You are on page 1of 101

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kegiatan Kedokteran Komunitas
Pendidikan Kedokteran Berorientasi Masyarakat/ Community Oriented Medical
Education (PKBM/COME) atau biasanya kita sebut Kedokteran Komunitas/community
medicine adalah suatu pendekatan untuk mendekatkan ilmu-ilmu pengetahuan dan
ketrampilan kedokteran secara multidisiplin guna meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, dengan memperhatikan kebutuhan kesehatan dan keadaan masyarakat. Melalui
metode dan intervensi yang tepat pada kelompok masyarakat di wilayah tertentu.
Pembangunan Kesehatan di Indonesia memerlukan peran serta dari seluruh lapisan
masyarakat. Pemerintah sebagai salah satu pengambil kebijakan tidak akan mampu
menyelesaikan pembangunan kesehatan yang ada di Indonesia tanpa ada dukungan dari
berbagai pihak. Mahasiswa Fakultas Kedokteran memiliki peranan untuk dapat membantu
pemerintah menyelesaikan permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Salah satu permasalahan
yang masih memprihatinkan di Indonesia adalah mengenai sanitasi lingkungan, dimana
banyak penyakit menular menyebar dan menjadi endemis karena kurangnya upaya
masyarakat dalam menyehatkan lingkungannya.
Indonesia sebagai negara tropis merupakan kawasan endemik berbagai penyakit
menular, seperti malaria, deman berdarah, TBC, filariasis, diare, dan sebagainya.
Pada tahun 2005, jumlah kasus demam berdarah dengue di seluruh Indonesia sampai
dengan Februari 2005 sebanyak 5.064 kasus dengan 113 kematian. Di 6 provinsi yaitu DKI
Jakarta, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa
Tenggara Timur dilaporkan terjadi peningkatan kasus yang diwaspadai sebagai Kejadian
Luar Biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue. Artinya, jumlah kasusnya sudah dua kali lipat
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 2

atau lebih dari bulan yang sama pada tahun lalu dan atau angka kematiannya lebih dari 1%
(Depkes 2005).
Pada tanggal 6 Juni 2005, tercatat jumlah penderita demam berdarah dengue di
seluruh Indonesia selama bulan Januari-Mei 2005 sejumlah 28.330 orang dengan jumlah
kematian 330 orang (Sub Direktorat Arbovirosis Ditjen P2M&PL 2005).
Dalam upaya pengendalian wabah demam berdarah dengue, dibandingkan negara
lainnya di Asia Tenggara, Indonesia termasuk salah satu negara yang masih mengalami
masalah. Indonesia memang sangat jauh tertinggal bila dibandingkan Singapura, yang sejak
awal dekade 1980-an dapat dikatakan telah berhasil memberantas wabah penyakit demam
berdarah dengue (Bang & Tonn 1993), (Ooi 2001).
Indonesia dalam peta wabah demam berdarah dengue ada di posisi yang
memprihatinkan. Dalam jumlah angka kesakitan (morbidity rate) dan kematian (mortality
rate) demam berdarah dengue di kawasan Asia Tenggara, selama kurun waktu 1985-2004,
Indonesia berada di urutan kedua terbesar setelah Thailand (WHO 2004). Selama tahun 1985-
2004, di Indonesia tercatat angka penderita demam berdarah dengue terendah 10.362 pada
tahun 1989 dan tertinggi 72.133 orang pada tahun 1998, dengan angka kematian terendah 422
orang pada tahun 1999 dan tertinggi 1.527 pada tahun 1988. Pada bulan Januari sampai April
2004, Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD terjadi di 75 kabupaten/kota dan 12 propinsi di
Indonesia, dengan 53.719 kasus dan angka kematian sebesar 590 orang (Case Fatality
Rate=1,1%). Tahun 2005 kembali terjadi peningkatan kasus dan KLB di kabupaten/kota dan
propinsi di Indonesia, total kasus sejumlah 93.994 kasus dengan 1.824 kematian
(CFR=1,36%) (Yussianto,2006).
Hasil studi epidemiologi lingkungan memperlihatkan kejadian suatu penyakit pada
suatu kelompok masyarakat merupakan resultance dan hubungan timbal balik antara
masyarakat itu sendiri dengan lingkungan. Dengan demikian, upaya pemberantasan wabah
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 3

penyakit menular di Indonesia saat ini perlu mendapat perhatian apalagi mengingat beberapa
jenis penyakit kembali mewabah khususnya penyakit menular yang tidak ada obatnya namun
dapat dicegah karena sangat terkait dengan kesehatan lingkungan permukiman seperti
penyakit demam berdarah (DB) dan demam berdarah dengue (DBD).
Tingginya angka kejadian DBD, baik pada dewasa maupun pada anak-anak di suatu
wilayah tropis, umumnya meningkat pada musim penghujan di mana banyak terdapat
genangan air bersih yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypty (Suroso
1983), (Suroso & Umar 1999). Di daerah perkotaan, umumnya wabah demam berdarah
kembali meningkat menjelang awal musim kemarau (Suroso & Umar 1999), sehingga
menyebabkan penurunan produktivitas kerja.
Penyebaran penyakit demam berdarah dengue secara pesat sejak tahun 1968 di
Indonesia dikarenakan virus semakin mudah penyebarannya menulari lebih banyak manusia
karena didukung oleh meningkatnya mobilitas penduduk karena semakin baiknya sarana
transportasi di dalam kota maupun antar daerah, kebiasaan masyarakat menampung air bersih
untuk keperluan sehari-hari, apalagi penyediaan air bersih belum mencukupi kebutuhan atau
sumber yang terbatas atau letaknya jauh dari pemukiman mendorong masyarakat menampung
air di rumah masing-masing (karena nyamuk Aedes aegypti hidup di air bersih), sikap dan
pengetahuan masyarakat tentang pencegahan penyakit yang masih kurang.
(Sudarmo 1990), (Suroso 1983).
Penanggulangan demam berdarah dengue secara umum ditujukan pada
pemberantasan rantai penularan dengan memusnahkan pembawa virusnya (vektornya) yaitu
nyamuk Aedes aegypti dengan memberantas sarang perkembangbiakannya yang umumnya
ada di air bersih yang tergenang di permukaan tanah maupun di tempat-tempat penampungan
air (Bang & Tonn 1993), (Ditjen PPM & PLP 1987), (Nadesul 2004), (Suroso & Umar 1999),
(WHO 2004).
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 4

Gertak Mas Berlian atau yang lebih dikenal dengan gerakan serentak masyarakat
bersihkan lingkungan anti nyamuk. Gertak mas berlian ini dicanangkan oleh Bupati Jombang
Drs. Suyanto, M.M. pada tanggal 6 Februari 2008. Adapun isinya ada 10 langkah, yaitu
bentuk tim juru pemantau jentik (jumantik) di setiap RT, pantau jentik secara berkala setiap
bulan, lakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M plus setiap hari Jumat, kenali gejala
dini penyakit demam berdarah, periksakan segera keluarga yang dicurigai demam berdarah
ke Puskesmas atau RS terdekat, laporkan segera penderita demam berdarah ke puskesmas
terdekat, lakukan penyelidikan epidemiologi di lokasi tempat tinggal penderita DB, lakukan
pengasapan (fogging) sebanyak 2 kali dengan interval satu minggu pada daerah yang terdapat
sumber virus dengue, lakukan pengasapan (fogging) pada daerah endemis sebelum musim
penularan, lakukan PSN 3M satu hari sebelum dilakukan pengasapan (fogging).
Kader kesehatan dalam upaya penanggulangan DBD memiliki posisi yang sangat
strategis. Ujung tombak upaya penanggulangan DBD ialah kader kesehatan, tetapi akar
permasalahan mulai muncul dari sini mulai berupa kurangnya jumlah kader kesehatan,
kurangnya anggaran untuk melakukan upaya penanggulangan DBD, kurangnya pengetahuan
kader kesehatan mengenai upaya penanggulangan DBD, sampai kurangnya minat dan
kemauan kader kesehatan itu sendiri dalam menjalankan program-program yang terkait
dengan upaya penaggulangan DBD itu sendiri. Kerjasama lintas sektoral dalam memecahkan
permasalahan ini sangat dibutuhkan, salah satunya ialah untuk mengatasi kekurangan jumlah
kader bisa dengan kerjasama dengan berbagai tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk
mendorong masyarakat agar mau menjadi kader kesehatan. sedangkan untuk mengatasi
kurangnya anggaran salah satunya bisa dengan kerjasama muspika setempat untuk dicarikan
dana tambahan melalui swadaya masyarakat itu sendiri. Pelatihan serta lokakarya terhadap
kader kesehatan dapat membekali pengetahuan yang cukup dalam hal-hal upaya
penanggulangan DBD. Untuk memancing timbulnya minat dan kemauan kader kesehatan
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 5

dapat dilakukan berbagai upaya, salah satunya ialah seperti memberikan intensif,
penghargaan, maupun pengakuan eksistensi kader kesehatan itu sendiri.
Dusun Mancar Timur oleh Puskesmas Kecamatan Peterongan ditetapkan sebagai
Dusun Endemik, Hal ini dikarenakan dalam 3 tahun berturut-turut mulai dari tahun 2007
sampai tahun 2009 selalu tedapat kasus DBD di dusun tersebut.
Dusun Mancar Timur, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang merupakan salah
satu dusun yang mencerminkan keadaan yang paradoksal, sebab angka bebas jentik (ABJ) di
daerah tersebut termasuk tinggi, hal ini dibuktikan pada tahun 2008 ABJ dusun mancar timur
mencapai 67% dan pada tahun 2009 mencapai 96%, ironisnya daerah tersebut tetap menjadi
dusun endemis sampai saat ini. Selama tahun 2008 jumlah pasien DBD mencapai 13 serta
terdapat 1 pasien meninggal, sedangkan pada tahun 2009, yang angka ABJ-nya 96% ternyata
angka pasien DBD masih terdapat 7 pasien. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk
mempelajari permasalahan ini.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang Gerakan Serentak
Masyarakat Bersihkan Lingkungan Anti Nyamuk dalam upaya pencegahan Demam Berdarah
Dengue pada masyarakat di dusun Mancar Timur, desa Mancar, Kecamatan Peterongan,
Kabupaten Jombang.

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 6

BAB II
TUJUAN

2.1 Tujuan Umum
Mampu menjalankan pelayanan kesehatan paripurna dengan memanfaatkan ilmu
kedokteran secara multidisiplin, tinggal bersama masyarakat, dan melakukan kedokteran
komunitas guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan menggunakan
sumberdaya setempat dan menggerakkan peran serta masyarakat.
2.2 Tujuan Khusus
1. Memahami medan kerja di suatu wilayah tertentu dan mampu menghayati kehidupan
masyarakat dengan tinggal bersama masyarakat
2. Memahami epidemiologi kesehatan di wilayah tertentu dengan memeriksa derajat
kesehatan masyarakat dalam situasi problematik yang sebenarnya terjadi pada
individu, keluarga, dan komunitas atau masyarakat
3. Mampu melakukan analisis kesehatan secara holistik dan menegakkan diagnosis
individu, diagnosis keluarga dan diagnosis masyarakat
4. Mampu mengidentifikasi dan mendiagnosis masalah kesehatan di masyarakat
5. Mampu melakukan analisis terhadap potensi sumber daya baik dari sumber daya alam
maupun sumber daya manusia yang dimiliki di wilayah tertentu
6. Mampu menyusun rencana program untuk mengatasi masalah kesehatan yang
ditemukan dengan menyesuaikan program kesehatan terhadap kondisi geografi dan
sosio-budaya masyarakat serta melakukan evaluasi program
7. Menghayati kerjasama dalam tim maupun lintas sektoral dalam memecahkan masalah
kesehatan
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 7

8. Mampu memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh yang meliputi usaha
preventif, kuratif, promotif dan rehabilitatif dan mampu menangani kasus-kasus
rujukan, dalam bentuk Usaha Kesehatan Perorangan (UKP) dan Usaha Kesehatan
Masyarakat (UKM) , sebagai pelayan kesehatan di garis depan
9. Mampu meningkatkan peran serta masyarakat dalam menggunakan sumberdaya
setempat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, serta memberdayakan
masyarakat dalam budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 8

BAB III
METODE

3.1 Metode Pelaksanaan
Kedokteran Komunitas menggunakan metode Penelitian Operasional atau Penelitian
Terapan yang dibagi dalam empat tahap, yaitu:
1. Pengenalan Medan
Tahap pengenalan medan menggunakan metode pengumpulan data secara
observasional yaitu melalui pengumpulan data sekunder dari Puskesmas Peterongan,
wawancara mendalam dengan petugas kesehatan Puskesmas Peterongan dan
pendekatan survei baik terhadap kader kesehatan maupun masyarakat di Dusun
Mancar Timur, Desa Mancar, Kabupaten Jombang .
2. Diagnosis Komunitas
Tahap diagnosis komunitas dilakukan dengan menggunakan pendekatan lokakarya,
yaitu:
a. merumuskan diagnosis komunitas
b. mengidentifikasi solusi atau model pemecahan masalahnya, berbentuk program
kesehatan
c. mengidentifikasi sumberdaya setempat dan peran serta masyarakatnya
d. mengambil keputusan untuk memilih program atau model atau solusi yang akan
dikerjakan dalam tahap Terapi Komunitas.
3. Terapi Komunitas
Tahap terapi komunitas dilakukan dengan menggunakan pendekatan program, yaitu
mempersiapkan serta melaksanakan program atau model atau solusi yang terpilih
bersama dengan partisipasi masyarakat dengan memanfaatkan sumberdaya setempat.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 9

4. Evaluasi
Tahap evaluasi dilakukan penilaian terhadap input, proses dan output program terapi
komunitas yang telah dilaksanakan meliputi relevansi, kecukupan, efisiensi dan
efektifitas. Evaluasi dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya Focus Group
Discussion, Round Table Discussion, Indepth Interview serta Field Observation.

3.2 Lokasi
Kegiatan kedokteran komunitas dilaksanakan di dusun Mancar Timur, desa Mancar,
Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang.

3.3 Waktu
Kegiatan Kedokeran Komunitas dilaksanakan pada hari Jumat, 10 Februari 2010.

3.4 Kerangka Operasional

Gambar 3.1 Kerangka Operasional Kegiatan Kedokteran Komunitas
Survei yang dilakukan dalam tahap pengenalan medan menggunakan metode
wawancara dan pengamatan secara langsung dengan instrumen kuesioner, wawancara dan
observasi yang dilakukan pada masyarakat di dusun Mancar Timur, desa Mancar,
Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang.
Pengenalan
Medan
(Informaion
Building):
Survei
Pendahuluan
Penentuan
lingkup masalah
Peneltian
operasional
Diagnosis
Komunitas
(Comunity
Dagnosis &
Program):
Lokakarya
Identifikasi dan
penentuan
prioritas masalah
Menyusun solusi
Terapi Komunitas
(Program
Implementation)
Evaluasi
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 10

Tahap Diagnosis komunitas penelitian dilakukan melalui suatu lokakarya dengan
wakil dari puskesmas dan masyarakat dengan metode presentasi dan diskusi untuk
menganalisis hasil dari pengenalan medan dan mengidentifikasi prioritas masalah yang perlu
ditangani dalam masyarakat.
Terapi komunitas penelitian adalah intervensi secara langsung dengan pembuatan
program dan penyuluhan bagi masyarakat sebagai solusi dari permasalahan yang telah
diidentifikasi pada tahap diagnosis komunitas.
Tahap Evaluasi dilakukan analisis dan penarikan kesimpulan dari terapi komunitas
yang telah dilakukan serta pembuatan rencana tindak lanjutnya.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 11

BAB IV
JADWAL KERJA
Tabel 4.1 Jadwal Kegiatan Kedokteran Komunitas CPSPKBM Puskesmas Peterongan
Hari, tanggal Kegiatan
Kamis, 4 Februari 2010 Pencarian data sekunder
Perencanaan
Diskusi dengan Kepala Puskesmas dan
penanggung jawab masing-masing
program puskesmas

Jumat, 5 Februari 2010 Pencarian data sekunder
Perencanaan
Diskusi dengan Kepala Puskesmas dan
penanggung jawab masing-masing
program puskesmas

Sabtu, 6 Februari 2010 Pencarian data sekunder
Perencanaan
Diskusi dengan Kepala Puskesmas dan
penanggung jawab masing-masing
program puskesmas

Senin, 8 Februari 2010 Pencarian data sekunder
Perencanaan
Diskusi dengan Kepala Puskesmas dan
penanggung jawab masing-masing
program puskesmas

Selasa, 9 Februari 2010 Pencarian data sekunder
Perencanaan
Diskusi dengan Kepala Puskesmas
Diskusi kelompok CPS
Persiapan survei

Kamis, 11 Februari 2010 Pengenalan Medan (Pengumpulan Data
Primer)
Pengolahan data primer
Diskusi kelompok CPS

Jumat, 12 Februari 2010 Lokakarya Awal untuk Diagnosis
Komunitas

Sabtu, 13 Februari 2010 Pembagian Undangan Terapi Komunitas
(Pemicuan) kepada responden di Dusun
Mancar dibantu oleh Ketua Komite



CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 12

Minggu, 14 Februari 2010 Terapi Komunitas (Pemicuan)

Senin, 15 Februari 2010 Pengolahan data hasil terapi komunitas
Diskusi kelompok CPS

Selasa, 16 Februari 2010 Evaluasi Hasil Terapi Komunitas di
Rumah Ketua Komite
Terapi Komunitas (Penyuluhan Jamban
Sehat)
Lokakarya Lanjutan (Pemaparan program
pemecahan masalah komunitas)
Diskusi kelompok CPS

Selasa, 16 Februari 2010 Evaluasi Hasil Terapi Komunitas
Diskusi kelompok CPS

Selasa, 16 Februari 2010 Pengolahan data hasil terapi komunitas
Konsultasi Laporan Kedokteran
Komunitas

Rabu, 17 Februari 2010 Revisi Laporan Kedokteran Komunitas

Rabu, 17 Februari 2010 Revisi Laporan Kedokteran Komunitas

Kamis, 18 Februari 2010 Pengumpulan Laporan












CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 13

BAB V
PROGRAM ATAU MASALAH KESEHATAN YANG DIPELAJARI
Pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang Gerakan Serentak Masyarakat
Bersihkan Lingkungan Anti Nyamuk dalam upaya pencegahan Demam Berdarah Dengue
pada masyarakat di Dusun Mancar Timur, Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten
Jombang.








CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 14

BAB VI
PENGENALAN MEDAN
6.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia sebagai negara tropis merupakan kawasan endemik berbagai penyakit
menular, seperti malaria, deman berdarah, TBC, filariasis, diare, dan sebagainya.Pada tahun
2005, jumlah kasus demam berdarah dengue di seluruh Indonesia sampai dengan Februari
2005 sebanyak 5.064 kasus dengan 113 kematian. Di 6 provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa
Barat, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur
dilaporkan terjadi peningkatan kasus yang diwaspadai sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB)
Demam Berdarah Dengue. Artinya, jumlah kasusnya sudah dua kali lipat atau lebih dari
bulan yang sama pada tahun lalu dan atau angka kematiannya lebih dari 1% (Depkes 2005).
Pada tanggal 6 Juni 2005, tercatat jumlah penderita demam berdarah dengue di
seluruh Indonesia selama bulan Januari-Mei 2005 sejumlah 28.330 orang dengan jumlah
kematian 330 orang (Sub Direktorat Arbovirosis Ditjen P2M&PL 2005).
Dalam upaya pengendalian wabah demam berdarah dengue, dibandingkan negara
lainnya di Asia Tenggara, Indonesia termasuk salah satu negara yang masih mengalami
masalah. Indonesia memang sangat jauh tertinggal bila dibandingkan Singapura, yang sejak
awal dekade \1980-an dapat dikatakan telah berhasil memberantas wabah penyakit demam
berdarah dengue (Bang & Tonn 1993), (Ooi 2001).
Indonesia dalam peta wabah demam berdarah dengue ada di posisi yang
memprihatinkan. Dalam jumlah angka kesakitan (morbidity rate) dan kematian (mortality
rate) demam berdarah dengue di kawasan Asia Tenggara, selama kurun waktu 1985-2004,
Indonesia berada di urutan kedua terbesar setelah Thailand (WHO 2004). Selama tahun 1985-
2004, di Indonesia tercatat angka penderita demam berdarah dengue terendah 10.362 pada
tahun 1989 dan tertinggi 72.133 orang pada tahun 1998, dengan angka kematian terendah 422
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 15

orang pada tahun 1999 dan tertinggi 1.527 pada tahun 1988.Pada bulan Januari sampai April
2004, Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD terjadi di 75 kabupaten/kota dan 12 propinsi di
Indonesia, dengan 53.719 kasus dan angka kematian sebesar 590 orang (Case Fatality
Rate=1,1%). Tahun 2005 kembali terjadi peningkatan kasus dan KLB di kabupaten/kota dan
propinsi di Indonesia, total kasus sejumlah 93.994 kasus dengan 1.824 kematian (CFR=1,36%)
(Yussianto,2006).
Hasil studi epidemiologi lingkungan memperlihatkan kejadian suatu penyakit pada
suatu kelompok masyarakat merupakan resultance dan hubungan timbal balik antara
masyarakat itu sendiri dengan lingkungan. Dengan demikian, upaya pemberantasan wabah
penyakit menular di Indonesia saat ini perlu mendapat perhatian apalagi mengingat beberapa
jenis penyakit kembali mewabah khususnya penyakit menular yang tidak ada obatnya namun
dapat dicegah karena sangat terkait dengan kesehatan lingkungan permukiman seperti
penyakit demam berdarah (DB) dan demam berdarah dengue (DBD).
Tingginya angka kejadian DBD, baik pada dewasa maupun pada anak-anak di suatu
wilayahtropis, umumnya meningkat pada musim penghujan di mana banyak terdapat
genangan air bersih yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypty (Suroso
1983), (Suroso & Umar 1999). Di daerah perkotaan, umumnya wabah demam berdarah
kembali meningkat menjelang awal musim kemarau (Suroso & Umar 1999), sehingga
menyebabkan penurunan produktivitas kerja.
Penyebaran penyakit demam berdarah dengue secara pesat sejak tahun 1968 di
Indonesia dikarenakan virus semakin mudah penyebarannya menulari lebih banyak manusia
karena didukung oleh meningkatnya mobilitas penduduk karena semakin baiknya sarana
transportasi di dalam kota maupun antar daerah, kebiasaan masyarakat menampung air bersih
untuk keperluan sehari-hari, apalagi penyediaan air bersih belum mencukupi kebutuhan atau
sumber yang terbatas atau letaknya jauh dari pemukiman mendorong masyarakat menampung
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 16

air di rumah masing-masing (karena nyamuk Aedes aegypti hidup di air bersih), sikap dan
pengetahuan masyarakat tentang pencegahan penyakit yang masih kurang(Sudarmo, 1990;
Suroso ,1983).
Penanggulangan demam berdarah dengue secara umum ditujukan pada
pemberantasan rantai penularan dengan memusnahkan pembawa virusnya (vektornya) yaitu
nyamuk Aedes aegypti dengan memberantas sarang perkembangbiakannya yang umumnya
ada di air bersih yang tergenang di permukaan tanah maupun di tempat-tempat penampungan
air (Bang dan Tonn, 1993; Ditjen PPM & PLP, 1987; Nadesul 2004; Suroso dan
Umar,1999;WHO, 2004).
Gertak Mas Berlian atau yang lebih dikenal dengan gerakan serentak masyarakat
bersihkan lingkungan anti nyamuk. Gertak mas berlian ini dicanangkan oleh Bupati Jombang
Drs. Suyanto, M.M. pada tanggal 6 Februari 2008. Adapun isinya ada 10 langkah, yaitu
bentuk tim juru pemantau jentik (jumantik) di setiap RT, pantau jentik secara berkala setiap
bulan, lakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M plus setiap hari Jumat, kenali gejala
dini penyakit demam berdarah, periksakan segera keluarga yang dicurigai demam berdarah
ke Puskesmas atau RS terdekat, laporkan segera penderita demam berdarah ke puskesmas
terdekat, lakukan penyelidikan epidemiologi di lokasi tempat tinggal penderita DB, lakukan
pengasapan (fogging) sebanyak 2 kali dengan interval satu minggu pada daerah yang terdapat
sumber virus dengue, lakukan pengasapan (fogging) pada daerah endemis sebelum musim
penularan, lakukan PSN 3M satu hari sebelum dilakukan pengasapan (fogging).
Kader kesehatan dalam upaya penanggulangan DBD memiliki posisi yang sangat
strategis. Ujung tombak upaya penanggulangan DBD ialah kader kesehatan, tetapi akar
permasalahan mulai muncul dari sini mulai berupa kurangnya jumlah kader kesehatan,
kurangnya anggaran untuk melakukan upaya penanggulangan DBD, kurangnya pengetahuan
kader kesehatan mengenai upaya penanggulangan DBD, sampai kurangnya minat dan
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 17

kemauan kader kesehatan itu sendiri dalam menjalankan program-program yang terkait
dengan upaya penaggulangan DBD itu sendiri. Kerjasama lintas sektoral dalam memecahkan
permasalahan ini sangat dibutuhkan, salah satunya ialah untuk mengatasi kekurangan jumlah
kader bisa dengan kerjasama dengan berbagai tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk
mendorong masyarakat agar mau menjadi kader kesehatan. sedangkan untuk mengatasi
kurangnya anggaran salah satunya bisa dengan kerjasama muspika setempat untuk dicarikan
dana tambahan melalui swadaya masyarakat itu sendiri. Pelatihan serta lokakarya terhadap
kader kesehatan dapat membekali pengetahuan yang cukup dalam hal-hal upaya
penanggulangan DBD. Untuk memancing timbulnya minat dan kemauan kader kesehatan
dapat dilakukan berbagai upaya, salah satunya ialah seperti memberikan intensif,
penghargaan, maupun pengakuan eksistensi kader kesehatan itu sendiri.
Dusun Mancar Timur oleh Puskesmas Kecamatan Peterongan ditetapkan sebagai
Dusun Endemik. Hal ini dikarenakan dalam 3 tahun berturut-turut mulai dari tahun 2007
sampai tahun 2009 selalu tedapat kasus DBD di dusun tersebut.Dusun Mancar Timur juga
merupakan salah satu dusun yang mencerminkan keadaan yang paradoksal, sebab angka
bebas jentik (ABJ) di daerah tersebut termasuk tinggi, hal ini dibuktikan pada tahun 2008
ABJ dusun mancar timur mencapai 67% dan pada tahun 2009 mencapai 96%, ironisnya
daerah tersebut tetap menjadi dusun endemis sampai saat ini. Selama tahun 2008 jumlah
pasien DBD mencapai 13 serta terdapat 1 pasien meninggal, sedangkan pada tahun 2009,
yang angka ABJ-nya 96% ternyata angka pasien DBD masih terdapat 7 pasien. Oleh karena
itu peneliti tertarik untuk mempelajari permasalahan ini.




CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 18

6.2. Tujuan
6.2.1. Tujuan Umum
Mampu meningkatkan Pengetahuan dan kesadaran kader kesehatan dan masyarakat
tentang Gerakan Serentak Masyarakat Bersihkan Lingkungan Anti Nyamuk dalam upaya
pencegahan Demam Berdarah Dengue pada masyarakat di dusun Mancar Timur, desa
Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombangdengan memanfaatkan ilmu kedokteran
secara multidisiplin,tinggal bersama masyarakat dan melakukan kedokteran komunitas guna
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan menggunakan sumberdaya setempat dan
menggerakkan peran serta masyarakat.

6.2.2. Tujuan Khusus
1. Mempelajari Behavior Intention Program Gertak Mas Berlian pada masyarakat dusun
Mancar Timur, desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang.
2. Mempelajari Social Support Program Gertak Mas Berlian pada masyarakatdusun
Mancar Timur, desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang.
3. Mempelajari Accessibility of Information Program Gertak Mas Berlian pada
masyarakatdusun Mancar Timur, desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten
Jombang.
4. Mempelajari Personal Autonomy Program Gertak Mas Berlian pada masyarakatdusun
Mancar Timur, desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang.
5. Mempelajari Action Situation Program Gertak Mas Berlian pada masyarakatdusun
Mancar Timur, desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang.
6. Mempelajari Karakteristik Sampel Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga pada
masyarakatdusun Mancar Timur, desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten
Jombang.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 19

6.3 Tinjauan Pustaka
6.3.1. Ilmu Perilaku
6.3.1.1. Definisi Perilaku
Perilaku dalam pengertian biologis merupakan suatu kegiatan atau aktivitas
organisme yang bersangkutan. Perilaku manusia adalah suatu aktivitas dari manusia itu
sendiri. Perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas, mencakup berjalan,
berbicara, bereaksi, berpakaian, dan sebagainya. Kegiatan internal (internal activity) seperti
berpikir, persepsi dan emosi juga merupakan perilaku manusia(Notoatmodjo, 2003). Dapat
dikatakan pula bahwa perilaku adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik
dapat diamati secara langsung atau secara tidak langsung. Perilaku dan gejala perilaku yang
tampak pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi baik oleh faktor genetik (keturunan)
dan lingkungan. Hereditas atau faktor keturunan adalah konsepsi dasar atau modal untuk
perkembangan perilaku selanjutnya. Sedangkan lingkungan adalah kondisi atau lahan untuk
perkembangan perilaku. Secara umum dapat dikatakan bahwa faktor genetik dan lingkungan
ini merupakan penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk perilaku manusia.
Perilaku dapat pula berarti respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu
tindakan yang dapat diamati, mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari
maupun tidak. Perilaku juga merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling
berinteraksi(Notoatmodjo, 2007).
Perilaku tidak sama dengan sikap. Sikap hanyalah suatu kecenderungan untuk
mengadakan tindakan terhadap suatu objek dengan suatu cara yang menyatakan adanya
tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi objek tersebut. Sikap hanyalah
sebagian dari perilaku manusia(Notoatmodjo, 2006).


CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 20

6.3.1.2.Teori Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa teori yang bisa dipakai
untuk menjelaskan perubahan tersebut, yaitu:
Teori Stimulus Respon
Teori ini berdasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku
tergantung pada kualitas rangsang yang berkomunikasi dengan organisme. Hosland (1953),
berpendapat proses perubahan perilaku menggambarkan proses belajar individu dengan
beberapa tahap. Tahap pertama adalah penentuan diterima atau tidaknya suatu stimulus. Bila
stimulus diterima, berarti individu dianggap telah mengerti dan siap untuk dilanjutkan pada
proses berikutnya. Kemudian individu mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kerelaan
untuk bertindak.Adanya dukungan fasilitas serta dukungan dari lingkungan maka stimulus
tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku).

Teori Fungsi Menurut Katz (1960)
Menurut teori ini perilaku dilatarbelakangi oleh kebutuhan individu yang
bersangkutan. Katz berasumsi bahwa teori ini berkeyakinan perilaku itu mempunyai fungsi
untuk menghadapi dunia luar individu, dan senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan
menurut kebutuhannya.Oleh sebab itu, di dalam kehidupan manusia perilaku itu tampak terus
menerus dan berubah secara relatif.

Teori Kurt Lewin (1970)
Kurt Lewin berpendapat bahwa perilaku manusia itu adalah suatu keadaan yang
seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driving force) dan kekuatan penahan
(restaining force).Menurut Lewin perilaku itu dapat berubah apabila terjadi
ketidakseimbangan antara kedua kekuatan pendorong dan kekuatan penahan.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 21

Teori Snehandu B. Kar.
Menurut Snehandu B. Kar perilaku kesehatan dapat dianalisis dari 5 determinan
perilaku antara lain :
1. Adanya niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan
kesehatannya(behaviour intention)
2.Adanya dukungan dari masyarakat sekitarnya (social support).
3.Terjangkaunya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (accessibility of
information)
4. Adanya otonomi atau kebebasan pribadi untuk mengambil keputusan (personal
autonomy)
5. Adanya kondisi dan situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak
(action situation)

Uraian di atas dapat dirumuskan dalam model sebagai berikut :
B = f (BI, SS, AL, PA, AS)
dengan :
B = behaviour
f = fungsi
BI = behaviour intention
SS = social support
AI = accessibility of information
PA = personal autonomy
AS = action situation
Contoh dari penerapan teori perilaku Kar tersebut yaitu, seorang ibu yang tidak mau
ikut KB, mungkin karena ia tidak memiliki minat dan niat terhadap KB (behaviour intention),
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 22

atau barangkali juga karena tidak ada dukungan dari masyarakat sekitarnya (social support).
Mungkin juga karena kurang atau tidak memperoleh informasi yang kuat tentang KB
(accessibility of information) atau mungkin ia tidak mempunyai kebebasan untuk
menentukan, misalnya harus tunduk kepada suaminya, mertuanya atau orang lain yang ia
segani (personal autonomy). Faktor lain yang mungkin menyebabkan ibu ini tidak ikut KB
adalah karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, misalnya alasan kesehatan yang
menyebabkan dilakukannya KB adalah suatu kontra indikasi (action situation) (Snehandu,
1991)

6.3.2. Demam Berdarah Dengue (DBD)
6.3.2.1. Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue dengan manifestasi klinis demam 5-7 hari disertai gejala perdarahan dan bila
timbul renjatan menimbulkan mortalitas cukup tinggi. Hasil pemeriksaan laboratorium
menunjukkan trombositopenia (trombosit kurang dari 100.000) dan hematokrit cenderung
meningkat lebih dari 20% dari normal(12).

6.3.2.2. Ciri-ciri Klinis
6.3.2.2.1. Gejala Klinis
Demam berdarah dengue dapat memperlihatkan berbagai macam gejala antara lain:
a. Gejala pada penyakit DBD diawali dengan demam mendadak dengan facial flushing
dan gejala-gejala konstitusional non-spesifik yang lain seperti anoreksia, lemah, mual,
muntah, sakit perut, diare, sakit kepala (retroorbital pain), nyeri otot, tulang dan sendi.
Beberapa pasien mengeluh sakit tenggorokan, tapi rinitis dan batuk jarang terjadi.
Suhu biasanya tinggi (>39 C) dan tetap seperti itu selama 2-7 hari. Kadang-kadang
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 23

suhu dapat mencapai 40-41C yang dapat menyebakann kejang demam khususnya
pada bayi.
b. Fenomena perdarahan yang paling umum adalah uji tourniquet positif, petekia,
ekimosis dan purpura. Epistaksis dan perdarahan gingiva jarang terjadi, perdarahan
gastrointestinal dapat diamati selama periode demam.
c. Hepatomegali (pembesaran hati). Hepar biasanya dapat dipalpasi pertamakali pada
fase demam dan ukurannya bermacam-macam yaitu 2-4 cm dibawah batas kosta.
Walaupun ukuran hepar tidak berkorelasi dengan berat penyakit, pembesaran hepar
ditemukan lebih sering pada kasus syok daripada non-syok. Limfadenofati pada DBD
bersifat generalisata.
d. Tahap kritis dari rangkaian penyakit didapatkan pada akhir fase demam. Setelah 2-7
hari demam, penurunan cepat suhu acapkali diikuti tanda-tanda gangguan sirkulasi.
Pasien tampak berkeringat, menjadi gelisah, ekstrimitasnya dingin, dan menunjukkan
perubahan pada frekuensi denyut nadi dan tekanan darah. Pada kasus yang kurang
berat, perubahan ini minimal dan sementara, merefleksikan suatu derajat ringan
kebocoran plasma. Sebagian besar pasien sembuh spontan, atau setelah periode
singkat terapi cairan dan elektrolit. Pada kasus lebih berat, ketika kehilangan banyak
melampaui batas kritis maka syok pun terjadi dan berkembang kearah kematian bila
tidak ditangani secara tepat.
e. Sindroma syok dengue didiagnosa bila memenuhi semua dari empat kriteria untuk
DBD ditambah bukti kegagalan sirkulasi ditandai dengan nadi lemah dan cepat dan
tekanan nadi menurun menjadi <20 mmHg, hipotensi, kulit lembab dan dingin,gelisah
serta perubahan status mental.


CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 24

6.3.2.2.2. Pemeriksaan Laboratorium
Pada DBD hasil pemeriksaan laboratorium umumnya memberikan hasil sebagai
berikut:
1. Leukopenia dan limfositosis
Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa pada pemeriksaan sumsum tulang penderita
DBD pada masa awal demam, terdapat hipoplasia sumsum tulang dengan hambatan
pematangan dari semua sistem hemopoesis. Pada penderita DBD dapat terjadi leukopenia
ringan sampai leukositosis sedang. Leukopenia dapat dijumpai antara hari pertama dan ketiga
dengan hitung jenis yang masih dalam batas normal. Jumlah granulosit menurun pada hari
ketiga sampai kedelapan. Dalam sediaan hapusan darah tepi penderita DBD dapat ditemukan
limfosit bertransformasi atau atipik, terutama pada infeksi sekunder.
2. Trombositopenia
Penyebab trombositopenia pada DBD antara lain diduga trombopoesis yang menurun
dan destruksi trombosit dalam darah meningkat serta gangguan fungsi trombosit.
Ditemukannya kompleks imun pada permukaan trombosit diduga sebagai penyebab agregasi
trombosit yang kemudian akan dimusnahkan oleh sistem retikuloendotelial khususnya dalam
limpa dan hati.
3. Hemokonsentrasi, hiponatremia, hipoalbuminemia
Hemakonsentrasi, hiponatremia, hipoalbuminea rendah adalah suatu tanda
hemokonsentrasi yang disebabkan oleh kebocoran plasma sebagai akibat permeabilitas
vaskuler yang meningkat.
4. PTT dan APTT memanjang, FDP meningkat.
Kompleks virus antibodi atau mediator dari fagosit yang terinfeksi virus pada DBD
dapat mengaktifkan sistem koagulasi, dimulai oleh aktivasi faktor XII menjadi XIIa, faktor
koagulasi kemudian akan diaktifkan secara berurutan mengikuti suatu kaskade sehingga
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 25

akhirnya terbentuk fibrin. Selain itu Faktor XIIa juga mengaktifkan sistem fibrinolisis yang
menyebabkan perubahan plasminogen menjadi plasmin. Plasmin mempunyai sifat proteolitik
dengan sasaran fibrin. Aktivasi sistem koagulasi dan fibrinolisis yang berkepanjangan
berakibat menurunnya berbagai faktor koagulasi seperti fibrinogen,V,VII,VIII, IX dan X
serta plasminogen. dan sebagai imbasnya FDP meningkat, PTT dan APTT memanjang.
5. Aspartate transaminase dan alanine transaminase
Hepatitis atau nekrosis fokal pada hepar yang disebabkan oleh infeksi virus dengue
pada hepatosit menyebabkan peningkatan aspartate transaminase dan alanine transaminase.

6.3.2.3. Penularan
Demam berdarah ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk betina Aedes
yangterinfeksi virus dengue. Penyakit ini tidak dapat ditularkan langsung dari orang keorang.
Penyebar utama virus dengue yaitu nyamuk Aedes aegypti, tidak ditemukan diHong Kong,
namun virus dengue juga dapat disebarkan oleh spesies lain yaitu Aedesalbopictus.

6.3.2.4. Masa Inkubasi
Jangka waktu inkubasi penyakit demam berdarah adalah 3 sampai 14 hari, umumnya
4 sampai 7 hari.

6.3.2.5. Epidemiologi
Penyakit DBD melibatkan 3 organisme yaitu : Virus Dengue, nyamuk Aedes, dan host
manusia. Secara alamiah ketiga kelompok organisme tersebut secara individu atau populasi
dipengaruhi oleh sejumlah faktor lingkungan biologik dan lingkungan fisik. Pola perilaku
yang terjadi dan status ekologi dari ketiga kelompok organime tadi dalam ruang dan waktu
saling berkaitan dan saling membutuhkan, menyebabkan penyakit DBD berbeda derajat
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 26

endemisitasnya pada suatu lokasi ke lokasi yang lain, dan dari tahun ke tahun. Untuk
memahami kejadian penyakit yang ditularkan vektor dan untuk pemberantasan penyakit
melalui pemberantasan vektornya perlu mempelajari penyakit sebagai bagian ekosistem alam
yaitu : Anthorophoda Ecosystem. Subsistem yang terkait dalam ekosistem in adalah : virus,
nyamuk aedes, manusia, lingkungan fisik dan lingkungan biologik.

