You are on page 1of 9

Kimia dan Pengetahuan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 latar Belakang
Permintaan kebutuhan akan bahan bakar sebagai sumber penghasil energi khususnya bahan
bakar minyak (BBM) terus meningkat. Peningkatan permintaan tersebut berdasarkan model
OWEM (OPEC World Energy Model), permintaan minyak dunia pada periode jangka menengah
(2002-2012) diperkirakan meningkat sebesar 12 juta barel per hari (bph) menjadi 89 juta bph
atau tumbuh rata-rata 1,8% per tahun. Sedangkan pada periode berikutnya (2010-2020),
permintaan naik menjadi 106 juta bph dengan pertumbuhan sebesar 17 juta bph. Pada tahun
2025, permintaan minyak mentah dunia masih akan meningkat hingga 115 juta bph dengan
pertumbuhan sebesar 9 juta bph atau tumbuh rata-rata 1,7% pertahun pada periode 2010-2025.
Meskipun permintaan minyak dunia masih didominasi oleh negara-negara maju, tetapi hampir
75% dari kenaikan sebesar 38 juta bph selama periode 2002-2025 tersebut diserap oleh negara-
negara berkembang.
Sampai saat ini pemenuhan kebutuhan energi tersebut masih mengandalkan sumber daya
alam tak terbarukan yaitu energi fosil. Indonesia merupakan salah satu negara yang
memproduksi bahan bakar minyak dan gas serta memiliki beberapa cadangan minyak yang
tersebar baik di darat maupun di lepas pantai. Namun sumber bahan bakar ini terbatas
jumlahnya, sehingga pada suatu saat akan habis dan Indonesia tidak mampu lagi untuk
memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah sumber bahan
bakar alternaif yang dapat menggantikan posisi dari sumber energi fosil tersebut. Adalah
bodiesel, maka dari itu kita melalkukan penelitian pemanfaatan minyak jelanta sabagai bahan
baku untuk pembuatan biodesel.
Biodiesel adalah bahan bakar untuk mesin diesel yang dihasilkan dari sumber daya
hayati. Biodiesel ini dapat dibuat dari beberapa bahan baku yang pada awalnya dikembangkan
dari minyak biji kanola (Brassica napus). Lalu pada perkembangannya digunakan dari minyak
kelapa sawit, minyak biji jarak (Jatropha curcas) sampai pada minyak jelantah (waste cooking
oil), namun penelitian kali ini menggunakna minyak kelapa bekas. Minyak kelapa bekas
(jelantah) merupakan minyak tumbuhan yang sudah digunakan untuk menggoreng.
Penggunaan minyak tumbuhan bekas sebagai bahan baku biodisel menjadi sangat
dimungkinkan karena nilai ekonomis minyak bekas ini sudah turun dibanding minyak tumbuhan
yang belum digunakan. Disamping itu, dengan sifat karsinogenik minyak bekas yang berbahaya
bagi tubuh, proses pembuatan biodisel dari minyak goreng menjadi alternative penyelesaian
masalah yang patut dipertimbangkan.
Di Indonesia, pemanfaatan minyak kelapa bekas (jelantah) masih kontraversial. Sampai
saat ini sebagian minyak kelapa bekas (jelantah) dari perusahaan besar dijual ke pedagang kaki
lima dan kemudian digunakan untuk menggoreng makanan dagangannya dan sebagian lain
dibuang begitu saja ke saluran pembuangan. Bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak
kelapa bekas (jelantah) mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik, yang terjadi
selama proses penggorengan. Senyawa-senyawa itu sangat berbahaya bagi tubuh manusia.
Sehingga muncul inovasi untuk memanfaatkan minyak kelapa bekas (jelantah) menjadi
biodiesel.
Maka langkah penanganan minyak jelantah ini sangat tepat untuk dijadikan bahan baku
pembuatan biodiesel karena akan mengurangi kerugian yang ditimbulkan dari aspek kesehatan
manusia dan lingkungan serta menambah manfaat yang ada dari minyak jelantah tersebut.
Kimia dan Pengetahuan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan tentang Minyak Jelantah
Minyak jelantah (bahasa Inggris: waste cooking oil) adalah minyak limbah yang bisa berasal
dari jenis-jenis minyak goreng seperti halnya minyak jagung, minyak sayur, minyak samin dan
sebagainya, minyak ini merupakan minyak bekas pemakaian kebutuhan rumah tangga umumnya,
dapat di gunakan kembali untuk keperluaran kuliner,akan tetapi bila ditinjau dari komposisi
kimianya, minyak jelantah mengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik, yang
terjadi selama proses penggorengan. Jadi jelas bahwa pemakaian minyak jelantah yang
berkelanjutan dapat merusak kesehatan manusia, menimbulkan penyakit kanker, dan akibat
selanjutnya dapat mengurangi kecerdasan generasi berikutnya. Untuk itu perlu penanganan yang
tepat agar limbah minyak jelantah ini dapat bermanfaat dan tidak menimbulkan kerugian dari
aspek kesehatan manusia dan lingkungan, kegunaan lain dari minyak jelantah adalah bahan
bakar biodisel.
Minyak jelantah dapat dijadikan bahan baku biodiesel karena merupakan minyak nabati turunan
dari CPO (crude palm oil). Pembuatan biodiesel dari minyak jelantah menggunakan reaksi
transesterifikasi seperti pembuatan biodiesel pada umumnya dengan melakukan pretreatment
yang dilakukan guna menurunkan bilangan asam pada minyak jelantah. Tahapan perlakuan
tersebut yaitu, pertama pemurnian dari pengotor-pengotor sisa penggorengan dan water content.
Kedua, esterifikasi dari asam lemak bebas (free fatty acid) yang terdapat dalam minyak jelantah.
Ketiga, trans esterifikasi molekul trigliserida ke dalam bentuk metil ester dan keempat,
pemisahan dan pemurnian.
Minyak jelantah merupakan bahan baku yang relatif lebih murah untuk proses pembuatan
biodiesel, selain itu dengan memanfaatkan minyak goreng ada beberapa keuntungan yang bisa
diperoleh, meliputi :
1. Mencegah terjadinya polusi lingkungan (air dan tanah ) dengan tidak adanya pembuangan
minyak bekas menggoreng ke sembarang tempat.
2. Mengurangi bahan karsinogenik yang beredar dimasyarakat. Seperti diketahui penggunaan
minyak goreng yang berulang-ulang akan mengoksidasi asam lemak tidak jenuh membentuk
gugus peroksidah yang berpotensi memicu penyakit kangker.
Dalam penggunaanya, minyak goreng mengalami perubahan kimia akibat okdidasi. Proses
oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak sejumlah oksigen dengan minyak. Terjadi
reaksinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada minyak. Oksidasi biasanya
dimulai dengan pembentukan peroksidah dan hidroperoksidah. Tingkat selanjutnya ialah
terurainya asam-asam lemak disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan keton
serta asam lemak bebas. Sehinggah dapat menyebabkan kerusakan minyak tersebut (Kataren, )
Kandungan trigliresidanya ditrasnesterifikasi dengan methanol sehinggah menghasilkan minyak
biodiesel dan gliserol, dengan proses ini maka minyak jelantah dapat bernilai tinggi
(Herlina,2002).







