You are on page 1of 14

Al-Quran Hadits Ekonomi

Distribusi

Disusun oleh:
Jawad Sareh (041311433014)
Ahmad Hafid Afandi (041311433051)
Muhammad Ibnu Sudarianto (041311433058)
Muhammad Windi Siliwangi (041311433106)
Balkis Sapto Budiyono (041311433160)

Distribusi
Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan
manusia, termasuk dalam bidang ekonomi. Salah satu
tujuannya adalah untuk mewujudkan keadilan dalam
pendistribusian harta, baik dalam kehidupan
bermasyarakat maupun individu. Dasar karakteristik
pendistribusian adalah adil dan jujur, karena dalam Islam
sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan, semua akan
dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Tijaroh
Tijaroh sebagaimana yang telah didefinisikan oleh
pada fuqaha ialah pengusahaan harta benda dengan
penggantian harta benda yang lain. Akad tijaroh
digunakan dalam transaksi yang sifatnya komersial/profit
motif, sehingga boleh mengambil keuntungan. Contoh
transaksi seperti ini adalah jual beli, sewa-menyewa,
upah-mengupah kerjasama usaha atau bagi hasil.
Akad tijarah terbagi lagi menjadi dua yaitu :
1. Natural certainty contract yang terdiri dari
bai ( jual beli ) dan ijarah.
2. Natural Uncertainty Contract yang terdiri
dari musyarakah, muzaraah (benih dari
pemilik lahan), mukhabarah (benih dari
penggarap) dan musaqah (tanaman tahunan).

Dalil-dalil ayat Al-quran tentang
Tijaroh
Allah berfirman didalam surat An-Nisa ayat 29,


Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman !, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar
suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh,
Allah Maha Penyayang kepadamu.

Dan juga Allah berfirman didalam surat Al-Jumuah ayat 10,



Artinya :
Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di
muka bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak
agar kamu beruntung.

Mekanisme Pasar
Ekonomi Islam memandang bahwa pasar, negara, dan
individu berada dalam keseimbangan (iqtishad), tidak boleh
ada sub-ordinat, sehingga salah satunya menjadi dominan dari
yang lain. Pasar dijamin kebebasannya dalam Islam. Pasar
bebas menentukan cara-cara produksi dan harga, tidak boleh
ada gangguan yang mengakibatkan rusaknya keseimbangan
pasar. Namun dalam kenyataannya sulit ditemukan pasar yang
berjalan sendiri secara adil (fair). Distorasi pasar tetap sering
terjadi, sehingga dapat merugikan para pihak.

Konsep makanisme pasar dalam Islam
dapat dirujuk kepada hadits Rasululllah Saw
sebagaimana disampaikan oleh Anas RA,

Rasulullah SAW. berkata:Sesungguhnya
Allah-lah yang menetukan harga, yang menahan
dan melapangkan dan memberi rezeki. (HR. Abu
Daud, dinyatakan Shahih oleh Al-Abani)

Distorsi Pasar
Distorsi pasar adalah sebuah ganguan yang terjadi
terhadap sebuah mekanisme pasar yang sempurna
menurut prinsip Islam. Ataupun bisa juga dikatakan
bahwasanya distorsi pasar ialah suatu fakta yang terjadi
dilapangan (Mekanisme Pasar), yang mana fakta tersebut
tidak sesuai dengan teori-teori yang seharusnya terjadi
didalam sebuah mekanisme pasar.
Dalam hal ini dijelaskan bahwa distorsi dalam
bentuk rekayasa pasar dapat berasal dari 2 sudut,
yakni permintaan dan penawaran. Rekayasa
permintaan (false demand) berbentuk bai najasyi,
sedangkan rekayasa penawaran (false supply) dapat
berbentuk ihtikar maupun talaqqi rukban.

A. Bai Najasyi
Bai najasyi adalah menciptakan permintaan palsu atau
merekayasa permintaan dengan tujuan untuk menaikkan atau
menurunkan harga dari harga yang sedang berlaku di pasar. Contoh bai
najasyi adalah ada pihak tertentu yang merupakan sekutu pihak penjual
yang berpura-pura menjadi calon pembeli. Ia kemudian menawar harga
lebih rendah dari yang ditawarkan oleh penjual akan tetapi sebenarnya
harga yang diajukannya masih lebih tinggi dari harga yang berlaku di
pasar.

B. Ihtikar
Mengenai ihtikar, Rasulullah SAW pernah bersabda : Tidaklah
orang yang melakukan ihtikar itu kecuali ia berdosa (Bersumber dari
Said bin al-Musyyab dari Mamar bin Abdullah al-Adawi). Ihtikar ini
sering kali diterjemahkan sebagai monopoli dan atau penimbunan.
Padahal ihtikar tidak identik dengan monopoli dan atau penimbunan.
Dalam Islam siapapun boleh berbisnis tanpa peduli apakah dia satu-
satunya penjual
C. Talaqqi Rukban
Talaqqi Rukban adalah tindakan yang dilakukan oleh
pedagang kota (atau pihak yang memiliki informasi yang lebih
lengkap) membeli barang petani (atau produsen yang tidak
memiliki informasi yang benar tentang harga di pasar) yang
masih diluar kota, untuk mendapatkan harga yang lebih murah
dari harga pasar yang sesungguhnya.
Mencari barang dengan harga yaag lebih murah tidaklah
dilarang, namun apabila transaksi jual beli antara dua pihak dimana
yang satu memiliki informasi yang lengkap dan yang satu tidak tahu
berapa harga pasar yang sesungguhnya dan kondisi demikian
dimanfaatkan untuk mencari keuntungan yang lebih, maka terjadilah
penzaliman oleh pedagang kota terhadap petani di luar kota tersebut.
dan inilah inti mengapa dilarangnya Tallaqi Rukban, karena ketidak
adilan yang dilakukan oleh para pedagang kota yang tidak
menginformasikan harga pasar yang sebenarnya