You are on page 1of 16

Kinerja Anggota Legislatif Perempuan di DPRD Kabupaten Banyumas Periode 2009-

201
06/02/2014
Penda!uluan
Pada bidang politik, keterwakilan perempuan secara nasional mengalami kenaikan dari
pemilihan umum 1999 sebesar 9%. ata !istem "n#ormasi $ender dan %nak &!"$%'
(abupaten )an*umas, menekankan bahwa saat ini keterwakilan perempuan dalam bidang
tersebut masih rendah. +endahn*a keterwakilan perempuan dilihat dari sedikitn*a
perempuan *ang men,adi anggota P+ (abupaten )an*umas. !eperti dapat dilihat pada
tabel terlampir dibawah,
(emudian persentase perempuan *ang menduduki kursi (omisi di P+ (abupaten
)an*umas dapat dilihat pada tabel terlampir dibawah-
)erdasarkan in#ormasi tersebut, ,umlah perempuan *ang menduduki kursi dewan masih
sangat minim. .enurut data !"$%, keterwakilan perempuan di )an*umas meningkat dari /
orang &10,01%' pada periode 200422009 men,adi 1 orang &16%' pada periode 200922014.
!edangkan ,umlah pemilih tetap perempuan *ang terda#tar sebagai pemilih tetap di (P3
*akni 616.409 ,iwa dan *ang menggunakan hak pilihn*a han*a 44/.111 ,iwa. Pemilih
perempuan tidak selalu memilih calon legislati# perempuan. %rtin*a, belum ada
keperca*aan mereka terhadap perempuan dalam memimpin.
$una mewu,udkan good governance di tingkat (abupaten, kiner,a perempuan di lembaga
legislati# tersebut memiliki hubungan erat terhadap tingkat kese,ahteraan perempuan *ang
mereka wakili. Pelaksanaan tugas dan #ungsi legislati# dalam hal ini erat kaitann*a dengan
mengatasi permasalahan perempuan. ari ,umlah perempuan di P+ (abupaten
)an*umas *ang sedikit ini, maka penting dan perlu mengka,i kiner,a mereka khususn*a
dalam usaha mengatasi persoalan perempuan di (abupaten )an*umas.
"etodologi
Penelitian ini dilakukan dengan metode deskripti# kualitati#. 5okasi penelitian dilakukan di
Purwokerto. Penelitian ini mem#okuskan pada kiner,a anggota dewan perempuan P+
(abupaten )an*umas dalam pelaksanaan #ungsi P+ *akni #ungsi legislasi, #ungsi
anggaran, #ungsi pengawasan dan #ungsi perwakilan. !asaran penelitian ini diantaran*a
pihak eksekuti# dan pihak legislati#. 6enis data *ang digunakan adalah data primer dan data
sekunder. 7eknik pengambilan in#orman dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
purposive sampling. !umber data melalui wawancara, obser8asi dan dokumentasi. 9aliditas
data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber. !edangkan analisis data *ang
digunakan berupa analisis interakti#. .iles dan :uberman &dalam !ugi*ono, 2012-246'
mengemukakan bahwa akti8itas dalam analisis data kualitati# dilakukan secara interakti#
dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datan*a sudah ,enuh.
Kinerja yang Belum Berdampa# pada Perempuan
(iner,a perempuan di P+ diharapkan dapat memberikan kontribusi atas kebi,akan *ang
dikeluarkan. .enurut "hromi &1990-2/1' para penegak hukum haruslah diberi sebuah
pemahaman tentang situasi *ang dialami perempuan ketika men,adi korban dari tindakan
kriminal *ang penuh kekerasan, termasuk ke,ahatan dengan serangan terhadap perempuan

dan *ang mengakibatkan cedera #isik serta guncangan psikologis. .engacu pada hal
tersebut haruslah dibuat peraturan *ang mendasari tindakan hukum di daerah agar korban
kekerasan tersebut cepat tertangani, seperti *ang ,uga tercantum pada 5ampiran 3ndang2
undang ;omor / tahun 1914 tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap
perempuan.
<eremias 7. (eban &2004-190' mende#inisikan kiner,a sebagai- =tingkat pencapaian hasil
(the degree of accomplishment) atau dengan kata lain kiner,a merupakan tingkat pencapaian
tu,uan organisasi=. (iner,a &performance' merupakan suatu kegiatan *ang sangat penting
karena dapat digunakan sebagai ukuran suatu organisasi dalam kurun waktu tertentu.
Penilaian tersebut dapat ,uga di,adikan input bagi perbaikan atau peningkatan kiner,a
organisasi. Pengukuran kiner,a organisasi pada sektor publik ini meliputi enam aspek
menurut .ohamad .ahsun &2006-41', *aitu &1' %spek .asukan (Input)> &2' %spek Proses
(Process)> &4' %spek (eluaran (Output)> &4' %spek :asil (Outcomes)> &0' %spek .an#aat
(Benefit)> &6' %spek ampak (Impact).
Pertama, aspek masukan (input), pada aspek ini dibahas kompetensi serta kemampuan diri
dari anggota dewan dalam menghadapi masalah ketimpangan gender *ang ada saat
melaksanakan #ungsin*a. )elum tercapain*a pemenuhan kuota perempuan pada setiap
daerah pemilihan, memaksa perempuan *ang tidak memiliki kemampuan dalam
mengemban amanah mas*arakat untuk ma,u men,adi caleg. %ktor2aktor perempuan
karbitan secara terbuka bergerak memasuki lintasan kekuasaan, tanpa terbebani oleh
konstruk buda*a maupun struktur *ang menghambatn*a. Partai *ang telah memiliki =nama?
membuat para perempuan *ang ma,u pencalegan memenangi kursi P+ tanpa perlu lagi
men*amakan 8isi misi *ang dimiliki perempuan itu sendiri. @ara seperti ini keban*akan
tidak diikuti dengan peningkatan kapasitas diri dalam berideologi, berkomitmen,
berpengetahuan, dan berketerampilan agar makin kuat dan menun,ukkan perann*a secara
optimal.
!elama per,alanan 7ahun 2009 hingga akhir masa ,abatan, kiner,a anggota dewan
perempuan dalam memper,uangkan hak perempuan dinilai masih minim. :al ini tampak
pada rendahn*a usaha mereka untuk meningkatkan kualitas diri dalam melihat isu2isu
keperempuanan. 6ustru anggota P+ laki2laki *ang lebih 8okal dan memegang kendali
atau dengan kata lain anggota dewan laki2laki men,adi pemegang utama alur isu2isu lokal
baik pada tataran #raksi maupun komisi.
7ingkat representasi perempuan dalam parlemen ,ika dilihat dari segi kuantitas ,elas
mengalami kenaikan. ;amun keberhasilan tersebut masih men*isakan beberapa persoalan
terutama *ang paling mendasar adalah kemampuan diri dari setiap anggota dewan. Perlu
sebuah strategi multidimensi agar meningkatn*a ,umlah keterwakilan perempuan dalam
parlemen dibarengi pula dengan meningkat dan menguatn*a kapasitas dan kompetensi
perempuan.
%nggota P+ perempuan *ang telah memiliki akses dalam arena politik tidak
diman#aatkan, berdasarkan kebi,akan affirmative action *ang bertu,uan agar perempuan
semakin dapat memengaruhi kebi,akan secara langsung serta berorientasi memberda*akan
kaum perempuan secara lebih n*ata. .enurut 7homas dan Aelch &dalam ;ur "man !ubono,
6urnal !osial emokrasi, 2009>60' anggota parlemen perempuan memiliki kecenderungan
untuk memberikan prioritas *ang besar dibandingkan dengan anggota parlemen laki2laki
dalam kebi,akan *ang berkaitan dengan isu2isu seperti keluarga, anak2anak, pendidikan,
kesehatan dan perempuan. )erperan sebagai mitra se,a,ar dengan laki2laki dalam
pembangunan berarti perempuan telah dapat menge,ar berbagai ketertinggalann*a dan
memun*ai kesempatan *ang sama untuk berperan serta dalam pembangunan, sehingga
minimal dapat memberikan ,awaban atas permasalahan perempuan di )an*umas.
