You are on page 1of 26

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian
Pemetaan geologi adalah sutu kegiatan yang bertujuan untuk melatih
mahasiswa program studi teknik geologi UPN VETERAN Yogyakarta agar
memiliki kekmampuan yang baik dalam pemetaan geologi . Pemetaan geologi
diadakan pada daerah Karang sambung , Jawa tengah .
Karangsambung dipilih sebagai lokasi pemetaan geologi karena
memiliki berbagia fenomena geologi yang sangat baik dan lengkap untuk dilkaukan
sebagai pelatihan terhadap para mahasiswa/i .Didaerah Karangsambung memiliki
variasi litologi yang lengkap , struktur geologi yang berkembang baik , serta
fenomena geologi lain yang masih dapat ditemukan.
Mellaui kegiatan pemetaan geologi ini doharapkan para mahasiswa dapat
meningkatkan kemampuannya dalam pemetaan geologi dan hasil dair pemeteaan ini
juga dapat berguna bagi masyarakat.


1.2 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dari pemetaan geologi adalah agar mahasiswa/i program studi
Teknik Geologi mampu melakukan pemetaan geolgi secara mandiri dan menyajikan
informasi tersebut.
Tujuan dari pemetaan geologi adaalah :
1. Mahasiswa mampu menggunakan intstrumen instrumen yang
digunakan dalam pemetaan geologi.
2. Mahasiswa dapat mealkukan pengambilan data geologi yang baik
dan benar di lapangan.
3. Mahasiswa mampu mengolah dan menginterpretasikan data yang
telah dia=dapat.
4. Mahasiswa mampu menyajikan data secara verbal dan visual.



I.3 Lokasi dan Kesampaian Daerah Telitian
2

Lokasi Kegiatan Kuliah Lapangan Pemetaan Geologi ini berada di Kavling
2.6. Secara administratif, daerah telitian termasuk dalam wilayah Kecamatan
Sempor, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah. Luas daerah telitian 9 km
2
(3 x
3 km)
No Koordinat No Koordinat
1.
X: 332118
Y: 9163595
2.
X: 335118
Y : 9160595
4.
X: 335118
Y : 9163595
3.
X: 332118
Y : 9160595
Perjalanan menuju kavling dilakukan dengan menggunakan minibus dari
basecamp LIPI Karangsambung sekitar 2 jam, lalu sampai di kavling dilanjutkan
dengan jalan kaki















Gambar 1.1 Lokasi Pemetaan Geologi melingkupi daerah Kecamatan Sempor, Kabupaten
Kebumen, Provinsi Jawa Tengah.





Lokasi Pemetaan
3














Gambar 1.2 Peta Topografi Lokasi Pemetaan Geologi .













Gambar 1.1 Lokasi Pemetaan Geologi melali citra foto udara ( Google earth ).



4



I.4 Waktu Kegiatan
Kegiatan Gelogi Lapangan akan diadakan pada bulan agustus Oktober 2014 berikut
adalah rincian dari kegiatan pemetaan geologi 2014 :
Kegiatan Pra Lapangan : 29 Agustus 2014 -6 September 2014
Kegiatan Pemetaan Geologi : 7 September 2014 - 22 September 2014
Kegiatan Pasca Pemetaan : 24 September 2014 20 Oktober


1.5 Rumusan Masalah
Rumusan maasalah adalah sebagai batasan dari tahapan pengerjaan pada
kegiatan pemetaan gelogi agar menjadi efisien. Rumusan masalah dari pemetaan
geologi adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana bentukan geomorfologi daerah telitian ?
2. Baiahimana persebaran satuan batuan pada daerah telitian ?
3. Bagaimana struktur geologi yang berkembang pada daerah telitian ?
4. Bagaimana stratifgrafi dan sejarah geologi daerah telitian ?
5. Bagaiman potensi geologi dari daerah telitian ?

1.6 Hasil Yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dari pemetaan geologi 2014 adalah peneliti mampu
mengetahui kondisi morfologi , struktur geologi , persebaran satuan batuan , umur dan
lingkungan pengendapan serta hubungan stratigrafi dengan kondisi geologi sekitar , sejarah
geologi dan potensi geologi daerah telitian.

I.7 Manfaat Penelitian
Hasil yang diarapakan dari kegiatan pemetaan geologi adalah sebagai berikut
:
1. Bagi Peneliti
Sebagai sarana bagai mahasiswa untuk mengasah kemampuannya
sebagai seorang calon ahli geologi.
5

Menerapkan ilmu yang telah dipelajari pada kegiatan akdaemik
dilapangan.
Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melakukan
pemetaan geologi mandiri .
2. Bagi Masyarakat
Menyampaikan kondisi geologi daerah penelitian untuk mengurangi
resiko geologi dan untuk mengetahui manfaat dari ilmu geologi.
Menyampaikan potensi geologi pada daerah telitian yang bersifat
ekonomis sehingga mampu mendorong perekonomian masyarakat
sekitar
























