You are on page 1of 17

ENHANCE OIL RECOERY

AIR INJEKSI










DISUSUN OLEH ;



ALFIAN SUTI SYAWAL
07111024




PENGANTAR STUDI WATER FLOOD
(ENGLISH)
Waterflooding is the use of water injection to increase the production from oil reservoirs. Use
of water to increase oil production is known as "secondary recovery" and typically follows
"primary production," which uses the reservoirs natural energy (fluid and rock expansion,
solution-gas drive, gravity drainage, and aquifer influx) to produce oil. And also Water
injection or water flooding refers to the method in the oil industry where water is injected
into the reservoir, usually to increase pressure and thereby stimulate production. Water
injection wells can be found both on- and offshore, to increase oil recovery from an existing
reservoir.
Water is injected (1) to support pressure of the reservoir (also known as voidage
replacement), and (2) to sweep or displace oil from the reservoir, and push it towards a well.
Normally only 30% of the oil in a reservoir can be extracted, but water injection increases
that percentage (known as the recovery factor) and maintains the production rate of a
reservoir over a longer period.
Any and every source of bulk water can be, and has been, used for injection. The following
sources of water are used for recovery of oil:
Produced water is often used as an injection fluid. This reduces the potential of causing
formation damage due to incompatible fluids, although the risk of scaling or corrosion in
injection flowlines or tubing remains. Also, the produced water, being contaminated with
hydrocarbons and solids, must be disposed of in some manner, and disposal to sea or river
will require a certain level of clean-up of the water stream first. However, the processing
required to render produced water fit for reinjection may be equally costly.
As the volumes of water being produced are never sufficient to replace all the production
volumes (oil and gas, in addition to water), additional "make-up" water must be provided.
Mixing waters from different sources exacerbates the risk of scaling.
Seawater is obviously the most convenient source for offshore production facilities, and it
may be pumped inshore for use in land fields. Where possible, the water intake is placed at
sufficient depth to reduce the concentration of algae; however, filtering, deoxygenation and
biociding is generally required.
Aquifer water from water-bearing formations other than the oil reservoir, but in the same
structure, has the advantage of purity where available.
River water will always require filtration and biociding before injection.


