Вы находитесь на странице: 1из 13

Kompensasi daya reaktif merupakan suatu cara untuk mengurangi daya reaktif, karena daya

reaktif daya tidak berguna sehingga tidak dapat diubah menjadi tenaga akan tetapi diperlukan
untuk proses transmisi energi listrik pada beban, jadi yang menyebabkan pemborosan energi
listrik adalah banyaknya peralatan yang bersifat induktif, otomatis dengan banyaknya
peralatan yang bersifat induktif maka faktor daya yang diperoleh sangat kecil. Dengan suplai
daya kapasitif VAR untuk menaikan faktor daya menjadi sangat penting, dan akan sangat
diperlukan untuk pengembangan pengontrol faktor daya yang sederhana dengan rangkaian
perangkat keras yang minim. Salah satu upaya optimalisasi pemanfaatan energi listrik yang
dapat dilakukan adalah dengan perbaikan jaringan distribusi berupa kompensasi daya reaktif
dengan peningkatan faktor daya. Alat ini bekerja dengan cara pengaturan potensiometer
untuk mengatur penyulutan ke suatu quadrac dan quadrac tersebut digunakan untuk mengatur
arus pada kapasitor. Kapasitor yang dipasang paralel pada beban sehingga pengaturan faktor
daya dapat dilakukan, sehingga pada kompensasi tersebut mengatur arus pada kapasitor dan
akan mendapatan faktor daya yang diinginkan (lebih dari 0,85). Apabila beban berubah
secara besar dan faktor daya yang diinginkan selalu pada nilai tertentu (lebih dari 0,85)
dengan pemasangan kompensasi tersebut dapat dilakukan.

Sebelum membahas tentang perbaikan faktor daya dengan menggunakan kapasitor, ada
baiknya kita mengingat kembali tentang pengertian umum dari Daya Semu, Daya
Aktif dan Daya Reaktif.

Dalam sistem listrik AC/Arus Bolak-Balik ada tiga jenis daya yang dikenal, khususnya untuk
beban yang memiliki impedansi (Z), yaitu:
Daya semu (S, VA, Volt Amper)
Daya aktif (P, W, Watt)
Daya reaktif (Q, VAR, Volt Amper Reaktif)

Untuk rangkaian listrik AC, bentuk gelombang tegangan dan arus sinusoida, besarnya daya
setiap saat tidak sama. Maka daya yang merupakan daya rata-rata diukur dengan
satuan Watt,Daya ini membentuk energi aktif persatuan waktu dan dapat diukur dengan kwh
meter dan juga merupakan daya nyata atau daya aktif (daya poros, daya yang sebenarnya)
yang digunakan oleh beban untuk melakukan tugas tertentu.

Sedangkan daya semu dinyatakan dengan satuan Volt-Ampere (disingkat, VA), menyatakan
kapasitas peralatan listrik, seperti yang tertera pada peralatan generatordan transformator.
Pada suatu instalasi, khususnya di pabrik/industri juga terdapat beban tertentu seperti motor
listrik, yang memerlukan bentuk lain dari daya, yaitu daya reaktif (VAR) untuk
membuat medan magnet atau dengan kata lain daya reaktif adalah daya yang terpakai sebagai
energi pembangkitan flux magnetik sehingga timbul magnetisasi dan daya ini dikembalikan
ke sistem karena efek induksi elektromagnetik itu sendiri, sehingga daya ini sebenarnya
merupakan beban (kebutuhan) pada suatu sistim tenaga listrik.


Gambar 1. Segitiga Daya.

Pengertian Faktor Daya / Faktor Kerja

Faktor daya atau faktor kerja adalah perbandingan antara daya aktif (watt) dengan daya
semu/daya total (VA), atau cosinus sudut antara daya aktif dan daya semu/daya total (lihat
gambar 1). Daya reaktif yang tinggi akan meningkatkan sudut ini dan sebagai hasilnya faktor
daya akan menjadi lebih rendah. Faktor daya selalu lebih kecil atau sama dengan satu.

Secara teoritis, jika seluruh beban daya yang dipasok oleh perusahaan listrik memiliki faktor
daya satu, maka daya maksimum yang ditransfer setara dengan kapasitas sistim
pendistribusian. Sehingga, dengan beban yang terinduksi dan jika faktor daya berkisar dari
0,2 hingga 0,5, maka kapasitas jaringan distribusi listrik menjadi tertekan. Jadi, daya reaktif
(VAR) harus serendah mungkin untuk keluaran kW yang sama dalam rangka meminimalkan
kebutuhan daya total (VA).

