You are on page 1of 11

PENGARUH TORSIO TESTIS TERHADAP PENURUNAN JUMLAH

SEL LEYDIG TESTIS KONTRALATERAL PADA


TESTIS TIKUS (Rattus norvegicus)



Apif
1
, Dahril
2
, Dasrul
3
.
1) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala 2) Bagian
Urologi Fakultas Kedokteran Unsyiah 3) Bagian Ilmu Reproduksi Fakultas
Kedokteran Hewan Unsyiah

ABSTRAK
Infertilitas adalah suatu keadaan, yang mana pasangan suami istri tidak dapat
menghasilkan keturunan dalam 1 tahun dengan aktivitas seksual aktif tanpa
menggunakan alat kontrasepsi. Torsio testis merupakan salah satu faktor penyebab
infertilitas yang dapat menyebabkan berbagai dampak pada testis dan jaringan
disekitarnya. Selain itu unilatelar torsio testis dapat berdampak pada histologi testis
kontralateralnya. Dari semua efek yang terjadi pada testis kontralateral salah satunya
berefek terhadap penghambat poliferasi dan fungsi Sel Leydig yang berfungsi
menghasilkan testosteron untuk pertumbuhan dan pembelahan sel-sel germinal testis,
yang merupakan tahap pertama pembentukan sperma. Tujuan penelitian ini adalah
untuk melihat perubahan yang diakibatkan oleh detorsi torsio testis unilateral pada
penurunan jumlah sel Leydig testis kontralateral dan setelah di detorsi selama 30 hari.
Penelitian ini dilakukan secara eksperimen laboratorik dengan pendekatan post test only
control dan menggunakan teknik pengelompokan rancangan acak lengkap (RAL)
dengan menggunakan 3 kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan terjadi
penurunan jumlah sel Leydig testis kontralateral pada kelompok detorsi torsio testis 4
jam dan 30 hari pasca detorsi torsio testis 4 jam ( P<0,05 ), sedangkan antara perlakuan
detorsi torsio testis 4 jam dan 30 hari pasca detorsi torsio testis tidak menunjukkan
perbedaan ( P>0,05 ).
Kata Kunci : Torsio Testis, Kontralateral, Sel Leydig