(edua, aspek proses (process) digunakan untuk melihat pelaksanaan #ungsi anggota P+
perempuan. <akni bagaimana mereka melakukan akti8itas dalam proses agenda *ang dibuat
serta bagaimana langkah *ang mereka lakukan dalam men*elesaikan isu2isu lokal
perempuan. Proses melaksanakan #ungsi dewan kini tumpang tindih dengan proses
kampan*e. (epentingan diri mereka masih men,adi prioritas utama dalam proses
melaksanakan #ungsi P+, terlebih mendekati pemilu legislati# ini, ban*ak anggota
P+ *ang memilih pulang cepat untuk menemui konstituenn*a sekaligus melakukan
sosialisasi tentang dirin*a *ang ma,u pada pencalonan legislati#. %kibatn*a *ang ter,adi
permasalahan perempuan len*ap, han*a tinggal laporan dan data.
(ehadiran perempuan dalam pembuatan dan pengambilan keputusan diharapkan dapat
mendorong ter,adin*a se,umlah perubahan atas kebi,akan *ang diputuskan. !elain itu
kepentingan perempuan dapat lebih terwakili dan mereka dapat mendukung berbagai
kebi,akan *ang memberikan man#aat kepada perempuan. 7emuan penelitian menun,ukkan
anggota P+ perempuan masih relati# terbatas dalam meman#aatkan hak inisiati#n*a
untuk men*usun +ancangan Peraturan aerah. )eban mendasar *ang dihadapi perempuan
saat ini adalah tekanan struktural partai *ang begitu membelit dihadapi kaum perempuan,
terutama erat kaitann*a dengan lapangan ker,a, la*anan kesehatan dasar, hak2hak
pendidikan, serta kebebasan dalam berartikulasi. !e,auh ini problem2problem semacam itu
,arang mendapat perhatian dalam bentuk kebi,akan daerah *ang konkret. (urangn*a
respons anggota P+ perempuan membuat permasalahan perempuan di (abupaten
)an*umas masih tidak teratasi.
.enurut pandangan :annah %rent &dalam :astanti Aid*, 2010-441' masalah kuantitas
bukanlah masalah penting, *ang terpenting adalah tindakan politik apa *ang dapat
dilakukan dalam posisi itu. 6ika ,umlah ban*ak, namun *ang dilakukan masih sebatas ker,a
&labour' dan kar*a &work', hal ini tidak akan mencapai Human ondition, *aitu ketika
sebuah tindakan merupakan akti8itas produkti#, bukan dalam hal material &uang sa,a', tetapi
termasuk memper,uangkan nasib sesama demi sebuah kesetaraan.
%nggota dewan perempuan maupun laki2laki tidak dituntut untuk menguasai secara teknis
materi dan bahasa hukum dalam peraturan daerah, karena hal tersebut dapat diserahkan
kepada ahli dalam bidangn*a masing2masing. (redibilitas dan kapabilitas sembilan orang
perempuan anggota P+ dinilai masih rendah. Pada kegiatan *ang terlihat memiliki
ker,asama dan kompetensi *ang baik dengan anggota P+ laki2laki, ada *ang masih perlu
dikritisi *aitu peran partai politik *ang tetap men,adi otak dasar dalam setiap pendapat,
sehingga *ang muncul han*alah capaian partai dan bukan lagi berorientasi pada mas*arakat.
(etiga, aspek keluaran (output), membahas tentang keberhasilan anggota P+ perempuan
dalam mendesain program atau kebi,akan daerah agar memiliki perspekti# gender *ang
nantin*a akan digunakan sebagai ,awaban atas permasalahan perempuan di )an*umas.
:asil temuan *ang didapatkan adalah anggota P+ perempuan masih relati# terbatas
dalam meman#aatkan hak inisiati#n*a untuk men*usun +ancangan Peraturan aerah, dan
belum responsi# dalam melihat kebutuhan mas*arakat. Pada #ungsi penganggaran pun
terlihat belum terwu,ud anggaran responsi# gender *ang benar2benar tepat sasaran. 7idak
ada Peraturan aerah *ang dibuat untuk mengatasi permasalahan perempuan, han*a sa,a
beberapa isu perempuan masuk ke dalam redaksional peraturan daerah. Pada pen*usunan
peraturan daerah *ang reponsi# gender, anggota dewan perempuan harus lebih ban*ak
berperan sebagai sumber ide dan gagasan, sesuai kedudukann*a sebagai wakil rak*at dan
insan politik.
ari ban*ak kepustakaan tentang perumusan kebi,akan publik, terdapat beberapa alternati#
pen,elasan mengenai bagaimana kebi,akan publik dirumuskan. (arena akti8itas inti
perumusan kebi,akan adalah menilik berbagai alternati# *ang berkaitan dengan masalah
kebi,akan, maka alternati# pen,elasann*a adalah menggunakan model2model pembuatan
keputusan di antaran*a model rasional komprehensi#, model inkremental, dan model sistem,
&!olahudin (usuma ;egara, 2010'.
(eempat aspek hasil (outcomes), men,elaskan hasil atas kiner,a *ang telah dilakukan
anggota P+ perempuan. (ualitas kebi,akan publik ,uga menentukan implementasi *ang
tepat sasaran. Proses #ormulasi kebi,akan publik dikatakan berkualitas apabila benar2benar
dirumuskan secara dinamis, demokratis dan melibatkan berbagai pihak *ang
berkepentingan serta *ang memiliki dampak langsung atas kebi,akan tersebut. !ebagaimana
din*atakan sebelumn*a bahwa keterlibatan aktor dalam proses perumusan kebi,akan
tidaklah bebas nilai dan bebas dari kepentingan. 6ames %nderson &dalam !olahudin
(usumanegara 2010-61' menggolongkan nilai2nilai dimaksud dalam lima kelompok, *akni-
nilai2nilai politik, nilai2nilai organisasi, nilai2nilai pribadi, nilai2nilai kebi,akan dan nilai
ideologi. %pabila sebuah kebi,akan *ang dikeluarkan han*a menguntungkan pada satu nilai
sa,a maka akan dipastikan man#aat sebuah kebi,akan ,auh dari harapan dan tidak akan
mengatasi permasalahan mas*arakat. (eputusan dan kebi,akan *ang dikeluarkan P+
dari segi politis han*a lebih mementingkan golongan/ partai, kasus2kasus *ang ditangani
dan mendapat mediasi serta pendampingan han*a *ang berhubungan dengan anggota partai.
(elima, aspek man#aat &benefit) dan keenam aspek dampak (impact). %spek man#aat
men,elaskan tentang tepat gunan*a sebuah Peraturan aerah atau program *ang disahkan.
!ementara aspek dampak berisi tentang kiner,a anggota P+ perempuan dalam mengatasi
dampak dari setiap pelaksanaan Peraturan aerah dan program, baik dampak *ang positi#
maupun dampak negati#.
7emuan di lapangan memperlihatkan rendahn*a akuntabilitas pelaksanaan #ungsi P+
dan rendahn*a pemahaman atas isi peraturan daerah *ang telah dibuat mengakibatkan
P+ han*a menunggu laporan *ang masuk daripada mengecek proses implementasi dari
peraturan daerah tersebut. !ementara keluhan2keluhan *ang selama ini disampaikan oleh
mas*arakat belum semuan*a digunakan sebagai re#erensi bagi pen*usunan kebi,akan dan
penanganan kasus dalam hal ini terutama masalah perempuan.
(epentingan rak*at seharusn*a men,adi acuan ketika membahas berbagai rancangan
peraturan daerah. )erman#aatn*a sebuah peraturan adalah ketika dapat memecahkan
permasalahan mas*arakat *ang menerima langsung dampak dari peraturan *ang
dikeluarkan. Proses #ormulasi *ang tidak ban*ak melibatkan unsur mas*arakat serta
peraturan *ang dibuat semata2mata digunakan sebagai kegiatan perlombaan membuat
peraturan daerah baru, mengakibatkan permasalahan *ang ada tidak berubah. Perhatian
*ang besar terhadap permasalahan perempuan tergeser oleh ambisi partai. !elain itu
ker,asama antara legislati# dengan eksekuti# *ang kurang harmonis mengakibatkan
ter,adin*a miss communication atas apa *ang men,adi cita2cita awal dibuatn*a peraturan.
engan demikian sebesar apapun dampak *ang ditimbulkan dari sebuah peraturan ataupun
program *ang digelontorkan tidak akan diatasi secara serius.
