You are on page 1of 149

METODE MATRIK

APLIKASI METODE MATRIK


UNTUK ANALISA STRUKTUR BALOK
PENGERTIAN UMUM
Metode matrik adalah suatu pemikiran baru pada analisa
struktur, yang berkembang bersamaan dengan populernya
penggunaan computer otomatis untuk operasi perhitungan
aritmatika.

HAL UTAMA DALAM ANALISA UNTUK MENENENTUKAN BAIK ITU DEFORMASI
ATAUPUN STRESS PADA STRUKTUR, IALAH SAMPAI JAUH MANA SUDAH
DIKETAHUI SIFAT KARAKTERISTIK HUBUNGAN GAYA DAN DEFORMASI DARI
ELEMEN-ELEMEN STRUKTUR, DAN MEMAKSAKAN TERPENUHINYA SYARAT-
SYARAT KOMPATIBILITI DAN KESETIMBANGAN, ADA TIGA HAL YANG
MENDASARI ANALISIS INI, YAITU:

1. kesetimbangan
2. hubungan stress dan strain, atau
gaya dalam dan deformasi
3. kompatibiliti,atau kontinuitas dari
deformasi
DALAM ANALISIS MATRIK DIKENAL ADA DUA CARA :
1. metode kekakuan (stiffness method, atau
displacement method )
2. metode fleksibilitas (flexibility method, atau force
method)
METODE KEKAKUAN
Dengan metode kekakuan ini sebenarnya dicari hubungan gaya dengan
lendutan, dinyatakan secara matematis :
{ } | |{ } D K Q =
{ } Q
= gaya yang timbul pada titik-titik diskrit akibat adanya lendutan.
{ } D
= lendutan pada titik-titik diskrit
| | K
= menyatakan kekakuan dari struktur
Metode Kekakuan Ini Juga Disebut Metode Lendutan
(Displacement Method), Karena Analisa Dimulai Dengan
Lendutan Sehingga Dengan Demikian Urutan Kerjanya Secara
Garis Besar Adalah Sebagai Berikut :
kompabiliti; yaitu mencari hubungan antara deformasi dengan lendutan, atau
secara tegasnya mencari deformasi apa yang terjadi pada elemen-elemen dititik-
titik diskrit akibat diberikannya lendutan pada struktur dititik-titik tersebut.

persamaan hubungan stress dan strain, yaitu mencari hubungan mengenai gaya-
gaya dalam yang timbul sebagai akibat adanya deformasi pada elemen-elemen
pada struktur tersebut.

kesetimbangan, langkah terakhir yang menyatakan hubungan gaya luar dititik
diskrit dengan gaya-gaya dalam atau mencari berapa besar gaya luar di ujung
elemen-elemen yang tepat diimbangi oleh gaya-gaya dalam elemen titik-titik diskrit.
Metode Kekakuan Ialah Suatu Cara Untuk Analisa Struktur Dimana Dalam Proses Perumusan
Dari Analisanya Diambil Lendutan Di Titik-titik Diskrit Sebagai Besaraan Anu Yang Hendak
Dicari.Dalam Proses Menganalisa Akan Mengenal Beberapa Matrix Yang Penting Sebagai Berikut
:
matrik deformasi suatu matrik yang menyatakan
hubungan kompatibiliti atau hubungan deformasi dan
lendutan :

dimana :
= menyatakan deformasi dari elemen struktur
| | A
{ } | |{ } D A d =
{ } d
| | A
= adalah matrik deformasi
| | D = menyatakan lendutan ditik diskrit
MATRIK KEKOKOHAN INTERNEN , SUATU MATRIX YANG MEMENUHI HOKUM
HOOKE DALAM MANA DINYATAKAN HUBUNGAN ANTARA GAYA DAN DEFORMASI :

dimana :

| | S
{ } | |{ } d S H =
{ } H
= menyatakan gaya dalam elemen
| | S
= adalah matrix kekokohan intern
elemen
{ } d = menyatan deformasi elemen
MATRIX STATIS , SUATU MATRIX YANG MENYATAKAN
KESETIMBANGAN ANTARA GAYA LUAR DAN GAYA DALAM :

| | B
{ } Q
=
| |{ } H B
dimana :
{ } Q
= menytakan gaya luar yang bekerja dititik diskrit
| | B = matrix statis
{ } H
= gaya dalam elemen
Maka ketiga matrix di atas digabungkan, maka akan didapatkan hubungan :
{ } | |{ }
{ } | || |{ }
{ } | || || |{ }
{ } | |{ } D K Q
D A S B Q
d S B Q
H B Q
=
=
=
=
DIMANA ADALAH MATRIX KEKAKUAN STRUKTUR, DENGAN
PENGERTIAN :

Jadi salah satu tujuan terminal yang penting adalah proses analisa
ini ialah dapat menurunkan matrik kekakuan struktur

| | K
| | | || || | A S B K =
| | K
Selanjutnya akan mudah dicapai tujuan akhir, yaitu analisa
lendutan dan gaya dalam elemen.

DERAJAT KETIDAK-TENTUAN KINEMATIS
Untuk analisa ini akan dimulai dengan mengambil
lendutan di titik-titik diskrit sebagai sasaran yang
harus dihitung.

Untuk mengetahui dimana harus dipasang
besaran lendutan yang akan dicari tersebut, maka
harus diketahui dahulu beberapa derajat ketidak
tentuan kinematis atau istilah lainnya derajat
kebebasan (degree of freedom) dari struktur.
Derajat ketidak-tentuan kinematis ialah suatu
besaran yang menyatakan jumlah komponen
bebas dari lendutan dititik diskrit yang
mungkin terjadiyang berhubungan dengan
diberikannya suatu pembebanan pada
struktur. Di bawah ini diberikan beberapa
macam struktur bidang yang akan ditujukkan
berapa derajat ketidak-tentuan kinematisnya.
struktur
Komponen bebas dari lendutan
di titik pertemuan
Derajat ketidak-tentuan
kinematis
D1
D2
D2
D1
2
2
0
(a)
(b)
(c)
struktur
Komponen bebas dari lendutan
di titik pertemuan
Derajat ketidak-
tentuan kinematis
6
D1
D2
D3
D6
D4
D5
D1
D2
D3
3 Dengan
mengabaikan
deformasi aksial dari
eleme
D1
D3
D6
D5
D7
D4
7
D1
D2
D3
D4 D6
D5
D7
D8
D9
D10
D11
D12
12
(d)
(e)
(f)
(g)
Gambar 1.1 derajat ketidak-tentuan kinematis dari
struktur ditunjukkan oleh banyaknya vector
lendutan yang mungkin terjadi di titik bebas,
dimana arah vector pada gambar menunjukkan
arah vector yang positif.
DASAR PERHITUNGAN
Dalam bab ini, akan dijelaskan secara mendetail
urut-urutan analisa dari suatu konstruksi bidang (dua
dimensi) dengan berdasarkan pada metode
kekakuan.
Sekarang terlihat satu konstruksi seperti seperti
ditunjukkan pada gambar 2.(a) selanjutnya akan
diikuti urutan dari proses analisa.
(a)gambar konstruksi statis tak tentu
D1
D2
D3
(b) derajat ketidak-tentuan kinematis : 3
D
1
D
2
D
3
Q
1
Q
2
Q
3
(c) diagram gaya luar ekivalen
Q
yang koresponding dengan lendutan D sebagai pengganti
darisistem pembebanan pada gambar (a)
EI
1
EI
2
EI
3
L
1 L
2
L
3
(d) Struktur dasar yang merupakan struktur yang dikekang
D
1
d
3
d
2
(e) diberikan
1
D
= 1 satuan
D2
d
4
d
5
(f) diberikan
2
D
=1 satuan
d
6
D3
(g) diberikan
3
D
=1 satuan
d
1
d
2
d
3
d
4
d
5
d
6
H
1
H
2
H
3
H
4
H
5
H
6
(h) diagram H-d, dimana
{ } H
merupakan reaksi elemen yang dikekang
terhadap diberikannya deformasi.
Q
1
Q
2
Q
3
H
2 H
3
H
4
H
5
H
6
(i) diagram kesetimbangan
Gambar 1. 2 Analisa balok di atas beberapa perletakan.
Konstruksi Ini Ialah Balok Menerus Di Atas Empat Perletakan, Satu Jepit Dan
Tiga Sendi, Merupakan Suatu Konstruksi Dengan Derajat Ketidak-tentuan
Kinematis Sebesar 3 (Gambar 2.B)

