You are on page 1of 12

Metode Diskusi

Metode diskusi telah lama dikenal, namun demikian yang sering


menjadi permasalahan, terdapat kesenjangan antara teori dan praktik di kelas.
Ada yang berpendapat bahwa diskusi telah berjalan jika kelas menjadi ramai
atau telah berlangsung tanya jawab antara guru dengan siswa. Wahab (2009)
menyatakan bahwa diskusi adalah suatu tugas yang benar-benar memerlukan
keahlian. Oleh karena itu, apa yang disebut dengan metode diskusi belum
diterapkan dengan baik apabila tidak disertai dengan persiapan yang sungguhsungguh oleh guru, sekolah, dan siswa. Pada saat sekarang, diskusi telah
dianggap sebagai salah satu ciri penting sebuah kelas yang demokratis, yang
didefinisikan di mana orang-orang berbicara bersama untuk berbagi dan saling
tukar informasi tentang sebuah topik atau masalah atau mencari pemecahan
masalah berdasarkan bukti-bukti yang ada.
Pada umumnya, metode diskusi dipandang sebagai salah satu metode
pengajaran yang paling efektif untuk kelompok belajar yang kecil. Pandangan
ini telah didukung oleh hasil penyelidikan yang menunjukkan bahwa metode
diskusi khususnya sangat efektif untuk mempelajari ketrampilan-ketrampilan
yang kompleks, seperti: berpikir secara kritis, pemecahan masalah, dan
komunikasi antar pribadi. Dengan menggunakan metode diskusi, mahasiswa
memperoleh pengalaman belajar melalui peran serta dan interaksi. Ini berarti
bahwa melalui metode diskusi dapat dilaksanakan pertukaran gagasan,
pikiran, fakta, dan opini di antara para mahasiswa, sehingga menyebabkan
proses belajar-mengajar dapat berlangsung secara lebih dinamis. Bila diskusi
dipimpin dengan baik, di samping memberikan pengetahuan dan pengertian

yang lebih luas, dalam, dan nyata, juga dapat membentuk peserta-peserta
diskusi yang baik. Para peserta diskusi belajar berpikir lebih tepat, logis,
objektif, dan dapat mengutarakan buah pikirannya dengan bahasa yang mudah
diterima oleh pihak lain.
Dalam proses perkuliahan, pengertian di atas dikembangkan sebagai
salah satu cara penyajian bahan informasi keilmuan. Ini berarti dosen memberi
kesempatan kepada mahasiswa, dalam kelompok besar atau kelompok kecil,
untuk

mengadakan

perbincangan

ilmiah

guna

mempertemukan,

mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, atau menyusun berbagai


alternatif pemecahan atas sesuatu masalah. Forum diskusi dapat diikuti oleh
semua mahasiswa di dalam kelas, dapat pula dibentuk kelompok-kelompok
kecil yang dipimpin oleh salah seorang temannya sendiri di bawah
pengawasan dan bimbingan dosen. Dalam hal tersebut di atas, yang perlu
diperhatikan ialah bahwa semua peserta diskusi dapat berpartisipasi secara
aktif dalam pembicaraan atau perbincangan ilmiah tersebut. Semakin merata
mahasiswa terlibat dalam memberikan urunan pikiran, semakin banyak pula
yang dapat mereka pelajari. Dalam hal demikian, hendaknya dosen tidak
terlalu banyak campur tangan dalam menjawab pertanyaan yang muncul
dalam diskusi.
Tujuan
Dalam proses belajar-mengajar, tujuan yang hendak dicapai dengan
kegiatan diskusi adalah agar para mahasiswa dapat: (1) Menyatakan
pendapatnya dengan bahasa yang jelas dan tepat; (2) Menangkap pendapat
mahasiswa peserta diskusi lainnya dengan tepat; (3) Berperan serta dalam

