You are on page 1of 15

MEMBIDIK ARAH KEBIJAKAN TRANSMIGRASI PASCA

REFORMASI
Drs. Anharudin, Ir. Rukmini N Dewi, dan Ir. Retno Anggraini

Abstrak

Pembangunan Transmigrasi ke depan masih dipandang relevan sebagai suatu
pendekatan untuk mencapai tujuan kesejahteraan, pemerataan pembangunan daerah,
serta perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Namun demikian, kebijakan
penyelenggaraan transmigrasi perlu diperbaharui, dan disesuaikan dengan
kecenderungan (trend) perubahan yang terjadi akhir-akhir ini, terutama perubahan
pada tata pemerintahan Pada kurun waktu 2!-2", penyelenggaraan transmigrasi
diarahkan sebagai pendekatan untuk mendukung pembangunan daerah, melalui
pembangunan pusat-pusat pr#duksi, perluasan kesempatan kerja, serta penyediaan
kebutuhan tenaga kerja terampil baik dengan peranan pemerintah maupun secara
swadana melalui kebijakan langsung (direct p#licy) maupun tidak langsung (indirect
p#licy). $edangkan %ebijakan Transmigrasi diarahkan pada tiga hal p#k#k yaitu& (')
Penanggulangan kemiskinan yang disebabkan #leh ketidakberdayaan penduduk untuk
memper#leh tempat tinggal yang layak( (2) )emberi peluang berusaha dan
kesempatan kerja( (*) )em+asilitasi pemerintah daerah dan masyarakat untuk
melaksanakan perpindahan penduduk . $ementara itu, untuk wilayah %T,
pembangunan transmigrasi diarahkan untuk (') )endukung pembangunan wilayah
yang masih tertinggal, (2) )endukung pembangunan wilayah perbatasan, dan (*)
)engembangkan permukiman transmigrasi yang telah ada, pembangunan
permukiman baru secara selekti+, dan pengembangan desa-desa-permukiman
transmigrasi p#tensial. .engan berlakunya // n# 22 Tahun '""" tentang #t#n#mi
daerah, maka tatacara penyelenggaraan transmigrasi dan pendekatan yang dilakukan
harus disesuaikan terhadap tuntutan perkembangan keadaan saat ini. Pelaksanaannya
harus memegang prinsip dem#krasi, mend#r#ng peran serta masyarakat,
mengupayakan keseimbangan dan keadilan, serta memperhatikan p#tensi dan
karakteristik daerah.

PENDAHULUAN
$ebagai salah satu bentuk pelaksanaan amanat k#nstitusi0'1, hingga kini pemerintah
masih berkepentingan untuk menempatkan transmigrasi021 sebagai satu m#del
pembangunan. 2al ini berarti bahwa transmigrasi masih dipandang relevan sebagai
suatu pendekatan pembangunan guna mencapai tujuan kesejahteraan, pemerataan
pembangunan daerah, serta perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Transmigrasi
juga relevan sebagai salah satu bentuk perlindungan dan pemenuhan hak-hak dasar
manusia (human rights), yaitu perlindungan negara atas hak-hak warga (negara)
untuk berpindah dan menetap di dalam batas-batas wilayah negara-bangsanya. 3leh
karena itu, Pemerintah tetap memberikan imperati+ dan dukungan kepada pemerintah
pr#vinsi dan atau kabupaten-k#ta untuk menyelenggarakan transmigrasi0*1, sepanjang
tersedia sumber-sumber daya yang mendukungnya.
Namun demikian, kebijakan penyelenggaraan transmigrasi perlu diperbaharui, dan
disesuaikan dengan kecenderungan (trend) perubahan yang terjadi akhir-akhir ini,
terutama perubahan pada tata pemerintahan. Penyelenggaraan transmigrasi yang
selama bertahun-tahun berciri sentralistik, kini dihadapkan pada tantangan baru
berupa penerapan asas desentralisasi dan #t#n#mi, sehingga mengharuskan dilakukan
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page ' #+ '<
perubahan baik pada tataran kebijakan maupun implementasi. Pertama, transmigrasi
harus menjadi bagian integral dari pembangunan daerah dan sepenuhnya
dilaksanakan sesuai karakteristik dan k#ndisi spesi=k daerah.0!1 %edua, menguatnya
artikulasi p#litis masyarakat l#kal sebagai dampak langsung pr#ses dem#kratisasi,
mengharuskan implementasi transmigrasi berwawasan kultural.

KOREKSI ATAS PENDEKATAN LAMA

Aspek Kebijakan
$ebagai implikasi dari sistem pemerintahan yang sentralistik, kebijakan transmigrasi
berciri terpusat dengan pendekatan perencanaan t#p-d#wn dan standar. $etelah
re+#rmasi bergulir, kebijakan yang berciri sentralistik dan t#p-d#wn menjadi tidak
relevan, dan karena itu diperlukan perubahan sesuai asas #t#n#mi dan desentralisasi.
Namun demikian, dalam era re+#rmasi pemikiran ke arah perubahan kebijakan masih
berupa wacana, atau paradigma yang belum diikuti #leh perubahan perangkat
legalnya. ,mplementasi // N#. 22-'""" yang telah berimplikasi pada perubahan tata
pemerintahan dan struktur bir#krasi, belum serta-merta diikuti #leh perubahan
perangkat kebijakan makr# dan berbagai instrumen legal pendukungnya. %#reksi atas
kebijakan kebijakan transmigrasi mencakup&
Kebijakan Eksklusifsme Sentralistik !an Stan!ar
%ebijakan pembinaan masyarakat transmigrasi yang sentralistik dan standar telah
berimplikasi pada kuatnya budaya pendatang, sementara budaya l#kal nyaris tidak
berkembang. 6kibatnya terjadi penegasian budaya setempat dan rusaknya
perkembangan kultural masyarakat setempat. Pembinaan transmigrasi juga cenderung
bias pendatang. 5erbagai bantuan hanya diberikan kepada masyarakat di dalam /PT,
sementara penduduk sekitar yang tidak kalah miskin kurang memper#leh perhatian.
2al ini mengakibatkan perkembangan /PT lebih cepat dibanding desa-desa sekitar
sehingga menimbulkan kecemburuan yang rentan terhadap k#n>ik. %ebijakan
perencanaan kawasan transmigrasi yang berciri sepihak, dengan kurang (tidak)
melibatkan masyarakat sekitar telah berimplikasi pada sikap dan apatisme masyarakat
l#kal. 2al ini disebabkan salah satunya #leh sikap dan pandangan jajaran bir#krat yang
memp#sisikan diri sebagai penentu segalanya. %ebijakan ini berimplikasi pada
munculnya l#kasi-l#kasi yang tidak memiliki keterkaitan +ungsi#nal dengan
permukiman (desa) sekitar.
%ebijakan 5er#rientasi Target Penempatan %ebijakan pengerahan yang kurang
memperhitungkan kualitas transmigran, telah berimplikasi pada ketidak-sesuaian
k#ndisi transmigran. Transmigran yang didatangkan pada suatu l#kasi kurang sesuai
dengan kebutuhan pengembangan wilayah dan peningkatan kualitas hidup
masyarakat l#kal, baik menyangkut kultur budaya dan tradisinya maupun k#mpetensi
keahlian dan ketrampilannya. 2al ini bersumber dari #rientasi target pemindahan,
sistem rekruitmen yang tidak didasarkan k#mpetensi dan aspirasi masyarakat l#kal,
dan pendekatan supply dalam penempatan.

