You are on page 1of 12

Judul : Etika Profesi Hukum

Pengarang : Suhrawardi K. Lubis


Penerbit : Sinar Grafika Jakarta (Cetakan kelima, Juni 2008)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian Etika
1. Dr. James J. Spillane SJ. mengungkapkan bahwa etika atau ethics memperhatikan
atau mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam pengambilan keputusan moral.
Etik mengarahkan atau menghubungkan penggunaan akal budi individual dengan
objektivitas untuk menentukan kebenaran atau kesalahan dan tingkah laku
seseorang terhadap orang lain. (Budi Susanto (ed) dkk, 1992 : 42).
2. Dalam bahasa Indonesia perkataan etika ini kurangbegitu populer dan lazimnya
istilah ini sering dipergunakan dalam kalangan terpelajar. Kata yang sepadan dengan
itu serta lazim dipergunakan di tengah-tengah masyarakat adalah perkataan susila
atau kesusilaan.
3. Kesusilaan berasal dari bahasa Sangsekerta, yaitu terdiri dari kata su dan sila. Kata
su berarti bagus, indah, cantik. Sedangkan sila berarti adab, kelakuan, perbuatan
adab (sopan santun dan sebagainya), akhlak, moral.
B. Hubungan Etika Dengan Prosedi Hukum
1. Hubungan etika dengan profesi hukum, bahwa etika profesi adalah sebagai sikap
hidup, yang mana berupa kesediaan untuk memberikan pelayanan profesional di
bidang hukum terhadap masyarakat dengan keterlibatan penuh dan keahlian sebagai
pelayanan dalam rangka melaksanakan tugas yang berupa kewajiban terhadap
masyarakat yang pelayanan hukum dengan disertai refleksi yang seksama, dan oleh
karena itulah di dalam melaksanakan profesi terdapat kaidah-kaidah pokok berupa
etika profesi yaitu sebagai berikut ([ Kieser, 1986:170-171]).
Pertama, profesi harus dipandang (dan dihayati) sebagai suatu pelayanan karena itu,
maka sifat tanpa pamrih (disintrestednes) menjadi ciri khas dalam mengembangkan
profesi.
Kedua, pelayanan profesional dalam mendahulukan kepentingan pasien atau klien
mengacu kepada kepentingan atau nilai-nilai luhur sebagai norma kritik yang
memotivasi sikap dan tindakan.
Ketiga, pengemban profesi harus selalu berorientasi pada masyarakat sebagai
keseluruhan.
Keempat, agar persaingan dalam pelayanan berlangsung secra sehat sehingga dapat
menjamin mutu dan peningkatan mutu pengemban profesi, maka pengemban profesi
harus bersemangat solidaritas antar sesama rekan seprofesi.
2. Karena tidak memiliki kompetensi teknikal, maka awam tidak dapat memiliki hal
itu. Di samping itu, pengemban profesi sering dihadapkan pada situasi yang
menimbulkan masalah pelik untuk menentukan perilaku apa yang memenuhi
tuntutan etika profesi.
3. 3. Perangkat itulah yang disebut dengan kode etik profesi (bisa disingkat: kode etik),
yang dapat tertulis maupun tidak tertulis yang diterapkan secara formal oleh
organisasi profesi yang bersangkutan, dan di lain pihak untuk melindungi klien atau
pasien (warga masyarakat) dari penyalahgunaan keahlian dan atau otoritas
profesional.
BAB II
PROFESI HUKUM
A. Pengertian Profesi
Belum adanya kata sepakat dikalangan para sarjana mengenai definisi profesi,
sebagai pegangan dapat diutarakan pendapat yang dikemukakan oleh DR.J.Spillane
SJ. dalam Nilai-Nilai Etis Dan Kekuasaan Utopis(Budi Susanto (ed) dkk, 1992
:41).
Suatu profesi dapat didefinisikan secara singkat sebagai jabatan seseorang kalau
profesi tersebut tidak bersifat komersial, mekanis, pertanian dan sebagainya.
B. Profesi Hukum dan Etika Profesi Hukum
1. Menurut artikel Encyclopedia of Education, ada 10 ciri khas dari suatu profesi:
1. Suatu bidang yang terorganisir dari jenis intelektua yang terus-menerus dan
berkembang dan diperluas;
2. Suatu teknik intelektual;
3. Penerapan praktis dari teknis intelektual pada urusan praktis;
4. Suatu priode panjang untuk pelatihan dan sertifikasi;
5. Beberapa standar dan pernyataan tentang etika yang dapat diselenggarakan;
6. Kemampuan memberi kepemimpinan pada profesi sendiri;
7. Asosiasi dari anggota-anggota profesi yang menjadi suatu kelompok yang
akrab dengan kualitas komunikasi yang tinggi antar anggota;
8. Pengakuan sebagai profesi;
9. Perhatian yang profesional terhadap penggunaan yang bertanggungjawab dari
pekerjaan profesi;
10. Hubungan erat dengan profesi lain;
2. Dengan etika profesi hukum, diharapakan para profesional hukum mempunyai
kemampuan individu tertentu yang kritis, yaitu:
(1). Kemampuan untuk kesadaran etis (ethical sensibility);
(2). Kemampuan untuk berpikir secara etis (ethical reasoning);
(3). Kemampuan untuk bertindak secara etis (ethical conduct);
(4). Kemampuan untuk kepemimpinan etis (ethical leadership).
3. Dalam sejarah etika keutamaan-keutamaan mengalami proses, yang pada
akhirnya keutamaan itu adalah merupakan ciri-ciri kepribadian yang memproduk
kemanfaatan yang nyata dalam kehidupan masyarakat, yakni berupa sukses dan
kemakmuran. Selanjutnya keutamaan-keutamaan pokok itu dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
a. Keutamaan moral;
Yang termasuk ke dalam kategori keutamaan-keutamaan moral ini terdiri
dari :
a.1. Kebijaksanaan
a.2. Keadilan
a.3. Ketangguhan
a.4. Keugaharian
b. Keutamaan Teologal;
Merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa, yang di dalam dienul Islam
dapat berupa:
b.1. Iman
b.2. Islam
b.3. Ihsan
B.1. Profesi Hakim
1. Dalam proses pengambilan keputusan, para hakim harus mandiri dan
bebas dari pengaruh pihak manapun, termasuk dari pemerintah.
2. Kewajiban hakim sebagai salah satu organ lembaga peradilan tertuang
dalam BAB IV, pasal 27-29, sedangkan mengenai tanggungjawab hakim
tersirat dalam pasal 4 ayat (1). Dan dalam pasal 14 ayat (1) dikemukakan
kewajiban hakim, yaitu tidak boleh menolak untuk memeriksa dan
mengadili sesuatu yang diajukan dengan berdalih bahwa hukum tidak atau
kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.
B.2. Profesi Penasihat Hukum
1. Tugas pokok Penasihat Hukum (Advokat dan Pengacara
praktik) adalah untuk memberikan legal opinion, serta nasihat
hukum dalam rangka menjauhkan klien dari konflik, sedangkan
di lembaga peradilan (beracara di Pengadilan) Penasihat Hukum
