You are on page 1of 17

TUGAS UJIAN FINAL

PSIKOLOGI KLINIS





NAMA: NABILAH AFRINI R. D
NIM: 45 11 091 034




FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS BOSOWA 45
MAKASSAR
2014




LAPORAN HASIL KUNJUNGAN
Tanggal 9 Juni 2014

A. PENDAHULUAN
Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Selatan ditetapkan
dengan keputusan Kepala Badan Narkotika Nasional seiring dengan pelantikan
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulawesi Selatan pada tanggal 20 April
2011. Bersamaan dengan pelantikan tersebut, secara resmi Badan Narkotika Provinsi
(BNP) di bawah pengawasan Pemerintah Provinsi berubah menjadi Badan Narkotika
Nasional Provinsi (BNNP) yang bertanggung jawab langsung ke Badan Narkotika
Nasional Republik Indonesia.
Proses tersebut diawali dengan perjanjian kerjasama antara Kepala Badan Narkotika
Nasional RI dengan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 111/III/Pemrov/2011.
Perjanjian tersebut memuat kesepakatan, antara lain : (1) BNN memfasilitasi
pembangunan kantor dan (2) Pemerintah Daerah memfasilitasi penyiapan lahan,
tenaga dan biaya berdasarkan kemampuan daerah.

B. TUJUAN KEGIATAN
Untuk mengetahui bahwa Penjara bukan tempat dan solusi yang tepat bagi
penyalahguna NAPZA. Tanpa upaya diberikan proses terapi dan rehabilitasi, penjara
akan semakin membuat penyalahguna mendapatkan suatu tekanan fisik, psikis dan
sosial, hal ini akibat lingkungan sesama Napi, proses eksploitasi oleh napi lain,
kondisi kamar penjara yang lebih dari kapasitas (over capacity). Untuk itu apabila
kita mempunyai kerabat atau keluarga, teman yang pecandu maka segera dibawa ke
panti rehabilitasi agar bisa diberi penanganan yang tepat.







C. TINJAUAN PUSTAKA

Penyalahgunaan Bahan atau Zat Adiktif
NAPZA merupakan singkatan bagi Narkotika, Psikotropika dan Zat
Adiktif lain (Depkes, 2003). Menurut WHO (1994), NAPZA merupakan zat
zat apapun kecuali makanan, air, dan oksigen, yang ketika dikonsumsi
mengubah proses biokimia dan atau psikologis mahluk hidup atau jaringan.
NAPZA apabila masuk ke dalam tubuh manusia, berakibat mempengaruhi
tubuh terutamanya pada susunan saraf pusat sehingga menyebabkan
perubahan aktivitas mental, emosional dan perilaku pada pengguna dan
menyebabkan ketergantungan pada zat tersebut (Depkes, 2003).
Antara jenis NAPZA yang sering disalahgunakan adalah Narkotika,
Psikotropika dan Bahan atau Zat Adiktif lain. Zat adiktif lain yang
dimaksudkan disini adalah bahan atau zat yang berpengaruh psikoaktif,
meliputi minuman beralkohol, inhalansia dan tembakau.
Inhalansia merupakan uapan zat-zat beracun yang dihirup untuk cepat
mencapai status berlayang tinggi yang diinginkan oleh pengguna
(Foundation for a Drug-Free World, 2010). Kebanyakan dari zat-zat inhalasia
ini sama seperti zat anestesia, yang memperlambat fungsi-fungsi tubuh.
Setelah mencapai status berlayang tinggi awal dan kehilangan kendala, akan
diikuti oleh perasaan mengantuk, perasaan ringan kepala dan seterusnya
hasutan. Zat-zat kimia secara cepat akan memasuki cairan darah melalui paru-
paru dan organ lainnya, dan kadang-kadang akan mengakibatkan kerusakan
fisik dan mental, yang permanen dan tidak dapat disembuhkan.