Kimia dan Pengetahuan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana

2.2 Tinjauan Tentang Biodesel

2.2.1 Pengertian Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono-alkyl ester dari rantai
panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin diesel dan
terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan.
Sebuah proses dari transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah minyak dasar menjadi ester
yang diinginkan dan membuang asam lemak bebas. Setelah melewati proses ini, tidak seperti
minyak sayur langsung, biodiesel memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan diesel (solar)
dari minyak bumi, dan dapat menggantikannya dalam banyak kasus. Namun, dia lebih sering
digunakan sebagai penambah untuk diesel petroleum, meningkatkan bahan bakar diesel petrol
murni ultra rendah belerang yang rendah pelumas.
Dia merupakan kandidat yang paling dekat untuk menggantikan bahan bakar fosil sebagai
sumber energi transportasi utama dunia, karena ia merupakan bahan bakar terbaharui yang dapat
menggantikan diesel petrol di mesin sekarang ini dan dapat diangkut dan dijual dengan
menggunakan infrastruktur sekarang ini.
Penggunaan dan produksi biodiesel meningkat dengan cepat, terutama di Eropa, Amerika
Serikat, dan Asia, meskipun dalam pasar masih sebagian kecil saja dari penjualan bahan bakar.
Pertumbuhan SPBU membuat semakin banyaknya penyediaan biodiesel kepada konsumen dan
juga pertumbuhan kendaraan yang menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar.

