You are on page 1of 7

ARTIKEL ILMIAH KIMIA

NAMA:HARDIANSYAH

Apa komposisi dari minyak bumi?


Kata Kunci: aspaltin, besi, butana, fraksinasi, gasoline, halogen, hidrokarbon, isomer,
katalis, kilang, klorida, logam, merkaptan, minyak bumi, naften, natrium, nikel, nitrogen, oil,
oksigen, olefin, organik, parafin, sulfur, tembaga, vanadium
Ditulis oleh EG Giwangkara S pada 24-05-2007
Oleh EG Giwangkara S.
Minyak bumi adalah campuran komplek hidrokarbon plus senyawaan organik dari Sulfur,
Oksigen, Nitrogen dan senyawa-senyawa yang mengandung konstituen logam terutama
Nikel, Besi dan Tembaga.
Minyak bumi sendiri bukan merupakan bahan yang uniform, melainkan berkomposisi yang
sangat bervariasi, tergantung pada lokasi, umur lapangan minyak dan juga kedalaman sumur.
Dalam minyak bumi parafinik ringan mengandung hidrokarbon tidak kurang dari 97 %
sedangkan dalam jenis asphaltik berat paling rendah 50 %.
Komponen Hidrokarbon
Perbandingan unsur-unsur yang terdapat dalam minyak bumi sangat bervariasi. Berdasarkan
atas hasil analisa, diperoleh data sebagai berikut :

Karbon : 83,0-87,0 %
Hidrogen : 10,0-14,0 %
Nitrogen : 0,1-2,0 %
Oksigen : 0,05-1,5 %
Sulfur : 0,05-6,0 %

Komponen hidrokarbon dalam minyak bumi diklasifikasikan atas tiga golongan, yaitu :

golongan parafinik
golongan naphthenik
golongan aromatik
sedangkan golongan olefinik umumnya tidak ditemukan dalam crude oil, demikian
juga hidrokarbon asetilenik sangat jarang.

Crude oil mengandung sejumlah senyawaan non hidrokarbon, terutama senyawaan Sulfur,
senyawaan Nitrogen, senyawaan Oksigen, senyawaan Organo Metalik (dalam jumlah
kecil/trace sebagai larutan) dan garam-garam anorganik (sebagai suspensi koloidal).

Senyawaan Sulfur
Crude oil yang densitynya lebih tinggi mempunyai kandungan Sulfur yang lebih tinggu pula.
Keberadaan Sulfur dalam minyak bumi sering banyak menimbulkan akibat, misalnya dalam
gasoline dapat menyebabkan korosi (khususnya dalam keadaan dingin atau berair), karena
terbentuknya asam yang dihasilkan dari oksida sulfur (sebagai hasil pembakaran gasoline)
dan air.
Senyawaan Oksigen
Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah kurang dari 2 % dan menaik dengan
naiknya titik didih fraksi. Kandungan oksigen bisa menaik apabila produk itu lama
berhubungan dengan udara. Oksigen dalam minyak bumi berada dalam bentuk ikatan sebagai
asam karboksilat, keton, ester, eter, anhidrida, senyawa monosiklo dan disiklo dan phenol.
Sebagai asam karboksilat berupa asam Naphthenat (asam alisiklik) dan asam alifatik.
Senyawaan Nitrogen
Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangat rendah, yaitu 0,1-0,9 %.
Kandungan tertinggi terdapat pada tipe Asphalitik. Nitrogen mempunyai sifat racun terhadap
katalis dan dapat membentuk gum / getah pada fuel oil. Kandungan nitrogen terbanyak
terdapat pada fraksi titik didih tinggi. Nitrogen klas dasar yang mempunyai berat molekul
yang relatif rendah dapat diekstrak dengan asam mineral encer, sedangkan yang mempunyai
berat molekul yang tinggi tidak dapat diekstrak dengan asam mineral encer.
Konstituen Metalik
Logam-logam seperti besi, tembaga, terutama nikel dan vanadium pada proses catalytic
cracking mempengaruhi aktifitas katalis, sebab dapat menurunkan produk gasoline,
menghasilkan banyak gas dan pembentukkan coke. Pada power generator temperatur tinggi,
misalnya oil-fired gas turbine, adanya konstituen logam terutama vanadium dapat
membentuk kerak pada rotor turbine. Abu yang dihasilkan dari pembakaran fuel yang
mengandung natrium dan terutama vanadium dapat bereaksi dengan refactory furnace (bata
tahan api), menyebabkan turunnya titik lebur campuran sehingga merusakkan refractory itu.
Agar dapat diolah menjadi produk-produknya, minyak bumi dari sumur diangkut ke Kilang
menggunakan kapal, pipa, mobil tanki atau kereta api. Didalam Kilang, minyak bumi diolah
menjadi produk yang kita kenal secara fisika berdasarkan trayek titik didihnya (distilasi),
dimana gas berada pada puncak kolom fraksinasi dan residu (aspal) berada pada dasar kolom
fraksinasi.
Setiap trayek titik didih disebut Fraksi, misal :
0-50C : Gas
50-85C : Gasoline
85-105C : Kerosin
105-135C : Solar
> 135C : Residu (Umpan proses lebih lanjut

Jadi yang namanya minyak bumi atau sering juga disebut crude oil adalah merupakan
campuran dari ratusan jenis hidrokarbon dari rentang yang paling kecil, seperti metan, yang
memiliki satu atom karbon sampai dengan jenis hidrokarbon yang paling besar yang
mengandung 200 atom karbon bahkan lebih.
Secara garis besar minyak bumi dikelompokkan berdasarkan komposisi kimianya menjadi
empat jenis, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Parafin
Olefin
Naften
Aromat