Peran Pemerinta" !an Mas#arakat
$elama lebih dari tiga puluh tahun pemerintah ,nd#nesia telah menjadi
penyelenggara dan pelaksana transmigrasi, dan berhasil membangun sejumlah besar
unit permukiman transmigrasi yang berbasis pertanian. Peran ganda tersebut
menunjukkan besarnya d#minasi pemerintah dalam pembangunan transmigrasi.
%ebijakan transmigrasi yang selama bertahun-tahun cenderung mengarahkan
masyarakat untuk bekerja di sekt#r pertanian dengan usaha pr#duksi berbasis tanah,
telah berimplikasi pada kurangnya diversivikasi p#la usaha transmigran. %#ndisi ini
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page 2 #+ '<
merupakan implikasi dari // N#. * -'"?2, yang lebih menekankan peranan
transmigrasi sebagai salah satu cara redistribusi tanah dan ekstensi=kasi pertanian.
,mplementasi // N#. '< tahun '""? sebagai pengganti // N#. * tahun '"?2,
diharapkan dapat mend#r#ng investasi swasta dalam pengembangan berbagai usaha
termasuk kegiatan pr#duksi lain di luar pertanian. Namun harus diakui bahwa p#la-
p#la permukiman transmigrasi n#n-pangan yang dibangun sebagai rintisan belum
dapat diperluas untuk dijadikan alternati+ terhadap p#la tanaman pangan dan p#la
perkebunan. P#la-p#la permukiman dengan usaha p#k#k yang berbasis kelautan, jasa,
pertambangan, dan peternakan masih belum sempat dilaksanakan secara besar-
besaran dengan melibatkan invest#r swasta. %#ndisi ini merupakan agenda yang
tertunda di masa sebelum re+#rmasi, khususnya pasca peluncuran // n#. '< tahun
'""?.

Aspek Pelaksanaan
Pada tataran implementasi, transmigrasi selama ini mengalami berbagai kendala
besar, yang kemudian berdampak pada kesenjangan antara k#nsep (kebijakan) dan
realitas pencapaian sasaran dan tujuan. %#reksi pada aspek pelaksanaan, mencakup
berbagai hal, antara lain(

Perkemban$an Ka%asan
Pemukiman transmigrasi yang dibangun pemerintah selama ini belum sepenuhnya
mampu mencapai tingkat perkembangan secara #ptimal, yang mampu men#pang
pengembangan wilayah (kawasan), baik wilayah itu sendiri atau wilayah lain yang
sudah ada. Pembangunan /PT-/PT memang dirancang agar secara ek#n#mi dapat
men#pang pertumbuhan kawasan sekitarnya, dan memberikan k#ntribusi terhadap
wilayah lain melalui distribusi barang dan jasa. Namun, dalam realitasnya banyak /PT
dan atau kawasan transmigrasi belum sepenuhnya mampu men#pang perkembangan
wilayah, bahkan banyak l#kasi yang dibangun justru berada pada p#sisi terpencil
(teris#lasi). .engan demikian pembangunan kawasan transmigrasi belum sepenuhnya
mampu mempercepat pr#ses pembangunan daerah dengan mend#r#ng terbentuknya
pusat pertumbuhan ek#n#mi. 3leh karena itu dimasa depan prinsip yang dipegang
dalam pembangunan kawasan atau l#kasi transmigrasi adalah kesesuaian dengan
7/T7.0<1, dan memungkinkan bagi pengembangan spasial secara menyeluruh.
6genda penting bagi aparat pemerintah pr#vinsi maupun kabupaten-k#ta adalah
bagaimana merumuskan k#nsep pembangunan kawasan transmigrasi secara ideal.
Penentuan l#kasi kawasan transmigrasi harus dapat mengak#m#dasikan kenyataan
keragaman p#tensi. .engan kata lain, pembangunan kawasan transmigrasi diarahkan
untuk mempercepat perkembangan permukiman yang sudah ada tetapi masih
tertinggal, serta desa-desa dan permukiman transmigrasi p#tensial agar dapat
men#pang pertumbuhan kawasan. %ultur masyarakat sekitar perlu diperhatikan,
menyangkut penerimaan penduduk l#kal terhadap pendatang dan status kepemilikan
lahan. Penyiapan l#kasi dan status lahan ke depan harus benar-benar bebas dari
masalah baik secara s#sial, kultural maupun legal. @#kasi transmigrasi yang dipilih
dapat berada pada kawasan perbatasan, kawasan cepat tumbuh dan kawasan
strategis. Pemerintah kabupaten-k#ta diharapkan mampu merumuskan k#nsep
tentang kawasan transmigrasi yang dibangun atau dirancang sesuai p#tensi dan
ketersediaan sumber daya yang ada.

&asilitasi Perpin!a"an
5erdasarkan // N#.'<-'""?, +asilitasi perpindahan penduduk dalam kerangka
transmigrasi dibedakan pada besarnya peranan pemerintah, swasta dan masyarakat,
yaitu Transmigrasi /mum (T/), Transmigrasi $wakarsa 5erbantuan (T$5), dan
Transmigrasi $wakarsa )andiri (T$)). T/ adalah jenis transmigrasi yang
pelaksanaannya sepenuhnya disubsidi #leh Pemerintah. T$5 adalah jenis transmigrasi
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page * #+ '<
yang dilaksanakan #leh Pemerintah bekerjasama dengan 5adan /saha. $edangkan
T$) adalah transmigrasi yang dilaksanakan #leh masyarakat bersangkutan secara
perse#rangan atau kel#mp#k, baik bekerjasama atau tidak bekerjasama dengan 5adan
/saha. Pada pelaksanaan T$) campur tangan pemerintah seminimal mungkin.
)eskipun masih ditemui kekurangan, mekanisme pelaksanaan T/ lebih mantap
dibandingkan kedua p#la lainnya. $edangkan pelaksanaan T$) paling tertinggal,
karena pemikiran-pemikiran untuk mengembangkan k#nsep T$) belum banyak
dilakukan. T$) yang diselenggarakan selama ini masih menggunakan k#nsep T/,
padahal dalam T$) diperlukan kriteria yang berbeda dengan T/. Pelaksanaan T$5
selama krisis ek#n#mi mengalami kendala karena invest#r yang berminat untuk
berinvestasi di l#kasi transmigrasi semakin berkurang, sehingga diperlukan pemikiran-
pemikiran untuk mengembangkan m#del T$5 sebagai alternati+.
Pembinaan )asyarakat Transmigran Pemberdayaan masyarakat transmigrasi
merupakan kegiatan pasca penempatan untuk memantapkan kehidupan s#sial-
ek#n#mi transmigran di permukiman yang telah dibangun. Transmigrasi ditempatkan
dalam kultur masyarakat pedesaan yang memiliki k#mitmen tinggi terhadap nilai-nilai
budaya, menghargai kebersamaan dan budaya l#kal serta menghendaki kemajuan
bersama. Namun demikian, pembinaan masyarakat transmigran selama ini cenderung
membuat mereka sangat tergantung pada pemberian bantuan pemerintah. 3leh
karena itu, kedepan pembangunan transmigrasi diarahkan pada (upaya)
pemberdayaan. $ebaiknya transmigran tidak dimanjakan dengan pemberian bantuan
yang menciptakan ketergantungan. Paket bantuan harus dirancang dalam kerangka
pembinaan dan pemberdayaan masyarakat menjadi mandiri. .alam kaitan ini
penentuan sasaran pembinaan perlu menggunakan ukuran minimal. Pemerintah
kabupaten harus mampu menentukan input yang diberikan kepada transmigran dan
pr#gram pengembangan masyarakat secara teknis sehingga mereka mampu tumbuh
secara mandiri.