ABSTRACT
Infertility is a condition in which married couples can not produce offspring within a
year with an active sexual activity without using contraception. Testicular torsion is one
of the causes of infertility that can cause a variety of effects on the testis and
surrounding tissue. Additionally, unilateral testicular torsion can have an impact on
contralateral testicular histology. Of all the effects that occur in the contralateral testis
one effect on the inhibition of proliferation and function of Leydig cells which produce
testosterone function for growth and division testicular germ cells, which is the first
stage of the formation of sperm. The purpose of this study was to observe the changes
caused by unilateral testicular torsion detorsi on decreasing the number of
contralateral testicular Leydig cells and after in detorsi for 30 days. This research was
done with the laboratory experimental design and post-test only control using clustering
techniques completely randomized design (CRD) using the 3 treatment groups. The
results showed a decrease in the number of Leydig cells in the testes contralateral
testicular torsion detorsi group 4 hours and 30 days after testicular torsion detorsi 4
hours (p <0.05), whereas between the treatment of testicular torsion detorsi 4 hours
and 30 days post detorsi testicular torsion is not shows the difference.
Keyword : Testicular torsion, Contralateral, Leydig cells
PENDAHULUAN
Infertilitas adalah suatu keadaan,
yang mana pasangan suami istri tidak
dapat menghasilkan keturunan dalam 1
tahun dengan aktivitas seksual aktif
tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
Infertilitas masih menjadi permasalahan
bagi 15% dari pasangan suami istri.
Faktor infertilitas pria memegang
peranan 50% dari keseluruhan kasus
infertilitas.
(1)
Beberapa faktor yang dapat
menimbulkan suatu keadaan infertilitas
pada pria, antara lain kelainan genetik,
umur, infeksi, autoantibodi, defesiensi
testosteron, hipogonadisme, kanker,
faktor lingkungan, efek samping dari
pengobatan, torsio testis, rertograde
ejaculation, vasectomy, varicocele, dan
sebab-sebab lain yang belum
diketahui.
(2)
Torsio testis menyebabkan
berbagai dampak pada testis dan
jaringan disekitarnya. Mulai dari
gangguan proses spermatogenesis,
penurunan kualitas sperma, hingga
perubahan histopatologi jaringan yang
terdapat didalam testis khusunya
tubulus seminiferus dan jaringan
interstisial.
(3)
Berbagai sel dalam testis
seperti sel Sertoli, sel Leydig dan sel
epitel germinal, akan mengalami
hipoksia dan anoksia, sehingga terjadi
gangguan fungsi sampai kematian sel
tersebut.
(4)
Selain itu unilatelar torsio testis
dapat berdampak pada testis
kontralateral, dampaknya terjadi pada
histologi testis kontralateralnya.
(5)
Pada
torsio testis kontralateral dapat
ditemukan adanya proses abnormalitas
seperti terjadi atrofi dari sel Leydig,
terjadi perubahan fisiologi pada sel
Sertoli, penurunan jumlah sperma,
terjadi proses apoptosis yang cepat pada
epitel germinalnya.
(6)
Banyak teori yang menjelaskan
bahwa kerusakan kontralateral testis
akibat unilateral torsio testis dapat
dipicu oleh berbagai mekanisme yang
masih diperdebatkan sampai sekarang,
diantaranya adalah akibat dari reaksi
radikal bebas oksigen yang dilepas
setalah proses reperfusi
(7)
, dapat juga
diakibatkan oleh terajadinya
peningkatan dari perfusi darah ke
jaringan
(8)
, selain itu dapat juga dipicu
oleh proses auto-imun.
(9,10)
Kerusakan pada kontralateral ini
dapat terjadi oleh karena proses iskemik
sekuder yang dipicu oleh reflex
vasokonstriksi pada pembuluh darah
testis kontralateral akibat respon saraf
simpatis.

Penurunan blood flow dapat
menyebabkan terjadinya hipoksia pada
jaringan sehingga terjadi peningkatan
produksi ROS (Reactive Oxygen
Species).

Hal tersebut dapat
menyebabkan gangguan dari perfusi
jaringan, terjadi peningkatan dari
ekspresi adhesi molekul, migrasi dari
leukosit, kerusakan pada epitel
spermatogenik, respon autoimun,
kerusakan pada testis blood-barrier
(11)
,
dan penurunan kadar testosteron
serum.
(12)

Dari semua efek yang terjadi pada
testis kontralateral salah satunya
berefek terhadap penghambat poliferasi
dan fungsi Sel Leydig melalui produksi
ROS yang merangsang pengeluaran
magrofak.
(13)

