You are on page 1of 19

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan dalam setiap jenjang pendidikan
tidak terlepas dari fungsi dan peranan Pendidikan Kewarganegaraan dalam
membentuk karakter bangsa yang sesuai dengan harapan Undang-Undang Dasar
1945 dan Pancasila. Meskipun Pendidikan Kewarganegaraan harus melalui
berbagai perubahan nama dan materi dari setiap kurikulum namun tidak dapat
dipungkiri Pendidikan Kewarganegaraan telah memberikan kontribusi yang
cukup besar dalam mencetak generasi bangsa berkepribadian luhur.
Mulai terkikisnya moral anak bangsa saat ini juga telah menjadi
peringatan bagi semua kalangan pada umumnya dan pendidik pada khususnya.
Dalam mengatasi hal ini pendidik harus bisa mengintegrasikan setiap
matapelajaran menjadi pendidikan karakter baik secara langsung maupun tidak
langsung. Termasuk dalam matapelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang
mengajarkan untuk berperilaku sesuai norma-norma yang ada. Teori yang ada
dalam materi pelajaran tersebut harus dibarengi dengan praktik lapangan
sehingga dapat tercipta peserta didik yang tidak hanya sekedar cerdas dalam
bidang akademik tetapi juga cerdas menempatkan diri sebagai warga negara
yang baik.
Dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya pada
jenjang pendidikan dasar, sekolah seyogyanya dikembangkan sebagai tatanan
social yang kondusif atau member suasana bagi tumbuh kembangnya berbagai
kualitas pribadi peserta didik. Sekolah sebagai bagian integral dari masyarakat
perlu dikembangkan sebagai pusat pembudayaan dan pemberdayaan peserta
didik sepanjang hayat, yang mampu memberi keteladanan, membangun
kemauan dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran demokratis.
Maka mata pelajaran PKN harus berfungsi sebagai wahana kurikuler
pengembangan karakter warga Negara Indonesia yang demokratis dan
bertanggungjawab. Melalui PKN sekolah perlu dikembangkan sebagai pusat
pengembangan wawasan, sikap, dan keterampilan hidup dalam kehidupan
demokratis.
Oleh karena itu, melalui tugas matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan
Sekolah Dasar kami ingin membahas lebih dalam mengenai hakikat, fungsi dan
tujuan Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar.

2

1.2 Rumusan Masalah
1.1 Apa Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan?
1.2 Apa Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar?
1.3 Apa Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar?
1.4 Apa Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar?
1.5 Apa Ruang Lingkup Pendidikan Kewarganegaaan di Sekolah Dasar?
1.6 Apa Tuntutan Pedagogis Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar ?

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk :
1. Mengetahui Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
2. Mengetahui Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
3. Memahami Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
4. Memahami Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
5. Mengetahui Ruang Lingkup Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
6. Mengetahui Tuntutan Pedagogis Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah
Dasar





















3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 . Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Pengertian pendidikan menurut para ahli diantaranya :
1. Menurut UU sisdiknas No.20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencanna untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan Negara.
2. Menurut Carter V.Good (1997)
pendidikan adalah proses perkembangan kecakapan seseorang
dalam bentuk sikap dan perilaku yang berlaku dalam masyarakatnya.
3. Menurut Godfrey Thomson (1977)
pendidikan adalah pengaruh lingkungan atas individu untuk
menghasilkan perubahan yang tetap di dalam kebiasaan tingkah lakunya,
pikirannya dan perasaannya.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Pendidikan
mengandung tujuan yang ingin dicapai, yaitu membentuk kemampuan
individu mengembangkan dirinya yang kemampuan kemampuan dirinya
berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidupnya sebagai
seorang individu, maupun sebagai warganrgara dan warga masyarakat.
Pendidikan Kewarganegaraan sebenarnya dilakukan dan
dikembangkan di seluruh dunia, meskipun dengan berbagai istilah atau nama.
Matakuliah tersebut sering disebut sebagai civic education, Citizenship
Education, dan bahkan ada yang menyebutnya sebagai democrcy education.
Tetapi pada umumnya pendapat para pakar tersebut mempunyai maksud dan
tujuan yang sama.
Beberapa pandangan para pakar tentang Pendidikan Kewarganegaraan
adalah sebagai berikut:
1. Henry Randall Waite dalam penerbitan majalah The Citizendan Civics,
pada tahun 1886, merumuskan pengertian Civics dengan The sciens of
citizenship, the relation of man, the individual, to man in organized
collections, the individual in his relation to the state. Dari definisi
tersebut, Civics dirumuskan dengan Ilmu Kewarganegaraan yang
membicarakan hubungan manusia dengan manusia dalam perkumpulan-
4