Pen#elesaian Masala" La"an
/paya penyediaan lahan untuk pembangunan kawasan transmigrasi di beberapa
daerah belum sepenuhnya mencerminkan adanya prasyarat clear and clean, sehingga
masih dijumpai begitu banyak kasus sengketa dan k#n>ik lahan antara pemerintah
dan masyarakat adat, dan pr#ses penyelesaiannya cenderung berlarut-larut. 2ampir di
semua pr#vinsi daerah tujuan transmigrasi dijumpai kasus sengketa tanah (l#kasi)
transmigrasi yang bersumber pada gugatan masyarakat adat kawasan yang sudah
dibangun untuk permukiman transmigrasi. /paya reg#knisi yang selama ini ditempuh
masih belum memberikan kepastian hukum bagi penyelenggaraan transmigrasi,
khususnya menyangkut status lahan yang diperuntukkan bagi pembangunan
transmigrasi. 3leh karena itu, ke depan diperlukan skema dan pr#sedur pembebasan
dan penyediaan lahan untuk pembangnan transmigrasi yang secara legal bebas
gugatan masyarakat l#kal. %erjasama antara masyarakat setempat (adat) dan
pemerintah perlu ditingkatkan dalam upaya penyediaan lahan untuk kawasan
transmigrasi. .engan demikian pembebasan dan penyediaan tanah untuk
pembangunan transmigrasi menjamin adanya kepastian hukum, baik bagi masyarakat,
transmigran maupun pemerintah daerah.

PARADI'MA (ARU TRANSMI'RASI

Paradigma transmigrasi yang berciri dem#gra=s-sentris telah melahirkan berbagai
kebijakan publik yang lebih menekankan pengerahan dan pemindahan penduduk
secara besar-besaran. Pada peri#de pra-Pelita hingga peri#de Pelita ,, misalnya,
penyelenggaraan transmigrasi didasarkan atas kebutuhan untuk mend#r#ng
perpindahan penduduk sebanyak-banyaknya dari dan keluar luar 8awa. ,mplikasi
kebijakan lainnya adalah bahwa transmigrasi diselenggarakan dengan mengejar target
sasaran pemindahan secara kuantitati+. 5etapapun sejak masa Pelita ,,
penyelenggaraan transmigrasi mulai diarahkan pada upaya pembangunan daerah,
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page ! #+ '<
namun paradigma yang mendasarinya masih berciri dem#gra=s sentrik, dengan tetap
ber#rientasi pada pemindahan dan penyebaran penduduk secara besar-besaran ke
luar 8awa.
Perubahan paradigma yang terjadi secara signi=kan adalah pada masa Pelita ,,,, yaitu
perubahan dari paradigma s#sial-dem#gra=s ke paradigma ek#n#mis. Peralihan p#sisi
transmigrasi dalam pembangunan nasi#nal, dari bidang kesejahteraan s#sial ke bidang
ek#n#mi dan keuangan, menunjukkan bahwa transmigrasi bukanlah sebuah pr#gram
pembangunan yang semata-mata didasarkan atas pendangan philant#pis dan charity,
tetapi lebih merupakan pr#gram ek#n#mi. Pr#gram-pr#gram transmigrasi harus terkait
langsung dengan sekt#r ek#n#mi, yang berarti bahwa biaya-biaya untuk transmigrasi
harus diperhitungkan sebagai bagian dari investasi pemerintah. ,mplikasi yang sangat
serius dari paradigma transmigrasi yang berciri dem#gra=s-sentris adalah rendahnya
kualitas hasil pelaksanaan. 3leh karena itulah maka pada masa Pelita ,A dan A,
penyelenggaraan transmigrasi lebih diarahkan kepada peningkatan mutu (kualitas)
penyelenggaraan dan sekaligus mutu kehidupan transmigran, mencakup kualitas
pemukiman dengan mengembangkan p#la-p#la usaha lain selain p#la pangan. Pada
peri#de ini, realisasi target penempatan tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya
t#l#k-ukur kinerja kebijaksanaan.
$ejak masa Pelita A,, telah terjadi beberapa kali perubahan kabinet, yang secara
langsung berpengaruh terhadap #rientasi dan paradigma transmigrasi. $ejak masa
%abinet 7e+#rmasi, terjadilah perubahan mendasar pada tataran p#litis (p#litical will)
yang kemudian berdampak pada semakin menurunnya relevansi transmigrasi dalam
pembangunan nasi#nal. %etika itu transmigrasi diletakkan sebagai k#mp#nen
pembangunan wilayah dalam pembangunan daerah. %emudian dalam peri#de %abinet
Persatuan Nasi#nal, transmigrasi telah melebur kedalam k#nsep pembangunan multi-
sekt#ral dan desentralisasi.0B1 Perubahan perp#litikan nasi#nal dan bergulirnya
re+#rmasi, telah menjadi prak#ndisi bagi terjadinya pergeseran p#sisi transmigrasi, dari
pr#gram sekt#ral transmigrasi menjadi sekt#r pembangunan daerah dan transmigrasi.
$ebagai k#nsekuensinya, penyelenggaraan transmigrasi diarahkan untuk mendukung
pembangunan daerah, mend#r#ng persebaran penduduk dan tenaga kerja,
meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan baru pada umumnya, serta
memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.
2asil pencermatan terhadap dinamika perubahan pada masa lalu, dapat diper#leh
suatu pemahaman, bahwa pembangunan transmigrasi harus didasarkan atas
paradigma baru yang lebih relevan dengan tuntutan perubahan dan perkembangan
masyarakat. Paradigma baru yang diperlukan di masa mendatang mencakup berbagai
hal dalam spektrum sebagai berikut&
C Pengalaman pembangunan transmigrasi yang lebih mengutamakan pertimbangan
dem#gra=s-sentris, ternyata berimplikasi pada rendahnya s#lusi pemenuhan
kepentingan masyarakat (pendatang dan l#kal). %arena itu transmigrasi kedepan
haruslah didasarkan atas paradigma pemenuhan kebutuhan masyarakat.
C Pengalaman pembangunan transmigrasi yang lebih menekankan upaya pemindahan
penduduk, dalam implementasinya telah terjebak pada pencapaian target kuantitati+
pemindahan penduduk setiap tahun. %arena itu transmigrasi kedepan haruslah
didasarkan atas kebutuhan pengarahan dan persebaran penduduk secara permanen
ke daerah yang membutuhkan dan sesuai dengan peruntukkannya.
C Pengalaman pembangunan transmigrasi yang lebih menekankan pemecahan
masalah ketimpangan pembangunan antar-daerah, dalam implementasinya terjebak
pada pemerataan pr#yek transmigrasi di seluruh wilayah. %arena itu, transmigrasi ke
depan haruslah didasarkan atas kebutuhan pembangunan daerah.
C Pengalaman pembangunan transmigrasi yang lebih menekankan penyediaan +asilitas
permukiman, akhirnya terjebak pada rendahnya perkembangan ek#n#mi karena
kurang adanya jaminan pr#spek dan kepastian usaha. %arena itu, transmigrasi
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page < #+ '<
kedepan harus didasarkan atas kebutuhan untuk menyediakan peluang berusaha atau
kesempatan kerja dengan pr#spek dan jaminan kepastian usaha.