6.3.2.5.1.Virus Dengue.
Penyakit DBD disebabkan oleh Virus Dengue yang dapat dibedakan menjadi 4 strain
yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4. Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod
borne viruses (arbovirus) dan sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviridae.
Virus dengue merupakan virus RNA untai tunggal. Virus ini hidup (survive) di alam lewat
dua mekanisme yaitu:
1. Melalui transmisi vertikal dalam tubuh nyamuk. Dimana virus dapat ditularkan oleh
nyamuk betina dan telurnya yang nantinya akan menjadi nyamuk. Virus juga dapat
ditularkan dari nyamuk jantan kepada nyamuk betina melalui kontak seksual.
2. Melalui transmisi virus yang berasal dari nyamuk masuk ke dalam tubuh vertebrata
seperti manusia dan kelompok kera tertentu atau sebaliknya. Virus ini terdapat dalam
darah penderita selama 4-7 hari. Pada suhu 30o C, di dalam darah (Viremia) di dalam
tubuh nyamuk aedes aegypti memerlukan watu 8-10 hari untuk menyelesaikan masa
inkubasi extrinsik dari lambung sampai ke kelenjar ludah nyamuk.
Nyamuk mendapatkan virus pada saat menggigit manusia yang terinfeksi virus
dengue. Virus yang berada di lambung nyamuk akan mengalami replikasi, kemudian akan
bermigrasi dan akhirnya sampai ke kelenjar ludah. Virus masuk tubuh manusia lewat gigitan
nyamuk yang menembus kulit, kemudian masuk sirkulasi darah dengan cepat.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 27

Reaksi tubuh terhadap virus dengue dapat berbeda sehingga manifestasi gejala klinis
dan perjalanan penyakitpun akan berbeda. Bentuk reaksi tubuh terhadap adanya virus dengue
itu adalah seperti:
1. Mengendapnya bentuk netralisasi komplek Ig serum pada pembuluh darah kecil di
kulit berupa gejala ruam (rash).
2. Gangguan fungsi pembekuan darah sebagai akibat dari penurunan jumlah dan kualitas
faktor koagulasi yang menimbulkan manifestasi perdarahan.
3. Terjadi kebocoran pada pembuluh darah yang mengakibatkan keluarnya komponen
plasma menuju ke ruang ekstravaskuler dengan manifestasi asites dan efusi pleura.
Jika tubuh manusia hanya memberi reaksi pertama dan kedua, orang itu akan
menderita demam dengue. Sementara, jika ketiga reaksi terjadi, orang itu akan mengalami
DBD.

6.3.2.5.2. Nyamuk Aedes spp.
Virus dengue ditularkan dari orang sakit ke orang sehat melalui gigitan nyamuk aedes
subgenus Stegornyia. Di Indonesia ada 3 jenis nyamuk Aedes yang bisa menularkan virus
Dengue yaitu : Aedes aegypti, Aedes albopictus dan Aedes scutellaris. Dari ketiga jenis
nyamuk tersebut Aedes aegypti lebih berperan dalampenularan penyakit DBD. Nyamuk ini
banyak ditemukan di dalam rumah atau bangunan dan tempat perindukannya juga lebih
banyak di dalam rumah. Warna tubuh nyamuk hitam, berbintik-bintik putih di badan dan
kakinya.

6.3.2.5.3. Perilaku Nyamuk Aedes aegypti
Untuk dapat memberantas nyamuk aedes aegypti secara efektif diperlukan
pengetahuan tentang pola perilaku nyamuk tersebut antara lain perilaku mencari darah,
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 28

istirahat,dan berkembang biak, sehingga diharapkan akan dicapai Pemberantasan Sarang
Nyamuk dan jentik nyamuk Aedes aegypti yang tepat.
Mereka hidup didalam rumah dan sekitarnya terutama ditempat yang agak gelap dan
lembab serta kurang sinar matahari. Pada saat hujan, nyamuk akan lebih senang didalam
rumah (indofilik), karena mereka mencari suhu yang lebih hangat. Padahal pada saat yang
sama manusia juga sebagian besar berada didalam sehingga, kemungkinan digigit nyamuk
menjadi lebih besar.

6.3.2.5.3.1. Perilaku Mencari Darah
Setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur. Oleh karena itu
nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2-3 hari sekali. Nyamuk betina menghisap
darah pada pagi hari sampai sore hari dan lebih menyukai pada waktu pk. 08.00-12.00 dan
jam 15.00-17.00. Untuk mendapatkan darah yang cukup, nyamuk betina sering menggigit
lebih dari satu orang. Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter, dan usia nyamuk betinadapat
mencapai sekitar 1 bulan.
Aktivitas menggigit nyamuk itu mencapai puncaknya saat intensitas cahaya berubah,
yaitu setelah matahari terbit, dan sebelum matahari terbenam, dan jarak terbangnya pendek,
yaitu 50 - 100 meter (Upik Kesumawati Hadi, pakar nyamuk, peneliti dari Laboratorium
Parasitologi dan Entimologi Kesehatan Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesmavet,
Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH-IPB)).Darah manusia yang
disedot berfungsi mematangkan telur nyamuk. Yang menggigit betina, yang jantan mencari
manis-manis (buah-buahan). (Paripurna).



CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 29

6.3.2.5.3.2. Perilaku Istirahat
Setelah menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat sekitar 2-3 hari untuk
mematangkan telur. Tempat istirahat yang disukai adalah tempat yang lembab dan kurang
terang seperti kamar mandi, dapur, WC. Nyamuk juga beristirahat di dalam rumah seperti
baju yang digantung, kelambu, dan tirai. Selain itu bila di luar rumah, nyamuk juga
beristirahat pada tanaman hias di halaman rumah.Masa aktif nyamuk ini pada pagi dan sore
hari, dan memiliki cirri bahwa setelah kenyang menggigit, mereka akan beristirahat, seperti
di gantungan baju. Setelah itu lapar lagi dan menggigit kembali.

6.3.2.5.3.3. Perilaku Berkembang Biak
Nyamuk Aedes aegypti bertelur dan berkembang biak di tempat penampungan air
bersih seperti tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari, antara lain bak mandi,
WC, tempayan, drum air, tower air yang tidak tertutup, dan sumur gali. Wadah yang berisi air
bersih atau air hujan seperti tempat minum burung, vas bunga, pot bunga, ban bekas,
potongan bambu yang dapat menampung air, kaleng bekas wadah pipa cekung, botol, tempat
pembuangan air kulkas dan barang bekas lainnya yang dapat air meskipun dengan volume
kecil juga dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Telur diletakkan menempel pada dinding penampungan air, sedikit di atas permukaan
air. Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat menghasilkan sekitar 100 butir telur. Dalam
rentang waktu 6-8 hari akan memunculkan nyamuk Aedes aegypti baru yang mampu terbang.

6.3.2.6. Manusia sebagai definitive host
Perkembangan jumlah penduduk yang terus bertambah (urbanisasi tak terkontrol, host
makin banyak), tata ruang pemukiman yang tidak baik berhimpitan (menyebabkan sanitasi
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 30

buruk, Aedes berkembang pesat), program pencegahan pengatasi-an dari pemerintah yang
tidak efektif adalah tiga faktor penyebab demam berdarah. (MenKes).

6.3.2.6.1.Faktor- faktor yang terkait dalam penularan DBD pada manusia
1. Kepadatan penduduk,
Kepadatan penduduk yang lebih padat lebih mudah untuk terjadi penularan DBD,
oleh karena jarak terbang nyamuk diperkirakan 50 100 meter.
2. Mobilitas penduduk memudakan penularan dari suatu tempat ke tempat lain.
3. Kualitas perumahan, jarak antar rumah, pencahayaan, bentuk rumah, bahan bangunan
akan mempengaruhi penularan. Bila di suatu rumah ada nyamuk penularnya maka
akan menularkan penyakit di orang yang tinggal di rumah tersebut, di rumah
sekitarnya yang berada dalam jarak terbang nyamuk dan orang-orang yang
berkunjung kerumah itu.
4. Pendidikan akan mempengaruhi cara berpikir dalam penerimaan penyuluhan dan cara
pemberantasan yang dilakukan.
5. Penghasilan akan mempengaruhi kunjungan untuk berobat ke puskesmas atau Rumah
Sakit.
6. Mata pencaharian mempengaruhi penghasilan sehingga akan mempengaruhi
kemampuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
7. Sikap hidup, kalau rajin dan senang akan kebersihan dan cepat tanggap dalam
masalah akan mengurangi resiko ketularan penyakit.
8. Perkumpulan yang ada bisa digunakan untuk sarana PKM.
9. Golongan umur, akan memperngaruhi penularan penyakit. Lebih banyak golongan
umur kurang dari 15 tahun berarti peluang untuk sakit DBD lebih besar.
10. Suku bangsa.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 31

Setiap suku bangsa mempunyai kebiasaannya masing-masing, hal ini juga
mempengaruhi penularan DBD.
11. Kerentanan terhadap penyakit.
Setiap individu mempunyai kerentanan tertentu terhadap penyakit, kekuatan dalam
tubuhnya tidak sama dalam menghadapi suatu penyakit, ada yang mudah kena
penyakit, ada yang tahan terhadap penyakit.

6.3.2.6.2.Lingkungan Fisik yang Terkait
1. Macam tempat penampungan air, sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti.
Macam tempat penampungan air ini dibedakan lagi berdasarkan lahan TPA (logam,
plastik, porselin, fiberglass, semen, tembikar, dll), warna TPA (putih, hijau, coklat
dll); volume TPA (kurang dari 50 lt, 101-200 lt dll); letak TPA ( didalam rumah atau
di luar rumah); penutup TPA (ada atau tidak ada ); pencahayaan pada TPA ( terang
atau gelap) dan sebagainya.
2. Ketinggian tempat di daerah pantai kelembaban udara mempengaruhi umur nyamuk,
di dataran tinggi suhu udara mempengaruhi pertumbuhan virus di tubuh nyamuk,
ditempat dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter diatas permukaan laut tidak
ditemukan nyamuk Aedes aegypti.
3. Curah hujan menambah genangan air sebagai tempat perindukan, menambah
kelembaban udara terutama daerah pantai, kelembaban udara menambah jarak terbang
nyamuk dan umur nyamuk didaerah pantai.
4. Hari hujan, banyaknya hari hujan akan mempengaruhi kelembaban udara didaerah
pantai dan mempengaruhi suhu di daerah pegunungan
5. Kecepatan anginmempengaruhi juga suhu udara dan pelaksanaan fogging.
6. Suhu udaramempengaruhi perkembangan virus di dalam tubuh nyamuk.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 32

7. Tata guna tanahmenentukan jarak dari rumah ke rumah. Rumah sempit, pencahayaan
kurang lebih disenangi nyamuk.
8. Pestisida yang digunakanmempengaruhi kerentanan nyamuk.
9. Kelembaban udaramempengaruhi umur nyamuk.
10. Lingkungan Biologi yang mempengaruhi penularan penyakit DBD terutama adalah
banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan, yang mempengaruhi kelembaban
dan pencahayaan di dalam rumah dan halamannya. Bila banyak tanaman hias dan
tanaman pekarangan, berarti akan menambah tempat yang disenangi nyamuk untuk
hinggap istirahat dan juga menambah umur nyamuk. Pada tempat-tempat yang
demikian di daerah pantai akan memperpanjang umur nyamuk dan penularan
mungkin terjadi sepanjang tahun di tempat tersebut. Merupakan juga fokus penularan
untuk tempat- tempat sekitarnya. Pada waktu musim hujan menyebar ke tempat lain
dari pada saat bukan musin hujan kembali lagi ke pusat penularan. Tempat-tempat
yang menjadi pusat penularan perlu diperhatikan pada saat pemberantasan dilakukan.
Faktor-faktor tersebut berbeda dari suatu tempat ke tempat yang lain dan berubah dari
waktu ke waktu, untuk itu perlu pengamatan yang benar tentang faktor - faktor tersebut guna
pemberantasan vektor. Kaitan subsistem yang menyebabkan nyamuk menjadi vektor
digambarkan sebagai diagram di bawah ini, tanda panah menunjukan kemungkinan pengaruh
dari masing-masing subsistem.

Gambar 6.1. Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Penularan Demam Berdarah
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 33


Dari ekologi vektor dapat kita ketahui bahwa ada nyamuk Aedes aegypti dan ada
berbagai faktor pendukung sehingga menjadi infekted dan dapat menularkan penyakit DBD.
Dari suatu populasi nyamuk yang ada, pada musim penularan mungkin hanya beberapa
persen saja dari populasi nyamuk tersebut yang menjadi vektor, mungkin kurang dari 5 %.

6.3.2.7. Patogenesis
Patogenesis DBD dan sindroma syok dengue (SSD) masih merupakan masalah yang
kontroversial karena sejauh ini belum ada suatu teori yang dapat menjelaskan secara tuntas
patogenesis demam berdarah dengue, namun dua perubahan patofisiologi utama yang terjadi
yaitu peningkatan permeabilitas vaskuler dan hemostasis yang abnormal. Permeabilitas
vaskuler yang meningkat mengakibatkan kebocoran plasma, hipovolemi dan syok.
Kebocoran plasma dapat menyebabkan asites. Gangguan homeostasis dapat menimbulkan
vaskulopati, trombositopeni dan koagulopati, sehingga memunculkan manifestasi perdarahan
seperti petekie, ekimosis, perdarahan gusi, epistaksis, hematemesis dan melena.
Secara garis besar ada dua teori yang banyak dianut untuk menjelaskan perubahan
patogenesis pada DBD dan SSD yaitu teori infeksi primer/teori virulensi dan teori infeksi
sekunder (teori secondary heterologous infection) atau teori infection enhancing antibody.
Teori pertama menyatakan bahwa virus dengue seperti juga virus binatang lain dapat
mengalami perubahan genetik akibat tekanan sewaktu virus mengadakan replikasi baik pada
tubuh manusia maupun pada tubuh nyamuk. Ekspresi fenotipik dari perubahan genetik dalam
genom virus dapat menyebabkan peningkatan replikasi virus dan viremia, peningkatan
virulensi dan mempunyai potensi untuk menimbulkan wabah. Selain itu beberapa strain virus
mempunyai kemampuan untuk menimbulkan wabah. Teori tersebut dibuktikan oleh para
peneliti di bidang virus yang mencoba memeriksa sekuens protein virus. Penelitian secara
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 34

molekuler biologi ini mendapatkan hal yang menarik. Pada saat sebelum KLB, selama KLB
dan setelah reda KLB ternyata sekuens protein tersebut berbeda.
Teori kedua menyebutkan bahwa apabila seseorang mendapatkan infeksi primer
dengan satu jenis virus , akan terjadi proses kekebalan terhadap infeksi jenis virus tersebut
untuk jangka waktu yang lama tetapi jika orang tersebut mendapatkan infeksi sekunder
dengan jenis serotipe virus yang lain, maka terjadi infeksi yang berat. Dihipotesiskan juga
mengenai antibody dependent enhancement (ADE)suatu proses yang akan meningkatkan
infeksi dan replikasi virus dengue di dalam sel mononuklear. Sebagai tanggapan terhadap
infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan
permeabilitas pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan hipovolemia dan syok.
Patogenesis terjadinya syok berdasarkan hipotesis the secondary heterologous infection dapat
dilihat pada Gambar 2.1 yang dirumuskan oleh Suvatte, tahun 1977.

Gambar. 6.2. Hipotesis the secondary heterologous infection

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 35

Sebagai akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang
pasien, respons limfosit T memori akan mengakibatkan proliferasi dan diferensiasi limfosit
dengan menghasilkan titer tinggi antibodi IgG antidengue. Disamping itu, replikasi dapat
juga terjadi dalam plasmosit. Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya kompleks antigen-
antibodi yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen yang dapat
menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah sehingga plasma keluar.
Pada pasien dengan syok berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari 30 % dan
berlangsung selama 24-48 jam. Kebocoran plasma dibuktikan dengan adanya peningkatan
hematokrit dan penurunan natrium. Akibat pindahnya plasma ke rongga tubuh seperti pleura
dan cavum abdominal dapat menimbulkan efusi pleura dan asites. Syok yang tidak
ditanggulangi secara adekuat, akan menyebabkan asidosis dan anoksia, yang dapat berakhir
fatal; oleh karena itu, pengobatan syok sangat penting guna mencegah kematian. Kedua
hipotesis tersebut didukung oleh data epidemiologis dan laboratoris.

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 36

Gambar 6.3 Hipotesis infection enhancing antibody

Sebagai respon terhadap infeksi virus dengue, kompleks antigen-antibodi selain
mengaktivasi sistem komplemen, juga menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivasi
sistem koagulasi melalui kerusakan sel endotel pembuluh darah (Gambar 2.2), akhirnya dapat
mengakibatkan perdarahan. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari perlekatan
kompleks antigen-antibodi pada membran trombosit mengakibatkan pengeluaran ADP
(adenosin di phosphat), sehingga trombosit melekat satu sama lain. Hal ini akan
menyebabkan trombosit dihancurkan oleh RES (reticulo endothelial system) sehingga terjadi
trombositopenia. Agregasi trombosit ini akan menyebabkan penglepasan platelet faktor III
mengakibatkan terjadinya koagulasi intravaskular diseminata (KID), sehingga terjadi
penurunan faktor pembekuan yang ditandai dengan peningkatan FDP (fibrin degradation
product).
Agregasi trombosit ini juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit, sehingga
walaupun jumlah trombosit masih cukup banyak, tidak berfungsi baik. Di sisi lain, aktivasi
koagulasi akan menyebabkan aktivasi faktor Hageman akibatnya terjadi aktivasi sistem kinin
sehingga memacu peningkatan permeabilitas kapiler yang dapat mempercepat terjadinya
syok. Jadi, perdarahan masif pada DBD diakibatkan oleh trombositpenia, penurunan faktor
pembekuan (akibat KID), kelainan fungsi trombosit, dan kerusakan dinding endotel kapiler.
Akhirnya, perdarahan akan memperberat syok yang terjadi.

6.3.2.8. Diagnosis DBD
Pedoman yang dipakai dalam menegakkan diagnosis DBD ialah kriteria yang disusun
oleh WHO (1999). Kriteria tersebut terdiri atas kriteria klinis dan laboratoris.Kriteria klinis
terdiri atas:
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 37

1. Demam tinggi mendadak 2-7 hari, terus menerus.
2. Manifestasi perdarahan seperti uji torniquet positif, perdarahan spontan (bintik-bintik
merah dikulit, epitaksis/mimisan, perdarahan gusi dan perdarahan saluran cerna).
3. Pembesaran hati
4. Manifestasi kebocoran plasma (hemokonsentrasi), mulai yang ringan seperti kenaikan
nilai hematokrit > 20% dibandingkan sebelumnya, sampai yang berat yaitu syok (nadi
cepat, lemah, kaki/tangan dingin, lembab, anak gelisah, sianosis/kebiruan dan kencing
berkurang).
Kriteria laboratoris terdiri atas:
1. Trombositopenia ( jumlah trombosit < 100.000/ul )
2. Hemokonsentrasi ( peningkatan hematokrit > 20%).
Diagnosis DBD dapat ditegakkan bila ditemukan dua kriteria klinis dan dua kriteria
laboratoris.
Berdasarkan gejalanya DHF dikelompokkan menjadi 4 tingkatan:
a. Derajat I: demam tinggi disertai gejala tidak khas. Satu-satunya tanda perdarahan
adalah tes torniquet positif atau mudah memar.
b. Derajat II: gejala derajat 1 ditambah dengan perdarahan spontan di kulit atau di
tempat lain.
c. Derajat III: Ditemukan tanda-tanda kegagalan sirkulasi (nadi cepat, lemah, hipotensi,
kaki/tangan dingin, lembab, sianosis, anak menjadi gelisah).
d. Derajat IV: terjadi syok berat dengan nadi yang tidak teraba dan tekanandarah yang
tidak dapat diperiksa.
Untuk diagnosis pasti DBD dapat ditegakkan bila ditemukannya virus dengue di
dalam darah. Metode isolasi virus merupakan baku emas (gold standard) pemeriksaan infeksi
virus dengue.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 38

6.3.2.9. Penatalaksanaan
Pengobatan simptomatik dan suportif merupakan terapi efektif pada penderita DBD.
Terapi simptomatik yakni pemberian analgetik (parasetamol), kompres hangat. Terapi
suportif antara lain penggantian (replacement) cairan, pemberian oksigen dan jika diperlukan
dapat dilakukan tranfusi darah. Pemantauan tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi),
hematokrit, trombosit, elektrolit, kecukupan cairan, urine output, tingkat kesadaran, dan
manifestasi perdarahan berguna untuk mengetahui perkembangan penyakit.