mengajukan atau membela kepentingan kliennya.
2. Bagi kalangan profesi Penasihat Hukum di Indonesia, etika
profesinya telah diatur oleh organisasi-organisasi masing-
masing profesi, seperti Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin).
B.3. Profesi Notaris
1. Dalam pasal 1 Peraturan Jabatan Notaris, dikemukakan bahwa
Notaris adalah Pejabat Umum satu-satunya yang berwenang
untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan,
perjanjian dan penetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan
umum atau olehyang berkepentingan dikehendaki untuk
dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian
tanggalnya, menyimpan aktanya dan memberikan grosse,
salinan dan kutipannya, semuanya sepanjang akta itu oleh suatu
peraturan tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada
pejabat atau orang lain.
2. Pejabat Umum adalah seorang yang dengan kedinasannya
dengan korporasi umum yaitu Propinsi, Daerah Kotapraja dan
lain-lain, Daerah Otonom, mewakili badan-badan tersebut
dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban dan melaksanakan
tugas-tugas yang ada pada kedinasannya.
BAB III
BAIK DAN BURUK
A. Pengertian
1. Di dalam Ensiklopedia Indonesia, pengertian baik dan
buruk itu adalah sebagai berikut,Sesuatu hal dikatakan
baik, bila ia mendatangkan rahmat, dan memberikan
perasaan senang atau bahagia, jadi sesuatu yang dikatakan
baik bila ia dihargai secara positif.(Ensiklopedia Indonesia
I : 362).
2. Sedangkan pengertian buruk;adalah segala yang tercela,
lawan baik, pantas ,bagus dan sebagainya. Perbuatan buruk
berarti perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma
masyarakat yang berlaku.(Ensiklopedia Indonesia I : 557)
B. Ukuran Baik dan Buruk
1. Jelasnya, baik dan buruk itu sifatnya individual akan
terpulang kepada orang yang menilainya, kesimpulan ini
dikemukakan disebabkan baik dan buruk itu terikat pada
ruang dan waktu, sehingga dia tidak berlaku secara
universal.
B.1. Menurut Ajaran Islam
Standar baik dan buruk menurut ajaran dienul Islam
berbeda dengan ukuran-ukuran lainnya, terdapat Hadist
yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, yang
mengemukakan sebagai berikut:
Sesungguhnya sesuatu perilaku/perbuatan itu
tergantung kepada niatnya, dan perilaku/perbuatan itu
dinilai berdasarkan niatnya
B.2. Adat Kebiasaan
Ukuran baik dan buruk itu tergantung kepada kesetiaan
dan ketaatan seseorang (loyal) terhadap ketentuan adat.
B.3. Kebahagiaan (Hedonisme)
Yang menjadi ukuran baik dan buruk menurut paham
ini adalah; apakah tingkah laku dan perbuatan tersebut
melahirkan kebahagiaan dan kenikmatan / kelezatan.
Untuk menjawab persoalan ini dapat dilihat dari tiga
sudut pandang;
a. Aliran hedonisme individualistis;
Yang dimaksudkan di sini adalah kebahagiaan yang
bersifat individualis (egoistik hedonism) bahwa
hendaknya manusia itu hendaknya harus selalu mencari
kebahagiaan diri sepuas-puasnya, dan mengorientasikan
seluruh sikap dan perilakunya untuk mencapai
kebahagiaan itu.
b. Kebahagiaan rasional
Aliran ini berpendapat, bahwa kebahagiaan atau
kelezatan individu itu harus berdasarkan pertimbangan
akal yang sehat.
c. Kebahagiaan universal
Menurut orang yang menganut paham ini bahwa yang
menjadi tolak ukur apakah sesuatu perbuatan itu baik
dan buruk, adalah mengacu kepada akibat perbuatan itu
melahirkan kesenangan atau kebahagiaan kepada
seluruh makhluk.
B.4. Bisikan Hati
Yang disebut bisikan hati (instuisi) adalah kekuatan
batin yang dapat mengidentifikasi apakah sesuatu
perbuatan itu baik atau buruk tanpa terlebih dahulu
melihat akibat yang ditimbulkan perbuatan itu.
B.5. Evolusi
Paham ini berpendapat bahwa segala sesuatunya yang
ada di alam ini selalu (secara berangsur-angsur)
mengalami perubahan, yaitu berkembang menuju ke
arah kesempurnaan.
B.6. Utilitarisme
Utilitis dapat diartikan sebagai; hal yang
berguna/bermanfaat. Dalam aliran atau paham ini
ukuran baik atau buruk didasarkan kepada; apakah
perbuatan tersebut berguna atau bermanfaat.
B.7. Paham Eudaemonisme
Yang menjadi prinsip pokok paham ini adalah
kebahagiaan bagi diri sendiri dan kebahagiaan bagi
orang lain.
B.8. Aliran Pragmatisme
Aliran pragmatisme ini menitikberatkan kepada hal-hal
yang berguna dari diri sendiri, baik yang bersifat moril
maupun materiel.
B.9. Aliran Positivisme
Aliran ini menitikberatkan hal-hal yang positif terhadap
etika mereka. Yang menjadi tolak ukur adalah keadaan
positif, yaitu sesuatu yang dapat diraba/dirasakan oleh
pancaindera.
B.10. Aliran Naturalisme
Menurut aliran ini, yang menjadi ukuran baik dan buruk
itu adalah;apakah sesuai dengan keadaan alam,
apabila alami maka itu dikatakan baik, sedangkan
apabila tidak alami dipandang buruk.
B.11. Aliran Vitalisme
Aliran ini merupakan bantahan terhadap aliran
Naturalisme, sebab menurut penganut vitalisme ini
yang menjadi ukuran baik danburuk itu bukanlah alam,
akan tetapi vitae atau hidup(yang sangat diperlukan
untuk hidup).
B.12. Aliran Gessingnungsethik
Yang terpenting menurut ajaran ini adalah
penghormatan akan kehidupan, yaitu sedapat
mungkin setiap makhluk harus saling menolong dan
berlaku baik.
B.13. Aliran Idealisme
Pada pokoknya aliran ini sangat mementingkan
eksistensi akal pikiran manusia, sebab akal pikiran
manusia inilah yang menjadi sumber ide.
B.14. Aliran Eksistensialisme
Etika Eksistensialisme ini berpandangan bahwa
eksistensi (keberadaan) di atas dunia selalu terkait pada
keputusan-keputusan individu, maksudnya individu
itulah yang menetapkan keberadaannya yang berwujud
keputusan, andaikan individu itu tidak mengambil suatu
keputusan maka pastilah tidak ada yang terjadi.
B.15. Aliran Marxisme
Ajaran Marxisme ini didasarkan atas Dialectical
Materialisme, yaitu segala sesuatu yang ada dikuasai
oleh keadaan material, dan keadaan material pun juga
harus mengikuti jalan dialektika itu.
B.16. Aliran Komunisme
Etika komunisme pada hakikatnya adalah merupakan
teori pengetahuan dan ekonomi, yaitu teori tentang ilmu
filsafat yang di dalamnya juga memuat permasalahan-
permasalahan ekonomi.