Langkah pertama ialah menyelidiki kompatibilitas dari
struktur, dengan jalan memberikan berturut-turut lendutan
dan (gambar 2.e, 2.f, dan 2.g).
Mudah dapat kita lihat, bahwa :
1 , 1
2 1
= = D D 1
3
= D
0
1
3 6
2 5 4
1 3 2
=
=
= =
= =
d
D d
D d d
D d d
atau disusun secara sistematis :
3 6
2 5
2 4
1 3
1 2
1
D d
D d
D d
D d
D d
d
=
=
=
=
=
=
bila dinyatakan dalam hubungan matrix :

(
(
(
(
(
(
(
(

3
2
1
6
5
4
3
2
1
1 0 0
0 1 0
0 1 0
0 0 1
0 0 1
0 0 0
D
D
D
d
d
d
d
d
d
atau
{ } | |{ } D A d =
{ }
1 1 1
1 0 0
0 1 0
0 1 0
0 0 1
0 0 1
0 0 0
3 2 1
6
5
4
3
2
1
= = =

(
(
(
(
(
(
(
(
(

| | |
=
D D D
d
d
d
d
d
d
A
Langkah kedua ialah menyelidiki hubungan gaya dalam dan deformasi
dengan melihat tiap-tiap elemen sebagai bagian yang diskrit, seperti pada
gambar 2.h.
Dari sifat elastis elemen, didapatkan hubungan :
d
1
d
2
d
3
d
4
d
5
d
6
H
1
H
2
H
3
H
4
H
5
H
6
1
1 2
1
1 1
2
1
1 2
1
1 1
1
3
1
6
1
6
1
3
1
EI
L H
EI
L H
d
EI
L H
EI
L H
d
+ =
=
dimana :
1
d
= menyatakan deformasi yang terjadi di ujung elemen

H
= menyatakan gaya dalam yang ada di ujung elemen,
dalam hal ini momen lentur
diinverskan, akan didapat :
2
1
1
1
1
1
1
2 4
d
L
EI
d
L
EI
H + =
2
1
1
1
1
1
2
4 2
d
L
EI
d
L
EI
H + =
4
2
2
3
2
1
3
2 4
d
L
EI
d
L
EI
H + =
4
2
2
3
2
2
4
4 2
d
L
EI
d
L
EI
H + =
6
3
3
5
3
3
5
2 4
d
L
EI
d
L
EI
H + =
6
3
3
5
3
3
6
4 2
d
L
EI
d
L
EI
H + =
Bila hubungan ini dinyatakan dalam bentuk matrix, maka :

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

6
5
4
3
2
1
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
6
5
4
3
2
1
4 2
0 0 0 0
2 4
0 0 0 0
0 0
4 2
0 0
0 0
2 4
0 0
0 0 0 0
4 2
0 0 0 0
2 4
d
d
d
d
d
d
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
H
H
H
H
H
H
atau :
{ } | |{ } d S H =
dimana matrix
| | S
merupakan matrix :
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
4 2
0 0 0 0
2 4
0 0 0 0
0 0
4 2
0 0
0 0
2 4
0 0
0 0 0 0
4 2
0 0 0 0
2 4
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
| | = S
6 5 4 3 2 1
d d d d d d
| | | | | |
Jadi Sebenarnya Matrix Ialah Suatu Matrix Yang Menyatakan
Berapa Besar Gaya Dalam Yang Timbul Diujung Elemen Bila Di
Titik-titik Tersebut Diberikan Satu Satuan Deformasi .
Langkah ketiga adalah menyelidiki tentang kesetimbangan gaya
luar dan gaya dalam :
Melihat gambar
| | S
| | H
{ } d
6 3
5 4 2
5 2 1
H Q
H H Q
H H Q
=
+ =
+ =

(
(
(

6
5
4
3
2
1
3
2
1
1 0 0 0 0 0
0 1 1 0 0 0
0 0 0 1 1 0
H
H
H
H
H
H
Q
Q
Q
atau :
{ } | |{ } H B Q =
dimana :
6 5 4 3 2
1
3
2
1
1 0 0 0 0 0
0 1 1 0 0 0
0 0 0 1 1 0
H H H H H
H
Q
Q
Q
| | | | |
|

(
(
(

| | = B
Bila dinyatakan secara matrik :
Satu hubungan terminal, adalah mendapatkan hubungan :
{ } | |{ } D K Q =
Dimana :
| | | || |{ } A S B K =
untuk mendapatkan lendutan, maka dapat diinverskan
sebagai :
{ } | | { } Q K D
1
=
dimana :
{ } Q
= menyatakan gaya-gaya luar yang bekerja di titik-titik diskrit.

{ }= D menyatakan lendutan di titik bersangkutan yang
berkoresponding dengan gaya
.
{ } Q
ternyata didapatkan :
| | | |
T
A B =
prinsip kerja virtual.
Q*
a.gaya luar virtual
D
b. lendutan aktuil
Gamabar 1.3 konstruksi balok menerus pada mana dikerjakan gaya virtual.
Misalnya pada konstruksi yang sedang dibahas tersebut
dikerjakan gaya virtual
-
Q
gambar (1.3a ) sehingga timbul gaya dalam
-
H
pada elemennya, maka dari prinsip kerja virtuil akan
didapatkan hubungan (yang dinyatakan dalam
perkalian matrix).

{ } { } { } { } d H D Q
T
T
=
-

dengan melihat :
{ } | |{ }
{ } | |{ }
{ } { } | |
T T
T
B H Q
H B Q
D A d
=
=
=
-
- -
maka persamaan ( ) bisa ditulis ;
{ } | | { } { } | |{ } D A H D B H
T
T
T
- -
=
Bila disederhanakan, akan memberikan :
| | | |
| | | |
T
T
A B
A B
=
=
Dengan demikian persamaan, bisa ditulis :
| | | | | || | A S A K
T
=
Dengan demikian persamaan telah dipermudahkan,
yaitu untuk menurunkan matrix kekakuan
| | K
cukup hanya menurunkan dua matrik penbentuknya,
yaitu matrix deformasi | | A
dan matrix kekokohan intern elemen
| | S
.
Untuk menghitung gaya dalam digunakan hubungan :
| | | |{ } d S H =
{ } | || |{ } D A S H =
atau
= matrik lendutan dititik diskrit.
{ } D
dimana :
APLIKASI
KONSTRUKSI BALOK MENERUS
selanjutnya akan diberikan beberapa contoh
pemakaian metode kekakuan ini pada
analisa struktur.
Contoh 3.1
Di bawah ini akan dibahas secara singkat analisa dengan
metode kekakuan dengan derajat ketidak-tentuan
kinematik tingkat 1.
6 m 4 m
EI EI
600 kg/m
A
B
C
a. konstruksi yang akan dianalisa
b. konstruksi dasar yang dikekang
-5000
+5000 -3200 +3200
c. momen primer (fixed-end moment)
m kg M M
m kg M M
CB BC
BA AB
. 3200 4 . 600 .
12
1
. 5000 6 . 600 .
12
1
2
2
= = =
= = =
Momen primer :
D
1
d. derajat ketidak-pastian kinematis : 1
Q1=1800kg.m
e. gaya luar ekivalen dititik diskrit yang koresponding
dengan lendutan
.
) . ( 3200 5000
1
m kg Q =
D
1
d
3
d
2
f. diberikan 1
1
= D satuan
H
2
d
2
d
1
H
3
d
3
d
4
H
4
g. diagram H - d
H
3
H
2
h. diagram kesetimbangan