SKENARIO MASA DEPAN

Skenari) Optimistik
Transmigrasi masih diperlukan sebagai suatu pendekatan pembangunan dengan
keberhasilan yang #ptimal, jika berbagai +akt#r eksternal turut mendukungnya, antara
lain mencakup k#ndisi keamanan regi#nal, dukungan masyarakat l#kal (setempat),
kemauan p#litik pemerintahan daerah, dukungan administrasi dan pendanaan
(pembiayaan) anggaran daerah, serta tuntutan pembangunan daerah.
Pada kurun waktu 2!-2", diperkirakan e+#ria p#litik kedaerahan telah semakin
mereda.0?1 $ejalan dengan penyelenggaraan #t#n#mi daerah yang semakin membaik,
pr#ses pelembagaan p#litik nasi#nal akan mengalami kemapanan, dan #leh karenanya
diperkirakan bahwa pada tahun 2!-2" k#ndisi p#litik dan keamanan cukup ideal,
baik pada tingkat nasi#nal, regi#nal maupun l#kal. Tuntutan regi#nalisme
(pr#vinsialisme) akan semakin reda sebagai akibat langsung dari semakin kecilnya
disparitas pembangunan antar daerah. .emikian juga, pertikaian etnik dan kultural
semakin menyurut sebagai re>eksi dari peningkatan kedewasaan p#litik dan semangat
pluralisme, baik pada tingkat elite p#litik l#kal maupun masyarakat (grassr##ts).
%epercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga semakin tinggi akibat
diterapkannya prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (g##d g#vernance), dengan
indikasi transparansi dan bersih dari segala bentuk %%N. .i atas keadaan s#sial-p#litik
dan ek#n#mi (nasi#nal dan regi#nal) semacam inilah maka seluruh sekt#r
pembangunan, termasuk pembangunan transmigrasi, akan dapat meningkatkan
kinerjanya. $umber-sumber pembiayaan pembangunan juga diharapkan tidak
mengalami kendala serius apabila seluruh indikat#r ek#n#mi makr# dalam asumsi
#ptimistik ini dapat tercapai.
.engan semakin mantapnya stabilitas p#litik baik pada tingkat nasi#nal, regi#nal,
maupun l#kal, k#ndisi perek#n#mian nasi#nal akan segera pulih disertai pr#ses
dem#kratisasi ek#n#mi yang menjamin bangkitnya pengusaha kecil-menengah untuk
maju dalam persaingan yang sehat. Pada tingkat regi#nal, situasi ideal yang
diharapkan adalah, sekt#r pertanian berkembang dengan meningkatnya investasi
pada usaha agribisnis, sehingga penduduk yang merupakan jumlah terbesar bekerja di
sekt#r ini, dapat secara langsung meningkatkan kesejahteraannya. .engan semakin
mantapnya pelaksanaan #t#n#mi daerah, k#ndisi p#litik, dan perek#n#mian, maka
akan memacu terjadinya dinamika pembangunan antar-daerah. .alam k#ndisi ini
transmigrasi sangat diperlukan untuk mempercepat pembangunan daerah yang
tertinggal, serta sebagai strategi nasi#nal untuk perluasan kesempatan kerja di sekt#r
pertanian dan pengentasan kemiskinan (melalui pembekalan akses ketrampilan,
manajemen, penguasaan tekn#l#gi, akses m#dal dan pasar. Transmigrasi akan berjalan
dengan kendala yang minimal apabila pendekatan multikultural, perubahan wawasan
terhadap nilai dan n#rma dalam masyarakat (masyarakat pemukim maupun
masyarakat sekitarnya) diakui dalam strategi pembangunan nasi#nal sehingga tercipta
alkuturasi dan tidak terjadi k#n>ik s#sial. $elanjutnya pembangunan permukiman
transmigrasi dapat dilaksanakan dengan baik apabila prinsip clear and clean (baik
secara s#sial, kultural maupun legal dan tidak terjadi #kupasi), mempunyai
pr#duktivitas berkesinambungan untuk berusaha, serta ramah lingkungan dipenuhi.

Skenari) Pesimistik
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page B #+ '<
)eskipun transmigrasi masih diperlukan, tetapi resp#n p#litis dan kebijakan
pemerintah daerah masih sangat beragam. 2al ini akan terus terjadi jika pr#ses
pelembagaan #t#n#mi daerah dan desentralisasi mengalami kemacetan akibat
kurangnya pengetahuan yang cukup di kalangan aparatur daerah. ,ndikat#r ek#n#mi
makr# pada kurun waktu 2!-2" dipr#yeksikan tidak mengalami kemajuan, akibat
masih belum dicapai suatu sistem jaminan keamanan dan kepastian hukum yang
diperlukan bagi investasi asing. Pemulihan ek#n#mi makr# melalui penarikan investasi
asing dan industrialisasi masih mengalami kendala besar, karena masih belum ada
jaminan bahwa pemerintahan pada kurun masa tersebut mampu memulihkan
kepercayaan inernasi#nal.
%#ndisi keamanan regi#nal diperkirakan masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan,
karena p#tensi k#n>ik masih akan tetap tumbuh sejauh upaya-upaya pembangunan
dan pemecahan masalah ketimpangan belum dapat diselesaikan pada saat ini. 9ej#lak
p#litik pada tingkat regi#nal, termasuk sparatisme, masih akan menjadi batu
sandungan pr#ses pembangunan nasi#nal. Pemerintah daerah masih akan disibukkan
#leh semakin heter#gennya tuntutan dan artikulasi kel#mp#k-kel#mp#k dengan
kepentingan yang tidak puas akan k#ndisi pembangunan saat ini. .alam suasana yang
masih belum k#ndusi+ seperti itu, maka penyelenggaraan transmigrasi pada kurun
2!-2" akan mengalami kendala besar, menyangkut k#ndisi instabilitas regi#nal.
%endala lain adalah pada terbatasnya sumber pembiayaan negara (6P5N).