menjawab pertanyaan atau memecahkan permasalahan ilmiah dari pokok


bahasan perkuliahan yang dihadapi kelompok; (4) Beragumentasi secara logis
dalam menerima atau menolak pendapat orang lain; dan (5) Bekerja sama
dalam memantapkan penyerahan informasi ilmiah dari dosen.
Suatu diskusi formal biasanya mempunyai pemimpin (moderator),
notulis (penulis), pengamat, dan peserta biasa, yang masing-masing
mempunyai tugas dan tanggung jawab tertentu. Berhasil atau tidaknya suatu
diskusi bergantung pada pemimpin (moderator), penulis, dan peserta diskusi
seluruhnya.
Pada garis besarnya, moderator merupakan tumpuan dan sangat
memegang peranan penting, serta bertanggung jawab atas jalan, suasana, dan
hasil diskusi. Penulis bertanggung jawab dan memegang peranan dalam
mencatat jalannya diskusi beserta hasil-hasilnya, lebih-lebih dalam membuat
kesimpulan diskusi. Para peserta lainnya bertanggung jawab sebagai individuindividu yang diharapkan pendapatnya untuk menyumbangkan buah
pikirannya, bahkan mereka harus menyadari bahwa dirinya salah seorang dari
sekian banyak orang yang juga diminta/diharapkan pendapatnya.
Dosen sebagai supervisor bertanggung jawab sepenuhnya mengenai
keseluruhan proses dan pemerolehan hasil diskusi dalam kaitannya dengan
pembinaan dan pengembangan mata kuliah, serta pembentukan sikap
akademis para mahasiswanya. Dengan kata lain, metode diskusi harus
merupakan salah satu di antara sekian aneka metode, yang jika dilihat, mampu
menciptakan suasana belajar-mengajar yang efektif.
1. Bentuk Diskusi yang Digunakan

Sekurang kurangnya ada delapan bentuk diskusi, yaitu: ramu pendapat


(brainstorming), kelompok sindikat (syndicate group), mangkuk ikan (fishbowl), simposium, buzz-groups, seminar, diskusi panel, dan kolokium.
Mempertimbangkan kondisi kelas dengan jumlah mahasiswa yang cukup
banyak (45 orang), maka bentuk diskusi yang dipilih adalah buzz-groups.
Diskusi dalam bentuk ini, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, yang
mempunyai ketua kelompok dan notulis sendiri. Masing-masing kelompok
melaksanakan tugas tertentu sebagai tugas komplementer. Dosen menjelaskan
garis besar problema di depan kelas, menggambarkan aspek-aspek masalah,
kemudian tiap-tiap kelompok diberi tugas untuk mempelajari aspek tertentu
yang menjadi bagian masing-masing. Sementara dosen menyediakan acuan
(referensi) atau sumber-sumber informasi lain.
Setiap kelompok kecil, bersidang sendiri-sendiri atau membaca bahan,
berdiskusi dan menyusun laporan yang merupakan kesimpulan kelompok.
Masing masing laporan kelompok dibawa ke sidang pleno untuk didiskusikan
lebih lanjut, atau dapat juga diserahkan langsung kepada dosen untuk dibahas
dalam pertemuan perkuliahan berikutnya, sesuai dengan jadwal pembelajaran
yang telah dirancang. Dengan kelompok kecil ini diharapkan anggota
kelompok mempelajari kebiasaan cara belajar bersama.
Kebaikan bentuk diskusi jenis ini adalah: (1) mahasiswa belajar
memecahkan atau mempelajari suatu aspek masalah secara bersama; (2) tiap
kelompok saling berbagi pengalaman; (3) belajar bertanggung jawab, dan (4)
membangun

kepentingan bersama. Sedangkan kekurangannya adalah: (1)

mungkin ada kelompok yang tidak menyelesaikan tugas dengan baik; (2)

memerlukan waktu banyak, dan (3) kekurangan bahan-bahan informasi


sehingga menghambat penyelesaian tugas.
Pelaksanaan Diskusi
Metode diskusi dilaksanakan melalui sejumlah langkah berikut ini.
Pada tahap persiapan meliputi dua kegiatan penting, yaitu pemilihan topik
diskusi

dan

pembentukan

kelompok.

Pemilihan

topik

diskusi

mempertimbangkan hal-hal berikut: (1) Pemilihan topik diskusi dapat


dilakukan oleh dosen, atau oleh dosen bersama mahasiswa, atau oleh
mahasiswa sendiri dengan persetujuan dosen; (2) Kriteria pemilihan adalah
kesesuaiannya dengan tujuan yang ingin dicapai, minat, serta kemampuan
mahasiswa; (3) Juga perlu diperhatikan bahwa topik yang akan dibahas itu
bermanfaaat bagi peningkatan kemampuan berpikir mahasiswa; (4) Setelah
topik ditentukan, maka masalah yang akan didiskusikan itu harus dirumuskan
dengan sejelas-jelasnya agar dapat dipahami oleh setiap peserta.
Sementara itu dalam pembentukan kelompok perlu menyiapkan (1) pemilihan
pemimpin diskusi (moderator), penulis, dan pengamat proses diskusi; (2)
kelompok diskusi tersebut bisa dilakukan secara acak, dan dapat juga dengan
memperhatikan ketrampilan, minat, kekohesifan anggota, latar belakang
pengetahuan, dan/atau jenis kelamin; (3) besar kelompok efektif berkisar
antara 5-7 orang.
Tahapan pelaksanaan diskusi, langkah-langkah yang dilalui sebagai
berikut. (1) Moderator membuka acara diskusi, mengantarkan acara, dan
menjelaskan lalu-lintas giliran berbicara, termasuk tata tertib diskusi
(pembicaraan) yang menyangkut efektivitas dan efisiensi waktu berbicara; (2)

