You are on page 1of 33

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal penting pada diri manusia, dimana setiap
orang pasti menginginkan hidupnya sehat daripada sakit.
Kraniotomi adalah operasi pembukaan tulang tengkorak. Pada
pasien hidrosepalus, tumor otak, cedera kepala, dan berbagai penyakit
yang mengenai bagian dalam tengkorak sangat membutuhkan tindakan ini
tapi tindakan ini masih jarang dipilih masyarakat karena dampak yang
ditimbulkannya.
Kecemasan sebelum operasi merupakan hal yang lumrah karena
dalam operasi ini tulang tengkorak akan dibuka dan umumnya masyarakat
awam membayangkan hal ini merupakan hal yang sangat mengerikan.
Dalam makalah ini akan memperjelas tentang kraniotomi sehingga dapat
meluruskan pandangan yang salah tentang kraniotomi selama ini.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari craniotomy ?
2. Bagaimana anatomi dan fisiologi dari otak ?
3. Bagaimana etiologi dari craniotomy ?
4. Apa saja klasifikasi dari craniotomy ?
5. Bagaimana patofisiologi dari craniotomy ?
6. Apa saja manifestasi dari craniotomy ?
7. Apa saja komplikasi yang bisa terjadi pada craniotomy ?
8. Bagaiamana pemeriksaan diagnostik dari craniotomy ?
9. Bagaimana penatalaksanaan medis dari craniotomy ?
10. Bagaimana dampak kraniotomy bagi tubuh yang lain ?
11. Bagaimana indikasi dari kraniotomy ?



2

1.3 Tujuan
1. Agar pembaca mengetahui definisi dari craniotomy.
2. Mengetahui dan memahami klasifikasi serta patofisiologi dari
craniotomy.
3. Mengetahui komplikasi, pemeriksaan diagnostic, serta
penatalaksanaan medis dari craniotomy.


















3

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi
Cedera kepala adalah benturan mendadak pada kepala dengan atau tanpa
kehilangan kesadaran. ( Susan M, Tucker, Dkk. 1998).
Cedera kepala adalah gangguan traumatic yang menyebabkan gangguan
fungsi otak disertai atau tanpa disertai perdarahan intertial dan tidak mengganggu
jaringan (kontinuitas jaringan otak baik). (Brunner dan Suddart. 2000).
Epidural hematoma adalah perdarahan dalam ruang epidural diantara tulang
tengkorak dan duramater, biasanya : melibatkan fraktur temporoparietal yang
mengakibatkan laserasi arteri meningeal medialis. (Susan M, Tucker, Dkk. 1998).
Craniotomy adalah perbaikan pembedahan, reseksi atau pengangkatan
pertumbuhan atau abnormalitas di dalam kranium, terdiri atas pengangkatan dan
penggantian tulang tengkorak untuk memberikan pencapaian pada struktur
intracranial. (Susan M, Tucker, Dkk. 1998).
2.2 Anatomi dan Fisiologi
Otak adalah suatu alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat
computer dari semua alat tubuh, jaringan otak dibungkus oleh selaput otak dan
tulang tengkorak yang kuat dan terletak dalam cavum cranii. Otak terdiri dari tiga
selaput otak (meningen).
Otak terdiri dari tiga selaput otak (meningiens) :
a. Duramater (lapisan sebelah luar). Selaput keras pembungkus otak yang
berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat.
b. Arakhnoida (lapisan tengah).Selaput tipis yang memisahkan duramater
dengan piamater membentuk sebuah balon berisi cairan otak yang
meliputi seluruh sistem syaraf sentral.
4

c. Piamater (lapisan dalam). Selaput tipis yang terdapat pada permukaan
jaringan otak, piamater berhubungan dengan arakhnoid melalui struktur-
struktur jaringan ikat disebut tuberkel.
Bagian-bagian Otak :
a. Serebrum (otak besar). Merupakan bagian terluas dan terbesar dari otak,
berbentuk telur mengisi peuh depan ats rongga pada otak besar ditemukan
lobus-lobus yaitu :
1) Lobus Frontalis adalah bagian depan dari serebrum yang terletak di depan
sulkus sentralis. Lobus Frontalis pada korteks serebri terutama mengendalikan
keahlian motorik ( misalnya menulis, memainkan alat musik atau mengikat tali
sepatu) lobus frontalis juga mengatur ekspresi wajah dan isyarat tangan.
2) Lobus Parietalis, terdapat dibawah lateral dari fisura serebralis dan di depan
lobus oksipitalis. Lobus paretalis pada korteks serebri menggabungkan kesan dari
bentuk tekstur dan berat badan ke dalam persepsi umum, kemampuan matematika
dan bahasa berasal dari daerah ini, juga membantu mengarhkan posisi pada ruang
sekitarnya dan mersakan posisi dari bagian tubuhnya.
3) Lobus temporalis, terdapat di bawah lateral dari fisura serebralis dan di depan
lobus oksipitalis. Lobus temporalis mengolah kejadian yang baru saja terjadi
menjadi mengingatnya sebagai memori jangka panjang, juga memahami suara dan
gambaran, menyimpan memori dan mengingatnya kembali serta menghasilkan
jalur emosional.
4) Lobus Oksipitalis, yang mengisi bagian belakang dari cerebrum.
b. Batang Otak (trunkus serebri). Disensepalon ke ats berhubungan dengan
serebrum dan medula oblongata ke bawah dengan medula spinalis. Serebrum
melukat pada batang otak di bagian medula oblongata, pons varoli dan
mensesepalon.
c. Serebrum (otak kecil). Terletak pada bagian bawah dan belakang tengkorak
dipisahkan dengan serebrum oleh fisura transversalis dibelakang oleh pons varoli
5

dan di atas medula oblongata. Oragn ini banyak menerima serabut aferent sensoris
merupakan pusat koordinasi dan intelegensi. (Hudak dan Gallo.1996)
2.3 Etiologi

Penyebabnya belum diketahui pasti, tapi dapat diperkirakan karena :

1. Genetik
Tumor susunan saraf pusat primer nerupakan komponen besar dari beberapa
gangguan yang diturunkan sebagi kondisi autosomal, dominant termasuk sklerasis
tuberose, neurofibromatosis.