Gambar 1.4 balok diatas tiga tumpuan
Melihat gambar 1.4 (f), dengan mudah akan didapatkan :
| |
1
1
4
3
2
1
0
1
1
0
=

=
|
D
d
d
d
d
A
dari gambar 1.4 (g) :
| |
4 3 2 1
4
3
2
1
8
4
8
2
0 0
8
2
8
4
0 0
0 0
10
4
10
2
0 0
10
2
10
4
d d d d
H
H
H
H
EI EI
EI EI
EI EI
EI EI
S
| | | |

(
(
(
(
(
(
(
(

=
| |
(
(
(
(

=
5 . 0 25 . 0 0 0
25 . 0 5 . 0 0 0
0 0 4 . 0 2 . 0
0 0 2 . 0 4 . 0
S
dari persamaan:
| | | | | || | A S A K
T
=
=
{ } 0 1 1 0
(
(
(
(

5 . 0 25 . 0 0 0
25 . 0 5 . 0 0 0
0 0 4 . 0 2 . 0
0 0 2 . 0 4 . 0
EI

0
1
1
0
=
{ } 25 . 0 5 . 0 4 . 0 2 . 0
EI

0
1
1
0
| | | |
| |
(

=
=

EI
K
EI K
9 . 0
1
9 . 0
1
Dengan mengubah gaya Q menjadi gaya titik ekivalen di
ujung elemen (gambar 1.4.c dan e) dan dengan melihat
persamaan (1.25) :
{ } | | { }
| | { }
EI
D
EI
D
Q K D
2000
1800
9 . 0
1
1
1
1
=
(

=
=

dari persamaan (1.36) :
{ } | || |{ } D A S H =
{ }
(
(
(
(

=
5 . 0 25 . 0 0 0
25 . 0 5 . 0 0 0
0 0 4 . 0 2 . 0
0 0 2 . 0 4 . 0
H
2000 .
25 . 0
5 . 0
4 . 0
2 . 0

500
1000
800
400
4
3
2
1
H
H
H
H
m kg H
m kg H
m kg H
m kg H
. 500
. 1000
. 800
. 400
4
3
2
1
=
=
=
=
400
800 1000
500
A
B
C
Gambar 1.5 Distribusi gaya dalam
hasil yang ditunjukkan oleh gambar 1.5 ialah menyatakan besarnya
momen lentur (dalam hal ini sebagai momen batang, bukan sebagai
momen titik) yang didistribusikan ke batang elemen AB dan BC sesuai
dengan kekakuan masing-masing . jadi gaya dalam yang didapat
dari hasil perhitungan ini bukan merupakan memen lentur yang
sebenarnya bekerja.


{ } H
{ } H
Momen lentur yang sebenarnya bekerja bisa diperoleh dengan
mengurangi gaya dalam dengan momen primer elemen struktur.

{ } H
m kg M
m kg M
m kg M
m kg M
C
BC
BA
A
. 2700 ) 3200 ( 500
. 4200 ) 3200 ( 1000
. 4200 ) 5000 ( 800
. 5400 ) 5000 ( 400
= + + =
+ = + =
= + + =
+ = + =
Penting untuk dicatat pula di sini, bahwa hasil momen akhir
ini juga menyatakan momen batang bukan momen titik.
Contoh 1.2
Sebagai contoh kedua akan dibahas suatau konstruksi
kinematis tertentu seperti pada gambar 1.6 (a).
A
B
C
4m 6m
EI EI
Q=1000 kg
a. konstruksi yang akan dianalisa dengan beban
Q
b. struktur dasar yang dikekang
C
D
1
D
2
c. derajat ketidak-tentuan kinematis : 2
(d) diberikan
1
D= 1 satuan
d
4
d
3
d
2
d
1
D
1
D
2
d
3
d
2
e. diberikan
2
D = 1 satuan
H
3
d
1
d
2
H
2
H
3
d
3
d
4
H
4
f. diagram H-d
H
3
+H
4
H1+H2
6
4
Q
2
Q
1
H
2
H
3
g. diagram kesetimbangan
Gambar 1.6 balok di atas 2 tumpuan
Langkah pertama yang dilakukan ialah menganggap
konstruksi ini terdiri atas dua elemen diskrit. AC dan
CB ( gambar 3.6 b). titik C segai titik diskrit
mempunyai dua derajat kebebasan, yaitu translasi
dan rotasi.
Melihat gambar 3.6, akan didapat hubungan-
hubungan sebagai berikut :

| |
1
2
1
4
3
2
1
0
4
1
1
4
1
1
6
1
0
6
1
=
=
|
|

(
(
(
(
(
(
(
(

=
D
D
d
d
d
d
A
d
4
d
3
d
2
d
1
D
1

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

6
5
4
3
2
1
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
6
5
4
3
2
1
4 2
0 0 0 0
2 4
0 0 0 0
0 0
4 2
0 0
0 0
2 4
0 0
0 0 0 0
4 2
0 0 0 0
2 4
d
d
d
d
d
d
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
H
H
H
H
H
H
| |
(
(
(
(
(
(
(
(

=
4
4
4
2
0 0
4
2
4
4
0 0
0 0
6
4
6
2
0 0
6
2
6
4
EI S
4 3 2 1
4
3
2
1
1
2
1
0 0
2
1
1 0 0
0 0
3
2
3
1
0 0
3
1
3
2
(
(
(
(
(
(
(
(

= EI
selanjutnya dihitung matrix kekakuan
| | K
:
| | | | | || | A S A K
T
=
(
(
(
(
(
(
(
(

(
(


=
1
2
1
0 0
2
1
1 0 0
0 0
3
2
3
1
0 0
3
1
3
2
0 1 1 0
4
1
4
1
6
1
6
1
EI
(
(
(
(
(
(
(
(

0
4
1
1
4
1
1
6
1
0
6
1
EI
(
(
(
(
(
(
(
(

(
(
(


=
0
4
1
1
4
1
1
6
1
0
6
1
2
1
1
3
2
3
1
8
3
8
3
6
1
6
1
| | EI K
(

=
6667 . 1 2083 . 0
2083 . 0 2430 . 0
| |
(

2430 . 0 2083 . 0
2083 . 0 6667 . 1
3617 . 0
1
1
EI
K
(
(
(

=
)
`

EI
EI
D
D
89 . 575
85 . 4607
2
1
selanjutnya akan bisa dihitung gaya dalam :
{ } | || |{ } D A S H =
= EI
(
(
(
(
(
(
(
(