6.3.2.10. Pencegahan
Sampai saat ini belum ada obat spesifik atau vaksin yang tersedia untuk mematikan
virus dengue. Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya,
yaitu nyamuk Aedes aegypti.
Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa
metode yang tepat yaitu:
1. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan perkembangbiakan vektor yakni dengan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) :
a. Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu.
b. Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali.
c. Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
d. Mengubur kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah.
2. Biologis
Metode kontrol biologi ditujukan untuk stadium larva dari vektor. Pengendalian
biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik seperti Gambusia affinis dan
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 39

Poecilia reticulate (ikan adu/ikan cupang), bakteri penghasil endotoksin (Bacills
thuringiensis serotipe H-14 dan Bacillus sphaericus).
3. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:
- Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk
mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. Pengasapan secara
luas digunakan dengan alasan harga.
- Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti
gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan
mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 3M Plus, yaitu menutup,
menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan
pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang
kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk,
memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.

6.3.3.Gertak Mas Berlian
Gertak Mas Berlian atau yang lebih dikenal dengan gerakan serentak masyarakat
bersihkan lingkungan anti nyamuk. Gertak mas berlian ini dicanangkan oleh Bupati Jombang
Drs. Suyanto, mm pada tanggal 6 februari 2008. Adapun isinya ada 10 langkah, yaitu:
1. Bentuk tim juru pemantau jentik (jumantik) di setiap RT
2. Pantau jentik secara berkala setiap bulan
3. Lakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3m plus setiap hari jumat
5. Kenali gejala dini penyakit demam berdarah
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 40

6. Periksakan segera keluarga yang dicurigai demam berdarah ke puskesmas atau RS
terdekat.
7. Laporkan segera penderita demam berdarah ke puskesmas terdekat
8. Lakukan penyelidikan epidemiologi di lokasi tempat tinggal penderita db
9. Lakukan pengasapan (fogging) sebanyak 2 kali dengan interval satu minggu pada
daerah yang terdapat sumber virus dengue
10. Lakukan pengasapan (fogging) pada daerah endemis sebelum musim penularan
11. Lakukan psn 3M satu hari sebelum dilakukan pengasapan (fogging)

6.4. Metodologi Penelitian
6.4.1 Metode Pengumpulan Data
Tahap pengenalan medan dilaksanakan dengan pengumpulan data secara
observasional yaitu melalui pengumpulan data sekunder dari Puskesmas Peterongan,
wawancara mendalam dengan petugas kesehatan Puskesmas Peterongan dan pendekatan
survei baik terhadap kader kesehatan maupun masyarakat di Dusun Mancar Timur, Desa
Mancar, Kabupaten Jombang .

6.4.2 Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis dengan metode statistik deskriptif
yang akan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan diagram proporsi (pie
diagram).

6.5 Populasi, Sampling dan Sasaran
Populasi pengenalan medan adalah semua kepala keluarga atau ibu rumah tangga di
Dusun Mancar Timur, Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Metode
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 41

sampling pada survei ini adalah purposive sampling. Dari metode sampling ini diambil
sampel kepala keluarga atau ibu rumah tangga yang tinggal di RT 6 RW 1 Dusun Mancar
Timur, Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Jumlah sampel yang
didapatkan sejumlah 46 kepala keluarga.

Kriteria inklusi sampel
Kepala keluarga atau ibu rumah tangga yang bertempat tinggal di dusun Mancar
Timur, desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang yang bersedia
berpartisipasi dalam penelitian ini.

Kriteria eksklusi sampel
Kepala keluarga atau ibu rumah tangga yang tidak bertempat tinggal di dusun
Mancar Timur, desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombangatau tidak bersedia
berpartisipasi dalam penelitian ini.

6.6 Variabel
Variabel :
1) Pengetahuan, kesadaran dan keinginan untuk berpartisipasi dalam Program Gertak
Mas Berlian (Behavior Intention)
2) Kader kesehatan yang aktif memberi motivasi untuk berpartisipasi dalam Program
Gertak Mas Berlian (Social support)
3) Pernah mengikuti penyuluhan tentang Program Gertak Mas Berlian (Accessibility of
Information)
4) Pengambil keputusan dalam keluarga (Personal Autonomy)
5) Usaha untuk berpartisipasi dalam Program Gertak Mas Berlian (Action Situation)
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 42

6) Karakteristik Sampel

Menurut Snehandu B Kar, Perilaku seseorang / anggota masyarakat dipengaruhi oleh
variabel :
1) Behavior Intention, niat seseorang untuk menjaga kesehatannya
2) Social support, dukungan sosial dukungan sosial dari orang2 disekitarnya
3) Accessibility of Information, tersedianya informasi ttg kesehatan / fasilitas kesehatan
4) Personal autonomy, otoritas pribadi otonomi / otoritas untuk mengambil keputusan
5) Action Situation, situasi memungkinkan atau tidak
Maka dalam kegiatan Kedokteran Komunitas untuk meningkatkan peran serta
masyarakat dalam kegiatan Gertak Mas Berlian di Dusun Mancar Timur, Desa Mancar,
Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, diteliti variabel berikut :

Tabel 6.1 Definisi Operasional Variabel Penelitian
VARIABEL SUB
VARIABEL
INDIKATOR INSTRUMEN SUMBER
DATA
Behavior
Intention
Pengetahua,
kesadaran
dan
keinginan
untuk
berpartisipasi
dalam
Program
Gertak Mas
Berlian

Kesimpulan dari
hasil wawancara
secara mendalam
tentang keinginan
untuk
berpartisipasi

Kuesioner Kepala
keluarga atau
ibu rumah
tangga
Social Support Kader
Kesehatan
yang
memotivasi
untuk
berpartisipasi
dalam
Program
Gertak Mas
Berlian

Kader Kesehatan
yang
mengingatkan
untuk melakukan
Gertak Mas
Berlian
Ada / Tidak ada

Kuesioner Kepala
keluarga atau
ibu rumah
tangga
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 43

Accessibility of
Information
Pernah
mengikuti
penyuluhan
tentang
Program
Gertak Mas
Berlian
Kesimpulan dari
hasil wawancara
secara mendalam
tentang
keikutsertaan
dalam
penyuluhan
tentang Gertak
Mas Berlian
Ada / Tidak ada

Kuesioner

Kepala
keluarga atau
ibu rumah
tangga

Personal
Autonomy
Pengambil
keputusan
dalam
keluarga
Kesimpulan dari
hasil wawancara
mendalam
tentang anggota
keluarga yang
menjadi
pengambil
keputusan dalam
keluarga

Wawancara
mendalam dan
Kuesioner
Kepala
keluarga atau
ibu rumah
tangga
Action
Situation
Usaha untuk
berpartisipasi
dalam
Program
Gertak Mas
Berlian
Kesimpulan dari
wawancara
mendalam
tentang partisipasi
dalam kegiatan
Gertak Mas
Berlian
Ada / Tidak ada

Kuesioner Rumah Kepala
keluarga atau
ibu rumah
tangga

Karakteristik
Sampel
Pendidikan Pendidikan
terakhir Kepala
Keluarga atau ibu
rumah tangga

Kuesioner Kepala
keluarga atau
ibu rumah
tangga

Pekerjaan Pekerjaan Kepala
Keluarga atau ibu
rumah tangga
Kuesioner Kepala
keluarga atau
ibu rumah
tangga










CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 44

6.7 Kerangka Konsep/ Kerangka Operasional
6.7.1 Kerangka Konsep





















Gambar 6.4 Kerangka Konsep

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 45

Perubahan perilaku warga Desa Mancar untuk berpartisipasi dalam Program Gertak
Mas Berlian dapat ditingkatkan dengan melakukan intervensi terhadap variabel niat
seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan
kesehatannya/behavior intention, dukungan sosial dari masyarakat sekitar/social support,
akses terhadap informasi kesehatan/accessibility of information, otonomi pribadi untuk
mengambil keputusan/personal autonomy, dan situasi yang memungkinkan untuk
bertindak/tidak bertindak/action situation.
Variabel niat untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan
kesehatannya/behavior intention dapat dilihat dari komitmen kepala keluarga atau ibu rumah
tangga Desa Muncar untuk ikut serta dalam Program Gertak Mas Berlian.
Motivasi yang dilakukan para Kader Kesehatan Desa Mancar untuk mendorong
keikutsertaan warganya dalam Program Gertak Mas Berlian merupakan variabel dukungan
sosial dari masyarakat sekitar/social support.
Ada tidaknya informasi kesehatan atau fasilitas kesehatan/accessibility of information
yang dimiliki oleh kepala keluarga atau ibu rumah tangga Desa Muncar, diukur dari
keikutsertaan mereka dalam mengikuti penyuluhan tentang Program Gertak Mas Berlian.
Variabel Otonomi pribadi dalam mengambil tindakan atau keputusan/personal
autonomy dapat diukur dari pengambilan keputusan oleh kepala keluarga/ibu rumah tangga
Desa Muncar untuk ikut serta dalam Program Gertak Mas Berlian.
Variabel situasi yang memungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak/action
situation dapat diukur dari usaha para kepala keluarga atau ibu rumah tangga Desa Muncar
untuk ikut berpartisipasi dalam Program Gertak Mas Berlian.
Dengan melakukan intervensi terhadap variabel yang ada diharapkan dapat
meningkatan peran serta masyarakat dalam Program Gertak Mas Berlian di lingkungannya.

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 46

6.7.2 Kerangka Operasional











Gambar 6.5 Kerangka Operasional

6.8 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen untuk pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner dan
wawancara mendalam. Instrumen kuesioner untuk mengumpulkan data mengenai pendidikan
terakhir dan jenis pekerjaan kepala keluarga atau ibu rumah tangga, keinginan untuk
berpartisipasi dan pengetahuan tentang kegiatan Gertak Mas Berlian, kader kesehatan yang
memotivasi untuk melakukan Gertak Mas Berlian, keikutsertaan dalam penyuluhan tentang
Gertak Mas Berlian, pengambil keputusan dalam keluarga dan usaha untuk berpartisipasi
dalam Gertak Mas Berlian. Sedangkan instrumen wawancara mendalam dilakukan untuk
mengetahui keinginan responden berpartisipasi dan pengetahuan tentang Gertak Mas Berlian,
kader kesehatan yang memotivasi untuk melakukan Gertak Mas Berlian, keikutsertaan dalam
kegiatan penyuluhan tentang Gertak Mas Berlian, pengambil keputusan dalam keluarga dan
bagaimana usaha untuk berpartisipasi dalam kegiatan Gertak Mas Berlian
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 47

6.9 Hasil
6.9.1 Karakteristik Responden
Tabel 6.2 Distribusi dan Proporsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
Laki-laki 9 20
Perempuan 37 80
Total 54 100


Gambar 6.6 Diagram Proporsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil survei Responden berdasarkan Jenis Kelamin menunjukkan bahwa 20%
responden adalah laki-laki sedangkan 80% responden adalah perempuan.

Tabel 6.3 Distribusi dan Proporsi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
Tidak Tamat SD 3 7
SD 4 9
SMP 14 30
SMA 20 43
Perguruan Tinggi 5 11
Total 46 100












20%
80%
Laki-laki
Perempuan
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 48


Gambar 6.7 Diagram Proporsi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Hasil survei menunjukkan bahwa 7% responden tidak tamat SD, sedangkan sejumlah
9% responden adalah lulusan SD, 30% lulus SMP, 43% adalah lulusan SMA, dan sebesar
11% adalah lulusan perguruan tinggi.
Tabel 6.4 Distribusi dan Proporsi Responden Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
Petani 1 2
PNS 3 6
Pedagang 5 11
Wiraswasta 16 35
Ibu Rumah Tangga 21 46
Total 46 100


Gambar 6.8 Diagram Proporsi Responden Berdasarkan Pekerjaan

Tabel di atas menunjukkan distribusi responden berdasarkan pekerjaan. Sebanyak 2%
adalah petani, 6% adalah Pegawai Negeri Sipil, sebanyak 11% adalah pedagang, sebanyak
35% berprofesi sebagai wiraswasta, dan sebanyak 46% adalah ibu rumah tangga.


7%
9%
30%
43%
11%
Tidak Tamat SD
SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi
2% 6%
11%
35%
46%
Petani
PNS
Pedagang
Wiraswasta
Ibu Rumah Tangga
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 49

Tabel 6.5 Distribusi dan Proporsi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah Anggota Keluarga Frekuensi Persentase (%)
3 orang 13 28
4 orang 13 28
5 orang 12 26
6 orang 3 7
7 orang 3 7
8 orang 2 4
Total 46 100


Gambar 6.9 Diagram Proporsi Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga

Hasil survei menunjukkan bahwa 28% keluarga responden terdiri dari 3 orang,
sebanyak 28% keluarga responden terdiri dari 4 orang, 26% keluarga responden terdiri dari 5
orang, 7% keluarga responden terdiri dari 6 orang, 7% keluarga responden terdiri dari 7 orang
dan sebanyak 4% keluarga responden terdiri dari 8 orang.

6.9.2 Niat Untuk Bertindak / Behahior Intention Kepala Keluarga atau Ibu Rumah
Tangga untuk berpartisipasi dalam Kegiatan Gertak Mas Berlian
Tabel 6.6 Distribusi dan Proporsi Pengetahuan Responden tentang Kegiatan Gertak
MasBerlian dalam Upaya Pencegahan Penyakit Demam Berdarah
Pengetahuan tentang
Kegiatan Gertak Mas
Berlian
Frekuensi Persentase (%)
Tahu 40 87
Tidak Tahu 6 13
Total 46 100

28%
28%
26%
7%
7% 4%
3 orang
4 orang
5 orang
6 orang
7 orang
8 orang
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 50


Gambar 6.10 Diagram Proporsi Pengetahuan Reponden tentang Kegiatan Gertak Mas
Berlian dalam Upaya Pencegahan Penyakit Demam Berdarah

Gambar 6.7 menunjukkan bahwa 87% responden yang mengetahui kegiatan Gertak
Mas Berlian, sedangkan 13% yang tidak mengetahui kegiatan Gertak Mas Berlian.

Tabel 6.7 Distribusi dan Proporsi Pengetahuan Responden terhadap Cara Penularan
Demam Berdarah
Pengetahuan Cara
Penularan Demam
Berdarah
Frekuensi Persentase (%)
Nyamuk 38 95
Lalat 0 0
Tikus 2 5
Total 40 100


Gambar 6.11 Diagram Proporsi Pengetahuan Responden terhadap Cara Penularan
Demam Berdarah

87%
13%
tahu
tidak tahu
95%
0%
5%
nyamuk
lalat
tikus
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 51

Gambar 6.8 menunjukkan bahwa 95% dari responden mengetahui nyamuk sebagai cara
penularan penyakit demam berdarah. Sedangkan 5% dari responden mengetahui tikus
sebagai cara penularan penyakait demam berdarah.

Tabel 6.8 Distribusi dan Proporsi Pengetahuan Responden tentang Gejala Penyakit
Demam Berdarah.
Pengetahuan Gejala
Demam Berdarah
Frekuensi Persentase (%)
Panas Badan 37 92
Bintik Merah
Sesak Nafas
Batuk Pilek
Nyeri Perut
3
0
0
0
8
0
0
0
Total 40 100


Gambar 6.12 Diagram Proporsi Pengetahuan Responden tentang Gejala Demam Berdarah

Hasil survei menunjukkan bahwa 92% responden mengetahui gejala panas badan sebagai
gejala demam berdarah dan 8% mengetahui bintik merah sebagai gejala demam berdarah.

Tabel 6.9 Distribusi dan Proporsi Pengetahuan tentang Tempat Perindukkan Nyamuk
Demam Berdarah.
Pengetahuan Tempat
Perindukkan Nyamuk
Demam Berdarah
Frekuensi
Persentase
(%)
Baju Kotor yang Menggantung
Tembok
Pepohonan
29
0
4
72
0
10
Tidak Tahu 7 18
Total 40 100

92%
8%
0%
0%
0%
Panas badan
Bintik merah
Sesak nafas
Batuk pilek
Nyeri perut
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 52


Gambar 6.13 Diagram Proporsi Pengetahuan tentang Tempat Perindukkan Nyamuk Demam
Berdarah.

Hasil survei menunjukkan bahwa 72% responden megetahui baju kotor menggantung
sebagai tempat perindukkan nyamuk demam berdarah, 10% responden mengetahui
pepohonan sebagai tempat perindukkan nyamuk demam berdarah dan 18% responden tidak
mengetahui tempat perindukkan nyamuk demam berdarah.

Tabel 6.10 Distribusi dan Proporsi Pengetahuan Responden tentang Pencegahan Demam
Berdarah

Pengetahuan
Pencegehan Demam
Berdarah`
Frekuensi Persentase (%)
Program 3M/PSN 19 47
Gertak Mas Berlian
Abatisasi
Fogging
Tidak Tahu
4
4
12
1
10
10
30
3
Total 46 100


72% 0%
10%
18%
Baju kotor yang
menggantung
Tembok
Pepohonan
Tidak tahu
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 53


Gambar 6.14 Diagram Proporsi Pengetahuan Responden terhadap Pencegahan demam
berdarah

Hasil survei menunjukkan bahwa 47% responden mengetauhi program 3M/PSN sebagai
pencegahan demam berdarah, 10% responden mengetahui Gertak Mas Berlian dan abatisasi
sebagai pencegahan demam berdarah, 30% responden mengetauhi fogging sebagai
pencegahan demam berdarah dan 3% responden tidak mengatahui cara pencegahan demam
berdarah.

6.9.3 Dukungan Sosial dari Masyarakat Sekitar/Social Support kepada Kepala Keluarga
atau Ibu Rumah Tangga untuk berpartisipasi dalam kegiatan Gertak Mas Berlian

Tabel 6.11 Distribusi dan Proporsi Keaktifan Kader Kesehatan terhadap pelaksanaan
Gertak Mas Berlian Berdasarkan Waktu Kunjungan Pemeriksaan Jentik
Keaktifan Kader
Kesehatan
Frekuensi Persentase (%)
1x/minggu
Tiap 1 bulan
>1x/bulan
8
20
8
17
22
44
Tidak melakukan 10 22
Total 46 100

47%
10%
10%
30%
3%
Program 3M/PSN
GERTAK MAS BERLIAN
Abatisasi
Fogging
Tidak Tahu
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 54


Gambar 6.15 Diagram Proporsi Keaktifan Kader Kesehatan terhadap Pelaksanaan Kegiatan
Gertak Mas Berlian Berdasarkan Waktu Kunjungan Pemeriksaan Jentik.

Hasil survei menunjukkan bahwa 44% responden menyatakan bahwa kader kesehatan
melakukan pemeriksaan tiap 1 bulan, 17% responden menyatakan bahwa kader kesehatan
melakukan pemeriksaan 1x/minggu dan >1x/bulan. 22% responden menyatakan bahwa kader
kesehatan tidak melakukan kunjungan pemeriksaan jentik.