Tetapi karena di alam bisa dikatakan tidak pernah ditemukan minnyak bumi dalam bentuk
olefin, maka minyak bumi kemudian dikelompokkan menjadi tiga jenis saja, yaitu Parafin,
Naften dan Aromat.
Kandungan utama dari campuran hidrokarbon ini adalah parafin atau senyawa isomernya.
Isomer sendiri adalah bentuk lain dari suatu senyawa hidrokarbon yang memiliki rumus
kimia yang sama. Misal pada normal-butana pada gambar berikut memiliki isomer 2-metil
propana, atau kadang disebut juga iso-butana. Keduanya memiliki rumus kimia yang sama,
yaitu C4H10 tetapi memiliki rumus bangun yang berbeda seperti tampak pada gambar.
Jika atom karon (C) dinotasikan sebagai bola berwarna hitam dan atom hidrogen (H)
dinotasikan sebagai bola berwarna merah maka gambar dari normal-butan dan iso-butan akan
tampak seperti gambar berikut :

Senyawa hidrokarbon normal sering juga disebut sebagai senyawa hidrokarbon rantai lurus,
sedangkan senyawa isomernya atau iso sering juga disebut sebagai senyawa hidrokarbon
rantai cabang. Keduanya merupakan jenis minyak bumi jenis parafin.
Sedangkan sisa kandungan hidrokarbon lainnya dalam minyak bumi adalah senyawa sikloparafin yang disebut juga naften dan/atau senyawa aromat. Berikut adalah contoh dari sikloparafin dan aromat.

Keluarga hidrokarbon terebut diatas disebut homologis, karena sebagian besar kandungan
yang ada dalam minyak bumi tersebut dapat dipisahkan kedalam beberapa jenis kemurnian
untuk keperluan komersial. Secara umum, di dalam kilang minyak bumi, pemisahan
perbandingan kemurnian dilakukan terhadap hidrokarbon yang memiliki kandungan karbon
yang lebih kecil dari C7. Pada umumnya kandungan tersebut dapat dipisahkan dan
diidentifikasi, tetapi hanya untuk keperluan di laboratorium.
Campuran siklo parafin dan aromat dalam rantai hidrokarbon panjang dalam minyak bumi
membuat minyak bumi tersebut digolongkan menjadi minyak bumi jenis aspaltin.
Minyak bumi di alam tidak pernah terdapat dalam bentuk parafin murni maupun aspaltin
murni, tetapi selalu dalam bentuk campuran antara parafin dan aspaltin. Pengelompokan
minyak bumi menjadi minyak bumi jenis parafin dan minyak bumi jenis aspaltin berdasarkan
banyak atau dominasi minyak parafin atau aspaltin dalam minyak bumi. Artinya minyak
bumi dikatakan jenis parafin jika senyawa parafinnya lebih dominan dibandingkan aromat
dan/atau siklo parafinnya. Begitu juga sebaliknya.
Dalam skala industri, produk dari minyak bumi dikelompokkan berdasarkan rentang titik
didihnya, atau berdasarkan trayek titik didihnya. Pengelompokan produk berdasarkan titik
didih ini lebih sering dilakukan dibandingkan pengelompokan berdasarkan komposisinya.
Minyak bumi tidak seluruhnya terdiri dari hidrokarbon murni. Dalam minyak bumi terdapat
juga zat pengotor (impurities) berupa sulfur (belerang), nitrogen dan logam. Pada umumnya
zat pengotor yang banyak terdapat dalam minyak bumi adalah senyawa sulfur organik yang
disebut merkaptan. Merkaptan ini mirip dengan hidrokarbon pada umumnya, tetapi ada
penambahan satu atau lebih atom sulfur dalam molekulnya, seperti pada gambar berikut :

Senyawa sulfur yang lebih kompleks dalam minyak bumi terdapat dalam bentuk tiofen dan
disulfida. Tiofen dan disulfida ini banyak terdapat dalam rantai hidrokarbon panjang atau
pada produk distilat pertengahan (middle distillate).
Selain itu zat pengotor lainnya yang terdapat dalam minyak bumi adalah berupa senyawa
halogen organik, terutama klorida, dan logam organik, yaitu natrium (Na), Vanadium (V) dan
nikel (Ni).
Titik didih minyak bumi parafin dan aspaltin tidak dapat ditentukan secara pasti, karena
sangat bervariasi, tergantung bagaimana komposisi jumlah dari rantai hidrokarbonnya. Jika
minyak bumi tersebut banyak mengandung hidrokarbon rantai pendek dimana memiliki
jumlah atom karbon lebih sedikit maka titik didihnya lebih rendah, sedangkan jika memiliki
hidrokarbon rantai panjang dimana memiliki jumlah atom karbon lebih banyak maka titik
didihnya lebih tinggi.
Sumber: http://persembahanku.wordpress.com
Kata Pencarian Artikel ini:
komposisi minyak bumi, minyak bumi adalah, senyawa yang paling banyak terdapat dalam minyak
bumi, rumus kimia solar, senyawa yang paling banyak terdapat dalam minyak bumi adalah, rumus
kimia kerosin, senyawa minyak bumi, kandungan dalam minyak bumi, titik didih solar, senyawa yang
paling banyak dalam minyak bumi.....