Inhalansia umumnya bisa dibagi kepada empat jenis golongan yang utama
yaitu, cairan, bahan penyemprot, bahan gas dan zat nitrit (Foundation for a
Drug-Free World, 2010). Inhalansia jenis cairan umumnya bisa menguap pada
suhu kamar. Jenis ini terdapat di banyak produk rumah tangga dan industri
yang mudah diperoleh dimana-mana, seperti pelarut cat, pembersih bahan
pelumas, bahan perekat, lem, cairan koreksi dan cairan alat penulis berujung
lakan. Bahan penyemprot pula misalnya, seperti semprotan cat dan semprotan
rambut, semprotan minyak goreng nabati dan pelindung kain.
Bahan gas seperti zat anastesia medis, gas butan untuk penyelut api, propan,
alat penyedia krim kocok dan bahan penyejuk merupakan contoh contoh
bahan inhalansia yang seing disalahgunakan. Zat nitrit pula dianggap sebagai
golongan khusus inhalansia, yang langsung mempengaruhi sistem syaraf,
saraf otak dan saraf tulang belakang. Bahan-bahan ini terutamanya digunakan
untuk mendorong sex dan biasanya dikenal sebagai poppers atau snappe.
Misalnya bahan kimia yang dipakai di pengawet makanan, pembersih kulit,
penyegar udara kamar, dan lain lain.
Terdapat empat terminologi utama untuk mengambarkan cara
penyalahgunaan inhalansia, yaitu: sniffing, huffing, bagging dan dusting
(Jauch, 2010). Sniffing merupakan suatu kaidah di mana si pengguna
menghirup uap kimiawi langsung dari wadah pembungkus yang terbuka.
Huffing pula adalah penghirupan uapan oleh mulut dan hidung dari kain yang
dicelup dalam zat kimiawi. Di dalam bagging, pengguna menyemprot zat
kimiawi ke dalam kantong kertas atau plastik dan selanjutnya menghirup
uapnya dengan memasukan muka atau seluruh kepala ke dalam kantong
tersebut. Pada dusting pula, pengguna menghirup uap secara langsung dari
aerosol yang bertujuan untuk membersihkan peralatan elektronik. (utara,
2011)
Masyarakat seringkali tidak dapat membedakan antara obat
psikotropika dengan obat narkotika, seperti halnya yang telah disinggung di
bagian atas tadi. Obat psikotropika adalah obat yang bekerja secara selektif
pada susunan saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas
mental dan perilaku. Obat psikotropika biasanya digunakan untuk terapi
gangguan psikiatrik. Obat narkotika adalah obat yang bekerja secara selektif
pada susunan saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa
nyeri. (Suprapti & Markam, 2008).
Narkotika memiliki daya adiksi (ketagihan), daya toleran
(penyesuaian), daya habitual (kebiasaan) yang sangat kuat, sehingga
menyebabkan pemakai narkotika tidak dapat lepas dari pemakaiannya. Di
bawah ini akan disampaikan berbagai jenis narkotika. Berdasarkan cara
pembuatannya, narkotika dibedakan ke dalam 3 golongan, yaitu narkotika
alami, semisintesis, dan narkotika sintesis.
Narkotika alami merupakan narkotika yang zat adiktifnya diambil dari
tumbuh-tumbuhan, contohnya: Ganja merupakan tanaman perdu dengan daun
menyerupai singkong yang tepinya bergerigi dan berbulu halus. Jumlah
jarinya selalu ganjil 5, 7, 9. Indonesia merupakan daerah subuh untuk tanaman
ganja. Cara penyalahgunaan ganja ini dengan dikeringkan dan dicampur
dengan tembakau rokok atau dijadikan rokok lalu dibakar serta dihisap. Hasis
merupakan tanaman serupa ganja yang tumbuh di Amerika Latin dan Eropa,
proses pematangannya dengan disuling sehingga berbentuk cair. Koka adalah
tanaman perdu mirip pohon kopi. Buahnya yang matang akan berwarnamerah
seperti biji kopi. Koka ini kemudian diolah menjadi kokain. Opium
merupakan bunga dengan bentuk dan warna yang indah. Dari getah bunga
opium dihasilkan candu. Opium banyak tumbuh di antara Burma, Kamboja,
dan Thailand, juga didaerah antara Afganistan, Iran dan Pakistan.
Narkotika semisintesis adalah narkotika alami yang diolah dan diambil
zat aktifnya agar memiliki khasiat yang lebih kuat sehingga bias dimanfaatkan
untuk kepentingan dunia kedokteran, contohnya: morfin, biasa dipakai dunia
