You are on page 1of 5

Aku Menangis untuk Adikku Entah Berapa Kali

3 Oktober 2013 pukul 8:55


Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Setiap hari, pekerjaan
orangtuaku membajak tanah.

Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, aku mencuri 50 sen
dari laci ayahku untuk membeli sebuah sapu tangan. Semua gadis di kampungku memiliki sapu
tangan ketika itu, dan aku menginginkannya juga. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
adikku dan aku berlutut di depan tembok dengan sebuah tongkat bamboo ditangannya.

Siapa yang mencuri uang itu? Tanya Ayah. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah
tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi beliau mengatakan, Baiklah, kalau begitu, kalian
berdua layak dipukul! Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku
mencengkram tangannya dan berkata, Ayah, aku yang melakukannya! Tongkat panjang itu
menghantam punggung adikku bertubi-tubi.

Ayah begitu marah sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan napas.
Sesudahnya, ayah duduk diatas ranjang batu bata kami dan memarahi, Kamu sudah belajar
mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di
masamendatang? Kalau tidak kupukul sekarang, kamu bisa mulai mencuri di tempat orang lain
dan malah dipukul sampai mati.

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka,
tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Dipertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai
menangis meraung-raung. Aku melihat punggung adikku biru-biru dan berdarah. Adikku hanya
bisa tengkurap dan tentu saja dia tidak bisa terlelap sama sekali. Aku mulai menangis lagi.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, Kak, jangan menangis lagi
sekarang. Semuanya sudah terjadi.

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju
mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tetapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru
kemarin. Aku tidak pernah akan lupa wajah adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku
berusia 8 tahun dan aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat
kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas provinsi.

Malam itu, ayah duduk di halaman, menghisap tembakaunya, bungkus demi bungkus. Ibu juga
berada di sana. Aku mendengarnya berkata, Kedua anak kita sangat pintar. Hasil belajar mereka
di sekolah sangat bagus sekali.
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela napas, Apa gunanya? Kita tidak
mungkin memiliki biaya untuk membayar pendidikan mereka berdua sekaligus.

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, Ayah, saya tidak mau
melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku.
Ayah mengayunkan tangannya dan memukuk adikku pada wajahnya. Mengapa kau mempunyai
jiwa yang begitu lemahnya? Bahkan jika berarti Ayah mesti mengemis di jalanan, ayah akan
menyekolahkan kamu berdua sampai selesai! Kemudian, ia mengetuk setiap rumah di dusun itu
untuk meminjam uang.

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak. Aku
berkata, Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak, ia tidak akan
pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini. Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak
lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa
helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mongering. Spertinya, dia menyelinap ke
samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas diatas bantalku, kak, kuliahlah. Karena
tidak banyak yang bisa mencapai itu. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirim uang untuk
membantu kuliahmu.

Aku memegang kertas tersebut diatas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran
sampai suaraku hilang. Ini tangusan terderasku sejak adikku dipukuli ayah karena melindungi
beberapa tahun lalu. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun dan aku 20.

Adikku ternyata bekerja dengan mengangkut semen dipundaknya setiap hari. Hatiku sering kali
sangat sakit membayangkan adikku yang kurus mengangkat beban seperti itu berkali-kali setiap
hari. Dari uang yang dihasilkan adikku dan yang dipinjam ayahku dari tetanggga-tetangga, aku
akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas.

Suatu hari, salah satu temanku masuk ke kamarku dan memberitahukan, ada seorang penduduk
dusun menunggumu diluar sana!
Aku kaget, mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Apa ada yang terjadi dengan
keluargaku? Lalu, aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh. Seluruh badannya kotor
tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, Mengapa tidak bilang saja pada temanku
kalau kamu adalah adikku?

Dia tersenyum dan menjawab, kakak ini, lihat penampilanku. Aku takut mereka berpikir
macampmacam jika kamu punya adik berpenampilan seperti aku. Apa merepa tidak akan
menertawakanmu?
Air mata memenuhi mataku. Aku segera membersihkan badannya dari debu dengan kedua
tanganku. Terpatah-patah aku mengatakan padanya, Kamu adalah adikku! Kamu adalah adikku
bagaimana pun penampilanmu. Aku tidak peduli omongan siapa pun!