Tabel 6.12 Distribusi dan Proporsi Keaktifan Kader Kesehatan terhadap pelaksanaan
Gertak Mas Berlian Berdasarkan Jenis Pemeriksaan Saat Melakukan Kunjungan
Pemeriksaan Jentik
Keaktifan Kader Kesehatan Frekuensi Persentase (%)
Kamar mandi saja
Kamar mandi+penampungan air di
dalam rumah
Kamar mandi+penampungan air di
dalam dan luar rumah
19
10

17

41
22

37

Total 46 100


17%
44%
17%
22%
1x/minggu
tiap 1 bulan
>1x/bulan
Tidak
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 55


Gambar 6.16 Diagram Proporsi Keaktifan Kader Kesehatan terhadap Pelaksanaan Kegiatan
Gertak Mas Berlian Berdasarkan Jenis Pemeriksaan Saat Melakukan Kunjungan Pemeriksaan
Jentik.

Hasil survei menunjukkan bahwa 41% responden menyatakan bahwa kader kesehatan hanya
melakukan pemeriksaan di kamar mandi, 22% responden menyatakan bahwa kader kesehatan
melakukan pemeriksaan dikamar mandi +penampungan air di dalam rumah dan 37%
responden menyatakan bahwa kader kesehatan melakukan di kamar mandi dan penampungan
air di dalam dan luar rumah.

6.9.4 Informasi Kesehatan/Accessibility of Information kepada Kepala Keluarga atau
Ibu Rumah Tangga tentang Kegiatan Gertak Mas Berlian

Tabel 6.13 Distribusi dan Proporsi Partisipasi Responden dalam Penyuluhan tentang
Gertak Mas Berlian
Partisipasi dalam
penyuluhan tentang
Gertak Mas Berlian
Frekuensi Persentase (%)
Pernah 33 72
Tidak pernah 13 28
Total 46 100

41%
22%
37%
Kamar mandi saja
Kamar
mandi+penampungan air
dalam rumah
Kamar
mandi+penampungan air
dalam dan luar rumah
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 56


Gambar 6.17 Diagram Proporsi Partisipasi Responden dalam Penyuluhan tentang
Gertak Mas Berlian

Hasil survei menunjukkan bahwa 72% responden pernah mengikuti penyuluhan
tentang Gertak Mas Berlian sedangkan 28% responden tidak pernah mengikuti
penyuluhan tentang Gertak Mas berlian.

6.9.5 Otonomi Pribadi Untuk Mengambil Keputusan/Personal Autonomy Kepala
Keluarga atau Ibu Rumah Tangga untuk Berpartisipasi dalam Kegiatan Gertak Mas
Berlian

Tabel 6.14 Distribusi dan Proporsi Pengambil Keputusan dalam Keluarga Responden
Pengambil Keputusan
dalam Keluarga
Responden
Frekuensi Persentase (%)
Suami 43 94
Istri 2 4
Anak 1 2
Total 46 100


72%
28%
Pernah
Tidak Pernah
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 57


Gambar 6.18 Diagram Proporsi Pengambil Keputusan dalam Keluarga Responden

Hasil survei menunjukkan bahwa 93% pengambil keputusan dalam keluarga responden
adalah suami, 4% pengambil keputusan dalam keluarga responden adalah istri dan 3%
pengambil keputusan dalam keluarga responden adalah anak.

6.9.6 Situasi yang Memungkinkan Untuk Bertindak/Tidak Bertindak/Action Situation
Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga untuk Berpartisipasi dalam Kegiatan Gertak
Mas Berlian

Tabel 6.15 Distribusi dan Proporsi Reponden terhadap Perilaku Menguras Bak Mandi
Menguras Bak Mandi Frekuensi Persentase (%)
< 1 minggu 28 61
> 1 minggu 18 39
Total 46 100


Gambar 6.19 Diagram Proporsi Reponden terhadap Perilaku Menguras Bak Mandi
94%
4% 2%
Suami
Istri
Anak
61%
39%
<1x/minggu
1x/minggu
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 58

Hasil survei menunjukkan bahwa 61% responden yang menguras bak mandi < 1
minggu, sedangkan 39% yang menguras bak mandi > 1 minggu.

Tabel 6.16 Distribusi dan Proporsi Responden terhadap Perilaku Memberi Bubuk
Abate/Memelihara Ikan di Bak Mandi

Perilaku memberi
bubuk
Abate/Memelihara
ikan di bak mandi
Frekuensi Persentase (%)
Ya 25 54
Tidak 21 46
Total 46 100


Gambar 6.20 Diagram Proporsi Responden terhadap perilaku memberi bubuk
Abate/memelihara ikan di bak mandi

Hasil survei menunjukkan bahwa 54% dari responden yang menunjukkan perilaku
memberi bubuk Abate/memelihara ikan di bak mandi. Sedangkan 46% dari responden
menunjukkan perilaku tidak memberi bubuk Abate/memelihara ikan di bak mandi.

Tabel 6.17 Distribusi dan Proporsi Responden terhadap Perilaku Mengikuti Kegiatan
Gerakan Jumat Bersih di Lingkungan Rumah
Perilaku mengikuti
kegiatan gerakan
jumat bersih di
lingkungan rumah
Frekuensi Persentase (%)
1x/minggu 12 26
Kadang-kadang 16 36
Tidak Pernah 18 39
Total 46 100
54%
46%
Ya
Tidak
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 59


Gambar 6.21 Diagram Proporsi Responden terhadap Perilaku Mengikuti Kegiatan
Gerakan Jumat Bersih di Lingkungan Rumah

Hasil survei menunjukkan bahwa 26% responden mengikuti 1x/minggu, 35% kadang-
kadang mengikuti dan 39% tidak pernah mengikuti kegiatan gerakan jumat bersih di
lingkungan rumah.

Tabel 6.18 Distribusi dan Proporsi Responden terhadap Perilaku Melakukan Gerakan 3M
di Rumah

Perilaku Melakukan
Gerakan 3M di
Rumah`
Frekuensi Persentase (%)
1x/minggu 29 63
< 1 minggu 10 22
Tidak Pernah 7 15
Total 46 100



Gambar 6.22 Diagram Proporsi Responden terhadap Perilaku Melakukan Gerakan 3M
di Rumah

26%
35%
39%
1x/minggu
kadang-kadang
tidak pernah
63%
22%
15%
1x/minggu
<1x/minggu
tidak pernah
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 60

Hasil survei menunjukkan bahwa 63% responden melakukan gerakan 3M di rumah
1x/minggu, 22% < 1x/minggu dan 15% tidak pernah melakukan gerakan 3M.

Tabel 6.19 Distribusi dan Proporsi Responden terhadap Perilaku Menggunakan Kasa
Anti Nyamuk di Rumah
Perilaku Melakukan
Gerakan 3M di
Rumah`
Frekuensi Persentase (%)
Ya 18 39
Tidak 28 61
Total 46 100


Gambar 6.23 Diagram Proporsi Responden terhadap Perilaku Menggunakan Kasa
Anti Nyamuk di Rumah

Hasil survei menunjukkan bahwa 61% responden menggunakan kasa anti nyamuk dan
39% tidak menggunkan kasa anti nyamuk.

Tabel 6.20 Distribusi dan Proporsi Responden terhadap Perilaku Menggunakan obat
nyamuk
Perilaku Melakukan
Gerakan 3M di
Rumah`
Frekuensi Persentase (%)
Bakar 23 54
Semprot 4 9
Lotion anti nyamuk 16 37
Total 46 100
39%
61%
Ya
Tidak
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 61



Gambar 6.24 Diagram Proporsi Responden terhadap Perilaku Menggunakan Kasa
Anti Nyamuk di Rumah

Hasil survei menunjukkan bahwa 54% responden menggunakan obat nyamuk bakar, 4%
responden menggunakan obat nyamuk semprot dan 37% menggunakan lotion anti nyamuk.

54%
9%
37%
bakar
semprot
lotion anti nyamuk
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 62

6.10 Pembahasan
Pembahasan penelitian dibuat berdasarkan hubungan antara beberapa teori yang
terangkum dalam tinjauan pustaka dan hasil penelitian yang didapatkan di lapangan. Hal
yang dibahas meliputi variabel niat untuk bertindak/behavior Intention dalam rangka
peningkatan keikutsertaan masyarakat Desa Mancar Timur pada program Gertak Mas
Berlian, dukungan sosial dari masyarakat sekitar/social support, informasi
kesehatan/accessibility of information, otonomi pribadi untuk mengambil keputusan/personal
autonomy dan situasi yang memungkinkan untuk bertindak/tidak bertindak/action situation.

6.10.1 Variabel Niat/Behavior Intention Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga
untuk berpartisipasi dalam Program Gertak Mas Berlian
Hasil survei di Desa Muncar Timur Kecamatan Peterongan dengan jumlah responden
sebanyak 46 orang, peneliti menemukan bahwa sebagian besar penduduk yakni 45 orang
(97%) telah mengetahui cara pencegahan penyakit demam berdarah yakni program 3M/PSN
sebanyak 47%, kegiatan gertak mas berlian sebanyak 10%, abatisasi sebanyak 10% dan
fogging sebanyak 30%. Hanya sebagian kecil penduduk yang tidak mengetahui tentang cara
pencegahan demam berdarah yakni 1 orang (3%).
Dari 100% responden, sebanyak 87% mengetahui tentang kegiatan Gertak Mas
Berlian, 95% diantaranya telah mengetahui tentang cara penularan demam berdarah yakni
melalui vektor nyamuk aedes aegipty. 92% penduduk mampu menyebutkan bahwa panas
badan merupakan salah satu gejala dari penyakit demam berdarah, 8 % diantaranya
menjawab bintik-bintik merah pada tubuh. 72% responden mengetahui bahwa baju kotor
menggantung merupakan salah satu tempat perindukan nyamuk demam berdarah, 10%
responden menjawab bahwa pepohonan merupakan tempat perindukan nyamuk demam
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 63

berdarah dan 18% responden sama sekali tidak mengetahui tempat perindukkan nyamuk
demam berdarah.

6.10.2 Variabel Dukungan Sosial dari Masyarakat Sekitar/Social Support Intention
Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga untuk berpartisipasi dalam Program Gertak
Mas Berlian
Dari hasil survei mengenai keaktifan kader kesehatan, 44% responden menyatakan
bahwa kader kesehatan melakukan pemeriksaan jentik berkala tiap 1 bulan, 17% responden
menyatakan bahwa pemeriksaan jentik berkala dilakukan tiap 1x/minggu dan >1x/bulan. 22%
responden menyatakan bahwa kader kesehatan tidak pernah melakukan kunjungan
pemeriksaan jentik sama sekali.
Dari jenis pemeriksaan yang dilakukan oleh para kader kesehatan, 41% responden
menyatakan bahwa kader kesehatan melakukan pemeriksaan jentik berkala hanya di kamar
mandi saja, 22% responden menyatakan bahwa kader kesehatan melakukan pemeriksaan
dikamar mandi + penampungan air di dalam rumah dan 37% responden menyatakan bahwa
kader kesehatan melakukan pemeriksaan di kamar mandi + penampungan air di dalam dan
luar rumah.

6.10.3 Variabel Informasi Kesehatan/Accessibility of Information Kepala Keluarga atau
Ibu Rumah Tangga untuk berpartisipasi dalam Program Gertak Mas Berlian
Penyuluhan kesehatan yang diberikan para petugas kesehatan dinilai sangat penting
karena menyangkut aksesibilitas warga pada informasi kesehatan. Hasil survei menunjukkan
bahwa 72% responden mengaku pernah mengikuti penyuluhan tentang kegiatan Gertak Mas
Berlian sedangkan 28% sisanya tidak pernah mengikuti penyuluhan tentang kegiatan
tersebut.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 64

6.10.4 Variabel Otonomi Pribadi Untuk Mengambil Keputusan/Personal Autonomy
Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga untuk berpartisipasi dalam Program Gertak
Mas Berlian
Decision maker dalam keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam proses
pengambilan keputusan termasuk dalam usaha peningkatan keikutsertaan warga dalam
kegiatan Gertak Mas Berlian. Hasil survei menunjukkan bahwa 93% pengambil keputusan
dalam keluarga responden adalah suami, 4% pengambil keputusan dalam keluarga responden
adalah istri dan 3% pengambil keputusan dalam keluarga responden adalah anak.

6.10.5 Variabel Situasi yang Memungkinkan Untuk Bertindak/Tidak Bertindak/Action
Situation Kepala Keluarga atau Ibu Rumah Tangga untuk Berpartisipasi dalam
Program Gertak Mas Berlian
Hasil survei mengenai perilaku menguras bak mandi, menunjukkan bahwa 61%
responden menguras bak mandi < 1 minggu/kali, sedangkan sisanya menguras bak mandi >
1/minggu/kali.
54% dari responden yang menunjukkan perilaku memberi bubuk Abate/memelihara
ikan di bak mandi. Sedangkan 46% dari responden menunjukkan perilaku tidak memberi
bubuk Abate/memelihara ikan di bak mandi.
26% responden mengikuti kegiatan jumat bersih 1x/minggu, 35% kadang-kadang
mengikuti kegiatan tersebut dan sisanya tidak pernah mengikuti kegiatan gerakan jumat
bersih di lingkungan rumah.
Hasil survei menunjukkan bahwa 63% responden melakukan gerakan 3M di rumah
1x/minggu, 22% < 1x/minggu dan 15% tidak pernah melakukan gerakan 3M.
Hasil survei menunjukkan bahwa 61% responden menggunakan kasa anti nyamuk dan
39% tidak menggunkan kasa anti nyamuk.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 65

Hasil survei menunjukkan bahwa 54% responden menggunakan obat nyamuk bakar,
4% responden menggunakan obat nyamuk semprot dan 37% menggunakan lotion anti
nyamuk.
Jenis pekerjaan keluarga menjadi subvariabel yang mempengaruhi upaya masyarakat
untuk melaksanakan program Gertak Mas Berlian. Dimana ketersediaan waktu menjadi hal
yang penting untuk keikutsertaan masyarakat. Hasil survei menunjukkan sebanyak 2% adalah
petani, 6% adalah Pegawai Negeri Sipil, sebanyak 11% adalah pedagang, sebanyak 35%
berprofesi sebagai wiraswasta dan sebanyak 46% adalah ibu rumah tangga. Subvariabel lain
yang mempengaruhi adalah tingkat pendidikan responden. Hasil survei menunjukkan bahwa
7% responden tidak tamat SD, sedangkan sejumlah 9% responden adalah lulusan SD, 30%
lulus SMP, 43% adalah lulusan SMA, dan sebesar 11% adalah lulusan perguruan tinggi.

6.11 Kesimpulan
1. Niat untuk bertindak /behahior intention kepala keluarga atau ibu rumah tangga Dusun
Mancar terhadap pengetahuan dan kesadaran untuk berpartisipasi dalam Program Gertak
Mas Berlian dalam upaya meningkatkan pencegahan penyakit demam berdarah. Hasil
survei menunjukkan 97% telah mengetahui cara pencegahan penyakit demam berdarah
yakni program 3M/PSN sebanyak 47%, kegiatan gertak mas berlian sebanyak 10%,
abatisasi sebanyak 10% dan fogging sebanyak 30%. Hanya sebagian kecil penduduk
yang tidak mengetahui tentang cara pencegahan demam berdarah yakni 1 orang (3%).
Kemudian sebanyak 87% mengetahui tentang Program Gertak Mas Berlian, 95%
diantaranya telah mengetahui tentang cara penularan demam berdarah yakni melalui
vektor nyamuk aedes aegipty. 92% penduduk mampu menyebutkan bahwa panas badan
merupakan salah satu gejala dari penyakit demam berdarah, 8 % diantaranya bintik-
bintik merah pada tubuh. 72% responden mengetahui bahwa baju kotor menggantung
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 66

merupakan salah satu tempat perindukan nyamuk demam berdarah, 10% responden
menjawab bahwa pepohonan merupakan tempat perindukan nyamuk demam berdarah.
2. Dukungan sosial dari masyarakat sekitar/social support kepada kepala keluarga atau ibu
rumah tangga Dusun Mancar untuk berpartisipasi dalam kegiatan Gertak Mas Berlian
dalam upaya meningkatkan pencegahan penyakit demam berdarah. Hasil survei
mengenai keaktifan kader kesehatan, 44% responden menyatakan bahwa kader kesehatan
melakukan pemeriksaan jentik berkala tiap 1 bulan, 17% responden menyatakan bahwa
pemeriksaan jentik berkala dilakukan tiap 1x/minggu dan >1x/bulan. Dari jenis
pemeriksaan yang dilakukan oleh para kader kesehatan, 41% responden menyatakan
bahwa kader kesehatan melakukan pemeriksaan jentik berkala hanya di kamar mandi
saja, 22% responden menyatakan bahwa kader kesehatan melakukan pemeriksaan
dikamar mandi + penampungan air di dalam rumah dan 37% responden menyatakan
bahwa kader kesehatan melakukan pemeriksaan di kamar mandi + penampungan air di
dalam dan luar rumah.
3. Informasi kesehatan/accessibility of information kepada kepala keluarga atau ibu rumah
tangga Dusun Mancar untuk berpartisipasi dalam kegiatan Gertak Mas Berlian dalam
upaya meningkatkan pencegahan penyakit demam berdarah. Hasil survei menunjukkan
bahwa 72% responden mengaku pernah mengikuti penyuluhan tentang kegiatan Gertak
Mas Berlian.
4. Otonomi pribadi untuk mengambil keputusan/personal autonomy kepala keluarga atau
ibu rumah tangga Dusun Mancar Timur untuk berpartisipasi dalam kegiatan Gertak Mas
Berlian sebagai upaya meningkatkan pencegahan penyakit demam berdarah. Hasil survei
menunjukkan bahwa 93% pengambil keputusan dalam keluarga responden adalah suami,
4% pengambil keputusan dalam keluarga responden adalah istri dan 3% pengambil
keputusan dalam keluarga responden adalah anak.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 67

5. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak/tidak bertindak/action situation kepala
keluarga atau ibu rumah tangga Dusun Mancar Timur untuk berpartisipasi dalam
kegiatan Gertak Mas Berlian sebagai upaya meningkatkan pencegahan penyakit demam
berdarah. Hasil survei mengenai perilaku menguras bak mandi, menunjukkan bahwa
61% responden menguras bak mandi < 1 minggu/kali, sedangkan sisanya menguras bak
mandi > 1/minggu/kali. kemudian perilaku 54% dari responden menunjukkan perilaku
memberi bubuk Abate/memelihara ikan di bak mandi. Sedangkan 46% dari responden
menunjukkan perilaku tidak memberi bubuk Abate/memelihara ikan di bak mandi. 26%
responden mengikuti kegiatan jumat bersih 1x/minggu, 35% kadang-kadang mengikuti
kegiatan tersebut dan sisanya tidak pernah mengikuti kegiatan gerakan jumat bersih di
lingkungan rumah. Hasil survei menunjukkan bahwa 63% responden melakukan gerakan
3M di rumah 1x/minggu, 22% < 1x/minggu. Hasil survei menunjukkan bahwa 61%
responden menggunakan kasa anti nyamuk. Hasil survei menunjukkan bahwa 54%
responden menggunakan obat nyamuk bakar, 4% responden menggunakan obat nyamuk
semprot dan 37% menggunakan lotion anti nyamuk. Hasil survei mengenai jenis
pekerjaan responden menunjukkan sebanyak 2% adalah petani, 6% adalah Pegawai
Negeri Sipil, sebanyak 11% adalah pedagang, sebanyak 35% berprofesi sebagai
wiraswasta dan sebanyak 46% adalah ibu rumah tangga. tingkat pendidikan responden.
Hasil survei menunjukkan bahwa 7% responden tidak tamat SD, sedangkan sejumlah 9%
responden adalah lulusan SD, 30% lulus SMP, 43% adalah lulusan SMA, dan sebesar
11% adalah lulusan perguruan tinggi.