kedokteran untuk menghilangkan rasa sakit atau pembiusan pada suatu
operasi. Kodein, dipakai untuk penghilang batuk. Heroin, tidak dapat dipakai
dalam pengobatan karena daya adiktifnya sangat besar dan manfaatnya secara
medis belum ditemukan. Dalam perdagangan gelap, heroin diberi nama
putauw atau petai. Bentuknya seperti tepung terigu: halus, putih, dan agak
kotor.
Narkotika sintesis adalah narkotika palsu dibuat dari bahan kimia.
Narkotika ini digunakan untuk pembiusan dan pengobatan bagi orang yang
menderita ketergantungan narkoba (substitusi), contohnya: Petidin, untuk obat
bius lokal; Metadhon, untuk pengobatan pecandu narkoba; Naltrexon untuk
pengobatan pecandu narkoba. (gono, 2011)
Nikotin. Kebiasaan merokok bukan Cuma kebiasaan yang buruk:
tetapi juga merupakan bentuk adiksi fisik terhadap obat stimulan, nikotin,
yang ditemukan dalam produk tembakau termasuk rokok, cerutu, dan
tembakau tanpa asap (Kessler dkk., 1997b). Merokok (atau penggunaan
tembakau lainnya) merupakan sarana memasukkan obat ke tubuh.
Orang-orang yang menyalahgunakan obat-obatan mengalami kerugian
yang sangat besar karenanya hubungan pribadi yang dekat sering kali hancur,
dan performa kerja sangat menurun. Penggunaan obat-obatan dikaitkan
dengan berbagai perilaku berisiko yang membahayakan kesehatan, seperti
tidak menggunakan kondom dan menggunakan jarum suntik secara bersama-
sama.
Penggunaan zat secara patologis dikelompokkan dalam dua kategori:
penyalahgunaan zat dan ketergantungan zat. Ketergantungan zat dalam DSM-
IV-TR ditandai oleh adanya berbagai masalah yang berkaitan dengan
konsumsi suatu zat. Ini mencakup penggunaan zat yang lebih banyak dari
yang dimaksudkan, mencoba untuk berhenti, namun tidak berhasil, memiliki
berbagai masalah fisik atau psikologis yang semakin parah karena
penggunaan obat, dan mengalami masalah dalam pekerjaan atau dengan
teman-teman.
Ketergantungan obat didiagnosis sebagai kondisi yang disertai dengan
ketergantungan fisiologis (juga disebut kecanduan) jika terdapat toleransi atau
gejala putus zat. Toleransi diindikasikan oleh salah satu dari (a). dosis zat
yang dibutuhkan untuk menghasilkan efek yang diinginkan lebih besar atau
(b) efek obat menjadi sangat berkurang jika mengonsumsi obat dalam dosis
yang biasa. Simtom-simtom putus zat, berbagai efek negatif fisik dan
psikologis, terjadi ketika orang yang bersangkutan menghentikan atau
mengurangi jumlah konsumsi zat tersebut. Orang yang bersangkutan juga
dapat menggunakan zat tersebut untuk menghilangkan atau menghindari
simtom-simtom putus zat. Contoh putus zat adalah delirium putus zat alcohol,
yang umumnya dikenal sebagai DTs (delirium tremens). Lebih jauh lagi, obat-
obatan dapat menyebabkan demensia dan simtom-simtom gangguan Aksis I
lain. (davidson, neale, & m.kring, 2012)
Gangguan yang bervariasi luas dan berbeda keparahannya (dari
intoksikasi tanpa komplikasi dan penggunaan yang merugikan sampai
gangguan psikotik yang jelas dan demensia, tetapi semua itu diakibatkan oleh
karena penggunaan satu atau lebih zat psikoaktif (dengan atau tanpa resep
dokter).
Sistem kode: - zat yang digunakan = karakter ke 2 dan 3
- Keadaan klinis = karakter ke 4 dan 5
(misalnya, F10.03 = Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan
Alkohol, intoksikasi akut dengan delirium).
Identifikasi dari zat psikoaktif yang digunakan dapat dilakukan berdasarkan:
- Data laporan individu
- Analisis objektif dari specimen urin, darah, dan sebagainya
- Bukti lain (adanya sampel obat yang ditemukan pada pasien, tanda dan
gejala klinis, atau dari laporan pihak ketiga) (maslim, 2003)
Faktor-faktor yang menyebabkan penyalahgunaan narkoba sebagai berikut:
1. Proses Sosial
2. Masalah Sosial
3. Faktor Individu
4. Faktor Keluarga
5. Faktor Lingkungan Keluarga
6. Faktor Lingkungan Sekolah atau Kuliah
7. Faktor Lingkungan Masyarakat (indiyah, 2005)



