
yang dimiliki pemerintah sebagai nilai tawar yang menguntungkan korporasi yaitu
profit yang didapatkan pemerintah dari pajak tambang. Korporasi menjadi semakin
kuat manakala pemerintahnya masih merasa belum mampu berdiri sendiri tanpa
kehadiran investor hal ini jelas melegitimasi kekuasaan yang dimiliki korporasi yaitu
kekuasaan yang diperoleh karena keunggulam materi yang dimiliki korporasi.
Sebenarnya dapat dikatakan bahwa hubungan pemerintah dan korporasi saling
menguntungkan dan ada interaksi timbal balik. Dengan keadaan negara yang miskin
serta kualitas masyarakat yang rendah maka kekuasaan yang dimiliki korporasi akan
semakin kuat.
Terakhir adalah peran civil society dan masyarakat setempat, dalam kasus
pertambangan gold field ditemukan bahwa peran civil society sangatlah lemah. dari
tahun 90-an tercatat segala tindakan yang dilakukan korporasi tidak mendapatkan
sangsi tegas dari pemerintah bahkan pemerintah mendukung dengan ikut menekan
masyarakat yang melakukan protes. Masyarakat tidak diberika akses untuk memiliki
kehidupan dan lingkunagn yang layak karena tergadai oleh kepentingan korporasi
tambang. Pada kasus protes yang dilakukan pekerja di tahun 2007 juga berakhir
dengan kekalahan pihak pekerja karena ancaman perusahaan yang akan memecat
karyawan yang masih melakukan demonstrasi sehingga aksi tersebut menghilang.
Artinya, sama seperti kekuatan korporasi yang terus meningkat karena posisi tawar
perusahaan lebih tinggi maka hal ini semakin menjatuhkan posisi masyarakat dan
civil society sulit terbentuk.

B. Kasus Nasional
Pada kasus nasional ini penulis akan menganalisa fenomena dengan
menggunakan konsep civil society. Dalam demokrasi peran civil society merupakan
syarat pembangunan demokrasi. Sebagai sebuah ruang politik, Civil Society adalah
11

suatu wilayah yang menjamin berlangsungnya perilaku, tindakan dan refleksi mandiri,
tidak terkungkung oleh kondisi kehidupan material, dan tidak terserap di dalam
jaring-jaring kelembagaan politik resmi. Tersirat pentingnya suatu ruang publik yang
bebas, tempat di mana transaksi komunikasi yang bisa dilakukan oleh warga negara.
Robert W Hefner mengilustrasikan bahwa konsep masyarakat sipil berarti
sesuatu yang membedakan secara luas dalam tradisi teiritis yang berbeda. Dalam
pemikirannya, gagasan ini mengacu pada klub, organisasi-organisasi agama,
kelompokkelompok bisnis, serikat-serikat buruh, kelompok-kelompok HAM, dan
asosiasi-asosiasi lainnya yang berada diantara rumah tangga dan negara yang diatur
secara suka rela dan saling menguntungkan. Idenya adalah agar institusi-institusi
formal bisa bekerja, warga negara pertama, harus belajar berpartisipasi dalam
asosiasi-asosiasi sukarela local. Hal ini bisa melalui jaringan perjanjian masyarakat
sipil
15

WALHI sebagai civil society dalam kasus ini memiliki kesadaran untuk
memperjuangkan hak-hak warga teluk buyat dengan cara menuntuy PT NMR untuk
bertanggung jawab atas pencemaran air di teluk Buyat. Peran WALHI disini lemah,
karena pada akhirnya pengadilan memenangkan pihak PT NMR. Beberapa hasil
penelitian mununjukkan bahwa tuduhan WALHI tidak terbukti. Penelitian terdahulu
yang dilakukan oleh universitas Sam Ratulangi menyatakan bahwa PT NMR positif
melakukan pencemaran, namun pihak PT NMR tidak setuju yang pada akhirnya PT
NMR mengundang para ahli peneliti dari luar negeri, dan para peniliti ini menyatakan
bahwa PT NMR tidak terbukti melakukan pencemaran.