6

BAB II
METODE PENELITIAN

II.1 Data Penelitian dan Perlengkapan
Suatu penellitian didalam bidang geologi harus berdasarkan dari data valid
yang diambil dengan baik dan benar. Data dalam penelitian geologi dibagi menjadi 2
, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung diambil
diambil oleh peneliti dilapangan , sedangkan data sekunder adalah data yang tidak
diambil langsung oleh peneliti , namun menggunakan hasil studi dari peneliti
terdahulunya. Berikut adalah uraian dari data primer dan data sekunder yang
diperlukan peneliti untuk pemetaan geologi :
A.Data Primer
Data Lokasi penelitian dan lokasi pengambilan data geologi .
Data kedudukan lapisan batuan
Data kontak perlapisan batuan.
Data struktur geologi yang berkembang.
Rekaman data lapangan .
Data penampang stratigrafi terukur ( MS , Profil ) dan sampel untuk analisa .
B.Data Sekunder
Peta Geologi Lembar Kebumen, Jawa oleh S. Asikin, A. Handoyo, H.
Busono dan S. Gapoer, 1992
Peta fisiografi Pulau Jawa dan Madura modifikasi dari (van Bemmelen, 1949)
Prasetyadi.2007.Evolusi Tektonik Paelogen Jawa Bagian Timur, Disertasi
ITB.
AGEOUPN. 2010. Guide Book Field Trip Bayat-Karangsambung
IAGEOUPN. Yogyakarta : Ikatan Alumni Geologi UPN







7

II.2 Perlengkapan Penelitian
Peralatan yang dibutuhkan selama Kegiatan Kuliah Lapangan Pemetaan
Geologi adalah :
GPS
Lup
Kompas dan Palu Geologi
Peta Daerah Penelitian
Alat Tulis lengkap
Clipboard
Plastik sampel
Kamera
Makanan dan obat

II.3 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam pemetaan geologi dibagi menjadi
beberapa tahap. Tahapan-tahapan penelitian yang dipakai dalam pemetaan secara
garis besar adalah kerja studio dan kerja lapangan.
Tahapan-tahapan penelitian :
1. Studi Pustaka
Studi pustaka adalah salah satu tahap awal sebelum melkukan pemetaan geologi
suatu daerah , yaitu dengan melkukan kajian terhadap hasil-hasil dari peneliti
terdahulu didaerah tersebut , sehingga akan didapatkan data awal dan interpretasi
awal untuk memudahkan jalannya pemetaan geologi . Studi awal pustaka dibagi
beberapa tahap diantaranya :
Pengkajian literatur dan riset tentang daerah telitian dari peneliti
terdahulu.
Pengkajian peta geologi , dan topografi daerah telitian.
Pembuatan peta geomorfologi dan interpretasi kedaan geologi daerah
telitian.
Merencanakan lintasan untung observasi dan pengambilan data
penampang terukur.
2 Survey Pendahuluan dan Perizinan
8

Dalam suatu kegitan pemetaan geologi harus diadakan survey pendahuluan
yang dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan keadaan geologi daerah
telitian dan perizinan serta tempat peristirahatan saat kegiatan pemetaan geologi.
Tahap ini penting untuk menanggulangi permasalahan yang akan timbul saat
pemetaan berlangsung , seperti keadaan yang telah terubah dilapangan , kendala
perizinan , kendala tempat tinggal basecamp/flying camp .
3. Pekerjaan Lapangan
Terbagi dari beberapa tahapan yaitu :
a. Pemetaan geologi dengan lintasan geologi
Pada tahap lintasan geologi diusahakan melalui lintasan yang
memotong strike lapisan batuan hal ini digunakan untuk mengetahui
persebaran lithologi secara umum pada daerah telitian. Setelah itu persebaran
lithologi akan di bagi menjadi satuan batuan , pola persebaran , pola struktur
yang berkembang.Pada tahapan ini dapat diketahui secara umum variasi
litologi yang berkembang pada daerah penelitian.
b. Perekaman data dan pengambilan sample
Perekaman data sangat penting untuk menunjang hasil pemetaan
geologi yang baik. Perekaman data objek-objek geologi dilakukan selama di
lapangan, pilihlah data yang baik untuk memperoleh hasil yang baik.
Pemngambilan sample dilakukan dengan pemilihan sample batuan yang
tepat. Ambillah sample batuan yang masih fresh
c. Pengukuran struktur geologi
Meliputi pengukuran struktur geologi pada batuan ( bidang perlapisan,
bidang kekar, bidang sesar, lipatan dan sebagainya). Hasil pengukuran akan
digunakan untuk menganalisa struktur geologi yang berkembang di daerah
penelitian seperti sesar dan lipatan.
d. Pengukuran lintasan (Measuring Section) untuk penampang stratigrafi
Pengukuran lintasan dilakukan untuk mengetahui tebal lapisan , pola variasi
lithologi dan lingkungan pengendapan pada daerah telitian.
4. Analisa Laboratorium dan Studio
Pada tahapan ini kita melakukan analisa laboratorium dan studio pada data
data geologi yang telah di ambil saat pekerjaan lapangan. analisa yang
dilakukan antara lain :
a) Analisa Petrografis ( Sayatan Tipis)
9

b) Analisa Mikrofosil
c) Analisa Data Struktur Geologi

5.Tahapan Penyelesaian
Tahapan akhir pada pemetaan geologi yang meliputi penyusunan
laporan , pembuatan peta geologi , penampang geologi , penampang struktur
dan melakukan konsultasi pada pembimbing. Tahapan ini merupakan proses
akhir dari pemetan geologi yang di lakukan oleh mahasiswa.


