Depresan adalah obat yang menurunkan atau mengurangi aktivitas sistem
saraf. Sedangkan Stimulan meningkatkan aktivitas sistem saraf.

Penanganan Penyalahgunaan dan Ketergantungan Zat
Ada banyak sekali pendekatan-pendekatan non-profesional, biologis, dan
psikologis terhadap penyalahgunaan zat dan ketergantungan. Bagaimanapun
juga penanganan sering menjadi usaha keras yang sia-sia.

Pendekatan Biologis
Makin banyak pendekatan biologis digunakan dalam menangani masalah
penyalahgunaan dan ketergantungan zat. Untuk orang dengan ketergantungan
kimiawi, penanganan biologis umumnya dimulai dengan detoksifikasi
(detoxification) yang membantu mereka melewati masa putus zat dari zat
adiktif.
Disulfiram (nama merek Antabuse) menekan konsumsi alkohol karena
kombinasi dari keduanya menyebabkan respons yang tidak enak yang terdiri
dari mual, sakit kepala, percepatan jantung dan muntah (Kalb, 2001b).
Antidepresan obat ini menstimulasi proses saraf yang mengatur perasaan
nikmat yang berasal dari pengalaman sehari-hari. Jika kenikmatan lebih
mudah diperoleh dari aktivitas yang tidak berhubungan dengan obat,
pengguna kokain cenderung tidak lagi kembali ke penggunaan kokain untuk
menghasilkan perasaan menyenangkan.
Terapi Pengganti Nikotin penggunaan pengganti nikotin dalam bentuk
permen karet yang diresepkan (nama dagang Nicorette), stiker di kulit, dan
obat semprot hidung (spray nasal) yang baru-baru ini telah disetujui, dapat
membantu perokok menghindari gejala putus zat yang tidak menyenangkan
dan ketagihan untuk rokok yang mungkin terjadi setelah pemutusan rokok
(Tiffany, Chox, & Elash, 2000).
Program Pemantapan Metadon. Metadon (Methadone) adalah opiate
sintetis yang telah digunakan lebih dari 30 tahun dalam menangani adiksi
heroin (Beyond Methadone, 2000). Metadon mengurangi ketagihan heroin
dan membantu mencegah gejala tidak menyenangkan yang menyertai putus
zat.
Nalokson dan Naltrekson. Nalokson (naloxon) merupakan obat yang
mencegah rasa melayang yang dihasilkan heroin dan opioid lainnya. Dengan
mencegah efek opioid, obat tersebut dapat berguna untuk membantu pemadat
menghindari kambuh setelah putus opiat (Anton dkk., 2001; Dettmer dkk.,
2001). dan naltrekson (naltrexone) memblokir rasa melayang dari alcohol
dan juga opiat. Naltrekson tidak mencegah orang untuk minum, tetapi
tampaknya menumpulkan rasa ketagihan akan obat (Kalb, 2001b). dengan
memblokir kenikmatan yang dihasilkan alkohol, obat dapat membantu
memutuskan lingkaran setan dimana satu kali minum menyebabkan keinginan
untuk minum lagi, menuntun pada episode minum berlebih.



