You are on page 1of 8

Evaluasi Program Penanggulangan Tuberkulosis Paru

di Puskesmas Kecamatan Pedes, Karawang


Periode Januari sampai dengan Agustus 2014

Wan Nor Ashira Binti Wan Ahmad Amran
Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Kristen
Krida Wacana

Abstrak
Sampai saat ini World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa Tuberkulosis (TB) masih
menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia dan tidak ada satu negara pun di dunia yang bebas
tuberkulosis.

Setiap tahunnya ditemukan 8.6 juta penderita TB. Permasalahan lain yang dihadapi saat
ini ialah munculnya penderita yang mengalami resisten terhadap pengobatan TB (Multi Drugs
Resistance Tuberculosis). Sejak tahun 1995, program pemberantasan penyakit Tuberkulosis paru di
DKI Jakarta telah dilaksanakan dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short Course).
Indonesia sendiri berkontribusi sebesar 5,8% dari kasus TB yang ada di dunia dan berada pada
peringkat 4 dunia penderita TB terbanyak setelah India, China dan Afrika Selatan. Kontribusi Jawa
Barat dalam jumlah penderita TB nasional menjadi yang tertinggi ( 18%). Angka penderita TB baru
di Kabupaten Karawang diperkirakan akan bertambah sebesar 2.295 kasus setiap tahunnya dengan
prevalensi sebesar 107 per 100.000 penduduk. Karena belum diketahuinya keberhasilan program
P2TB di Puskesmas Pedes, Karawang periode Januari 2014 sampai dengan Agustus 2014, maka
dilakukan evaluasi program menggunakan metode dengan membandingkan cakupan terhadap tolok
ukur melalui pendekatan sistem. Hasil evaluasi program, didapatkan masalah yaitu pertama, angka
penjaringan suspek yang tercatat baru mencapai 8.98% dari target 80%. Kedua, angka penemuan
penderita (Case Detection Rate / CDR) baru mencapai 24,4% dari target 70%. Hal-hal yang dapat
menyebabkan masalah tersebut, antara lain kurangnya tenaga di Puskesmas dalam melaksanakan
program ini; tidak adanya pelaksanaan penyuluhan aktif dalam upaya penjaringan suspek; kurangnya
pelatihan kader atau PMO. Utuk mengatasi masalah, Puskesmas disarankan untuk lebih
mengoptimalisasi kinerjanya; membina dan melatih kader untuk turut dalam program P2TB seperti
melaksanakan penyuluhan aktif kepada masyarakat secara teratur dan berkala; menjalin kerja sama
dengan fasilitas dan tenaga kesehatan lain, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), tokoh agama dan
kelompok PKK. Bila hal tersebut telah dilakukan, diharapkan pencapaian Program Pemberantasan
Penyakit Tuberkulosis periode berikutnya dapat meningkat, angka kesakitan dan kematian menurun
dan TB tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Kata Kunci : evaluasi, program, tuberkulosis, BTA +

Pendahuluan
Latar belakang
Penyakit infeksi menular sistemik
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit
yang disebabkan kuman basil tahan asam
yang dikenal sebagai Mycobacterium
tuberculosis. Penyakit infeksi ini dapat
mengenai hampir semua organ tubuh
manusia. World Health Organization
(WHO) menyatakan dalam Laporan TB
Global 2013 bahwa penyakit TB masih
tetap sebagai masalah utama kesehatan di
dunia, dimana sampai saat ini tidak ada
satu negara pun di dunia yang bebas
tuberkulosis.
1
Cara penularan kuman TB
adalah melalui airborne sehingga
seseorang dengan kuman TB yang aktif,
dapat menulari 10-15 orang per tahun.
1,2

Menurut laporan WHO 2013, terdapat 8,6
juta insiden tuberkulosis (TB), 1,3 juta
kematian akibat TB pada pasien dengan
HIV negatif dan 0,32 juta pasien TB
disertai HIV positif mati pada tahun 2012.
Angka kematian ini cukup besar mengingat
bahawa kematian ini bisa dicegah dan
angkanya meningkat berbanding tahun
sebelumnya. Sepertiga dari populasi dunia
sudah tertular dengan TB dimana sebagian
besar penderita TB adalah usia produktif
(15-50 tahun).
3