3.1. Pengertian Injeksi Air
Pada lapangan yang sudah melewati batas primary recovery-nya, dilakukan optimasi
produksi dengan cara yang lain salah satunya adalah injeksi air (water flooding). Mekanisme
kerjanya adalah dengan menginjeksikan air ke dalam formasi yang berfungsi untuk
mendesak minyak menuju sumur produksi (produser) sehingga akan meningkatkan produksi
minyak ataupun dapat juga berfungsi untuk mempertahankan tekanan reservoir (pressure
maintenance),
3.1.1. Sejarah Perkembangan Dan Aplikasi Waterflood
Penemuan minyak mentah oleh Edwin L. Drake di Titusville pada tahum 1859 menandai
dimulainya era industri minyak bumi. Penggunaan minyak bumi yang semakin meluas
membuat orang mulai berpikir untuk meningkatkan perolehan produksi minyak bumi. Maka
pada awal 1880-an, J.F. Carll mengemukakan pendapatnya bahwa kemungkinan perolehan
minyak dapat ditingkatkan melalui penginjeksian air dari suatu sumur injeksi untuk
mendorong minyak ke sumur produksi adalah sangat besar.
Eksperimen waterflood pertama tercatat dilakukan di lapangan Bradford, Pennsylvania pada
tahun 1880-an. Dari eksperimen pertama ini, mulai terlihat bahwa program waterflood akan
dapat meningkatkan produksi minyak. Maka pada awal 1890-an, dimulailah penerapan
waterflood di lapangan-lapangan minyak di Amerika Serikat.
Pada 1907, ditemukan metoda baru dalam pengaplikasian waterflood di Lapangan Bradford,
Pennsylvania, yang disebut sebagai metoda lingkar (circular method), yang juga tercatat
sebagai pengaplikasian flooding pattern pertama. Karena adanya regulasi pemerintah yang
melarang penerapan waterflood di masa itu, proyek ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi,
sampai larangan itu dicabut pada 1921.
Mulai tahun 1921, penerapan waterflood mulai meningkat. Pola pattern waterflood berubah
dari circular method menjadi line method. Pada 1928, pola five spot ditemukan dan
diterapkan secara meluas di lapangan-lapangan minyak. Selain tahun-tahun tersebut, operasi
waterflood juga tercatat dilakukan di Oklahoma pada tahun 1931, di Kansas pada tahun 1935,
dan di Texas pada tahun 1936.
Dibandingkan dengan masa sekarang, penerapan waterflood pada masa dahulu boleh dibilang
sangat sedikit. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena pada zaman dahulu pemahaman
tentang waterflood masih sangat sedikit. Selain itu, pada zaman dahulu produksi minyak
cenderung berada diatas kebutuhan pasar.
Signifikansi waterflood mulai terjadi pada akhir 1940-an, ketika sumur-sumur produksi mulai
mencapai batasan ekonomis (economic limit)nya dan memaksa operator berpikir untuk
meningkatkan producable reserves dari sumur-sumur produksi. Pada 1955, waterflood
tercatat memberikan konstribusi produksi lebih dari 750000 BOPD dari total produksi
6600000 BOPD di Amerika Serikat. Dewasa ini, konstribusi waterflood mencapai lebih dari
50% dari total produksi minyak di Amerika Serikat.
Injeksi air ini sangat banyak digunakan, alasannya antara lain:
Mobilitas yang cukup rendah
Air mudah didapatkan
Pengadaan air cukup murah
Berat kolom air dalam sumur injeksi turut memberikan tekanan, sehingga cukup
banyak mengurangi tekanan injeksi yang perlu diberikan di permukaan
Mudah tersebar ke daerah reservoir, sehingga efisiensi penyapuannya cukup tinggi
Memiliki efisiensi pendesakan yang sangat baik
Penginjeksian air bertujuan untuk memberikan tambahan energi kedalam reservoir. Pada
proses pendesakan, air akan mendesak minyak mengikuti jalur-jalur arus (stream line) yang
dimulai dari sumur injeksi dan berakhir pada sumur produksi, seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 3.2, yang menunjukkan kedudukan partikel air yang membentuk batas air-minyak
sebelum breakthrough (a) dan sesudah breakthrough (b) pada sumur produksi.