perkumpulan yang terorganisasi (organisasi sosial, ekonomi, politik) dan
antara individu- individu dengan negara.
2. Stanley E. Dimond berpendapat bahwa civics adalah
citizenship mempunyai dua makna dalam aktivitas sekolah. Yang
pertama, kewarganegaraan termasuk kedudukan yang berkaitan dengan
hukum yang sah. Yang kedua, aktivitas politik dan pemilihan dengan
suara terbanyak, organisasi pemerintahan, badan pemerintahan, hukum,
dan tanggung jawab.
3. Menurut Merphin Panjaitan, Pendidikan Kewarganegaraan adalah
pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mendidik generasi muda
menjadi warga negara yang demokrasi dan partisipatif melalui suatu
pendidikan yang dialogial.
4. Sementara Soedijarto mengartikan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai
pendidikan politik yang bertujuan untuk membantu peserta didik untuk
menjadi warga negara yang secara politik dewasa dan ikut serta
membangun sistem politik yang demokratis.
Dari definisi tersebut, semakin mempertegas pengertian civic
education (Pendidikan Kewarganegaraan) karena bahannya meliputi
pengaruh positif dari pendidikan di sekolah, pendidikan di rumah, dan
pendidikan di luar sekolah. Unsur-unsur ini harus dipertimbangkan dalam
menyusun program Civic Education yang diharapkan akan menolong para
peserta didik untuk:
1. Mengetahui, memahami dan mengapresiasi cita-cita nasional.
2. Dapat membuat keputusan-keputusan yang cerdas dan bertanggung jawab
dalam berbagai macam masalah seperti masalah pribadi, masyarakat dan
negara
Jadi, Pendidikan Kewarganegaraan adalah program pendidikan
berdasarkan nilai-nilai pancasila sebagai wahana untuk mengembangkan dan
melestarikan nilai-nilai luhur dan moral yang berakar dari budaya bangsa
Indonesia yang diharapkan dapat menjadi jati diri yang diwujudkan dalam
bentuk perilaku yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari para
mahasiswa baik sebagao individu, sebagai calon guru/pendidik, anggota
masyarakat dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan demikian, selain pengetahuan, sikap dan perilaku yang sesuai
dengan nilai-nilai moral Pancasila para Mahasiswa S1 PGSD diharapkan
pula memiliki keterampilan di dalam mengorganisir dan mengembangkan
materi bidangstudi Pendidikan Kewarganegaraan untuk dapat diajarkan di
SD. Itu juga berarti para Mahasiswa selain memperoleh pengetahuan,
5

mengembangkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral
Pancasila juga diharapkan dapat mengajarkannya dalam tingkat SD agar para
siswa SD dapat mengetahui dan menghayati serta mengamalkan pengetahuan,
sikap, dan perilaku tersebut menurut tingkat kematangan siswa SD.
Dalam melaksanakan Pendidikan Kewarganegaraan patut
diperhatikan bahwa bidang studi tersebut menggantikan Pendidikan Pancasila
dan Kewarganegaraan masa berlakunya Kurikulum sekolah tahun 1944.

2.2 Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
Kajian historis Pendidikan Kewarganegaraan sejak masa kemerdekaan
(1946) sampai masa reformasi :
1. Tahun 1946
Pada tahun ini belum dikenal adanya matapelajaran yang menyangkut
kewarganegaraan
2. Tahun 1957
Pada tahun ini mulai diperkenalkan matapelajaran Kewarganegaraan.
Isi pokok materinya meliputi cara memperoleh kewarganegaraan serta hak
dan kewajiban warga negara. Selain matapelajaran Kewarganegaraan juga
diperkenalkan matapelajaran Tata Negara dan Tata Hukum

3. Tahun 1959
Pada tahun ini ini muncul matapelajaran CIVICS di Sekolah
Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas yang isinya meliputi
sejarah nasional, sejarah proklamasi, Undang-Undang Dasar 1945,
Pancasila, pidato-pidato kewarganegaraan presiden, serta pembinaan
persatuan dan kesatuan bangsa.
4. Tahun 1962
Pada tahun ini telah terjadi pergantian matapelajaran CIVICS menjadi
Kewargaan Negara. Penggantian ini atas usul menteri kehakiman pada masa
itu, yaitu Dr. Saharjo, SH. Menurut beliau penggantian ini bertujuan untuk
membentuk wara negara yang baik. Materi yang diberikan menurut
keputusan menteri P dan K no. 31/1967 meliputi Pancasila, Undang-Undang
Dasar 1945, Tap MPR, dan pengetahuan PBB.
5. Tahun 1968
Pada tahun ini keluar kurikulum 1968 sehingga istilah Kewargaan
Negara secara tidak resmi diganti menjadi Pendidikan Kewarganegaraan.
Materi pokoknya menurut jenjang pendidikan, yaitu :
1. Sekolah Dasar
6