2. Kimia dan Virus
Pada binatang telah ditemukan bahwa karsinogen kimia dan virus menyebabkan
terbentuknya neoplasma primer susunan saraf pusat tetapi hubungannya dengan
tumor pada manusia masih belum jelas.

3. Radiasi
Pada manusia susunan saraf pusat pada masa kanak-kanak menyebablkan
terbentuknya neoplasma setelah dewasa.

4. Trauma
Trauma yang berulang menyebabkan terjadinya meningioma (neoplasma selaput
otak). Pengaruh trauma pada patogenesis neoplasma susunan saraf pusat belum
diketahui.

2.4 Klasifikasi

1. Glioma
Jumlah tumor otak. Tumbuh pada tiap jaringan dari otak. Infiltrasi dari
terutama ke jaringan hemisfer cerebral. Tumbuh sangat cepat, sebagian orang bias
hidup beberapa bulan sampai tahun.
2. Meningoma
6

Dari 13 % sampai 18 % merupakan tumor primer intracranial. Tumbuh dari
selaput meningeal otak. Biasanya jinak tapi bisa berubah menjadi maligna.
Biasanya berkapsul dan penyembuhan melaui bedah sangat mungkin.
Pertumbuhan kembali mungkin
3. Tumor Pituitari
Tumor pada semua kelompok umur, tapi lebih sering pada wanita. Tumbuh dari
berbagai jenis jaringan. Pendekatan pembedahan biasanya berhasil. Kekembuhan
kembali mungkin.
4. Neuroma (Schwannoma, neuro)
Neuroma akustik sangat sering. Tumbuh dari sel-sel Schwann di dalam meatus
auditori pada bagian vestibular saraf cranial III. Biasanya jinak bisa berubah
menjadi maligna. Akan tmbuh kembali bila tidak terangkat lengkap. Reseksi
bedah sukar karena lokasinya.
5. Tumor Metastase
Dari 2 % sampai 20 % penderita kanker terjadi metastase ke otak Sel kanker
menjangkau otak lewat sistem sirkulasi. Reaksi bedah sangat sukar, pemgobatan
kurang berhasil. Pemulihan dibawah satu tahun atau dua tahun tidak biasa.

2.5 Patofisiologi
Tumor otak menyebabkan gangguan neurologik progresif. Gangguan
neurologik pada tumor otak biasanya dianggap disebabkan oleh dua faktor yaitu
gangguan fokal disebabkan oleh tumor dan kenaikan tekanan intrakranial.
Gangguan fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak, dan
infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan
neuron.
Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang
bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. Gangguan suplai darah arteri
pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan
mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskuler primer.
Serangan kejang sebagai gejala perunahan kepekaan neuron dihubungkan
dengan kompesi invasi dan perubahan suplai darah ke jaringan otak. Bebrapa
7

tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga
memperberat ganggguan neurologist fokal.
Peningkatan tekanan intrakranial dapat diakibatkan oleh beberapa faktor yaitu
bertambahnya massa dalam tengkorak, terbentuknya edema sekitar tumor, dan
perubahan sirkulasi cairan serebrospinal.
Beberapa tumor dapat menyebabkan perdarahan. Obstruksi vena dan edema
yang disebabkan oleh kerusakan sawar darah otak. Semuanya menimbulkan
kenaikan volume intracranial dan meningkatkan tekanan intracranial. Obstruksi
sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel lateral ke ruangan subaraknoid
menimbulkan hidrosefalus.
Peningkatan tekanan intrakranial akan membahayakan jiwa. Mekanisme
kompensasi memerlukan waktu lama untuk menjadi efektif dan oleh karena itu
tak berguna apabila tekanan intrakranial timbul cepat.
Mekanisme kompensasi ini antara lain bekerja menurunkan volume darah
intracranial, volume cairan serebrospinal, kandungan cairan intrasel dan
mengurangi sel-sel parenkim, kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan
herniasi unkus atau serebelum yang timbul bilagirus medialis lobus temporalis
bergeser ke inferior melalui insisura tentorial oleh massa dalam hemisfer otak.
Herniasi menekan mesensenfalon, menyebabkan hilangnya kesadaran dan
menekan saraf otak ketiga. Kompresi medula oblogata dan henti pernafasan
terjadi dengan cepat.
Perubahan fisiologi lain terjadi akibat peningkatan intracranial yang cepat
adalah bradikardia progresif, hipertensi sistemik (pelebaran tekanan nadi), dan
gangguan pernafasan.

2.6 Manifestasi Klinis
1. Manifestasi klinik umum (akibat dari peningkatan TIK, obstruksi dari
CSF).
Sakit kepala
Nausea atau muntah proyektil
Pusing
8

Perubahan mental
Kejang
2. Manifestasi klinik lokal (akibat kompresi tumor pada bagian yang
spesifik dari otak) :
1. Perubahan penglihatan, misalnya: hemianopsia, nystagmus,
diplopia, kebutaan, tanda-tanda papil edema.
2. Perubahan bicara, msalnya: aphasia
3. Perubahan sensorik, misalnya: hilangnya sensasi nyeri, halusinasi
sensorik.
4. Perubahan motorik, misalnya: ataksia, jatuh, kelemahan, dan
paralisis.
5. Perubahan bowel atau bladder, misalnya: inkontinensia, retensia
urin, dan konstipasi.
6. Perubahan dalam pendengaran, misalnya : tinnitus, deafness.
7. Perubahan dalam seksual
2.7 Komplikasi
1. Edema cerebral.
2. Perdarahan subdural, epidural, dan intracerebral.
3. Hypovolemik syok.
4. Hydrocephalus.
5. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit (SIADH atau Diabetes Insipidus).
6. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 14 hari setelah operasi.
Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding
pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati,
dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi,
ambulatif dini.
7. Infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 46 jam setelah operasi. Organisme yang
paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme;
9

gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari
infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan
memperhatikan aseptik dan antiseptik.
2.8 Pemeriksaan Diagnostik
a. CT-Scan (Ceputeraise Tomografi Scanning). Untuk mengindentifikasi
luasnya lesi, perdarahan, determinasi ventikuler dan perubahan
jaringan otak.
b. MRI (Magnetik Resonan Imaging). Digunakan untuk mengidentifikasi
luas dan letak cedera.
c. Cerebral Angiography. Menunjukan anomaly sirkulasi serebral seperti
perubahan jaringan otak sekunder menjadi oedema, trauma dan
perdarahan.
d. EEG (Elektro Ensefalo Graphy). Untuk melihat perkembangan
gelombang yang patologis.
e. X-Ray. Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur) perubahan
stuktur garis
(perdarahan/oedema).
f. BAER (Brain Evoked Respone). Mengoreksi batas fungsi kortek dan
otak kecil.
g. PET (Positron Emission Tomography). Mendeteksi perubahan aktifitas
metabolisme otak.
h. Lumbal Pungsi. Dapat dikatakan jika diduga terjadi perdarahan
subarachnoid.
i. Kadar elektrolit. Untuk mengoreksi keseimbangan elektrolit sebagai
akibat
peningkatan TIK (Tekanan Intra Kranial).
j. Screen Toxicologi. Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga
menyebabkan penurunan kesadaran.
k. GDA (Gas Darah Analisa). Untuk mengetahui adanya masalah
ventilasi atau oksigen yang dapat meningkatkan TIK (Tekanan Intra
Kranial).
10

l. SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography). Untuk
mendeteksi luas dan daerah abnormal dari otak.
m. Mielografi. Untuk mengganbarkan ruang sub arachnoid sepinal dan
menunjukkan adanya penyimpangan medulla spinalis.
n. Ekoensephalografi. Untuk menentukan posisi stuktur otak dibagian
garis tengah dan jarak dari garis tengah ke dinding ventikuler atau
dinding ventikuler ke 3.
o. EMG (Elektromiografi). Digunakan untuk menentukan ada tidaknya
gangguan neuromuskuler dan miopatis. (Doengoes Marillyn.2000)

2.9 Penatalaksanaan Medis
1. Pembedahan dengan craniotomy
2. Radiotherapi
Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula
merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping : kerusakan kulit di sekitarnya,
kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang
tenggorkan.
3. Kemoterapi
Pemberian obat-obatan anti tumor yang sudah menyebar dalam aliran darah.
Efek samping : lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat,
mudah terserang penyakit.
4. Manipulasi hormonal.
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk tumor yang sudah bermetastase.
5. Psikologi
Tujuan penatalaksanaan unit gawat darurat pada injury kepala pasien yang post-
operative adalah sama sepeti pre-operativ, yakni: optimisasi physiologic. Prinsip
kontrol tekanan intracranial dan optimisasi perfusi tekanan cerebral seperti halnya
pemeliharaan oxygenation yang cukup dari perfusi darah :
a. Ventilasi
Hyperventilation bukanlah suatu therapy yang tidak berbahaya ( disebabkan
alkalosis, hypokalemia, vasoconstricsi dengan ischemia) dan bagaimanapun
secara relatif tidak efektif dalam pengerutan pembuluh darah cerebral setelah
11

beberapa jam. Normocapnia harus dirawat sedapat mungkin. Drainase CSF dari
suatu kateter/pipa ventricular dalam saluran tubuh lebih disukai untuk
mereduksi/mengurangi ICP ( dan optimisasi pada tekanan perfusion cerebral)
untuk metabolically deranging therapies seperti hyperventilation dan diuresis.
b. Fluids/cairan
Walaupun penggantian cairan bukan sebagian besar diantaranya intracranial
sebagai intra-abdominal atau perawatan intrathoracic post operasi trauma kepala
penatalaksanaan cairan adalah komplikasi perawatan pada kontrol hipertensi
intracranial seperti diuresis dan hyperventilation kedua-duanya yang mana
cenderung menyebabkan berkurangnya volume dan metabolisme alkalosis.
Solusinya Isotonik IV harus digunakan dalam semua kasus. Jumlah volume Darah
yang bagus tidak hanya meningkatkan kapasitas oksigen tetapi juga menyebabkan
unsur selularnya tidak pecah ( seperti albumin) ke dalam molekul lebih kecil yang
berdifusi ke membran alveolar dalam paru-paru dan dari intravascular ke ruang
extravascular yang membawa cairan pada paru-paru dan edema cerebral.
Pasien dengan berbagai trauma, laserasi kulit kepala, perdarahan subdural, dan
injury sering kehilangan sejumlah darah dalam jumblah yang besar pada saat itu
mereka tiba di ruang op di ICU. Transfusi diberikan kepada pasien dengan
hematocrit yang rendah pada level kritis (pada umumnya di bawah 25%)
terutama ketika disertai dengan hypotension, tachycardia, dan berkurangnya urin
output.
c. Nutrisi
Dukungan nuitrisi harus segera setelah trauma kepala craniotomy ketika pasien
bowel sounds. Pemberian makanan Enteral itu baik tidak hanya untuk mencegah
perdarahan tetapi juga nutrisi diatur melalui rute ini jadi lebih siap diserap dan
metabolisme tanpa resiko dari hepatitis, sepsis, dan komplikasi lain yang
berhubungan dengan total parenteral nutrition ( TPN)., seandainya bowel
berbunyi adalah suatu pngembalian lambat, TPN yang pertama dapat dimulai
dalam duapuluh empat jam setelah suatu operasi trauma kepala.


12

2.9 Dampak Post Cranial Terhadap Tubuh yang lain
a. Sistem Kardiovaskuler
Craniotomy bisa menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup
aktivitas atipikal miokardial, perubahan tekanan vaskuler dan edema paru.
Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler,
dimana penurunan tekanan vaskuler pembuluh darah arteriol berkontraksi.
Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis mempengaruhi penurunan
kontraktilitas ventrikel.
Hal ini bisa menyebabkan terjadinya penurunan curah jantung dan
meningkatkan atrium kiri, sehingga tubuh akan berkompensasi dengan
meningkatkan tekanan sistolik. Pengaruh dari adanya peningkatan tekanan
atrium kiri adalah terjadinya edema paru.
b. Sistem Pernafasan
Adanya edema paru dan vasokonstriksi paru atau hipertensi paru
menyebabkan hiperapneu dan bronkho kontriksi. Konsentrasi oksigen dan
karbondioksida dalam darah arteri mempengaruhi aliran darah. Bila
tekanan oksigen rendah, aliran darah bertambah karena terjadi
vasodilatasi, jika terjadi penurunan tekanan karbondioksida akan
menimbulkan alkalosis sehingga terjadi vasokontriksi dan penurunan CBF
(Cerebral Blood Fluid).
Bila tekanan karbondioksida bertambah akibat gangguan sistem
pernafasan akan menyebabkan asidosis dan vasodilatasi. Hal tersebut
menyebabkan penambahan CBF yang kemudian terjadi peningkatan
tingginya TIK.Tingginya TIK dapat menyebabkan terjadinya herniasi dan
penekanan batang otak atau medula oblongata. Akibat penekanan pada
medulla oblongata menyebabkan pernafasan ataksia (kurangnya
koordinasi dalam gerakan bernafas).
c. Sistem Eliminasi
Pada pasien dengan post craniotomy terjadi perubahan metabolisme
yaitu kecenderungan retensi natrium dan air serta hilangnya sejumlah
nitrogen. Setelah tiga sampai 4 hari retensi cairan dan natrium mulai
berkurang dan dapat timbul hiponatremia.
13