Berdasarkan hal tersebut peneliti
ingin melihat perubahan yang
diakibatkan oleh detorsi torsio testis
unilateral pada menurunan jumlah sel
Leydig testis kontralateral dan setelah di
detorsi selama 30 hari, karena sel
Leydig menghasilkan testosteron yang
berfungsi untuk pertumbuhan dan
pembelahan sel-sel germinal testis, yang
merupakan tahap pertama pembentukan
sperma.
(14)
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah
penelitian eksperimen laboratorik
dengan pendekatan post test only
control dan menggunakan teknik
pengelompokan rancangan acak
lengkap (RAL) dengan menggunakan 3
kelompok perlakuan. Pengambilan
sampel dilakukan secara purposive
sampling.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Syiah
Kuala.
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan
Oktober 2013 sampai Januari 2014.
Sampel Penelitian
Sampel pada penelitian ini adalah 27
ekor tikus Rattus norvegicus jantan dengan
umur 3-4 bulan dan berat 150-200 gram.
Definisi Operasional
Untuk memudahkan memahami
pengertian dari variabel-variabel dalam
penelitian ini, akan dijelaskan dalam
definisi operasional sebagai berikut:
1. Pola torsio Testis
Torsio testis adalah memutarnya
funikulus spermatikus. Pada
perlakuan masing-masing
kelompok akan dilakukan torsio
sebanyak 1 x 360 derajat dan
diputar ke arah medial. Torsio
akan dibiarkan selama 4 jam.
2. Detorsi
Detorsi adalah proses mereposisi
kembali testis yang telah
mengalami torsio.
3. Variasi waktu
Variasi waktu adalah lamanya
waktu untuk menilai perlakuan.
Menilai efek cepat dengan melihat
efeknya langsung setelah detorsi
serta menilai efek lambat dengan
membiarkan tikus selama 30 hari
setelah detorsi dan dilihat
efeknya.
3 Gambaran jumlah sel Leydig
Sel-sel interstisial Leydig
merupakan sel yang memberikan
gambaran mencolok untuk
jaringan tersebut. Sel-sel Leydig
letaknya berkelompok memadat
pada daerah segitiga yang
terbentuk oleh susunan-susunan
tubulus seminiferus. Sel-sel
tersebut besar dengan sel
sitoplasma sering bervakuol pada
sajian mikroskop cahaya. Inti
selnya mengandung butir-butiran
kromatin kasar dan anak inti yang
jelas.
(5)
Variabel dapat diukur
dengan menggunakan mikroskop
foto DP 12 dengan hasil ukuran
berupa jumlah sel nominal.