(endala dalam proses kiner,a anggota P+ Perempuan dapat dilihat dari kendala internal
dan kendala eksternal. (endala internal *ang dihadapi adalah perempuan masih di,adikan
pelengkap dari pers*aratan konstitusi sehingga *ang berhasil duduk di kursi parlemen
adalah perempuan *ang tidak mampu secara pengetahuan dan pengalaman. Aawasann*a
terhadap permasalahan perempuan masih dinilai rendah sehingga dalam memberikan
pendapat dan masukan terhadap isu perempuan tidaklah responsi#. :al lain adalah
kurangn*a kemauan untuk mengusung gagasan dan ker,asama dengan anggota legislati#
perempuan lain dikarenakan 8isi misi mereka *ang tidak se,alan.
!ementara kendala eksternal *ang dihadapi antara lain adalah beban mendasar *ang
dihadapi perempuan saat ini *aitu tekanan struktural partai *ang begitu membelit dihadapi
kaum perempuan, sehingga mengakibatkan kiner,an*a sebagai pen*alur aspirasi mas*arakat
di daerah men,adi terbatas
Kesimpulan
)erdasarkan hasil penelitian, kesimpulan *ang dapat diambil dari aspek masukan, peran dan
kedudukan perempuan dalam lembaga legislati# selama ini adalah bahwa meskipun secara
kuantitas bertambah, namun secara kualitas tidak ban*ak membantu mengatasi kondisi
ketertindasan dan posisi marginal perempuan *ang diwakilin*a. :al ini dikarenakan tidak
ada peningkatan kualitas diri &kompetensi dan pengetahuan' dalam mengatasi isu2isu
keperempuanan. (emampuan mereka dalam membaca dan mengatasi masalah perempuan
*ang rendah mengakibatkan permasalahan *ang ter,adi tidak terselesaikan pada tataran
legislasi.
.elihat #akta tersebut maka perlu adan*a peningkatan kompetensi dan kemampuan diri
dalam mengatasi permasalahan perempuan. :al tersebut dapat dilakukan dengan cara
men,alin ker,a sama di antara perempuan anggota P+ agar tercipta sinergi dan dapat
saling mengisi kekurangan dalam melaksanakan tugas2tugasn*a. !elain itu proses
pen,aringan, pencalonan dan penetapan calon anggota legislati# harus tetap mengedepankan
kompetensi atau kecakapan/ kemampuan, kepemimpinan, kredibilitas, integritas maupun
ketokohann*a.
%genda ke depan perlu melaksanakan ker,a sama dengan lembaga2lembaga eksekuti# untuk
mengangkat isu2isu strategis terkait problem struktural *ang dialami perempuan.
Daftar Pusta#a
(eban, <eremias 7, 2004. !nam "imensi #trategis $dministrasi Publik% &onse, 'eori dan
Isu, $a8a .edia, <og*akarta
(usuma ;egara, !olahudin, 2010. (odel dan $ktor dalam Proses &ebi)akan Publik, $a8a
.edia, <og*akarta.
.ahsun, .ohamad, 2006. Pengukuran &iner)a #ektor Publik. )PBC, <og*akarta.
.oleong, 5eD* 6, 2014. (etodologi Penelitian &ualitatif, P7. +ema,a +osda (ar*a,
)andung.
.oser, @aroline E.;, 1994.*ender Planning and "evelopment% 'heor+, Practice and
'raining. +outledge, ;ew <ork
;urhaeni, "smi wi %stuti, 2010. &ebi)akan Publik Pro *ender, 3;! Press, !urakarta.
;ugroho, +iant, 2001. *ender dan $dministrasi Publik% #tudi 'entang &ualitas
&esetaraan *ender "alam $dministrasi Publik Pasca ,eformasi -../01221, Pustaka
Pela,ar, <og*akarta.
!ugi*ono, 2012. (etode Penelitian &uantitatif, &ualitatif dan ,3", %l#abeta, )andung.
7hoha, .i#tah, 2012. Birokrasi dan Politik di Indonesia, P7. +a,agra#indo Persada, epok.
7homas, !. 1994, How 4omen 5egislate. ED#ord 3ni8ersit* Press.
3ndang23ndang ;omor 1 7ahun 2012 7entang Pemilihan 3mum %nggota ewan
Perwakilan +ak*at, ewan Perwakilan aerah, an ewan Perwakilan +ak*at aerah.
Aid* ;ugroho, :astanti,2012. Peran Politik Perempuan "i 5embaga 5egislatif "itin)au
"ari Prespektif 6ilsafat politik Hannah $rendt, Bakultas Bilsa#at 3$., <og*akarta.
222 2009. ,epresentasi Politik Perempuan% #ekadar $da $tau Pemberi 4arna, 6urnal !osial
emokrasi Cdisi ke26, 7ahun 2, P"2(P<"(, 6akarta.
2222010. #istem Informasi *ender dan $nak (#I*$) &abupaten Ban+umas 'ahun 12-2,

7";6%3%; +CP+C!C;7%!" PC+C.P3%; %5%. PC."53 5C$"!5%7"B 2014
Eleh !anti +osita e8i
i keban*akan negara, pemilihan umum &pemilu' merupakan tolak ukur demokrasi. engan
adan*a proses pemilu, sebuah negara dapat dikatakan sebagai negara demokratis meskipun
baru secara prosedural. :al ini berangkat dari asumsi bahwa mas*arakat sudah mulai bebas,
sehingga dapat men*alurkan aspirasin*a dan berpartisipasi langsung untuk memilih wakil2
wakil mereka &kebebasan berserikat'. !elain itu, perlu diingat bahwa pemilu han*a salah satu
tolak ukur demokrasi &dalam arti *ang minimum atau prosedural', dan perlu dilengkapi dengan
pengukuran beberapa kegiatan lain *ang lebih bersi#at berkesinambungan seperti partisipasi
dalam kegiatan partai, lobb*ing, dan sebagain*a &)udiar,o, 2001-461'.
"ndonesia adalah sebuah negara demokratis *ang mengadakan pemilu secara langsung. !etiap
orang ,uga berhak untuk memilih dan dipilih sebagai wakil rak*at atau bahkan presiden. 7idak
ada batasan untuk calon dalam hal gender, ras, etnik, kelas, dan lain2lain. engan kata lain,
s*arat utama sang calon adalah dia seorang warga negara "ndonesia, *ang sudah siap dan
mampu untuk mencalonkan diri, baik itu sebagai anggota legislati# maupun eksekuti#
7ahun depan, pada 2014, "ndonesia akan mengadakan =ha,atan besar?*akni Pemilu 5egislati#
&Pileg' 2014. <ang menarik dalam pemilu ini adalah diberlakukann*a &kembali' peraturan
mengenai kuota 40 % perempuan. !elain kuota, (omisi Pemilihan 3mum &(P3' ,uga sudah
menerapkan peraturan terkait Pemilu 2014 dalam Peraturan (omisi Pemilihan 3mum &P(P3'
;o. / 7ahun 2014 tentang %turan Pencalonan P+, P+ Pro8insi dan P+
(abupaten/(ota> P(P3 ;o. 10 7ahun 2014 7entang Pedoman (ampan*e dan P(P3 ;o. 1/
7ahun 2014 tentang Pelaporan ana (ampan*e.
!elain untuk mengatur secara lebih rinci mengenai tata cara pemilu, termasuk proses kampan*e
dan lain2lain, peraturan2peraturan ini ,uga dibuat berdasarkan pertimbangan sebagai a##irmati8e
action
1
keterwakilan &representasi' perempuan dalam politik. alam catatan se,arah, kebi,akan
dalam rangka a##irmati8e action di "ndonesia muncul dari serangkaian per,alanan pan,ang.