Indonesia pada tahun 2012 berada pada
peringkat 4 penderita TB terbanyak di
dunia setelah India, China dan Afrika
berbanding laporan WHO dalam Global
Report 2009, yang mana pada tahun 2008
prestasi Indonesia sebenarnya jauh lebih
baik dimana berada pada peringkat 5 dunia
penderita TB terbanyak setelah India,
China, Afrika Selatan dan Nigeria. India
dan China dikenalpasti menyumbang 40%
dan Afrika dilaporkan menyumbang
sebanyak 24% kasus TB dari keseluruhan
kasus TB di dunia pada tahun 2010.
1,3

Permasalahan lain yang saat ini
dihadapi ialah munculnya penderita yang
mengalami resisten terhadap pengobatan
TB (Multi Drugs Resistance Tuberculosis
atau MDR-TB). Menurut WHO, terdapat
lebih dari 500.000 kasus TB di Indonesia
yang resisten terhadap berbagai jenis obat
anti tuberkulosis (Multi Drugs Resistance
Tuberculosis atau MDR-TB), dan hanya
1% dari populasi kasus TB-MDR sedunia
yang menerima pengobatan yang sesuai.
1,4

Pengobatan yang tidak teratur dan
kombinasi obat yang tidak lengkap di masa
lalu, diduga menjadi penyebab terjadinya
kekebalan ganda kuman TB terhadap Obat
Anti Tuberkulosis (OAT) atau Multi Drugs
Resistance (MDR).
Dunia telah menempatkan TB sebagai
salah satu indikator keberhasilan
pencapaian Millenium Development Goals
(MDGs). Berdasarkan laporan TB Global
WHO 2009, sampai dengan tahun 2010 ini,
Indonesia telah berjaya mencapai empat
indikator yang diukur, yaitu prevalensi,
mortalitas, penemuan kasus dan
keberhasilan pengobatan yang menjadi
sasaran dari Tujuan Pembangunan
Milenium (MDGs). Prevalensi tuberkulosis
menurun dari 443 kasus pada 1990
menjadi 244 kasus per 100.000 penduduk
pada tahun 2009 sedangkan target MDGs
pada tahun 2015 adalah 222. Sementara
itu, angka kematian TB pada tahun 2008
telah menurun tajam menjadi 38 per
100.000 penduduk yang harus turun
separuhnya pada tahun 2015 dibandingkan
data dasar (baseline data) tahun 1990
sebesar 92 per 100.000 penduduk. Hal itu
disebabkan implementasi strategi DOTS di
Indonesia telah dilakukan secara meluas
dengan hasil cukup baik.
3,5
WHO dan IUATLD (International
Union Against Tuberculosis and Lung
Disease) mengembangkan DOTS (Directly
Observed Treatment Shortcourse) sebagai
strategi penanggulangan TB yang cost
effective. Sejak tahun 1995, program
pemberantasan penyakit Tuberkulosis paru
di DKI Jakarta telah dilaksanakan dengan
strategi DOTS (Directly Observed
Treatment Short Course) seperti yang
direkomendasikan oleh WHO. Menurut
data Depkes RI tahun 2009, proporsi
puskesmas yang telah terlibat dengan
strategi DOTS sudah mencapai 98%.
10
Insiden penderita TB BTA positif di
Indonesia tahun 2006 mencapai 105 per
100.000 penduduk, dan prevalensinya
mencapai 578.000 kasus (untuk semua
kasus). Tahun 2010 jumlah penderita BTA
positif di Indonesia adalah 429.730 orang.
6

Kontribusi Jawa Barat dalam jumlah
penderita TB nasional menjadi yang
tertinggi (18%). Angka penjaringan
suspek tahun 2010 Jawa Barat adalah 177
per 100.000 penduduk. Insidens TB BTA
positif sebesar 102 per 100.000 penduduk,
sedangkan di kabupaten Karawang,
diperkirakan angka penderita baru setiap
tahun bertambah sebesar 2.295 kasus
dengan prevalensi 107 per 100.000
penduduk (Program P2PM, P2-TB Paru
Dinkes Kabupaten Karawang 2014).
Sementara saat ini belum diketahui
keberhasilan program P2-TB di wilayah
kerja Puskesmas Kecamatan Pedes periode
Januari sampai dengan Agustus 2014.
1,3

