You are on page 1of 4

1

AKTIVITAS VULKANIK PADA BUSUR KEPULAUAN (I SLAND ARC)



Sistem busur kepulauan terbentuk ketika litosfer samudera tersubduksi di bawah lempeng
litosfer samudera lainnya (Kearey et al, 2009). Busur kepulauan biasanya terdapat di tepi
samudera, seperti Pasifik, di mana sebagian besar busur kepulauan berada. Busur kepulauan
(island arc) merupakan karakteristik yang khas dari zona subduksi (Sapiie dkk, 2012). Menurut
Winter (2001) aktivitas tektonik dari zona penunjaman (subduksi) menyebabkan munculnya
busur kepulauan yang disebut juga sebagai busur magmatik (magmatic arc). Busur kepulauan
merupakan rangkaian akitifitas gunung api strato yang terbentuk pada lempeng samudera.
Letaknya sejajar dengan palung samudera dan berjarak 100 400 km, tergantung pada sudut
penunjamannya.
Saat litosfir menyusup masuk ke astenosfir yang bersuhu tinggi, lempeng yang turun
dengan sedimen yang mengandung air mulai melebur. Kemudian magma baru terbentuk, bersifat
andesitis dan lebih lunak dari batuan selubung disekitarnya. Akibatnya setelah cukup banyak, ia
naik perlahan-lahan keatas. Umumnya akan naik sampai di bawah kerak benua, dimana ia
mendingin dan mengkristal, beberapa kilometer dibawah permukaan. Sisa magma yang terjadi
mungkin juga akan bermigrasi ke permukaan, melalui rekahan, sebagai jalur gunung api strato.

Asal Mula Magma di bawah busur kepulauan
Kerak samudera bagian atas mengandung Mid Ocean Ridge Basalt (MORB) yang telah
mengalami perubahan kimiawi setelah keluar dari pematang tengah samudera. Perubahan
pertama adalah perubahan hydrothermal (hydrothermal alteration) yaitu hidrolisis pada olivine
(Mg, Fe)
2
SiO
2
menjadi serpentin (Mg
3
Si
2
O
5
(OH
4
). Perubahan kedua adalah laisan basalt yang
menunjam membawa serta sedimen pelagic yang jenuh air.
Ketika lempeng samudera menunjam dan mengalami temperatur tinggi, basalt yang telah
mengalami serpentinisasi dengan lapisan sedimennya mengalami dewatering. Peristiwa ini
dimulai dengan menghilangnya kandungan air pada kedalaman 30 km dengan temperatur 500
o

C, dan melewati prisma akresi di atasnya (Gambar 1). Lempeng terus bergerak turun ke
kedalaman 100 150 km yang disertai peleburan mineral. Mineral pada basalt dan gabbro
mengalami fasa transisi menjadi garnet dab jadeite piroksen. Transformasi ini selanjutnya
2

menghasilkan eklogit. Air yang terbebas saat transformasi ini bergerak ke atas melalui mantel
sehingga menyebabkan hidrasi dan dapat menyebabkan menurunnya titik lebur batuan.

Gambar 1. Diagram busur kepulauan gunungapi memperlihatkan kerak samudera yang
menunjam dan mengalami dehidrasi pada tholeiitic basalt, menghasilkan eklogit, dan naiknya
zona differensiasi hydrous tholeiitic magma. (Berdasarkan data dari A.E Ringwood, 1974, dan
lainnya).

Perkembangan Kerak pada busur kepulauan
Ketika terjadi penunjaman lempeng, terjadi pula proses akumulasi magma di bawah
kerak samudera sehingga menghasilkan busur gunungapi. Suatu gunungapi yang terbentuk dapat
dibagi menjadi dua bagian yaitu tubuh (edifice) dan akar (root) yang berkembang ke bawah oleh
akumulasi pluton (Sapiie, 2012). Dengan kata lain, suatu gunungapi yang terbentuk akan
memiliki tubuh gunungapi di atas kerak yang diimbangi oleh kompensasi perkembangan akar di
bawah kerak. Kompensasi ini menjaga struktur gunungapi dalam kondisi kesetimbangan
isostatik (isostatic equilibrium) (Gambar 2).