Gambar 3.2.
Kedudukan Air Sepanjang Jalur Arus
(a) sebelum dan (b) sesudah Tembus Air Pada Sumur Produksi
3.1.2. Perencanaan Waterflood
Perencanaan waterflood didasarkan pada pertimbangan teknik dan keekonomisannya. Analisa
ekonomis tergantung pada perkiraan hasil dari proses waterflood itu sendiri. Perkiraan ini
bisa baik atau buruk tergantung pada kebutuhan khusus dari proyek atau keinginan pelaksana.
Lima langkah utama dalam perencanaan waterflood adalah ;
1. Evaluasi reservoir meliputi hasil hasil produksi dari primary recovery
2. Pemilihan waterflood plan yang potensial
3. Perkiraan laju injeksi dan produksi
4. Prediksi oil recovery untuk setiap perencanaan proyek waterflood
5. Identifikasi variabel-variabel yang menyebabkan ketidaktepatan analisa secara teknik
Analisa teknik produksi waterflood dilakukan dengan memperkirakan jumlah volume dan
kecepetan fluida. Perkiraan diatas juga berguna untuk penyesuaian atau pemilihan peralatan
serta sistem pemeliharaan ( treatment ) fluida.
a. Penentuan Lokasi Sumur Injeksi-Produksi
Pada umumnya dipegang prinsip bahwa sumur-sumur yang sudah ada sebelum injeksi
dipergunakan secara maksimal pada waktu berlangsungnya injeksi nanti. Jika masih
diperlukan sumur-sumur baru maka perlu ditentukan lokasinya. Untuk memilih lokasi
sebaiknya digunakan peta distribusi cadangan minyak tersisa. Pada daerah yang sisa
minyaknya masih besar mungkin diperlukan lebih banyak sumur produksi daripada daerah
yang minyaknya tinggal sedikit. Peta isopermeabilitas juga membantu dalam memilih arah
aliran supaya penembusan fluida injeksi (breakthrough) tidak terjadi terlalu dini.
b. Penentuan Pola Sumur Injeksi-Produksi
Salah satu cara untuk meningkatkan faktor perolehan minyak adalah dengan membuat pola
sumur injeksi-produksi, yang bertujuan untuk mendapatkan pola penyapuan yang seefisien
mungkin. Tetapi kita harus tetap memegang prinsip bahwa sumur yang sudah ada sebelum
injeksi harus dapat digunakan semaksimal mungkin pada waktu berlangsungnya injeksi nanti.
Pertimbangan-pertimbangan dalam penentuan pola sumur injeksi produksi tergantung pada:
Tingkat keseragaman formasi, yaitu penyebaran permeabilitas ke arah lateral maupun
ke arah vertikal.
Struktur batuan reservoir meliputi patahan, kemiringan, dan ukuran.
Sumur-sumur yang sudah ada (lokasi dan penyebaran).
Topografi.
Ekonomi.
Pada operasi waterflood sumur-sumur injeksi dan produksi umumnya dibentuk dalam suatu
pola tertentu yang beraturan, misalnya pola garis lurus, empat titik, lima titik, tujuh titik, dan
sebagainya (seperti yang terlihat pada Gambar 3.3).
Pola sumur dimana sumur produksi dikelilingi oleh sumur-sumur injeksi disebut dengan pola
normal. Sedangkan bila sebaliknya yaitu sumur-sumur produksi mengelilingi sumur injeksi
disebut dengan pola inverted. Masing-masing pola mempunyai sistem jaringan tersendiri
yang mana memberikan jalur arus berbeda-beda sehingga memberikan luas daerah
penyapuan yang berbeda-beda.

Gambar 3.3. Pola-pola Sumur Injeksi-Produksi
c. Penentuan Debit dan Tekanan Injeksi
Debit injeksi yang akan ditentukan di sini adalah untuk sumur-sumur dengan pola tertutup
dengan anggapan bahwa mobility ratio (M) sama dengan satu. Besarnya debit injeksi
tergantung pada perbedaan tekanan injeksi di dasar sumur dan tekanan reservoirnya.
Bentuk persamaan dikembangkan dari persamaan Darcy sesuai dengan pola sumur injeksi-
produksi,sebagai berikut :

Persamaan yang disebutkan diatas adalah laju injeksi dari fluida yang mempunyai mobilitas
yang sama (M=1) karena reservoir minyak terisi oleh cairan saja.
Untuk menentukan laju injeksi sampai dengan terjadinya interferensi digunakan persamaan:

Untuk mencapai keuntungan ekonomis yang maksimal, biasanya diinginkan debit injeksi
yang maksimal, namun ada batasan yang harus diperhatikan. Batas bawah debit injeksi
adalah debit yang menghasilkan produksi minyak yang merupakan batas ekonomisnya. Batas
atas debit injeksi adalah debit yang berhubungan dengan tekanan injeksi yang mulai
menyebabkan terjadi rekahan di reservoir.
Analisa berikutnya adalah injeksi air dari interface sampai dengan fill-up. Besarnya laju
injeksi pada perioda ini dinyatakan dengan persamaan :
i
wf
= t x i . (3-6)
Dengan diketahuinya laju injeksi pada setiap periode dari perilaku water flood, maka
diramalkan waktu injeksi dari setiap periode.
3.2. Konsep Interaksi Batuan dan Fluida
Fluida dua fasa atau lebih dikatakan immiscible (tidak bercampur) pada tekanan atau
temperatur tertentu jika terbentuk suatu lapisan kasat mata antar fasa setelah fasa- fasa fluida
tersebut dicampurkan satu sama lain sampai mencapai kesetimbangan kimia. Kehadiran fasa-
fasa immiscible ini di reservoir akan mengubah kemampuan batuan dalam menyalurkan
fluida. Fasa-fasa immiscible di reservoir seperti : minyak-air, minyak-gas, air-gas, atau air-
minyak-gas.
Pada waterflood dalam skala mikro, efesiensi pendesakan dipengaruhi oleh faktor interaksi
fluida dan media yang di tempatinya.. Karena di reservoir terdapat lebih dari satu fasa, maka
secara alamiah telah terjadi interaksi antara batuan dan fluida di reservoir yang sekaligus
mempengaruhi pendesakan fluida. Karena itulah, pemahaman tentang sifat-sifat dasar batuan
reservoir perlu dilakukan
Karena interaksinya dengan fluida, sifat-sifat batuan reservoir ini menjadi terbagi atas dua
kelompok :
1. Sifat absolut dari batuan itu sendiri, antara lain porositas, permeabilitas, dan distribusi
ukuran pori.
2. Sifat batuan reservoir akibat interaksi batuan dengan fluida reservoir yang bersifat
statis, antara lain tekanan kapiler, wettability, dan contact angle.
3. Sifat batuan reservoir akibat interaksi batuan dengan fluida reservoir yang bersifat
dinamis, diantaranya mobilitas, dan permeabilitas relatif
Untuk itu, konsep dasar sifat-sifat batuan dan fluida reservoir telah menjadi bahan
pertimbangan penting dalam studi waterflood karena dalam proses injeksi air akan terjadi
kontak antara fluida yang diinjeksikan dengan batuan dan fluida formasi, sehingga dapat
dipelajari kondisi efisiensi pendesakan yang lebih efektif untuk mendesak minyak sebagai
efisiensi pendesakan pada skala mikroskopis.
Adapun sifat-sifat itu antara lain :
3.2.1. Porositas
Porositas diartikan sebagai perbandingan volume pori dengan volume total batuan, lebih
umum dinyatakan dalam fraksi dibandingkan dengan persentase. Porositas terbagi dua :
1. Porositas efektif
Merupakan perbandingan antara rongga pori yang saling berhubungan dengan volume bulk
(total) batuan
1. Porositas absolut
Merupakan perbandingan total volume pori dengan volume total batuan
Porositas dari sebuah media permeabel merupakan fungsi yang kuat dari variansi distribusi
ukuran pori dan fungsi yang lemah dari ukuran pori itu sendiri.

3.2.2.Permeabilitas
Bisa diartikan sebagai kemampuan batuan dalam menyalurkan fluida, terbagi atas tiga :
1. Permeabilitas absolut
Merupakan kemampuan batuan dalam mendistribusikan semua fasa fluida yang
dikandungnya
2. Permeabilitas efektif
Didefinisikan sebagai kemampuan batuan dalam mendistribusikan salah satu fasa fluida jika
batuan tersebut mengandung lebih dari satu fasa fluida
3. Permebilitas relatif
Merupakan rasio antara permeabilitas efektif dengan permeabilitas absolut, merupakan sifat
fisik batuan yang sangat urgen dalam proses EOR. Atau perbandingan antara permeabilitas
efektif dengan permeabilitas absolut.

Permeabilitas relatif reservoir terbagi berdasarkan jenis fasanya, sehingga didalam reservoir
akan terdapat permeabilitas relatif air (K
rw
), permeabilitas relatif minyak (K
ro
), permeabilitas
relatif gas (K
rg
), dimana persamaannya adalah :

