You are on page 1of 11

KONFLIK STRUKTUR PERAN

DALAM KELUARGA
Definisi
Konflik terjadi ketikaa okupan dari suatu posisi merasa bahwa ia berkonflik dengan harapan-harapan
yang tidak sesuai. Sumber dari ketidakseimbangn trsebut boleh jadi disebabkan oleh adanya
perubahan-perubahan dalam harapan yang terjadi dalam diri pelaku, orang lain, atau dalam
lingkungan.
Konflik antar peran adalah konflik yang terjadi jika pola-pola perilaku atau norma-norma dari satu
peran tidak kongruen dengan peran lain yang dimainkan secara bersamaan oleh individu.
Tipe Konflik Peran
1) Konflik antar peran terjadi ketika peran yang kompleks dari seorang individu yaitu sekelompok
peran yang ia mainkan, termasuk sejumlah peran yang tidak seimbang. Tipe konflik ini disebabkan
oleh ketidakseimbangan perilaku-perilaku yang berkaitan dengan berbagai peran atau besarnya
tenaga berlebihan yang dibutuhkan oleh peran-peran ini, miisalnya dalam kasus keluarga dimana
peran sebagai siswa, penjaga rumah, memasak, perkawinan, perawatan anak dilaksanakan
sekaligus.
2) Konflik peran antar pengirim, didalamnya terdapat dua orang atau lebih yang memegang
harapan-harapan yang berkonflik, menyangkut pemeranan suatu peran. Ilustrasi tentang tipe konflik
kedua ini adalah adanya harapan-harapan yang berkonflik menyangkut bagaimana peran
seseorang, seperti seorang perawat professional harus ditunjukkan.
3) Person Role Conflict, tipe ini meliputi suatu konflik antara nilai-nilai ingternal individu dan nilainilai eksternal yang dikomunikasikan kepada perilaku oleh orang lain, dan melemparkan pelaku
kedalam situasi yyang penuh dengan stress peran.
Dimensi-dimensi Normatif Peran
Peran-peran didefinisikan secara normatif atau kultur adalah budaya dimana seseorang
berpartisipasi atau dimana individu mengidentifikasi ketentuan-ketentuan dan larangan-larangan
perilaku okupan-okupan dari berbagai posisi. Akan tetapi tidak semua peran keluarga bersifat
normatif secara merata. Beberapa peran keluarga lebih terkristalisasi sebagai perilaku yang
diharapkan daripada yang lain.
Kebersamaan Peran
Kebersamaan peran (Role Sharing menunjuk pada keikutsertaan atau partisipasi dari dua orang
atau lebih dalam peran-peran yang sama meskipun mereka memegang peran yang sama. Strukturstruktur peran yang dipisahkan secara tajam merupakan hal tidak lazim dalam keluarga sekarang.
Misalnya interaksi social yang dilakukan olah seorang anak harus mendapatkan partisipasi dari
segenap anggota keluarga, guru dan lingkungan.
Pemeranan (Role Taking)

Agar anggota keluarga dapat memainkan peran-peran, mereka harus mampu membayangkan diri
mereka dalam peran dari lawan peran, pasangan mereka, dengan cara ini anggota keluarga dapat
mendelegasikan suatu peran kepada orang lain dan juga memahami lebih baik bagaimana mereka
harus berperilaku dalam peran-peran mereka sendiri.
Peran Formal Keluarga
1. Posisi formal
a. Ayah/suami
b. Istri/ibu
c. Anak laki-laki/saudara laki-laki
d. Anak perempuan/saudara perempuan
2. Posisi Normatif
a. Suami/ayah sebagai pencari nafkah
b. Istri/ibu sebagai pengurus rumah tangga
Dalam keluarga dengan orang tua tunggal ibu biasanya memainkan peran sebagai ibu dan ayah
tanpa peran dari suami. Dalam keluarga dengan orang tiri suami biasanya akan memainkan peran
suami/ayah, tapi karena anak-anak secara biologis bukan anaknya maka peran ayah merupakan
sebuah peran pura-pura.
Peran Parental dan Perkawinan
Terdapat enam peran yang membentuk posisi social sebagai suami / ayah dan istri/ibu :

Peran sebagai provider (penyedia)


Peran sebagai pengaturrumah tangga
Peran perawatan anak
Peran sosialisasi anak
Peran rekreasi
Peran persaudaraan (memelihara hubungan keluarga paternal dan maternal)

Peran terpeutik (memenuhi kebutuhan afektif pasangan)


Peran seksual
Peran Perkawinan dan Tipe-Tipe perkawinan
Pentingnya hubungan yg harmonis pasangan suami istri merupakan suat kebutuhan yang tidak bisa
dielakkan. Keberadaan anak-anak dapat mempengaruhi kondisi ini, dimana suami dan istri dapat
membangun suatu koalisi dengan salah sorang anaknya. Memelihara suatu hubungan perkawinan
yang memuaskan merupakan salah satu tugas perkembangan yang vital dari keluarga , karena
keluarga berkembang dalam siklus kehidupan keluarga.