Materi yang dievaluasi dalam program ini
diperoleh dari laporan bulanan dari Januari
sampai dengan Agustus 2014 Program
Penanggulangan Tuberkulosis paru (P2-
TB) di Puskesmas Kecamatan Pedes yang
meliputi penemuan tersangka penderita TB
paru (Tuberkulosis Case Finding),
penentuan diagnosis TB paru, pengobatan
penderita Tuberkulosis dengan
menggunakan strategi DOTS,
pengendalian pengobatan dibawah
pengawasan PMO, Follow Up penderita
TB, penyuluhan TB paru serta pencatatan
dan pelaporan.
Metode evaluasi ini dilaksanakan dengan
cara membandingkan cakupan program
P2-TB di Puskesmas Kecamatan Pedes
periode Januari sampai dengan Agustus
2014, terhadap tolok ukur yang telah
ditetapkan dengan menggunakan
pendekatan sistem.
Rumusan Masalah
1. Insidens penderita baru penyakit
TB ditemukan sebesar 8.6 juta,
dimana sebagian besar penderita
TB adalah usia produktif.
2. Angka kematian penderita TB
sebesar 1,3 juta kematian pada
pasien dengan HIV negatif dan
0,32 juta kematian pasien TB
disertai HIV positif, cukup besar
mengingat kematian tersebut
sebenarnya bisa dicegah.
3. Indonesia berada pada peringkat 4
dunia penderita TB terbanyak
setelah India, China dan Afrika
Selatan, meningkat sebelum tahun
sebelumnya.
4. Menurut WHO, terdapat lebih dari
500.000 kasus TB di Indonesia
yang resisten terhadap berbagai
jenis OAT (MDR-TB).
5. Angka penderita TB baru di
Kabupaten Karawang diperkirakan
akan bertambah sebesar 2.295
kasus setiap tahunnya.
6. Belum diketahuinya tingkat
keberhasilan Program
Penanggulangan Tuberkulosis paru
(P2-TB) di wilayah kerja
Puskesmas Kecamatan Pedes
periode Januari sampai dengan
Agustus 2014.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan
dan masalah yang ada pada pelaksanaan
Program Penanggulangan Tuberkulosis
(P2-TB) yang ada di Puskesmas
Kecamatan Pedes periode Januari sampai
dengan Agustus 2014.
Tujuan Khusus
1. Diketahuinya angka penjaringan
suspek penderita baru TB BTA
positif di wilayah kerja Puskesmas
Kecamatan Pedes periode Januari
sampai dengan Agustus 2014
2. Diketahuinya proporsi pasien TB
paru BTA positif di antara suspek
yang diperiksa dahaknya di wilayah
kerja Puskesmas Kecamatan Pedes
periode Januari sampai dengan
Agustus 2014
3. Diketahuinya proporsi penderita
TB BTA positif di antara seluruh
pasien TB paru yang tercatat di
wilayah kerja Puskesmas
Kecamatan Pedes periode Januari
sampai dengan Agustus 2014
4. Diketahuinya angka penemuan
kasus (Case Detection Rate) di
wilayah kerja Puskesmas
Kecamatan Pedes periode Januari
sampai dengan Agustus 2014
5. Diketahuinya angka konversi di
wilayah kerja Puskesmas
Kecamatan Pedes periode Januari
sampai dengan Agustus 2014
6. Diketahuinya angka kesembuhan
(Cure Rate) di wilayah kerja
Puskesmas Kecamatan Pedes
periode Januari sampai dengan
Agustus 2014.
7. Diketahuinya angka keberhasilan
pengobatan (Success Rate) di
wilayah kerja Puskesmas
Kecamatan Pedes periode Januari
sampai dengan Agustus 2014
Materi dan Metode
Materi yang dievaluasi dalam Program
Penanggulangan Tuberkulosis paru (P2-
TB) di Puskesmas Kecamatan Pedes
periode Januari sampai dengan Agustus
2014, diperoleh dari data sekunder yaitu
pencatatan harian, laporan bulanan dan
laporan triwulan menggunakan formulir
program penanggulangan TB paru.
1. Formulir daftar tersangka
penderita (suspek) yang
diperiksa dahak SPS (TB 06)
2. Formulir permohonan
laboratorium TBC untuk
pemeriksaan dahak (TB 03)
3. Kartu pengobatan TBC (TB
01)
4. Kartu identitas penderita (TB
02)
5. Register kohort pengobatan
penderita TB
6. Formulir rujukan / pindah
penderita TB (TB 09)
7. Formulir hasil akhir
pengobatan dari penderita
TBC pindahan (TB 10)
Materi yang di evaluasi adalah dengan
rincian kegiatan sebagai berikut:
1. Penemuan tersangka penderita
Tuberkulosis paru (Case
Finding).
2. Penentuan diagnosis
Tuberkulosis paru.
3. Pengobatan penderita
Tuberkulosis dengan
menggunakan strategi DOTS.
4. Pengendalian pengobatan
dibawah pengawasan PMO.
5. Follow Up penderita
Tuberkulosis.
6. Penyuluhan Tuberkulosis paru.
7. Pencatatan dan pelaporan.
Evaluasi program ini dilaksanakan dengan
cara membandingkan cakupan program
P2-TB di Puskesmas Kecamatan Pedes
periode Januari sampai dengan Agustus
2014 terhadap tolok ukur bulanan sampai
Agustus yang telah ditetapkan dengan
menggunakan pendekatan sistem. Hasil
evaluasi program ini disajikan dalam
bentuk tekstular dan tabular.
Hasil
1. Cakupan angka penjaringan
suspek (Case Finding Rate)
yang baru mencapai 8.98 %
dari target 53.3%. Besarnya
masalah adalah 83.32%.
2. Angka penemuan penderita
(CDR) baru mencapai 24.40%
dari target 46.67%. Besarnya
masalah adalah 47.72%.