a. Pengetahuan Kewarganegaraan
b. Sejarah Indonesia
c. Ilmu Bumi
2. Sekolah Menengah Pertama
a. Sejarah Kebangsaan
b. Kejadian setelah kemerdekaan
c. Undang-undang Dasar 1945
d. Pancasila
e. Ketetapan MPR
3. Sekolah Menengah Atas
a. Pasal-pasal UUD 1945 yang dihubungkan dengan Tata Negara
b. Sejarah
c. Ilmu Bumi
d. Ekonomi
4. Sekolah Pendidikan Guru
a. Sejarah Indonesia
b. Undang-undang Dasar 1945
c. Kemasyarakatan
d. Hak Asasi Manusia (HAM)

6. Tahun 1973
Pada tahun ini Badan Pengembangan Pendidikan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan bidang PKn menetapkan 8 tujuan kurikuler,
yaitu:
a. Hak dan kewajiban warga negara
b. Hubungan luar negeri dan pengetahuan internasional
c. Persatuan dan kesatuan bangsa
d. Pemerintahan demokrasi Indonesia
e. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
f. Pembangunan sosial ekonomi
g. Pendidikan kependudukan
h. Keamanan dan ketertiban masyarakat
7. Tahun 1975
Pada tahun ini muncul matapelajaran Pendidikan Moral Pancasila
(PMP) menggantikan PKn. Menurut Tap MPR no. IV/MPR/1973 tentang
GBHN menginstruksikan matapelajaran PMP masuk dalam kurikulum
sekolah mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi
8. Tahun 1984
Pada tahun ini kurikulum tetap mempertahankan mata pelajaran PMP.
7

9. Tahun 1994
Pada tahun ini matapelajaran PMP diganti menjadi matapelajaran
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
10. Tahun 2006
Pada tahun ini keluar kurikulum baru yang bernama Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) muncul matapelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan (PKn) menggantikan PPKn. Materi pokok menurut
jenjang pendidikannya meliputi:
1. Sekolah Dasar
a. Norma-norma
b. Pancasila
c. Perilaku-perilaku yang Baik dalam Masyarakat
2. Sekolah Menengah Pertama
a. Undang-undang Dasar
b. Struktur Negara
c. Hukum-hukum Ketatanegaraan
3. Sekolah Menengah Atas
a. Hubungan Internasional
b. Keterbukaan
c. Keadilan
Jadi Hakikat PKn, yaitu :
1. Program pendidikan berdasarkan nilai-nilai Pancasila sebagai wahana
untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang
berakar pada budaya bangsa yang diharapkan menjadi jati diri yang
diwujudkan dalam bentuk perilaku dalam kehidupan sehari hari.
2. Sebuah matapelajaran yang memfokuskan pada pembentukkan diri
yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku
bangsa untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil,
dan berkarakter yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945.
Sejalan dengan uraian pada hakikat bidang studi Pendidikan
Kewarganegaraan maka berikut ini akan diuraikan pula tentang karakteristik
atau ciri-ciri/sifat umum bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan. Melalui
matapelajaran Pendidikan Kewarganegaraan menuntut lahirnya warga negara
dan warga masyarakat yang Pancasila, beriman dan bertakwa terhadap Tuhan
Yang Maha Esa yang mengetahui dan memahami dengan baik hak-hak dan
kewajibannya yang didasari oleh kesadaran dan tanggungjawabnya sebagai
warga negara. Dapat membuat keputusan secara cepat dan tepat, baik bagi
dirinya maupun bagi orang lain. Warga negara yang yang dimaksud adalah
warga negara dan warga masyarakat yang juga mandiri, bertanggungjawab,
8