.eskipun "ndonesia sudah membuat kebi,akan2kebi,akan a##irmati8e action, representasi
perempuan dalam politik masih belum bisa ter,amin secara penuh. alam hal ini, persoalan
mengenai representasi perempuan dalam politik, masih mendapat ban*ak tantangan seperti
persoalan buda*a patriarki, kurangn*a modal dan ,aringan, persoalan internal partai, serta
kuatn*a persaingan dengan calon laki2laki.
$ambaran %mum "engenai Kebija#an Pe#a $ender Di &ndonesia
e#inisi gender berbeda dengan ,enis kelamin. 6enis kelamin atau seks, mengacu pada
keistimewaan psikologis *ang sering dikaitkan dengan ciri2ciri #isik &biologis'. !edangkan
gender merupakan sebuah perbedaan tingkah laku antar ,enis kelamin *ang dikonstruksikan
oleh mas*arakat melalui sebuah konstruksi sosial2
2
&.atlin,191/-1/'. "stilah gender sendiri
digunakan pertama kali pada tahun 1190 guna menun,ukkan suatu keperca*aan terhadap
kesamaan dalam konteks seksual dan komitmen untuk menghapuskan dominasi dalam
mas*arakat, dimana perempuan dinilai lebih rendah dibandingkan dengan laki2laki. ominasi
ini mengakibatkan adan*a kesen,angan terhadap peran perempuan dan laki2laki, serta
diskriminasi pada hak2hak tertentu. iskriminasi tersebut muncul dalam berbagai hal, misaln*a
1
%##irmati8e action atau tindakan a#irmati# seperti *ang tertuang dalam (on8ensi .engenai Penghapusan !egala
)entuk iskriminasi terhadap Perempuan &@C%A dalam 33 ;o. / 7ahun 1914, Pasal 4', adalah langkah2
langkah khusus sementara *ang dilakukan untuk mencapai persamaan kesempatan dan perlakuan antara
perempuan dan laki2laki.
2
(onstruksi sosial adalah sebuah perspekti# dalam mengka,i gender. .enurut perspekti# ini, indi8idu dan buda*a,
mengkonstruksikan atau menemukan ken*ataan hidup, berdasarkan pengalaman pribadi, interaksi sosial dan
keperca*aan. alam hal ini, seorang indi8idu tidak dapat menemukan kebenaran &ken*ataann*a', dikarenakan
sistem keperca*aan mas*arakatlah *ang telah membentuk cara pandang seseorang.
sa,a dalam pengkotak2kotakkan peker,aan dimana laki2laki beker,a di ruang publik dan
perempuan berada di ruang pri8at &peker,aan rumah tangga'. :al ini berakibat pada adan*a
keterbatasan perempuan dalam ruang gerakn*a atau ter,adi ketidakadilan gender. !eperti haln*a
ras, etnik, dan kelas, gender merupakan sebuah kategori sosial *ang ,uga menentukan ,alan
hidup seseorang, serta partisipasin*a dalam mas*arakat dan ekonomi. 7idak semua mas*arakat
mengalami diskriminasi dalam hal ras, etnik, dan kelas> tetapi semua mas*arakat pasti
mengalami diskriminasi berdasarkan gender. iskriminasi ini tentu dialami dalam bentuk
kesen,angan dan perbedaan dalam tingkatan *ang berbeda2beda. !eringkali, ,uga dibutuhkan
waktu *ang sangat lama untuk mengatasi kesen,angan atau ketidakadilan ini. !alah satu hal
*ang dapat mengubah ketidakadilan gender, adalah dengan adan*a kebi,akan dan perubahan
sosial ekonomi &)ank unia, 2000- 224'.
alam memper,uangkan kesetaraan gender, "ndonesia memiliki se,arahn*a tersendiri dimana
per,uangan ini dimulai &salah satun*a' oleh tokoh perempuan "ndonesia pada masa pen,a,ahan
)elanda, +.% (artini. !edangkan dalam hal memper,uangkan kebi,akan peka gender, dalam
per,alanan se,arahn*a, "ndonesia telah melahirkan berbagai kebi,akan mengenai hal tersebut
&!ura,i- 424'.
7abel.1
a#tar (ebi,akan Peka $ender
33 ;o. 1 7ahun 19/4 Perkawinan
33 ;o. / 7ahun 1914 Pengesahan (on8esi mengenai Penghapusan
segala bentuk diskriminasi terhadap
Perempuan
33 ;o. 61 7ahun 1961 Per,an,ian tentang :ak Politik Perempuan
33 ;o. 24 7ahun 2004 Penghapusan (ekerasan dalam +umah 7angga
33 ;o. 21 7ahun 200/ Pemberantasan 7indak Pidana Perdagangan
Erang
";P+C! ;o. 9 7ahun 2000 Pengarusutamaan $ender dalam
Pembangunan
!etiap kebi,akan dibuat untuk melindung peranan perempuan dalam kehidupan bermas*arakat
dan bernegara. Pembuatan 33 ;o. 1 7ahun 19/4 mengenai perkawinan dibuat berdasarkan
pengalaman pahit perempuan se,ak masa pen,a,ahan hingga pertengahan masa Erde )aru.
alam 33 tersebut ada beberapa hal *ang diatur secara lebih komprehensi# dibandingkan
dengan peraturan2peraturan mengenai perkawinan, *ang ada sebelumn*a 2 *ang dianggap tidak
pro terhadap hak2hak perempuan dalam perkawinan. alam 33 ;o. 1 7ahun 19/4, hukum
perkawinan di "ndonesia sudah diatur dengan ,elas. !etidakn*a terdapat tiga poin penting dalam
33 ini, *ang men*angkut pemenuhan hak2hak perempuan dalam perkawinan.
Pertama, dalam hubungan &akan dan/atau saat' perkawinan, dimana ,elas diatur
ketentuanmengenai poligami, serta status istri dalam rumah tangga.
(edua, mengenai perceraian. alam kaitann*a dengan perceraian, mereka *ang bercerai harus
didasarkan pada alasan *ang benar2benar kuat, serta ada ketentuan mengenai hak gugat isteri.4
4
7erkait dengan dua poin sebelumn*a, poin ketiga, *akni adan*a kesamaan kedudukan dalam
hukum. Perempuan dan laki2laki sama kedudukann*a dalam hukum, misaln*a dalam
pembagian harta saat bercerai, kesamaan kesempatan untuk menga,ukan persidangan cerai, dll.
(emudian, dalam melindungi :ak Politik Perempuan, "ndonesia mengadopsi hasil (on8ensi
4
: ak gugat adalah hak untuk bercerai dari suami2 dengan melalui proses pengadilan. !ebelum adan*a hak gugat,
han*a pihak laki2lakilah *ang boleh menga,ukan percerai dengan hukum talak.
:ak2hak Politik Perempuan. :asil kon8ensi ini, kemudian tertuang dalam 33 ;o. 61 7ahun
1901. 33 ini berisi mengenai persamaan hak politik antara laki2laki dan perempuan, dalam hal
memilih dan dipilih. Perempuan berhak untuk memberikan suaran*a dalam semua pemilihan2
pemilihan, serta berhak untuk men,adi wakil dalam lembaga apapun dan men,alankan semua
tugas2tugas umum tanpa adan*a diskriminasi.
4
!edangkan 33 ;o. / 7ahun 1914 dibuat dalam
rangka merati#ikasi hasil !idang 3mum P)) 7ahun 19/9 mengenai (on8ensi untuk
Penghapusan !egala )entuk iskriminasi terhadap Perempuan &@on8ention on the Political
Climination o# %ll Borms o# iscrimination against Aomenatau @C%A'. @C%A sendiri
merupakan sebuah aturan &hukum tertulis', *ang memuat mengenai pelanggaran :ak %sasi
Perempuan, pelaksanaan sistem :%. *ang mengintegrasikan hak sipil2politik dan sosial
ekonomi, menghapuskan dikotomi publik2pri8at dalam mengakses, mengaktualisasi, dan
menanggulangi pelanggaran :ak %sasi Perempuan, serta memberikan de#inisi ,elas tentang
diskriminasi dan persamaan &!agala, 2004'. alam 33 tersebut ,uga terdapat 0 &lima' prinsip
kewa,iban negara, *akni pertama, men,amin hak2hak perempuan melalui hukum dan
kebi,aksanaan, serta men,amin hasiln*a &obligation o# results '.