10



BAB III
GEOLOGI REGIONAL

III.1. Penelitian Terdahulu Daerah Karangsambung
Daerah Karangsambung telah mengundang banyak penelitian untuk
mendiskusikan, peneliti-peneliti terdahulu antara lain Asikin(1974), Harsolumakso et
al(1995), Kapid dan Harsolumakso(1996), Harsolumakso dan Noeradi(1996).
Asikin(1974) Menganggap bahwa daerah ini memiliki tatanan geologi yang
rumit, dengan urutan stratigrafi yang sulit di tata karena tidak mengikuti kaidah
superposisi, kesinambungan lapisan dan faunal assemblage yang berlaku. Umumnya
satuan batuan yang berbeda dipisahkan oleh rekahan dan sesar yang terkadang
ukurannya sering tidak dapat dipetakan.
Harsolumakso et al(1995) Secara khusus meneliti karakteristik satuan mlange
dan olistostrom di daerah kKarangsambung dengan menggunakan tahapan deskripsi.
Penulis ini manafsirkan adanya mekanisme longsoran, slump, dan turbidit pada endapan
olistostrom dan kemudian campuran tersebut terlihat dalam deformasi tektonik yang
kuat.
Harsolumakso dan Noeradi(1996) lebih lanjut membahas deformasi pada
formasi Karangsambung. Menurut mereka, struktur lipatan yang berkembang pada
satuan endapan olistostrom berhubungan dengan sesar-sesar minor, umumnya dapat
diamati pada sisipan batupasir dan batulanau. Penulis ini menyimpulkan proses
deformasi pada endapan olistostrom terjadi setelah sedimentasi dan tidak berhubungan
dengan gejala pelengseran atau penggerusan yang sejalan dengan sedimentasi.
Kapid dan Harsolumakso(1996) melakukan studi lebih detail dalam penentuan
umur endapan olistostrom tersebut dengan pendekatan nannofosil. Determinasi fauna
dari beberapa lintasan terpilih menunjukkan umur endapan olistostrom berkisar antara
Eosen Awal-Miosen Tengah.



11


III.2. Fisiografi Regional Jawa Tengah
Secara fisiografis, van Bemmelen (1949) membagi daerah Jawa Tengah
ke dalam 4 zona yaitu :
a. Dataran Pantai Selatan
b. Pegunungan Serayu Selatan
c. Pegunungan Serayu Utara
d. Dataran Pantai Utara
e. Dataran Pantai Selatan
Lebarnya 10-25 km, terletak sekitar 10 m dpl, merupakan bentuk yang
sangat kontras dan menarik dengan sambungannya ke arah barat dan timur, yang
terdiri dari Pegunungan Selatan Pulau Jawa.
a. Dataran Pantai Selatan
Dataran yang terletak pada kawasan pantai selatan jawa memperlihatkan
kenampakan fisiografis yang kontras dengan daerah di utaranya yang di dominasi
oleh daerah bebukitan yang terjal. Hal ini di control oleh landaian yang terdapat
pada daerah pertemuan lempeng pulau Jawa dengan lempeng Australia yang
menjadi for arc basin daerah Jawa.
b. Pegunungan Serayu Selatan
Terdiri dari bagian barat dan timur. Bagian barat dapat dikatakan sebagai
tinggian dalam elemen Zona Depresi Bandung (Jawa Barat) atau merupakan
zona struktur baru di wilayah Jawa Tengah. Bagian ini terpisah dari Zona Bogor
oleh dataran Majenang
Bagian timur dan bagian barat zona ini dipisahkan oleh Lembah
Jatilawang. Bagian timur membentuk geanticlinal elevation, dimulai di dekat
Ajibarang ke Kali Serayu, kemudian sebelah timur Banyumas yang merupakan
antiklinorium di daerah Luk Ulo, selatan Banjarnegara dan berakhir di sebelah
barat Pegunungan Progo (1.022 m).
c. Pegunungan Serayu Utara
Memiliki lebar 30-50 km, tepi bagian baratnya adalah Gn. Slamet (3428
m) dan bagian timur adalah Gn. Rogojembangan (2177 m), Pegunungan Dieng
12

(Gunung Prahu, 2565 m) dan Gn. Ungaran (2050 m). Batas dengan Zona Bogor
adalah di sepanjang Prupuk-Bumiayu-Ajibarang, sedang batas dengan
Pegunungan Serayu Selatan adalah Zona Depresi Serayu, dimana terletak
Ajibarang, Purwokerto, Banjarnegara, Wonosobo.
d. Dataran Pantai Utara.
Terletak di selatan Brebes dengan lebar sekitar 40 km, dimana Lembah
Pemali memisahkan Zona Bogor dengan Pegunungan Utara Jawa Tengah.
Kemenerusannya ke arah timur semakin mengecil, sekitar 20 km di selatan Tegal
dan Pekalongan hingga berakhir di sebelah timur Pekalongan.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa daerah penelitian di
Karangsambung secara fisiografis terletak di Zona Pegunungan Serayu Selatan.









Gambar III.1 Fisiografi Jawa Tengah Jawa Timur (Van Bemmelen, 1949 dengan
modifikasi)

Daerah pemetaan berletak di Kecamatan Sempor, kabupaten Kebumen, Jawa
Tengah ini terdapat pada fisiografi Pegunungan Serayu Selatan yang mempunyai
sumbu mengarah Barat-Timur. (Van Bemmelen, 1949 ) Bagian barat dibentuk oleh
Gunung Kabanaran (360 m) dan bisa dideskripsikan mempunyai elevasi yang sama
dengan Zona Depresi Bandung di Jawa Barat ataupun sebagai elemen struktural baru
di Jawa Tengah. Bagian ini dipisahkan dari Zona Bogor oleh Depresi Majenang.
(Van Bemmelen, 1949)
13

Bagian timur dibangun oleh antiklin Ajibarang (narrow anticline) yang dipotong oleh
aliran Sungai Serayu. Pada timur Banyumas, antiklin tersebut berkembang menjadi
antiklinorium dengan lebar mencapai 30 km pada daerah Lukulo (selatan
Banjarnegara-Midangan 1043 m) atau sering disebut tinggian Kebumen (Kebumen
High). Pada bagian paling ujung timur Mandala Pegunungan Serayu Selatan
dibentuk oleh kubah Pegunungan Kulonprogo (1022 m), yang terletak diantara
Purworejo dan Sungai Progo. (Van Bemmelen, 1949).