mampu berfikir kritis dan kreatif atau yang secara umum oleh Lawrence
Senesh seperti yang dikemukakan oleh Murphy (1967:57) dengan
sebutan desitable socio-civic behavioratau warga negara yang mampu tink
globally while act locally kata Rene Dubois.
Warga negara yang memiliki pandangan seperti ini memiliki apa yang
disebut cosmopolitan stance atau sikap mental/pendirian yang
bersifat cosmopolitan. Mereka adalah warga negara yang dapat menggunakan
sumber-sumber daya dunia dan mengakumulasikan kebijakan dan kearifan
dalam melahirkan tindakan bersama terhadap masalah bersama yang dihadapi
setiap orang. Warga negara dengan pandangan global memahami saling
ketergantungan, kemajemukan, nilai-nilai dan menemukannya bukan hanya
dalam budaya kelompok mereka sendiri sebagai suatu negara-bangsa, tetapi
juga masyarakat dunia secara keseluruhan. Sehubungan dengan penggambaran
seperti dikemukakan di atas mengarahkan kita pada landasan konsep yang
mendasari Pendidikan Kewarganegaraan tersebut, yaitu manusia sebagai
makhluk ciptaan Tuhan dan insan sosial politik yang terorganisasi dengan
tujuan agar manusia Indonesia tersebut memiliki kemauan dan kemampuan
untuk:
1. Sadar dan patuh terhadap hukum (melek hukum)
2. Sadar dan bertanggungjawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
(melek politik)
3. Memahami dan berpartisipasi dalam pembangunan nasional ( insan
pembangunan )
4. Cinta bangsa dan tanah air (memiliki sikap heroisme dan patriotisme)
Karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan dengan paradigma baru,
yaitu bahwa Pendidikan Kewarganegaraan merupakan suatu bidang kajian
ilmiah dan program pendidikan di sekolah dan diterima sebagai wahana utama
serta esensi pendidikan demokrasi di Indonesia yang dilaksanakan melalui
berikut ini:
1. Civic Intelligence, yaitu kecerdasan dan daya nalar warga negara baik dalam
dimensi spiritual, rasional, emosional, maupun sosial
2. Civic Reponsibility, yaitu kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga
negara yang bertanggungjawab
3. Civic Participation, yaitu kemampuan berpartisipasi warga negara atas
dasar tanggungjawabnya, baik secara individual, sosisal, maupun sebagai
pemimpin hari depan
Sejalan dengan itu kompetensi-kompetensi yang hendak diwujudkan
melalui mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dibagi kedalam 3
kelompok, yaitu sebagai berikut :
9

1. Kompetensi untuk menguasai pengetahuan kewarganegaraana, memahami
tujuan pemerintahan dan prinsip-prinsip dasar konstitusi pemerintahan
Republik Indonesia
a. Mengetahui struktur, fungsi dan tugas pemerintah daerah dan nasional
sebagaimana keterlibatan warga negara membenuk kebijaksanaan
publik
b. Mengetahui hubungan negara dan bangsa Indonesia dengan negara-
negara dan bangsa-bangsa lain beserta masalah-masalah dunia dan atau
internasional
2. Kompetensi untuk menguasai keterampilan kewarganegaraan
a. Mengambil atau menetapkan keputusan yang tepat melalui proses
pemecahan masalah dan inkuiri
b. Mengusasai kekuatan dan kelemahan suatu isu tertentu
c. Membela atau mempertahankan posisi bagi mengemukakan argumen
yang kritis logis dan rasional
d. Memaparkan suatu informasi yang penting pada khalayak umum
e. Membangun koalisi, kompromi, negosiasi, dan consensus(demokrasi)
3. Kompetensi untuk menguasai katrakter kewarganegaraan
a. Memberdayakan dirinya sebagai warga negara yang aktif, kritis dan
bertanggungjawab untuk berpartisipasi secara efektif dan efisien dalam
berbagai aktifitas masyarakat, politik dan pemerintahan dalam semua
tingkat (daerah dan nasional).
b. Memahami bagaimana warga negara melaksanakan peranan, hak dan
tanggung jawab personal untuk berpartisipasi dalam kehidupan
masyarakat pada semua tingkatan (daerah dan nasional).
c. Memahami, menghayati dan menerapkan nilai-nilai budi pekerti,
demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Nasionalisme dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
d. Memahami dan menerapkan prinsip-prinsip hak asasi manusia dalam
kehidupan sehari-hari.

2.3 Fungsi Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
1. Sebagai sarana pembinaan watak bangsa (National Character Building)
dan pemberdayaan warga negara. (Depdiknas, 2006)
2. Sebagai suatu strategi untuk mengembangkan dan melestarikan nilai,
moral pancasila secara dinamis dan terbuka dalam artian bahwa nilai moral
mampu menjawab tantangan yang terjadi di masyarakat tanpa kehilangan
jati diri bangsa yang merdeka dan berdaulat.
10

3. Sebagai suatu solusi untuk mengembangkan dan membina manusia
Indonesia seutuhnya yang sadar politk dan konstitusi Negara kesatuan
Republik Indonesia berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.
4. Sebagai sarana pembinaan penanaman pemahaman dan kesadaran
terhadap hubungan antar warga Negara dan Negara.