Faktor Daya / Faktor kerja menggambarkan sudut phasa antara daya aktif dan daya semu.
Faktor daya yang rendah merugikan karena mengakibatkan arus beban tinggi. Perbaikan
faktor daya ini menggunakan kapasitor.

Kapasitor untuk Memperbaiki Faktor Daya

Faktor daya dapat diperbaiki dengan memasang kapasitor pengkoreksi faktor dayapada sistim
distribusi listrik/instalasi listrik di pabrik/industri. Kapasitor bertindak sebagai pembangkit
daya reaktif dan oleh karenanya akan mengurangi jumlah daya reaktif, juga daya semu yang
dihasilkan oleh bagian utilitas.

Sebuah contoh yang memperlihatkan perbaikan faktor daya dengan pemasangan kapasitor
ditunjukkan dibawah ini:

Contoh 1. Sebuah pabrik kimia memasang sebuah trafo 1500 kVA. Kebutuhan parik pada
mulanya 1160 kVA dengan faktor daya 0,70. Persentase pembebanan trafo sekitar 78 persen
(1160/1500 = 77.3 persen). Untuk memperbaiki faktor daya dan untuk mencegah denda oleh
pemasok listrik, pabrik menambahkan sekitar 410 kVAr pada beban motor. Hal ini
meningkatkan faktor daya hingga 0,89, dan mengurangi kVA yang diperlukan menjadi 913
kVA, yang merupakan penjumlahan vektor kW dankVAr. Trafo 1500 kVA kemudian hanya
berbeban 60 persen dari kapasitasnya. Sehingga pabrik akan dapat menambah beban pada
trafonya dimasa mendatang. (Studi lapangan NPC)


Contoh 2. Sekelompok lampu pijar dengan tegangan 220V/58 W, digabungkan dengan 12
lampu TL 11 W, ada 30 buah lampu pijar dan lampu TL. Faktor daya terukur sebesar cos
alpha1= 0,5. Hitunglah daya semu dari beban dan besarnya arus I1 sebelum kompensasi, Jika
diinginkan faktor kerja menjadi cos alpha2=0,9. hitung besarnya arus I2 (setelah
kompensasi).
a) Besarnya daya lampu gabungan
PG = (58 W x 18) + (11 W x 12) = 1176 watt = 1,176 kW
Cos phi1 = PG/S1 ->> S1 = Pg/Cos phi1 = 1,176kW/0,5 = 2,352 kVA.
I1 = S1/U = 2,352 kVA/220 V = 10,69 ampere (A)--> sebelum kompensasi
b) besarnya daya setelah kompensasi (cos phi = 0,9)
S2 = PG/Cos phi2 = 1,176 kW/0,9 = 1,306 kVA
maka I2 = S2/U= 1,306 kVA/220 V = 5,94 A --> setelah kompensasi

Keuntungan Perbaikan Faktor Daya dengan Penambahan Kapasitor

Keuntungan perbaikan faktor daya melalui pemasangan kapasitor adalah:
1. Bagi Konsumen, khususnya perusahaan atau industri:
Diperlukan hanya sekali investasi untuk pembelian dan pemasangan kapasitor dan tidak ada
biaya terus menerus.
Mengurangi biaya listrik bagi perusahaan, sebab:
(a) daya reaktif (kVAR) tidak lagi dipasok oleh perusahaan utilitas sehingga kebutuhan
total(kVA) berkurang dan
(b) nilai denda yang dibayar jika beroperasi pada faktor daya rendah dapat dihindarkan.
Mengurangi kehilangan distribusi (kWh) dalam jaringan/instalasi pabrik.
Tingkat tegangan pada beban akhir meningkat sehingga meningkatkan kinerja motor.

2. Bagi utilitas pemasok listrik
Komponen reaktif pada jaringan dan arus total pada sistim ujung akhir berkurang.
Kehilangan daya I kwadrat R dalam sistim berkurang karena penurunan arus.
Kemampuan kapasitas jaringan distribusi listrik meningkat, mengurangi kebutuhan untuk
memasang kapasitas tambahan.