dimana K
w
, K
o
, K
g
berturut-turut adalah permeabilitas relatif air, minyak, dan gas.
Permeabilitas relatif dipengaruhi variable-variabel seperti sejarah saturasi dan kebasahan
batuan. Karakteristik dari permeabilitas relatif ditunjukkan pada gambar 3.10.
Gambar 3.4. Karakteristik Permeabilitas Relatif
Pada Gambar 3.4 menunjukkan pengaruh sejarah saturasi terhadap permeabilitas relatif. Itu
dicatat bahwa arah aliran tidak berpengaruh pada perilaku aliran untuk fasa pembasah.
Bagaimanapun, suatu perbedaan penting ada antara kurva drainage dan imbibition untuk
tahap fasa non-pembasah. Untuk sistim water-wet, kita dapat memilih data imbibisi,
sedangkan, data drainage diperlukan untuk mengoreksi prediksi dari reservoir oil-wet.
Sedangkan pengaruh wettability sangat penting untuk diketahui, hal ini dapat dilihat pada
sistim water-wet dan oil-wet. Ada beberapa perbedaan antara kurva oil-wet dan kurva water-
wet dimana :
1. Saturasi air pada permeabilitas minyak dan air adalah jumlah (titik persimpangan
kurva) yang akan lebih besar dari 50 % untuk sistim water-wet dan lebih kecil dari 50
% untuk sistim oil-wet.
2. Saturasi air connate untuk sistim water-wet lebih besar dari 20 % dan untuk sistim oil-
wet lebih kecil dari 15 %.
3. Permeabilitas realtif untuk air pada saturasi air maksimum (residual oil saturation)
akan lebih kecil dari 0.3 untuk sistim water-wet tetapi akan lebih besar dari 0.5 untuk
sistim oil-wet.
Gambar 3.5. Pengaruh Sejarah Saturasi
Terhadap Permeabilitas Relatif

Gambar 3.6. Pengaruh Kebasahan Terhadap Permeabilitas Relatif
Untuk nilai permeabilitas yang tinggi { (k
o
)Swir > 100 md}, penemuan ini tidak mungkin
benar. Sebagai contoh, Batuan water-wet dengan pori-pori besar kadang-kadang
memperlihatkan kejenuhan air tak bergerak kurang dari 10 hingga 15 persen. Meskipun
demikian, pada Gambar 3.5. menunjukkan pentingnya kurva permeabilitas relatif yang dapat
mengindikasikan tingkat kebasahan suatu reservoir untuk permeabilitas ke level rendah
(k
o
)
Swir
< 100 md.
Rumus tes permeabilitas relatif air-minyak untuk contoh batuan core sering disebut sebagai
end point karena merupakan refleksi dari S
wir
, S
or
, (k
o
)
Swir
dan (k
w
)
Sor
. Hasil tes ini sedikit
lebih mahal dari tes permeabilitas realtif normal, tapi tes ini dapat menyediakan informasi
dari karakteristik- karakteristik reservoir
Berbeda dengan porositas, permeabilitas lebih dipengaruhi oleh ukuran pori batuan
dibandingkan dengan distribusi butiran batuan tersebut.
3.3. Pengawasan Waterflood
(Reservoir Susveillance)
Kunci kesuksesan sebuah proyek waterflood terlelak pada perencanaan dan pelaksanaan
program pengawasan serta monitoring pada sumur. Program ini disesuaikan dengan
lapangan atau proyek yang bersangkutan, sebab masing-masing proyek waterflood
mempunyai karakter yang beragam. Hal yang penting untuk diperhatikan pada program
monitoring well khususnya system waterflood terdapat pada Gambar 3.7. Sebelumnya proyek
waterflood hanya terfokus pada hasil produksi dan injeksi saja. Dewasa ini dengan
pengetahuan manajemen reservoir modern, telah menjadi praktek industri untuk menjadikan
sumur, fasilitas, water system dan kondisi pengoperasian menjadi program surveillance
secara comprehensive.
Gambar 3.7.Waterflood Injection
System
Managemen reservoir yang baik terdiri dari reservoir, well dan surface facilities sebagai
komponen dari satu kesatuan system. Telah diakui bahwa karakteristik reservoir, fluida dan
bentuk alirannya akan mempengaruhi operasi sumur dan proses produksi fluida di
permukaan. Pelaksanaan program surveillance yang komprehensif dapat dilihat pada tabel
berikut :












