You are on page 1of 3

Pencemaran dan Polusi Udara di Daerah Banjarmasin dan

Banjarbaru

Sumber pencemaran udara berasal dari berbagai kegiatan, antara lain industri,
transportasi, perkantoran, dan perumahan. Sumber pencemaran udara juga dapat
disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, dan gas
alam beracun. Penggunaan bahan bakar yang kurang ramah lingkungan seperti bahan
bakar minyak atau batu bara dengan kadar sulfur tinggi juga merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi pencemaran udara. Kontribusi pencemaran udara di daerah
perkotaan besar berkisar 70-80 persen berasal dari sektor transportasi. Pencemaran udara
dari kendaraan bermotor yang melebihi ambang batas akan mengakibatkan gangguan
kesehatan.
Adapun parameter pencemar udara yang lain menurut Peraturan Pemerintah Nomor
41 tahun 1999, meliputi: sulfur dioksida (SO
2
), karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida
(NO
2
), oksidan (O
3
), hidrokarbon (HC), PM 10, PM 2,5, TSP (debu), Pb (Timah Hitam),
dustfall (debu jatuh). Pada kebakaran lahan dan hutan yang terjadi akhir-adkhir ini di
daerah Kalimantan Selatan sangat merugikan aspek ekonomis, sosial, ekologis, politis, dan
kesehatan, baik pada skala regional daerah, skala regional (ASEAN) maupun skala global
(climate change dan global warming) dan menjadi bagian dari skema ASEAN Agreement on
Transboundary Haze Pollution (AATHP) yang terdapat di lima provinsi di Indonesia, tentang
kebakaran lahan dan hutan atau penyumbang hotspot terbanyak. Wilayah di Indonesia
yang menjadi area hotspot terbesar, antara lain terletak di wilayah Kalimantan Barat,
Sumatera Selatan, Riau, Jambi, dan Kalimantan Tengah.
Dari data BPS tahun 1999, di beberapa propinsi terutama di kota-kota besar seperti
Medan, Surabaya dan Jakarta, emisi kendaraan bermotor merupakan kontribusi terbesar
terhadap konsentrasi NO2 dan CO di udara yang jumlahnya lebih dari 50%. Penurunan
kualitas udara yang terus terjadi selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kita bahwa
betapa pentingnya digalakkan usaha-usaha pengurangan emisi ini. Baik melalui
penyuluhan kepada masyarakat ataupun dengan mengadakan penelitian bagi penerapan
teknologi pengurangan emisi. Secara umum, terdapat 2 sumber pencemaran udara, yaitu
pencemaran akibat sumber alamiah, seperti letusan gunung berapi, dan yang berasal dari
kegiatan manusia, seperti yang berasal dari transportasi, emisi pabrik, dan lain-lain. Di
dunia, dikenal 6 jenis zat pencemar udara utama yang berasal dari kegiatan manusia, yaitu
Karbon monoksida (CO), oksida sulfur (SOx), oksida nitrogen (NOx), partikulat,
hidrokarbon (HC), dan oksida fotokimia, termask ozon. Di Indonesia, kurang lebih 70%
pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor
mengeluarkan zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap
kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti timbal/timah hitam (Pb), oksida
nitrogen (NOx), hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox).
Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% timbal, 13-44% suspended particulate
matter (SPM), 71-89% hidrokarbon, 34-73% NOx, dan hampir seluruh karbon monoksida
(CO) ke udara Jakarta. Sumber utama debu berasal dari pembakaran sampah rumah
tangga, di mana mencakup 41% dari sumber debu.
Data menurut WHO, setiap tahun diperkirakan terdapat sekitar 200 ribu kematian
akibat outdoor pollution yang menimpa daerah perkotaan, di mana sekitar 93 persen kasus
terjadi di negara berkembang. Banjarbaru dan kota lain di Indonesia sering dilanda cuaca
tak menentu seperti sekarang. Sebentar panas, lalu tiba-tiba mendadak hujan turun dengan
derasnya. Dalam situasi musim tak menentu ini polusi udara juga menjadi bahaya bagi
kesehatan. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan pasal 163, menerangkan bahwa lingkungan yang sehat bisa terwujud
bila terhindar dari unsur salah satunya adalah udara yang tercemar.
Selain di daerah banjarbaru, di daerah Banjarmasin juga sering terjadi polusi udara.
Menurut Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Banjarmasin, H Hamdi mengungkapkan,
udara di ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan tersebut kini semakin penuh polusi debu
yang membahayakan bagi kesehatan manusia. Kualitas udara di kota Banjarmasin ini masih
jauh dari ambang batas normal bagi kesehatan, salah satu penyebabnya polusi debu.
Kondisi tersebut, menurut mantan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota
Banjarmasin itu, sangat merisaukan, karena keadaan udara itu kurang baik bagi kesehatan
karena, rata-rata di titik daerah kontrol yang pihaknya lakukan ambang batas pencemaran
udara terdeteksi melebihi baku mutu, yakni di atas 230 microgram permeter kubik.
Pencemaran udara yang berada di atas ambang batas itu kurang baik bagi kesehatan kalau
terhirup.
Selan itu, menurut kami sebagai pengguna kendaraan bermotor, titik kontrol
pencemaran udara di daerah Banjarmasin yang sangat tinggi polusi debunya yaitu di Jalan
Lingkar Selatan, Banjarmasin Selatan. Hal ini dapat terjadi, karena di Jalan Lingkar Selatan
itu penuh lalu-lalang angkutan bermotor yang besar, hingga menimbulkan banyak debu
yang bertebaran, belum lagi polusi asap akibat kendaraan bermotor dan kebakaran lahan
yang sering terjadi akhir-akhir ini. Selain di Jalan Lingkar Selatan, polusi udara karena
debu dan asap juga sering terjadi, yakni di Jalan Brigjen Hasan Basri-Kayu Tangi, dan Jalan
Lambung Mangkurat. Selain itu, di Jalan Sultan Adam, Jalan Pangeran Samudera, Jalan
Lingkar Selatan, Jalan Belitung dan di Jalan Ahmad Yani. Di Jalan Lambung Mangkurat
yang jalannya cukup dirimbuni pepohonan udaranya terbilang kurang polusi. Bahkan
tidak hanya waktu hari panas, tapi di saat hujan pun udara di "kota seribu sungai"
Banjarmasin juga menghawatirkan polusi debunya. Jika hal itu dibiarkan, akan
menimbulkan sejumlah dampak negatif, seperti penyakit dan sejumlah persoalan lainnya,
yang bisa saja terus terjadi dan meningkat. Penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)
saat ini, seolah-olah sudah menjadi tren yang kebanyakan akibat kondisi udara yang tidak
sehat karena debu. Oleh sebab itu, perlu pola pengawasan dan pengaturan terhadap
aktivitas-aktivitas yang memicu terjadinya debu, seperti proyek pengurukan bangunan,
sebaiknya developer dapat memperhatikan agar tanahnya jangan sampai mengotori jalan.
Selain itu, perlu aturan yang mewajibkan setiap angkutan material, terutama angkutan
tanah/galian agar dapat menjaga kebersihan, hal ini menurut kami sangat perlu dilakukan
agar angkutan tidak menimbulkan material yang terjatuh dan berserakan di jalan raya
yang dapat menyebabkan polusi udara.