You are on page 1of 5

Arus Hubung Singkat Generator

Gambar 9.26 memperlihatkan arus hubung singkat yang terjadi pada stator generator sinkron.
Tampak bahwa besarnya arus hubung singkat tersebut menurun sebagai fungsi waktu. Pada 3-4
cycle yang pertama arus hubung singkat : I =

di mana V adalah tegangan jepit generator dan


X
d
adalah reaktansi generator dalam periode sub transient. Dalam periode sub transient ini arus
hubung singkat stator menurun karena fluks magnetik kutub rotor mendapat perlawanan fluks
magnetik stator yang membesar sebagai akibat adanya arus hubung singkat. Setelah periode
subtransient, disusul periode transient dengan arus stator I =

di mana X
d
adalah reaktansi
generator dalam periode transient. Dalam periode transient, laju penurunan arus hubung singkat
berkurang, berarti nilai X
d
> X
d
, hal ini disebabkan sudah di respons dari damper winding,
yaitu lilitan peredam yang dipasang di (kutub) rotor. Lilitan peredam ini mulai menghasilkan
medan magnet yang dihasilkan arus hubung singkat stator.
Periode berikutnya adalah periode steady state di mana semua unsur telah stabil. Dalam
periode steady state besarnya arus stator, di mana adalah reaktansi langsung (direct axis
reactance) dari kumparan stator. Ada kemungkinan bahwa arus gangguan steady state ini
nilainya lebih rendah dari pada arus nominal sehingga relay proteksi tidak bekerja.
Gambar 9.26 memperlihatkan perkembangan arus hubung singkat generator dengan
kondisi bahwa hubung singkat terjadi saat tegangan mendekati nilai maksimum. Apabila
gangguan gubung singkat terjadi saat nilai tegangan generator mendekati nol maka arus hubung
singkat generator akan berkembang seperti pada gambar 9.27 dimana timbul komponen arus
searah (DC). Komponen DC ini diperlukan untuk membuat nilai arus sama dengan 0 pada saat
t=0, yaitu saat gangguan hubung singkat terjadi, sesuai dengan kenyataan. Gambar 9.27(a)
memperlihatkan keadaan di mana saat gangguan terjadi (t = 0), nilai tegangan generator
mendekati nilai maksimum, sama seperti pada Gambar 9.26, berlaku untuk arus fasa R. Gambar
9.27(b) memperlihatkan keadaan di mana saat gangguan terjadi (t = 0) nilai tegangan mendekati
nol dari arah negatif, sedangkan pada Gambar 9.27(c) tegangan sedang mendekati titik nol dari
arah positif, lihat Gambar 9.28: fasa R dan fasa S.

Gambar 9.26 Arus hubung singkat generator sinkron


Gambar 9.27 Arus fasa R,S dan T saat gangguan tiga fasa terjadi tegangan fasa R sedang pada
fasa 90 sehingga arus IR yang induktif nilainya = 0, tidak ada komponen DC. Untuk fasa S dan
T terdapat komponen DC.


Gambar 9.28 Keadaan steady state dari: tegangan dan arus sebagai fungsi waktu dari fasa R dan
fasa S dari generator sinkron tiga fasa. Arus dianggap induktif, tertinggal 90 terhadap tegangan,
lihat skala sudut fasa. Gangguan terjadi pada saat t = 0, pada saat tersebut tampak kondisi: V
R
=
nilai maksimum; I
R
= 0; V
S
= nilainya negatif menuju ke nol; I
s
0, nilainya negative, sehingga
timbul komponen DC Dengan cara serupa bisa digambarkan kondisi arus fasa T.

Apabila terjadi gangguan hubung singkat di depan generator, maka akan timbul arus
gangguan seperti diperlihatkan pada Gambar 9.26 dan Gambar 9.27 pada masing-masing fasa.
Gangguan ini akan dideteksi oleh relay arus lebih (Over Current Relay/OCR). Selanjutnya OCR
akan men-trip pemutus tenaga (PMT). Proses ini memakan waktu kira-kira 3 cycle atau 60
milisekon. Pada saat PMT memutus arus gangguan maka arus gangguan masih ada dalam
periode subtransient dengan reaktansi subtransient dari generator: X
d
. Juga terlihat dari Gambar
9.28, dengan pengertian bahwa arus gangguan bersifat induktif, kontak PMT yang paling berat
harus pula diperhitungkan adanya komponen DC seperti diuraikan dalam persamaan (9.7),
karena pemutusan arus gangguan oleh PMT terjadi dalam periode subtransient di mana nilai
komponen DC belum menjadi nol.
Mengingat hal-hal tersebut di atas, maka untuk menetukan kemampuan memutus arus
hubung singkat (breaking capacity) dari PMT, arus hubung singkat dihitung dengan reaktansi
subtransient X
d
kemudian dikalikan dengan faktor keamanan = 2 untuk memperhitungkan :
a. Adanya komponen DC
b. Keausan kontak-kontak PMT
c. Perkembangan yang mungkin terjadi dalam sistem yang menaikkan tingkat arus hubung
singkat.
(Marsudi, Djiteng 2011)