Tabel 3.1. Pelaksanaan Program Surveillance

Saat ini, pelaksanaan surveillance tidak hanya difokuskan pada kinerja reservoir, namun
melibatkan sumur-sumur, fasilitas dan sistem air. Informasi tentang sejarah kinerja
waterflood pada suatu lapangan lebih detail dapat diperoleh, memberikan suatu penilaian
terhadap behavior waterflood yang tengah berjalan. Informasi ini mencakup :
Deskripsi reservoir yang akurat dan lebih detail
Kinerja reservoir, estimasi efisien penyapuan dan recovery minyak untuk tiap stage (at
various stage of depletion)
Sumur injeksi dan sumur produksi, beserta laju alir, tekanan, dan profil fluida
Treatment dan kualitas air
Performansi fasilitas dan perawatan
Perbandingan performasi actual dan teoritis untuk memonitor behavior dan efektfitas
waterflood
Diagnosa terhadap permasalahan yang ada/potensial, dan solusinya.
5 jenis data yang sangat penting dalam Surveillance dan monitoring :
1. Data reservoir
Litologi, pengendapan, patahan, WOC/GOC, bentuk perangkap, jenis drive
Pemetaan bentuk unit aliran
Data petrofisik (nilai rata-rata k, h, f)
Kompresibilitas (rock, gas, oil dan water)
Tipe rekahan
1. Data statik
Pressure (RFT, Psi static, built up/fall off, step rate test)
Saturasi (resistivity, core, simulasi saturasi)
Volume produksi
1. Sifat batuan dan fluida
PVT data (psi, volume, Rs, Viskositas, temperature)
Permeabilitas relative (Kro, Krg, Krw sebagai fungsi dari saturasi)
Sorw, Sorg (titik akhir dari proses pendesakan)
1. Data injeksi/produksi sumur
Kecepatan produksi dan injeksi
Fluid entry/exit (PLT Logging)
Pwf
Productivity dan injectivity index
Kekuatan semen
1. Facilities/operating condition
Kualitas air
Injection facilities operation
Production facilities operation
Monitoring equipment operation
3.4. Efisiensi Pendesakan Minyak
Effisiensi pendesakan minyak diantaranya :

3.4.1.Areal Sweep Efficiency
Pada pelaksanaan waterflood, air diinjeksikan dari beberapa sumur injeksi dan produksi akan
terjadi dari sumur yang berbeda. Ini akan menyebabkan terbentuknya distribusi tekanan dan
streamlines di daeah antara sumur injeksi dengan sumur produksi. Dua faktor ini akan
menentukan seberapa besar kontak waterflood dengan daerah antara tersebut. Besar daerah
reservoir yang mengalami kontak dengan air ini yang disebut dengan Areal sweep efficiency.
Gambar
3.8.
(a) Areal Sweep effisiensi, (b) Vertical Sweep effisiensi
Secara rumus, Areal sweep efficiency didefinisikan sebagai :

3.4.2. Mobility Efficiency
Efisiensi mobilitas merupakan efisiensi yang dipengaruhi oleh nilai saturasi minyak
tersisa dan sifat pembasahan batuan. Didefinisikan sebagai fraksi minyak pada awal proses
yang dapat diambil pada 100 % area vertikal.
Persamaan efisiensi mobilitas adalah sebagai berikut :

Untuk nilai Bo
i
konstan, maka persamaan (3.12) diatas menjadi :

dimana
E
M
= efisiensi mobilitas
S
oi
= saturasi minyak awal
S
orp
= saturasi minyak residual/immobile oil
3.4.3.Vertical Sweep Efficiencies
Bervariasinya nilai permeabilitas pada arah vertikal dari reservoir menyebabkan fluida injeksi
akan bergerak dengan bentuk front yang tidak beraturan. Semakin sedikit daerah
berpermeabilitas bagus, semakin lambat pergerakan fluida injeksi.
Ukuran ketidakseragaman invasi air adalah vertical sweep efficiency (Gambar 3.8), yang juga
sering disebut sebagai invasion efficiency. Vertical sweep efficiency ini bisa didefinisikan
sebagai bidang tegak lurus yang mengalami kontak dengan air injeksi dibagi dengan
keseluruhan bidang tegak lurus di darah belakang front. Secara sederhana, vertical sweep
efficiency ini menyatakn seberapa banyak bagian tegak lurus (vertikal) reservoir yang dapat
dijangkau oleh air injeksi.
Persamaan untuk vertical sweep efficiency adalah :