Juru

bicara

kelompok

membacakan

makalah

dengan

lebih

dahulu

menjelaskan: (a) tujuan pembahasan, (b) aspek-aspek pokok bahasan, dan (c)
pendekatan yang digunakan; (3) Moderator mengatur posisi duduk semua
anggota diskusi sesuai denah yang telah ditetapkan menurut bentuk jenis
diskusinya; (4) Peserta (audien) mendengarkan dengan tertib seluruh
pembahasan yang dibacakan oleh penyaji makalah untuk pada saat
mengajukan pertanyaan, sumbang saran, dan/atau pikiran; (5) Penulis
mencatat semua proses pembicaraan diskusi, dan pada akhirnya membuat
kesimpulan-kesimpulannya; (6) Pengamat melakukan pengamatan dari
tempatnya masing-masing dan mengisi lembar observasi yang dipegangnya;
(7) Dosen sebagai supervisor memberikan pengarahan, bimbingan, dan
bantuan bila diperlukan; dan (8) Pada saatnya moderator menutup diskusi
dengan mempersilakan penulis membacakan kesimpulan sementara.

Sikap yang Menghambat Kelancaran Diskusi


Ada beberapa sikap yang dapat menghambat kelancaran diskusi.
Karena itu harus selalu diawasi, dilakukan pencegahan, dan bila muncul harus
dapat diatasi oleh dosen dengan bijaksana. Sikap-sikap tersebut antara lain
sebagai berikut. Sikap agresif dan reaksioner: sikap ini berupa penolakan ide
atau usul seseorang tanpa alasan yang dapat dipahami. Sikap agresif dan
reaksioner ini biasanya bercampur dengan sikap ingin menguasai orang lain
yang sebetulnya bertentangan dengan prinsip demokrasi, toleransi, dan adab
berkomunikasi. Sikap menutup diri: Sikap ini muncul karena tidak mau
menghargai pendapat orang lain, atau takut mengeluarkan pikiran/pendapat di

muka umum. Menusuk dari belakang dengan mengorbankan kepentingan


orang lain, atau dengan menunggangi pendapat orang lain ia menonjolkan
dirinya sendiri. Berbicara terlalu banyak, tidak memberikan kesempatan
kepada orang lain untuk berbicara, dan berbicara tidak pada sasarannya atau
menyimpang dari sasaran serta tidak lugas. Berbicara berbelit-belit atau
berbunga-bunga (penuh dengan kembangan, kiasan, dan tidak langsung pada
sasaran). Berbicara berbisik-bisik dengan teman lain yang ada di dekatnya,
lebih-lebih menilai orang lain yang baru berbicara dan menunjukkan sikap
acuh tak acuh.

PEMIMPIN (MODERATOR)
Dalam kegiatan diskusi seorang mahasiswa dari kelompoknya (kelompok
penyaji) dipilih/ditunjuk sebagai pemimpin (moderator) diskusi. Ia bertugas
sebagai:
1. Pengatur lalu-lintas pembicaraan, agar diskusi berjalan lancar dan tujuan
2.
3.
4.
5.
6.

tercapai.
Penjelas permasalahan dan penunjuk giliran berbicara.
Pengatur ketertiban dan efisiensi waktu berbicara.
Pendorong peserta pendiam agar mau berpartisipasi secara positif;
Menyerahkan permasalahan yang sangat sulit kepada dosen pembinanya; dan
Pemandu yang meluruskan kembali pembicaraan yang menyimpang dari pokok
masalah pembicaraan.

PENULIS
Penulis, yang biasanya diambil dari kelompok penyaji makalah,
bertanggung jawab dan berperanan dalam mencatat:
1. Waktu dan acara diskusi.