Teknik / Prosedur Penelitian
Tiga puluh ekor tikus Wistar
(Rattus norvegicus) jantan yang
berumur 3-4 bulan dengan berat badan
150-200 gram dibiarkan selama
seminggu untuk proses aklimatisasi.
Selama masa penelitian, hewan coba
dikandangkan dalam wadah yang diberi
alas sekam dan deberikan pakan standar
berupa pellets dan air ad libitum.
Ketiga puluh hewan coba
dirandomisasi menjadi 3 kelompok,
masing-masing kelompok terdiri dari 9
ekor tikus. Kelompok kontrol tidak
dilakukan perlakuan berupa torsio testis
unilateral. Sementara kedua kelompok
perlakuan di anaestesi dengan cara
melakukan injeksi secara intramuskular
dengan mengguanakan obat anastesi
berupa lidocain 0.2%. Setelah hewan
coba teranastesi, kemudian skrotum
diinsisi dan diberi perlakuan berupa
torsio 360
o
ke arah medial pada
unilateral testis. Kemudian luka insisi
dijahit dan torsio dibiarkan selama 4
jam. Setelah 4 jam, skrotum diinsisi
kembali kemudian dilakukan reposisi
360
o
ke arah lateral. Pada 18 ekor tikus
dari kedua kelompok perlakuan
dilakukan pengangkatan dan pembuatan
preparat histologi sebelum diamati di
bawah mikroskop (efek cepat) pada
testis kontralateralnya. Sedangkan 8
ekor tikus lain pada tiap kelompok
perlakuan dilakukan fiksasi dengan
benang absorbable, lalu luka insisi
ditutup dan dibiarkan selama 30 hari.
Setelah 30 hari, dilakukan kembali
insisi skrotal kemudian testis
kontralateral diangkat, dilkukan
pembuatan preparat, kemudian diamati
dibawah mikroskop (efek lambat).
Kemudian testis melalui
serangkaian tahapan pembuatan
preparat yang dilaukan dengan proses
pewaranaan Haematoxylin dan Eosin
(H&E). Dalam pembuatan mikroteknik
preparat histologi, langkah pertama
yang harus dilakukan ialah fiksasi. Pada
tahap ini, testis yang telah dipotong
seukuran 2 cm diletakkan di kaca film,
lalu direndam dalam larutan formalin
selama 24 jam. Kemudian dilanjutkan
dengan langkah kedua yang dikenal
dengan istilah dehidrasi. Pada tahap ini,
potongantestis direndam dalam larutan
alkohol 80% selam 2 jam. Selanjutnya
direndam lagi dalam alkohol dengan
konsentrasi 90%, 95%, 100%I dan
100%II seacara berurutan masing-
masing selama 2 jam. Kemudian
dilakukan tahapan ketiga yang disebut
clearing, yaitu peendaman sebanyak 3
kali dalam larutan xylol masing-masing
selama 30 menit dalaam botol yang
berbeda. Selanjutnya dilakuan proses
infiltrasi yang dikerjakan dalam
inkubator dengan suhu 56-58
o
C. Potong
testis direndam dalam parafin sebanyak
3 kali masing-masing selama 30 menit.
Kemudian dilanjutkan dengan
embedding dengan mencelupkan
potongan testis dalam parafin cair yang
telah dituang dalam wadah yang
berbentuk kubus ukuran 3x3 cm yang
terbuat dari karton jeruk. Selanjutnya
wadah tersebut dimasukkan ke dalam
air, lalu dimasukkan kedalam lemari es,
dansetelah beberapa saat, parafin akan
memadat dan testis berada dalam blok
parafin.
Testis dalam blok parafin
ditempelkan pada lempeng mikrotom.
Ketebalan irisan yang diinginkan adalah
4-6 um. Irisan diambil dengan pinset
dan dimasukkan kedalam air hangat
(38-40
o
C) untuk meluruskan kerutan
halus yand ada dan untuk membuka
lipatan irisan yang mungkin terjadi pada
preparat. Irisan yang terentang
sempurna diambil dengan gelas obyek.
Potongan terpilih dikeringkan dan
diletakkan diatas hotplate (38-40
o
C)
sampai preparat menjadi kering.
Kemudian preparat tersebut
diwarnai dengan hematoxylin dan Eosin
(H&E) yang terdiri dari beberapa
rangkaian tahapan dengan
menggunakan berbagai larutan seperti
xylol, alkohol, alkohol absolut, air
mengalir, dan berakhir diberi balsem
Canada agar preparat merekat kuat pada
gelas obyek dan cover (Lampiran 4).
Lalu preparat diamati di bawah
mikroskop foto DP 12 menggunakan
skala 20 um dan 30 um dan selanjutnya
di foto. Perhitungan dilakukan pada 1
penampang potongan testis yang dibagi
menjadi 4 bagian (kanan atas, kanan
bawah, kiri atas, kiri bawah). Setiap
bagian diambil 3 tubulus untuk dihitung
jumlah selnya dengan pembesaran
400X pada 5 lapangan pandang.

Analisa Data
Data primer yang diperoleh dari
hasil pengamatan jumlah sel Leydig
testis kontralateral akan diuji normalitas
dengan menggunakan uji Kolmogorov-
Smirnov dan homegenitas dengan
menggunakan uji Levene serta uji beda
dengan metode analisis ANOVA satu
arah dan akan dilanjutkan dengan
metode Tukeys HSD test. Hasil
pengolahan data akan ditampilkan
dalam bentuk gambar dan tabel.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian
Setelah dilakukan pengamatan
pada masing-masing kelompok, yaitu
kelompok kontrol (K), efek cepat (P1),
dan efek lambat (P2). Dengan jenis
perlakuan pada masing-masing
kelompok secara berurutan yaitu tidak
dilakukan torsio, diinduksi torsio testis
360 derajat selama 4 jam dengan
pengamatan langsung pada testis
kontralateralnya dan diinduksi torsio
testis 360 derajat selama 4 jam dengan
pengamatan setelah 30 hari pasca
detorsi pada testis kontralateral. Data
jumlah sel Leydig testis
kontralateralnya diuji normalitas dan
homogenitas, kemudian dilanjutkan
dengan uji statistik ANOVA satu arah
dan Tukey HSD test.