BAB IV
KEADILAN
A. Pengertian
W.J.S Poerwadarminta dalam Kamus Umum
Bahasa Indonesia memberikan pengertian adil itu
dengan 1. Tidak berat sebelah (tidak memihak)
pertimbangan yang adil; putusan itu dianggap adil
2. Sepatutnya; tidak sewenang-wenang, misalnya;
mengemukakan tuntunan yang adil; masyarakat
adil, masyarakat yang sekalian anggotanya
mendapat perlakuan (jaminan dan sebagainya) yang
sama (W.J.S. Poerwadarminta, 1986:16).
B. Adil dan Keadilan Sosial
1. Adil dan keadilan adalah pengakuan dan
perlakuan seimbang antara hak dan kewajiban.
2. Kalau dikaitkan dengan sila kedua dari
Pancasila, pada hakikatnya menginstruksikan
agar kita melakukan perhubungan yang serasi
antar manusia secara individu dengan kelompok
individu yang lainnya, sehingga tercipta
hubungan yang adil dan beradab.
3. Selanjutnya apabila dihubungkan dengan
keadilan sosial, maka keadilan itu harus
dikaitkan dengan hubungan kemasyarakatan.
Keadilan sosial ini dapat diartikan sebagai :
(1). Mengembalikan hak-hak yang hilang
kepada yang berhak.
(2). Menumpas keaniayaan, ketakutan dan
perkosaan dan pengusaha-pengusaha.
(3). Merealisasikan persamaan terhadap hukum
antara setiap individu pengusaha-pengusaha,
dan orang-orang mewah yang didapatnya
dengan tidak wajar. (Kahar Maskur, 1985:71).