III.1.2 Geomorfologi Regional
Secara regional, daerah Karangsambung merupakan daerah pegunungan
dengan arah umum barat-timur. Daerah penelitian ini berada di sekitar
pegunungan yang membentuk morfologi amfiteater yang membuka ke arah
barat. Amfiteater ini dahulu merupakan sebuah antiklin dengan sumbu antiklin
berimpit dengan Kali Wularan.
Sayap lipatan berupa daerah Gn.Paras di bagian utara dan daerah Gn.
Bulukuning dan Gn. Brudjul di sayap selatan. Puncak antiklin kemudian
mengalami erosi yang intensif sehingga menjadi lembah antiklin.
Ciri geomorfologi yang mengindikasikan adanya struktur sesar adalah
adanya triangular facet di sekitar kaki Gn. Paras sebelah selatan. Tahapan
geomorfologi tua pada daerah ini dapat dicirikan oleh sungai yang bermeander
dengan dataran alluvial yang luas. Tahapan geomorfologi tua juga dapat dilihat
dari adanya perubahan morfologi puncak antiklin menjadi lembah antiklin.
Daerah Karangsambung yang merupakan suatu bentukan lembah antiklin
hasil erosi, memiliki bukit-bukit kecil di dalamnya. Hal ini disebabkan oleh
adanya perbedaan kekerasan batuan sehingga bukit-bukit ini seakan-akan
terisolasi dari daerah sekitarnya seperti di dekat Jatibungkus dan Gn. Bujil.
Deretan punggungan dari Gn. Tugel, Gn.Bulukuning, Gn. Prahu dan Gn. Paras
membentuk busur yang membuka kearah barat. Bentang alam ini mengikuti
antiklin Karangsambung dengan sumbu berarah barat-timur dan menunjam ke
timur. Kemungkinan adanya sesar ditunjukkan oleh kelurusan bukit, kelurusan
lembah, kelurusan dan pembelokan sungai dan juga dengan ditemukannya
14

triangular facet di sekitar kaki Gunung Paras. Kemiringan lapisan ke arah
selatan di kaki Gunung Paras ini diinterpretasikan sebagai pungungan sinklin.
Secara umum sungai mengalir ke arah selatan dengan sungai utama Kali
Luk Ulo. Kontrol litologi dan struktur tampak pada pola aliran sungai berupa
pola dendritik pada lapisan yang cukup datar, pola trellis pada lipatan, juga pola
radial di sekitar Gunung Pencil.
Pada umumnya daerah karang sambung merupakan topografi
bergelombang yang mempunyai kemiringan lereng landai curam, umumnya
disusun oleh breksi, batupasir, batulempung, lanau, batugamping, konglomerat,
dan endapan alluvial, Sedangkan morfologi dengan lereng curam menengah
sampai lereng curam umumnya disusun oleh batupasir dan breksi.
Dalam pembagian satuan geomorfologi, penyusun memperhatikan aspek-
aspek penunjang seperti :
1. Morfografi (meliputi sungai, dataran, perbukitan, pegunungan, dll),
2. Morfometri (meliputi kemiringan dan bentuk lereng, ketinggian dan
beda tinggi, dll), dan manyangkut beda tinggi dan kemiringan lereng, dimana
dalam pengklasifikasiannya didasarkan pada klasifikasi modifikasi dari Zuidam
dan Zuidam Concelado, 1979.
3. Morfostruktur pasif (meliputi jenis batuan dan tanah), dan
Morfostruktur aktif (meliputi struktur-struktur geologi).
Daerah penelitian Karangsambung dapat dibagi ke dalam 3 satuan
geomorfologi yaitu:
1. Satuan Pegunungan
Jajaran pegunungan pada bagian utara dan selatan mempunyai arah
barat-timur sedangkan pada bagian timur memiliki arah utara-selatan.
Jajaran pegunungan ini antara lain dibentuk di bagian utara oleh
Gn.Praseman, Gn.Sigelap, Gn.Puncak, Gn.Kebogemulung, Gn. Bandel, Gn.
Salepa, Gn. Karang Gemantung, Gn. Gliwang, Gn. Clekep, Gn. Wanasari, Gn.
Leak, Gn. Igir Gebong, Gn. Buncing, Gn. Pedan, Gn. Kentos, Gn. Parok dan Gn.
Pencil.
Di bagian selatan oleh Gn. Brudjul, Gn. Waturanda, Gn. Gedog, Gn.
Bulukuning, Gn. Pagerori, Gn. Pranggong.. Di bagian barat oleh Gn. Wadas
15

Malang, Gn. Gajah Putih, Gn. Gebang.. Di bagian Timur oleh Gn. Dliwangi I,
Gn. Lubangandong, Gn. Dliwangi II, Gn. Budjil sedangkan di daerah tengah
terdapat Gn. Paras dan Gn. Prahu.
2. Satuan Perbukitan
Perbukitan yang khususnya terdapat di bagian barat mepunyai
kemiringan lereng yang curam, di antaranya adalah Bukit 156, Bukit 208,
Gunung Bako, Gunung Sikenong, Gunung Sipako dan beberapa bukit lainnya.
3. Satuan Dataran
Lembah antikin dan dataran alluvial merupakan satuan dataran yang terdapat di
sebelah utara. Lembah antiklin merupakan hasil erosi yang intensif terhadap puncak
antiklin sehingga menjadi lembah antiklin. Dan satuan Aluvial hasil erosional Sungai
Lok ulo.