2. Nama-nama yang memberikan tanggapan berupa pertanyaan, sanggahan,


kritik, saran.
3. Semua tanggapan berupa pertanyaan, sanggahan, kritik, saran.
4. Membuat kesimpulan diskusi.
5. Sisa masalah (jika ada).
PERAN PENGAMAT
Pengamat, sekurang-kurangnya empat orang, diambil dari masing-masing
kelompok bukan kelompok penyaji, dan mereka bertugas:
1. Mempelajari semua butir aspek isian lembar observasi;
2. Mengisi isian lembar observasi selama proses diskusi;
3. Menyerahkan lembar observasi yang telah diisi pada akhir diskusi kepada
dosen yang bersangkutan.
Tata Aturan Diskusi

TATA ATURAN DISKUSI


1. Moderator membuka acara diskusi, mengantarkan acara, dan menjelaskan
lalu-lintas giliran berbicara, termasuk tata tertib diskusi (pembicaraan) yang
menyangkut efektivitas dan efisiensi waktu berbicara.
2. Juru bicara kelompok membacakan makalah (topik) dengan lebih dahulu
menjelaskan: (1) tujuan pembahasan, (2) aspek-aspek pokok bahasan, dan (3)
pendekatan yang digunakan.
3. Moderator mengatur posisi duduk semua anggota diskusi sesuai denah yang
telah ditetapkan menurut bentuk jenis diskusinya.
4. Peserta (audien) mendengarkan dengan tertib seluruh pembahasan yang
dibacakan oleh penyaji makalah (topik diskusi) yang selanjutnya akan
dijadikan dasar mengajukan pertanyaan, sumbang saran, dan/atau pikiran
pada waktu yang telah ditentukan.
5. Penulis mencatat semua proses pembicaraan diskusi, dan pada akhirnya
membuat kesimpulan.
6. Pengamat (observer) melakukan pengamatan dari tempatnya masing-masing
dan mengisi lembar.
7. Dosen sebagai supervisor memberikan pengarahan, bimbingan, dan bantuan
bila diperlukan.

8. Pada saatnya moderator menutup diskusi dengan mempersilahkan penulis


membacakan kesimpulan sementara.

Format Observasi
FORMAT OBSERVASI
Keterlibatan Dalam Memberi Tanggapan
Mata Kuliah

: ___________________________________

Topik/Materi Kuliah

: ___________________________________
___________________________________
___________________________________

Dosen Pengampu

: ___________________________________

Hari

: ___________________________________

Tanggal

: ___________________________________

Jam

: ___________________________________

Tempat/Ruang

: ___________________________________

Observer

: ___________________________________

Petunjuk:
Format ini digunakan untuk mencatat hasil pengamatan terhadap peserta
diskusi dalam hal keterlibatannya dalam memberi tanggapan.
Tanggapan yang dimaksudkan dalam kegiatan diskusi ini adalah pertanyaan,
sanggahan/penolakan, pendapat baru, kritik dan saran berkaitan dengan
topik diskusi yang dibahas.
Observer harus memperhatikan seluruh tahapan kegiatan diskusi terutama
keterlibatan peserta dalam memberi tanggapan, dan selanjutnya menuliskan
dengan lengkap dalam format yang tersedia.
Format observasi yang telah terisi, pada akhir diskusi diserahkan kepada dosen
melalui moderator.
No
1

Nama

Uraian Tanggapan

10

Malang, ___________________
Observer,
_______________________
Format Catatan Untuk Penulis
FORMAT CATATAN KEGIATAN DISKUSI
untuk penulis
Mata Kuliah

: ___________________________________

Topik/Materi Kuliah

: ___________________________________
___________________________________
___________________________________

11

Dosen Pengampu

: ___________________________________

Hari

: ___________________________________

Tanggal

: ___________________________________

Jam

: ___________________________________

Tempat/Ruang

: B5-102PF Kampus PGSD Jl. Kyai Gribig

Penulis

: ___________________________________

Petunjuk:
A. Format ini digunakan untuk mencatat seluruh alur kegiatan diskusi yang
meliputi:
1. Waktu dan acara diskusi.
2. Nama-nama yang memberikan tanggapan berupa pertanya an,
sanggahan, kritik, saran.
3. Semua tanggapan berupa pertanyaan, sanggahan/ penolak an,
pendapat baru, kritik dan saran berkaitan dengan topik diskusi
yang dibahas.
4. Membuat kesimpulan diskusi.
5. Sisa masalah (jika ada).

B. Format observasi yang telah terisi, pada akhir diskusi diserahkan kepada
dosen melalui moderator.
No
1

Nama

Uraian Tanggapan

12

Malang, _______________________
Penulis,
_________________