2.4 Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
1. Branson (1999:7)
Tujuan civic education adalah partisipasi yang bermutu dan
bertanggung jawab dalam kehidupan politik dan masyarakat baik tingkat
lokal, negara bagian, dan nasional. Tujuan pembelajaran PKn dalam
Depdiknas (2006:49) adalah untuk memberikan kompetensi sebagai berikut:
a. Berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu
Kewarganegaraan
b. Berpartisipasi secara cerdas dan tanggung jawab, serta bertindak secara
sadar dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri
berdasarkan karakter-karakter masyarakat di Indonesia agar dapat hidup
bersama dengan bangsa-bangsa lain.
d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam peraturan dunia secara
langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.
2. Djahiri (1994/1995:10)
Secara umum tujuan PKn harus ajeg dan mendukung keberhasilan
pencapaian Pendidikan Nasional, yaitu : Mencerdaskan kehidupan bangsa
yang mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Yaitu manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti
yang luhur, memiliki kemampuan pengetahuann dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta rasa
tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Secara khusus. Tujuan PKn yaitu membina moral yang diharapkan
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu perilaku yang memancarkan
iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang
terdiri dari berbagai golongan agama, perilaku yang bersifat kemanusiaan
yang adil dan beradab, perilaku yang mendukung kerakyatan yang
mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan perseorangan dan
golongan sehingga perbedaan pemikiran pendapat ataupun kepentingan
diatasi melalui musyawarah mufakat, serta perilaku yang mendukung
upaya untuk mewujudkan keadilan sosial seluruh rakyat Indonesia.
11

3. Sapriya (2001)
Tujuan pendidikan Kewarganegaraan adalah partisipasi yang penuh
nalar dan tanggungjawab dalam kehidupan politik dari warga negara yang
taat kepada nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar demokrasi konstitusional
Indonesia. Partisipasi warga negara yang efektif dan penuh tanggung jawab
memerlukan penguasaan seperangkat ilmu pengetahuan dan keterampilan
intelektual serta keterampilan untuk berperan serta. Partisipasi yang efektif
dan bertanggung jawab itupun ditingkatkan lebih lanjut melalui
pengembangan disposisi atau watak-watak tertentu yang meningkatkan
kemampuan individu berperan serta dalam proses politik dan mendukung
berfungsinya sistem politik yang sehat serta perbaikan masyarakat.
Tujuan umum pelajaran PKn ialah mendidik warga negara agar
menjadi warga negara yang baik, yang dapat dilukiskan dengan warga
negara yang patriotik, toleran, setia terhadap bangsa dan negara, beragama,
demokratis, dan Pancasila sejati (Somantri, 2001:279).
4. Djahiri (1995:10)
Mengemukakan bahwa melalui Pendidikan Kewarganegaraan siswa
diharapkan :
a. Memahami dan menguasai secara nalar konsep dan norma Pancasila
sebagai falsafah, dasar ideologi dan pandangan hidup negara RI.
b. Melek konstitusi (UUD NKRI 1945) dan hukum yang berlaku dalam
negara RI.
c. Menghayati dan meyakini tatanan dalam moral yang termuat dalam butir
diatas.
d. Mengamalkan dan membakukan hal-hal diatas sebagai sikap perilaku diri
dan kehidupannya dengan penuh keyakinan dan nalar.
5. Maftuh dan Sapriya (2005:30)
Mengemukakan tujuan negara mengembangkan Pendiddikan
Kewarganegaraan agar setiap warga negara menjadi warga negara yang
baik (to be good citizens), yakni warga negara yang memiliki kecerdasan
(civics inteliegence) baik intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual;
memiliki rasa bangga dan tanggung jawab (civics responsibility) dan
mampu berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Setelah menelaah pemahaman dari tujuan Pendidikan
Kewarganegaraan, maka dapat saya simpulkan bahwa Pendidikan
Kewarganegaraan berorientasi pada penanaman konsep Kenegaraan dan juga
bersifat implementatif dalam kehidupan sehari-hari. Adapun harapan yang
12