1
2
1
0 0
2
1
1 0 0
0 0
3
2
3
1
0 0
3
1
3
2
(
(
(
(
(
(
(
(

0
4
1
1
4
1
1
6
1
0
6
1

EI
EI
89 . 575
85 . 4607

= EI
(
(
(
(
(
(
(
(

2
1
8
3
1
8
3
3
2
6
1
3
1
6
1

EI
EI
89 . 575
85 . 4607

1440
1152
1152
960
4
3
2
1
H
H
H
H
4m
6m
1440
1152
1152
960
Gambar 1.7 Distribusi gaya dalam
Maka didapatkan hasil analisa ;

m kg M M
m kg M
m kg M
CB CA
B
A
. 1152
. 1440
. 960
= =
=
=
Bila dibandingkan hasil ini dengan rumus yang sudah diketahui :

m kg M
m kg M
B
A
. 1440
10
4 . 6 . 1000
. 960
10
4 . 6 . 1000
2
2
2
2
= =
= =
Ternyata hasilnya sama
Contoh 1.3
Pada contoh soal selanjutnya ini, akan diperlihatkan
bagaimana proses analisa bila konstruksi pada contoh
1.2 dikombinasikan dengan suatu perletakan elastis di
titik C.
A
B
C
4m 6m
EI
Q=1000 kg
k=0.5EI
(a) konstruksi yang akan dianalisa, dengan satu perletakan elastis
dimana k = 0.5 EI
L L
D
1
D
2
(b) derajat ketidak-tentuan kinematsi : 2
d
4
d
3
d
2
d
1
D
1
(c) deberikan
1
D = 1 satuan
Q=-1000
kD
1
D
1
(d) gaya ekivalen dititik diskrit yang koresponding dengan lendutan
1
D Q=-1000-kD
1
kD
1
(e) penyederhanaan dari gambar (d)
Gambar 1.8 konstruksi balok menerus di atas perletakan elastis.
Persoalan pada contoh ini sebenarnya sama dengan contoh 1.2, karena
memunyai elemen batang yang sama dengan derajat kebebasan yang sama
pula . maka proses analisa tidak akan mendetail dibahas lagi disini, dan
langsung akan matrik kekakuan :
| | EI K
(

=
6667 . 1 2083 . 0
2083 . 0 2430 . 0
| |
(

2430 . 0 2083 . 0
2083 . 0 6667 . 1
3617 . 0
1
1
EI
K
Proses selanjutnya akan terlihat adanya perbedaan dengan analisa contoh
soal yang lalu, yaitu dalam menetapklan vector gaya yang bekerja, yang
disamping ditentukan oleh gaya luar yang dikethui
, 1000kg Q =
juga dipengaruhi oleh gaya pegas
1
kD
{ } | | { } Q K D
1
=

=
)
`

2
1
D
D
(


2430 . 0 2083 . 0
2083 . 0 6667 . 1
3617 . 0
1
EI )
`


0
) 1000 (
1
kD

=
1
D
EI 3617 . 0
1
) 1000 ( 6667 . 1 .
1
kD

1 1
1 1
304 . 2
4608
) 5 . 0 1000 (
3617 . 0
6667 . 1
D
EI
D
EID
EI
D
=
=

EI
D
EI
D
7 . 1394
4608
304 . 3
1
1
=
=
))
7 . 1394
5 . 0 1000 ( 2083 . 0 (
3617 . 0
1
2
EI
EI
EI
D + =
EI
D
3 . 174
2
=
berdasarkan hasil lendutan
1
D
dan
2
D
yang didapat, bisa dihitung gaya dalam yang timbul
pada elemen struktur.

{ } EI H =
(
(
(
(
(
(
(
(

2
1
8
3
1
8
3
3
2
6
1
3
1
6
1

EI
EI
3 . 174
7 . 1394

9 . 435
7 . 384
7 . 348
5 . 290
4
3
2
1
H
H
H
H
Dengan demikian didapatkan hasil analisa :
m kg M
m kg M
m kg M
m kg M
B
CB
CA
A
. 9 . 435
. 7 . 348
. 7 . 348
. 5 . 290
=
=
=
=
KONSTRUKSI PORTAL BIDANG TANPA
PENGGOYANGAN DIMANA DIFORMASI
AKSIAL DIABAIKAN
Dalam hal ini akan dibahas analisa dari konstruksi portal
bidang. Diketahui dua macam konstruksi portal bidang ,
yaitu portal tanpa penggoyangan dan portal dengan
penggoyangan, seperti ditunjukkan oleh gambar 1.2.
Dalam pasal ini akan dicoba dibahas analisa portal bidang
tanpa pergoyangan, dimana deformasi aksial dari elemen-
elemennya diabaikan.
(a)Portal tanpa penggoyangan.
b. portal menerus tanpa
pergoyangan

(c) portal dengan penggoyangan
Gambar 1.2 konstruksi portal dengan titik hubung kaku
Contoh 1.1
Dalam pasal ini akan dibahas analisa portal bidang
tanpa pergoyangan, dimana deformasi aksial dari
elemen-elemennmya diabaikan.
600kg
600kg
Q=300kg/m
EI EI
5 m
A
B
C
C
2 m
3 m
(a) portal bidang yang akan dianalisa, dengan bentuk konstruksi dan system
pembebanan yang simetris
A
B
C
D
( b) struiktur dasar yang dikekang
Momen primer :
m kg M
AB
. 288
5
2 . 3 . 600
2
2
= =
m kg. 432
5
2 . 3 . 600
2
2
+ =
=
BA
M
m kg M M
CB BC
. 625 5 . 300 .
12
1
2
= = =

m kg M M
BA CD
. 432 = =

m kg M M
AB CD
. 288 + = =
A
B
C
D
432
625
625
432
288 288
cMomen primer
D
2
D
1
d. derajat ketidak-pastian kinematis : 2
Q
1
=-193
Q
2
=-193
e. gaya ekivalen dititik yang koresponding dengan lendutan D
m kg Q
m kg Q
. 193 432 625
. 193 625 432
2
1
= =
= =
C
D
1
d
3
d
2
f. diberikan D =1 satuan
D
2
d
5
d
4
g. diberikan
2
D
= 1 satuan

H
1
d
1
H
2
H
3
d
2
d
3
d
4
H
4
H
5
d
5
d
6
H
6
h. Diagram H-d
H
3
H
2
Q
1
Q
2
H
5
H
4
(i ) diagram kesetimbangan

Gambar 1.3 Portal simetris
Dengan memperhatikan gambar 1.3 akan didapatkan :
| |
1 1
0 0
1 0
1 0
0 1
0 1
0 0
2 1
6
5
4
3
2
1
=
|
=
|

(
(
(
(
(
(
(
(

=
D D
d
d
d
d
d
d
A
| |
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
5
4
5
2
0 0 0 0
5
2
5
4
0 0 0 0
0 0
5
) 2 ( 4
5
) 2 ( 2
0 0
0 0
5
) 2 ( 2
5
) 2 ( 4
0 0
0 0 0 0
5
4
5
2
0 0 0 0
5
2
5
4
EI S
=
5
2EI
6
5
4
3
2
1
2 1 0 0 0 0
1 2 0 0 0 0
0 0 4 2 0 0
0 0 2 4 0 0
0 0 0 0 2 1
0 0 0 0 1 2
(
(
(
(
(
(
(
(