BAB V
HAK ASASI

A. Pengertian Hak Asasi
Hak asasi manusia termasuk dalam hak
mutlak, yaitu hak yang mesti diberikan
kepada seseorang tertentu untuk melakukan
sesuatu perbuatan, disebut hak mutlak
karena dapat dipertahankan terhadap siapa
pun orangnya dan sebaliknya siapa pun
harus menghormati hak tersebut.
B. Hak Asasi Manusia (HAM)
1. Adanya pengakuan terhadap ha asasi itu
pertama sekali disponsori oleh Agama
Islam, sebab dalam Kitab Al-Quran
diakui adanya hak asasi antara lain :
a. Persamaan derajat manusia
b. Jaminan atas hak milik
c. Jaminan atas hak hidup
d. Jaminan kebebasan untuk
mengeluarkan pendapat.
2. Di Barat, pengakuan terhadap hak hak
asasi itu diawali dengan lahirnya di
Inggris Piagam Magna Charta pada
sekitar tahun 1215 M
3. Tahun 1679 dikukuhkan pula hak-hak
kebebasan dengan diputuskannya
Hobeas Corpus Act
4. Tahun 1689 terjadilah Glorius
Revolution yang kemudian melahirkan
Bill of Right
5. Tahun 1776 di Amerika dicetuskan pula
Virginia Bill of Rights di dalamnya telah
dimuat pengakuan tentang hak asasi
manusia.
6. Kemudian Thomas Jeferson menyusun
apa yang dikenal dengan sebutan
Declaration of Independence.
7. Tahun 1944 Franklin Delano Rosevelt
menyebutkan ada 4 macam HAM:
1. Freedom of speech
2. Freedom of want
3. Freedom of religion
4. Freedom of fear




















TUGAS MATA KULIAH ETIKA PROFESI HUKUM
RESUME BUKU
ETIKA PROFESI HUKUM
(Suhrawardi K. Lubis, S.H.)




TRIYANI
NIM E0011319



FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKRTA
2014