(edua,
men,amin pelaksanaan praktis dan hak2hak itu melalui langkah2langkah atau aturan
khususdalam rangka menciptakan kondisi *ang kondusi# untuk meningkatkan kemampuan
aksesperempuan pada peluang dan kesempatan *ang ada.
(etiga,
negara tidak sa,a men,amin tetapi ,uga merealisasi hak2hak perempuan.
(eempat,
tidak han*a men,amin secara de ,ure, tetapi ,uga secara de #acto.
7erakhir, negara tidak sa,a harus mengaturn*a di sektor publik tetapi ,uga terhadap tindakan
dari orang2orang dan lembaga di sektor pri8at &keluarga' dan swasta &"hromi, 2000- 4624/'.

%dapun dalam "nstruksi Presiden &"npres' ;o. 9 7ahun 2000 mengenai Pengarusutamaan
$ender, pengarusutamaan gender dide#inisikan sebagai suatu strategi untuk mencapai
kesetaraan dan keadilan gender melalui kebi,akan dan program *ang memperhatikan
pengalaman, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahaan perempuan dan laki2laki ke dalam
perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan e8aluasi dari seluruh kebi,akan dan program di
berbagai kehidupan dan pembangunan. ;amun, "npres ini han*a mengatur ranah eksekuti# dan
pemerintahan sa,a, tetapi tidak di legislati# dan *udikati# &7he "ndonesian "nstitute, 2011-16'.
Partisipasi Perempuan dalam Politi#
!e,ak runtuhn*a masa Erde )aru pada tahun 1991, "ndonesia sudah tiga kali melaksanakan
pemilu demokratis, *akni Pemilu 7ahun 1999, 2004, dan 2009. .eskipun masih ter,adi
kecurangan di beberapa tempat mengenai persoalan administrasi, intimidasi dan mobilisasi,
serta politik uang, tetapi secara umum pemilu "ndonesia bisa dikatakan lancar &!oet,ipto,
2000-10'. 7erkait dengan hal tersebut, se,ak tahun 2004, "ndonesia telah menerapkan
a##irmati8e action dalam sistem pemilun*a, *akni dengan diterapkann*a kuota mengenai
pencalonan perempuan sebesar &minimal 40%'. )egitu pula pada Pemilu 2009, *ang bahkan
dibuat peraturan *ang lebih rinci mengenai representasi perempuan di ranah legislati#.
!edangkan men,elang Pileg 2014, aturan mengenai kuota perempuan sebesar &minimal 40%'
tetap ada, dan diperkuat dengan adan*a aturan2aturan lain &P(P3' mengenai tata cara
kampan*e, penggunaan dana kampan*e, serta aturan pencalonan.
7abel.2 33
Pemilu dalam rangka +epresentasi Perempuan
4

(ebi,akan Peraturan +epresentasi Perempuan &Pileg'
33 ;o. 12 7ahun 2004 (eterwakilan perempuan di lembaga legislati#
minimal 40%
33 ;o. 10 7ahun 2001
.inimal 40 % keterwakilan perempuan pada
kepengurusan partai politik tingkat pusat
)akal calon perempuan minimal 40 %
perempuan
alam setiap 4 &tiga' orang bakal calon,
sekurang2kurangn*a 1 &satu' orang
perempuan
33 ;o. 1 7ahun 2012
!umber - iolah dari 33 ;o.12 7ahun 2004, 33 ;o. 10 7ahun 2001, dan 33 ;o. 1 7ahun 2012.
Peraturan perundang2undangan ini dibuat dalam rangka meningkatkan kesadaran akan
pentingn*a representasi perempuan di ranah politik legislati#. !elain sebagai salah satu upa*a
a##irmati8e action,
33 tersebut diharapkan dapat men,adi produk hukum untuk =men,aring? anggota legislati#
perempuan. %nggota legislati# perempuan *ang terpilih, diharapkan mampu membawa aspirasi
perempuan di daerahn*a. :al ini berangkat dari asumsi bahwa, apabila perempuan tidak
memiliki perwakilan di parlemen, maka kebi,akan *ang lahir akan tetap memunculkan
dominasi atau kesen,angan antara laki2laki dan perempuan &bias gender' &+anti, 2014'.
;amun, dengan adan*a produk hukum *ang mengikat, bukan berarti rencana =menggalakkan?
representasi perempuan dalam Pileg, langsung terpenuhi. :al ini dikarenakan, caleg perempuan
*ang terpilih sebagai anggota P+ Periode 7ahun 200422009, masih ,auh dari ,umlah &kuota'
*ang diharapkan, *akni han*a sekitar 11 %. !edangkan pada Pileg berikutn*a, *akni pemilu
untuk memilih anggota P+ Periode tahun 200922014, pemerintah telah membuat aturan *ang
lebih komprehensi# untuk meningkatkan representasi perempuan di P+, dimana selain aturan
mengenai kuota, pemerintah ,uga mengatur mengenai ketentuan bakal calon &minimal 40%
perempuan', dan dalam setiap 4 &tiga' orang bakal calon, sekurang2kurangn*a harus ada satu
nama perempuan. alam pemilu ini, pemerintah mengkombinasikan penerapan sistem kuota,
Fipper s*stem dan aturan nomor urut. .elalui sistem ini, diharapkan representasi perempuan
setidakn*a ter,amin seban*ak 40 % calon legislati#. !elain itu, pasal *ang mengatur mengenai
bakal calon, men,adi kesempatan bagi para bakal calon perempuan untuk ada di nomor2nomor
kecil. ;amun, keinginan tersebut sirna, seiring dengan ban*akn*a partai politik *ang
memutuskan untuk beralih menerapkan aturan suara terban*ak dalam kebi,akan internal partai
&Aomen +esearch "nstitute, 2001'. :al ini diperparah dengan keluarn*a keputusan .(
mengenai ,udicial re8iew atas 33 ini. Putusan ,udicial re8iew .( terhadap 33 ;o. 10 7ahun
2001, merupakan keputusan *ang dapat dikatakan mena#ikan kebi,akan a##irmati8e action
representasi 40% kuota perempuan. alam putusan tersebut, .( memang tidak membatalkan
Pasal 04 dan 00 33 ;o. 10 7ahun 2001 tentang Pemilu *ang mengatur ketentuan kuota 40%
perempuan dan Fipper s*stem, namun dengan sistem suara terban*ak, ketentuan kouta dalam
Pasal 04 dan 00 ini, men,adi tidak bermakna &.ahkamah (onstitusi, 2010'. %dapun, dampak
dari hasil ,udicial re8iew ini adalah, ,umlah caleg perempuan *ang terpilih sebagai anggota
P+ +" Periode 200922014, han*a sebesar 11%. :asil ini tidak ,auh berbeda dengan hasil
Pileg 2009 silam. i sisi lain, i sisi lain, perlu dicatat bahwa peningkatan kuantitas anggota
P+ perempuan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitasn*a. :al ini disebabkan ban*ak
partai politik *ang belum siap untuk merekrut dan membekali anggota perempuann*a, sehingga
mereka han*a &akan' =asal comot?, demi pemenuhan kuota. (ekhawatiran *ang lebih besar
muncul, ketika ,umlah anggota P+ perempuan meningkat, namun tidak diikuti dengan
meningkatn*a kebi,akan peka gender di "ndonesia.
7abel.4
Perbandingan 6umlah %nggota P+2+"
Pemilu 6umlah %nggota P+2+"
Perempuan 5aki 5aki
1999 44 &1,1%' 400 &91,2%'
2004 60 &11%' 410 &19%'
2009 104 &19%' 41/ &12%'
!umber - Puskapol B"!"P 3", 2010
(emudian, dalam rangka persiapan Pileg 2014, pemerintah telah mengeluarkan 33 ;o. 1
7ahun 2012. !ama seperti produk hukum sebelumn*a, dalam 33 ini, pemerintah ,uga
mengatur mengenai representasi perempuan sebesar &minimal 40%'. 3ntuk mendukung 33
ini, (P3 ,uga telah membuat peraturan &P(P3'. !etidakn*a, ada tiga peraturan *ang
mendukung mengenai representasi perempuan dalam ranah legislati#.