d. Sistem Pencernaan
Hipotalamus merangsang anterior hipofise untuk mengeluarkan steroid
adrenal. Hal ini adalah kompensasi tubuh untuk menangani edema
serebral, namun pengaruhnya terhadap lambung adalah terjadinya
peningkatan ekskresi asam lambung yang menyebabkan hiperasiditas.
Selain itu juga hiperasiditas terjadi karena adanya peningkatan
pengeluaran katekolamin dalam menangani stress yang mempengaruhi
produksi asam lambung. Jika hiperasiditas ini tidak segera ditangani, akan
menyebabkan perdarah lambung.
e. Sistem Muskuloskeletal
Akibat dari post craniotomy dapat mempengaruhi gerakan tubuh.
Hemisfer atau hemiplegia dapat terjadi sebagai akibat dari kerusakan pada
area motorik otak. Selain itu, pasien dapat mempunyai control volunter
terhadap gerakan dalam menghadapi kesulitan perawatan diri dan
kehidupan sehari hari yang berhubungan dengan postur, spastisitas atau
kontraktur.
Gerakan volunter terjadi sebagai akibat dari hubungan sinapsis dari 2
kelompok neuron yang besar. Sel saraf pada kelompok pertama muncul
pada bagian posterior lobus frontalis yang disebut girus presentral atau
strip motorik . Di sini kedua bagian saraf itu bersinaps dengan kelompok
neuron-neuron motorik bawah yang berjalan dari batang otak atau medulla
spinalis atau otot-otot tertentu. Masing-masing dari kelompok neuron ini
mentransmisikan informasi tertentu pada gerakan. Sehingga, pasien akan
menunjukan gejala khusus jika ada salah satu dari jaras neuron ini cidera.
Pada disfungsi hemisfer bilateral atau disfungsi pada tingkat batang
otak, terdapat kehilangan penghambatan serebral dari gerakan involunter.
Terdapat gangguan tonus otot dan penampilan postur abnormal, yang pada
saatnya dapat membuat komplikasi seperti peningkatan saptisitas dan
kontraktur.



14

2.11 Indikasi Kraniotomy
Indikasi tindakan kraniotomi atau pembedahan intrakranial adalah sebagai
berikut :
a. Pengangkatan jaringan abnormal baik tumor maupun kanker.
b. Mengurangi tekanan intrakranial.
c. Mengevakuasi bekuan darah .
d. Mengontrol bekuan darah,
e. Pembenahan organ-organ intrakranial,
f. Tumor otak,
g. Perdarahan (hemorrage),
h. Kelemahan dalam pembuluh darah (cerebral aneurysms)
i. Peradangan dalam otak
j. Trauma pada tengkorak.













15

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
3.1 PENGKAJIAN
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
suatu proses yang sistematika dalam pengumpulan data dari berbagai sumber
data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status status kesehatan klien
(Nursalam, 2001 : 17).
Tahap proses keperawatan dimulai dengan pengkajian, menentukan
diagnosa, membuat perencanaan, melakukan tindakan atau implementasi dan
evaluasi.
a. Pengumpulan Data
1). Identitas Klien
Dikaji tentang identitas klien yang meliputi nama, umur, jenis kelamin,
agama, suku bangsa, pendidikan terakhir, status perkawinan, alamat, diagnosa
medis, nomor medrek, tanggal masuk Rumah Sakit dan tanggal pengkajian.
Juga identitas penanggung jawab klien yang meliputi : nama, umur, jenis
kelamin, agama, pendidikan terakhir dan hubungan dengan klien.
2). Riwayat Kesehatan
a). Alasan Masuk
Merupakan alasan yang mendasari klien dibawa ke Rumah Sakit
atau kronologis yang menggambarkan perilaku klien dalam mencari
pertolongan.
b). Keluhan Utama
Merupakan keluhan yang dirasakan klien saat dilakukan
pengkajian, nyeri biasanya menjadi keluhan yang paling utama terutama
pada pasien post op kraniotommy (Muttaqin, 2008 : 154).
c). Riwayat Kesehatan Sekarang
Merupakan pengembangan dari keluhan utama yang dirasakan klien
melalui metode PQRST dalam bentuk narasi:

16



P : (Provokatif/Pariatif) : Hal yang memperberat atau
memperingan, nyeri yang dirasakan biasanya bertambah
bila klien berjalan, bersin, batuk atau napas dalam.
Klien dengan post craniotomy biasanya merasakan nyeri
semakin berat saat digerakan, dan nyeri dirasakan
berkurang saat didiamkan.
Q : (Quality/Quantity) : Kualitas dari suatu keluhan atau
penyakit yang dirasakan.
Biasanya nyeri yang dirasakan klien seperti ditusuk-
tusuk.
R : (Region/Redition) : adalah daerah atau tempat dimana
keluhan dirasakan, apakah keluhan itu menyebar atau
mempengaruhi ke area lain.
Biasanya lokasi nyeri dirasakan sekitar kepala yang telah
dilakukan pembedahan.
S : (Saverity/Scale) : adalah keganasan atau intensitas (skala)
dari keluhan tersebut. Skala nyeri antara 0-5.
Nyeri yang dirasakan tergantung dari individu biasanya
diukur menggunakan skala nyeri 0-5
T : (Time) : adalah waktu dimana keluhan dirasakan pada
klien yang mengeluh nyeri tanyakan apakah nyeri
berlangsung terus menerus atau tidak.
Biasanya klien merasakan nyeri terus-menerus.


d). Riwayat Kesehatan Masa lalu
Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat
hipertensi, riwayat cedera kepala sebelumnya, diabetes melitus, penyakit
jantung, anemia, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin, vasodilator,
obat-obat adiktif dan konsumsi alkohol berlebihan (Muttaqin, 2008 : 154).
17

e). Riwayat Kesehatan keluarga
Dikaji apakah anggota generasi terdahulu ada yang menderita
hipertensi dan diabetes melitus, penyakit menular seperti tuberkulosis dan
penyakit yang sama seperti klien.