III.1.3 Stratigrafi Regional Kranagsambung

Stratigrafi regional Karangsambung teridiri dari formasi-formasi sebagai
berikut :
1. Batuan Pratersier
Kompleks melange ini tersingkap di bagian utara desa
Karangsambung, berumur Pra - Tersier dan merupakan inti dari perlipatan
batuan Tersier yang membentuk morfologi amfiteater yang membuka ke arah
barat. Secara keseluruhan urutan stratigrafinya tidak dapat ditata secara
normal sehingga prinsip - prinsip stratigrafi (superposisi, horizontality dan
original continuity, Steno,1669) sudah tidak dapat diterapkan, tetapi tiap
satuan batuan di daerah ini dapat dipisah - pisahkan. Batas tiap litologi
sebagian besar berupa sesar sehingga untuk satuan melange ini diterapkan
status stratigrafi kompleks dengan nama Kompleks Melange Luk Ulo
(Asikin, 1974). Materi penyusun batuan terdiri dari bongkah - bongkah dan
masa dasar (Asikin, 1974).
a. Bongkah - bongkah atau boudin tertanam dalam masa dasar dan
berbentuk lonjong dengan ukuran berkisar dari beberapa cm dan tidak
16

terpetakan hingga mencapai ratusan meter dan dapat terpetakan. Adanya ciri
pola rekahan (kekar) sebagai respons dari gaya kompresi yang bekerja.
Permukaan rekahan memperlihatkan bidang dengan gores garis (slicken
sided) sebagai penciri kekar gerus (shear fracture). Memiliki nama lain
boudin karena bentuknya yang lonjong menyerupai struktur boudinage.
Struktur seperti ini terjadi akibat adanya rentang - aliran (flow stretching) ke
arah gerakan tektonik yang menimpa batuan - batuan yang lebih lunak.
Bongkah - bongkah ini terdiri dari exotic blocks yaitu bongkah -
bongkah yang sifatnya asing dalam masa dasar dan native blocks yaitu
bongkah - bongkah dengan lingkungan pengendapan yang sama dengan masa
dasarnya.
b. Masa dasar terdiri dari batulempung/batusabak yang merupakan
endapan klastik halus dalam palung yang terus bergerak mengimbangi proses
subduksi.
Sifat struktur masa dasar ini memberi kenampakan mengkilat, mericih
(sheared) hingga menyerpih (scaly). Asikin (1974) menyebutkan masa dasar
ini telah mengalami gejala ubahan yang lemah, yaitu dengan munculnya
mineral - mineral serisit dan klorit.
Secara umum kompleks ini terdiri dari batuan metamorfik, batuan
mafik dan ultramafik (batuan ofiolitik, Suparka, 1988) dan sedimen laut
dalam yang tercampur dalam masa dasar lempung hitam yang tergerus.
Asikin (1974) membagi kompleks ini menjadi dua satuan berdasarkan
sifat dominasi fragmen terhadap masa dasarnya yaitu Satuan Jatisamit di
bagian barat dan Satuan Seboro di bagian utara, dengan karakter litologi dan
struktur yang berbeda.
1. Satuan Melange Jatisamit terdiri dari bongkah batuan beku basa,
batugamping - rijang, sedikit batuan metamorfik, filit, sekis dan marmer,
perselingan batulanau dan batupasir graywacke. Keseluruhan bongkah batuan
ini terdapat dalam masa dasar lempung bersisik yang terdeformasi kuat
dengan struktur yang khas boudin, terutama pada graywacke. Batuan di atas
membentuk morfologi yang tinggi seperti Gn.Sipako dan Gn.Bako. Menurut
17

Asikin (1974), gunung - gunung tersebut terbentuk dari bongkah - bongkah
batupasir graywacke yang relatif keras.
2. Satuan Melange Seboro mengandung masa dasar yang relatif sedikit,
umumnya terdiri dari keratan tektonik dari batuan mafik - ultramafik, basalt,
sebagian berupa lava bantal yang berasosiasi dengan batugamping - rijang,
gabro, peridotit, serpentinit dan batuan metamorfik berderajat rendah hingga
berderajat tinggi, marmer, sekis mika, amfibolit, gneis. Hubungan antar
batuan umumnya berupa sesar atau jalur tergeruskan.
Kompleks Melange Luk Ulo mempunyai kisaran umur Kapur Atas
sampai Paleosen (Asikin, 1974; Wakita et al, 1994). Menurut Asikin (1974),
kompleks melange ini diintepretasikan sebagai produk dari lempeng Indo -
Australia yang menunjam di bawah lempeng benua Asia Tenggara pada
jaman Kapur Atas - Paleosen. Umur Kompleks Melange Luk Ulo ini
menunjukkan waktu terjadinya gejala subduksi antara lempeng Indo -
Australia dengan lempeng benua Asia Tenggara.
Penentuan umur dilakukan berdasarkan umur fosil yang terdapat di
dalam masa dasar dan bongkah - bongkahnya. Umur fosil dalam masa dasar
memberikan umur minimum sedangkan umur fosil dalam bongkah akan
memberikan umur maksimum. Fosil - fosil yang dijumpai dalam masa dasar
di antaranya seperti Heterohelix globulosa EHRENBERG, Globorotalia
angulata WHITE dan Globorotalia triloculinoides PLUMER menunjukkan
usia Kapur Atas sampai Paleosen. Sedangkan dari bongkah - bongkah yang
terdiri dari batu gamping yang terhablurkan dan rijang - radiolaria
memberikan umur Kapur tengah (Praeglobotruncana aff delrioensis pada
batugamping dan Rotalipora BROTZEN pada batugamping merah sisipan
rijang). Berdasarkan hal tersebut, umur Kompleks Melange Luk Ulo
diperkirakan berada pada Kapur Atas sampai Paleosen.
2. Formasi Karangsambung
Formasi ini terdiri dari batulempung gampingan hingga napal
berwarna abu - abu gelap kehijauan. Sering ditemui oksida besi yang
berkonkresi dengan batulempung. Lempung yang ditemui pada umumnya
18