METODA PEMASANGAN INSTALASI KAPASITOR

Cara pemasangan instalasi kapasitor dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

1. Global compensation
Dengan metode ini kapasitor dipasang di induk panel ( MDP )
Arus yang turun dari pemasangan model ini hanya di penghantar antara panel MDP dan
transformator. Sedangkan arus yang lewat setelah MDP tidak turun dengan demikian rugi
akibat disipasi panas pada penghantar setelah MDP tidak terpengaruh. Terlebih instalasi
tenaga dengan penghantar yang cukup panjang Delta Voltagenya masih cukup besar.


2. Sectoral Compensation
Dengan metoda ini kapasitor yang terdiri dari beberapa panel kapasitor dipasang dipanel
SDP. Cara ini cocok diterapkan pada industri dengan kapasitas beban terpasang besar sampai
ribuan kva dan terlebih jarak antara panel MDP dan SDP cukup berjauhan.

3. Individual Compensation
Dengan metoda ini kapasitor langsung dipasang pada masing masing beban khususnya yang
mempunyai daya yang besar. Cara ini sebenarnya lebih efektif dan lebih baik dari segi
teknisnya. Namun ada kekurangan nya yaitu harus menyediakan ruang atau tempat khusus
untuk meletakkan kapasitor tersebut sehingga mengurangi nilai estetika. Disamping itu jika
mesin yang dipasang sampai ratusan buah berarti total cost yang di perlukan lebih besar dari
metode diatas

Komponen-komponen utama yang terdapat pada panel kapasitor antara lain:

1. Main switch / load Break switch
Main switch ini sebagai peralatan kontrol dan isolasi jika ada pemeliharaan panel .
Sedangkan untuk pengaman kabel / instalasi sudah tersedia disisi atasnya (dari) MDP.Mains
switch atau lebih dikenal load break switch adalah peralatan pemutus dan penyambung yang
sifatnya on load yakni dapat diputus dan disambung dalam keadaan berbeban, berbeda
dengan on-off switch model knife yang hanya dioperasikan pada saat tidak berbeban .
Untuk menentukan kapasitas yang dipakai dengan perhitungan minimal 25 % lebih besar dari
perhitungan KVar terpasang dari sebagai contoh :

Jika daya kvar terpasang 400 Kvar dengan arus 600 Ampere , maka pilihan kita berdasarkan
600 A + 25 % = 757 Ampere yang dipakai size 800 Ampere.

2. Kapasitor Breaker.
Kapasitor Breaker digunkakan untuk mengamankan instalasi kabel dari breaker ke Kapasitor
bank dan juga kapasitor itu sendiri. Kapasitas breaker yang digunakan sebesar 1,5 kali dari
arus nominal dengan I m = 10 x Ir.
Untuk menghitung besarnya arus dapat digunakan rumus

I n = Qc / 3 . VL

Sebagai contoh : masing masing steps dari 10 steps besarnya 20 Kvar maka dengan
menggunakan rumus diatas didapat besarnya arus sebesar 29 ampere , maka pemilihan
kapasitas breaker sebesar 29 + 50 % = 43 A atau yang dipakai 40 Ampere.

Selain breaker dapat pula digunakan Fuse, Pemakaian Fuse ini sebenarnya lebih baik karena
respon dari kondisi over current dan Short circuit lebih baik namun tidak efisien dalam
pengoperasian jika dalam kondisi putus harus selalu ada penggantian fuse. Jika memakai fuse
perhitungannya juga sama dengan pemakaian breaker.

3. Magnetic Contactor
Magnetic contactor diperlukan sebagai Peralatan kontrol.Beban kapasitor mempunyai arus
puncak yang tinggi , lebih tinggi dari beban motor. Untuk pemilihan magnetic contactor
minimal 10 % lebih tinggi dari arus nominal ( pada AC 3 dengan beban induktif/kapasitif).
Pemilihan magnetic dengan range ampere lebih tinggi akan lebih baik sehingga umur
pemakaian magnetic contactor lebih lama.