3). Data Biologis
Data ini dapat diperoleh dari anamnesa baik dari klien atau dari
keluarga yaitu menyangkut pola kebiasaan, meliputi:
a). Pola Nutrisi
Dikaji tentang frekuensi makan, jenis diit, porsi makan, riwayat
alergi terhadap suatu jenis makanan tertentu.
Pada klien post craniotomy biasanya terjadi penurunan nafsu
makan akibat mual dan muntah (Brunner dan Suddarth, 2008).
Dikaji tentang jumlah dan jenis minuman setiap hari. Minuman
yang harus dihindari pasien post craniotomy akibat cedera kepala yaitu
minuman beralkohol dan yang mengandung kafein karena dapat
meningkatkan derajat dehidrasi dan dapat menimbulkan rasa pusing pada
kepala.
b). Pola Eliminasi
Dikaji frekuensi BAB, warna, bau, konsistensi feses dan keluhan
klien yang berkaitan dengan BAB. Pada klien post craniotomy pola
defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus
(Muttaqin, 2008 : 160).
Setelah pembedahan klien mungkin mengalami inkontinensia
urine, ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan dan
ketidakmampuan mempergunakan sistem perkemihan karena kerusakan
kontrol motorik dan postural. Kadang-kadang kontrol spingter urinarius
hilang atau berkurang (Muttaqin, 2008 : 160).
c). Pola Istirahat dan Tidur
Dikaji mengenai kebutuhan istirahat dan tidur, waktu tidur,
lamanya tidur setiap hari, apakah ada kesulitan dalam tidur. Pada klien
18

post craniotomy sering terjadi pusing dan sakit kepala dan hal ini mungkin
akan mengganggu istirahat tidur klien.
d). Pola Personal Hygiene
Dikaji mengenai frekuensi dan kebiasaan mandi, keramas, gosok gigi
dan menggunting kuku. Pada klien post craniotomy kemungkinan dalam
perawatan dirinya tersebut memerlukan bantuan baik sebagian maupun
total.
e). Pola Aktivitas sehari-hari
Dalam aktivitas sehari-hari dikaji pada pola aktivitas sebelum sakit dan
setelah sakit.
f). Pola Mobilisasi Fisik
Dikaji dalam kegiatan yang meliputi pekerjaan, olah raga, kegiatan
diwaktu luang dan apakah keluhan yang dirasakan mengganggu aktivitas
klien tersebut (Brunner dan Suddarth, 2001).
4). Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamesis yang mengarah pada keluhan-keluhan
klien, pemeriksan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari
pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaikanya dilakukan secara
persistem dengan fokus pada pemeriksaan fisik pada pemeriksaan sistem
persyarafan yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-keluhan klien.
Teknik yang digunakan ada 4, yaitu inspeksi, palpasi, auskultasi, dan
perkusi.
Pada klien dengan post craniotomy akan ditemukan kelainan pada
beberapa sistem tubuh, diantaranya :
a) Sistem pernafasan
Perubahan pada sistem pernapasan bergantung pada gradasi dari
perubahan jaringan serebral. Pada keadaan hasil dari pemeriksaan fisik
sistem ini akan didapatkan hasil :
1) Inspeksi didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak
napas, penggunaan alat bantu napas dan peningkatan frekuensi
pernapasan. Ekspansi dada : dinilai penuh atau tidak penuh dan
kesimetrisannya. Pada observasi ekspansi dada juga perlu dinilai :
19

retraksi dari otot-otot interkostal, substernal, pernapasan abdomen dan
respirasi paradoks (retraksi abdomen pada saat inspirasi). Pola napas
paradoksal dapat terjadi jika otot-otot interkostal tidak mampu
menggerakkan dinding dada.
2) Pada palpasi frenitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain.
3) Pada perkusi adanya suara redup sampai pekak.
4) Pada auskultasi, bunyi napas tambahan seperti napas berbunyi, stridor,
ronkhi pada klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan
batuk yang menurun sehingga didapatkan pada klien dengan
penurunan tingkat kesadaran.
5) Pada klien dengan post craniotomy dan sudah terjadi disfungsi pusat
pernapasan, klien biasanya terpasang ETT dengan ventilator dan
biasanya klien dirawat di ruang perawatan intensif sampai kondisi
klien menjadi stabil. Pengkajian klien dengan pemasangan ventilator
secara komprehensif merupakan jalur keperawatan kritis.
Pada klien dengan tingkat kesadaran compos mentis, pengkajian
pada inspeksi pernapasan tidak ada kelainan. Palpasi toraks didapatkan
taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi tidak didapatkan bunyi
napas tambahan.
b) Sistem Kardiovaskuler
Pengkajian ini pada sistem kardiovaskular didapatkan renjatan (syok
hipovolemik) Hasil pemeriksaan kardiovaskular klien post craniotomy
akibat cedera kepala pada beberapa keadaan dapat ditemukan tekanan
darah normal atau berubah, nadi bradikardi, takikardia dan aritmia.
Frekuensi nadi cepat dan lemah berhubungan dengan homeostatis tubuh
dalam upaya menyeimbangkan kebutuhan oksigen perifer. Nadi
bradikardia merupakan tanda dari perubahan perfusi jaringan otak. Kulit
kelihatan pucat menunjukkan adanya perubahan perfusi jaringan atau
tanda-tanda awal dari syok.
c) Sistem Persyarafan
Post craniotomy akibat cedera kepala menyebabkan berbagai defisit
neurologis terutama akibat pengaruh peningkatan tekanan intrakranial
20