merupakan lempung bersisik (scaly clay). Ditemukan pula sisipan batulanau
dan batupasir gampingan yang berlapis buruk, memperlihatkan struktur mirip
hasil pelengseran (slump structure) dan struktur aliran (flowage structure)
dan perlapisan yang tak menerus (disrupted bedding). Beberapa di antaranya
dijumpai struktur perlapisan bersusun dan laminasi sejajar. Sifat perlapisan
juga ditunjukkan dengan adanya laminasi serpih diantara sifat lempung yang
bersisik.
Pada beberapa lapisan yang tak teratur atau pada bidang penyerpihan
dijumpai batugamping. Batugamping, konglomerat dan batupasir disini
terkepung di dalam masa dasar lempung. Batugamping formasi ini
mengandung fosil Nummulites cf. pengaronensis, Nummulites jogjakartae,
Discocyclina cf. omphala, dan Discocyclina sp. menunjukkan umur Eosen
Atas (Kapid dan Harsolumakso, 1996). Singkapan yang baik terdapat di
sekitar Kampus Lapangan Karangsambung yaitu singkapan batugamping -
nummulites dengan konglomerat polimik dan konkresi - konkresi besi.
Umur Formasi Karangsambung lebih jelasnya diperkirakan berada
pada Eosen Tengah hingga Eosen Atas berdasarkan umur fosil yang
ditemukan, di antaranya adalah Nummulites dalam batugamping dan
Hantkenina Alabamensis dalam napal.
3. Formasi Totogan
Didominasi litologi breksi lempung, formasi ini mempunyai ciri - ciri
litologi yang hampir serupa dengan Formasi Karangsambung. Litologinya
terdiri dari masa dasar lempung abu - abu kehijauan, violet dan abu - abu
kecoklatan dengan sifat lempung yang bersisik (scaly clay). Fragmennya
yang berukuran beragam terdiri dari batulempung, batupasir, batugamping
berfosil dan batuan beku basaltik. Fragmen - fragmen tersebut mempunyai
bentuk runcing membulat tanggung dengan permukaan licin yang memberi
kesan hasil penggerusan.
Berdasarkan ciri di atas maka satuan batuan Formasi Totogan ini
diberi nama breksi lempung. Lempung yang berperan sebagai fragmen dan
masa dasar memiliki perbedaan dalam kekerasan dan warna. Sementara
19

fragmen batupasir dalam formasi ini dengan bongkah batupasir dalam
Formasi Karangsambung memiliki perbedaan pada dimensinya dimana pada
Formasi Karangsambung ukurannya lebih besar. Harsolumakso et al, (1995)
menyebutkan perlapisan batuan Formasi Totogan pada beberapa tempat yang
diamati kurang baik, ditunjukkan oleh perbedaan warna dan orientasi
perbedaan butir. Kadang - kadang perlapisan juga mengikuti arah umum
bidang gerusan. Bagian tengah umumnya didominasi oleh breksi yang
terutama terdiri dari fragmen batuan beku basaltik. Di beberapa tempat,
batuan basalt ini dijumpai sebagai tubuh batuan yang cukup besar dan
seringkali memperlihatkan stuktur bantal. Pada bagian atas, terdapat
perubahan yang berangsur dengan makin seringnya dijumpai sisipan
batupasir tufan yang berlapis baik.
Asikin (1974) dalam tulisannya mengatakan bahwa lingkungan
pengendapan Formasi Totogan dengan banyaknya fosil Foraminifera
plankton menunjukkan suatu kondisi laut terbuka, relatif dalam dengan garis
pantai terjal. Hal ini memungkinkan terjadinya rock fall atau pembentukan
olistostrom. Di beberapa tempat juga diamati perlapisan dengan struktur
graded bedding yang menunjukkan sudah adanya pengaruh arus turbidit.
Penulis juga meyebutkan bahwa tampaknya terjadi peralihan dari olistostrom
ke turbidit secara berulang - ulang.
4. Formasi Waturanda
Fomasi ini terdiri dari batupasir vulkanik dan breksi vulkanik yang
berumur miosen awal - miosen tengah yang berkedudukan selaras diatas
formasi totogan. Formasi ini memiliki anggota Tuff, dimana Harloff (1933)
menyebutnya sebagai Eerste Merger Tuff Horizon. Formasi Waturanda
(Oligo - Miosen, sekitar 26 - 20 juta tahun yang lalu) adalah kompleks Old
Andesite yaitu merupakan endapan voklaniklastik dari jalur gunungapi
Paleogen yang tersebar di selatan Jawa. Harloff (1933) mengatakan satuan
batuan ini sebagai First Breccia, maka dapat dilihat bahwa satuan batuan ini
disusun oleh begitu banyak fragmen yang tertanam di dalam suatu matriks
atau massa dasar sedimen, seperti aliran lahar gunungapi bawahlaut. Tetapi
kadang - kadang di dalam Waturanda pun terdapat batupasir yang masif.
20