Perubahan-perubahan Peran keluarga Kontemporer


Peran-peran anggota keluarga telah menjadi lebih bervariasi, fleksibel dan kompleks. Dimasa lalu,
ada pekerjaan wanita dan pekerjaan laki-laki kebersamaa peran hanya sedikit saja kecuali dalam
kondisi-kondisi khusus. Keluarga pada waktu itu hidup menurut aturan-aturan yang dibentuk secara
kultur, relative kaku yang dipertahankan oleh tekanan-tekanan social dan moral dari seluruh
masyarakat. Saat ini, banyak sekali variasi dalam peran kedua jenis kelamin nampaknya dapat
dijalankan dengan mudah. Harapan dan praktik amat jauh berbeda. Dalam satu keluarga, anggota
keluarga yang dewasa diharapkan dapat bekerjasama dan sama-sama memikul semua urusan dan
tanggungjawab keluarga; pada keluarga yang lain, peran-peran tradisional diharapkan dan
dilaksanakan, namun dalam situasi yang lain keluarga dengan orang tua tunggal, orang dewasa
menerima peran dari kedua orang tua ( sebagai ayah dan ibu).
Peran pria / ayah dalam Keluarga
Pada kondisi ayah dan ibu bekerja, peran tradisional ibu dalam keluarga berubah fungsi hal ini
mengakibatkan timbulnya konflik peran dalam keluarga sampai terjadi perceraian. Perceraian
menyebabkan timbulnya konflik baru terjadi perpisahan ayah dan anak karena anak lebih sering
pada ibunya.
3 teori fungsi peran ayah menurut Kennedy dalam keluarga, yaitu sebagai pengamat moral, pencari
nafkah dan peran seks. Sebagai pengamat moral seorang ayah dianggap sebagai icon
kepemimpinan moral dalam keluarga. Sebagai pencari nafkah seorang ayah tidak terlibat dalam
perawatan anak, anak-anak dirawat oleh ibunya. Sebagai peran seks seorang ayah berperan
membentuk identitas anak laki-laki.
Peran Seksual Perkawinan
Diwaktu dulu seoarang pria memiliki untuk menentukan kegiatan seksual dengan istri mereka tetapi
tidak merasa mempunyai kewajiban ikut prihatin terhadap perasaan puas istri. Tetapi sekarang hak
wanita untuk mendapatkan kenikmatan hubungan seksual dan pemerataannya semakin penting,
dan sifat peran seksual bagi kedua pasanganpun berubah (napier,1988)
Peran Ikatan keluarga (Kin Keeping)
Wanita merupakan penerus keturunan (memiliki peran dalam mengikat hubungan keluarga)
termasuki memelihara komunikasi, mempermudah komunikasi, mempermudah kontak dan tukar
menukar barang dan jasa serta memantau hubungan keluarga.
Peran Kakek/Nenek
Peran ini cukup menyenangkan namun belum diketahui pengaruh yang signifikan terhadap perilaku
cucunya. Fungsi peran ini dipengaruhi oleh usia, etnis, kelas sosial dan gender. Dalam hal
mengasuh cucu kakek dan nenekk banyak terlibat dalam pengasuhan cucu mereka pada saat
kedua orang tuanya bercerai khususnya jika kakek dan nenek ini masih muda.
Masalah Masalah Perubahan Peran