yang disebabkan adanya perdarahan baik bersifat hematom intraserebral,
subdural dan epidural. Pengkajian sistem persyarafan merupakan
pemeriksaan fokus dan lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada
sistem lainnya.
Pengkajian tingkat kesadaran klien dan respon terhadap lingkungan
adalah indikator paling sensitif untuk disfungsi sistem persyarapan.
Pengkajian fungsi serebral. Pengkajian ini meliputi statusmental ,
fungsi intelektual (biasanya pada beberapa keadaan klien cedera kepala
didapatkan penurunan dalam memori jangka panjang dan pendek), lobus
frontal (biasanya pada klien dengan cedera kepala kerusakan fungsi
kognitif dan efek psikologis terjadi jika trauma kepala yang
mengakibatkan adanya kerusakan pada lobus frontal, kapasitas, memori
atau kerusakan fungsi intelektual yang lebih tinggi), hemisfer (pada klien
dengan cedera kepala biasanya mempunyai kerentanan terhadap sisi
kolateral sehinga kemungkinan terjatuh ke sisi berlawanan tersebut).
Pengkajian saraf kranial yang meliputi : Saraf I (pada keadaan post
craniotomy klien akan mengalami kelainan pada fungsi penciuman
unilateral atau bilateral), Saraf II (hematom palpebra pada klien cedera
kepala akan menurunkan lapang pandang dan menggangu fungsi saraf
optikus), Saraf III, IV dan VI (terjadinya gangguan mengangkat kelopak
mata terutama pada klien dengan trauma yang merusak rongga orbita),
Saraf V (pada beberapa keadaan cedera kepala menyebabkan paralisis
saraf trigeminus, didapatkan penurunan kemampuan koordinasi gerak
mengunyah), Saraf VII (persepsi pengecapan mengalami perubahan,
Saraf VIII (perubahan fungsi pendengaran pada klien cedera kepala
ringan biasanya tidak didapatkan apabila trauma yang terjadi tidak
melibatkan saraf vestibulokoklearis), Saraf IX dan X (kemampuan
menelan kurang baik dan kesulitan membuka mulut, Saraf XI (bila tidak
melibatkan trauma pada leher, mobilitas klien cukup baik serta tidak ada
artrofi otot), saraf XII (indera pengecapan mengalami perubahan).
Pengkajian sistem motorik, pada saat inspeksi umum didapatkan
hemiplegia karena lesi pada sisi otak yang berlawanan. Hemiparesis atau
21

kelemahan salah satu sisi tubuh adalah tanda lain dari tonus otot, kekuatan
otot dan keseimbangan dan koordinasi.
Pengkajian refleks dilakukan pemeriksaan refleks profunda,
pengetukan pada tendon, ligamentum atau periosteum derajat refleks pada
respon normal. Permeriksaan refleks patologis pada fase akut refleks sisi
yang lumpuh akan menghilang.
Pengkajian sistem sensorik kehilangan karena cedera kepala dapat
berupa kerusakan sentuhan ringan atau mungkin lebih berat dengan
kemampuan untuk merasakan posisi dan gerakan bagian tubuh serta
kesulitan dalam stimulus visual, taktil dan auditorius.
d) Sistem Perkemihan
Setelah post craniotomy klien mungkin mengalami inkontinesia urine,
dapat terlihat dari produksi urine pada urine bag atau bllader,
ketidakseimbangan mengkomunikasi kebutuhan dan ketidak mampuan
untuk menggunaan sistem perkemihan karena kerusakan kontrol motorik
dan postural.
e) Sistem Pencernaan
Klien dengan post craniotomy didapatkan adanya keluhan kesulitan
menelan, nafsu makan menurun, mual dan muntah pada fase akut. Pola
defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.
f) Sistem muskuloskeletal
Akibat dari post craniotomy dapat mempengaruhi gerakan tubuh.
Hemisfer atau hemiplegia dapat terjadi sebagai akibat dari kerusakan pada
area motorik otak. Selain itu, pasien dapat mempunyai control vaolunter
terhadap gerakan dalam menghadapi kesulitan perawatan diri dan
kehidupan sehari hari yang berhubungan dengan postur, spastisitas atau
kontraktur.
g) Sistem Integumen
Adanya perubahan warna kulit, pucat dan sianosis pada klien
menggunakan ventilator dapat terjadi akibat adanya hipoksemia. Warna
kemerahan pada kulit dapat menunjukkan adanya demam dan infeksi.
Integritas kulit untuk menilai adanya lesi dan dekubitus..
22

(Muttaqin, 2008 : 155-161).
5). Data Psikologis
Data psikologis yang perlu dikaji adalah status emosional, konsep diri,
mekanisme koping klien dan harapan serta pemahaman klien tentang
kondisi kesehatan sekarang.
Menurut Kelliat (2005 : 77), yang perlu dikaji pada aspek psikologis
yaitu konsep diri. Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran,
keyakinan dan kepercayaan yang membuat orang mengetahui tentang
dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Konsep diri
terdiri dari :
a). Citra Tubuh (Body Image)
Kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari
terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang serta perasaan
tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi. Biasanya klien dengan post
craniotomy merasa ada yang berubah pada kepalanya.
b). Ideal Diri
Persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berperilaku
berdasarkan standar, aspirasi, tujuan, atau nilai personal tertentu. Biasanya
klien dengan post craniotomy berharap cepat sembuh dan fungsi sarafnya
kembali seperti semula.
c). Harga Diri
Penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan
menganalisa seberapa baik prilaku seseorang sesuai ideal diri. Biasanya klien
dengan post craniotomy mengalami penurunan harga diri.
d). Identitas
Serangkaian pola perilaku yang dihadapkan oleh lingkungan sosial
berhubungan dengan fungsi individu diberbagai kelompok sosial. Biasanya
klien dengan post craniotomy merasa terganggu dengan keadaannya karena
fungsinya tidak bisa berjalan dengan baik.
e). Peran
Pengorganisasian perinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab
terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikan individu.
23

Biasanya klien dengan post craniotomy klien merasa terganggu dalam
melaksanaan tugas dan peran tersebut karena penyakitnya sekarang.

6). Data sosial dan budaya
Perlu diamati penampilan klien secara umum, bagaimana hubungan
interpersonal klien dan keluarga, sesama klien yag dirawat dalam satu ruangan
serta tim kesehatan. Kaji kemampuan berkomunikasi dan peran klien dalam
keluarga, gaya hidup, faktor sosial serta support sistem yang ada pada klien
dengan post craniotomy.