Gambaran Histologi Jumlah Sel
Leydig Testis Kontralateral





(a)








(b)





(c)
Gambar 4.1 Histologi Jumlah Sel
Leydig Testis Kontralateral (a) Preparat
kontrol dengan pewarnaan H&E
(pembesaran 1000x), (b) Preparat P1
dengan Pewarnaan H&E (pembesaran
1000x), (c) Preparat P2 dengan
Pewarnaan H&E (pembesaran 1000x).

Jumlah Sel Leydig Testis
Kontralateral
Setelah dilakukan perhitungan
jumlah sel Leydig testis kontralateral
pada 5 lapangan pandang setiap
preparat, didapatkan rerata jumlah sel
Leydig testis kontralateral sebagai
berikut.

Tabel 4.1 Rerata Std. Error Jumlah
Sel Leydig Testis Kontralateral
Kelompok
Jumlah
Perlakuan
Rarata
Std. Error
Sel Leydig
Kontrol (K) 9
181,33
9,14
Efek Cepat
(P1)
9
143,11
4,51
Efek Lambat
(P2)
9
151,89
7,55

Tabel 4.2 Uji Normalitas Jumlah Sel
Leydig Testis Kontralateral
Menggunakan Kolmogorov-Smirnov
Kelompok Ulangan Mean SD Sig.
Kontrol
(K)
9 181,33
27,42
0,609
Efek
Cepat
(P1)
9 143,11
13,54
0,960
Efek
Lambat
(P2)
9 151,89
22,65
0,998
Hasil analisis di atas nilai
Kolmogrov-Smirnov tiap kelompok
perlakuan sebesar 0,609 (>0,05), 0,960
(>0.05), 0,998 (>0.05), karena hasil dari
setiap kelompok perlakuan >0,05 maka
hasil uji normalitas didapatkan data
terdistribusi normal.
Selanjutnya dilakukan uji
homogenitas dari hasil jumlah sel
Leydig dengan menggunakan uji
Lavene. Hasil uji homogenitas
penelitian tersaji pada tabel 4.3 berikut
ini.






Tabel 4.3 Uji Homogenitas Jumlah Sel
Leydig Testis Kontralateral
Menggunakan Levene Test
Levene
Statistic
df1 df2 Sig.
0,991 2 24 0,386
Berdasarkan uji Lavene
didapatkan nilai signifikansinya 0,386
(>0,05), karena nilai signifikansinya
>0,05 maka data jumlah sel Leydig
memiliki varian yang sama atau
homogen. Setelah dilakukan uji
normalitas dan homogenitas, maka data
memenuhi syarat untuk dilanjutkan
dengan Analysis of variance (ANOVA)
one way.
Tabel 4.4 Uji Statistik Analysis of
variance (ANOVA) one way dan Tukey
HSD Test

Sum
of
Squar
es
df
Mean
Square
F Sig.
Between
Group
7096,
889
2 3548,4
44
7,
34
9
0,00
3
Within
Group
11587
,778
24 482,82
4

Total 18684
,667
26
Berdasarkan uji statistik Analysis
of variance (ANOVA) one way
didapatkan F hitung > F tabel
(7,349>3,403) atau signifikannya
0,003<0,005, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa hasil uji statistik
Analysis of variance (ANOVA) one
way menunjukkan adanya perbedaan
yang nyata (P<0,005) pada kelompok
penelitian. Untuk melihat kelompok
yang berbeda dilanjutkan dengan uji
lanjut dengan menggunakan Tukey
HSD test.
Perbandingan
Std.
Error
Sig.
Perlakuan Perlakuan
Kontrol P1 10,3829 0,003
P2 10,3829 0,029
P1 K 10,3829 0,003
P2 10,3829 0.618
P2 K 10,3829 0,029
P1 10,3829 0,618
Dari hasil uji Tukey HSD test
didapatkan jumlah sel Leydig pada
kelompok Kontrol berbeda nyata
(P<0,05) dengan kelompok P1 dan P2,
sedangkan antara kelompok P1 dan P2
tidak berbeda nyata (P>0,05).
Pembahasan
Torsio testis merupakan salah satu
faktor penyebab infertilitas yang dapat
menyebabkan berbagai dampak pada
testis dan jaringan disekitarnya.
(2,3)