5. Kapasitor Bank
Kapasitor bank adalah peralatan listrik yang mempunyai sifat kapasitif..yang akan berfungsi
sebagai penyeimbang sifat induktif. Kapasitas kapasitor dari ukuran 5 KVar sampai 60 Kvar.
Dari tegangan kerja 230 V sampai 525 Volt atau Kapasitor Bankadalah sekumpulan beberapa
kapasitor yang disambung secara parallel untuk mendapatkan kapasitas kapasitif tertentu.
Besaran yang sering dipakai adalah Kvar (Kilovolt ampere reaktif) meskipun didalamnya
terkandung / tercantum besaran kapasitansi yaitu Farad atau microfarad. Kapasitor ini
mempunyai sifat listrik yang kapasitif (leading). Sehingga mempunyai sifat mengurangi /
menghilangkan terhadap sifat induktif (leaging)

6. Reactive Power Regulator
Peralatan ini berfungsi untuk mengatur kerja kontaktor agar daya reaktif yang akan disupply
ke jaringan/ system dapat bekerja sesuai kapasitas yang dibutuhkan. Dengan acuan
pembacaan besaran arus dan tegangan pada sisi utama Breaker maka daya reaktif yang
dibutuhkan dapat terbaca dan regulator inilah yang akan mengatur kapan dan berapa daya
reaktif yang diperlukan. Peralatan ini mempunyai bermacam macam steps dari 6 steps , 12
steps sampai 18 steps.

Peralatan tambahan yang biasa digunakan pada panel kapasitor antara lain:

- Push button on dan push button off yang berfungsi mengoperasikan magnetic contactor
secara manual.
- Selektor auto off manual yang berfungsi memilih system operasional auto dari modul
atau manual dari push button.
- Exhaust fan + thermostat yang berfungsi mengatur ambeint temperature (suhu udara sekitar)
dalam ruang panel kapasitor. Karena kapasitor, kontaktor dan kabel penghantar mempunyai
disipasi daya panas yang besar maka temperature ruang panel meningkat.setelah setting dari
thermostat terlampaui maka exhust fan akan otomatis berhenti.



alah satu permasalahan yang sering kita dengar dalam penggunaan energi listrik untuk level
industri adalah masalah faktor daya atau cos dan pemasangan kapasitor. Apabila cos lebih
rendah dari 0.85 maka daya reaktif yang dihasilkan dari beban industri tersebut akan
dikenakan biaya dalam penentuan besarnya tagihan listrik. Dalam kasus ini, pihak industri
diwajibkan membayar daya reaktif yang digunakan kepada penyedia layanan listrik. Untuk
mengatasi masalah rendahnya faktor-daya atau tingginya daya reaktif, banyak industri atau
bangunan modern memasang kapasitor. Penjelasan tentang kenapa hal ini dikenakan
denda, gimana cara mengukurnya dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam
pemasangan kapasitor, akan coba dibahas pada artikel di bawah ini.
I. Dasar Teori
Dalam sistem tenaga listrik dikenal tiga jenis daya, yaitu daya aktif atau real power (P), daya
reaktif atau reactive power (Q), dan daya nyata atau apparent power(S). Daya aktif adalah daya
listrik yang dibangkitkan di sisi keluaran generator, kemudian termanfaatkan oleh
konsumen; dapat dikonversi ke bentuk energi lainnya seperti energi gerak pada motor; bisa
juga menjadi energi panas pada heater; ataupun dapat diubah kebentuk energi listrik lainnya.
Perlu diingat bahwa daya ini memiliki satuan watt (W), kilowatt (kW) atau tenaga kuda (HP).
Sedangkan daya reaktif adalah suatu besaran yang digunakan untuk menggambarkan
adanya fluktuasi daya pada saluran transmisi dan distribusi akibat dibangkitkannya
medan/daya magnetik atau beban yang bersifat induktif (seperti : motor listrik, trafo, dan
las listrik). Walaupun namanya adalah daya, daya reaktif ini tidak nyata dan tidak bisa
dimanfaatkan. Daya ini memiliki satuan volt-ampere-reaktif (VAR) atau kilovar (kVAR). Pada
konsumen level industri, beban induktif yang paling banyak digunakan adalah motor listrik
atau pompa listrik. Adanya daya reaktif ini menyebabkan aliran daya aktif tidak bisa
dilakukan secara efisien dan memerlukan peralatan listrik yang kapasitasnya lebih besar dari
daya aktif yang diperlukan.
Untuk menggambarkan seberapa efisien daya aktif yang dapat disalurkan, dalam dunia
kelistrikan dikenal suatu besaran yang disebut faktor-daya atau cos . Nilai
maksimum cos adalah 1 dan nilai minimumnya adalah 0. Semakin tinggi faktor-daya maka
semakin efisien penyaluran dayanya. Artinya juga, semakin kecil faktor-daya maka semakin
besar daya reaktifnya.
Bagi konsumen kecil atau rumah tangga, keberadaan daya reaktif tidak terlalu menjadi
masalah karena PT. PLN tidak memperhitungkannya dalam penentuan tagihan listrik. Akan
tetapi bagi konsumen besar, pabrik atau bangunan modern, PT. PLN mensyaratkan faktor-
daya harus lebih dari 0,85. Jika nilai faktor-daya kurang dari nilai itu maka daya reaktif akan
diukur dan diperhitungkan dalam penentuan besarnya tagihan. PT. PLN melakukan ini
karena aliran daya reaktif yang besar menyebabkan peralatan milik PT. PLN tidak bisa
bekerja secara efisien dan tidak bisa digunakan secara maksimum.
II. Faktor Daya
Daya nyata merupakan jumlah daya total yang terdiri dari daya reaktif (P) dan daya reaktif
(Q) yang dirumuskan :

