You are on page 1of 6

COMPUTED TOMOGRAPHY SCAN GENERASI KETIGA DENGAN DETEKTOR

TERSUSUN LINIER

I. PENDAHULUAN
Computed Tomography Scan ( CT Scan) adalah salah satu metode uji diagnostik
untuk mengetahui informasi internal suatu objek. CT Scan pada umumnya digunakan
untuk mendeteksi penyakit pada bidang kedokteran dan dapat juga pada bidang industry
untuk mendeteksi kecacatan produk berbasis non-destructive testing (NDT).
Sejak ditemukan pada tahun 1970 oleh Allan Carmack dan Geoffrey Hounsfield,
CT Scan mengalami perkembangan menyesuaikan dengan kemajuan teknologi.
Pengembangan yang dikerjakan seperti modifikasi jumlah radiasi yang diterima objek dan
waktu radiasi. Pada saat ini, pengembangan yang telah dikerjakan mencapai tujuh
generasi, dan tiap generasi adalah pengembangan dari generasi sebelumnya. Generasi
pertama berupa berkas paralel dengan gerakan translasi dan rotasi oleh sumber dan
detektor dalam pemayarannya. Generasi kedua berupa berkas kipas dengan sudut yang
kecil serta detektor yang lebih banyak dibanding generasi pertama, dengan gerakan rorasi
dan translasi oleh sumber radiasi dan detektor dalam pemayarannya. Generasi ketiga
berupa berkas kipas yang meliputi seluruh keliling objek, sehingga cukup menggunakan
gerak rotasi saja dalam proses pemayarannya. Pada makalah ini, materi yang dibahas
adalah CT Scan generasi ketiga dengan detektor linier.



Pesawat CT Scan terdiri dari:
a. Meja pasien: tempat objek/pasien yang akan di scanning
b. Gantry scanning yang berisi sumber sinar-X terkolimasi dan susunan detektor
c. Perangkat elektronik untuk akuisisi data
d. TV-monitor berikut panel control.
Gb.1 Pesawat CT Scan




Nama: Rosenti Pasaribu
13/351454/PPA/4183
II. CT SCAN GENERASI KETIGA
CT Scan generasi ketiga memiliki ciri khas:
1. Menggunakan sinar-x yang tipis dan melebar seperti pada generasi kedua tetapi
dengan sudut yang lebih besar (antara ) hingga seluruh lingkaran tubuh
pasien/ objek berada dalam berkas sinar-x
2. Pada generasi ketiga, scanning dilakukan dengan gerakan rotasi saja (berbeda
dengan generasi kedua yang melakukan gerakan rotasi dan translasi) karena seluruh
lingkaran objek telah berada di dalam berkas sinar-x. Dalam hal ini, sumber radiasi
dan detektor berotasi bersamaan sehingga detektor dapat menangkap berkas radiasi
yang melewati objek. Detector array terdiri dari 400 hingga 1000 buah detektor.
Pada dasarnya, CT Scan generasi ketiga terdiri dari fan-beam linear array detector
dan fan-beam curve array detector, namun pada makalah ini fokus pada linear array
detector.

II.1. Geometri CT Scan fan-beam linear array detector




Fan-beam linier array detector memiliki susunan detektor yang tersusun secara
linier. Keunggulan susunan detektor ini adalah penempatan detektor lebih mudah
dibanding dengan detektor yeng tersusun melingkar. Pada umumnya CT Scan ini
digunakan pada industry untuk uji NDT dengan objek yang di uji yang berotasi. Gambar
2 menunjukkan secara jelas bahwa berkas kipas sinar-x dari sumber mencakup seluruh
Gb.2. Perbandingan geometri Geometri CT Scan pada generasi ketiga, fan-beam
linear array detector (kiri) dengan generasi kedua (kanan).

keliling objek sedangkan pada CT Scan generasi kedua tidak. Sehingga untuk generasi
kedua masih memerlukan gerakan rotasi dan translasi dalam pemayarannya.

II.2. Algoritma Rekonstruksi pada CT Scan fan-beam linier array detector
Metode rekonstruksi yang digunakan adalah metode back projection, yaitu
menggunakan pembagian pixel-pixel yang kecil dari suatu irisan melintang. Pixel
didasarkan pada nilai absorbsi linier. Kemudian pixel-pixel ini disusun menjadi sebuah
profil dan terbentuklah sebuah matrik. Rekonstruksi dilakukan dengan jalan saling
menambah antar elemen matrik. Persamaan rekonstruksi untuk fan-beam adalah:
( )

()