2.2.2 Industri Biodiesel
Ada beberapa negara produsen dan konsumen terbesar biodiesel sebagaimana diuraikan oleh
Fediol dan EBB dalam Rama Prihandhana (2005) yakni untuk peringkat 3 besar adalah masing-
masing Jerman, Perancis, dan Italia dengan produksi pada tahun 2004 masing-masing 1.035,
348, dan 320 ton. Adapun komponen mesin industri biodiesel yang digunakan di negara maju
sebagaimana berikut:
a. Expeller (digunakan untuk memerah biji-bijian)
b. Tangki Degumming (untuk menghilangkan getah hasil perahan dari expeller)
c. Filter press (penyaringan)
Di Indonesia mesin biodiesel berupa pilot plant yang dibangun oleh BPPT tahun 2003 dengan
kapasitas 1,5 ton/hari, PT Energi Alternatif INDONESIA tahun 2005 di Jakarta Utara
berkapasitas 1 ton perhari.
.
2.2.3 Manfaat Penggunaan Biodiesel
Pengembangan biodiesel dari minyak jelantah ini terus dilakukan selain untuk mengantisipasi cadangan
minyak bumi yang semakin terbatas produk biodiesel juga termasuk produk yang ramah lingkungan dan
biodegradable (dapat diperbaharui). Penggunaan biodiesel juga akan meningkatkan kualitas udara lokal
dengan mereduksi emisi gas berbahaya seperti karbon monoksida (CO), ozon (O
3
), nitrogen oksida
(NO
X
), dan hidrokarbon reaktif lainnya, serta asap dan partikel yang dapat terhirup. Di samping itu juga
biodiesel mempunyai titik nyala yang tinggi daripada diesel normal sehingga tidak menyebabkan rnudah
terbakar (Aninomous, 2010)
Beberapa keuntungan dari penggunaan biodiesel antara lain :
1. Biodegradable (dapat diuraikan secara biologis)
2. Memperbaiki tingkat pelumasan mesin dan juga mengurangi ketergantungan pada pelumas.
3. Mengurangi potensi terbentuknya senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik.
Kimia dan Pengetahuan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana

4. Mengurangi bau yang ditimbulkan oleh pembakaran.
5. Mengurangi efek rumah kaca.
6. bahan bakar yang ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih baik.
7. Menurunkan kadar emisi gas-gas beracun dan berbahaya pada keluarannya (gas buang) seperti
CO, NOx, SO
2
, dll
( Sony S.W, 2009 ).

2.2. Prinsip Pembuatan Biodiesel
Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang berasal dari trigliserida. Trigliserida merupakan
penyusun utama minyak nabati dan lemak hewani, sehingga dapat dikatakan bahwa biodiesel bisa
dibuat dari sumber minyak nabati. Sumber minyak nabati ini bisa berupa minyak sawit, minyak kelapa,
minyak biji jarak bahkan dari minyak jelantah. Pada prinsipnya, pembuatan biodiesel didasarkan
kepada proses transesterifikasi (Andi Ananta, 2003 ).
Transesterifikasi merupakan reaksi antara minyak ( trigliserida ) dan alkohol. Alkohol direaksikan
dengan ester untuk menghasilkan ester baru. Ester baru yang dihasilkan disebut dengan biodiesel.
Alkohol digunakan sebagai reaktan dalam reaksi transesterifikasi. Alkohol yang sering digunakan
adalah metanol, etanol, propanol dan isopropanol. Reaksi Transesterifikasi digambarkan sebagai
berikut ( Emilia, 2008):

Faktor - faktor yang mempengaruhi kecepatan transesterifikasi ( Widyatusti, 2007)
adalah:
1. Suhu
Kecepatan reaksi secara kuat dipengaruhi oleh temperatur reaksi. Pada umumnya reaksi ini dapat
dijalankan pada suhu mendekati titik didih methanol ( 60 - 70C ) pada tekanan atmosfer.
Kecepatan reaksi akan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu. Semakin tinggi suhu, berarti
semakin banyak energi yang dapat digunakan oleh reaktan untuk mencapai energi aktivasi.
2. Waktu Reaksi
Semakin lama waktu reaksi, maka semakin banyak produk yang dihasilkan karena ini akan
memberikan kesempatan reaktan untuk bertumbukan satu sama lain.
3. Katalis
Katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi dengan menurunkan energi aktivasi reaksi namun
tidak menggeser letak kesetimbangan. Tanpa katalis, reaksi transesterifikasi baru dapat berjalan
pada suhu sekitar 250C. Penambahan katalis bertujuan untuk mempercepat reaksi dan
menurunkan kondisi operasi. Katalis yang dapat digunakan adalah kakatalis asam, basa, atau
penukar ion. Dengan katalis basa reaksi dapat berjalan pada suhu kamar, sedangkan katalis asam
pada umumnya memerlukan suhu reaksi di atas 100
0
C.
4. Pengadukan
Pada reaksi transesterifikasi, reaktan-reaktan awalnya membentuk sistem cairan 2 fasa.
Pengadukan ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan campuran reaksi yang bagus
.
2.3 Katalis
Katalis adalah tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk.
Katalis memungkinkan suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu,
tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu sendiri (lihat pula katalisis). Suatu
katalis berperan dalam reaksi reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi pada
suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis menyediakan
Kimia dan Pengetahuan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana

suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis mengurangi energi yang
dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.
Katalis dapat dibedakan ke dalam dua golongan utama: katalis homogen dan katalis heterogen.
Katalis heterogen adalah katalis yang ada dalam fase berbeda dengan pereaksi dalam reaksi yang
dikatalisinya, sedangkan katalis homogen berada dalam fase yang sama. Satu contoh sederhana
untuk katalisis heterogen yaitu bahwa katalis menyediakan suatu permukaan di mana pereaksi-
pereaksi (atau substrat) untuk sementara terjerap. Ikatan dalam substrat-substrat menjadi lemah
sedemikian sehingga memadai terbentuknya produk baru. katan atara produk dan katalis lebih
lemah, sehingga akhirnya terlepas.
Katalis homogen umumnya bereaksi dengan satu atau lebih pereaksi untuk membentuk suatu
perantara kimia yang selanjutnya bereaksi membentuk produk akhir reaksi, dalam suatu proses
yang memulihkan katalisnya. Berikut ini merupakan skema umum reaksi katalitik, di mana C
melambangkan katalisnya:
A + C AC (1)
B + AC AB + C (2)
Meskipun katalis (C) termakan oleh reaksi 1, namun selanjutnya dihasilkan kembali oleh reaksi
2, sehingga untuk reaksi keseluruhannya menjadi,
A + B + C AB + C
katalis tidak termakan atau pun tercipta. Enzim adalah biokatalis. Penggunaan istilah "katalis"
dalam konteks budaya yang lebih luas, secara bisa dianalogikan dengan konteks ini.
beberapa katalis ternama yang pernah dikembangkan di antaranya katalis Ziegler-Natta yang
digunakan untuk produksi masal polietilen dan polipropilen. Reaksi katalitik yang paling dikenal
ialah proses Haber untuk sintesis amoniak, yang menggunakan besi biasa sebagai katalis.
Konverter katalitik--yang dapat menghancurkan produk samping knalpot yang paling bandel--
dibuat dari platinadan.

2.4 Bilangan Asam
Bilangan asam didefinisikan sebagai jumlah KOH (mg) yang diperlukan untuk menetralkan
asam ;emak bebas dalam 1 gram zat. Bilangan asam ini menunjukan banyaknya asam lemak
bebas dalam suatu lemak atau minyak serta dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak
atau campuran asam lemak. Bilangan sam ditentukan berdasarkan prinsip penetrallan asam basa.
Minyak atau lemak yang akan diuji dilarutkan dengan alkohol netral kemudian dipanaskan
sampai mendidih setelah itu larutan dititrasi dengan KOH 0,1 N dengan menggunakan indikator
PP sampai terjadi perubahan warna menjadi merah mudah konstan (Kataeren. S,1986)
Penentuan bilangan asam ini adalah sebagai indikator terhadap kualitas biodiesel yang
dihasilkan. Seamakin tinggi bilangan asam yang dihasilkan maka biodiesel tersebut masih
mengandung asam lemak bebas yang menyebabkan biodiesel tersebut bersifat korosif dan dapat
menimbulkan jelaga atau kerak pada injektor mesin diesel.