ingin dicapai setelah pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan ini, maka akan
didapatkan generasi yang menjaga keutuhan dan persatuan bangsa.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara sekolah sebagai
wahana pengembangan warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab,
yang secara kurikuler Pendidikan Kewarganegaraan harus menjadi wahana
psikologi-pedagogis yang utama.
Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, sekolah seyogyanya
dikembangkan sebagai pranata atau tatanan social-pedagogis yang kondusif
atau memberi suasana bagi tumbuhkembangnya berbagai kualitas pribadi
peserta didik. Kualitas pribadi ini sangat penting karena akan menjadi bekal
untuk berperan sebagai warga negara yang demokratis serta tanggung jawab,
dengan sikap dan perilakunya dilandasi oleh iman dan takwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, akhlak mulia, kesehatan, ilmu, kecakapan, kreativitas, dan
kemandirian. Oleh karena itu, sekolah sebagai bagian integral dari masyarakat
perlu dikembangkan sebagai pusat pembudayaan dan pemberdayaan peserta
didik sepanjang hayat, yang mampu memberikan keteladanan, membangun
kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran demokratis.
Dengan demikian, secara bertahap sekolah akan menjadi komunitas
yang memiliki budaya yang berintikan pengakuan dan penghormatan terhadap
hak dan kewajiban serta keharmonisan dalam menjalani kehidupan
bermasyarakat yang tertib, adil dan berkeadaban. Dalam kerangka semua itu
matapembelajaran PKn harus berfungsi sebagai wahana kurikuler
pengembangan karakter warga negara Indonesia yang demokratis dan
bertanggungjawab.
Menyadari betapa pentingnya peran PKn dalam proses pembudayaan
dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat, melalui pemberian
keteladanan, pembangunan kemauan, dan pengembangan kreativitas peserta
didik dalam proses pembelajaran maka dengan melalui PKn sekolah perlu
dikembangkan sebagai pusat pengembangan wawasan, sikap, dan ketrampilan
hidup dan berkehidupan yang demokratis untuk membangun kehidupan
demokratis. Pendidikan prasekolahan seyogyanya dikembangkan sebagai
wahana social cultural untuk membangun kehidupan yang demokratis. Hal ini
dapat diartikan bahwa sekolah harus menjadi wahana pendidikan untuk
mempersiapkan kewarganegaraan yang demokratis melalui pengembangan
kecerdasan spiritual, rasional, emosional, dan social warga negara yang baik
sebagai aktor social maupun sebagai pemimpin/kholifah pada hari ini dan hari
esok.
13

Karakter utama warga negara yang cerdas dan baik adalah dimilikinya
komitmen untuk secara konsisten, mau dan mampu memelihara, dan
mengembangkan cita-cita dan nilai demokrasi sesuai perkembangan zaman,
dan secara efektif dan langgeng menangani dan mengelola krisis yang selalu
muncul untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia sebagai bagian integral dari
masyarakat global yang damai dan sejahtera.
Secara garis besar, tujuan Pkn dapat disimpulkan sebagai berikut :
Dalam Lampiran Permendiknas No. 22 Tahun 2006 dikemukakan bahwa
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan merupakan matapelajaran yang
memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warga Negara
Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh
Pancasila dan UUD 1945, sedangkan tujuannya, digariskan dengan tegas agar
peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut:
a. Berfikir secara krisis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu
kewarganegaraan
b. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawa, dan bertindak secara
cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta anti-
korupsi.
c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri
berdasarkan karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup
bersama dengan bangsa-bangsa lain.
d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia secara
langsung atau tidak langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi
dan komunikasi.
Melalui penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum
tujuan Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar adalah sebagai
berikut:
1. Memberikan pengertian, pengetahuan dan pemahaman tentang Pancasila
yang benar dan sah
2. Meletakkan dan membentuk pola pikir yang sesuai dengan Pancasila dan
ciri khas Indonesia
3. Menanamkan nilai-nilai moral Pancasila ke dalam diri anak didik
4. Mengubah kesadaran anak didik sebagai warga negara dan warga
masyarakat Indonesia untuk selalu mempertahankan dan melestarikan
nilai-nilai moral Pancasila tanpa menutup kemungkinan
diakomodasikannya nilai-nilai lain dari luar yang sesuai dan tidak
bertentangan dengan nilai-nilai moral Pancasila terutama dalam
14

menghadapi arus globalisai dan dalam rangka kompetisi dalam pasar
bebas dunia
5. Memberikan motivasi agar dalam langkah laku lampahnya bertindak dan
berperilaku sesuai dengan nilai, moral dan norma Pancasila
6. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi warga negara dan warga
masyarakat Indonesia yang baik dan bertanggung jawab serta mencintai
bangsa dan negaranya (Udin S. Winataputra,2008 :3.8)