Prioritas Masalah
Masalah I
Besar angka penjaringan (Case Finding
Rate) suspek TB yang diperiksa dahaknya
di Puskesmas Kecamatan Pedes periode
Januari sampai dengan Agustus 2014
adalah sebesar 8,98 % dari tolok ukur
53.3%.
Penyebab masalah:
1. Kurangnya tenaga di Puskesmas dalam
melaksanakan program ini, yang
terlihat dari tugas yang rangkap dari
seseorang sebagai petugas P2M
sekaligus petugas pencatatan dan
pelaporan program, petugas PMO
Puskesmas, dan petugas laboratorium
sehingga kerja dan umpan balik
bulanan yang didapatkan dari kepala
puskesmas yang mengevaluasi program
secara rutin tidak dapat dilaksanakan
secara efektif.
2. Kurangnya kejelasan dan pengertian
tenaga kesehatan setempat terhadap
cabaran dan kesalahan yang bisa terjadi
ketika menentukan seseorang sebagai
suspek TB dari gejala batuk penderita
sehingga bisa terjadi peringanan
terhadap gejala atau boleh jadi
penjaringan terlampau ketat sebelum
pasien dapat diperiksakan dahaknya.
3. Kurangnya promosi aktif baik oleh
petugas kesehatan maupun peran serta
kader masyarakat dalam upaya
penyuluhan secara aktif supaya
masyarakat mengenal gejala-gejala
penyakit Tuberkulosis sehingga
masyarakat yang sakit mempunyai
tingkat kesadaran yang tinggi untuk
memeriksakan diri ke fasilitas
pelayanan kesehatan dasar (penemuan
pasif).
4. Kurangnya pelatihan dan pembinaan
kader atau PMO dan masyarakat yang
mampu mengenal gejala pada penderita
yang dikategori sebagai suspek TB
sehingga mereka mampu melaksanakan
penjaringan suspek dengan efisien dan
pencarian aktif penderita sekaligus
menjadi motivator kepada masyarakat
yang dikenalpasti mempunyai
hubungan erat dengan penderita TB
BTA positif untuk turut memeriksakan
diri apabila timbul gejala.
5. Kurangnya kerjasama dengan fasilitas
kesehatan lain dalam hal pencatatan
dan pelaporan yang turut menjadi
sarana pengobatan dan pendeteksian
penyakit TB apabila terdapat gejala
batuk. Pemberian antibiotik non-OAT
pada penderita TB yang belum
terdeteksi akan menyebabkan gejala
hilang dan waktu pemeriksaan tertunda
karena hasil dahak bisa negative palsu
atau pasien merasakan susah
mengeluarkan dahak.