5. Formasi Penosogan
Formasi ini terendapkan selaras diatas formasi waturanda, litologi
tersusun dari perselingan batupasir, batulempung, tuf, napal, dan kalkarenit.
Ketebalan formasi ini 1000 meter, memiliki umur miosen awal - miosen
tengah (sumber dalam Prasetyadi, 2007). Formasi Penosogan (Miosen Bawah
- Miosen Tengah, 20 - 12 juta tahun yang lalu) yang langsung terlihat di
tempat itu diendapkan sebagai endapan laut dalam (turbidit). Harloff (1933)
menyebut Formasi Penosogan sebagai Second Marl Tuff. Penamaan ini
mengesankan bahwa sedimen Formasi Penosogan diendapkan sebagai
endapan turbidit volkaniklastik (tuff) di bawah laut (marl) (Satyana, 2007).

6. Formasi Halang
Menindih selaras di atas Formasi Penosogan dengan litologi terdiri
dari perselingan batupasir, batulempung, napal, tufa dan sisipan breksi.
Merupakan kumpulan sedimen yang dipengaruhi oleh turbidit bersifat distal
sampai proksimal pada bagian bawah dan tengah kipas bawah laut. Formasi
ini memiliki umur Miosen Awal - Pliosen. Anggota Breksi Halang,
Sukendar Asikin menamakan sebagai formasi breksi II dan berjemari dengan
Formasi Penosogan. Namun Asikin (1974) meralat bahwasanya Anggota
Breksi ini menjemari dengan Formasi Halang (dalam Prasetyadi, 2007).
7. Formasi Peniron
Peneliti terdahulu menamakan sebagai horizon breksi III. Formasi ini
menindih selaras diatas Formasi Halang dan merupakan sedimen turbidit
termuda yang diendapkan di Zona Pegunungan Serayu Selatan. Litologinya
terdiri dari breksi aneka bahan dengan komponen andesit, batulempung,
batupasir dengan masa dasar batupasir sisipan tufa, batupasir, napal, dan
batulempung.
8. Batuan Vulkanik Muda
Memiliki hubangan yang tidak selaras dengan semua batuan yang
lebih tua dibawahnya. Litologi terdiri dari breksi dengan sisipan batupasir
21

tufan, dengan komponen andesit dan batupasir yang merupakan bentukan
aliran lahar pada lingkungan darat. Berdasarkan ukuran komponen yang
membesar kearah utara menunjukkan arah sumber di utara yaitu Gunung
Sumbing yang berumur Plistosen (Dari berbagai sumber dalam Prasetyadi,
2007)
















Stratigrafi daerah Karangsambung (modifikasi Harsolumakso dkk., 1996 dari Asikin dkk.,
1992 dalam Hadiyansyah, 2005).





22

III.4 Struktur Geologi Regional

Pulau Jawa dikontrol oleh sejumlah struktur utama yang mencerminkan evolusi
tektoniknya) struktur utama Pulau Jawa terdiri dari Struktur Meratus yang berarah
Timurlaut-Baratdaya, Struktur Sumatra Berarah baratlaut-Tenggara, dan Struktur Sunda
berarah Utara-Selatan dan struktur Jawa yang berarah barat-Timur. (Pulonggono &
Martodjoyo, 1994 dalam prasetyadi, 2010).Pola struktur yang ada di Jawa Tengah
memperlihatkan 3 arah utama yaitu arah barat laut-tenggara dekat perbatasan dengan
Jawa Barat, timur laut-barat daya di selatan dan di sekitar Gunung Muria dan timur
barat yang umumnya berupa perlipatan .Sukendar Asikin (1974) menyebutkan
bahwa pola struktur yang berarah timur laut-barat daya yang dominan di bagian
timur Jawa Tengah ini merupakan jejak tektonik Kapur-Paleosen yang berbentuk
jalur subduksi akibat interaksi antara lempeng Hindia-Australia dengan
lempeng Sunda. Jalur ini merupakan kelanjutan daripada jalur subduksi yang
tesingkap di Ciletuh, Jawa Barat. Selain kedua pola struktur di atas, struktur yang
berarah relatif Utara Selatan juga berkembang baik pada batuan Pra-Tersier maupun
Tersier berupa sesar-sesar mendatar (Harsolumakso, 1995).
Selain itu di Jawa Tengah juga dikenali terdapat dua struktur sesar utama
yang mengapit bagian barat dan timur Jawa Tengah. Sesar di bagian timur dikenal
sebagai sesar Kebumen-Muria dan bagian barat disebut sesar Pamanukan-Cilacap.
Kedua sesar ini dianggap sebagai faktor yang membuat Jawa Tengah secara
fisiografis berbeda dengan Jawa barat dan Jawa Timur (Satyana, 2007).
Berdasarkan hasil penafsiran terhadap foto citra ERTS (Untung dan Sato,
1978) dan anomali gaya berat (Untung dan Wiriosudarmo, 1975), menunjukkan
adanya sesar - sesar dan kelurusan - kelurusan dari pola struktur yang umumnya
berarah Baratdaya Timurlaut, Baratlaut Tenggara, dengan sumbu lipatan yang
pada umumnya berarah Barat Timur pada daerah Jawa Tengah. Menurut Asikin
(1974), secara umum struktur Pegunungan Serayu Selatan terdiri dari lipatan -
lipatan dengan sumbu berarah Barat Timur, disertai sesar naik, sesar normal dan
sesar mendatar. Pada umumnya struktur tersebut dijumpai pada batuan yang berumur
Kapur hingga Pliosen.
Daerah penelitian termasuk ke dalam jalur Pegununungan Serayu Selatan
(Bemmelen, 1949), maka pembentukan struktur geologi yang nampak pada daerah
23

penelitian sekarang, disebabkan oleh aktifnya kembali sesar - sesar tua pada dasar
cekungan (sesar basement / dip seated fault) sebagai akibat tektonik pada kala Plio -
Plistosen, sehingga membentuk struktur - struktur geologi yang ada seperti yang
dijumpai sekarang.