2.5 Ruang Lingkup Pendidikan Kewarganegaraan
Berdasarkan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Ruang Lingkup
matapelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk pendidikan dasar dan
menengah secara umum meliputi aspek-aspek sebagai berikut:
Persatuan dan Kesatuan Bangsa, meliputi hidup rukun dalam perbedaan,
cinta lingkungan, kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sumpah pemuda,
Keutuhan Kesatuan Republik Indonesia, partisipasi dalam bela Negara, Sikap
positif terhadap negara Kesatuan Republik Indonesia, keterbukaan dan jaminan
keadilan.
Norma, hukum dan peraturan, meliputi tertib dalam kehidupan keluarga,
sekolah, norma yang berlaku di masyarakat, peraturan-peraturan daerah,
norma-norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sistem hukum dan
peradilan nasional, hukum dan peradilan internasional.
Hak asasi manusia, meliputi hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban
anggota masyarakat, instrument nasional dan internasional HAM, pemajuan,
penghormatan dan perlindungan HAM.
Kebutuhan warga negara, meliputi hidup bergotong royong, harga diri
sebagai warga masyarakat, kebebasan berorganisasi, kemerdekaan
mengeluarkan pendapat, menghargai keputusan bersama, prestasi diri,
persamaan kedudukan warga negara.
Konstitusi negara, meliputi Proklamasi kemerdekaan dan konstitusa yang
pertama, kostitusi yang pernah digunakan Indonesia, hubungan dasar negara
dengan konstitusi.
Kekuasaan dan Politik, meliputi pemerintahan desa dan kecamatan,
pemerintahan daerah dan otonomi pemerintahan pusat, demokrasi dan sistem
politik, budaya politik, budaya demokrasi menuju masyarakat madani, sistem
pemerintahan, pers dalam masyarakan demokrasi.
Pancasila, meliputi kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan
ideologi negara, proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara, pengamalan
15

nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi
terbuka.
Globalisasi, meliputi globalisasi di lingkungannya, politik luar negeri
Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional dan
organisasi internasional dan mengevaluasi globalisasi.

2.6 Tuntutan Pedagogis Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
Istilah Pedagogis diserap dari bahasa Inggris paedagogical. Akar kata
dari paes dan ago (bahasa latin), artinya saya membimbing. Kemudian muncul
istilah paedagogi yang artinya ilmu mendidik atau Ilmu Pendidikan
(Purbakawatja 1956) . Tuntutan pedagogis diartikan sebagai pengalaman belajar
(learning experiences) yang bagaimana diperlakukan untuk mencapai tujuan
Pendidikan Kewarganegaraan, dalam pengertian ketuntasan penguasaan
kompetensi penguasaan kompetesi kewarganegaraan yang tersurat dan tersirat
dalam lingkup dan kompetensi dasar.
Semua kompetensi dasar untuk setiap kelas menuntut prilaku nyata (overt
behavior). Hal ini berarti bahwa konsep dan nilai kewarganegaraan diajarkan
tidak boleh berhenti pada pemikiran semata, tetapi harus terwujudkan dalam
perbuatan nyata. Dengan kata lain PKn menuntut terwujudnya pengalaman
belajar yang bersifat utuh memuat belajar kognitf, belajar nilai dan sikap, dan
belajar prilaku. PKn seharusnya tidak lagi memisah-misahkan domain-domain
prilaku dalam belajar.
Proses pendidikan yang menjadi kepedulian PKn adalah proses
pendidikan yang terpadu utuh, yang juga disebut sebagai bentuk confluent
educatin (Mc.Neil, 1981), tuntutan pedagogis ini memerlukan persiapan mental,
profesionalitas, sosial guru-Murid ysng kohesif.
Guru siap memberi contoh dan menjadi contoh. Ingatlah pada postulat
bahwa Value is neither tough now cought, it is learned (Herman 1966). Nilai
tidak bisa diajarkan ataupun ditangkap sendiri, tetapi dicerna melalui proses
belajar. Oleh karena itu, nilai harus termuat dalam materi Pelaajaran PKn.
PKn mata pelajaran dengan visi utama sebagai pendidikan demokrasi
yang bersifat multidimensional. Ia merupakan pendidikan demokrasi, pendidikan
moral, pendidikan sosial dan masalah pendidikan politik.
PKn dinilai sebagai mata pelajaran yang mengusung misi Pendidikan
Nilai dan Moral dengan alasan sebagai berikut:
1. Materi PKn adalah Konsep - konsep nilai Pancasila dan UUD 1945 beserta
dinamika perwujudan dalam kehidupan masyarakat negara Indonesia.
16