Status dan peran-peran terkait lain dari individu dalam sebuah keluarga akan mengalami
perubahan-perubahan nmelalui berbagai cara yang langsung dalam siklus kehidupan keluarga dan
dalam kedua keluarga ( keluarga orientasi dan keluarga parenthood). Perubahan dalam hubunganhubungan peran, harapan-harapan peran, dan kemampuan menunjuk kepada transisi peran
(Meleis, 1975). Transisi-transisi peran berlangsung pada damarkasi kehidupan keluarga, misalnya
pada perkawinan, perceraian, kematian orang tua atau pasangan, dan juga agak lebih kabur
sebagai suatu respon berkelanjutan terhadap pengalaman hidup. Suatu perubahan peran yang
dialami oleh seorang anggota keluarga memaksa perubahan peran pelengkap pada anggota
keluarga lain.
Harus diakui bahwa munculnya perubahan peran dalam keluarga tidak akan datang tanpa
melibatkan pengalaman seseorang yang memilukan. Keluarga sering mengalami stress yang
signifikan selama peran transisi. Ketika individu-individu menyimpang dari harapan-harapan peran
normatf dan atau mengambil peran baru, boleh jadi mereka kurang memiliki persiapan untuk
memerankan peran tersebut dan sosialisasi sebelumnya secara menyenangkan dan adekuat.
Disamping itu, kurangnya latihan yang diperluakan, seseorang anggota keluarga tidak boleh berfikir
bahwa peran-peran baru tersebut telah memenuhi keinginan-keinginannya atau kebutuhankebutuhannya. Perubahan peran yang diakibatkan kehadiran seorang bayi, pekerjaan istri, suami
menganggur, perceraian, realokasi keluarga, dapat menciptakn peran yang membingungkan,
cemas, dan ketidakbahagian dalam keluarga dan bias jadi mempertinggi konflik dalam keluarga
menurut Aldous (19740 dalam buku Fredman.
Perubahan peran diperluakn karena kehadiran bayi merupakn sebuah contoh. Menurut Ventura
(1987) dalam buku Freedman, menyatakan dalam sebuah studi kualitatif terhadap pasangan kelas
menengah, ia menemukan bahwa 35% istri yang pertama kali menjadi seorang ibu dan 65% pria
yang pertama kali menjadi ayah mengatakan bahwa mereka merasa stress karena tuntutan peran
multiple. Data yang dikumpulkan pada tiga bulan setelah partus. Para ibu menjalankan peran
parenting dengan jadwal pekerjaan dan pekerjaan dirumah dan hanya menyiksan waktu sangat
sedikit bagi mereka. Para ayah menggambarkan stress tersebut dikaitkan dengan karier dan
tanggung jawab.

Variabel-Variabel Yang Mempengaruhi Struktur Peran


1.

Perbedaan Kelas Sosial

a.

Keluarga kelas bawah

Fungsi kehidupan keluarga dalam hubungannya dengan peran-peran keluarga sudah pasti
dipengaruhi oleh tuntutan dan kepentingan yang ada pada keluarga. Keluarga dengan orang tua
tunggal merupakan jumlah terbesar dari bentuk tipe keluarga miskin. Tiga puluh persen dari semua
keluarga dengan orang tua tunggal hidup dalam kepapaan. ( Getman et al, 1985)

1)

Peran Perkawinan

Stabilitas peran perkawinan dalam status kelas bawah jauh lebih genting daripada kelas social
lainnya, dengan masalah perceraian dua kali lebih besar dari pada kelompok kelass menengah.
Tingginya tingkat pengangguran pada kelompok masyarakat miskin merupakan suatu stressor
utama dalam hubungan perkawinan. Dalam kebanyakan keluarga miskin terdapat suatu demokrasi
menyolok menyangkut peran keluarga, atas dasar apa pekerjaan berada didalam atau diluar rumah.
Garis kekuasan yang kokoh ini berfungsi untuk memperkuat jarak emosional pasangan.
2)

Peran-peran Parental

Karena secara khusus kebutuhan afektif dan social tidak dipenuhi oleh suami mereka, mereka
membuat pelarian emosional lebih dekat kepada anak-anak sebagai kompensasi terhadap
kerenggangan emosional. Disini munculah suatu kedekatan yang lebih antar ibu dan anak-anak.
Focus peranan parenting dalam keluarga miskin adalah terletak pada pencapaian pemeliharan
fungsi , menyediakan nafkah bagi anak, menjamin agar mereka agar mereka makan, istirahat yang
cukup. Mandi, dan pergi kesekolah pada waktunnya dan terletak pada penegakan aturan dan
disiplin di rumah.
3)

Peran kakak/ adik

Ketika anak telah beranjak dewasa peran seorang kakak atau adik (sibling role) mendapat arti yang
penting sebagai suatu pelaku yang bersosialisasi ,berbeda dengan keluarga kelas menengah. Jika
terjadi kegagalan berkomunikasi di antara orang tua dan anak-anak, subsistem peran kakak/adik
cenderung mendorong adanya ekspresi posisi terhadap control parental.
b.

