You are on page 1of 3

Ujung yang kendur pada silinder harus ditekan dengan kuat pada goresan yang

sebelumnya relah dibuat pada sendok cetak didekat papila insisivus. Pegangannya
harus sepenuhnya disatukan dengan sendok cetak.
(Gambar)
Pisau lilin panas dapat digunakan untuk menyatukan dan menghaluskan batas
antara pegangan dan sendok cetak.
(Gambar)
Sendok cetak khusus dan peganngannya harus diamplas agar halus sempurna.
Pegangannya harus selebar 3-4mm, sepanjang 8mm dan setinggi 8mm.
Pemanasan berlebih pada sendok cetak khusus akan mengasilkan asap,
gelembung, noda kehitaman, serta pelarutan dari shellac dan lilin.
Pemanasan berlebih juga dapat menyebabkan shellac meleleh dan mengalir
kedalam pori-pori dari coran.
Sendok cetak seperti ini harus dibuat berjarak 6 jam dari prodesur pencetakan.
Sendok cetak berbahan cold cure acrylic
Bahan ini juga dikenal sebagai resin yang mengalami polimerasi sendiri. Material ini mirip
dengan resin yang digunakan sebagai basis gigi tiruan pada pembuatan akhir gigi tiruan.
Material ini mengeras oleh reaksi kimia dan prosesnya tidak dapat dibalik.
Keunggulan:
- Sangat kuat.
- Beradaptasi dengan baik terhadap coran
- Dapat dipotong untuk mendapat ketebalan yang baik
- Memiliki sifat thermal yang bai
- Mudak dibuat
- Stabilitasnya baik
- Dapat dikerjakan pada suhu rongga mulut
- Biokompatibel
Kerugian:
Tidak dapat diadaptasikan ulang setelah mengeras
Pemotongan dan penyelesaian sangat membuang waktu
Bila terdapat undercut, maka material dapat terkunci disana dan cenderung
menyebabkan coran pecah
Teknik:
Pertama, bebaskan area dan batas batas dari sendok cetak khusus yang telah ditandai. Lilin
pembatas diadaptasikan pada daerah yang telah dibebaskan. Bahan pemisah dioleskan pada
seluruh cetakan dan lilin pemisah. Ada 2 teknik utama yang pada umumnya digunakan pada
pembuatan sendok cetak khusus berbahan akrilik.

Teknik Tabur
Bubuk dan cairan dimasukan pada tempat berbeda. Sejumlah kecil bubuk ditaburkan pada
area tertentu pada coran dan selanjutnya cairan diteteskan diatas bubuk. Tetesan cairan akan
menyebabkan polimerasi pada bubuk. Hal ini dilakukan hingga seluruh tepi dan permukaan
landmark yang diperlukan tertutupi. Keuntungan teknik ini adalah mudah dilakukan dan
sedikit bahan yang terbuang.
(gambar)
Kerugian:
Ketebalan yang merata sulit diperoleh
Terlalu banyak porositas yang mungkin terbentuk diantara material
Membutuhkan waktu lama
Tekni dough
Cairan dan bubuk dicampurkan dalam cawan dengan rasio 3:1. Jika rasio tidak dijaga dan
sedikit monomer yang digunakan maka akan terjadi penyusutan berlebih, porositas, dan
granularitas.
Setelah pencampuran monomer dan polimer, pencampuran melewati 6 tahapan berbeda:
1. Tahapan pertama dinamakan wet sandy stage dimana polimer terendam monomer
2. Selanjutnya adalah early stringy stage dimana bila maerial disentuh terdapat benang-
benang yang menempel pada jari
3. Selanjutnya adalah late stringy stage dimana terdapat benang-benang panjang.
Selama periode late stringi stage manipulasi harus dimulai.
4. Lalu, dough stage. Pada tahap ini, material dapat dikerjakan.
5. Selanjutnya adalah rubbery stage dimana material tidak dapat dimanipulasi lagi.
Mencoba memanipulasi pada saat tahap ini menyebabkan kelentingan berlebih pada
sendok cetak.
6. Selanjutnya adalah stiff stage. material kehilangan elastisitasmya dan menjadi lebih
kaku. Setelah stiff stage, polimerasi hampir selesai.
Prosedur:
Manipulasi selesai dilakukan pada late stringy stage. material diremas
menggunakan tangan untuk mendapat campuran yang homogen.
Lalu material dibentuk menjadi lapisan setebal 2mm. Merataka material dapat
menggunakan roller, atau cetakan plastik atau ditekan diantara 2 lempengan kaca.
Bahan pemisah harus dioleskan pada roller ataupun lempengan kaca untuk
menghidari perlekatan.
Lapisan yang telah diratakan diaplikasikan pada coran mulai dari tengah hingga
tepian coran. Hal ini mencegah material untuk mengeriput.
Harus diperhatikan untuk tidak mengaplikasikan tekanan terlalu besar pada tepian
dikarenakan dapat menyebabkan penipisan sendok cetak
Material berlebih harus dipotong menggunakan pisau sebelum material mengeras.
Setelah pemotongan bagian yang berlebih, material harus ditahan pada posisinya
dikarenakan penyusutan dan melenting dapat terjadi selama proses polimerasi