2. Sasaran akhir belajar PKn adalah perwujudan nilai-nilai tersebut dalam
prilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.
3. Proses pembelajaran menuntut terlibatnya emosional, intelektual, dan sosial
dari peserta didik dan guru sehingga nilai-nilai itu bukan hanya dipahami
(bersifat kognitif) tetapi dihayati (bersifat objektif) dan dilaksanakan (bersifat
prilaku).
4. Sebagai pengayaan teoritik, pendidikan nilai dan moral sebagaimana dicakup
dalam PKn tersebut, dalam pandangan Lickona (1992) disebut Educating for
character atau pendidkan watak
Lickona mengartikan watak atau karakter sesuai dengan pandangan
filosof Michael Novak (Lickona 1992 : 50-51). Yakni compatible mix of all
thoese virtues identified sense down traditions , litersry, stories, the sages, and
persons of common sense down through history. Artinya suatu perpaduan yang
harmomis dari berbagai kebijakan yang tertuang dalam keAgamaaan, Sastra,
pandangan kaum,cerdik-pandai dan manusia pada mumnya sepanjang zaman.
Liickona (1992,51) memandang karakter atau watak itu memiliki tiga
unsur yang saling berkaitan yakni: moral knowing, moral feeling, and moral
behavior (Konsep moral, sikap moral, Prilaku moral.




















17

PENUTUP
KESIMPULAN

Pendidikan Kewarganegaraan adalah program pendidikan berdasarkan
nilai-nilai pancasila sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai-
nilai luhur dan moral yang berakar dari budaya bangsa Indonesia yang diharapkan
dapat menjadi jati diri yang diwujudkan dalam bentuk perilaku yang diwujudkan
dalam kehidupan sehari-hari para mahasiswa baik sebagao individu, sebagai calon
guru/pendidik, anggota masyarakat dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar adalah Program
pendidikan berdasarkan nilai-nilai Pancasila sebagai wahana untuk mengembangkan
dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa yang
diharapkan menjadi jati diri yang diwujudkan dalam bentuk perilaku dalam
kehidupan sehari hari, sebuah matapelajaran yang memfokuskan pada pembentukkan
diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, dan suku bangsa
untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang
dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945.
Fungsi Pendidikan kewarganegaraan di Sekolah Dasar adalah sebagai
sarana pembinaan watak bangsa, sebagai suatu strategi untuk mengembangkan dan
melestarikan nilai, moral pancasila secara dinamis dan terbuka , sebagai suatu solusi
untuk mengembangkan dan membina manusia Indonesia seutuhnya yang sadar politk
dan konstitusi Negara kesatuan Republik Indonesia berlandaskan pada Pancasila dan
UUD 1945,serta sebagai sarana pembinaan penanaman pemahaman dan kesadaran
terhadap hubungan antar warga Negara dan Negara.
Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar adalah
memberikan pengertian, pengetahuan dan pemahaman tentang Pancasila yang benar
dan sah, meletakkan dan membentuk pola pikir yang sesuai dengan Pancasila dan ciri
khas serta watak ke-Indonesiaan, menanamkan nilai-nilai moral Pancasila ke dalam
diri anak didik, menggugah kesadaran anak didik sebagai warga negara dan warga
masyarakat Indonesia untuk selalu mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai
moral Pancasila, memberikan motivasi agar dalam setiap langkah laku lampahnya
bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai, moral dan norma Pancasila.,
mempersiapkan anak didik utuk menjadi warga negara dan warga masyarakat
Indonesia yang baik dan bertanggung jawab serta mencintai bangsa dan negaranya.
Ruang lingkup Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar antara lain
Persatuan dan Kesatuan Bangsa, norma, hukum dan peraturan, hak asasi manusia,
kebutuhan warga negara, konstitusi negara, kekuasaan dan Politik, Pancasila dan
globalisasi.
18

Tuntutan Pedagogis Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
antara lain diartikan sebagai pengalaman belajar (learning experiences) yang
bagaimana diperlakukan untuk mencapai tujuan Pendidikan Kewarganegaraan,
dalam pengertian ketuntasan penguasaan kompetensi penguasaan kompetesi
kewarganegaraan yang tersurat dan tersirat dalam lingkup dan kompetensi dasar.

































19

DAFTAR PUSTAKA

Winataputra, Udin S. (2008). Pembelajaran PKn di SD, Jakarta:Universitas Terbuka.
http://h4dyme.wordpress.com/2010/05/17/hakikat-fungsi-dan-tujuan-pendidikan-
kewarganegaraan-di-sd/
http://izzati-site.blogspot.com/2012/10/apa-sich-hakikat-pendidikan.html
http://stkip.files.wordpress.com/2011/05/ppkn1.pdf
http://cenatcenutpgsd.blogspot.com/p/hakikat-dan-fungsi.html
http://senjanuari15.blogspot.com/2012/01/catatan-tentang-uas-pkn.html?m=1
http://stkip.files.wordpresss.com/2011/05/ppkn1.pdf