Selain itu unilatelar torsio testis dapat
berdampak pada histologi testis
kontralateralnya.
(5)
Dari semua efek
yang terjadi pada testis kontralateral
salah satunya berefek terhadap
penghambatan poliferasi dan fungsi Sel
Leydig yang berfungsi menghasilkan
testosteron untuk pertumbuhan dan
pembelahan sel-sel germinal testis yang
merupakan tahap pertama pembentukan
sperma.
(14)

Berdasarkan penelitian ini di
dapatkan torsio testis unilateral dapat
menurunkan jumlah sel Leydig testis
kontralateral. Hal tersebut dapat terjadi
karena torsio testis menyebabkan
iskemia, yaitu penurunan drastis aliran
darah mikrovaskular testis dan tekanan
oksigen akibat terpelintirnya furnikulus
spermatikus.
(15)
Keadaan iskemia
tersebut dapat memicu peningkatan
produksi radikal bebas oleh makrofag,
neutrofil, spermatozoa serta berbagai
jenis sel lain yang berada dalam kondisi
patologis.
(16)
Menurut Docmeci, torsio
testis unilateral dapat menyebabkan
kerusakan pada testis kontralateral yang
disebabkan oleh gangguan dari perfusi
jaringan, terjadi peningkatan dari
ekspresi adhesi molekul, migrasi dari
leukosit, kerusakan pada epitel
spermatogenik, respon autoimiun,
kerusakan pada testis blood-barrier dan
peningkatan aktifitas radikal bebas.
(11)

Pada torsio testis unilateral juga
dapat menyebabkan perubahan pada
enzim antioksidan, histopatologi dan
aktivitas radikal bebas pada testis
kontralateral. Pada testis kontralateral
terjadi penurunan aktifitas catalase
(CAT) dan glutathione peroxidase
(GHS-Px), glutathione (GSH), mean
values of seminiferous tubule diameter
(MSTD) dan germinal cell layer
thicknesses (GCLT), serta peningkatan
dari nitric oxide (NO).
(7)

Pada hasil Penelitian Yildiz et al
yang melakukan torsio 720 derajat
selama 2 jam pada testis kontralateral
ditemukan penigkatan dari NO
dibandingkan dengan kontrol, rerata
nilai NO pada testis kontralatral adalah
33,10 0,22 mol/g dan jumlah NO
pada testis kontrol adalah 31.11 0.49
mol/g serta peningkatan
malondialdehyde (MDA) jika
dibandingkan dengan MDA pada
kontrol. Pada testis kontralateral rerata
MDA adalah 0,73 0,03 mol/g dan
pada kontrol rerata MDA adalah 0,60
0,02 mol/g namun demikian
peningkatan MDA secara statistik tidak
signifikan jika dibandingkan dengan
kelompok control.
(7)

Peningkatan ROS sendiri dapat
menyebabkan kerusakan pada testis.
ROS merupakan senyawa kimia yang
memiliki satu elektron tidak
berpasangan di orbital luarnya sehingga
menjadi senyawa yang sengat reaktif
autokatalitik dari protein, lipid,
karbohidrat dan terutama molekul-
molekul yang terdapat pada membran
sel maupun asam nukleat.