Hubungan ketiga daya itu dapat juga digambarkan dalam bentuk segitiga daya seperti
pada Gambar 1 berikut :

Gambar 1. Segitiga Daya
Perbandingan antara daya aktif (P) dan daya nyata (S) inilah dikenal dengan istilah faktor
daya atau power factor (PF). Apabila dilihat pada segitiga daya diatas, perbandingan daya aktif
(P) dan daya nyata (S) merupakan nilai cos . Oleh karena hal ini, istilah faktor daya (PF) juga
sering dikenal dengan sebutan nilai cos .
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, beban yang sering digunakan pada konsumen level
industri kebanyakan bersifat induktif. Peningkatan beban yang bersifat induktif ini pada
sistem tenaga listrik dapat menurunkan nilai faktor daya (PF) dalam proses pengiriman daya.
Penurunan faktor daya (PF) ini dapat menimbulkan berbagai kerugian, yang antara lain:
1. Memperbesar kebutuhan kVA
2. Penurunan Efisiensi penyaluran daya
3. Memperbesar rugi-rugi panas kawat dan peralatan
4. Mutu listrik menjadi rendah karena adanya drop tegangan
Untuk alasan kerugian akibat penurunan faktor daya (PF) inilah, penyedia layanan listrik,
PLN, menetapkan denda VAR, dalam usaha untuk menghimbau konsumennya agar ikut
berkontribusi menjaga faktor daya pada kondisi idealnya.
Adapun perhitungan kelebihan pemakaian kVARH dalam rupiah dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus sbb :
[ B - 0,62 ( A1 + A2 ) ] Hk
dimana :
B = pemakaian k VARH
A1= pemakaian kWH WPB
A2 = pemakaian kWH LWB
Hk = harga kelebihan pemakaian kVARH
II. Perbaikan Faktor Daya atau Cos dan Perhitungan Kompensasi Daya Reaktif
Salah satu cara untuk memperbaiki faktor daya adalah dengan memasang kompensasi
kapasitif menggunakan kapasitor. Pada konsumen level industri istilah ini lebih dikenal
dengan sebutan pemasangan power factor correction (PFC). Pemasangan PFC disini sama artinya
dengan pemasangan PF controller dan capacitor bank (kumpulan dari kapasitor-kapasitor yang
dipasang secara paralel).
Kapasitor adalah peralatan listrik yang bisa menghasilkan daya reaktif yang diperlukan oleh konsumen
sehingga aliran daya reaktif di saluran bisa berkurang. Dengan kata lain, kapasitor bermanfaat untuk
menaikkan faktor-daya. Dengan memasang kapasitor, konsumen besar bisa terhindar dari tambahan tagihan
listrik karena daya reaktif yang berlebih. Semakin mahalnya tarif listrik dan semakin tingginya keinginan untuk
mengoperasikan peralatan secara efisien, menyebabkan penggunaan kapasitor semakin banyak dan meluas.
Idealnya, kapasitor dipasang di dekat peralatan yang memerlukan daya reaktif sehingga tidak perlu terjadi
adanya aliran daya reaktif melalui kabel, trafo, atau peralatan lainnya.
II.1 PF controller
Fungsi PF controller adalah untuk mengatur switching step-step capacitor banksesuai dengan nilai
kompensasi daya reaktifnya (Qc) yang diperlukan untuk mencapai target faktor daya (PF)
idealnya atau yang telah ditentukan. PF controller bekerja berdasarkan sensing parameter
yang disebut C/k faktor yang diperoleh dari input tegangan dan arus. Ada 2 cara untuk
mensetting faktor C/k, yaitu secara automatic dan manual. Cara automatic mensetting C/k
dapat dilakukan dengan cara mengaktifkan mode automatic pada perhitungan C/k pada PF
controller. Cara setting ini akan tergantung pada 4 parameter, yaitu :
Nilai tegangan kerja kapasitor Un
Skala arus (rasio CT yang dipakai)
Konfigurasi jaringan, 3 phasa atau 1 phasa
Rating kapasitor step pertama
PF controller secara otomatis akan mengeset nilai C/k apabila ada perubahan pada 4
parameter diatas. Untuk cara manual dapat dilakukan dengan mengacu pada perhitungan
berikut :