6 5 4 3 2 1
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
4 2
0 0 0 0
2 4
0 0 0 0
0 0
4 2
0 0
0 0
2 4
0 0
0 0 0 0
4 2
0 0 0 0
2 4
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
L
EI
| | = S
Dengan demikian :

| | | | | || | A S A K
T
=

(

=
0 1 1 0 0 0
0 0 0 1 1 0
5
2EI
(
(
(
(
(
(
(
(

2 1 0 0 0 0
1 2 0 0 0 0
0 0 4 2 0 0
0 0 2 4 0 0
0 0 0 0 2 1
0 0 0 0 1 2
(
(
(
(
(
(
(
(

0 0
1 0
1 0
0 1
0 1
0 0
5
2EI
=
(

1 2 4 2 0 0
0 0 2 4 2 1
(
(
(
(
(
(
(
(

0 0
1 0
1 0
0 1
0 1
0 0
| | = K
=
5
2EI

(

6 2
2 6
Dengan mengubah gaya-gaya luar menjadi gaya ekivalen
terpusat di ujung elemen atau di titik-titik diskrit ( 1. 3.c dan e ),
dan dengan melihat persamaan :
{ } | | { } Q K D
1
=
4 36
1
.
2
5
2
1

=
)
`

EI D
D
)
`


193
193
6 2
2 6
=
)
`

=
1544
1544
64
5
EI
=
)
`

2
1
D
D
=

EI
EI
8
965
8
965
Jadi putaran sudut dititik B dan C ialah sebesar :

EI
D D
8
965
2 1
= =
Dari persamaan ( 1.36)

{ } | || |{ } D A S H =
=
EI 2
5
=
(
(
(
(
(
(
(
(

2 1 0 0 0 0
1 2 0 0 0 0
0 0 4 2 0 0
0 0 2 4 0 0
0 0 0 0 2 1
0 0 0 0 1 2
(
(
(
(
(
(
(
(

0 0
1 0
1 0
0 1
0 1
0 0

EI
EI
8
965
8
965

(
(
(
(
(
(
(
(

=
4
193
4
193
1 0
2 0
4 2
2 4
0 2
0 1
=

6
5
4
3
2
1
H
H
H
H
H
H
=

25 . 48
5 . 96
5 . 96
5 . 96
5 . 96
25 . 48
Melihat momen primernya pada gambar (1.3.c), maka akan didapat :

m kg M
m kg M
m kg M
m kg M
m kg M
m kg M
D
CD
CB
BC
BA
AB
. 75 . 239 ) 288 ( 25 . 48
. 50 . 528 ) 432 ( 50 . 96
. 50 . 528 ) 625 ( 50 . 96
. 50 . 528 ) 625 ( 50 . 96
. 50 . 528 ) 432 ( 50 . 96
. 75 . 239 ) 288 ( 25 . 48
= + + =
+ = + =
= + + =
+ = =
= + =
+ = =

Contoh 1.2 :
Sekarang Akan Dibahas Analisa Portal dengan adanya penahanan kesamping
400kg
q= 600kg/m
A
B
C
D
F G 2EI 2EI 2EI
EI EI
2.00
2.00
1.00
5.00 5.00 2.00
1000kg
a. Portal yang dianalisa

A
B
E
F
b. Struktur dasar yang dikekang
Momen primer :
m kg M
ED
. 800 2 . 400 = =

m kg M M
FE EF
. 1250 5 . 800 .
12
1
2
= = =

m kg M M
CF FC
. 1250 5 . 600 .
12
1
2
= = =

m kg M M
BF FB
. 500 4 . 1000 .
8
1
= = =
800 1250
1250
1250
500
1250
500
b. Momen primer
D
1 D
2
c. Derajat ketidak-tentuan kinematsi : 2 (deformasi aksial diabaikan)
Q
2=
-500
Q
1
=-450
d. Gaya ekivalen Q dititik diskrit yang koresponding dengan lendutan D
D
1
d
3
d
2
e. Diberikan
1
D
= 1 satuan
d
7
D
2
d
5
d
4
g. Diberikan 2
D
= 1 satuan
H
3
H
2
H
1
H
6
H
4
H
7
H
5
d
1
d
2
d
3
d
4
d
5
d
6
d
7
d
8
h. Diagram H-d

Gambar 1.4 Portal menerus tanpa penggoyangan
Dimulai dengan menghitung matrik
| | A
dan
| | S
| |
1 1
0 0
1 0
0 0
1 0
1 0
0 1
0 1
0 0
2 1
8
7
6
5
4
3
2
1
=
|
=
|

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
D D
d
d
d
d
d
d
d
d
A
| |
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
5
) 2 ( 4
5
) 2 ( 2
0 0 0 0 0 0
5
) 2 ( 2
5
) 2 ( 4
0 0 0 0 0 0
0 0
4
4
4
2
0 0 0 0
0 0
4
2
4
4
0 0 0 0
0 0 0 0
5
) 2 ( 4
5
) 2 ( 2
0 0
0 0 0 0
5
) 2 ( 2
5
) 2 ( 4
0 0
0 0 0 0 0 0
5
4
5
2
0 0 0 0 0 0
5
2
5
4
EI S
8
7
6
5
4
3
2
1
18 8 0 0 0 0 0 0
8 16 0 0 0 0 0 0
0 0 5 10 0 0 0 0
0 0 5 10 0 0 0 0
0 0 0 0 8 16 0 0
0 0 0 0 8 16 0 0
0 0 0 0 0 0 8 4
0 0 0 0 0 0 4 8
10
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

EI
| | = S
Matrik kekakuan struktur dapat dihitung berdasarkan persamaan :
| | | | | || | A S A K
T
=
(

=
0 1 0 1 1 0 0 0
0 0 0 0 0 1 1 0
10
EI
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

18 8 0 0 0 0 0 0
8 16 0 0 0 0 0 0
0 0 5 10 0 0 0 0
0 0 5 10 0 0 0 0
0 0 0 0 8 16 0 0
0 0 0 0 8 16 0 0
0 0 0 0 0 0 8 4
0 0 0 0 0 0 4 8
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

0 0
1 0
0 0
1 0
1 0
0 1
0 1
0 0
=
(

=
8 16 5 10 16 8 0 0
0 0 0 0 8 16 8 4
10
EI
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

0 0
1 0
0 0
1 0
1 0
0 1
0 1
0 0
| | = K
10
EI
(

42 8
8 24
| | =
1
K
10
EI
944
1
x
(


24 8
8 42
(


=
12 4
4 21
236
5
EI
=
)
`

2
1
D
D
(


12 4
4 21
236
5
EI
)
`

500
450
=
)
`

2
1
D
D
EI 236
5
)
`

4200
7450
EI
D
EI
D
236
21000
236
37250
2
1
=
=
{ } | || |{ } D A S H =
10
EI
=
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

18 8 0 0 0 0 0 0
8 16 0 0 0 0 0 0
0 0 5 10 0 0 0 0
0 0 5 10 0 0 0 0
0 0 0 0 8 16 0 0
0 0 0 0 8 16 0 0
0 0 0 0 0 0 8 4
0 0 0 0 0 0 4 8
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

0 0
1 0
0 0
1 0
1 0
0 1
0 1
0 0

EI
EI
236
21000
236
37250

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
8 0
16 0
5 0
10 0
16 8
8 16
0 8
0 4