MDA sendiri
terbentuk dari reaksi NO dan hidrogen
peroxida (H
2
O
2
). MDA dapat bereaksi
dengan lipoprotein pada sel sehingga
dapat menyebabkan gangguan pada
permeabilitas sel, integritas sel serta
menyababkan kerusakan pada organel
sel dan MDA juda dapat menggangu
proses transkripsi DNA sehingga
menyebabkan kerusakan sel.
(17)
Jumlah
NO yang tinggi dapat menyebabkan
terjadinya gangguan pada DNA dan
kematian pada sel. NO juga dapat
meningkatkan produksi dari cyclic
guanosine monophosphate yang mana
dapat menyebabkan relaksasi dari otot
polos sehingga terjadi peningkatan
perfusi jaringan.
(7)

Hasil penelitian ini terlihat bahwa
jumlah Sel Leydig testis kontralateral
pada efek cepat (P1) tidak berbeda
secara nyata (P>0,05) dengan efek
lambat (P2). Hasil penelitian ini sesuai
dengan hasil penelitian yang dilaporkan
oleh beberapa peneliti sebelumnya,
diantaranya Lorenzini et al yang
melakukan penelitian pada tikus yang
ditorsio testis 1.080
0
selama 1, 5, 10 dan
90 hari. Hasil penelitiannya torsio testis
tidak menunjukkan efek jangka panjang
terhadap proses spermatogenesis testis
kontralateral.
(9)
Turner juga melakukan
penelitian torsio testis unilateral pada
tikus dewasa selama 1, 2 dan 4 jam,
hasil penelitiannya tidak menunjukkan
adanya efek jangka panjang terhadap
kerusakan spermatogenesis testis
kontralateral setelah 7, 30 dan 60
hari.
(18)

Namun hasil penelitian ini
berbeda dengan hasil penelitian yang
dilaporkan oleh Kosar et al membuat
penelitian pada tikus dengan banyak
variasi torsio testis selama 12, 48 dan 3
bulan, dengan ada atau tidak
orchiectomy pada 1 bulan setelah torsio.
Hasil pengamatan pada bulan 1
menunjukkan terjadi pengurangan yang
signifikan pada berat testis, diameter
tubulus seminiferus dan Johnsen Score,
sedangkan pada pengamatan bulan ke 3
menunjukkan perbaikan berarti.
(19)

Meskipun hasil penelitian ini
secara statistik tidak menunjukkan
perbedaan yang nyata, namun ada suatu
kecenderungan bahwa makin lama
waktu setelah detorsi makin bertambah
jumlah Sel Leydig testis kontralateral
yang di peroleh. Pertambahan jumlah
sel Leydig tersebut kemungkinan
disebabkan oleh perbaikan sel setelah
detorsi testis. Detorsi yang dilakukan 4
jam setelah torsio membuat testis
tersebut kembali mendapat suplai darah
dan oksigen karena testis yang ditorsio
menjadi infark dimulai 2 jam setelah
iskemi, infark torsio testis menjadi
irreversibel setelah 6 jam dan infark
menjadi lengkap setelah 24 jam.
(11)

Suplai darah tersebut juga membawa
enzim antioksidan yang mampu
menekan peningkatan ROS sehingga
tidak terjadi oksidatif stres pada testis
tersebut.

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Detorsi torsio testis unilateral
dapat menurunkan jumlah sel
Leydig testis kontralateral pada
tikus Rattus norvegicus.
2. Efek lambat setelah detorsi torsio
testis unilateral tidak berpengaruh
terhadap peningkatan jumlah sel
Leydig testis kontralateral pada
efek cepat.
Saran
1. Perlu dilakukan penelitian
lanjutan mengenai lama waktu
detorsi torsio testis yang paling
baik untuk mencegah kerusakan
testis kontralateral.
2. Perlu dilakukan penelitian
lanjutan mengenai perubahan
kadar hormon testosteron yang
disekresikan oleh sel Leydig pada
testis yang mengalami detorsi
torsio testis.
1 DAFTAR PUSTAKA
1. Agarwal A and Said T. Oxidative
stress, DNA damage and
apoptosis in male infertility: a
clinical approach. BJUI. 2005; p.
503-7.
2. Sikka S. Oxidative Stress and
Role of Antioxidant in Normal
and Abnormal Sperm Function.
Frountiers in Bioscience. 1996; 1:
p. 78-86.
3. Leeson CR, Leeson TS, Paparo
AA. Textbook of Histology.
Jakarta: EGC; 1996; p. 511-526