dimana,
Q = reactive 3-phase power of one step (kVAR)
U = system voltage (V)
k = CT ratio
II.2 Capasitor Bank
Capacitor bank adalah kumpulan kapasitor yang digunakan untuk memberikan kompensasi
reactive power (Qc). Kebutuhan kompensasi reactive power (Qc) yang dibutuhkan untuk
mencapai power factor (p.f) dapat dihitung berdasarkan formula :

dimana :
Qc = kompensasi reactive power yang dibutuhkan (kVAR)
P = active power (kW)
cos 1 = power factor (p.f) lama
cos 2 = power factor (p.f) baru atau target
Perhitungan ini juga dapat digambarkan pula dalam segitiga daya pada Gambar 2.

Gambar 2. Segitiga Daya Kompensasi KVAR
II.2.1 Proses Kerja Kapasitor
Kapasitor yang akan digunakan untuk meperbesar pf dipasang paralel dengan rangkaian
beban. Bila rangkaian itu diberi tegangan maka elektron akan mengalir masuk ke kapasitor.
Pada saat kapasitor penuh dengan muatan elektron maka tegangan akan berubah.
Kemudian elektron akan ke luar dari kapasitor dan mengalir ke dalam rangkaian yang
memerlukannya dengan demikian pada saaat itu kapasitor membangkitkan daya reaktif. Bila
tegangan yang berubah itu kembali normal (tetap) maka kapasitor akan menyimpan kembali
elektron. Pada saat kapasitor mengeluarkan elektron (Ic) berarti sama juga kapasitor
menyuplai daya treaktif ke beban. Keran beban bersifat induktif (+) sedangkan daya reaktif
bersifat kapasitor (-) akibatnya daya reaktif yang berlaku menjadi kecil.
II.2.2 Pemasangan Kapasitor
Kapasitor yang akan digunakan untuk memperkecil atau memperbaiki PF penempatannya
ada dua cara :
1. Terpusat kapasitor ditempatkan pada:
(a) Sisi primer atau sekunder transformator
(b) Pada bus pusat pengontrol
2. Cara terbatas kapasitor ditempatkan
(a) Feeder kecil
(b) Pada rangkaian cabang
(c) Langsung pada beban
III. Perawatan Capasitor Bank
III.1 Perawatan Fisik
Kapasitor yang digunakan untuk memperbaiki PF supaya tahan lama tentunya harus dirawat
secara teratur. Dalam perawatan itu perhatian harus dilakukan pada tempat yang lembab
yang tidak terlindungi dari debu dan kotoran. Sebelum melakukan pemeriksaan pastikan
bahwa kapasitor tidak terhubung lagi dengan sumber. Kemudian karena kapasitor ini masih
mengandung muatan berarti masih ada arus/tegangan listrik maka kapasitor itu harus
dihubung singkatkan supaya muatannya hilang. Adapun jenis pemeriksaan yang harus
dilakukan meliputi :
Pemeriksaan kebocoran
Pemeriksaan kabel dan penyangga
Pemeriksaan isolator
III.2 Proteksi Kapasitor dari Gangguan Harmonisa Frekuesi Tinggi
Sedikit orang yang memahami bahwa kapasitor mempunyai impedansi atau hambatan yang rendah pada
frekuensi tegangan yang tinggi. Atau dengan kata lain apabila gelombang tegangan dan arus listrik mengandung
harmonisa frekuensi tinggi, maka arus listrik cenderung mengalir melalui rangkaian yang hambatannya rendah,
yaitu kapasitor yang terpasang ini.
Semakin banyaknya penggunaan perangkat elektronika daya seperti inverter untuk menaikkan efisiensi
peralatan industri, penggunaan ballast elektronik untuk meningkatkan efisiensi lampu, dan penggunaan
penyearah untuk memasok sumber daya searah membuat bentuk gelombang tegangan dan arus berubah menjadi
non-sinusoidal. Suatu besaran yang digunakan untuk menggambarkan seberapa jauh suatu gelombang tidak
berbentuk sinusoidal dinyatakan dengan besaran harmonisa. Arus harmonisa adalah arus listrik yang