Skenari) M)!erat
Penyelenggaraan transmigrasi pada kurun 2!-2" diperkirakan tidak akan
mengalami perubahan mendasar dari situasi dan k#ndisi saat ini. $ituasi dan k#ndisi
status-Du# diperkirakan masih bertahan hingga akhir 2". .engan demikian maka
kebijakan dan strategi penyelenggaraan transmigrasi dalam kurun tersebut hanya
akan melanjutkan apa yang telah digariskan pada saat ini. .alam suasana yang masih
belum sepenuhnya k#ndusi+, maka lebih realistik jika pada kurun tersebut dilakukan
diseminasi wawasan ketransmigrasian secara lebih intensi+ kepada publik, di samping
dilakukan upaya pembenahan pada tataran k#nsep, kebijakan dan implementasi.
KE(I*AKAN DAN STRATE'I KE DEPAN

Kebijakan
Pada kurun waktu 2!-2", penyelenggaraan transmigrasi diarahkan sebagai
pendekatan untuk mendukung pembangunan daerah, melalui pembangunan pusat-
pusat pr#duksi, perluasan kesempatan kerja, serta penyediaan kebutuhan tenaga kerja
terampil baik dengan peranan pemerintah maupun secara swadana melalui kebijakan
langsung (direct p#licy) maupun tidak langsung (indirect p#licy). $edangkan %ebijakan
transmigrasi diarahkan pada tiga hal p#k#k yaitu &
E ,kut serta dalam penanggulangan kemiskinan yang disebabkan #leh
ketidakberdayaan penduduk untuk memper#leh tempat tinggal yang layak.
E )emberi peluang berusaha dan kesempatan kerja kepada masyarakat.
E )em+asilitasi pemerintah daerah dan masyarakat untuk melaksanakan perpindahan
penduduk dan mendukung pemberdayaan p#tensi sumberdaya wilayah, kawasan dan
l#kasi yang peman+aatannya kurang #ptimal agar berkembang lebih pr#dukti+.
$ementara itu, untuk wilayah %T, Pembangunan transmigrasi diarahkan&
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page ? #+ '<
E )endukung pembangunan wilayah yang masih tertinggal,
E )endukung pembangunan wilayah perbatasan,
E )engembangkan permukiman transmigrasi yang telah ada, pembangunan
permukiman baru secara selekti+, maupun pengembangan desa-desa-permukiman
transmigrasi p#tensial.

Strate$i
Pada kurun waktu 2!-2", strategi pembangunan transmigrasi dirumuskan sebagai
berikut&
Memper+epat Perkemban$an Permukiman Transmi$rasi Tertin$$al
/paya ini dilakukan melalui&
E Pengembangan kewilayahan yang ber#rientasi pada pemenuhan kebutuhan dan
penyejahteraan masyarakat pemukim (transmigran) dan penduduk setempat (l#kal).
E Penanganan pada /PT tertinggal dengan melakukan rehabilitasi ringan, sedang
maupun berat, agar dapat berkembang secara layak menjadi bagian dari
pembangunan daerah.
E Peman+aatan lahan-lahan transmigran yang belum tergarap dan kebun-kebun plasma
(perkebunan) yang belum diusahakan.

Menin$katkan Pr)!ukti,itas Tena$a Kerja Transmi$ran !an Permukiman
Transmi$rasi
/paya ini dilakukan melalui&
E Pengembangan dan peman+aatan tekn#l#gi unggulan spesi=k l#kasi , seleksi l#kasi
yang mantap, pembinaan kemandirian, pelatihan dan penyuluhan, k#nservasi lahan,
serta pemasaran untuk meningkatkan pr#duksi dan pr#duktivitas transmigran.
E Peningkatan sumberdaya manusia transmigran sebagai pelaku utama pembangunan
daerah sehingga memiliki daya saing tinggi baik dalam skala l#kal, regi#nal, maupun
nasi#nal.

Mema+u Pertumbu"an Permukiman Transmi$rasi !an Desa-!esa P)tensial
Setempat
/paya ini dilakukan melalui&
E Pengembangan desa-desa p#tensial setempat dengan penambahan penduduk dan
penyediaan in+rastruktur lingkungan dan permkiman. /paya ini penting mengingat
masih banyak desa-desa p#tensial yang tidak dapat berkembang karena jumlah
penduduknya sangat sedikit. Penempatan transmigran di desa-desa seperti ini sangat
dibutuhkan untuk menyediakan $umber .aya )anusia dan tenaga kerja dalam
mempercepat pertumbuhan desa-desa p#tensial itu.
E Pemberian perlakukan (input) kembali permukiman-permukiman transmigrasi
p#tensial sebagai pusat pr#duksi agar cepat berkembang dan dapat menarik kemajuan
desa-desa sekitarnya. %egiatannya mulai dari pr#duksi, pengembangan keterkaitan
pasar, pembangunan sarana dan prasarana pendukung, penyediaan tenaga kerja
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page F #+ '<
terampil dan input pr#duksi, alih tekn#l#gi dan manajemen pr#duksi, pengembangan
jaringan in+#rmasi perlu dilakukan secara lebih terarah.
E )end#r#ng terjadinya transmigrasi swakarsa mandiri terutama ke permukiman yang
telah berkembang untuk berusaha secara mandiri. Pemerintah dapat mem+asilitasi
mereka dengan mend#r#ng masuknya invest#r, menciptakan-menyediakan kebijakan
(regulasi, insenti+), memberikan in+#rmasi l#kasi, kesempatan kerja, dan pemberian
kredit usaha.
E )embangun permukiman transmigrasi baru secara lebih selekti+, terutama di l#kasi-
l#kasi strategis yang tidak memerlukan biaya besar, dan pembangunan =siknya dapat
dilakukan secara padat karya.

Men!ukun$ Pen$emban$an Ka%asan Perbatasan
%awasan perbatasan diartikan sebagai wilayah kabupaten-k#ta yang letaknya secara
langsung berbatasan dengan negara tetangga. Pembangunan kawasan transmigrasi
pada wilayah ini dimaksudkan untuk mendukung upaya pemerataan pembangunan.
%awasan perbatasan umumnya merupakan kawasan tertinggal dan mempunyai
keterbatasan di bidang sarana dan prasarana dasar, $.), dan keterbatasan terhadap
akses ek#n#mi. Pembangunan transmigrasi pada wilayah ini dilakukan secara selekti+
melalui&
E Pengkajian secara mendalam karakteristik wilayah perbatasan dan +akt#r-+akt#r
pend#r#ng pertumbuhan.
E Penekanan pembangunan pada aspek pemerataan, pertumbuhan, dan peningkatan
kesejahteraan masyarakat l#kal.
E Penekanan pada pengembangan ek#n#mi, yang berakses pada p#tensi $.6 l#kal
dengan peningkatan dukungan sekt#r pelayanan dasar seperti pendidikan dan
kesehatan serta sarana dan prasarana transp#rtasi.
E Pengikut-sertaan masyarakat dalam pr#ses perencanaan, pelaksanaan dan
pemantauan pr#gram-pr#gram pemberdayaan ek#n#mi.

Men!ukun$ Pen$emban$an Ka%asan Pesisir !an Pulau-Pulau Ke+il
/paya ini dilakukan melalui &
E 3ptimalisasi pengel#laan pesisir sebagai kawasan budidaya sekaligus
pengembangan usaha perikanan(
E Peman+aatan kawasan darat pada pulau-pulau kecil yang p#tensial baik sebagai
kawasan budidaya maupun usaha penangkapan ikan lepas pantai(
E )engembangkan dan mengimplementasikan k#nsep transmigrasi agr#-marine
secara k#mprehensi+ sehingga menjamin keberhasilan pembangunan transmigrasi
p#la nelayan dan perikanan.
E )endukung daerah-daerah yang memiliki kawasan kepulauan (pulau-pulau kecil) dan
kawasan pesisir yang p#tensial untuk pembangunan kawasan transmigrasi.