4. Ongkorahardjo E, Hardjowijoto S,
Soetojo , Sudiana K, Widodo JP.
Hubungan orkidektomi dan
detorsi dengan respon imun testis
kontralateral pada torsio testis.
Jurnal Urologi Indonesia. 2008;
15(1-6).
5. Vigueras RM, Reyes G, Rojas-
castaneda J, Rojas P, Hernandez
R. Testicular torsion and its
effects on the spermatogenic cycle
in the contralateral testis of the
rat. Laboratory Animals. 2004;
38: p. 313-8.
6. Visser AJ and Heyns CF.
Testicular function after tersion of
spermatic cord. BJU
Internasional. 2003; p. 200-4.
7. Yildiz H, Durmus AS, Simsek H,
Yaman M. Protective effect of
sildenafil citrate on contralateral
testis injury after unilateral
testicular torsio/detorsion. Clinics.
2011; 66(1): p. 137-6.
8. Koc A, Akaydin Y, Narci A, Duru
M, Gergerlioglu HS, Sogut S. The
protective role of erdosteine on
testicular tissue after testicular
torsion and detorsion. Molecular
and Cellular Biochemistry. 2005;
280: p. 193-8.
9. Lorenzini F, Filho RT, Gomes
RPX, Andreda AJM, Erdmann
TR, Matias JEF. Long-term effect
of the testicular torsion on the
spermatogenesis of the colateral
testis and the preventive valie of
the twisted testis
orchiepidymectomy. Acta Cir
Bras. 2012; 27(6): p. 388-8.
10. Subowo. Imuno Biologi.
Bandung: Angkasa; 1993; p. 17-
20, 53-7.
11. Dokmeci D. Oxidative Stress and
Testicular Torsion. Springer
Science. 2012; p. 355-44.
12. Harjdjowijoto S. Pengaruh torsio
testis unilateral terhadap
modulasi imunitas dan apoptosis
sel germinal di testis
kontralateral. Disertasi. Surabaya.
Universitas Airlangga; 2004; p.
110.
13. Weinbauer GF, Luetjens CM,
Simoni M, Neischaig E.
Andrology : Male Reproductive
Health and Dysfunction. 3rd ed.
Neischlag E, Behre H, Neischlag
s, editors. Berlin: Spinger; 2010;
p. 38-39.
14. Guyton C and Hall JE. Buku Ajar
Fisiologi Kedokteran. Jakarta:
EGC; 2007; p. 1055-1059.
15. Eliastam M, Sternbach GL,
Bresler MJ. Penuntun
Kedaruratan Medis. Jakarta:
EGC. 1998; P. 166-167.
16. Turner TT and Jeffrey JL.
Oxidative stress A common
Factor in Testicular Dysfunction.
Journal of Andrology. 2008;
5(29): p. 488-498.
17. Halliwell B and Gutteridge J. Free
radicals in biology and medicine.
3rd ed. Oxford: Oxford University
Press; 2006. p. 249-253
18. Turner TT. Acute experimental
testicular torsion. No effect on the
contralateral testis. J Androl.
1985;6(1):65-72.
19. Kosar A, Sarica K, Kupeli B,
Alcigir G, Suzer O, Kupeli S.
Testicular torsion: evaluation of
contralateral testicular histology.
Int Urol Nephrol. 1997;29(3):351-
6.