Keluarga Pekerja dan Keluarga Kelas Menengah

Menurut Komarovsky (19640 dalam, buku fredman , menyatakan semakain tinggi pendidikan suami
maka semakin besar keakraban dan keharmonisan dalam perkawinan. Keluarga kelas pekerja
cebderung memiliki peran keluarga yang lebih didasarkan pada tradisi dari nperan keluarga kelas
menengah, suami lebih berkuasa dalam peran sebagai kepala keluarga. Perencanan dalam
keluarga dilakukan secara bersama-sama pada kelas menengah karena status pendidikan mereka.
Keluarga kelas menengah umumnya mengasuh anak merupakan sebuah peran yang dipikul secara
bersama-sama, berbeda dengan keluarga menengah. Kalangan kelas menengah lebih
memperhatikan perkembangan psikologis, perbedaan individu, kemandirian dan percaya diri anak
mereka, sifat-sifat ini didorong untuk keberhasilan hidup dalam bekerja.
2.

Bentuk Bentuk Keluarga

a.

Peran dalam keluarga dengan orang tua tunggal

Peran orang tua tunggal semakin banyak, hal ini disebabkan perceraian, kelahiran diluar perceraian
dan penyelewengan oleh pasangan. Kebanyakan keluarga dengan orang tua tunggal dikepalai oleh
ibu. dua ciri peran yang menonjol dari keluarga ini adalah (1) peran yang berlebihan dan konflikkonflik peran dan (2) perubahan-perubahan peran dalam keluarga orang tua tunggal. Orang ini
harus berperan double sebagai ibu dan ayah, selain itu tidak adanya dukungan dari status
perkawinan, sehingga dibebani oleh konflik-konflik peran. Karena kebanyakan orang tua tunggal
juga bekerja maka ditemukan adanya tekanan menyangkut peran keluaga maupun pekerjaan dan
menurunnya tingkat keadaan sehat.
b.

Peran dalam keluarga dengan orang tua tiri

Keluarg-keluarga dengan orang tua tiri beresiko memiliki masalah serius lebih tinggi dibandingkan
dengan keluarga orang tua tunggal. Salah satu alasan utama.dari hall ini adalah semakin besarnya
kompleksitas yang masuk dalam penyatuan seorang seorang ayah tiri ke dalam sebuah keluarga
yang telah terbentuk, ditambah dengan kesetian campuran sebagai istri-ibu kepada suami baru di
satu pihak dan anak-anak dipihak lain.
Ketika orang tua masuk ke daalm suaru hubungan dimana ayah tiri menjadi kepala keluarga yang
diman ia bukan orang tau murni, maka akan terjadi perubahan nilai dan aturan yang akan menjadi
persoalan.
3.

Latar Belakang Keluarga

Norma dan niali sangat mempengaruhi bagaimana peran dilaksanakan dalam sebuah keluarga
tertentu. Dalam sejumlah budaya, peran formal keluarga dilaksanakan oleh anggota keluarga besar
yang memegang posisi dari keluarga lain. Karena banyak sekali pasangan nikah yang secara kultur
bersifat heterogen, sebuah masalah utama dalam tipe keluarga ini biasanya ketidak kongruennya
peran, karena perbedaan latar belakang budaya pasangan dan karena harapan terhadap peran
yang dimiliki berbeda.
4.

Tahap Siklus Kehidupan Keluarga

Cara yang digunakan oleh keluarga untuk melaksanakan peran berbeda-beda dari satu tahap siklus
kehidupan keluarga ke tahap yang lain. Peran parental sebagai contoh yang sangat jelas. Menjadi
orang tua dari seorang bayi harus mampu memberikan perawatan 24 jam, sementara menjadi orang
tua bagi remaja yaitu orang tua tidak boleh mengekang melainkan memberikan dukungan karena
remaja berbeda dengan bayi.
5.

Model-Model Peran

Hal yang memberiakan manfaat ketika seorang anggota keluarga menunjukan dan mengalami
masalah peran. dan konflik adalah mengkaji model peran dari anggota keluarga. Hal ini bertujuan
untuk menemukan kehidupan awal keluarga, saat seorang individu mempelajari peranannya dan

bagaiman pengalaman awal terjadi. Sangatlah penting memperhatiakan aspek-aspek


intergenarasional dari peran-peran parental dan perkawinan.