Gambar 2. Diagram busur kepulauan gunungapi untuk memperlihatkan bagaimana penambahan
terjadi penyeimbangan perkembangan tubuh gunungapi untuk menjaga kesetimbangan isostatik.
(Sumber: Gastil, G. dan R. P. Philips, 1982)
3


Model lain yang lebih realistik adalah yang terjadi pada busur gunungapi aktif di Lesser
Antilles (Gambar 3). Akar busur ini terdiri dari sisa massa kerak mafik dengan tubuh pluton
ultramafic dan beberapa dapur magma. Tubuh gunungapi di atas kerak tersusun atas lava andesit
dan piroklastik dengan beberapa pluton diorite dan dilapisi oleh sedimen pelagik pada lerengnya.

Gambar 3. Penampang ideal busur kepulauan gunungapi, dengan prisma akresi yang
berkembang dan fore-arc basin.
Kerak samudera yang terbentuk dari pematang tengah samudera terbentuk oleh magma
thoelitik basalt, sedangkan tubuh busur kepulauan terbentuk oleh magma andesit, andesit basaltik
(basaltic andesite) dan dasit (Ringwood, 1974) serta berasosiasi dengan semua jenis zona
tunjaman, baik kerak samudera - kerak samudera maupun kerak samudera - kerak kontinen.
Andesit dan sejumlah kecil rhyolite dapat dibentuk oleh peleburan sebagian (partial melting) dari
hydrous thoeleite (Gambar 4).

Gambar 4. Model Busur kepulauan yang dibuat oleh Ringwood
(Sumber: http://www.le.ac.uk/gl/art/gl209/lecture6/lecture6.html)

4

Magma tholeiitic ini sering juga disebut magma sub-alkali, yaitu magma yang memiliki
jumlah persentase berat Na(2)O+K(2)O yang lebih rendah daripada magma alkali untuk jumlah
SiO(2) yang sama. Komposisi batuan beku hasil produksi busur kepulauan sebenarnya berkisar
dari tholeiitic sampai calc-alkaline dan sama-sama sub-alkali. Batuan beku dari kelompok busur
kepulauan cenderung mengandung oksida besi (FeO) lebih banyak seiring pertambahan jumlah
silika (SiO
2
).
Busur kepulauan yang sudah terbentuk dengan susunan batuan yang komplek memiliki
dimensi vertikal dan volume yang lebih besar daripada kerak samudera dengan perbandingan 6
kali. Ketebalan busur ini rata-rata mencapai 30-35 km, yang serupa dengan ketebalan kerak
benua. Namun, ketidakhadiran batuan felsik pada kerak atas yang berkomposisi granitik
nampaknya menjadi salah satu indikator bahwa busur kepulauan tersebut bukan kerak benua.


Sumber referensi :
Anonim. - . Thermal Aspects Of Subduction Zones.
http://www.le.ac.uk/gl/art/gl209/lecture6/lecture6.html. Diakses tanggal 9 Februari 2014.
Gordon Gastil dan Richard P. Philips.1982. Symposium on subduction of oceanic plates:
Introduction. Geological Society of America Bulletin, v. 93, no. 6, p. 463.
doi: 10.1130/0016-7606(1982)93<463:SOSOOP>2.0.CO;2
Kearey, Philip, Klepeis, Keith A. & Vine, Frederick J. 2009. Global Tectonics, 3rd Edition,
Wiley-Blackwell.
Ringwood, A.E. 1974. The petrological evolution of island arc systems. Journal of the
Geological Society, London 130, 183-204.
Sapiie, B. 2012. GL 2012, Tektonofisik. Catatan Kuliah. KKG FITB. Institut Teknologi
Bandung. Penerbit ITB. Bandung.
Sapiie, B., N.A. Magetsari, A.H. Harsolumakso, C.I. Abdullah. 2012. GL 2011, Geologi Dasar.
Catatan Kuliah. KK Geologi dan Paleontologi. Institut Teknologi Bandung. Penerbit ITB.
Bandung
Winter, J.D. 2001. An Introduction to Igneous and Metamorphic Petrology. Prentice Hall.