frekuensinya mengandung kelipatan bulat dari frekuensi dasarnya, dalam hal ini PT. PLN menggunakan
frekuensi dasar sebesar 50 Hz. Arus harmonisa yang banyak muncul akibat penggunaan alat-alat elektronika
daya adalah arus harmonisa yang mempunyai frekuensi 150, 250, dan 350 Hz. Di banyak bangunan modern,
kandungan arus harmonisa yang mengalir di jaringan listrik bisa mencapai lebih dari 30%.
Impedansi atau hambatan dari kapasitor berubah sesuai dengan frekuensi arus listrik yang mengalir melalui
kapasitor. Jika hambatan kapasitor mempunyai nilai yang sama dengan hambatan jaringan sumber maka
tercapailah suatu kondisi yang disebut resonansi. Pada kondisi resonansi, hambatan total sistem menjadi nol.
Kondisi ini mirip dengan kondisi rangkaian pendek yang membahayakan kapasitor dan peralatan lainnya.
Kondisi inilah yang sering menyebabkan rusaknya kapasitor dan peralatan lainnya.
Kapasitor sering dilalui arus lebih pada harmonisa frekuesi tinggi. Karena kapasitor biasanya berisi minyak,
kapasitor akan mudah terbakar. Kejadian inilah yang sering memicu banyak kebakaran di industri dan bangunan
modern.
Untuk mengatasi masalah terbakarnya kapasitor karena adanya arus harmonisa, bermacam cara sederhana bisa
dilakukan. Cara pertama yang umum ditawarkan oleh banyak pabrik pembuat kapasitor adalah dengan
memasang induktor secara seri dengan kapasitor untuk mencegah mengalirnya arus harmonisa melalui
kapasitor. Cara ini cukup efektif tetapi menyebabkan biaya pemasangan kapasitor menjadi mahal.
Cara lain yang paling sederhana dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah tentu saja menjauhkan
pemasangan kapasitor dari posisi beban yang diperkirakan banyak menghasilkan harmonisa. Cara ini sering
sekali bisa dilakukan tanpa banyak mengeluarkan biaya tambahan.
Secara umum, pemasangan kapasitor tidak mengkhawatirkan jika :
(i) kapasitas peralatan elektronik yang diperkirakan menghasilkan harmonisa tidak lebih dari 30% kapasitas
sumber, dan
(ii) besar kapasitor yang dipasang tidak lebih dari 50% kapasitas sumber.
Jika penggunaan peralatan elektronik sangat banyak dan kapasitor yang akan dipasang besar maka suatu studi
khusus tentang kemungkinan terjadinya resonansi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kebakaran. Di
banyak bangunan modern yang penggunaan peralatan elektroniknya sangat banyak, peluang terjadinya
resonansi sangat tinggi sehingga studi semacam ini menjadi sangat sering diperlukan. Dengan melakukan studi
ini diharapkan kebakaran yang menyebabkan kerugian ratusan milyar rupiah bisa dicegah.
Artikel lainnya tentang permasalahan di dunia kelistrikan dapat dilihat disini.
Dukung Fendy Sutrisna untuk tetap berbagi dalam artikel ketenagalistrikan I ndonesia dengan klik link
LI KE, COMMENT & SHARE di halaman facebook ini ->Catatan Fendy Sutrisna
IV. Daftar Pustaka :
1. Saiful Adib, Evaluasi Kelayakan Capacitor Bank
2. Arwindra Rizqiawan, Memahami Faktor Daya
3. Pekik Argo Dahono, Kapasitor : bermanfaat sekaligus berbahaya
4. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL TENTANG TARlF
TENAGA LlSTRlK YANG DlSEDlAKAN OLEH PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT
PERUSAHAAN LlSTRlK NEGARA
5. Diskusi Milis Elektro ITB 2004


http://indone5ia.wordpress.com/2011/05/14/192/
http://dunia-listrik.blogspot.com/2008/12/perbaikan-faktor-daya-menggunakan.html