Asuhan Keperawatan Keluarga


Pengkajian
Pengkajian terhadap peran-peran keluarga semata-mata berfokus pada karakteristik struktur peran
formal dan informal, ditambah lagi dengan suatu pertimbangan bagaimana faktor-faktor sosiokultural
dan situasional mempelajari struktur peran keluarga. Terdapat empat bidang yang menjadi sasaran
kajian struktur peran keluarga.
1. Struktur peran formal
2. Struktur peran informal dan jenis-jenis hubungan
3. Model-model peran
4. Variabel-variabel yang mempelajari struktur
Struktur Peran Formal
Setiap posisi peran-peran anggota keluargadan digambarkan dengan mengemukakan pertanyaanpertanyaan sebagai berikut :
1. Posisi-posisi dan peran-peran formal apa yang setiap anggota penuhi? Gambarkan bagaimana
setiap anggota keluarga melaksanakan peran-peran formalnya.
2. Apakah peran-peran dapat diterima dan konsisten terhadap harapan-harapan anggota keluarga
dan keluarga? Apakah ada konflik?
3. Bagaimana para anggota keluarga melaksanakan peran mereka masing-masing?
4. Apakah ada fleksibilitas dalam peran jika dibutuhkan?
Struktur Peran Informal
Pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan bidang ini adalah :
1. Peran-peran informal dan peran-peran tersamar apa yang terdapat dalam keluarga, siapa yang
memerankan, dan bagaimana peran-eran tersebut dilaksanakan secara konsisten dan sering?
Apakah anggota memainkan peran-peran tersebut secara samar-samar, berbeda dengan mereka
yang memiliki posisi dalam keluarga menuntut yang mereka perankan?
2. Apakah maksud dan tujuan dari peran-peran yang tersamar atau informal?

3. Jika peran-peran informal dalam keluarga bersifat disfungsional, siapa pelaksana peran-peran ini
dalam generasi sebelumnya?
4. Apa pengaruhnya terhadap individu yang memainkan peran-peran keluarga yang disfungsional
ini?
Model-Model Peran
1. Siapa saja yang menjadi model yang mempengaruhi anggota keluarga dalam kehidupan awal
mereka, siapa yang memberikan sikap/perasaan dan nilai-nilai misalnya tentang perkembangan,
pengalaman-pengalaman baru dan tekhnik-tekhnik komunikasi?
2. Secara spesifik, siapa yang bertindak sebagai model peran (role model) bagi pasangan-pasangan
dalam peran mereka sebagai orang tua, dan sebagai pasangan perkawinan, dan seperti apakah
mereka itu? Dari informasi ini seorang anggota keluarga dapat dibantu untuk melihat bagaimana
model-model yang lalu mempengaruhi harapan-harapan dan tingkah lakunya
3. Apa pengaruhnya terhadap individu yang memainkan peran-peran ini? (Hartman dan Laird,
1983).
Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Struktur Peran
1. Pengaruh kelas sosial, bagaimana latar belakang kelas sosial mempengaruhi struktur peran
informal dan formal dalam keluarga.
2. Pengaruh kebudayaan, bagaimana struktur peran dari keluarga dipengaruhi oleh latar belakang
budaya dan religi keluarga?
3. Pengaruh perkembangan dan siklus kehidupan, apakah perilaku peran anggota keluarga secara
perkembangan dianggap cocok?
4. Kejadian situasional, termasuk perubahan-perubahan sehat dan sakit
a. Bagaimana masalahmasalah kesehatan mempengaruhi peran-peran keluarga? Realokasi peran
dan tugas apa yang telah terjadi?
b. Bagaimana anggota keluarga yang telah menerima peran-peran baru menyesuaikan diri? Apakah
ada bukti bahwa stress peran dan/atau konflik-konflik peran disebabkan oleh peran-peran ini?
3. Bagaimana anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan bereaksi terhadap suatu
perubahan atau hilangnya suatu peran-peran?

Diagnosa Keperawatan Keluarga


Diagnosa Keperawatan Nanda Yang Berhubungan Dengan

Masalah-Masalah Peran/Transisi Peran

Diagnosa Keperawatan
NANDA

Masalah-Masalah Peran

1.

Berduka yang diantisipasi

Yang berhubungan dengan


kehilangan peran

2.

Berduka disfungsional

Yang berhubungan dengan


ketegangan peran

3.

Isolasi social

Yang berhubungan dengan


perubahan peran

4.

Perubahan dalam proses keluarga

Yang berhubungan dengan konflik


peran

5.

