You are on page 1of 3

Kasus HIV/AIDS pada Ibu Rumah Tangga di Bali Meningkat

Sabtu, 01 Desember 2014, 00:31 WIB


REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Jumlah penderita HIV/AIDS di Bali terus meningkat,
bahkan hingga Juni 2014 kata Koordinator Kelompok Kerja Pencegahan, Promosi dan Humas
Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali, dr Mangku Karmaya M Repro, jumlah sudah
mencapai 6.054 orang.

Sedangkan berdasar data Yayasan Spirit Paramacita, jumlah penderita HIV/AIDS di Bali,
disebutkan mencapai 6.700 orang.
"Peningkatan kasus HIV/AIDS, terbanyak terjadi pada ibu-ibu dan anak-anak dan jumlahnya
mencapai 80 persen. Bahkan ibu-ibu yang kena HIV/AIDS, jumlahnya lebih banyak dari kaum
PSK," kata Mangku Karmaya, Jumat (30/11).

Kepada ROL, di Denpasar, Karmaya mengatakan, dari 6.054 pnderita HIV/AIDS di Bali,
terbanyak di Kota Denpasar, disusul Kabupaten Badung dan Kabupaten Buleleng. Di Kabupaten
Jembrana sebut Karmaya, belakangan mulai terkuak bahwa ternyata penderita HIV AIDS dari
kalangan ibu-ibu ruma tangga cukup banyak dan sebagian dari mereka, suaminya adalah PNS.

Timbul pertanyaan, kata Karmaya, dari mana ibu-ibu rumahan bisa mendapat HIV/AIDS. Dia
berpendapat, sumber penularan tentunya, sambung dia, dari suaminya. "Yang menyedihkan, di
antara ibu-ibu itu ada yang sedang hamil dan ada pula yang anaknya sudah dilahirkan," katanya.

Karena itu ke depan, sebutnya, ada upaya untuk melakukan kriminalisasi terhadap laki-laki yang
suka mencari kepuasan seks di tempat-tempat penjaja seks komersial. Saat ini sebutnya, sedang
dicarikan dasar hukum untuk menjerat pembeli kenikmatan seks dan dia meminta aparat penegak
hukum bersikap lebih aktif, tidak bersifat menunggu dan tidak berdasar aduan.

Dikatakannya, pembeli kenikmatan seks bisa dikategorikan dengan sengaja menyebarkan virus
HIV/AIDS kepada istri dan anak-anaknya atau keluarganya. "Yang paling berat adalah, karena
mereka menyebarkan virus yang bisa membuat anak-anak yang tak berdosa tidak punya masa
depan," katanya

Jumlah Kasus HIV/AIDS di Kabupaten Kediri Capai 615
Kamis, 31 Juli 2014 | 00:59

Tes HIV
Kediri - Temuan kasus "Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immunodeficiency
Syndrome" (HIV/AIDS) di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, pada 2014 mencapai 615 kasus
dengan berbagai macam profesi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Adi Laksono, Rabu mengatakan temuan kasus
itu merupakan akumulasi sejak pemantauan pada 1996 sampai sekarang. Dari temuan kasus itu,
diketahui 392 di antaranya adalah perempuan, sementara sisanya laki-laki.

"Dari 615 kasus, jumlah temuan yang meninggal ada 183 orang dengan berbagai macam
latar belakang dan profesi," katanya.

Ia mengatakan, dari pemetaan profesi, diketahui ada yang bekerja sebagai karyawan,
petani, buruh kasar, supir, siswa ataupun mahasiswa, pelaut, bahkan sampai ibu rumah tangga.

Namun, ia juga menyebut, jumlah penderita HIV/AIDS dengan profesi tersebut tidak
terlalu banyak. Misalnya, karyawan hanya 30 orang, petani hanya 25 orang. Jumlah kasus yang
diketahui tinggi justru dari mereka yang berlatar belakang pekerja seks komersial (PSK) dengan
temuan sampai 259 kasus, dan untuk ibu rumah tangga sampai 94 kasus.

Menurut dia, banyak faktor ibu rumah tangga terkena HIV/AIDS, dan salah satunya
terinfeksi dari suami ataupun dari alat suntik yang dinilai tidak bersih, sehingga tertular.

Selain dari profesi, Adi juga mengatakan para penderita itu juga mempunyai latar
belakang risiko yang memicu tertularnya penyakit yang menggerogoti daya tahan tubuh tersebut,
di antaranya karena orientasi seks baik dengan heteroseks, biseksual, perinatal, ataupun tertular
dari IDU atau alat suntik yang tidak steril.

Pihaknya juga menyebut, pemerintah terus giat untuk mencegah penularan penyakit
tersebut pada warga lainnya, di antaranya dengan sering melakukan sosialisasi dan meminta agar
warga, terutama yang mempunyai risiko tinggi terkena HIV/AIDS untuk memeriksakan diri.