7). Data Spiritual
Ada beberapa hal yang perlu dikaji untuk mendapatkan data spiritual,
yaitu nilai-nilai atau norma-norma kegiatan keagamaan dan moral, serta
menyangkut masalah keyakinan dan penerimaan diri terhadap penyakit dan
keyakinan akan kesembuhan penyakitnya.
8). Data Penunjang
Meliputi farmakoterapi dan prosedur diagnostik medik seperti
pemeriksaan darah, urine, radiologi dan cystos copy.
9). Data Pengobatan
a). Obat-obat Analgetik (obat anti nyeri)
b). Obat-obat Antibiotik (anti mikrobal)
c). Obat antiemetik (anti mual)
b. Analisa Data
Proses analisa adalah menghubungkan data yang diperoleh dengan
konsep, teori, prinsip asuhan keperawatan yang relevan dengan kondisi
klien (Hidayat, 2004:104).

a. Primary Survey
1) Airway
24

- Periksa jalan nafas dari sumbatan benda asing (padat, cair) setelah dilakukan
pembedahan akibat pemberian anestesi.
- Potency jalan nafas, meletakan tangan di atas mulut atau hidung.
- Auscultasi paru keadekuatan expansi paru, kesimetrisan.
2) Breathing
- Kompresi pada batang otak akan mengakibatkan gangguan irama jantung,
sehingga terjadi perubahan pada pola napas, kedalaman, frekuensi maupun
iramanya, bisa berupa Cheyne Stokes atau Ataxia breathing. Napas berbunyi,
stridor, ronkhi, wheezing ( kemungkinana karena aspirasi), cenderung terjadi
peningkatan produksi sputum pada jalan napas.
- Perubahan pernafasan (rata-rata, pola, dan kedalaman). RR < 10 X / menit
depresi narcotic, respirasi cepat, dangkal gangguan cardiovasculair atau rata-rata
metabolisme yang meningkat.
- Inspeksi: Pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan
diafragma, retraksi sternal efek anathesi yang berlebihan, obstruksi.
3) Circulating:
- Efek peningkatan tekanan intrakranial terhadap tekanan darah bervariasi.
Tekanan pada pusat vasomotor akan meningkatkan transmisi rangsangan
parasimpatik ke jantung yang akan mengakibatkan denyut nadi menjadi lambat,
merupakan tanda peningkatan tekanan intrakranial. Perubahan frekuensi jantung
(bradikardia, takikardia yang diselingi dengan bradikardia, disritmia).
- Inspeksi membran mukosa : warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan.
4) Disability : berfokus pada status neurologi
- Kaji tingkat kesadaran pasien, tanda-tanda respon mata, respon motorik dan
tanda-tanda vital.
25

- Inspeksi respon terhadap rangsang, masalah bicara, kesulitan menelan,
kelemahan atau paralisis ekstremitas, perubahan visual dan gelisah.
5) Exposure
- Kaji balutan bedah pasien terhadap adanya perdarahan
b. Secondary Survey : Pemeriksaan fisik
Pasien nampak tegang, wajah menahan sakit, lemah. Kesadaran somnolent,
apatis, GCS : 4-5-6, T 120/80 mmHg, N 98 x/menit, S 37
4 0
C, RR 20 X/menit.
1) Abdomen.
Inspeksi tidak ada asites, palpasi hati teraba 2 jari bawah iga,dan limpa tidak
membesar, perkusi bunyi redup, bising usus 14 X/menit.
Distensi abdominal dan peristaltic usus adalah pengkajian yang harus dilakukan
pada gastrointestinal.
2) Ekstremitas
Mampu mengangkat tangan dan kaki.Kekuatan otot ekstremitas atas 4-4 dan
ekstremitas bawah 4-4., akral dingin dan pucat.
3) Integumen.
Kulit keriput, pucat. Turgor sedang
4) Pemeriksaan neurologis
Bila perdarahan hebat/luas dan mengenai batang otak akan terjadi gangguan pada
nervus cranialis, maka dapat terjadi :
- Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi,
pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori).
26

- Perubahan dalam penglihatan, seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan
sebagian lapang pandang, foto fobia.
- Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri), deviasi pada mata.
- Terjadi penurunan daya pendengaran, keseimbangan tubuh.
- Sering timbul hiccup/cegukan oleh karena kompresi pada nervus vagus
menyebabkan kompresi spasmodik diafragma.
- Gangguan nervus hipoglosus. Gangguan yang tampak lidah jatuh kesalah
satu sisi, disfagia, disatria, sehingga kesulitan menelan.
c. Tersiery Survey
1) Kardiovaskuler
Klien nampak lemah, kulit dan kunjungtiva pucat dan akral hangat. Tekanan
darah 120/70 mmhg, nadi 120x/menit, kapiler refill 2 detik. Pemeriksaan
laboratorium: HB = 9,9 gr%, HCT= 32 dan PLT = 235.
2) Brain
Klien dalam keadaan sadar, GCS: 4-5-6 (total = 15), klien nampak lemah, refleks
dalam batas normal.
3) Blader
Klien terpasang doewer chateter urine tertampung 200 cc, warna kuning
kecoklatan.



27

3.2 Aplikasi NANDA, NOC, dan NIC
No. NANDA NOC NIC
1. Ganggguan rasa
nyaman nyeri
berhubungan
dengan luka
insisi.

Tujuan:
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
rasa nyeri dapat teratasi
atau tertangani dengan
baik.
Kriteria hasil:
Melaporkan rasa nyeri
hilang atau terkontrol.
Mengungkapkan metode
pemberian menghilang
rasa nyeri.
Mendemonstrasikan
penggunaan teknik
relaksasi dan aktivitas
hiburan sebagi
penghilang rasa nyeri.
1.Kaji nyeri, catat lokasi,
karakteristik, skala (0-10).
Selidiki dan laporkan
perubahan nyeri dengan tepat.
2.Pertahankan posisi istirahat
semi fowler.
3.Dorong ambulasi dini.
4.Berikan kantong es pada
abdomen.
5.Berikan analesik sesuai
indikasi.
2. Kerusakan
integritas kulit
berhubungan
dengan luka
insisi.