Potensial perubahan dalam


parenting

Yang berhubungan dengan


kelebihan beban peran

6.

Perubahan dalam parenting

Yang berhubungan dengan


perubahan peran

7.

Perubahan kinerja peran

Yang berhubungan dengan


kehilangan dan ketegangan peran

8.

Kerusakan penatalaksanaan
pemeliharaan rumah

Yang berhubungan dengan


kegagalan peran atau kesengajaan
peran

Gangguan citra tubuh

Yang berhubungan dengan


kehilangan peran

Diagnosa koping keluarga

Yang berhubungan dengan


insufisiensi peran dan abiguitas
peran

NO.

9.

10.

Intervensi Keperawatan Keluarga


Johnson (1986) meringkas intervensi-intervensi keperawat umum yang cocok untuk transasi peran
dan masalah-masalah peran. Ia maksudkan intervensi-intervensi sebagai strategi-strategi teori
peran. Strategi-strategi teori peran dari Johnson ini meliputi :
1. Membantu anggota keluarga mengidentifikasi isyarat-isyarat dari anggota keluarga yang lain
(misalnya mengajarkan orang tua bagaimana membedakan tangisan karena lapar dan tangisan
minta perhatian dari bayi baru lahir).

2. Menjelaskan harapan-harapan dari peran-peran yang dibutuhkan (anggota keluarga


mengidentifikasi harapan-harapan mereka terhadap peran-peran baru).
3. Memperkuat kemampuan anggota keluarga untk memerankan sebuah peran baru.
4. Memberikan penghargaan untuk perilaku peran baru
5. Membantu anggota keliuarga memodifikasi peran baru dengan membantunya melihat bagaimana
peran tersebut selaras dengan kompleks perannya.
6. Memberikan penguatan terhadap umpan balik dari orang-orang lain yang relevan
Intervensi-Intervensi Tekanan Peran
Beberapa cara untuk menghadapi ketegangan peran telah dikemukakan. Perawat keluarga dapat
mengeksplorasi pilihan-pilihan berikut ini bersama anggota keluarga yang mengalami ketegangan
peran :
1. Mendefinisikan kembali peran yang berkaitan dengan perilaku apa yang dianggap sebagai
penampilan peran yang adekuat.
2. Menguji kompleks peran seorang individu (berbagai peran yang dimainkan oleh seorang okupan
peran) dan prioritas setting di dalam sebuah peran atau dalam berbagai peran.
3. Tawar menawar peran atau negosiasi peran dengan pasangan peran sebagai okupan peran
mencapai sejumlah posisi tertentu yang secara kolektif relative adil dan menguntungkan. Negosiasi
peran termasuk mempengaruhi anggota peran keluarga tertentu sehingga mereka setuju dengan
perubahan-perubahan dalam peran alokasi sumber-sumber.
4.Berkurang interaksi dengan pasangan peran. Jika partner peran memiliki interdependensi yang
tinggi satu sama lain, maka cara ini biasanya menimbulkan kegagalan dalam tawar-menawar peran
dan role distance. Penarikan diri secara partial dari interaksi tidak dapat menyembuhkan stres peran
(Hardy, 1998).
Intervensi untuk Konflik Peran
Intervensi-intervensi konflik peran meliputi konflik intraperan dan antarperan. Garis-garis pedoman
untuk masalah ini adalah :
1. Setelah mulai mengintervensi, rencanakan strategi-strategi untuk mengurangi atau memecahkan
konlik peran. Untuk melakukan ini, tentukan sumber-sumber stress dan jenis konflik peran.
2. Berikan dorongan untuk mengungkapkan perasaan frustasi terhadap konflik peran.
3. Memberikan dorongan kepada anggota keluarga untuk mendiskusikan perasaan mereka tentang
peran-peran yang masih dalam pertanyaan.

4. Memberikan dorongan kepada anggota keluarga untuk mendiskusikan perasaan dan persepsi
mereka secara bersama-sama dan pemecahan masalah atas nama mereka sendiri.
5. Membantu keluarga menyusun prioritas-prioritas.
6. Ketimpangan peran-peran membutuhkan anggota keluarga bertemu. Perawat yang bertindak
sebagai fasilitator, memberikan dorongan kepada anggota keluarga untuk mengeksplorasi
ketimpangan-ketimpangan peran dan mengajukan suatu alokasi peran yang berbeda atau mungkin
pula harapan-harapan peran yang berbeda.