Men!)r)n$ Ke"arm)nisan Hubun$an Antara Mas#arakat Transmi$ran !an
Pen!u!uk Desa-!esa Sekitar
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page " #+ '<
Pembangunan permukiman transmigrasi harus mampu mempercepat keharm#nisan
hubungan antar budaya. %arena itu p#tensi k#n>ik dan disintegrasi harus dihindari.
/paya untuk meminimalisasi p#tensi k#n>ik dan disintegrasi dilakukan melalui&
E Pemberian pri#ritas pada perlakukan desa-desa di sekitar pemukiman transmigrasi
sama pentingnya dengan pembangunan pemukiman transmigrasi. 3leh karenanya
diperlukan kerjasama dengan sekt#r-sekt#r lain untuk lebih intensi+ membangun desa-
desa tersebut guna mengurangi kesenjangan yang mungkin terjadi.
E Penggalakkan s#sialisasi pembangunan transmigrasi pada masyarakat setempat,
agar tercipta pemahaman yang pr#p#rsi#nal di kalangan masyarakat setempat
terhadap eksistensi pembangunan transmigrasi.
E Pencegahan munculnya kecemburuan s#sial antara masyarakat pendatang dan
masyarakat l#kal, melalui pr#ses pembangunan kawasan yang berpihak pada
kebutuhan pembangunan daerah, serta pengk#ndisian baik pada masyarakat
pendatang maupun masyarakat l#kal untuk membentuk satu masyarakat pedesaan
yang harm#nis.

Men!)r)n$ Kerjasama Antar-Daera" untuk Pen#erasian Pemban$unan
Transmi$rasi
/paya ini dilakukan melalui &
E ;asilitasi hubungan kerjasama antar daerah dalam penyelenggaraan transmigrasi
sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing daerah.
E %erjasama yang harm#nis antar-daerah, antara daerah dengan sumberdaya yang
melimpah tetapi kurang tenaga kerja dengan daerah yang berlebihan tenaga kerja,
akan mempercepat pr#ses perpindahan secara alami dan penuh dengan rasa aman.
E )eningkatkan kerjasama antar-daerah untuk lebih menge+ekti+kan +ungsi kawasan
transmigrasi sebagai kawasan penyangga pusat pertumbuhan, antara lain dengan
membangun akses yang menghubungkan k#taGdesa-permukiman transmigrasi.
.engan ber+ungsinya permukiman transmigrasi sebagai kawasan penyangga, berarti
pula telah memberikan k#ntribusi pada upaya pembangunan dan pemberdayaan
pedesaan dan mencegah arus urbanisasi.

Menin$katkan Peranan Mas#arakat !an S%asta
/paya ini dilakukan melalui &
E Pr#m#si pengembangan kemitraan antara pemerintah, swasta dan masyarakat
dalam penyelenggaraan transmigrasi. 5erbagai pihak dapat ikut berperan dalam
pelaksanaan transmigrasi, antara lain masyarakat perse#rangan maupun kel#mp#k
seperti para pakar dan ilmuwan, @embaga $wadaya )asyarakat, 3rganisasi
)asyarakat, serta para pelaku ek#n#mi atau invest#r seperti %#perasi, 5/)N, 5/).,
$wasta, dan kel#mp#k usaha.
E Penggalakkan peran serta masyarakat dan pelaku ek#n#mi dalam bentuk
sumbangan pemikiran atau in+#rmasi, temuan-temuan tekn#l#gi terapan, jasa
pelayanan, pengadaan barang atau m#dal, bantuan tenaga s#sial untuk penyuluhan,
perpindahan, pendidikan dan pelatihan serta pembinaan masyarakat.
E Pemberian peran serta masyarakat dan pelaku ek#n#mi secara sukarela atau atas
dasar hubungan hukum tertentu dalam suatu kesepakatan antara perse#rangan,
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page ' #+ '<
kel#mp#k masyarakat, 5adan /saha di satu pihak dengan Pemerintah ()enteri,
Pemerintah .aerah) dan transmigran di pihak lain.
E Peng#ptimalan dukungan pemerintah daerah, lintas sekt#r serta partisipasi swasta
dan masyarakat (l#kal, nasi#nal, maupun internasi#nal) maka kawasan permukiman
transmigrasi akan meningkat daya tariknya dan selanjutnya berkembang menjadi
kawasan andalan daerah.
E )emacu peluang investasi di daerah transmigrasi melalui berbagai skim kredit,
penyediaan in+#rmasi tentang investasi-peluang usaha dan kesempatan kerja, serta
+asilitasi investasi di permukiman transmigrasi.
E Penyelenggaraan transmigrasi yang dikaitkan dengan peranserta invest#r ditujukan
untuk sebanyak-banyak dapat menarik perpindahan penduduk secara mandiri yang
pengembangan usahanya tidak selalu ber#rientasi pada lahan (land based).
E Pengembangan kemitraan usaha melalui pembangunan transmigrasi, perlu
ditekankan pada k#nsep pengembangan wilayah sebagai suatu pendekatan
pembangunan daerah. .engan demikian selain upaya pemerataan pembangunan
dapat tercapai, dana investasi yang dibutuhkan dapat diper#leh melalui cara yang
e=sien dan e+ekti+.