Pendekatan Psikodinamika
Psikoanalisis memandang penyalahgunaan dan ketergantungan zat sebagai
tanda-tanda terjadinya konflik yang berakar pada pengalaman masa kecil.
Pendekatan Behavioral
Penggunaan terapi perilaku atau modifikasi perilaku dalam menangani
penyalahgunaan ketergantungan zat menekankan pada modifikasi pola
perilaku penyalahgunaan dan dependen. Masalah untuk berbagai terapis
beraliran behavioral bukan pada apakah penyalahgunaan dan ketergantungan
zat dianggap penyakit atau tidak, tetapi pada apakah penyalah guna dapat
belajar untuk mengubah perilaku mereka saat dihadapkan dengan godaan.
(jeffrey s. nevid, 2005)
Prosedur yang pertama-tama dilakukan dalam mendiagnosa seberapa berat
efek dari kandungan zat itu kepada para pecandu adalah dengan melakukan
asesmen. Yang akan dikemukakan adalah alasan asesmen secara umum yang
terdiri atas tiga jenis atau macam maksud, sebagai berikut:
1. Penyaringan dan diagnosis: Fungsi penyaringan dalam asesmen meliputi
kegiatan memilih dan mengelompokkan orang, menggunakan kemampuan
klinikus untuk mengembangkan metode (asesmen), mengumpulkan data,
dan membuat keputusan yang canggih.
2. Evaluasi Atas Intervensi Klinis: Tanpa asesmen, klinikus pada umumnya
tidak dapat mengevaluasi efek intervensi klinis.
3. Riset: Hal yang sangat esensial bagi semua kegiatan riset adalah asesmen
atas peubah-peubah (variables) yang digunakan dalam investigasi. (Prof.
Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, 2009)
















5. KUNJUNGAN LAPANGAN KE PANTI REHABILITASI BNN

Hari senin pada tanggal 9 Juni 2014 kami mahasiswi psikologi
universitas bosowa 45 Makassar melakukan kunjungan lapangan ke panti
rehabilitasi BNN. Kunjungan lapangan ini guna untuk menyelesaikan
matakuliah psikologi klinis. Yang terdiri dari dua kelas, yakni: kelas A dan B.
Rombongan kami berangkat ke panti rehabilitasi jam 13.00 WITA
menggunakan bus kampus. Sesampainya BNN Baddoka pukul 14.00 WITA,
kami langsung diarahkan menuju ke Aula untuk menerima materi mengenai
sejarah BNN dan juga fasilitas-fasilitas apa saja yang ada di sana.

















































D.1. Tahap Persiapan
Pertama-tama kami bersurat terlebih dahulu ke BNN sendiri untuk
mendapatkan izin berkunjung ke sana. Menyiapkan beberapa pertanyaan yang
akan dilontarkan pada saat pemberian materi di BNN.