15
Pengertian Masyarakat Sipil http://www.referensimakalah.com/2012/12/pengertian-masyarakat-sipil-civil-
society.html diakses pada tgl 6-5-2013 08:22 WIB
12

KESIMPULAN / IMPLIKASI

Setiap perusahaan pertambangan pada dasarnya bertujuan untuk mencari keuntungan
sebesar-besarnya, sehingga untuk mencapai hal tersebut perusahaan seringkali melalaikan
keadaan lingkungan serta kehidupan masyarakat sekitarnya. Selain itu memang sudah
pakemnya bagi pertambangan untuk meninggalkan jejak kerusakan pada lahan yang
dioperasikannya karena esensi dari pertambangan adalah mengeruk kekayaaan didalam bumi.
Berdasarkan analisa kasus-kasus yang telah kami bahas didapatkan kenyataan bahwa
pemerintah terlalu lemah untuk bernegosiasi dengan pihak kapitalis, hal ini dikarenakan
kebanyakan negara yang dikeruk hasil tambangnya merupakan negara miskin dan
berkembang yang mana membutuhkan peran kapitalis untuk menambah pemasukan negara.
Sedangkan peran masyarakat dan civil society juga tak jarang melemah karena kurangnya
kemampuan dan pengetahuan dari masyarakat lokal serta tidak seimbangnya kemampuan
masyarakat untuk melawan kekuasaan besar yang dimiliki kapitalis.
Implikasi kedepannya bila ketidak seimbangan hubungan antara negara, korporasi dan
civil society terus terpelihara maka dalam beberapa puluh tahun kedepan kerusakan alam
akan semakin menjadi dan korporasi dapat dengan mudah lepas tangan karena posisi mereka
yang kuat dengan adanya kontrak investasi. Sedangkan peran civil society yang kian
melemah akan semakin membahayakan keadaan lingkungan dan menurunkan kualitas hidup
masyarakatnya.














13

Referensi

Budiardjo, Miriam. Dasar dasar ilmu politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 1993

Canadian Mining Companies Destroy Environment and Community Resources in Ghana,
dalam situs MiningWatch Canada yang diunggah pada Agustus 2005, sumber
http://www.miningwatch.ca/canadian-mining-companies-destroy-environment-and-
community-resources-ghana

Produksi dan laba penambang emas gold field ltd turun
http://financeroll.co.id/news/65876/produksi-dan-laba-penambang-emas-gold-field-ltd-turun

Sebuah Tambang Emas DiGugat Karena Penyakit Paru-Paru
http://idesehatbugar.blogspot.com/2012/09/sebuah-tambang-emas-digugat-karena.html

http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/12/printable/071204_safrica.shtml

Mengipasi Bara Api: Peran perusahaan pertambangan Inggris dalam konflik dan
pelanggaran HAM, dalam http://www.waronwant.org/component/docman/doc_download/42-
mengipasi-bara-api-indonesian-translation-of-fanning-the-flames data berasal dari
penulisan dan penelitian berjudul Fanning The Flames untuk War on Want yang dilakukan
oleh Mark Curtis, diterbitkan pada bulan November 2007, yang diterjemahkan oleh Ima
Susilowati; Korektor: Adriana Sri Adhiati untuk Down to Earth Kampanye Internasional
untuk Lingkungan Hidup Yang Berkeadilan di Indonesia http://dte.gn.apc.org

Situs resmi pertambangan Vision, values and goal, akses dari http://www.gold
fields.co.za/com_gf_overview.php (06/05/2013, 10.36 AM)

Strategi Komunikasi Organisasi Non Pemerintah (Ornop) Lingkungan Hidup (Studi Kasus
Strategi dan Program Komunikasi WALHI dalam Penanganan Isu Tailing PT Newmont
Minahasa Raya) Periode 1999-2002, akses dari
http://lontar.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=81987&lokasi=lokal (4/5/2013, 1:23
PM)

14

Pengadilan Menolak Seluruh Tuntutan yang Diajukan WALHI, akses dari
http://www.antaranews.com/view/?i=1198217215&c=PRW&s= (4/05/2013, 7:34 PM)

Pengertian Masyarakat Sipil http://www.referensimakalah.com/2012/12/pengertian-
masyarakat-sipil-civil-society.html diakses pada tgl 6-5-2013 08:22 WIB