Kimia dan Pengetahuan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana


BAB III
METODE PENELITIAN
3.6 Alat dan Bahan
3.6.1 Alat
No Nama Alat Spesifikasi Satuan Jumlah Ket
1
Labu dasar bulat berleher
3 500 mL Buah 1

2 Pemanas Listrik 350 W Buah 1

3 Timbangan Analitis Buah 1

4 Pendingin refluk Srandart Buah 1

5 Labu Erlenmeyer 250 mL Buah 2

6 Erlenmeyer Filtering 250 mL Buah 1

7 Gelas Kimia
100 mL,250
mL Buah 1

8 Pipet Volume
5 mL, 25
mL Buah 1

9 Pipet Tetes Srandart Buah 1

10 Corong pisah 500 mL Buah 1

11 Corong Gelas Sedang Buah 1

12 Batang pengaduk 30 cm Buah 1

13 Gelas Ukur
50 mL, 100
mL Buah 1

14 Spatula Baja Buah 1

15 Buret 50 mL Buah 1

16 Gelas Arloji 0 10cm Buah 1

17 Fillter Srandart Buah 1

18 Termometer Srandart Buah 1

19 Statif dan Klem Srandart Set 1

20 Magnetik Stirer 250 mL Buah 1

21 Vakum pump 10 mL Buah 1

22 Beaker PP

Buah 1

23 Piknometer 20 mL Buah 1

24 Viskometer 5 mL Buah 1
3.6.2 Bahan
No Nama Bahan Spesifikasi Satuan Jumlah
1 Minyak Jelantah Bekas Gram

2 Methanol 99% Teknis Gram

3 KOH Teknis Gram

4 Isopropil Alkohol 99% Teknis Ml

5 Asam Asetat Teknis Ml

6 Asam Sulfat Teknis Ml

Kimia dan Pengetahuan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana

3.7 Prosedur Penelitian
3.7.1 Prosedur Pembuatan Biodiesel
1. Mengambil 200 gram minyak jelantah dan masukkan dalam labu datar bulat
500 ml.
2. Memanaskan minyak jelantah kurang lebih suhu 50
o
C selama 15 menit
3. Mengambil 50 ml Methanol 99 % dan memasukkan dalam labu datar bulat 500 ml.
4. Menimbang 5 gr KOH dan Memasukkan dalam labu datar bulat 500 ml.
5. Pasang termometer pada labu datar bulat dan biarkan salah satu lehernya terbuka (refluk udara
bebas)
6. melakukan pemanasan selama 10 menit pada suhu 60-70
o
C menggunakna hot plate dan stirer
7. dinginkan dan pindahkan larutan kedalam corong pemisah (lapisan atas merupakan produk
dan lapisan bawah merupkan hasil smpling), diamkan sebentar, jika campuran memisah hanya
sedikit,lanjutkan pemanasan 20 menit lagi.
8. setelah memisah buanglah lapisan bawahnya.
9. Tambahakan 150 ml aquadest, kocok kuat dan diamkan.
10. Setelah memisah buanglah lapisan bawahnya .
11. Ulangi langkah no 8 dan 9 secara 3X
12. untuk menghilangkan sisa air masukkan ke biodiesel dalam oven selama 10 menit
13. Dinginkan dan saring dengan menggunakan kertas saring.

3.8 Uji Mutu Biodiesel
3.8.1 Analisa Bilangan Asam
1. Timbang 20 g sampel biodiesel kedalam erlenmeyer 250ml
2. Ditambahkan 50 ml alkohol netral
3. Dipanaskan sampai mendidih dengan menggunkan pendingin tegak dan kocok lalu
dinginkan
4. Ditambah 2-3 tetes indikator PP 1 %
5. Dititrasi dengan larutan KOH 0,1 N sampai warna merah mudah konstan.
Rumus Perhitungan
Bilangan asam : V
titrasi
X N KOH X BE KOH
Berat Sampel (gr)
Keterangan
V
titrasi
: Volume Titrasi
N : Normalitas KOH
BE : Berat Ekivalen KOH (56,1)

3.9 Analisa Kadar Rendemen
1. Timbang bahan baku (minyak jelntah)
2. Timbang hasil akhir biodiesel pada beaker glass
% Kehilngan = Bahan baku hasil Biodiesel x 100%
Bahan baku
Rendemen = % Bahan Baku - % Kehilangan