D.2. Laporan Hasil Kunjungan
sejarah berdirinya yaitu: Sejarah penanggulangan bahaya Narkotika dan
kelembagaannya di Indonesia dimulai tahun 1971 pada saat
dikeluarkannya Instruksi Presiden Republik Indonesia (Inpres) Nomor 6
Tahun 1971 kepada Kepala Badan Koordinasi Intelijen Nasional (BAKIN)
untuk menanggulangi 6 (enam) permasalahan nasional yang menonjol,
yaitu pemberantasan uang palsu, penanggulangan penyalahgunaan
narkoba, penanggulangan penyelundupan, penanggulangan kenakalan
remaja, penanggulangan subversi, pengawasan orang asing.
Berdasarkan Inpres tersebut Kepala BAKIN membentuk Bakolak Inpres
Tahun 1971 yang salah satu tugas dan fungsinya adalah menanggulangi
bahaya narkoba. Bakolak Inpres adalah sebuah badan koordinasi kecil
yang beranggotakan wakil-wakil dari Departemen Kesehatan, Departemen
Sosial, Departemen Luar Negeri, Kejaksaan Agung, dan lain-lain, yang
berada di bawah komando dan bertanggung jawab kepada Kepala BAKIN.
Badan ini tidak mempunyai wewenang operasional dan tidak mendapat
alokasi anggaran sendiri dari ABPN melainkan disediakan berdasarkan
kebijakan internal BAKIN.
Pada masa itu, permasalahan narkoba di Indonesia masih merupakan
permasalahan kecil dan Pemerintah Orde Baru terus memandang dan
berkeyakinan bahwa permasalahan narkoba di Indonesia tidak akan
berkembang karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang ber-Pancasila
dan agamis. Pandangan ini ternyata membuat pemerintah dan seluruh
bangsa Indonesia lengah terhadap ancaman bahaya narkoba, sehingga
pada saat permasalahan narkoba meledak dengan dibarengi krisis mata
uang regional pada pertengahan tahun 1997, pemerintah dan bangsa
Indonesia seakan tidak siap untuk menghadapinya, berbeda dengan
Singapura, Malaysia dan Thailand yang sejak tahun 1970 secara konsisten
dan terus menerus memerangi bahaya narkoba.
Menghadapi permasalahan narkoba yang berkecenderungan terus
meningkat, Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
(DPR-RI) mengesahkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang
Psikotropika dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang
Narkotika. Berdasarkan kedua Undang-undang tersebut, Pemerintah
(Presiden Abdurahman Wahid) membentuk Badan Koordinasi Narkotika
Nasional (BKNN), dengan Keputusan Presiden Nomor 116 Tahun 1999.
BKNN adalah suatu Badan Koordinasi penanggulangan narkoba yang
beranggotakan 25 Instansi Pemerintah terkait.
BKNN diketuai oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri)
secara ex-officio. Sampai tahun 2002 BKNN tidak mempunyai personel
dan alokasi anggaran sendiri. Anggaran BKNN diperoleh dan
dialokasikan dari Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia
(Mabes Polri), sehingga tidak dapat melaksanakan tugas dan fungsinya
secara maksimal.
BKNN sebagai badan koordinasi dirasakan tidak memadai lagi untuk
menghadapi ancaman bahaya narkoba yang makin serius. Oleh karenanya
berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 17 Tahun 2002 tentang Badan
Narkotika Nasional, BKNN diganti dengan Badan Narkotika Nasional
(BNN). BNN, sebagai sebuah lembaga forum dengan tugas
mengoordinasikan 25 instansi pemerintah terkait dan ditambah dengan
kewenangan operasional, mempunyai tugas dan fungsi: 1.
mengoordinasikan instansi pemerintah terkait dalam perumusan dan
pelaksanaan kebijakan nasional penanggulangan narkoba; dan 2.
mengoordinasikan pelaksanaan kebijakan nasional penanggulangan
narkoba.
Mulai tahun 2003 BNN baru mendapatkan alokasi anggaran dari APBN.
Dengan alokasi anggaran APBN tersebut, BNN terus berupaya
meningkatkan kinerjanya bersama-sama dengan BNP dan BNK. Namun
karena tanpa struktur kelembagaan yang memilki jalur komando yang
tegas dan hanya bersifat koordinatif (kesamaan fungsional semata), maka
BNN dinilai tidak dapat bekerja optimal dan tidak akan mampu
menghadapi permasalahan narkoba yang terus meningkat dan makin
serius. Oleh karena itu pemegang otoritas dalam hal ini segera
menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2007 tentang Badan
Narkotika Nasional, Badan Narkotika Provinsi (BNP) dan Badan
Narkotika Kabupaten/Kota (BNK), yang memiliki kewenangan
operasional melalui kewenangan Anggota BNN terkait dalam satuan
tugas, yang mana BNN-BNP-BNKab/Kota merupakan mitra kerja pada
tingkat nasional, provinsi dan kabupaten/kota yang masing-masing
bertanggung jawab kepada Presiden, Gubernur dan Bupati/Walikota, dan
yang masing-masing (BNP dan BN Kab/Kota) tidak mempunyai
hubungan struktural-vertikal dengan BNN.