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 68

BAB VII
DIAGNOSIS KOMUNITAS
7.1 Kegiatan
7.1.1 Lokasi dan Waktu Lokakarya
Diagnosis komunitas ditegakkan dengan menyelenggarakan lokakarya. Lokakarya
diselenggarakan di Musholla Mancar Timur, RT 06, RW 01, Dusun Mancar Timur, Desa
Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Lokakarya dilaksanakan pada hari
Jumat tanggal 11 Februari 2010 pukul 18.00 21.00 WIB.

7.1.2 Peserta Lokakarya
Jumlah peserta yang hadir pada lokakarya adalah 42 orang yang terdiri dari Ketua RT
06 RW 01 Dusun Mancar Timur, warga dari RT 05 RW 01 RT 06 RW 01, RT 07 RW 01,
RT 14 RW 01 Dusun Mancar Timur, Penanggung jawab Program Promosi Kesehatan
(Promkes) Puskesmas Peterongan, Bidan Desa Mancar Puskesmas Peterongan, dan sembilan
orang CPS PKBM.

7.1.3 Kerangka Operasional Lokakarya

Gambar 7.1 Kerangka Operasional Lokakarya
Kegiatan lokakarya diawali dengan penyampaian hasil survei dan daftar masalah. Sesi
kedua lokakarya adalah penentuan prioritas masalah oleh peserta lokakarya. Sesi ketiga
lokakarya adalah identifikasi penyebab masalah yang mendapatkan prioritas tertinggi. Sesi
keempat lokakarya adalah penentuan solusi masalah. Pencarian solusi dilakukan dengan
Penyampaian
Hasil Survei
dan Daftar
Masalah
Penentuan
Prioritas
Masalah
Identifikasi
Penyebab
Masalah
Pencarian
Solusi
Penyepakatan
Solusi
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 69

focus group discussion. Solusi masalah dirumuskan berdasarkan penyebab masalah yang
telah diidentifikasi. Sesi terakhir lokakarya adalah penyepakatan waktu dan penanggung
jawab realisasi solusi.

7.2 Hasil Kegiatan
7.2.1 Daftar Masalah
Berdasarkan hasil survei lapangan, dapat dirumuskan beberapa masalah masalah
sebagai berikut:
1. 74% responden yang sibuk dengan pekerjaannya menyatakan tidak memiliki cukup
banyak waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan seperti jumat
bersih dan PSN
2. Masih kurangnya pengetahuan responden mengenai gejala demam berdarah dan
upaya pencegahannya (41%).
3. Masih belum optimalnya kinerja kader kesehatan dalam pemeriksaan jentik
berkala(39%)
4. Cara pemeriksaan jentik yang kurang tepat (63%)

7.2.2 Prioritas Masalah
Penentuan prioritas masalah dalam lokakarya didasarkan pada besarnya masalah,
menurut urgensi masalah, teknologi yang dikuasai dalam penanganan masalah dan sarana
prasarana yang dimiliki untuk menangani masalah tersebut. Prioritas masalah yang disepakati
dalam lokakarya adalah masyarakat di Dusun Mancar Timur tidak memiliki cukup banyak
waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan seperti jumat bersih dan PSN dan
masih belum optimalnya kinerja kader kesehatan dalam pemeriksaan jentik berkala di Dusun
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 70

Mancar Timur, Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang yang masih jauh
dari target yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan.

7.2.3 Penyebab Masalah
Masalah yang diputuskan untuk diangkat dalam Musyawarah Mufakat Desa adalah
Masyarakat di Dusun Mancar Timur tidak memiliki cukup banyak waktu untuk berpartisipasi
dalam kegiatan kemasyarakatan seperti jumat bersih dan PSN. Hal ini disebabkan karena
hampir semua warga di Dusun Mancar Timur baik ibu dan bapaknya bekerja. Dari survey
pendahuluan yang dilakukan sebelumnya, didapatkan data bahwa 2% penduduk Mancar
Timur bekerja sebagai petani, 6% sebagai Pegawai Negeri Sipil, 11% sebagai pedagang, 35%
sebagai wiraswasta, dan 46% bekerja sebagai ibu rumah tangga yang membantu suami
berwiraswasta. Dengan kesibukan bekerja hingga sore hari, maka hal ini menjadi faktor
penghambat untuk para warga di Dusun Mancar Timur untuk melakukan kegiatan
kemasyarakatan seperti Jumat bersih dan PSN bersama-sama.
Masalah lain yang diangkat dalam Musyawarah Masyarakat Desa pada hari Jumat
tanggal 12 Februari 2010 adalah bahwa masih belum optimalnya kinerja kader kesehatan
dalam pemeriksaan jentik berkala. Berdasarkan Musyawarah masyarakat Dusun Mancar
Timur, didapatkan bahwa hal ini dikarenakan tidak terdapatnya alokasi dana bagi para
Jumantik yang telah ditunjuk sehingga mengalami kesulitan untuk menggerakkan Jumantik
tersebut. Selain itu, berdasarkan survey, ditemukan bahwa ada 22% rumah warga Dusun
Mancar Timur yang tidak pernah diperiksa oleh Jumantik karena ketika ada pemeriksaan,
para warga juga tidak berada di rumah karena bekerja. Jumantik yang telah ditunjuk juga
melakukan pemeriksaan hanya dengan bertanya terhadap pemilik rumah tentang ada atau
tidaknya jentik sehingga menyebabkan kinerja Kader Jumantik belum optimal.

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 71

7.3 Diagnosis Komunitas
Masalah utama masyarakat Dusun Mancar Timur, Desa Mancar, Kecamatan
Peterongan, Kabupaten Jombang adalah masyarakat di Dusun Mancar Timur tidak memiliki
cukup banyak waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan seperti jumat
bersih dan PSN dan masih belum optimalnya kinerja kader kesehatan dalam pemeriksaan
jentik berkala di Dusun Mancar Timur, Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten
Jombang.

7.4 Rencana Program Terapi Komunitas
Tabel 7.1 Rencana Program Terapi Komunitas di Dusun Mancar Timur, Desa Mancar,
Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang
No. Nama
Program
Koordinator Kegiatan Penanggung
Jawab
Kegiatan
Waktu
Pelaksanaan
1 Pemicuan Mahasiswa
CPS PKBM
Pemicuan untuk GERTAK
MAS BERLIAN
Ketua Tim
Mahasiswa
CPS PKBM
Jumat, 12
Februari
2010
2 Penyuluhan
DBD dan
pencegahannya
melalui
GERTAK
MAS
BERLIAN
kepada
masyarakat
Dusun Mancar
Timur
Mahasiswa
CPS PKBM
Penyuluhan tentang DBD,
bahayanya terhadap
manusia, cara penularan,
dan cara pencegahannya
melalui GERTAK MAS
BERLIAN
Ketua Tim
Mahasiswa
CPS PKBM/
Staf
Puskesmas
Peterongan
Jumat, 12
Februari
2010
3 Pembentukan
Organisasi
Jumantik
tingkat RT
pada warga RT
06 RW 01
Ketua RT 06
RW 01
Pembentukan Pengurus
Jumantik Tingkat RT
Ketua RT 06
RW 01
Jumat,12
Februari
2010
4 Program
Minggu Bersih
Ketua RT 06
RW 01
Kegiatan membersihkan
lingkungan dan 3M PLUS
setiap minggu pagi
Jumantik RT Minggu, 14
Februari
2010
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 72

5 Penyuluhan
DBD dan
pencegahannya
melalui
GERTAK
MAS
BERLIAN
kepada anak
SD Mancar 03
Mahasiswa
CPS PKBM
Penyuluhan tentang DBD,
bahayanya terhadap
manusia, cara penularan,
dan cara pencegahannya
melalui GERTAK MAS
BERLIAN
Ketua Tim
Mahasiswa
CPS PKBM
Sabtu, 13
Februari
2010
6


Pembentukan
Organisasi
Wamantik

Kepala
Sekolah SDN
Mancar 03,
Guru UKS
SDN Manjar
03,
Mahasiswa
CPS PKBM,
Pembentukan komite
untuk perwujudan
terlaksananya program
Sekolah dan Rumahku
Bebas Jentik Tahun 2011
Kepala
Sekolah / Guru
UKS / CPS
PKBM
Sabtu, 13
Februari
2010
7 Pelaksanaan
Program
Sekolah dan
Rumahku
Bebas Jentik
Tahun 2011




Ketua
Program
Sekolah dan
Rumahku
Bebas Jentik
Tahun 2011,
Mahasiswa
CPS PKBM,
Anggota
Organisasi
Wamantik





Sosialisasi Program
Sekolah dan Rumahku
Bebas Jentik Tahun 2011


Ketua Program
Sekolah dan
Rumahku
Bebas Jentik
Tahun 2011,
Ketua Tim
CPS PKBM
Sabtu, 13
Februari
2010
Pemilihan Anggota
Organisasi Wamantik

Ketua Program
Sekolah dan
Rumahku
Bebas Jentik
Tahun 2011,
Kepala
Sekolah
sebagai
Pelindung
Organisasi
Wamantik
2011
Senin, 15
Februari
2010
Pelaksanaan Pemantauan
Jentik oleh anggota
organisasi Wamantik dan
Pencatatan hasil
Pemeriksaan
Ketua Program
Sekolah dan
Rumahku
Bebas Jentik
Tahun 2011
Setiap bulan
Penyuluhan dan Edukasi
tentang PSN kepada warga
dengan Jentik positif
Ketua Program
Sekolah dan
Rumahku
Bebas Jentik
Tahun 2011
Setiap bulan
Evaluasi bulanan Komite
Program Sekolah dan
Rumahku Bebas Jentik
Tahun 2011 bersama
Ketua Program
Sekolah dan
Rumahku
Bebas Jentik
Setiap bulan



CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 73

Pelindung Organisasi
Wamantik dan Guru
Pendamping Organisasi
Wamantik






Tahun 2011/
Pelindung
Organisasi
Wamantik/
Guru
Pendamping
Organisasi
Wamantik







Evaluasi bulanan Komite
Program Sekolah dan
Rumahku Bebas Jentik
Tahun 2011 bersama
Pelindung Organisasi
Wamantik dan Guru
Pendamping Organisasi
Wamantik




Ketua Program
Sekolah dan
Rumahku
Bebas Jentik
Tahun 2011/
Pelindung
Organisasi
Wamantik/
Guru
Pendamping
Organisasi
Wamantik
Setiap 3
bulan


CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 74

BAB VIII
TERAPI KOMUNITAS
8.1 Deskripsi
8.1.1 Pemicuan Pada Warga Masyarakat
Pemicuan dilakukan dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan niat masyarakat untuk
melakukan GERTAK MAS BERLIAN dengan tujuan untuk mewujudkan lingkungan anti
nyamuk. Program GERTAK MAS BERLIAN sendiri sebelumnya telah dijelaskan oleh Tim
CPS PKBM pada saat lokakarya. Sasaran pemicuan kali ini adalah pemegang keputusan
dalam keluarga, yang mayoritas adalah kepala keluarga dan perangkat desa yang berperan
dalam pengambilan keputusan di masyarakat. Pengambil keputusan dalam keluarga dan
masyarakat ini dipilih sebagai sasaran pemicuan dengan tujuan memudahkan diterimanya dan
tersebarnya perubahan persepsi dan perilaku dalam keluarga dan masyarakat dikarenakan
besar dan pentingnya peran serta pengaruhnya dalam keluarga dan masyarakat.
Pemicuan dilaksanakan pada hari Jumat, 12 Februari 2010 pada pukul 18.00-21.00.
Kegiatan Pemicuan diputuskan untuk diadakan pada malam hari ketika para peserta yang
mayoritas adalah kepala keluarga selesai bekerja. Para peserta dikumpulkan di Musholla RT
06 RW 01 Dusun Mancar Timur. Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan perangkat dusun ,
kader kesehatan dusun dan bidan desa Mancar, Ketua RT 06 RW 01 Dusun Mancar Timur,
warga dari RT 05 RW 01 RT 06 RW 01, RT 07 RW 01, RT 14 RW 01 Dusun Mancar Timur.
Metode pemicuan dipilih karena menggunakan pendekatan yang berbeda dengan metode
penyuluhan pada umumnya. Penyuluhan biasanya lebih menekankan pada peningkatan segi
kognitif. Sedangkan program Pemicuan tidak hanya menekankan pada segi kognitif saja, tapi
juga segi afektif dan psikomotor. Tujuan akhir yang diharapkan adalah masyarakat yang
sudah terpicu dapat proaktif dan berinisiatif untuk memperbaiki kesehatan lingkungannya,
terutama dalam hal mewujudkan lingkungan anti nyamuk.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 75

Kegiatan Pemicuan dilaksanakan secara tim dengan pembagian tugas antar anggota tim
antara lain sebagai berikut:
1. Lead facilitator yang berfungsi sebagai memimpin dan penggerak utama dalam proses
fasilitasi. Peran ini dilakukan oleh Bapak Moh. Zuhri selaku penanggung jawab program
Promosi Kesehatan Puskesmas Peterongan.
2. Co-facilitator membantu lead facilitator untuk memfasilitasi penyampaian materi dan
diskusi sesuai dengan kesepakatan awal yang sudah dibentuk Lead facilitator. Peran ini
dilakukan oleh Noviandhy Geloed A, S.Ked.
3. Content recorder bertugas mencatat proses pemicuan, hasil kesepakatan yang terjadi
selama pemicuan, dan pertanyaan yang timbul selama pemicuan, serta melakukan
pengambilan foto selama kegiatan untuk kepentingan dokumentasi. Peran ini dilakukan oleh
Evelyn Diantika M, S.Ked. dan Michael Anthony Nafarin, S.Ked.
4. Process facilitator befungsi untuk menjaga alur selama proses pemicuan, mengontrol
proses pemicuan agar tidak menyimpang dari prinsip-prinsip pemicuan dan mengontrol
waktu dengan cara mengingatkan fasilitator dengan kode-kode yang telah disepakati
sebelumnya. Peran ini dilakukan oleh Puspita Wijayanti, S.Ked dan , Lahuda A. S.Ked.
5. Environment Setter berfungsi untuk menjaga suasana agar tetap serius tapi santai selama
proses fasilitasi berlangsung, mengajak diskusi terpisah para partisipan yang terlalu
mendominasi, memprovokasi atau mengganggu proses. Peran ini dilakukan oleh Sugi Deny
P.S., S.Ked, Lenny Oktavia,S.Ked, Jifaldi Alfrian M.D.S., S.Ked, dan Natasya Ayunda,
S.Ked.

8.1.2 Penyuluhan DBD dan pencegahannya melalui GERTAK MAS BERLIAN
Data hasil survey pendahuluan didapatkan hanya 87% responden yang mengetahui
kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk, sedangkan 13% sisanya tidak mengetahui kegiatan
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 76

Pemberantasan Sarang Nyamuk. Oleh karena itu Tim CPS PKBM memutuskan untuk
meningkatkan kemampuan kognitif masyarakat Dusun mancar Timur, khususnya mengenai
DBD dan pencegahannya melalui GERTAK MAS BERLIAN.
Penyuluhan dilakukan dengan metode kuliah dan tanya jawab untuk meningkatkan
kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang bahaya DBD dan pentingnya pencegahan
DBD melalui GERTAK MAS BERLIAN. Dalam penyuluhan ini juga diberikan pandangan
dari segi agama melalui pemaparan beberapa ayat Alquran dan hadist.

8.1.3 Pembentukan Organisasi Jumantik tingkat RT
Setelah diberikan Pengetahuan kognitif tentang bahaya demam berdarah dengue dan
pencegahannya melalui GERTAK MAS BERLIAN dan dilakukan Pemicuan untuk
menimbulkan kesadaran masyarakat mengenai permasalahan ini, Tim Mahasiswa CPS
PKBM berkoordinasi dengan Ketua RT menawarkan pembentukan Organisasi Jumantik
Tingkat RT untuk memantau kondisi lingkungan terutama jentik nyamuk di lingkungan
rumah warga. Pemilihan pengurus Jumantik dilakukan berdasarkan spontanitas dan
musyarawah bersama warga.
Pada akhir acara ini, Tim Mahasiswa CPS PKBM memilih untuk membentuk Jumantik
Tingkat RT pada RT 06 RW 01 dengan alasan karena pada saat survey pendahuluan
didapatkan data bahwa di RT 06 adalah daerah endemis tetapi ABJ yang dilaporkan adalah
96%. Setelah ditelusuri lebih lanjut oleh Tim Mahasiswa CPS PKBM dengan melakukan
wawancara mendalam kepada warga didapatkan data bahwa ternyata terdapat kesalahan
dalam cara pemeriksaan jentik oleh Jumantik Desa yaitu dilakukan dengan cara bertanya
kepada pemilik rumah tentang kebersihan kamar mandi dan keberadaan jentik nyamuk
bahkan ada 22% rumah warga yang tidak diperiksa. Diharapkan dari pembentukan Jumantik
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 77

di RT 06 RW 01 tersebut dapat menjadi contoh semua RT di Dusun Mancar Timur untuk
membentuk Jumantik RT sehingga dapat tercipta lingkungan anti jentik nyamuk DBD.
Pembentukan Jumantik RT di RT 06 RW 01 dibentuk dengan koordinasi Ketua RT 06
bersama warga RT 06 yang dilakukan dengan spontanitas dan musyawarah mufakat sehingga
terbentuklah Jumantik RT 06 RW 01 dengan susunan pengurus sebagai berikut:
Ketua: Pak Yatno (Ketua RT 06 RW 01)
Anggota: Pak Suyatno (warga RT 06 RW 01), Pak Sugeng (warga RT 06 RW 01), Pak
Dodi (warga RT 06 RW 01), Pak Kastam (warga RT 06 RW 01).
Diharapkan setelah terbentuknya organisasi Jumantik Tingkat RT tersebut, pemantauan
jentik nyamuk di RT 06 RW 01 Dusun Mancar Timur dapat terpantau dengan baik dan benar
secara rutin minimal sekali setiap bulan.

8.1.4 Program Minggu Bersih
Berdasarkan hasil penentuan skala prioritas pada Lokakarya tanggal 12 Februari
2010, masyarakat menentukan prioritas masalahnya. Prioritas masalah yang disepakati dalam
lokakarya adalah masyarakat di Dusun Mancar Timur tidak memiliki cukup banyak waktu
untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan seperti jumat bersih dan PSN. Oleh
karena itu Tim CPS PKBM bekerja sama dengan Ketua RT mencoba memodifikasi kegiatan
Jumat bersih yang sebelumnya belum optimal karena terbentur masalah waktu menjadi
Program Minggu Bersih. Diharap dengan pengadaan acara pada hari minggu masyarakat
yang bekerja dapat meluangkan waktunya lebih banyak untuk membersihkan lingkungannya
dan mewujudkan lingkungan anti nyamuk di rumahnya dan pekarangan di sekitarnya.



CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 78

8.1.5 Penyuluhan dan Pemicuan Pada Siswa Kelas IV-V-VI SDN Mancar 3
Penyuluhan dan pemicuan terhadap siswa-siswi kelas IV-V-VI SDN Mancar 3
dilaksanakan pada hari Sabtu, 13 Februari 2010. Acara ini berlangsung dari pkl. 09.00
11.00 di salah satu ruang kelas di SDN Mancar 3. Acara diawali dengan perkenalan anggota
Tim CPS PKBM, lalu dilanjutkan dengan Penyuluhan mengenai Demam Berdarah. Pada
penyuluhan ini dijelaskan penyebab Demam Berdarah, bagaimana gejalanya, cara penularan,
dan pertolongan pertama pada pasien Demam Berdarah. Kemudian dijelaskan lebih lanjut
mengenai pentingnya pencegahan demam berdarah dan upaya-upaya apa saja yang bisa
dilaksanakan seperti kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk dan 3M. Setelah memberikan
pengetahuan kognitif berupa penyuluhan, Tim CPS PKBM juga merangsang siswa secara
psikomotor dengan mengajarkan dan mempraktekan bagaimana cara memeriksa jentik yang
benar. Praktek pemeriksaan jentik dilakukan dengan membagi siswa-siswi kelas IV-V-VI
SDN Mancar 3 menjadi kelompok beranggotakan 10 orang. Masing-masing kelompok
dibimbing oleh mahasiswa CPS PKBM untuk melakukan pemeriksaan jentik di kamar mandi
di lingkungan sekolah SD Mancar 03. Selain itu juga dilakukan pengambilan sampel air dari
bak kamar mandi di lingkungan sekolah SD Mancar 03 yang berjentik nyamuk. Kegiatan ini
ditujukan untuk mempelajari siklus hidup nyamuk, melihat berapa lama jentik nyamuk
menjadi nyamuk dewasa sehingga bisa meningkatkan kesadaran bahwa sangatlah penting
untuk melakukan pengurasan minimal sekali seminggu karena jentik nyamuk berubah
menjadi nyamuk dewasa baru dalam waktu 7 10 hari.
Setelah itu acara dilanjutkan dengan pemicuan terhadap para siswa. Pemicuan ini
bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya menciptakan
lingkungan anti nyamuk di sekitar mereka. Pada sesi ini siswa di ajak untuk bergabung
dalam organisasi Wamantik (Siswa memantau Jentik) yang diprakarsai oleh Tim CPS
PKBM. Siswa diminta membuat essay Bila Aku Menjadi Wamantik. Selain itu masing-
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 79

masing siswa diberi lembar tugas untuk memantau jentik-jentik nyamuk di rumahnya dan di
rumah tetangga sebelah rumahnya baik di dalam maupun di luar rumah. Tugas ini nantinya
akan dievaluasi pada hari Senin, 15 Februari 2010.

8.1.6 Program Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik Tahun 2011
Program Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik Tahun 2011 merupakan program yang
diprakarsai Tim CPS PKBM dalam rangka meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan
kemauan para siswa dalam upaya penanggulangan demam berdarah dan mewujudkan
lingkungan anti nyamuk. Tujuan program ini adalah mewujudkan rumah dan sekolah di
wilayah dusun Mancar Timur bebas jentik di tahun 2011. Dalam pelaksanaannya Program
ini dibagi menjadi beberapa metode, antara lain:
a. Pembentukan Organisasi Wamantik
b. Sosialisasi
c. Pemilihan anggota Organisasi Wamantik
d. Pemberian penghargaan kepada Wamantik terbaik
e. Koordinasi kegiatan dengan Kepala Sekolah dan Guru Pembina Wamantik tentang
program jangka panjang Organisasi Wamantik
f. Evaluasi

a. Pembentukan Organisasi Wamantik
Pembentukan organisasi Wamantik dilaksanakan pada hari Senin, 15 Februari 2010
pkl. 09.00 10.00. Acara yang bertempat di ruang kelas SDN Mancar 3 ini dikoordinasi oleh
Tim CPS PKBM dengan melibatkan Guru UKS SDN Mancar 3 dan Kepala Sekolah SDN
Mancar 3. Pada acara ini disepakati Tujuan dibentuknya Organisasi Wamantik adalah untuk
pelaksana operasional kegiatan Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik 2 Tahun 2011.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 80

Organisasi ini terdiri dari Kepala Sekolah SDN Mancar 3 sebagai Pelindung, Pembina
Wamantik yang ditunjuk oleh Kepala Sekolah yang berperan dalam menjembatani program-
program yang akan diadakan Wamantik, dan anggota Wamantik terpilih yaitu siswa-siswi
kelas 4,5, dan 6 SDN Mancar 3. Misi dari Organisasi ini adalah meweujudkan kawasan
sekolah dan lingkungan tinggal bebas jentik dengan memantau adanya angka keberadaan
jentik. Diharapkan dengan program yang berjalan, banyak siswa lain dan warga Mancar
Timur tergerak dan peduli pada lingkungan tinggal dan berperan serta menjalankan program
hingga terwujud Peningkatan Angka Bebas Jentik hingga mencapai 95%.

b. Sosialisasi
Sosialisasi program ini ditujukan untuk memberi pengetahuan kepada siswa-siswi kelas
4,5, dan 6 SDN Mancar 3 tentang penyakit Demam Berdarah serta memperkenalkan
Organisasi Wamantik.

c. Pemilihan Anggota Organisasi Wamantik
Pemilihan anggota Wamantik adalah perwakilan dari siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6 SDN
Mancar 3 yang ingin menjadi anggota Organisasi Wamantik dan ingin ikut serta berperan
aktif dalam program-program Organisasi Wamantik. Pemilihan ini dilakukan dengan cara
memilih siswa-siswi yang memiliki pengetahuan cukup tentang Demam Berdarah serta
mengerjakan tugas memantau jentik di lingkungan rumah dan mengerjakan karangan tentang
ANDAI AKU MENJADI WAMANTIK.

d. Pemberian Penghargaan Kepada Wamantik Terbaik
Pemberian penghargaan kepada Wamantik terbaik adalah suatu upaya untuk
menumbuhkan kebanggan pada siswa-siswi SDN Mancar 3 tentang didirikannya Organisasi
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 81

Wamantik. Penghargaan akan diberikan kepada perwakilan Wamantik terbaik dari
perwakilan tiap-tiap kelas 4, 5, dan 6 SDN Mancar 3. Seleksi ini didasarkan pada keaktifan
saat penyuluhan diberikan, pengetahuan yang dimiliki, dan kesungguhan dalam mengerjakan
tugas yang diberikan. Bagi siswa/siswi yang terpilih maka akan dijadikan koordinator
Wamantik dari tiap kelas. Diharapkan dengan adanya penghargaan yang diberikan, para
anggota Wamantik akan terpacu dan bersemangat dalam menjalankan Organisasi Wamantik.

8.2 Hasil Kegiatan Program Terapi Komunitas
8.2.1 Program yang Sudah Dikerjakan
Program terapi komunitas yang telah dilaksanakan selama CPS PKBM FK Unair yang
berada di Dusun Mancar Timur pada tanggal adalah sebagai berikut:
1. Pemicuan Pada Warga Masyarakat
2. Penyuluhan DBD dan pencegahannya melalui GERTAK MAS BERLIAN
3. Pembentukan Organisasi Jumantik tingkat RT pada warga RT 06 RW 01
4. Program Minggu Bersih
5. Penyuluhan dan Pemicuan Pada Siswa Kelas IV-V-VI SDN Mancar 3
6. Program Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik Tahun 2011
a. Pembentukan Organisasi Wamantik
b. Sosialisasi
c. Pemilihan anggota Organisasi Wamantik
d. Pemberian penghargaan kepada Wamantik terbaik

8.2.2 Program yang Belum Dikerjakan
Program terapi komunitas yang belum dilaksanakan selama CPS PKBM FK Unair yang
berada di Dusun Mancar Timur pada tanggal adalah sebagai berikut:
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 82

1. Program Pembentukan Jumantik tingkat RT di seluruh RT Dusun Mancar Timur dengan
melakukan koordinasi kegiatan dengan pihak Promosi Kesehatan dan pihak
Pemberantasan Penyakit Menular di Puskesmas Peterongan sebagai pengawas dan
fasilitator.
2. Pengkoordinasian Program Minggu Bersih sehingga dapat terlaksana setiap minggu
dengan perangkat desa atau Petugas Jumantik tingkat RT sebagai pengawas.
3. Melakukan koordinasi dengan Petugas Puskesmas Peterongan bagian Pemberantasan
Penyakit Menular untuk melakukan pelatihan kepada Kepala Sekolah dan Guru Pembina
Wamantik SDN Mancar 03.
4. Melakukan koordinasi kegiatan dengan Kepala Sekolah dan Guru Pembina Wamantik
tentang program jangka panjang Organisasi Wamantik sehingga Program Sekolah dan
Rumahku Bebas Jentik Tahun 2011 dapat berjalan dengan baik.


CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 83

BAB IX
EVALUASI
9.1 Metode dan Kegiatan Evaluasi
Pemicuan
Kegiatan Pemicuan pada warga masyarakat dan pada anak sekolah dievaluasi lewat
penilaian jumlah peserta yang menyatakan bersedia berkomitmen untuk melaksanakan
pencegahan demam berdarah lewat Pemberantasan Sarang Nyamuk dan gerakan 3M. Pada
pemicuan warga masyarakat hal ini dievaluasi dari jumlah warga yang bersedia menjadi
Jumantik RT, sedangkan pada penyuluhan siswa SD hal ini dievaluasi dari antusiasme siswa
SD untuk menjadi Wamantik.

Penyuluhan DBD dan pencegahannya melalui GERTAK MAS BERLIAN
Kegiatan penyuluhan DBD dan pencegahannya melalui GERTAK MAS BERLIAN
pada masyarakat dievaluasi dari kuisioner lokakarya yang dibagikan pada akhir acara
lokakarya. Sedangkan kegiatan penyuluhan pada siswa SD dievaluasi dari sesi tanya jawab
tentang pengetahuan seputar DBD dan pencegahannya yang dilakukan pada akhir
penyuluhan.

Pembentukan Organisasi Jumantik tingkat RT
Kegiatan Pembentukan organisasi Jumantik tingkat RT dievaluasi melalui kinerja dari
kegiatan pemantauan Jentik berkala yang dilakukan setiap minimal seminggu sekali yang
dilaksanakan setiap satu bulan oleh Ketua Organisasi Jumantik tingkat RT dan setiap tiga
bulan sekali dilakukan oleh Ketua Organisasi Jumantik tingkat RT dan Penanggung Jawab
Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Peterongan.

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 84

Program Minggu Bersih
Kegiatan Program Minggu Bersih dievaluasi melalui kinerja dari kegiatan mingguan
Pemberantasan Sarang Nyamuk dan Program 3M yang dilakukan setiap hari minggu.
Pemantauan dilakukan langsung oleh Ketua RT atau perangkat RT lain secara bergilir.
Program Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik Tahun 2011
Evaluasi keberhasilan Program Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik 2011 dapat dilihat
dari terbantuknya dan berjalannya Organisasi Wamantik di SDN Mancar Timur. Kinerja
organisasi ini dinilai dari keaktifan wamantik dalam melakukan kegaitan Pemantauan Jentik
Berkala setiap minggu, dan berjalannya kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk dan
Program 3M setiap minggu di sekolah dan di rumah siswa. Secara garis besar Program ini
dinyatakan berhasil bila dalam tahun 2011 Angka Bebas Jentik di deaerah tersebut mencapai
lebih dari atau sama dengan 95%.

9.2 Hasil Evaluasi
Evaluasi Kegiatan Tanggal 12-14 Februari 2010 terhadap warga masyarakat Dusun
Mancar Timur
Pemicuan pada masyarakat cukup mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat Dusun
Mancar Timur, Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Ini dapat dilihat
dari antusiasme warga pada saat pemicuan dan komitmen masyarakat secara spontanitas
dalam Program Minggu bersih, dan Pembentukan Jumantik RT.
Kegiatan penyuluhan berlangsung dengan baik. Ini dapat dilihat dari antusiasme
masyarakat untuk mengikuti kegiatan ini sampai selesai. Selain itu di akhir acara
masyarakat juga aktif bertanya seputar materi penyuluhan yang telah diberikan.
Evaluasi kegiatan Minggu bersih dilihat dari Partisipasi masyarakat yang aktif pada
pelaksanaan perdana Minggu bersih tanggal 14 Februari 2010.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 85

Evaluasi kinerja Jumantik RT belum dapat dievaluasi.

Evaluasi Kegiatan Tanggal 13-15 Februari 2010 terhadap Siswa Kelas IV-V-VI SDN
Mancar 3
Penyuluhan Pemicuan pada siswa SDN Mancar 3 berlangsung dengan sukses. Ini
dievaluasi dari antusiasme para siswa dalam mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Tim
CPS dari awal sampai akhir. Hasil evaluasi Kegiatan juga dinilai dari antusiasme para siswa
untuk menjadi wamantik yang dapat dilihat dari karangan yang dibuat oleh para siswa.
Kegiatan Program Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik Tahun 2011 yang lain belum dapat
dievaluasi lebih lanjut.

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 86

BAB X
DISKUSI
Berdasarkan hasil survei lapangan, dirumuskan beberapa masalah, yaitu responden
yang sibuk dengan pekerjaannya sehingga menyatakan tidak memiliki cukup banyak waktu
untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan seperti jumat bersih dan PSN (74%),
masih kurangnya pengetahuan responden mengenai gejala demam berdarah dan upaya
pencegahannya (41%), masih belum optimalnya kinerja kader kesehatan dalam pemeriksaan
jentik berkala(39%), dan cara pemeriksaan jentik yang kurang tepat (63%).
Dalam lokakarya dilakukan musyawarah bersama antar warga masyarakat dengan
Tim CPS dan Bapak Moh. Zuhri selaku penanggung jawab program Promosi Kesehatan
Puskesmas Peterongan sebagai fasilitator. Dalam diskusi akhirnya disepakati prioritas
masalah yang harus diselesaikan, yaitu masyarakat di Dusun Mancar Timur tidak memiliki
cukup banyak waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan seperti jumat bersih
dan PSN dan masih belum optimalnya kinerja kader kesehatan dalam pemeriksaan jentik
berkala di Dusun Mancar Timur, Desa Mancar, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang
yang masih jauh dari target yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan. Kedua masalah
tersebut disepakati untuk dicarikan solusi bersama.
Masalah yang pertama, yaitu Masyarakat di Dusun Mancar Timur tidak memiliki
cukup banyak waktu untuk berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan seperti jumat bersih
dan PSN. Hal ini disebabkan karena hampir semua warga di Dusun Mancar Timur baik ibu
dan bapaknya bekerja. Dari survey pendahuluan yang dilakukan sebelumnya, didapatkan data
bahwa 2% penduduk Mancar Timur bekerja sebagai petani, 6% sebagai Pegawai Negeri
Sipil, 11% sebagai pedagang, 35% sebagai wiraswasta, dan 46% bekerja sebagai ibu rumah
tangga yang membantu suami berwiraswasta. Dengan kesibukan bekerja hingga sore hari,
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 87

maka hal ini menjadi faktor penghambat untuk para warga di Dusun Mancar Timur untuk
melakukan kegiatan kemasyarakatan seperti Jumat bersih dan PSN bersama-sama.
Masalah yang kedua, yaitu belum optimalnya kinerja kader kesehatan dalam
pemeriksaan jentik berkala. Berdasarkan Musyawarah masyarakat Dusun Mancar Timur,
didapatkan bahwa hal ini dikarenakan tidak terdapatnya alokasi dana bagi para Jumantik yang
telah ditunjuk sehingga mengalami kesulitan untuk menggerakkan Jumantik tersebut. Selain
itu, berdasarkan survey, ditemukan bahwa ada 22% rumah warga Dusun Mancar Timur yang
tidak pernah diperiksa oleh Jumantik karena ketika ada pemeriksaan, para warga juga tidak
berada di rumah karena bekerja. Jumantik yang telah ditunjuk juga melakukan pemeriksaan
hanya dengan bertanya terhadap pemilik rumah tentang ada atau tidaknya jentik sehingga
menyebabkan kinerja Kader Jumantik belum optimal.
Oleh karena pentingnya permasalahan tersebut untuk diselesaikan secepatnya maka
dilakukan musyawarah untuk mencari solusi yang terbaik. Setelah melalui pembicaraan yang
cukup panjang disepakati beberapa kegiatan sebagai solusi dari kedua masalah tersebut,
yaitu, Pemicuan terhadap masyarakat Dusun Mancar Timur dan siswa SD,
Pemicuan terhadap masyarakat Dusun Mancar Timur dan siswa SD untuk meningkatkan
kesadaran melaksanakan GERTAK MAS BERLIAN, terutama Pemberantasan Sarang
Nyamuk dan Program 3M, Penyuluhan DBD dan pencegahannya melalui GERTAK MAS
BERLIAN kepada masyarakat Dusun Mancar Timur dan siswa SDN Mancar 3, Pembentukan
Organisasi Jumantik tingkat RT, Program Minggu Bersih, dan Pembentukan Organisasi
Wamantik untuk mewujudkan pelaksanaan program Program Sekolah dan Rumahku Bebas
Jentik Tahun 2011.
Penyuluhan DBD dan pencegahannya melalui GERTAK MAS BERLIAN kepada
masyarakat Dusun Mancar Timur dan siswa SDN Mancar 3 untuk meningkatkan
pengetahuan masyarakat seputar Demam Berdarah Dengue dan pencegahannya.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 88

Pembentukan Organisasi Jumantik tingkat RT untuk meningkatkan kinerja Jumantik desa
yang belum optimal, untuk program ini sebagai langkah awal dilakukan program percontohan
pada warga RT 06 RW 01.
Program Minggu Bersih adalah program yang ditujukan sebagai pengganti program
Jumat bersih yang selama ini tidak berjalan di Dusun Mancar Timur karena waktu
pelaksanaannya bersamaan dengan jam kerja warga.
Pembentukan Organisasi Wamantik merupakan langkah awal untuk terwujudnya Program
Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik Tahun 2011. Lewat kegiatan-kegiatannya, seperti
pemantauan jentik di sekolah baik di kamar mandi, tempat air wudhu, dan kontainer-
kontainer yang dapat menampung air hujan diharapkan organisasi ini dapat merangsang
psikomotor siswa SD untuk memiliki kesadaran dan kemauan menjaga lingkungan
sekolahnya agar bersih dan bebas nyamuk. Diharapkan hal positif ini dapat pula ditularkan
terhadap keluarganya di rumah sehingga tidak hanya lingkungan sekolah tetapi juga
lingkungan rumahnya.

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 89

BAB XI
KESIMPULAN

Kesimpulan dari kegiatan kedokteran komunitas periode 1 Februari 21 Februari
2010 adalah sebagai berikut:
1. Hasil survei menunjukkan bahwa 20% responden adalah laki-laki sedangkan 80%
responden adalah perempuan.
2. Berdasarkan survei Jumlah Anggota Keluarga menunjukkan bahwa 56% Kepala
keluarga terdiri atas 3-4 anggota keluarga, sedangkan 44% merupakan keluarga besar
dengan jumlah anggota keluarga 5-8 orang.
3. 84 % responden memiliki latar belakang pendidikan yang cukup (SMP atau lebih
tinggi)
4. 98% responden bekerja setiap hari tanpa jadwal kerja yang jelas, yaitu 2% petani,
11% pedagang, 35% wiraswasta, dan 46% ibu rumah tangga yang membantu
suaminya bekerja sehingga 74 % responden menyatakan tidak aktif dalam jumat
bersih
5. Kemauan untuk bertindak / behavior intention kepala keluarga atau ibu rumah tangga
Dusun Mancar Timur Desa Mancar Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang
sehubungan dengan perilaku pencegahan penularan penyakit DBD dinilai cukup baik.
Ini dilihat dari antusiasme warga untuk menjalankan Program Minggu Bersih sebagai
pengganti program Jumat bersih yang kurang optimal pelaksanaannya.
6. Dukungan sosial dari masyarakat sekitar / social support kepada kepala keluarga atau
ibu rumah tangga Dusun Mancar Timur Desa Mancar Kecamatan Peterongan,
Kabupaten Jombang sehubungan dengan perilaku pencegahan penularan penyakit
DBD dinilai kurang. Ini dilihat dari rendahnya kinerja Jumantik desa dalam
menjalankan Pemeriksaan Jentik berkala.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 90

7. Informasi kesehatan / accessibility of information kepada kepala keluarga atau ibu
rumah tangga Dusun Mancar Timur Desa Mancar Kecamatan Peterongan, Kabupaten
Jombang sehubungan dengan perilaku pencegahan penularan penyakit DBD dinilai
masih kurang. Ini terbukti dari kurangnya partisipasi responden dalam pemicuan atau
penyuluhan tentang Gertak Mas Berlian yang pernah diadakan sebelumnya (72%).
8. Otonomi pribadi untuk mengambil keputusan/ personal autonomy Dusun Mancar
Timur Desa Mancar Kecamatan Peterongan mayoritas berada di tangan suami sebagai
kepala keluarga (93%).
9. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak / tidak bertindak / action situation
kepala keluarga atau ibu rumah tangga Dusun Mancar Timur Desa Mancar
Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang sehubungan dengan perilaku pencegahan
penularan penyakit DBD dinilai masih rendah. Ini dilihat dari rendahnya partisipasi
masyarakat dalam pelaksanaan Jumat bersih (26%), perilaku menguras bak mandi,
perilaku menggunakan kasa anti nyamuk.