Penyelesaian masalah :
1. Mengoptimalkan semua tenaga
puskesmas yang sedia ada untuk
sama-sama bekerjasama secara
lintas program, terutama bagian
promosi kesehatan (promkes) dan
kesehatan lingkungan (kesling)
setempat, bagian KIA dalam hal
merujukkan atau melaporkan
suspek penderita TB yang ditemui
ketika program masing-masing
bagian ke bagian P2M Puskesmas
Kecamatan Pedes, karena dengan
berlakunya kerjasama pelaporan
penderita TB yang lengkap dan
baik, diharapkan angka deteksi
kasus TB akan meningkat.
2. Meningkatkan kesadaran dan
pengertian tenaga kesehatan
setempat dengan seminar atau
penyuluhan tentang salah satu
indikator keberhasilan
pembanterasan penyakit TB
adalah dengan meningkatnya
angka penjaringan penderita, oleh
yang demikian setiap petugas
harus mampu menentukan
mendiagnosa terutama apabila
Indonesia merupakan negara
endemis TB.
3. Mengadakan penyuluhan
kelompok khusus yang
dilaksanakan di desa atau
puskesmas, untuk menambah
pengetahuan masyarakat
mengenai penyakit tuberkulosis
dan deteksi dininya dengan cara
passive case finding,active
promotion.
4. Memperbaiki peran serta
masyarakat yang telah dipilih
sebagai kader dan PMO dan
menjalin kerja sama dengan LSM,
tokoh agama, kelompok ibu-ibu
PKK untuk turut berperan sebagai
PMO dan turut serta
mensosialisasikan tentang
penyakit TB di masyarakat
melalui kegiatan ceramah, diskusi
kelompok atau arisan. Melibatkan
mereka dalam pembuatan
perencaaan tertulis terkait jadwal
waktu, tempat, dan pembagian
tugas tentang kegiatan
penyuluhan kelompok dengan
lingkup yang kecil secara teratur
dan berkala dengan
memanfaatkan sarana penyuluhan
(brosur dan poster TB) sehingga
mereka terlatih untuk memberikan
penyuluhan sekaligus menjadi
motivator kepada suspek
penderita TB untuk
memeriksakan diri ke puskesmas.
5. Menjalin kerja sama dengan
fasilitas dan tenaga kesehatan lain
yang ada di wilayah kerjaUPTD
Kecamatan Pedes, terutama dalam
hal pencatatan dan pelaporan
mengenai penderita TB yang ada,
karena Puskesmas bukan satu-
satunya tempat untuk deteksi
tuberkulosis. Dengan adanya
tambahan laporan dan pencatatan
yang baik dari fasilitas atau
tenaga kesehatan tersebut,
diharapkan angka deteksi kasus
TB akan meningkat. Manakala,
pasien yang telah mendapatkan
pengobatan bisa dianjurkan untuk
memberhentikan pengobatan
antibiotik non OAT sebelum
pemeriksaan dahak dan diberikan
tablet GG 200mg malam hari
sebelum memeriksakan dahak
pada paginya.



Masalah II
Besar angka penemuan penderita (Case
Detection Rate/CDR) di Puskesmas
Kecamatan Pedes periode Januari sampai
dengan Agustus 2014 adalah sebesar
24.40% dari tolok ukur 46.67%.
Penyebab masalah:
1. Kurangnya tenaga di Puskesmas dalam
melaksanakan program ini, yang
terlihat dari tugas yang rangkap dari
seseorang sebagai petugas P2M
sekaligus petugas pencatatan dan
pelaporan program, petugas PMO
Puskesmas, dan petugas laboratorium
sehingga tugas yang dilakukan kurang
efektif.
2. Kurangnya pelatihan dan pembinaan
kader atau PMO dalam membantu
penemuan penderita secara aktif ke
rumah, pencarian sumber penularan TB
pada anak dan pemeriksaan kontak erat
pasien TB BTA positif.
3. Tidak adanya penyuluhan kelompok,
dari segi pelaksanaan mahupun
perencanaan untuk melakukan
penyuluhan walaupun sarana
penyuluhan tersedia (brosur dan poster
TB).
4. Lingkungan padat penduduk dan
tingkat pendidikan masyarakat di
wilayah kerjaUPTD Kecamatan Pedes
yang mayoritas rendah menyebabkan
masyarakat tidak cepat tanggap akan
penyakit tuberkulosis. Misalnya bila
timbul gejala batuk kronis hanya
dianggap batuk biasa dan tidak
memeriksakan diri lebih lanjut; bila
anak tidak naik berat badannya dan
sering keringat malam dianggap biasa
karena kondisi rumah atau lingkungan
yang padat.