Mema+u Pemban$unan Ka%asan Timur In!)nesia
6gar pembangunan transmigrasi dimasa datang tidak menambah ketimpangan
pembangunan antara %5, dan %T, maka perlu dilakukan penetapan kebijakan dari
pembangunan transmigrasi antara lain&
E 8enis Transmigrasi. %5, relati+ lebih berkembang dibanding dengan %T, karena
in+rastruktur pembangunan lebih maju sehingga %5, mempunyai daya tarik lebih besar
dibanding %T,. %arena ketersediaan dana pemerintah untuk transmigrasi relati+ lebih
terbatas, maka k#mp#sisi perpindahan dan penempatan Transmigrasi $wakarsa
)andiri (T$)) di %5, diusahakan lebih besar dibanding Transmigrasi $wakarsa
5erbantuan (T$5). $elanjutnya, T$5 lebih besar dibanding dengan Transmigrasi /mum
(T/). /ntuk %T, dimana in+rastrukturnya relati+ belum maju dan mempunyai daya tarik
rendah, sehingga subsidi untuk perpindahan dan penempatan di %T, harus lebih besar,
dengan k#mp#sisi T/ lebih besar dibanding T$5 dan T$).
E 6sal Transmigran. %epadatan penduduk di %5, relati+ lebih padat dan persebarannya
cukup merata, maka perpindahan dan penempatan penduduk dipri#ritaskan antar
desa antar kecamatan, antar kecamatan dalam kabupaten, antar kabupaten dalam
pr#pinsi dan antar pr#pinsi dalam pulau. /ntuk %T, kepadatan penduduknya relati+
masih jarang dan persebarannya tidak merata, maka perpindahan dan penempatan
penduduk dipri#ritaskan antar pulau di wilayah N%7,, antar pr#pinsi, antar kabupaten,
antar kecamatan dan antar desa.
E Perluasan 6real Pertanian 5aru. @ahan yang tersedia untuk perluasan areal pertanian
baru di %5, sudah terbatas, dan sumberdaya kelautan juga sudah diekspl#itasi secara
intensi+, maka pri#ritas pengembangannya adalah untuk tanaman pangan,
perkebunan, perikanan dan peternakan. .i %T, lahan yang tersedia relati+ luas dan
sumberdaya kelautan belum diekspl#itasi secara intensi+, maka pri#ritas
pengembangannya yaitu perikanan kelautan dan perkebunan lebih besar dibanding
dengan peternakan dan tanaman pangan.
E 3ptimalisasi Peman+aatan @ahan /ntuk Pertanian. %etersediaan lahan dalam satu
hamparan di %5, relati+ terbatas, maka #ptimalisasi peman+aatan lahannya
dipri#ritaskan untuk pr#gram intensi=kasi lebih besar daripada ekstensi=kasi. /ntuk
%T, ketersediaan lahan dalam satu hamparan relati+ masih tersedia, maka #ptimalisasi
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page '' #+ '<
peman+aatan lahannya dipri#ritaskan untuk ekstensi=kasi lebih besar daripada
intensi=kasi.
E Perwilayahan 4k#l#gis. Perwilayahan ek#l#gis baik untuk pengembangan lahan
kering maupun lahan basah di %5, relati+ terbatas, maka pengembangannya
dipri#ritaskan untuk %el#mp#k %ecil @ahan %ering (%%@%), maupun %el#mp#k %ecil
@ahan 5asah (%%@5) lebih besar daripada %el#mp#k 5esar @ahan %ering (%5@%) dan
%el#mp#k 5esar @ahan 5asah (%5@5). /ntuk %T, perwilayahan ek#l#gis untuk
pengembangan lahan kering maupun lahan basah relati+ masih cukup besar, maka
pri#ritas pengembangan %5@% dan %5@5 lebih besar dibanding dengan %%@% dan %%@5.
E ;asilitas ,nvestasi. .i %5, in+rastruktur pembangunan relati+ sudah berkembang,
maka akses +akt#r penunjang investasi lebih baik, sehingga dalam mem+asilitasi
penanaman investasi sebaiknya menggunakan dengan bunga k#mersial. .i %T,
in+rastruktur pembangunan relati+ belum berkembang, maka akses kepada +akt#r-
+akt#r penunjang investasi harus diberi subsidi dan taH h#liday, sebagai insenti+
kepada para cal#n invest#r agar lebih tertarik untuk menanamkan investasinya ke %T,.
E ,Iin 2ak 9una /saha (29/). /ntuk menarik minat invest#r menanamkan m#dalnya
dalam pengembangan agribisnis perkebunan yang dikaitkan dengan penyelenggaraan
transmigrasi, perlu dilakukan peningkatan peri#de waktu terhadap 29/ yang
diberikan. /ntuk %5,, 29/ perlu ditingkatkan lebih dari * tahun hingga mencapai
peri#de penanaman kedua. /ntuk mendukung percepatan pembangunan %T,, maka
29/ yang diberikan lebih lama daripada di %5,.
E )embangun Pusat Pertumbuhan. .i %5, relati+ sudah berkembang dan banyak
terbentuk pusat-pusat pertumbuhan, maka pr#gram pembangunan di %5, ber+ungsi
untuk mendukung pusat-pusat pertumbuhan yang telah ada.$edangkan di %T, pr#gram
transmigrasi ber+ungsi untuk mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan baru.

Mema+u Keber"asilan Implementasi Ot)n)mi Daera"
/paya ini dilakukan melalui &
E Pemberian dampingan dan layanan atas peningkatan kapasitas kelembagaan
pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan transmigrasi. Terjadinya pr#ses
perpindahan penduduk karena adanya daya tarik daerah lain sangat tergantung dari
keberhasilan daerah dalam melaksanakan #t#n#mi daerah, dengan kewenangannya
secara #t#n#m mengatur sumberdaya yang ada di daerah untuk pembangunan
daerah.
E Pemberian bimbingan, arahan, pelatihan dan supervisi untuk penyerasian
pembangunan transmigrasi pada masing-masing daerah sangat diperlukan sehingga
menciptakan dinamika pembangunan yang k#ndusi+ bagi terselenggaranya
transmigrasi.

PENUTUP

Perubahan lingkungan strategis yang terjadi di ,nd#nesia menjelang akhir abad 2 ini
seharusnya tidak menjadi alasan untuk menegasikan esensi k#nsep transmigrasi yang
p#tensial besar untuk membawa kesejahteraan bagi penduduk. 2arus diakui bahwa
selama ini ada kesalahan dalam pelaksanaan transmigrasi yang bersumber pada
penetapan target, penempatan yang tidak realistis dan mengakibatkan serangkaian
kegagalan. ,mplikasi yang ditimbulkan dari pr#gram transmigrasi bukan hanya bersi+at
dem#gra=s (penambahan penduduk di suatu daerah) tetapi jauh lebih luas. .engan
demikian transmigrasi sebenarnya telah menjadi pendekatan pembangunan dengan
spektrum implikasi yang sangat luas, dari penyediaan lapangan (kesempatan) kerja
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page '2 #+ '<
bagi penduduk miskin, pelaksanaan landre+#rm (redistribusi lahan), ekstensi=kasi
pertanian, hingga penambahan in+rastruktur yang cukup berarti dalam k#nteks
pembangunan daerah.
.engan berlakunya // n# 22 Tahun '""" tentang #t#n#mi daerah, maka tatacara
penyelenggaraan transmigrasi dan pendekatan yang dilakukan harus disesuaikan
terhadap tuntutan perkembangan keadaan saat ini. Pelaksanaannya harus memegang
prinsip dem#krasi, mend#r#ng peran serta masyarakat, mengupayakan keseimbangan
dan keadilan, serta memperhatikan p#tensi dan karakteristik daerah. Peran
pemerintah pusat dan daerah dalam penyelenggaraan transmigrasi tercermin pada
kewenangan masing-masing dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat.
.alam penyelenggaraan transmigrasi tidak hanya pemerintah saja yang
berkepentingan. 5erbagai pihak lain penting untuk ikut berperan dalam pelaksanaan
transmigrasi, antara lain masyarakat perse#rangan maupun kel#mp#k seperti para
pakar dan ilmuwan, @embaga $wadaya )asyarakat, 3rganisasi )asyarakat, serta para
pelaku ek#n#mi atau invest#r seperti %#perasi, 5/)N, 5/)., $wasta, dan kel#mp#k
usaha.
Pembangunan transmigrasi tahun 2!-2" akan berjalan dengan baik apabila
asumsi-asumsi sebagai berikut terpenuhi, yaitu & #t#n#mi daerah berjalan dengan
baik, kestabilan p#litik semakin mantap, perkembangan perek#n#mian cenderung
membaik, serta k#ndisi s#sial, budaya, dan lingkungan semakin p#siti+