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 91

BAB XII
SARAN

12.1 Saran bagi Masyarakat Dusun Mancar Timur
Berdasarkan hasil kegiatan kedokteran komunitas, masyarakat Dusun Mancar Timur
disarankan untuk:
1. Melaksanakan rangkaian kegiatan dalam Program Jumantik RT dan Minggu bersih
sesuai dengan perencanaan.
2. Melaksanakan Sosialisasi Program Jumantik RT dan Minggu bersih kepada RT RW
yang belum mengetahui program tersebut.
3. Berkoordinasi dengan Petugas Puskesmas Bagian P2M Peterongan, Promosi Kesehatan,
dan Kesehatan Lingkungan bila mengalami kesulitan dalam melaksanakan Program
Jumantik RT dan Minggu bersih.

12.2 Saran bagi Institusi Puskesmas Peterongan
Berdasarkan hasil kegiatan kedokteran komunitas, Puskesmas Peterongan disarankan
untuk:
1. Berkoordinasi dengan Ketua RT di Dusun Mancar Timur yang belum membentuk
Jumantik RT untuk menjalankan Program Jumantik RT dan melakukan Gerakan Minggu
Bersih ataupun gerakan serupa sehingga dapat tercipta lingkungan bersih dan sehat bebas
nyamuk DBD.
2. Berkoordinasi dengan kepala RT 06 RW 01 untuk terlaksananya Program Jumantik RT
berjalan dengan baik dan sesuai harapan . Diharapkan Petugas Puskesmas Peterongan
bagian P2M DBD dan Kesehatan Lingkungan dapat menjadi pembina dan pengawas
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 92

Program Jumantik RT dan Minggu Bersih sehingga Program Jumantik RT dan
melakukan Gerakan Minggu Bersih dapat berlangsung dalam jangka panjang.
3. Petugas Puskesmas Peterongan bagian Promosi Kesehatan, P2M DBD diharapkan lebih
sering mengadakan pelatihan, penyuluhan dan sosialisasi tentang Gertak Mas Berlian
kepada masyarakat Desa Mancar.
4. Melakukan Evaluasi setiap bulan dan melakukan rekapitulasi laporan setiap angka
pemantauan Jentik yang telah dikumpulkan oleh ketua Program Jumantik RT.
5. Mengadakan evaluasi berkala setiap 3 bulan untuk memantau pelaksanaan Program
Jumantik tingkat RT.
6. Petugas Puskesmas Peterongan bagian Promosi Kesehatan, P2M DBD diharapkan lebih
sering mengadakan pelatihan, penyuluhan dan sosialisasi tentang Gertak Mas Berlian
kepada masyarakat Desa Mancar.
7. Petugas Puskesmas Peterongan bagian Promosi Kesehatan, P2M DBD diharapkan
mengadakan pelatihan terhadap guru di SDN Mancar 03 sehingga dapat membimbing
para siswa siswi di SDN tersebut melaksanakan program Sekolah dan Rumahku bebas
Jentik 2011.
8. Berkoordinasi dengan Kepala Sekolah SDN Mancar 03 untuk menjalankan Program
Program Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik Tahun 2011 sehingga dapat tercipta
lingkungan bersih dan sehat bebas nyamuk DBD. Diharapkan petugas Puskesmas
Peterongan dapat menjadi pembina dan pengawas Program Sekolah dan Rumahku Bebas
Jentik Tahun 2011 sehingga program dapat berlangsung.
9. Melakukan Evaluasi setiap bulan dan melakukan rekapitulasi laporan setiap angka
pemantauan Jentik yang telah dikumpulkan oleh ketua Program Sekolah dan Rumahku
Bebas Jentik Tahun 2011.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 93

10. Mengadakan evaluasi berkala setiap 3 bulan untuk memantau pelaksanaan Program
Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik Tahun 2011.

12.3 Saran bagi Institusi Desa Mancar
Berdasarkan hasil kegiatan kedokteran komunitas, Desa Mancar disarankan untuk
memberikan dukungan dalam pelaksanaan Program Jumantik RT dan Minggu Bersih dalam
bentuk evaluasi dan sosialisasi berkala bersama Komite Program Jumantik RT dan Minggu
Bersih.

12.4 Saran bagi Mahasiswa CPS
Berdasarkan hasil kegiatan kedokteran komunitas, mahasiswa CPS PKBM periode
berikutnya disarankan untuk:
1. Melakukan eksplorasi lebih lanjut terhadap Program Jumantik RT dan Minggu Bersih
pada masyarakat Desa Mancar dengan melakukan kegiatan kedokteran komunitas.
2. Mengembangkan program yang telah dirintis dan dijalankan pada kegiatan kedokteran
komunitas periode 1 Februari 21 Februari 2010.

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 94

BAB XIII
PENUTUP
Syukur dan puji kami haturkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat Rahmat-
Nya,kami telah menyelesaikan lokakarya di Dusun Mancar Timur Desa Mancar, Kecamatan
Peterongan, Kabupaten Jombang yang merupakan salah satu tugas kami selama di Unit
BKKM Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Suksesnya pelaksanaan tugas lokakarya
ini tidak dapat lepas dari bimbingan Kepala Puskesmas Peterongan beserta staf dan dosen-
dosen kami dari Unit BKKM Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Laporan ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa pengetahuan, khususnya bagi
Dokter Muda yang nantinya sebagian besar akan bertugas di puskesmas di seluruh wilayah
Indonesia.
Semua daya upaya telah dilaksanakan semaksimal mungkin demi terlengkapinya laporan
ini. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak sangat kami
harapkan. Terakhir kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang
membantu kelancaran tugas ini sampai dengan pelaporan.

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 95

DAFTAR PUSTAKA
Bang, Yong H. and Robert J. Tonn. 1993. Vector Control and Intervention. Dalam Prasert
Thongcharoen ed.. Monograph On Dengue/Dengue Haemorrhagic Fever. WHO
Regional Publication SEARO, 22: 121-138. New Delhi: WHO Regional Office for
South-East Asia.
Departemen Kesehatan (Depkes) RI. 2005b. Presiden Ajak Masyarakat Lakukan Gerakan
Pemberantasan Sarang Nyamuk. Press release. 11 Februari
Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen
PPM&PL) Departemen Kesehatan RI. 2004. Panduan Program Peningkatan Peran
Serta Masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue
di Kabupaten/Kota. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen
PPM&PL) Departemen Kesehatan RI. 2004. Modul Latihan Juru Pemantau Jentik
dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen
PPM&PL) Departemen Kesehatan RI. 1987. Petunjuk Pelaksanaan Penanggulangan
Kejadian Luar Biasa KLB dan Wabah Demam Berdarah Dengue DBD. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
Kristina, Isminah, Wulandari L. Demam berdarah dengue. Badan Litbang Depkes RI
2004;(online), (http://www.litbang.depkes.go.id/index.htm, diakses 22 Maret 2007).
Notoatmodjo, Soekidjo. 2006. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2,
Mei. Jakarta : Rineka Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta
Ooi, Eng Eong. 2001. Changing Pattern of Dengue Transmission In Singapore. Dengue
Bulletin, 25: 40-44.
http://w3.whosea.org/LinkFiles/Dengue_Bulletin_Volume_25_ch7.pdf
Phuong CXT, Nhan NT, Kneen R, Thuy PT, Thien CV, Nga NTT et al. Clinical diagnosis
and assessment of severity of confirmed dengue infections in Vietnamese children: is
the World Health Organization classification helpful?. The American Society of
Tropical Medicine and Hygiene 2004;70(2):172-179.
Prihatiningsih. 2009. hubungan faktor perilaku dengan kejadian Demam berdarah dengue di
wilayah kerja Puskesmas boyolali. Boyolali
Siti arifah. 2008. Hubungan pengetahuan dengan perilaku pemberantasan Sarang nyamuk
dalam upaya pencegahan penyakit Demam berdarah di desa kliwonan. Sragen
Subdirektorat Arbovirosis Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan
Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM&PL) Departemen Kesehatan RI. 2005. Laporan
mingguan status demam berdarah dengue.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 96

Suroso, Thomas & Ali Imran Umar. 1999. Epidemiologi dan Penanggulangan Penyakit
Demam Berdarah di Indonesia Saat Ini. Dalam Sri Rezeki H. Hadinegoro & Hindra
Irawan Satari eds. Demam Berdarah Dengue: Naskah Lengkap Pelatihan Bagi
Pelatih Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk Tata
Laksana Kasus DBD. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Umar Fachmi Achmadi. 2005. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta: Kompas
WHO. 1997. Dengue haemorrhagic fever: diagnosis, treatment, prevention and control. 2nd
ed. Geneva:. World Health Organization
WHO Regional Office for South Asia. Dengue. South East Asia Region 2006;
(online),http://www.searo.who.int/EN/Section10/Section332_1103.htm,diakses 26
Pebruari 2007).
World Health Organization (WHO) South East Asia Regional Office. 2004. Situation Of
Dengue/Dengue Haemorrhagic Fever In the South-East Asia Region: Prevention And
Control Status In SEA Countries. http://w3.whosea.org/en/Section10/Section332.htm
World Health Organization (WHO). 2002. The World Health Report: Reducing Risks,
Promoting Healthy Life. Geneva: WHO.
World Health Organization (WHO) South East Asia Regional Office. 2004. Situation Of
Dengue/Dengue Haemorrhagic Fever In the South-East Asia Region: Prevention And
Control Status In SEA Countries. http://w3.whosea.org/en/Section10/Section332.htm

CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 97

Lampiran 1. KUISIONER SURVEY PENDAHULUAN
1. IDENTITAS
a. Nama :
b. Alamat :
c. Pekerjaan :
d. Pendidikan :
e. Jumlah anggota keluarga :

2. PENGETAHUAN TENTANG DBD

a. Apakah anda mengetahui tentang penyakit demam berdarah?
i. Ya
ii.Tidak
b. Penyakit demam berdarah ditularkan lewat:
i. Nyamuk
ii. lalat
iii. tikus
c. Apakah anda mengetahui tanda-tanda demam berdarah?
i. panas badan
ii. nyeri perut
iii. sesak nafas
iv. batuk pilek
d. Apakah anda mengetahui dimana tempat perindukan nyamuk
demam berdarah?
i. Ya, apa saja?
1. baju kotor yang menggantung
2. tembok
3. pepohonan
ii. Tidak
e. Apakah anda mengetahui apa saja cara pencegahan DBD?
i. Ya, di....
1. Program 3M /PSA
2. GERTAK MAS BERLIAN
3. Abatisasi
4. Pengasapan/fogging
ii. Tidak
3. KONDISI LINGKUNGAN
a. Apakah di lingkungan rumah anda terdapat tempat-tempat
yang dapat menampung genangan air?
i. Ya:
1. sumur yang tidak ditutup
2. barang bekas(kaleng, botol,dll)
3. bak mandi
4. gentong untuk menampung air
5. lainnya, ...........
ii. Tidak
b. Apakah di rumah anda terdapat baju-baju yang bergantungan?
i. Ya
ii.Tidak

4. UPAYA PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK
a. Seberapa sering anda menguras bak mandi?
i. <1x/minggu
ii.>=1x/ minggu
b. Bila anda menguras bak mandi <1/minggu,apakah anda
memberikan bubuk abate/memelihara ikan di bak mandi anda?
i. Ya
ii.Tidak
c. Berapa sering anda mengikuti gerakan jumat bersih di
lingkungan anda?
i. 1x/minggu
ii.kadang-kadang, karena.........
iii.tidak pernah, karena........
d. Berapa sering anda melakukan gerakan 3 M di rumah anda?
i. 1x/minggu
ii.<1x/ minggu
iii. tidak pernah

5. PROTEKSI TERHADAP GIGITAN NYAMUK
a. Apakah anda menggunakan kasa anti nyamuk di rumah anda?
i. Ya
ii.Tidak
b. Apakah anda menggunakan obat nyamuk di rumah anda?
i. Ya:
1. obat nyamuk bakar
2. obat nyamuk semprot
3. otion anti nyamuk
ii. Tidak
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 98

c. Apakah anda menggunakan kelambu saat tidur?
i. Ya
ii.Tidak


6. KEAKTIFAN PETUGAS KESEHATAN
a. Apakah pernah diadakan penyuluhan kesehatan, terutama
demam berdarah di lingkungan anda?
i. Ya, oleh............
ii.Tidak
b. Apakah kader kesehatan di lingkungan anda melakukan
pemeriksaan jentik berkala?
i. Ya:
1. 1x/minggu
2. Tiap 1 bulan
3. >1x/ bulan
ii. Tidak
c. Bila kader kesehatan mengadakan pemeriksaan jentik biasanya
pemeriksaan dilakukan terhadap apa?
i. kamar mandi saja
ii. kamar mandi dan tempat penampungan air di dalam
rumah
iii. kamar mandi, trempat penampungan air di dalam dan
di luar rumah
d. Apakah pernah dilakukan fogging/pengasapan di lingkungan
tempat tinggal anda?
i. Ya, oleh............
ii.Tidak

7. PARTISIPASI
a. Apakah anda pernah mengikuti penyuluhan kesehatan tentang
demam berdarah?
i. Ya, di...........
b. ii.Tidak Bila diadakan penyuluhan demam berdarah di
lingkungan anda, apakah anda bersedia hadir?
i. Ya:
ii. Tidak
c. Bila hendak diadakan penyuluhan kesehatan sebaiknya
dilakukan pada:
i. Siang hari
ii. Sore hari
iii. Malam hari
iv. Hari minggu
d. Bila digalakkan jumat bersih di lingkungan anda, apakah anda
bersedia berpartisipasi?
i. Ya:
ii. Tidak, karena...........


KESIMPULAN
1. KENDALA YANG DIHADAPI
a. Tidak tahu bagaimana cara mencegah demam berdarah
b. kurangnya penyuluhan tentang pencegahan demam berdarah
c. Tidak ada waktu untuk melakukan PSN, karena........
d. Petugas kesehatan tidak rutin melakukan PJB
e. Apakah ada uang pungutan dalam pembagian bubuk abate dan
PJB ?
f. Kurangnya dukungan dari aparat desa dalam menggalakkan
GERTAK MAS BERLIAN (Gerakan Serentak Masyarakat
Bersihkan Lingkungan Anti nyamuk)

2. SOLUSI YANG DIINGINKAN
a. Diadakan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan
masyarakat mengenai demam berdarah
b. Penggalakan Gertak Mas Berlian di lingkungan tempat tinggal
yang melibatkan semua warga
c. Meningkatkan kinerja kader kesehatah dalam upaya
penanggulangan demam berdarah


Interviewer : ............................................, S.Ked.
TIM DOKTER MUDA CPS PKBM PUSKESMAS PETERONGAN
FEBRUARI 2010
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 99

Lampiran 2. Program Sekolahku dan Rumahku Bebas Jentik 2011
Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik Tahun 2011
CPS PKBM FK UNAIR
Periode 01 Februari 2010 19 Februari 2010

Tujuan
Mewujudkan rumah dan sekolah di wilayah dusun Mancar Timur bebas jentik di tahun
2011.

Metode
a. Pembentukan Organisasi Wamantik
b. Sosialisasi
c. Pemilihan anggota Organisasi Wamantik
d. Pemberian penghargaan kepada Wamantik terbaik
e. Koordinasi kegiatan dengan Kepala Sekolah dan Guru Pembina Wamantik tentang
program jangka panjang Organisasi Wamantik
f. Evaluasi

1. Pembentukan Organisasi Wamantik
Tujuan dibentuknya Organisasi Wamantik adalah untuk pelaksana operasional kegiatan
Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik 2 Tahun 2011. Organisasi ini terdiri dari Kepala
Sekolah SDN Mancar 3 sebagai Pelindung, Pembina Wamantik yang ditunjuk oleh Kepala
Sekolah yang berperan dalam menjembatani program-program yang akan diadakan
Wamantik, dan anggota Wamantik terpilih yaitu siswa-siswi kelas 4,5, dan 6 SDN Mancar
3. Misi dari Organisasi ini adalah meweujudkan kawasan sekolah dan lingkungan tinggal
bebas jentik dengan memantau adanya angka keberadaan jentik. Diharapkan dengan
program yang berjalan, banyak siswa lain dan warga Mancar Timur tergerak dan peduli
pada lingkungan tinggal dan berperan serta menjalankan program hingga terwujud
Peningkatan Angka Bebas Jentik hingga mencapai 95%.

2. Sosialisasi
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 100

Sosialisasi program ini ditujukan untuk memberi pengetahuan kepada siswa-siswi kelas
4,5, dan 6 SDN Mancar 3 tentang penyakit Demam Berdarah serta memperkenalkan
Organisasi Wamantik.

3. Pemilihan Anggota Organisasi Wamantik
Pemilihan anggota Wamantik adalah perwakilan dari siswa-siswi kelas 4, 5, dan 6 SDN
Mancar 3 yang ingin menjadi anggota Organisasi Wamantik dan ingin ikut serta berperan
aktif dalam program-program Organisasi Wamantik. Pemilihan ini dilakukan dengan cara
memilih siswa-siswi yang memiliki pengetahuan cukup tentang Demam Berdarah serta
mengerjakan tugas memantau jentik di lingkungan rumah dan mengerjakan karangan
tentang ANDAI AKU MENJADI WAMANTIK.

4. Pemberian Penghargaan Kepada Wamantik Terbaik
Pemberian penghargaan kepada Wamantik terbaik adalah suatu upaya untuk
menumbuhkan kebanggan pada siswa-siswi SDN Mancar 3 tentang didirikannya
Organisasi Wamantik. Penghargaan akan diberikan kepada perwakilan Wamantik terbaik
dari perwakilan tiap-tiap kelas 4, 5, dan 6 SDN Mancar 3. Seleksi ini didasarkan pada
keaktifan saat penyuluhan diberikan, pengetahuan yang dimiliki, dan kesungguhan dalam
mengerjakan tugas yang diberikan. Bagi siswa/siswi yang terpilih maka akan dijadikan
koordinator Wamantik dari tiap kelas. Diharapkan dengan adanya penghargaan yang
diberikan, para anggota Wamantik akan terpacu dan bersemangat dalam menjalankan
Organisasi Wamantik.

5. Koordinasi kegiatan dengan Kepala Sekolah dan Guru Pembina Wamantik tentang
program jangka panjang Organisasi Wamantik.
CPS PKBM | Periode 1 21 Februari 2010 101

Koordinasi ini ditujukan untuk melancarkan program-program yang akan diajukan dan
memastikan agar program-program Sekolah dan Rumahku Bebas Jentik Tahun 2011 dapat
berjalan dengan baik. Diharapkan kegiatan ini akan dijadikan salah satu kegiatan pokok
dan menjadi ciri sekolah SDN Mancar 3 sehingga Organisasi Wamantik akan terus
berjalan dalam jangka waktu yang panjang.

6. Evaluasi
Evaluasi kegiatan ini akan dilakukan tiap bulan dengan bimbingan dari Pembina Wmantik.
Evaluasi yang diberikan tidak hanya mengevaluasi hasil kerja Wamantik dengan
pemantauan jumlah jentik di lingkungan sekolah, dan rumahnya, namun juga mengevaluasi
semangat kerja tiap anggota Wamantik. Diharapkan dengan evaluasi ini tiap program
berjalan dengan baik, teratur, sesuai dengan sasaran dan tujuan. Dengan demikian
terciptalah lingkungan sekolah dan rumah yang bebas jentik.

* : Berdasarkan data sekunder dari Puskesmas Peterongan tentang angka bebas jentik, Dusun
Mancar memiliki Angka Bebas Jentik sebesar 97%. Namun kenyataannya Dusun Mancar
merupakan daerah endemis Demam Berdarah.