236
21000
236
37250

{ }

=
19 . 71
38 . 142
49 . 44
98 . 88
64 . 268
73 . 323
27 . 126
14 . 63
H
Dengan memperhatikan momen primer dari elemen-elemen struktur maka
akan didapat :

m kg M
A
. 14 . 63 0 14 . 63 = =

m kg M
EA
. 27 . 126 0 27 . 126 = =

m kg M
ED
. 800 ) 800 ( 0 = + =

m kg M
EF
. . 27 . 926 ) 1250 ( 73 . 323 = =

m kg M
FE
. 64 . 1518 ) 1250 ( 64 . 268 = + =

m kg M
FB
. 02 . 411 ) 500 ( 98 . 88 = =

m kg M
FC
. 62 . 1107 ) 1250 ( 38 . 142 = =
m kg M
B
. 49 . 544 ) 500 ( 49 . 44 = + =

m kg M
C
. 19 . 1321 ) 1250 ( 19 . 71 = + =

Sekarang ditinjau apakah kesetimbangan dititik-titik pertemuhan terpenuhi :

EF ED EA E
M M M M + + =
= -126.27-800+926.27
= 0 (terpenuhi)

FC FB FE E
M M M M + + =
= -1518.64 + 411.02 + 1107.62
= 0 (terpenuhi)
Setelah matrik kekakuan struktur di atas disusun sesuai
dengan kebutuhan yaitu untuk mendapatkan matrik yang
berukuran 3 x 3, maka dilakukan kondensasi statik.
| | K
| |
(
(
(

=
oo ot
to tt
K K
K K
K
!
!
Matrik setelah dikakukan kondensasi adalah :

| | K
| | | | | || | | |
ot oo to tt x
K K K K K
1
3 3

=

KONSTRUKSI PORTAL BIDANG DENGAN PERGOYANGAN
DIMANA DEFORMASI AKSIAL DIABAIKAN
Setelah pada pasal yang lalu dibahas analisa portal
tanpa penggoyangan, sekarang akan dicoba
menganalisa kostruksi portal dengan pergoyangan,
dimana deformasi aksial masih diabaikan.
Contoh 1 :
Di bawah ini diberikan satu contoh analisa portal
sederhana dengan penggoyangan kesamping.
| |
3 2 1
6
5
4
3
2
1
0 0
4
1
1 0
4
1
1 0 0
0 1 0
0 1
4
1
0 0
4
1
D D D
d
d
d
d
d
d
A
| | |

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
| |
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
4
4
4
2
0 0 0 0
4
2
4
4
0 0 0 0
0 0
4
) 2 ( 4
4
) 2 ( 2
0 0
0 0
4
) 2 ( 2
4
) 2 ( 4
0 0
0 0 0 0
4
4
4
2
0 0 0 0
4
2
4
4
EI S
=
2
EI
6 5 4 3 2 1
6
5
4
3
2
1
2 1 0 0 0 0
1 2 0 0 0 0
0 0 4 2 0 0
0 0 2 4 0 0
0 0 0 0 2 1
0 0 0 0 1 2
(
(
(
(
(
(
(
(

Selanjutnya bisa dihitung matrik kekakuan struktur


| | K

| | | | | || | A S A K
T
=
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(

=
0 0
4
1
1 0
4
1
1 0 0
0 1 0
0 1
4
1
0 0
4
1
2 1 0 0 0 0
1 2 0 0 0 0
0 0 4 2 0 0
0 0 2 4 0 0
0 0 0 0 2 1
0 0 0 0 1 2
0 1 1 0 0 0
0 0 0 1 1 0
4
1
4
1
0 0
4
1
4
1
2
EI
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(

=
0 0
4
1
1 0
4
1
1 0 0
0 1 0
0 1
4
1
0 0
4
1
1 2 4 2 0 0
0 0 2 4 2 1
4
3
4
3
0 0
4
3
4
3
2
EI
| | K =
2
EI
(
(
(
(
(
(

6 2
4
3
2 6
4
3
4
3
4
3
4
3

=
8
EI
=
(
(
(

24 8 3
8 24 3
3 3 3
| |
(
(
(

63 15 48
15 63 48
48 48 512
1248
1
.
8
1
EI
K
| |
(
(
(

63 15 48
15 63 48
48 48 512
156
1
1
EI
K
Setelah
| | K
dan
| |
1
K
maka besar lendutan dan gaya-gaya dalam akan dapat dengan
mudah ditentukan.
dihitung,
{ } D
| | { } Q K
1
=
=

3
2
1
D
D
D
(
(
(




63 15 48
15 63 48
48 48 512
156
1
EI

)

500
500
1000

=

3
2
1
D
D
D
EI 156
1

9000
87000
512000



EI D / 05 . 3282
1
=
EI D / 69 . 557
2
=
EI D / 69 . 57
3
=

{ }
2
EI
H =
(
(
(
(
(
(
(
(

2 1 0 0 0 0
1 2 0 0 0 0
0 0 4 2 0 0
0 0 2 4 0 0
0 0 0 0 2 1
0 0 0 0 1 2
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

0 0
4
1
1 0
4
1
1 0 0
0 1 0
0 1
4
1
0 0
4
1

EI
EI
EI
/ 69 . 57
/ 69 . 557
/ 05 . 3282
2
1
=
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

1 0
4
1
2 0
4
1
4 2 0
2 4 0
0 2
4
3
0 1
4
3

69 . 57
69 . 557
05 . 3282
{ }
6
5
4
3
2
1
92 . 1201
07 . 1173
07 . 673
07 . 1173
07 . 673
92 . 951

= H
Dengan memperhatikan momen primer dari elemen-
elemen struktur, maka akan didapat :

m kg M
A
. 92 . 951 0 92 . 951 = =

m kg M
CA
. 07 . 673 0 07 . 673 = =

m kg M
CD
. 07 . 673 ) 500 ( 07 . 1173 = =

m kg M
DC
. 07 . 1173 ) 500 ( 07 . 673 = + =

m kg M
DB
. 07 . 1173 0 07 . 1173 = =

m kg M
B
. 92 . 1201 0 92 . 1201 = =
Contoh 2
Dibawah ini akan dicoba menganalisa satu portal sederhana dengan
pergoyangan sate arah yaitu mendataryang dikombinasikan dengan pegas,
dengan kontanta pegas k. Beban-beban dan ukuran konstruksi diambil sama
dengan contoh : 1.
Persoalan kekakuan struktur pada contoh soal ini adalah sama dengan contoh 1,
jadi proses menghitung kekakuan
| | K
adalah sama dengan contoh tersebut.
| | = K
8
EI
(
(
(

24 8 3
8 24 3
3 3 3
| |
(
(
(

63 15 48
15 63 48
48 48 512
156
1
1
EI
K
{ } D
| | { } Q K
1
=
=

3
2
1
D
D
D
(
(
(




63 15 48
15 63 48
48 48 512
156
1
EI

)


500
500
. 1000
1
D k
{ } D
| | { } Q K
1
=

=

3
2
1
D
D
D

+
+

1
1
1
. 48 9000
48 37000
. 512 512000
156
1
D k
kD
D k
EI
) . 512 512000 (
156
1
1 1
D k
EI
D =

untuk
EI k
4
1
=
1 1
08205 / 05 . 3282 D EI D =
EI D / 05 . 3282 8205 . 1
1
=
EI D / 82 . 1802
1
=
kg kD 70 . 450
1
=

=
2
D ) / 82 . 1802 .
4
1
. 48 87000 (
156
1
EI EI
EI
+
EI D / 01 . 419
2
=

) / 82 . 1802 .
4
1
. 48 9000 (
156
1
3
EI EI
EI
D + =
EI D / 986 . 80
3
=
{ } | || |{ } D A S H =

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
EI
EI
EI
EI
/ 986 . 80
/ 01 . 419
/ 82 . 1802
1 0
4
3
2 0
4
3
4 2 0
2 4 0
0 2
4
3
0 1
4
3
2
{ }