Pertama, P(P3 ;o. / 7ahun 2014. Peraturan ini menegaskan mengenai sistem pencalonan
anggota legislati#. 3ntuk persoalan mengenai pencalonan anggota legislati# perempuan,
peraturan ini menegaskan beberapa hal seperti, kuota minimal 40 perempuan di setiap daerah
pemilihan &dapil', urutan penempatan da#tar bakal calon perempuan, dimana dalam setiap 4
&tiga' bakal calon, harus ada 1 &satu' bakal calon perempuan. engan demikian, apabila
ketentuan ini tidak di,alankan oleh partai politik, maka partai politik tidak memenuhi s*arat
pencalonan anggota legislati#. !ebagai contohn*a, seperti *ang dilansir oleh detiknews2 pada
bulan 6uni lalu, (P3 men*atakan ada 4 &empat' partai politik *ang tidak memenuhi s*arat
keterwakilan perempuan di da#tar calegn*a. Cmpat partai itu antara lain, $erindra tidak
memenuhi s*arat kuota perempuan di apil 6awa )arat &6abar' 9> PPP 6abar 2 dan 6awa 7engah
4> P%; !umatera )arat 1, dan P(P" di 6abar 0 dan 6. .aka sesuai dengan P(P3 ;o. / 7ahun
2014, maka parpol *ang tidak memenuhi s*arat kuota perempuan sebesar 40%, akan diberi
sanksi. !anksin*a adalah seluruh caleg di dapil *ang tidak memenuhi s*arat keterwakilan
perempuan din*atakan gugur dan tidak bisa ma,u dalam Pileg 2014 mendatang. Eleh karena
itu, ,ika keempat partai tersebut tidak bisa memenuhi kuota perempuan, maka setidakn*a ada
04 caleg *ang terancam tidak bisa ikut dalam Pileg 2014. &!utrisno.b, 2014'. engan adan*a
sanksi ini, maka han*a ada dua pilihan *ang tersisa bagi partai politik, *akni memenuhi kuota
perempuan *ang sudah ditetapkan, atau terpaksa menelan sanksi dari (P3 tersebut. %pabila
sanksi ini diterapkan, maka kuota perempuan minimal 40% di parlemen, akan sangat mungkin
untuk terpenuhi, terutama ,ika diikuti oleh aturan *ang ,elas dan sanksi *ang tegas.
(edua, P(P3 ;o. 10 7ahun 2014, mengenai pedoman kampan*e. %dapun poin penting dalam
peraturan ini, adalah adan*a pembatasan pemasangan baliho atau spanduk. )aliho atau spanduk
*ang dipasang dalam rangka kampan*e, tidak diperbolehkan memuat gambar &wa,ah' caleg
aggota P+ atau P+ melainkan han*a gambar partai politikn*a. !elain itu, peraturan ini
,uga memuat peraturan mengenai pembatasan alat peraga. :al ini mengingat, bahwa terkadang
para caleg perempuan tidak mempun*ai kapasitas *ang sama dalam hal pen*ediaan dana
kampan*e dengan caleg laki2laki.
(etiga, P(P3 ;o. 1/ 7ahun 2014, mengenai pelaporan dana kampan*e. )ela,ar dari
pengalaman Pileg 2009 sebelumn*a, aturan mengenai pembatasan dana kampan*e tidak ada
dalam undang2undang. :al ini berdampak pada caleg *ang ,or2,oran dalam kampan*e. Eleh
karena itulah, melalui P(P3 ;o. 1/ 7ahun 2014 ini, (P3 mengatur tentang batasan dana
kampan*e.
alam P(P3 tersebut, setiap caleg diperbolehkan menerima sumbangan dari 4 &pihak', *akni
perseorangan, kelompok, perusahaan dan/atau badan usaha non2pemerintah. 3ntuk pihak
perseorangan, batasan sumbangann*a adalah sebesar 1 miliar rupiah. !edangkan untuk
kelompok, perusahaan dan/atau badan usaha pemerintah dibatasi, maksimal sebesar /.0 miliar
rupiah.
0
engan adan*a peraturan ini, diharapkan mampu meminimalisir

semakin =liar?
2n*a kontestasi politik di "ndonesia. :al ini dikarenakan kontestasi politik tidak han*a ter,adi
dalam tataran partai politik, melainkan indi8idu dalam partai. !elain itu, caleg
perempuan *ang masih =baru?
dalam proses kontestasi politik dapat
sedikit =terlindungi? dengan adan*a batasan dana
kampan*e *ang diatur dalam P(P3 tersebut. 7ern*ata, usaha pemerintah untuk meningkatkan
representasi perempuan di ranah legislati# berbuah manis. :al ini dikarenakan dengan adan*a
33 ;o. 1 7ahun 2014 dan beberapa P(P3 tersebut, berhasil memaksa partai politik untuk
memenuhi kuota perempuan &minimal 40 %'. )erdasarkan hasil penelitian Borum .as*arakat
Peduli Parlemen "ndonesia &BE+.%PP"'
mengenai =%natomi @aleg Perempuan Pemilu 2014?, setiap partai politik, tern*ata berhasil
memenuhi s*arat kuota *ang ditetapkan oleh pemerintah. :al ini tergambar pada ,umlah caleg
perempuan *ang ada di @7 &a#tar @alon 7etap' untuk P+ +" Periode 201422019. alam
da#tar tersebut, setiap partai politik rata2rata memiliki caleg perempuan sebesar 44.20 %
!elain itu, pada Pileg 2014 nanti, baik caleg laki2laki maupun perempuan ,uga harus
menghadapi beberapa persoalan. .isaln*a, masih adan*a beberapa persoalan =warisan? dari
pemilu2pemilu legislati# sebelumn*a, *akni persoalan mengenai 6akarta2sentris , serta domisili
caleg. <ang dimaksud dengan 6akarta2sentris adalah dimana perekrutan para caleg oleh partai,
masih terbatas di wila*ah 6akarta atau 6abodetabek sa,a. %tau dengan kata lain, domisili caleg
perempuan keban*akan tidak dekat dengan konstituen &daerah pemilihann*a'. ata
BE+.%PP" menun,ukkan bahwa dalam @7 Pileg P+ 2014, sebagian besar domisili caleg
perempuan, *akni 01./ % atau sekitar 1.446 caleg berdomisili di wila*ah 6abodetabek. !isan*a
sebesar 41.4% atau sekita 1019 caleg berdomisili di luar wila*ah 6abodetabek. !edangkan
untuk domisili caleg di dapil, han*a 146 caleg atau sekitar 44.9% *ang berdomisili di wila*ah
daerah pemilihann*a, .asih adan*a persoalan terkait 6akarta2sentrisdan domisili luar dapil,
men,adikan para caleg perempuan kurang memiliki keterikatan secara psikologis dengan
konstituenn*a. :al ini men,adikan, partai politik menggunakan ,alan pintas, dengan merekrut
caleg *ang berlatar belakang artis, atau pengusaha. %rtis dipilih berdasarkan pertimbangan,
bahwa mereka lebih dikenal oleh mas*arakat luas, sehingga popularitasn*a sudah ter,amin.
!edangkan pengusaha dipilih berdasarkan kemampuann*a secara #inansial G dimana mereka
memiliki dana *ang cukup besar untuk melakukan kampan*e sendiri.
iagram. 2
(ategori @aleg )erdasarkan Peker,aan

!umber- BE+.%PP", 2014.