Merespon perkembangan permasalahan narkoba yang terus meningkat dan
makin serius, maka Ketetapan MPR-RI Nomor VI/MPR/2002 melalui
Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
(MPR-RI) Tahun 2002 telah merekomendasikan kepada DPR-RI dan
Presiden RI untuk melakukan perubahan atas Undang-Undang Nomor 22
Tahun 1997 tentang Narkotika. Oleh karena itu, Pemerintah dan DPR-RI
mengesahkan dan mengundangkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun
2009 tentang Narkotika, sebagai perubahan atas UU Nomor 22 Tahun
1997. Berdasarkan UU Nomor 35 Tahun 2009 tersebut, BNN diberikan
kewenangan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotika dan
prekursor narkotika. Yang diperjuangkan BNN saat ini adalah cara untuk
MEMISKINKAN para bandar atau pengedar narkoba, karena disinyalir
dan terbukti pada beberapa kasus penjualan narkoba sudah digunakan
untuk pendanaan teroris (Narco Terrorism) dan juga untuk menghindari
kegiatan penjualan narkoba untuk biaya politik (Narco for Politic).
Program Layanan Rehabilitasi
Rehabilitasi berbasis layanan kesehatan terdiri dari rawat jalan dan rawat
inap.
Rawat jalan:
a. Rawat jalan non rumatan: simptomatis dan konseling
b. Rawat jalan rumatan: rumatan metadon
Rawat inap:
a. Pre terapi
b. Terapi putus zat (detoksifikasi)
c. Terapi kegawat-daruratan narkoba
d. Penatalaksanaan dual diagnosis
e. Tahap rehabilitasi
f. Program pasca rehabilitasi
Rehabilitasi Berbasis Layanan Sosial
Terdiri dari dalam panti dan luar panti (community based rehabilitation)
Dalam panti:
a. Tahap pendekatan awal
b. Tahap penerimaan (intake)
c. Tahap pengungkapan (assesment)
d. Tahap perencanaan program layanan
e. Tahap pelaksanaan layanan (intervensi biopsikososial)
f. Tahap paska layanan (aftercare)
Luar panti:
a. Tahap perencanaan program
b. Tahap pelaksanaan
Rehabilitasi BNN
Di BNN, rehabilitasi yang dilakukan ada dua sistem, yaitu:
Rehabilitasi medis:
a. Tahap penerimaan (intake), b. Detoksifikasi, c. Tahap stabilisasi dan
orientasi (entry unit)
Rehabilitasi sosial:
a. Tahap primary, b. Re-entry
Pasca Rehabilitasi:
a. Rumah dampingan, b. Rumah mandiri.
Diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia yaitu: Prof. Dr. H.
Boediono, M.Ec.
kapasitas / daya tampung dalam panti rahabilitasi tersebut sebanyak 150
orang/pertahun. Sistem pembiayaannya sepenuhnya ditanggung oleh
Negara melalui APBN. Jumlah penderita laki-laki= 65 orang, dan jumlah
penderita perempuan= 7 orang. Jumlah staff di panti rehabilitasi adalah 70
org (PNS=20 org & NON-PNS= 50 org). jumlah dokter = 4 orang
(dokter umum) (PNS=1 org & NON-PNS= 3 orang), jumlah psikolog = 5
orang. Program TRM dapat dibedakan menjadi program detoksifikasi dan
program rumatan. Untuk program detoksifikasi dibedakan dalam jangka
pendek dan jangka panjang yaitu jadwal 21 hari, 91 hari, dan 182 hari.
Sedangkan program rumatan/pemeliharaan berlangsung sedikitnya 6 bulan
sampai 2 tahun atau lebih lama lagi.
Terapi psikologis yang diberikan adalah terapi keluarga. Dalam
menghadapi pecandu harus tetap diingat bahwa keluarga pecandu
biasanya mempunyai perilaku sama dengan pecandu, co-dependent.
Idealnya keluarga pecandu harus dilibatkan secara aktif dalam proses
pemulihan pecandu. Sampai saat ini belum ada yang meninggal.
Seorang pecandu NAPZA atau penderita HIV/AIDS akan
direhabilitasi selama 6 bln (kurang lebih) tetapi juga bisa lebih dari 6
bulan tergantung dari individunya sendiri seberapa besar keinginannya
untuk sembuh. Peran keluarga Dalam menghadapi pecandu harus tetap
diingat bahwa keluarga pecandu biasanya mempunyai perilaku sama
dengan pecandu, co-dependent. Idealnya keluarga pecandu harus
dilibatkan secara aktif dalam proses pemulihan pecandu. Aktivitas klien
Napza ketika telah keluar dari panti rehabilitasi yaitu masuk pada Tahap
bina lanjut (after care), pada tahap ini pecandu diberi kegiatan sesuai
dengan minat dan bakatnya untuk mengisi kegiatan sehari-hari, pecandu
juga dapat kembali ke sekolah atau ke tempat kerjanya sambil tetap berada
di bawah pengawasan. Telah dilakukannya juga program prevensi yang
diberikan kepada masyarkat, yaitu dengan mengadakan seminar-seminar
untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas mengenai bahaya
NAPZA itu sendiri.
Daftar Pertanyaan bagi mahasiswa saat ke Panti Rehabilitasi
1. Sejarah berdirinya? Siapa yang meresmikan dan Sarana-sarana yang ada
di Panti Rehabilitasi (Termasuk luas tanah dan bangunan Panti
Rehabilitasi)?
2. Kapasitas /daya tampung dan sistem Pembiayaan Panti Rehabilitasi?