=
55 . 716
04 . 757
04 . 257
04 . 757
04 . 257
55 . 466
H
Dengan memperhatikan momen primer dari elemen-elemen struktur , maka
akan didapatkan :





m kg M
A
. 55 . 466 =
m kg M
CA
. 04 . 257 =
m kg M
CD
. 04 . 257 ) 500 ( 04 . 757 = =
m kg M
DC
. 04 . 757 ) 500 ( 04 . 257 = + =
m kg M
DB
. 04 . 757 =
m kg M
B
. 55 . 716 =
CONTOH.3
GAMBAR 3.14 MENUNJUKKAN SATU PORTAL YANG DAPAT BERGOYANG PADA ARAH MENDATAR,
DIMANA SATU KAKINYA BD MIRING, DENGAN SUDUT KEMIRINGAN .
Dengan memperhatikan gambar 3,14 dan memperhatikan bahwa
deformasi aksial akibat diberikannya lendutan dan adalah sama
dengan contoh-contoh yang lalu, maka akan dapat menurunkan
matrik dan matrik .
o
2
D
3
D
| | A
| | S

| |
3 2 1
6
5
4
3
2
1
0 0
) 5 )( 3 (
5
1 0
) 5 )( 3 (
5
1 0
) 4 )( 3 (
4
0 1
) 4 )( 3 (
4
0 1
4
1
0 0
4
1
D D D
d
d
d
d
d
d
A
| | |

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
0 0
3
1
1 0
3
1
1 0
3
1
0 1
3
1
0 1
4
1
0 0
4
1
| |
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
5
4
5
2
0 0 0 0
5
2
5
4
0 0 0 0
0 0
4
) 2 ( 4
4
) 2 ( 2
0 0
0 0
4
) 2 ( 2
4
) 2 ( 4
0 0
0 0 0 0
4
4
4
2
0 0 0 0
4
2
4
4
EI S
10
EI
=
6 5 4 3 2 1
6
5
4
3
2
1
8 4 0 0 0 0
4 8 0 0 0 0
0 0 20 10 0 0
0 0 10 20 0 0
0 0 0 0 10 5
0 0 0 0 5 10
(
(
(
(
(
(
(
(

Selanjutnya :

| | | | | || | A S A K
T
=
(
(
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(


=
8 4 0 0 0 0
4 8 0 0 0 0
0 0 20 10 0 0
0 0 10 20 0 0
0 0 0 0 10 5
0 0 0 0 5 10
10
0 1 1 0 0 0
0 0 0 1 1 0
3
1
3
1
3
1
3
1
4
1
4
1
EI
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

0 0
3
1
1 0
3
1
1 0
3
1
0 1
3
1
0 1
4
1
0 0
4
1

=
(
(
(
(
(


=
4 8 20 10 0 0
0 0 10 20 10 5
4 4 10 10
4
15
4
15
10
EI
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

0 0
3
1
1 0
3
1
1 0
3
1
0 1
3
1
0 1
4
1
0 0
4
1

| | = K
(
(
(


28 10 6
10 30 25 . 6
6 25 . 6 208 . 11
10
EI
| |
(
(
(

18 . 297 58 . 74 5 . 117
58 . 74 82 . 277 115
5 . 117 115 740
17 . 6870
1
.
10
1
EI
K
(
(
(

=
433 . 0 109 . 0 171 . 0
109 . 0 404 . 0 167 . 0
171 . 0 167 . 0 007 . 1
1
EI
{ } | | { } Q K D
1
=
=

3
2
1
D
D
D
(
(
(


433 . 0 109 . 0 171 . 0
109 . 0 404 . 0 167 . 0
171 . 0 167 . 0 007 . 1
1
EI

)

500
100
34 . 333

=

3
2
1
D
D
D

EI
EI
EI
/ 152 . 284
/ 921 . 38
/ 823 . 427
{ } | || |{ } D A S H =
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(
(
(

=
0 0
3
1
1 0
3
1
1 0
3
1
0 1
3
1
0 1
4
1
0 0
4
1
8 4 0 0 0 0
4 8 0 0 0 0
0 0 20 10 0 0
0 0 10 20 0 0
0 0 0 0 10 5
0 0 0 0 5 10
10
EI

EI
EI
EI
/ 152 . 284
/ 921 . 38
/ 823 . 427
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
4 0 4
8 0 4
20 10 10
10 20 10
0 10
4
15
0 5
4
15
10
EI

EI
EI
EI
/ 152 . 284
/ 921 . 38
/ 823 . 427
{ }

=
790 . 284
451 . 398
560 . 101
514 . 122
513 . 121
973 . 140
H
Momen akhir :

primer
Momen
H
m kg
m kg
m kg
m kg
m kg
m kg
m kg
M
M
M
M
M
M
M
B
DB
DC
CD
CE
CA
A
|
|

=
=
=
=
=
=
=
+

=
=
=
=
=
=
=
. 790 . 284
. 440 . 389
. 440 . 389
. 487 . 278
. 400
. 513 . 121
. 973 . 140
) 500 (
) 500 (
) 400 (
790 . 284
451 . 398
560 . 101
514 . 221
513 . 121
973 . 140
KONSTRUKSI RANGKA BATANG DENGAN TITIK HUBUNG
ENGSEL
Pada pasal-pasal yang lalu, telah dibahas analisa struktur dengan
sambungan kaku dimana deformasi normal masih diabaikan.
Sekarang akan dapat dianalisa konstruksi rangka batang yang justru
dianggap hanya mengalami deformasi normal (aksial) saja.
Sebenarnya proses analisanya adalah sama dengan yang telah
dilakukan pada pasal-pasal yang lalu, hanya berbeda pada cara
memberikan vector lendutan, dimana hanya ada vector lendutan
translasi saja, dan matrik S yang meyatakan hubungan gaya dalam
dan deformasi, baik gaya dalam maupun deformasi yang timbul
hanyalah bersifat aksial saja. Contoh terlihat di bawah ini.
Gamnbar 3.15 Konstruksi Rangka Batang
Memperhatikan gambar 3.15, akan dengan mudah dapat ditentukan matrik
| | A
, yaitu matrik yang menyatakan hubungan deformasi dan lendutan.
Dari gambar 3.15 e, untuk 1
1
= D

0
0
1
0
0
5
4
3
2
1
=
=
=
=
=
d
d
d
d
d
Dari gambar 4.15.f, untuk
0
0
0
1
1
5
4
3
2
1
=
=
=
=
=
d
d
d
d
d
1
2
= D
Dari gambar 4.15.g, untuk
1
3
= D
5
3
. 1
5
3
. 1
1
0
5
4
3
2
1
= =
= =
=
=
=
o
o
Sin d
Sin d
d
d
d
Dari gambar 4.15.h, untuk
1
4
= D

5
4
. 1
5
4
. 1
0
0
0
5
4
3
2
1
= =
= =
=
=
=
o
o
Cos d
Cos d
d
d
d
Jadi matrik
| | A
:
| |
1 1 1 1
5
4
5
3
0 0
5
4
5
3
0 0
0 1 0 1
0 0 1 0
0 0 1 0
4 3 2 1
5
4
3
2
1
=
|
=
|
=
|
=
|