Gambar 3.6 Pola struktur regional Jawa Tengah dan Jawa Timur berdasarkan kelurusan dari
citra ERTS (Untung dan Sato, 1978).

III.2 Geologi Daerah Penelitian
III.2.1 Fisiografi Daerah Penelitian



24





II.5 Studi Awal Geomorfologi Daerah Telitian
II.5.1 Tinjauan Umum
Studi awal geomorfologi daerah telitian mengggunakan interpetasi sementara
yang didapatkan dari peta topografi , peta daerah telitian dan studi pustaka. Dalam
pembagian satuan geomorfik, penulis menggunakan klasifikasi van Zuidam (1983)
dengan mengacu pada aspek-aspek geomorfologi, yaitu:
1. Morfologi
Studi bentuk lahan yang mempelajari relief secara umum dan meliputi :
a. Morfografi : merupakan susunan dari obyek alami yang ada di
permukaan bumi, bersifat deskriptif atau pemerian suatu bentuk lahan,
antara lain lembah, bukit, perbukitan, dataran, pegunungan, teras sungai,
tubuh sungai, kipas alluvial, plato, dan lain-lain.
b. Morfometri : merupakan aspek kuantitatif dari suatu bentuk lahan,
antaar lain kelerengan, bentuk lereng, panjang lereng, ketinggian, beda
tinggi dan lain-lain

Tabel II.1 Klasifikasi Kemiringan Lereng (van Zuidam, 1979)
No Keadaan Lereng (%)
1. Datar 0-2
2. Hampir datar 3-7
3. Landai 8-13
4. Miring 14-20
5. Agak curam 21-55
6. Curam 56-140
7 Sangat curam >140



2. Morfogenesa
25

Merupakan asal usul pembentukan dan perkembangan bentuk lahan serta
proses-proses geomorfologi yang terjadi, dalam hal ini adalah struktur geologi,
litologi penyusun dan proses geomorfologi.
a. Morfostruktur pasif : bentuk lahan yang diklasifikasikan berdasarkan
tipe batuan
b. Morfostruktur aktif : bentuk lahan yang diklasifikasikan berdasarkan
keterkaitannya dengan hasil gaya endogen yang
dinamis (gunung api, punggungan, antiklin,
gawir sesar, dan lain-lain.
Morfodinamik : bentuk lahan yang berkaitan erat dengan hasil kerja gaya
eksogen (air, es, angin, dan gerakan tanah). Misalnya gumuk pasir, undak sungai,
pematang pantai, lahan kritis.



II.5.2 Peta Kelerengan

Berdasarkan pengamatan studi pustaka tentang peta kelerengan daerah telitian
dapat dibagai menjadi 3 jenis kelerengan berdasarkan metode wenworth
1. Lereng Agak curam,
Pada peta kelerengan , lereng agak curam ditunjukan dengan warna oranye pada
peta. Pada lereng ini memiliki tingkat kemiringan antara
2. Lereng miring
Pada peta kelerengan , lereng miring ditunjukan dengan warna kuning muda pada
peta. Pada lereng ini memiliki tingkat kemiringan antara
3. Lereng Landai
Pada peta kelerengan , lereng landai ditunjukan dengan warna hijau pada peta.
Pada lereng ini memiliki tingkat kemiringan antara


II.5.3 Peta Resitensi Batuan
26

Berdasarkan pengamatan dari hasil interpetasi peta topografi dan berdasarkan dari
peta kelerangan diketahui resistensi batuan yang ada di daerah telitian adalah sebagai
berikkut :
Resistensi sedang
Merupakan daerah dengan resistensi sedang yang memiliki cirri kelerengan
miring , pola kontur yang tidak begitu rapat . pada daerah ber resistensi batuan sedang
diinterpretasikan batuan penyusunnya adalah batuan sedimen berbutir halus , seperti
batupasir , batulanau dll.


Resistensi lemah
Merupakan daerah didalam peta yang memiliki resistensi lemah yang memiliki cirri
kelerengan landai datar , denga pola kontur yang sangat renggang ( tidak ada
perbedaan ketinggian ) . pada daerha ini dapat diinterpretasikan bahwa tersusun atas
litologi yang belum terkonsolidasi seperti soil atau alluvial.

II.5.3 Pola Aliran
Dengan berjalannya waktu, suatu sistem jaringan sungai akan membentuk
pola pengaliran tertentu di antara saluran utama dengan cabang-cabangnya dan
pembentukan pola pengaliran ini sangat ditentukan oleh faktor geologinya. Pola
pengaliran sungai dapat diklasifikasikan atas dasar bentuk dan teksturnya. Bentuk
atau pola berkembang dalam merespon terhadap topografi dan struktur geologi bawah
permukaannya. Saluran-saluran sungai berkembang ketika air permukaan
(surfacerunoff) meningkat dan batuan dasarnya kurang resisten terhadap erosi.