Kimia dan Pengetahuan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana


BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil perhitungan terhadap bilangan asam pada biodiesel dengan
menggunkan katalis KOH diperoleh hasil 0,3927 mg KOH/g.
Bilangan asam : V
titrasi
X N KOH X BE KOH
Berat Sampel (gr)
= 1.4 X 0.1 X 56.1
20
= 0,3927 mg KOH/g
Hasil akhir biodiesel di dapatkan 150g dari bahan baku 200 g
Berdasarkan uji rendemen terhadap boiodiesel didapatkan sebagai berikut:
% Kehilangan = Bahan baku hasil Biodiesel x 100%
Bahan baku
Rendemen = % Bahan Baku - % Kehilangan
%Kehilangan = 200 150 x 100%
200
= 25 %
Rendemen = 100% - 25 %
= 75 %
4.2 Pembahasan
Proses pembuatan biodiesel minyak jelantah di awali dengan proses trasexterifikasi,
dimana minyak jelantah direaksikan dengan Methanol 98 % dan katalis basa yaitu KOH
sehinggah dihasilkan metil ester. Dalam tahap ini terbentuk dua lapisan, lapisan bawah
bewarna coklat yang merupkan lapisan gliserol dan lapisan atas bewarna kuning
merupakan lapisan biodiesel. Kedua lapisan kemudian dipisahlan dan lapisan atas di olah
sedemikian rupah sehinggah dihasilkan biodiesel murni. Hasil uji kualitas dapat
dilakukan dengan parameter, salah satunya adalah bilangan asam. Standart bilangan asam
pada biodiesel berdasarkan Badan Standarisi Nasional Indonesia tahun 2006 adalah maks
0,8 mg KOH/g dan dari penelitian yang dilakukan, biodiesel dari minyak jelantah sesuai
dengan standart yang ditetapkan. Mala jauh lebih rendah dari standar yang telah
ditentukan yaitu 0,3927 mg KOH/g. Maka biodiesel yang kita buat layak untuk digunkan.
Karna jika pada uji bilangan asam ini tinggi lebih dari standart yang ditentukan maka
menyebankan biodiesel tersebut bersifat korosif dan dapat menimbulkan jelaga atau
kerak pada injektor mesin diesel.
Berdasarkan uji rendemen didapatkan hasil 75 % dari bahan baku minyak jelantah.
Berarti 25% terbuang saat dikarenakan bisa karna faktor saat pencucian biodiesel, alat
yang kita gunakan kurang memadahi, saat pemisaan antara biodiesel dan gliserol dan
tercampur oleh pengotor minyak jelantah. Maka hasil yang kita dapatkan pembuatan
biodiesel kali ini mendapatkan hasil yang lumayan banyak yaitu 75%. Walaupun di
industri biodiesel sesungguhnya yang dapat dihasilkan bisa mencapai lebih dari
90%. Namun karna banyak faktor maka yang kita hasilkan hanya 75%.



Kimia dan Pengetahuan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari pembutan biodiesel didapatkan hasil rendemen 75 % dan uji mutu bilangan asam yang
sangat rendah yaitu 0,3927 mg KOH/g. Yang artinya biodiesel layak digunkan untuk bahan
mesin diesel ataupun sebagai bahan bakar motor. Karena jika hasil analisis bilangan asam
kadarnya lebih dari yang ditetapkan Badan Standarisi Nasional Indonesia tahun 2006 adalah
maks 0,8 mg KOH/g maka menyebabkan biodiesel tersebut korosif dan dapat menimbulkan
jelaga atau kerak pada injektor mesin diesel.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan :
1. Bagi yang membuat biodiesel supaya memperhatikan bahan baku yang digunakan.
2. Bagi peneliti selanjutnya, perlu dilakukan uji kualitas biodiesel yang lain sperti : kadar air,
viskositas, kadar sulfur, bilngan penyabunan, dan uji lainya untuk meyakinkan bahwa biodiesel
dari minyak jelantah ini dapat digunakan sebagai bahan bakar diesel.


Daftar Pustaka
Kataren,S.1987.Minyak dan lemak pangan.Bandung:Universitas Indonesia
Kusuma, Arif dkk. 2000.Pembuatan Biodiesel dengan Memanfaatkan Gelombang Mikro sebagai
Alternatif Proses yang Cepat dan Effisien.Surabaya:Cahya Grup
Nazef, dkk. . 2007.Intensifikasi Proses Produksi Biodiesel. Bandung:Surya Indah.
Joelianingsih., Armansyah H.Tambunan dkk.2006. Perkembangan Proses Pembuatan Biodiesel
Sebagai Bahan Bakar Nabati.Surabaya:Indah Press
Soerawidjaja, Tatang, H, dkk. 2003. Standar dan Metode Uji Biodiesel di Indonesia.
Bandunng:ITB.