Ada beberapa hal yang mempengaruhi vertical sweep efficiency, ini :
1. Mobility Ratio
Term injektivitas relatif ini adalah perbandingan indeks injekstivitas pada sembarang waktu
dengan injektivitas pada saat dimulainya waterflood. Pada M = 1, injekstivitas relatif
cenderung konstan. Pada M < 1, terlihat bahwa injektivitas menurun seiring menaiknya
radius flood front. Sedangkan untuk M > 1, injektivitas relatif meningkat seiring naiknya
radius flood front.
1. Gaya Gravitasi
Karena air merupakan fluida dengan densitas yang tinggi, maka ia cenderung untuk bergerak
di bagian bawah reservoir. Efek ini disebut dengan gravity segregation dari fluida injeksi,
merupakan akibat dari perbedaan densitas air dan minyak.
Terlihat bahwa baik untuk sistem linear maupun untuk sistem five spot, derajat dari gravity
segeragation ini tergantung dari perbandingan antara gaya viscous dengan gaya gravitasi,
. Sehingga laju alir yang lebih besar akan menghasilkan vertical sweep efficiency
yang lebih baik pula.
1. Gaya kapiler
Penelitian membuktikan bahwa volume hanya menurun sedikit walaupun laju alir injeksi
dinaikkan sampai sepuluh kali lipat.
1. Crossflow antar lapisan
2. Laju alir
Perhatikan semua properties yang mempengaruhi vertical sweep efficiency diatas.
Keseluruhannya dipengaruhi oleh laju alir

3.4.4.Volumetric sweep efficiency
Volumetric sweep efficiency ini merupakan ukuran pendesakan tiga dimensi. Definisi
volumetric sweep efficiency adalah perbandingan antara total volume pori yang mengalami
kontak dengan air injeksi dibagi dengan total volume pori area injeksi. Volumetric sweep
efficiency dirumuskan dalam persamaan berikut :

Faktor-faktor yang mempengaruhi volumetric sweep efficiency sama dengan faktor-
faktor yang mempengaruhi vertical sweep efficiency.

3.4.5. Displacement Efficiency
Displacement Efficiency didefinisikan sebagai jumlah total minyak yang berhasil
didesak dibagi dengan total Oil in Place yang ada di daerah sapuan tersebut. Berdasarkan
pengertian tersebut, Displacement Efficiency dapat dirumuskan dengan persamaan :

Efisiensi pendesakan ini merupakan efisiensi pendesakan tak bercampur dalam skala
makroskopik yang digunakan untuk menggambarkan efisiensi pendesakan volume spesifik
minyak oleh injeksi air pada batuan reservoir, sehingga dapat ditentukan seberapa efektifnya
fluida pendesak menggerakkan minyak pada saat fluida pendesak telah membentuk kontak
dengan minyak.
Efisiensi pendesakan fluida reservoir dapat dilihat pada dua konsep berikut :
1. Konsep desaturasi
Terjadi perubahan saturasi fluida dibelakang front seharga satu dikurangi saturasi residual
fluida yang didesak, sehingga terdapat dua fasa yang mengalir yaitu minyak dan air.
Sedangkan di depan front hanya minyak yang mengalir.
2. Konsep pendesakan
Saturasi fluida pendesak pada front sama dengan satu dikurangi saturasi residual fluida itu
sendiri. Dianggap minyak telah habis didesak sehingga yang dibelakang front hanya fluida
pendesak yang mengalir.
Displacement Efficiency mempunyai nilai maksimum, yang dirumuskan sebagai
berikut :

Sedangkan nilai displacement efficiency pada saat breakthrough adalah :

Gambar 3.9. Effisiensi Displacement