(etiga, modal ekonomi. !ecara ,elas, modal ekonomi mengacu pada dana *ang harus dimiliki
dan/ atau dikeluarkan oleh seorang caleg untuk bia*a kampan*e. .enurut +a* +angkuti,
irektur 5ingkar .adani untuk "ndonesia &5".%', bia*a atau dana minimal untuk kampan*e,
adalah sebesar +p. 126 miliar &!utrisno.a, 2014'. Persoalan mengenai dana kampan*e bagi
caleg perempuan merupaka persoalan *ang rumit, dibandingkan untuk caleg lak2laki. +ata2rata
caleg perempuan tidak memiliki budget *ang cukup untuk bia*a kampan*e. 5ain haln*a dengan
caleg laki2laki, *ang memiliki keberanian untuk =habis2habisan? dalam kampan*e. Para caleg
laki2laki umumn*a lebih diperca*a, karena dianggap lebih berpengalaman sehingga memiliki
potensi lebih besar untuk menang. %tas pertimbangan inilah, para caleg laki2laki lebih
berpeluang untuk mendapatkan sponsor dana dari berbagai sumber. 5ain haln*a dengan caleg
perempuan, *ang dianggap sebagai =pendatang baru? di dunia politik.
!e,alan dengan hal tersebut, <udha "rlang, akti8is $erakan Pemberda*aan !wara Perempuan,
dalam iskusi (amisan BE+.%PP" pada 21 ;o8ember 2014, mengatakan bahwa perempuan
kapok untuk mencalonkan kembali di Pileg 2014. !elain itu, masalah *ang ditimbulkan pasca
Pileg 2009 mengenai kuota minimal 40% caleg perempuan, belum usai. :al ini membuat para
caleg perempuan, *ang sebelumn*a mencalonkan diri, mulai mengurungkan niatn*a untuk
kembali mencalonkan diri di Pileg 2014, karena masalah dana. Eleh karena itulah, meskipun
dalam data @7, kuota caleg perempuan per/partai sudah melebihi kuota *ang sudah
ditentukan oleh undang2undang &sebesar 40%', caleg perempuan *ang masuk, terkesan han*a
sebagai =pelengkap? sa,a.
.enurut .eut*a 9iada :a#id, %nggota (omisi " P+ , penempatan caleg perempuan oleh
partai politik masih sebatas pers*aratan (P3 semata, bukan didasarkan pada kebutuhan politisi
perempuan di parlemen nantin*a :ingga kini, masih ban*ak partai politik *ang mengisi caleg
nomor urut pertama pada dapil tertentu, non2perempuan &6urnas.com, 19 .ei 2014'. %lasann*a
adalah kompetensi. "ni berdasarkan pertimbangan bahwa, lebih dari 40% caleg perempuan
dalam Pileg 2014, berlatar belakang seorang pengusaha. Padahal, nomor urut telah men,adi
penilaian tersendiri di mata mas*arakat. ;omor urut ,uga dinilai sebagai pemberian peringkat
eksistensi sang caleg oleh masing2masing partai politik &6urnas.com, 19 .ei 2014'. !elain
persoalan ketidakmampuan perempuan dalam kepemilikan ketiga modal tersebut, caleg
perempuan ,uga memiliki kendala ideologis dan psikologis &(aram,1999- 29'. %dapun kendala
ideologis dan psikologis *ang akan dihadapi ketika akan masuk ke parlemen, adalah
Pertama, masih adan*a ideologi gender dan pola2pola kultural maupun peran sosial *ang
ditetapkan sebelumn*a diberikan kepada perempuan dan laki2laki. !istem nilai patriarki, kaku,
dan tradisional menampilkan peran2peran *ang tersegegrasi secara seksual, dan ini disebut
sebagai =nilai2nilai kultural tradisional?
(edua, kurangn*a keperca*aan diri perempuan untuk mencalonkan diri. !uatu =buda*a
ketakutan? &culture o# #ear ' mencegah perempuan berkompetisi dalam pemilihan dan
berpartisipasi dalam kehidupan politik.
(etiga, persepsi perempuan tentang politik sebagai permainan =kotor?. i beberapa negara,
perempuan menganggap bahwa politik sebagai suatu permainan =kotor?. "ni telah memukul
rasa perca*a diri perempuan atas kemampuann*a untuk berhadapan dengan proses politik.
(en*ataann*a, persepsi seperti ini merupakan hal umum di seluruh dunia. Persepsi ini
mere#leksikan realitas di berbagai negara dengan berbagai alasan *ang berbeda2beda, namun
ada beberapa kecenderungan umum bahwa perempuan melihat politik sebagai permainan *ang
kotor &%l2:adid*, 1996-09 dalam (aram,1999-41'.
Persepsi bahwa politik itu =kotor?, selalu dikaitkan dengan korelasi antara korupsi dengan
pe,abat publik. .isaln*a, pada saat kampan*e, seorang caleg membutuhkan dana *ang besar.
engan demikian, ketika dia men,abat, dia akan melakukan korupsi sebagai ?penggantiHH
uangn*a *ang hilang. :al ini ,uga terkait dengan kasus2kasus pen*uapan dan pemerasan oleh
para pe,abat &(aram,1999-42'.
7erakhir, kehidupan perempuan *ang digambarkan dalam media massa. .edia massa, termasuk
publikasi2publikasi perempuan, tidak secara memadai mengin#ormasikan hak dan peran
perempuan dalam mas*arakat, serta tidak ,uga mengangkat isu2isu *ang berkaitan dengan
langkah2langkah pemerintah untuk memperbaiki posisi perempuan. !elain itu, ken*ataan *ang
memperlihatkan bahwa perempuan sangat teralienasi dari proses pembuatan keputusan, ,uga
diabaikan oleh media. &(aram, 1999-29244'.
(esimpulan
!e,ak Pileg 2004, "ndonesia sudah mulai memasukkan kebi,akan a##irmati8e action untuk
meningkatkan representasi perempuan dalam hal politik, khususn*a ranah parlemen &legislati#'.
"si dari kebi,akan tersebut adalah mengenai adan*a peraturan penetapan kuota perempuan
minimal 40 %. (emudian dalam Pileg 2009, a##irmati8e action diatur dalam 33 Pemilu ;o.10
7ahun 2001. !elain kuota, dalam 33 ini ,uga diatur mengenai ketentuan nomor urut dimana
dalam setiap 4 &tiga' nama bakal calon, harus ada 1 &satu' nama perempuan. :asiln*a, secara
berturut2turut, dalam Pileg 2004 dan 2009, caleg perempuan terpilih adalah seban*ak 60 orang
&11% dari total anggota P+', dan 104 orang &11% dari total anggota P+'. .en,elang Pemilu
2014, "ndonesia telah mengatur representasi perempuan melalui 33 Pemilu ;o. 1 7ahun 2012.
"si dari 33 ini, hampir sama dengan 33 Pemilu sebelumn*a. !elain itu, untuk mendukung
penerapan 33, serta dalam rangka meningkatkan keterwakilan perempuan di parlemen, (P3
membuat peraturan tertulis, *akni P(P3 ;o. / tahun 2014 &untuk aturan pencalonan', P(P3
;o. 10 tahun 2014 &pedoman kampan*e', dan P(P3 ;o. 1/ tahun 2014. ;amun, dengan
menganalisis @7 *ang ada, tampakn*a Pileg 2014 akan memiliki pola *ang sama dengan
Pileg2pileg sebelumn*a. )egitu pula mengenai kendala2kendala para caleg perempuan *ang
&,uga' akan mereka hadapi pada Pileg 2014 mendatang. %da tiga modal sekaligus tantangan
*ang harus dihadapi dan ditindaklan,uti oleh caleg perempuan, *akni modal politik, modal
sosial, dan modal ekonomi. .odal politik mengacu pada burukn*a proses rekrutmen partai.
)ahkan dalam beberapa kasus, caleg perempuan *ang dia,ukan partai, bukan merupakan kader
partai.

.odal sosial, mengacu pada masih kurangn*a ,ariangan relasi *ang dimiliki oleh caleg
perempuan, dan kurang populern*a caleg perempuan. )ahkan partai politik lebih memilih =cara
instan?, *akni merekrut artis 2 dengan pertimbangan sudah memiliki popularitas, dan
pengusaha G*ang dinilai =pun*a dana? untuk kampan*e dalam rangka raih popularitas. !elain
ketiga modal tersebut, *ang &,uga' men,adi kendala caleg perempuan adalah mengenai
persoalan ideologis dan psikologis, seperti masih adan*a ideologi gender, dan pola kultural2
sosial *ang bersi#at tradisional &buda*a patriarki'> kurangn*a keperca*aan diri dan pengalaman,
serta kapasitas caleg perempuan dalam berhubungan dengan ker,a2ker,a politik, termasuk
kemampuan berorganisasi di partai politik maupun dalam men,alankan #ungsi kedewanan>
anggapan bahwa =politik itu kotor?> serta peran media massa *ang kurang menggambarkan isu2
isu *ang berkaitan dengan langkah2langkah pemerintah untuk memperbaiki posisi perempuan
terutama dalam hal representasi politik.