Adikku lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia
memakaikannya dirambutku, Aku melihat semua gadis kota memakainya. Jadi aku piker kakak
juga harus memiliki satu.
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan
menangis.
Tahun itu, ia berusia 20 tahun dan aku 23.

Saat pertama kali aku pulang ke rumah karena ada teman kecilku yang menikah, ternyata kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan rumahku sangat bersih. Bu, ibu tidak perlu
membersihkan rumah ini hanya karena aku datang!

Ibuku hanya tersenyum, Adikmulah yang melakukannya. Dia pulang awal untuk membersihkan
rumah ini. Apa kamu tidak melihat luka ditangannya? Itu karena dia terkena kaca saat memasang
jendela yang baru itu.
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Dia kurus sekali. Seratus jarum terasa menusukku.
Dia tersenyum padaku ketika aku mengoleskan salep dan membalut lukanya. Aku menangis lagi.
Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menghentikan tangisku ini.
Apakah itu sakit? aku menanyakannya sambil terisak.
tidak, tidak sakit. Ini tidak seberapa. Ditempat kerjaku, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
waktu. Itu saja tidak menghentikanku, apalagi. Ditengah kalimat itu ia berhenti. Mungkin
karena melihatku memunggunginya. Itu karena airmataku mengalir deras turun ke wajahku.
Adikku berumur 23 dan aku berusia 26 tahun saat itu.

Setelah menikah, aku tinggal dikota. Aku dan suamiku sering mengundang orangtuaku untuk
datang dan tinggal bersama kami tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, di kota
tidak tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, dia mengatakan, Kak, jagalah
mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah disini.
Saat suamiku naik pangkat menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku
mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi, adikku
menolaknya. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Jadi, kami membiarkannya
saja.

Suatu hari, ketika adikku sedang diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ia
mendapat sengatan listrik, lalu masuk rumah sakit.
Suamiku dan aku menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, Kalau
kamu mau jadi manajer, kamu tidak akan melakukan pekerjaan yang berbahaya lagi. Lihat kamu
sekarang, lukamu sangat serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami?!

Dia lalu tersenyum dan membela keputusannya, Kak, lihat kakak ipar. Ia baru saja jadi direktur,
sementara aku sendiri hamper tidak berpendidikan. Jika aku yang tidak punya pendidikan, masuk
dan langsung menjadi manajer, apa yang akan dikatakan pegawai lain tentang kakak ipar?
Mata suamiku segera dipenuhi air mata. Kemudian keluar kata-kataku yang terpatah-patah,
Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!
Lalu ia berkata, Ah, kak. Kenapa membicarakan masa lalu? Adikku menggenggam tanganku.
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku menikahi seorang gadis petani dari satu dusun ketika dia berusia 30 tahun. Dalam acara
pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, Siapa yang paling kamu
hormati dan kasihi?
Kakakku, katanya tanpa berpikir panjang.
ketika SD, setiap hari kakak dan aku berjalan selama 2 jam untuk pergi ke sekolah dan pulang
ke rumah. Suatu hari, aku kehilangan satu dari sarung tanganku. Padahal itu sedang musim
dingin. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan ia hanya memakai satu saja
dan berjalan sejauh itu. Ketika kami sampai dirumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca
yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, aku bersumpah,
selama masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-
kata yang begitu susah kuucapkan keluar dari bibirku, Dalam hidupku, orang yang paling aku
berterima kasih adalah adikku. Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, didepan
kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. Aku sudah tidak
mengingat peristiwa sapu tangan itu. Jadi aku hanya menolong sekali dan sehari, dia melakukan
apa pun untuk membuatku berbahagia sepanjang hidupnya sampai sekarang.

(Disadur dari sumber yang tidak diketahui)

Dalam Buku berjudul "Lelaki, Gadis, & Kopi Campur Garam"