( )( )
Ket: koordinat sampling adalah ( ). Untuk menyenyuaikan akuisisi dibentuk koordinat
baru ( ). l dan t gayut terhadap r dan . J adalah Jacobian pada transformasi ( ) ke
( ). Jacobian dinyatakan dengan persamaan berikut:


representasi integral dari persamaan pertama yaitu:
( )

( )( )
dan persamaan back projection ekivalennya:
( )

( )
Secara lebih spesifik untuk fan-beam projection dengan linear array detector berdasarkan
Gb.2 adalah sebagai berikut:


dan


l tidak gayut , dan adalah sudut antara perpanjangan garis dari pusat objek sumber
dengan sumbu y spatial.
( )

()







dengan

()

)
dengan menyatakan [

( )]

dan

()

()

sehingga diperoleh:
( )

()


dengan: s adalah jarak antar detektor dan

adalah jari-jari dari pusat objek ke sumber


radiasi.

II.3. Sinogram dari CT Scan fan-beam linear array detector
Rekonstruksi citra dalam bidang kedokteran digunakan untuk merubah citra hasil
CT scan yang berupa citra sinogram menjadi citra spasial. Secara matematis citra
sinogram didapatkan dengan proyeksi transformasi Radon. Salah satu metode yang
digunakan untuk rekonstruksi citra adalah metode proyeksi balikan (back-projection).




Gb.3. Perbandingan sinogram antara berkas parallel dengan berkas kipas.
Kiri atas adalah phantom. Kanan atas dan kiri bawah adalah ruang radon dari
berkas paralel dengan representasi polar atau kartesian. Kanan bawah adalah ruang radon
dari berkas kipas. dari kedua sonogram terlihat letak titik-titiknya sama. Namun antara
keduanya terdapat perbedaan oleh karena perubahan jarak sumber dengan objek dan
dengan detektor pada berkas kipas seperti yang ditunjukkan pada garis putus-putus pada
gambar.

III.4. Citra Hasil CT Scan
Pemayaran pada objek akan menghasilkan citra. Namun citra yang dihasilkan
memiliki noise. Untuk memperbaiki hasil citra tersebut dilakukan denoising
menggunakan filter dengan metode konvolusi.
Proses rekonstruksi dari konvolusi dapat dinyatakan dalam bentuk matematik yaitu
transformasi Fourier. Dengan menggunakan konvolusi dan transformasi Fourier, maka
bayangan radiologi dapat dimanipulasi dan dikoreksi sehingga dihasilkan gambar yang
lebih baik Salah satu contoh filter yang sering digunakan dalam rekonstruksi adalah low
pass filter dengan metode konvolusi. Metode ini dilakukan secara dua dimensi pada citra,
dengan persamaan fungsi diskritnya:
( ) ( )

( ) ( )( )


Dengan: ( ) adalah citra asal, ( ) adalah citra tapis dan ( )adalah citra hasil
konvolusi. Output yang berupa citra ini akan di analisis lebih lanjut sehingga diperoleh hasil
inspeksi internal dari suatu objek. Berikut ini adalah ilustrasi proses penyaringan layergram.
Dimulai dengan objek ditransformasi ke ruang radon kemudina dikuti proyeksi balik
sederhana serta pemfilteran dengan transformasi Fourier dan pada akhirnya diperoleh citra
dan korelasi antara objek dengan citra yang dihasilkan



Hingga saat ini, Computed Tomography Scan terus mengalami perkembangan, yang
mengarah pada minimalisasi radiasi pada jaringan sehat pasien, friendly using, juga citra
hasil yang lebih jelas dan mendekati aslinya.

III. DAFTAR PUSTAKA
Buzug, Thorsten M. 2008. Computed Tomography. Germany: Springer
Cierniak, Robert. 2011. X-ray Computed Tomography in Biomedical Engineering. London:
Springer
Hiriyannaiah, Harish P. 1997. X-ray Computed Tomography for Medical Imaging. IEEE
SIGNAL PROCESSING MAGAZINE.
http://www.csee.wvu.edu/~natalias/Journal%20Club/spmagazine97.pdf (diakses
tanggal 2 April 2014)
University of Maryland Rehabilitation & Orthopaedic Institute.
http://health.kernan.org/presentations/100159_3.htmhttp://health.kernan.org/presentatio
ns/100159_3.htm (diakses tangga l2 April 2014)
Narasimhadhan, A. V dan Rajgopal, Kasi. 2012. FDK-Type Algorithms with No
Backprojection Weight for Circular and Helical Scan CT. International Journal of
Biomedical Imaging Volume 2012 (2012), Article ID 969432, 12 pages.
http://dx.doi.org/10.1155/2012/969432 (diakses tanggal 2 April 2014).
Gb.3. Ilustrasi proses penyaringan layergram.