+ekomendasi
)erdasarkan kebi,akan a##irmati8e action pemerintah *ang dibuat untuk meningkatkan
representasi perempuan dalam politik, serta mengingat masih ban*akn*a kendala *ang akan
dihadapi oleh caleg perempuan pada Pileg 2014 mendatang, maka penulis menga,ukan
rekomendasi sebagai berikut -
2

7erkait kebi,akan
(ebi,akan a##irmati8e action *ang tertuang dalam 33 Pemilu ;o. 1 7ahun 2012 mengenai
representasi perempuan, serta beberapa P(P3 *ang mengatur secara lebih rinci mengenai
pencalonan, pembatasan dana kampan*e, dan pedoman kampan*e, sebenarn*a sudah mampu
mengakomodir kesempatan caleg perempuan. ;amun, isi dalam 33 dan beberapa peraturan
tersebut lebih baik dika,i dan dielaborasi kembali , sesuai dengan pengalaman &kendala caleg
perempuan' dalam Pileg2pileg sebelumn*a. !elain itu, &perlu' ,uga dilakukan pengawasan dan
penerapan kebi,akan.
Pengawasan kebi,akan bisa dilakukan oleh (P3 dan mas*arakat &baik oleh mas*arakat umum,
maupun organisasi kemas*arakatan, seperti 5!.'. !edangkan dalam rangka
penerapan,sebaikn*a (P3 lebih intens dalam melakukan sosialisasi, karena seperti *ang
disampaikan oleh @hristina %r*ani, @aleg Partai $olongan (ar*a &$olkar', dalam iskusi
(amisan BE+.%PP" pada 21 ;o8ember 2014, dalam beberapa kasus, ban*ak caleg
perempuan *ang tidak tahu mengenai peraturan2peraturan (P3 *ang dibuat dalam rangka
meningkatkan representasi perempuan dalam politik.
2

7erkait kepartaian
)urukn*a proses rekrutmen partai adalah sebab utama mengapa kendala2kendala caleg
perempuan dalam Pileg sebelumn*a dinilai &akan' muncul pada Pileg 2014 mendatang. Eleh
karena itu, *ang harus diperhatikan oleh partai adalah
Pertama, membenahi proses rekrutmen partai. Partai politik diharapkan tidak merekrut calon
han*a berdasarkan latar belakang pro#esi Gseperti artis, *ang sudah memiliki popularitas di
mata mas*arakat, dan pengusaha, *ang ,elas memiliki modal ekonomi *ang mumpuni.

(edua, memberikan pendidikan politik *ang memadai bagi caleg perempuan.
!alah satu #ungsi utama partai politik, adalah memberikan pendidikan politik bagi mas*arakat.
.eskipun partai politik di "ndonesia, masih belum bisa melakukan hal ini, secara maksimal &ke
mas*arakat luas', setidakn*a partai harus memberikan pendidikan politik terhadap kader partai
atau caleg *ang mereka a,ukan. Pendidikan politik dasar *ang bisa dilakukan partai adalah
menanamkan pemahaman mengenai #ungsi legislati#, peranan perempuan dalam politik, serta
strategi kampan*e, dan pendanaan. (emudian terkait dengan proses rekrutmen partai dan
pendidikan politik, diharapkan partai politik tidak menempatkan kebi,akan a##irmati8e
actionhan*a sebagai s*arat, atau dalam tataran prosedural sa,a untuk memenuhi kuota atau
kuantitas perwakilan perempuan dalam politik di parlemen. engan kata lain, pemenuhan
kuota perempuan dalam politik harus diikuti dengan kualitas perempuan *ang memadai pula.
engan demikian, kalau memang alasan mengenai tidak ditempatkann*a caleg perempuan di
nomor 1 atau 2, adalah karena masalah kualitas dan/atau kompetensi caleg perempuan,
sebaikn*a partai politik memikirkan &kembali' mengenai pembenahan internal partai, seperti
proses rekrutmen, dan pendidikan politik. engan demikian nanti, caleg perempuan akan
memiliki kualitas dan kompetensi *ang memadai. 5ebih ,auh, caleg perempuan ,uga akan lebih
perca*a diri dan mampu bersaing dengan caleg laki2laki.
a#tar Pustaka
)uku dan 6urnal
)ank unia. 2000. =+angkuman Pembangunan )erperspekti# $ender?. alam 5aporan
Penelitian (ebi,akan )ank unia.
& http-//siteresources.worldbank.org/";7$C;C+/+esources/indonesiansumm.pd#'/ iakses
pada 11 ;o8ember 2014.
)udiar,o, .iriam. 2001.asar2dasar "lmu Politik &edisi re8isi'. 6akarta - Penerbit P7. $ramedia
Pustaka 3tama.
7he "ndonesian "nstitute. 2011. (ebi,akan esentralisasi dan Partisipasi Perempuan dalam
Pengambilan (eputusan di 7ingkat (abupaten/ (ota dan esa/ (elurahan- (ota .akassar dan
(abupaten 6a*apura, "ndonesia.
6akarta- 7he "ndonesian "nstitute dan ED#am $reat )ritain. "hromi, 7api Emas &pen*unting'.
2000. Penghapusaniskriminasi terhadap Aanita, )andung- Penerbit %lumni. 6urnas.com.
2014. =2014 @aleg Perempuan :arus (er,a 5ebih (eras?.
& http-//www.,urnas.com/news/94644/2014I@alegIPerempuanI:arusI(er,aI5ebihI(er as/1/;a
sional/Politik2(eamanan '. iakses pada 26 ;o8ember 2014.
(aram, %FFa et all. 1999. Perempuan di Parlemen - )ukan !ekedar 6umlah, )ukan !ekedar
:iasan &ter,. Aomen in Parliament- )e*ond ;umbers'. 6akarta- Penerbit <a*asan 6urnal
Perempuan.
.ahkamah (onstitusi. 2010. ="mplikasi Putusan .ahkamah (onstitusi ;omor 22224/P332
9"/2001 tentang Perkara Permohonan Pengu,ian 3ndang2undang ;o. 10 7ahun 2001 7entang
Pemilihan 3mum %nggota P+, P, dan P+ terhadap (ebi,akan %##irmati8e %ction
(eterwakilan Perempuan di P+ Pro8insi dan (abupaten !e2aerah "stimewa <og*akarta?.
& http-//www.mahkamahkonstitusi.go.id/public/content/in#oumum/penelitian/pd#/PC ;C5"7"%;
%203"".pd# '. iakses pada 24 ;o8ember 2014. .ari,an, (acung. 2006.
emokratisasi i aerah- Pela,aran dari Pilkada !ecara 5angsung
, !uraba*a- Pustaka Cureka. .atlin,.argareth A.
7he Ps*cholog* o# Aomen.
Blorida- :olt. 191/. +anti. 2014.
=Press +elease - Peningkatan (apasitas Perempuan @alon 5egislati# Pada Pemilu 2014?.
& http-//www.menegpp.go.id/82/indeD.php/component/content/article/102 gender/0422press2
release2p eningkatan2kapasitas2perempuan2calon2legislati#2pada2 pemilu22014 '. iakses pada 20
;o8ember 2014. !agala, +. 9alentina. 2004.
=20 7ahun +ati#ikasi @C%A men,adi 33 +" ;o./ 7ahun 1914 - !a*a dan @C%A?
. & http-//www.institutperempuan.or.id/JpK41 '. iakses pada 21 ;o8ember 2014. !oet,ipto, %ni
Aid*ani. 2000.
Politik Perempuan )ukan $erhana.
6akarta - Penerbit )uku (ompas.