3. Jumlah klien yang telah ditangani di Panti Rehabilitasi selama berdiri?

4. Klien /penderita HIV/AIDS? (Jumlah penderita Laki-laki dan perempuan
berapa?)

5. Berapa jumlah staf Panti Rehabilitasi?

6. Berapa jumlah Dokter dan Psikolog? (Bag. Status kepegawaian mereka)

7. Bagaimana prosedur /cara seorang pecandu NAPZA atau Penderita
HIV/AIDS dapat ditangani di Panti Rehabilitasi?

8. Apa program-program pemberdayaan yang diberikan untuk pecandu
NAPZA?

9. Apa program-program pemberdayaan yang diberikan untuk penderita
HIV/AIDS?

10. Terapi psikologi sapa yang diberikan pada pecandu NAPZA dan penderita
HIV/AIDS?

11. Adakah klien yang meninggal (baik pecandu NAPZA maupun penderita
HIV/AIDS) selama dalam penanganan?

12. Apa bentuk terapi medis yang diberikan kepada pecandu NAPZA dan
penderita HIV/AIDS?

13. Berapa lama seorang pecandu NAPZA atau penderita HIV/AIDS
direhabilitasi? Adakah standar waktu yang harus dipatuhi sebagai
prosedur standar selama rehabilitasi?

14. Apa aktivitas klien pecandu NAPZA setelah keluar dari Panti Rehabilitasi
(sembuh dari ketergantungan)?

15. Apa bentuk pelibatan keluarga selama klien direhabilitasi?

16. Apa alasan utama klien masuk Panti Rehabilitasi?

17. Apa penyebab penyalahgunaan NAPZA dari kasus-kasus yang ditangani
selama ini (semoga ada datanya). Apakah faktor kemiskinan turut
berkontribusi terhadap perilaku ini?

18. Adakah program prevensi yang diberikan pada masyarakat untuk
pencegahan penyalahgunaan NAPZA dan HIV/AIDS.

E. KESIMPULAN

NAPZA merupakan zat zat apapun kecuali makanan, air, dan oksigen, yang
ketika dikonsumsi mengubah proses biokimia dan atau psikologis mahluk hidup
atau jaringan. NAPZA apabila masuk ke dalam tubuh manusia, berakibat
mempengaruhi tubuh terutamanya pada susunan saraf pusat sehingga
menyebabkan perubahan aktivitas mental, emosional dan perilaku pada
pengguna dan menyebabkan ketergantungan pada zat tersebut. Dan sudah
seharusnya para pecandunya segera dilakukan tindakan yang benar dengan
memasukkan ke dalam panti rehabilitasi, dibanding dimasukkan ke dalam
penjara. Dengan memasukkannya ke dalam panti rehabilitasi itu jauh lebih bisa
membersihkan pengaruh ketergantungan zat yang selama ini ada dalam tubuh si
pecandu.

F. SARAN
Akan lebih baiknya lagi seaindainya pada saat kunjungan kemarin kita
diberikan kesempatan untuk melakukan wawancara langsung kepada salah satu
dari para klien/residen yang ada di panti rehabilitasi Baddoka. Sehingga kami
juga dapat melakukan observasi langsung terhadap klien.





DAFTAR PUSTAKA

davidson, g. c., neale, j. m., & m.kring, a. (2012). psikologi abnormal. jakarta : rajawali pers.
gono, j. n. (2011). narkoba: bahaya penyalahgunaan dan pencegahannya. 81.
indiyah. (2005). faktor-faktor penyebab penyalahgunaan napza: studi kasus para narapidana
di lp klas II/A wirogunan jogjakarta. Jurnal Kriminologi Indonesia , 92.
jeffrey s. nevid, s. a. (2005). psikologi abnormal / edisi kelima / jilid 2. jakarta: erlangga.
maslim, r. (2003). diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III. jakarta: PT. Nuh Jaya.
Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, P. (2009). Pengantar Psikologi Klinis. Bandung: PT. Refika
Aditama.
Suprapti, S. S., & Markam, S. (2008). Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit Universitas
Indonesia.
utara, u. s. (2011). Retrieved Juni Kamis, 2014, from usu.ac.id:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21556/4/Chapter%20II.pdf