A.UAN PUSTAKA

5ir# Perencanaan, '""F. 7umusan $eminar 7e+#rmasi Pembangunan Transmigrasi
.epartemen Transmigrasi dan PP2. 8akarta
.epartemen Transmigrasi dan PP2, '""F. // N#. '< Tahun '""? tentang
%etransmigrasian. 8akarta
.epartemen Tenaga %erja dan Transmigrasi 7.,, 2*. 7ep#sisi Pengel#laan
Transmigrasi $ebuah P#licy Paper, 8akarta.
.itjen )#bilitas Penduduk, 22. %ebijakan )#bilitas Penduduk. .epartemen Tenaga
%erja dan Transmigrasi. 8akarta
.itjen Pemberdayaan $umberdaya %awasan Transmigrasi, 2'. 7umusan $eminar
Perencanaan dan Pembangunan %awasan Transmigrasi .alam Paradigma 5aru. 8akarta,
.itjen P$%T, 22. %ebijakan Pemberdayaan $umberdaya %awasan Transmigrasi.
.epartemen Tenaga %erja dan Transmigrasi. 8akarta
.it. 4valuasi Pembiayaan dan ,n+#rmasi %euangan .aerah, 22. %eterpaduan
Pembiayaan 6ntara $ekt#ral, .ek#nsentrasi dan Tugas Pembantuan. .itjen
Perimbangan %euangan Pusat dan .aerah.
.j#k# Puguh dkk, 22. %riteria %eberhasilan %awasan Transmigrasi. Pusat @itbang
%etransmigrasian. 8akarta
%ant#r )eneg Transmigrasi dan %ependudukan, 2. P#k#k-P#k#k Pikiran 2asil
7ak#rnas Pembangunan Transmigrasi dan %ependudukan. Tema Paradigma 5aru dan
%ebijakan Transmigrasi dan %ependudukan .alam 7angka )emacu Pembangunan
.aerah. 8akarta.
%eputusan Presiden 7., N#. '?? Tahun 2, tentang $usunan 3rganisasi dan Tugas
.epartemen, )enteri Tenaga %erja dan Transmigrasi. 8akarta
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page '* #+ '<
%ep. )en. Tenaga %erja dan Transmigrasi 7., N#& %ep-2*-)en-2', tentang 3rganisasi
dan Tata kerja .epartemen Tenaga %erja dan Transmigrasi. 8akarta
%ep. )endagri N#. '* G B? Tahun 22, tentang Pengakuan %ewenangan
%abupaten-%#ta. 8akarta
)enteri Tenaga %erja dan Transmigrasi 7,, 2', 7encana $trategik .epartemen
Tenaga %erja dan Transmigrasi Tahun 2'-2!. $ekretariat 8enderal .epartemen
Tenaga %erja dan Transmigrasi. 8akarta
Puslitbang %etransmigrasian, 22. Naskah 6kademik 6rah %ebijakan %etransmigrasian
Tahun 2!-2" (belum diterbitkan). 8akarta
Puslitbang Transmigrasi, '""". 7umusan $eminar Nasi#nal Aisi .an )isi Pembangunan
Transmigrasi .alam )engantisipasi Pergeseran Tuntutan Pembangunan. 8akarta
Puslitbang %etransmigrasian, 2'. 7umusan ;#rtasi Pengembangan %ebijakan
%etransmigrasian .an )#bilitas Penduduk )endukung Pembangunan .aerah.
.epartemen Tenaga %erja dan Transmigrasi. 8akarta
Puslitbang %etransmigrasian, 2'. 7umusan J#rksh#p Pengembangan %ebijakan
%etransmigrasian )enuju )asa .epan. .epartemen Tenaga %erja dan Transmigrasi,
8akarta
PP N#. 2 Tahun '""", tentang Penyelenggaraan Transmigrasi.
PP N#. 2< Tahun 2, tentang %ewenangan Pemerintah dan %ewenagan Pemerintah
Pr#pinsi sebagai .aerah 3t#n#m.
7etn# 6nggraini,dkk, 22. $tudi Pengembangan %ebijakan Transmigrasi %e .epan,
Puslitbang %etransmigrasian. 8akarta
// 7,. N#m#r 2< Tahun 2, Tentang Pr#gram Pembangunan Nasi#nal (P73P4N6$)
Tahun 2-2!. Penerbit :A. Tamita /tama. 8akarta
0'1 %#nstitusi yang utama dan terutama adalah // N#.'<-'""?, PP N#.2 '""", dan PP
N#. 2?. '""!, serta 952N '""F.
021 Transmigrasi adalah perpindahan penduduk secara sukarela untuk meningkatkan
kesejahteraan dan menetap di Jilayah Pengembangan Transmigrasi atau @#kasi
Permukiman Transmigrasi (//. N#. '< Th '""")
0*1 Penyelenggaraan transmigrasi adalah kegiatan penataan dan persebaran
penduduk melalui perpindahan ke dan di Jilayah Pengembangan Transmigrasi dan
@#kasi Permukiman Transmigrasi untuk meningkatkan kesejahteraan dengan kegiatan
penyiapan permukiman, pengarahan dan penempatan serta pembinaan masyarakat
transmigran dan pembinaan lingkungan permukiman transmigrasi (5ab %etentuan
/mum, PP N#. 2 Th '""").
0!1 Penyelenggaraan transmigrasi #leh Pemerintah .aerah sey#gyanya didasarkan
atas kebutuhan pembangunan daerah, terutama kebutuhan akan sumber daya
manusia (tenaga kerja pr#dukti+) guna pengembangan kawasan.
0<1 .i samping harus mempertimbangkan persyaratan kelayakan sebagai tempat
hunian dan tempat usaha, menyangkut ketersediaan sumber air bersih, kemiringan,
dan kesuburan lahan yang baik.
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page '! #+ '<
0B1 2al ini dicirikan dengan tidak dicantumkannya transmigrasi secara eksplisit sebagai
pr#gram dalam 952N tahun 2-2!. 5erbeda dengan 952N pada era sebelumnya
yang mencantumkan transmigrasi di dalamnya, pada 952N Tahun 2-2!
transmigrasi dinyatakan secara implisit dalam berbagai arahan kebijakan
pembangunan.
0?1 6palagi jika revisi atas // N#. 22-'""" dapat segera dilakukan, sehingga lebih
mempertegas desentralisasi kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah
dapat melaksanakan kewenangannya dengan baik. Pengaturan dan pelaksanaan
peran dan kewenangan masing-masing tingkat pemerintahan diperkirakan semakin
mantap. %ejelasan aturan pelaksanaan #t#n#mi daerah sekaligus akan mempertegas
#t#ritas pemerintah Pusat, Pr#pinsi, serta %abupaten-%#ta. $elain upaya revisi atas //
22-'""", juga dilakukan penataan ulang struktur #rganisasi pemerintahan daerah,
termasuk pembenahan kuali=kasi aparatur daerah. Prakarsa perbaikan menyeluruh
atas aturan pelaksanaan #t#n#mi daerah diperkirakan akan menghasilkan
pemerintahan yang kuat, e+ekti+, dan kredibel baik di Pusat, Pr#pinsi maupun
%abupaten-%#ta.
)4)5,.,% 6762 %45,86%6N T76N$),976$, P6$:6 74;37)6$, Page '< #+ '<