(
(
(
(
(
(
(
(

=
D D D D
d
d
d
d
d
A
Sesuai dengan apa yang telah disinggung di bagian depan pada pasal ini,
maka elemen-elemen pada konstruksi rangka batang ini hanya menderita
deformasi aksial saja, yanmg dengan demikian hanya menimbulkan gaya
dalam normal saja. Karena disini membahas konstruksi yang elastis,
maka hokum Hooke akan berlaku karenanya
d
L
AE
H
Gambar 3.16 Batang yang menderita gaya normal H dan mengalami
deformasi aksial d
AE
HL
d =
Dengan demikian :
d
L
AE
H =
dimana
L
AE
menyatakan kekakuan aksial dari batang pada gambar.
Dengan melihat persamaan ( ), maka jelas dapat diketahui bahwa matrik
| | S
, akan terdirin dari elemen-elemen kekakuan aksial, yaitu :
| |
1 1 1 1 1
0 0 0 0
0 0 0 0
0 0 0 0
0 0 0 0
0 0 0 0
5 4 3 2 1
5
4
3
2
1
5
5 5
4
4 4
3
3 3
2
2 2
1
1 1
=
|
=
|
=
|
=
|
=
|

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
d d d d d
H
H
H
H
H
L
E A
L
E A
L
E A
L
E A
L
E A
S
Dengan demikian sekaran sudah dapat dihitung matrik kekakuan
| | K
, yaitu:
| | | | | || | A S A K
T
=
( )
(
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(

=
5
4
5
3
0 0
5
4
5
3
0 0
0 0 0 1
0 0 1 0
0 0 1 0
5
2
0 0 0 0
0
5
2
0 0 0
0 0
3
2
0 0
0 0 0
2
1
0
0 0 0 0
2
1
5
4
5
4
0 0 0
5
3
5
3
1 0 0
0 0 0 1 1
0 0 1 0 0
AE
(
(
(
(
(
(
(
(

=
25
8
25
8
0 0 0
25
6
25
6
3
2
0 0
0 0 0
2
1
2
1
0 0
3
2
0 0
AE
| |
(
(
(
(
(
(
(

=
125
64
0 0 0
0
375
358
0
3
2
0 0 1 0
0
3
2
0
3
2
AE K
| |
(
(
(
(
(
(
(

64
125
0 0 0
0
36
125
0
36
125
0 0 1 0
0
36
125
0
36
179
1
1
AE
K
untuk menghitung lendutan dipakai persamaan :

{ } | | { } Q K D
1
=
| |

4
3
2
1
1
4
3
2
1
Q
Q
Q
Q
K
D
D
D
D

(
(
(
(
(
(
(

2000
0
0
1000
64
125
0 0 0
0
36
125
0
36
125
0 0 1 0
0
36
125
0
36
179
1
4
3
2
1
AE
D
D
D
D

25 . 3906
22 . 3472
0
22 . 4972
1
4
3
2
1
AE
D
D
D
D
Selanjutnya:
| | | || |{ } D A S H =
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

25 . 3906
22 . 3472
0
22 . 4972
25
8
25
6
0 0
25
8
25
6
0 0
0
3
2
0
3
2
0 0
2
1
0
0 0
2
1
0
5
4
3
2
1
H
H
H
H
H

67 . 416
33 . 2083
1000
0
0
5
4
3
2
1
H
H
H
H
H
Jadi gaya batang nomor :
kg H
kg H
kg H
H
H
67 . 416 : 4
33 . 2083 : 4
1000 : 3
0 : 2
0 : 1
5
4
3
2
1
=
=
=
=
=
MEMPERHATIKAN GAMBAR DI ATAS, AKAN DIDAPAT MATRIK MATRIK DEFORMASI
Gambar d, untuk

1
8 . 0
0
0
8 . 0
5
4
3
2
1
=
=
=
=
=
d
d
d
d
d
1
1
= D
1
2
= D
0
6 . 0
0
0
6 . 0
5
4
3
2
1
=
=
=
=
=
d
d
d
d
d
Gambar e, untuk
Gambar f, untuk 1
3
= D
1
0
385 . 0
385 . 0
0
5
4
3
2
1
=
=
=
=
=
d
d
d
d
d
Gambar g, untuk
1
4
= D
0
0
923 . 0
923 . 0
0
5
4
3
2
1
=
=
=
=
=
d
d
d
d
d
Gambar h, untuk
1
5
= D
0
6 . 0
023 . 0
0
0
5
4
3
2
1
=
=
=
=
=
d
d
d
d
d
Jadi atrik
| | A
:
| |
(
(
(
(
(
(

=
0 0 1 0 1
6 . 0 0 0 6 . 0 8 . 0
923 . 0 923 . 0 385 . 0 0 0
0 923 . 0 385 . 0 0 0
0 0 0 6 . 0 8 . 0
A
Matrik
| | S
terdiri dari elemen-elemen kekakuan aksial, yaitu :
| |
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
5
5 5
4
4 4
3
3 3
2
2 2
1
1 1
0 0 0 0
0 0 0 0
0 0 0 0
0 0 0 0
0 0 0 0
L
E A
L
E A
L
E A
L
E A
L
E A
S
| |
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(
(

=
550 . 6
55
0 0 0 0
0 0 0 0
0 0
650 . 4
65
0 0
0 0 0
650 . 4
65
0
0 0 0 0
1000 . 2
25
E
E
E
E
S
| |
(
(
(
(
(
(

=
33 . 33 0 0 0 0
0 25 0 0 0
0 0 50 0 0
0 0 0 50 0
0 0 0 0 25
2000
EI
S
Matrik kekakuan
| | K
:

| | | | | || | A S A K
T
=
(
(
(
(
(
(

=
0 6 . 0 923 . 0 0 0
0 0 923 . 0 923 . 0 0
1 0 385 . 0 385 . 0 6 . 0
0 6 . 0 0 0 6 . 0
1 8 . 0 0 0 8 . 0
2000
33 . 33 0 0 0 0
0 25 0 0 0
0 0 50 0 0
0 0 0 50 0
0 0 0 0 25
EI
(
(
(
(
(
(

(
(
(
(
(
(


0 0 1 0 1
6 . 0 0 0 6 . 0 8 . 0
923 . 0 923 . 0 385 . 0 0 0
0 923 . 0 385 . 0 0 0
0 0 0 6 . 0 8 . 0
| |
(
(
(
(
(
(

=
6 . 52 60 . 42 77 . 77 9 12
60 . 42 19 . 85 0 0 0
77 . 77 0 15 . 48 0 33 . 33
9 0 0 18 0
12 0 33 . 33 0 33 . 65
2000
E
K
| |
(
(
(
(
(
(

2 . 378 4 . 189 4 . 290 4 . 189 6 . 217


2 . 118 2 . 145 6 . 94 8 . 108
2 . 287 2 . 145 8 . 199
8 . 205 8 . 108
6 . 172
1
1
symetris
E
K
Lendutan yang terjadi :

{ } | | { } Q K D
1
=

{ } | |

=

0
0
0
0
1000
1
K D
{ }

+
+

=
6 . 217
8 . 108
8 . 199
8 . 108
6 . 172
10000
E
D
Selanjutnya :

{ } | || |{ } D A S H =
E
E 10000
6 . 217
8 . 108
8 . 199
8 . 108
6 . 172
0 0 33 . 33 0 33 . 33
15 0 0 15 20
15 . 46 15 . 46 25 . 19 0 0
0 15 . 46 25 . 19 0 0
0 0 0 15 20
2000

(
(
(
(
(
(

=
{ }
5
4
3
2
1
4533
9100
8 . 5874
8 . 5874
1900

= H
Jadi dapat gaya-gaya ;

) (
) (
) (
) (
) (
4533
9100
8 . 5874
8 . 5874
91000
5
4
3
2
1
tarik
tekan
tarik
tarik
tekan
kg
kg
kg
kg
kg
H
H
H
H
H

=
=
=
=
=