Tujuan:
Setelah diberikan tindakan
pasien tidak mengalami
gangguan integritas kulit.
Kriteria hasil:
Menunjukkan
penyembuhan luka tepat
1.Kaji dan catat ukuran,
warna, keadaan luka, dan
kondisi sekitar luka.
2.lakukan kompres basah dan
sejuk atau terapi rendaman.
3.lakukan perawatan luka dan
hygiene sesudah mandi, lalu
28

waktu. pasien
menukjukkan
Pasien menunjukkan
perilaku untuk
meningkatkan
penyembuhan dan
mencegah komplikasi.

keringkan kulit dengan hati
hati.
4.berikan priopritas untuk
meningkatkan kenyamanan
dan kehilanan pasien.

3. Resiko tinggi
infeksi
berhubungan
dengan higiene
luka yang
buruk.

Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan pasien diharapkan
tidak mengalami infeksi.
Kriteria hasil:
Tidak menunjukkan
adanya tanda infeksi.
Tidak terjadi infeksi.

1.awasi tanda-tanda vital,
perhatikan demam, menggigil,
berkeringat dan perubahan
mental dan peningkatan nyeri
abdomen.
2.Lihat lika insisi dan balutan.
catat karakteristik, drainase
luka.
3.Lakukan cuci tangan yang
baik dan lakukan perawatan
luka aseptik.
4.Berikan antibiotik sesuai
indikasi.
4. Gangguan
perfusi jaringan
berhubungan
dengan
pendarahan.

Tujuan:
Setelah dilakukan
perawatan tidak terjadi
gangguan perfusi
jaringan.
Kriteria hasil:
1.Observasi ekstermitas
terhadap pembengkakan, dan
eritema.
2.Evaluasi status mental.
perhatikan terjadinya
hemaparalis, afasia, kejang,
muntah dan peningkatan TD.
29

Tanda-tanda vital stabil.
Kulit klien hangat dan
kering
Nadi perifer ada dan
kuat.
Masukan atau haluaran
seimbang.

5. Kekurangan
volume cairan
berhubungan
dengan
perdarahan post
operasi.

Tujuan:
setelah dilakukan
tindakan keperawatan
pasien menunjukkan
keseimbangan cairan
yang adekuat.
Tanda-tanda vital stabil.
Mukosa lembab
Turgor kulit/ pengisian
kapiler baik.
Haluaran urine baik.
1.awasi intake dan out put
cairan.
2.Awasi TTV, kaji membrane
mukosa, turgor kulit,
membrane mukosa, nadi
perifer dan pengisian kapiler.
3.Awasi pemeriksaan
laboratorium.
4.Berikan cairan IV atau
produk darah sesuai indikasi
6. Pola nafas
inefektif
berhubungan
dengan efek
anastesi.

Tujuan:
setelah dilakukan tindakan
perawatan pasien menunjukkan
pola nafas yang efektif.
Kriteria hasil:
volume nafas adekuat.
klien dapat
mempertahankan pola
nafas normal dan efektif
dan tidak ada tanda
1.Evaluasi frekuensi
pernafasan dan kedalaman.
2.Auskultasi bunyi nafas.
3.Lihat kulit dan membran
mukosa untuk melihat adanya
sianosis.
4.Berikan tambahan oksigen
sesuai kebutuhan.
30

hipoksia.
7. Bersihan jalan
napas inefektif
berhubungan
dengan
penumpukan
secret.

Tujuan:
setelah dilakukan tindakan
keperawatan pasien
menunjukkan bunyi nafas yang
jelas.
Kriteria hasil:
frekuensi nafas dalam
rentang normal.
bebas dipsnea.

1.Awasi frekuensi, irama,
kedalaman pernafasan.
2.Auskultasi paru, perhatikan
stridordan penurunan bunyi
nafas.
3.Dorong batuk atau latihan
pernafasan.
4.Perhatikan adanya warna
pucat atau merah pada luka.
8. Perubahan pola
eliminasi urin
berhubungan
dengan efek
anastesi.

Tujuan:
setelah dilakukan tindakan
keperawatan pasien
menunjukkan aliran urine yang
lancar.
Kriteria hasil:
Haluaran urine adekuat.
1.Catat keluaran urine,
selidiki penurunan aliran urine
secara tiba-tiba.
2.Awasi TTV, kaji nadi
perifer, turgor kulit, pengisian
kapiler.
3.Dorong peningkatan cairan
dan pertahankan pemasukan
akurat.
9. Perubahan
nutrisi kurang
dari kebutuhan
berhubungan
dengan mual
muntah.
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan pasien
menunjukkan keseimbangan
berat badan.
1.Timbang BB secara teratur.
2.Auskultasi bising usus, catat
bunyi tak ada atau hiperaktif.
3.Tambahkan diet sesuai
toleransi.
31

Kriteria hasil:
Berat badan klien tetap
seimbang.



















32

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Craniotomy adalah perbaikan pembedahan, reseksi atau pengangkatan
pertumbuhan atau abnormalitas di dalam kranium, terdiri atas pengangkatan dan
penggantian tulang tengkorak untuk memberikan pencapaian pada struktur
intracranial. Craniotomy adalah Operasi untuk membuka tengkorak (tempurung
kepala) dengan maksud untuk mengetahui dan memperbaiki kerusakan otak.
Penyebab craniotomy akibat cedera kepala antara lain : kecelakaan lalu
lintas, perkelahian, jatuh, cedera saat berolahraga dan cedera kepala terbuka atau
yang sering disebabkan oleh peluru atau pisau.
4.2 Saran
Agar pembaca memahami dari penjelasan craniotomy, mulai dari
klasifikasi, etiologi, patofiologi, manifestasi klinik, komplikasi, dampak bagi
tubuh yang lain, serta penatalaksanaan medis dari kraniotomy.










33

DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan Suddart. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Corwin, Elizabeth. 2000. Buku Saku Pathofisiologi. Jakarta : EGC
Doenges, E Marylin. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Engram, Barbara. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
EGC
Price, Sylvia A. 2005. Pathofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Jakarta : EGC
Carpenito, Lynda Juall RN.1999. Diagnosa dan Rencana Keperawatan Ed 3.
Jakarta : Media Aesculappius.
Purnawan Ajunadi, Atiek S.seomasto, Husna Ametz,(1982). Kapita Selekta
Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.