Penyelesaian masalah :
1. Meningkatkan kinerja petugas dalam
P2M dalam penentuan diagnosa
penderita TB serta pencatatan dan
pelaporan yang ada di Puskesmas
Kecamatan Pedes, karena dengan
pencatatan dan pelaporan penderita TB
yang lengkap dan baik, diharapkan
angka deteksi kasus TB akan
meningkat.
2. Membina peran serta masyarakat
dalam membantu pelaksanaan
pembanterasan penyakit tuberkulosis
secara aktif terutama terhadap
kelompok yang berisiko tinggi tertular.
3. Mengadakan perencanaan dan
penjadwalan penyuluhan kelompok
yang dilaksanakan di desa atau
puskesmas, untuk menambah
pengetahuan masyarakat mengenai
penyakit tuberkulosis dan deteksi
dininya sekaligus mengadakan kegiatan
sweeping.
4. Mengadakan penyuluhan keluarga
rawan tentang PHBS, dengan juga
menghimbau perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS) dengan rajin mencuci
tangan dengan sabun terutama setelah
terkena dahak, memperhatikan
lingkungan hunian yang padat, lembab,
menambah ventilasi sehingga ada
cahaya matahari yang masuk dalam
rumah, menutup mulut saat batuk,
melakukan aktivitas fisik (olahraga)
dan tidak merokok di dalam rumah.

Kesimpulan
Program Penanggulangan Tuberkulosis
Paru yang masih belum mencapai target :
1. Besar cakupan penjaringan suspek
yang sangat kecil yaitu 8.98% dari
target 80%, dengan besar masalah
71.02%.
2. Besar angka penemuan penderita (Case
Detection Rate / CDR) adalah 24.40%,
dimana tolok ukurnya 70%. Besarnya
masalah adalah 45,6%

Saran
Agar Program P2-TB di UPTD Kecamatan
Pedes di periode yang akan datang dapat
berhasil dan berjalan dengan baik, maka
Puskesmas sebaiknya memperbaiki
masalah yang ada dengan penyelesaian
masalah sebagai berikut :

Kepada Kepala Puskesmas sebagai
penanggungjawab program:
A. Mengoptimalisasi kinerja dan
membangun kerjasama tingkat program
yang baik dengan membentuk struktur
alur kerjasama tingkat program secara
tertulis dan pembagian tugas yang
teratur untuk menjalankan program P2-
TB lintas program, sehingga tiap orang
sadar dan mengetahui tugas serta
tanggung jawabnya masing-masing
dengan jelas.
B. Memberikan pelatihan intensif kepada
kader yang ada tentang P2-TB agar
dapat menjadi tenaga penyuluh yang
kompeten dan mampu membuat
perencanaan dan melaksanakan
penyuluhan kelompok sesuai dengan
tingkat pendidikan masyarakat secara
teratur dan berkala, memperbanyak
brosur tentang TB sehingga dapat
disebarkan kepada masyarakat.
C. Menjalin kerjasama dengan fasilitas
dan tenaga kesehatan lain yang ada di
wilayah kerja UPTD Kecamatan Pedes
dalam hal pencatatan dan pelaporan
penderita TB, menjalin kerjasama
dengan LSM, tokoh agama, kelompok
ibu-ibu PKK, untuk turut
mensosialisasikan dan meningkatkan
pengetahuan masyarakat mengenai
penyakit TB dan deteksi dininya.

Apabila saran ini dilaksanakan maka
diharapkan masalah tersebut tidak akan
terulang pada pelaksanaan program P2-TB
di UPTD Kecamatan Pedes pada periode
mendatang

Daftar Pustaka
1. World Health Organization Global
Report 2013. Teks Utama Laporan
TB Global. Diunduh dari :
http://tbindonesia.or.id/pdf/Data_tb
_1_2013.pdf. Pada tanggal 25
September 2014.
2. Aditama, Tjandra Yoga. 2005.
Tuberkulosis: Diagnosis, Terapi
dan Masalahnya. Jakarta: IDI.
3. Departemen Kesehatan RI. 2011.
Pedoman Nasional Penanggulangan
Penyakit Tuberkulosis, Cetakan ke
8.
4. Perkumpulan Pemberantasan
Tuberkulosis Indonesia. TB di
Indonesia Peringkat 5 Dunia.
Diunduh dari :
http://www.ppti.info/index.php/com
ponent/content/article/. Pada
tanggal 25 September 2014.
5. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Pengendalian TB di
Indonesia Mencapai Target MDGs.
Diunduh dari:
http://www.depkes.go.id/index.php/
berita/press-release/857-
pengendalian-tb-di-indonesia-
mendekati-target-mdg.html.
6. Daman U. Profil Tuberkulosis
Regional Jawa Barat. Diunduh dari:
http://www.tbindonesia.or.id/tbnew
. Pada tanggal 26 September 2014.