You are on page 1of 10

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Leukimia
Leukimia merupakan penyakit akibat terjadinya proliferasi (pertumbuhan semi
matur ) sel leokosit yang abnormal dan ganas.
Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah
dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah
proliferasi tidak teratur atau akumulasi ssel darah putih dalam sumusm tulang,
menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limpa
dan nodus limfatikus, dan invasi organ non hematologis, seperti meninges, traktus
gastrointesinal, ginjal dan kulit.
Leukemia; dalam bahasa Yunani leukos , "putih"; aima , "darah"),
atau lebih dikenal sebagai kanker darah merupakan penyakit dalam klasifikasi
kanker (istilah medis: neoplasma) pada darah atau sumsum tulang yang ditandai oleh
perbanyakan secara tak normal atau transformasi maligna dari sel-sel pembentuk
darah di sumsum tulang dan jaringan limfoid, umumnya terjadi pada leukosit (sel
darah putih) [1]. Sel-sel normal di dalam sumsum tulang digantikan oleh sel tak normal
atau abnormal. Sel abnormal ini keluar dari sumsum dan dapat ditemukan di dalam
darah perifer atau darah tepi. Sel leukemia memengaruhi hematopoiesis atau proses
pembentukan sel darah normal dan imunitas tubuh penderita.
Kata leukemia berarti darah putih, karena pada penderita ditemukan banyak sel
darah putih sebelum diberi terapi. Sel darah putih yang tampak banyak merupakan sel
yang muda, misalnya promielosit. Jumlah yang semakin meninggi ini dapat
mengganggu fungsi normal dari sel lainnya.
Leukemia adalah poliferasi sel lekosit yang abnormal, ganas, sering disertai
bentuk leukosit yang lain dari pada normal, jumlahnya berlebihan dan dapat
menyebabkan anemia, trombisitopeni dan diakhiri dengan kematian. Leukemia adalah
penyakit

neoplasmik

yang ditandai

hematopoietik. (Virchow, 1847)

oleh

poliferasi

abnormal

dari

sel-sel

Leukimia merupakan penyakit akibat terjadinya proliferasi (pertumbuhan sel


imatur) sel leukosit yang abnormal dan ganas, serta sering disertai adanya leukosit
dengan jumlah yang berlebihan, yang dapat menyebabkan terjadinya anemia
trombositopenia. (Hidayat, 2006).
Leukemia merupakan penyakit akibat proliferasi (bertambah banyak atau
multiplikasi) patologi dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya
berakhir fatal. (Nursalam, 2005).
Leukemia adalah proliferasi tak teratur atau akumulasi sel-sel darah putih dalam
sumsum tulang, menggantikan eleman-elemen sumsum normal. (Baughman, 2000,
hal : 336).
Jadi dapat disimpulkan bahwa leukemia adalah penyakit akibat terjadinya
proliferasi sel leukosit yang abnormal dan ganas serta sering disertai adanya leukosit
jumlah yang berlebihan dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya
berakhir fatal.

2. Etiologi Leukimia
a. Genetik (kelainan kromosom)
Faktor genetik dilihat dari faktor keturunan, gen yang abnormal, dimana gen yang
imatur (sel sel yang tidak matang ) faktor kromosom .
b. Radiasi ( Mutasi Gen )
Dapat dilihat pada lingkungan kerja pronatal, dan pengobatan kanker sebelumnya,
dimana terjadi pada sel yang dapat merusak sel, dimana terjadi trauma pada sum
sum tulang.
c. Obat obatan imunosupresif dan obat karsinogenik
Seperti diethyl stilbestrol
d. Virus HTLV
HTLV ( Human T-Cell Leukimia Lymphoma Virus ) karena mempunyai 1
RNA.
e. Down Syndrom ( Kelainan Genetik )
f. Umur / jenis kelamin
g. Terpajan zat kimia

3. Manifestasi Klinis

1. Leukemia Mieloblastik Akut (LMA)


-

Pendarahan

Nyeri tulang

Infeksi

Pembesaran getah bening, limfe, hati dan kelenjar mediasternum

Sakit kepala

Lemas

Anorexia

Anemia

2. Leukemia Mieloblastik Kronis (LMK)


-

Rasa lelah yang berlebihan

Penurunan BB

Rasa penuh diperut / kenyang

Mudah mengalami pendarahan

Tidak tahan pnas

3. Leukemia Limfositik Akut (LLA)


-

Malaise

Demam

Keringat pada malam hari

Hepotoplenomegali

Nyeri tulang dan sendi

Anemia

Infeksi

Anorexia

Gangguan penglihatan

Nyeri kepala

4. Leukemia Limfositik Kronik (LLK)


-

Mudah terserang penyakit

Anemia

Lemah

Pegal-pegal

Trombositopnemia

Respon antibody tertekan

Sintesi immunologik tidak cukup

4. Patofisiologi
Patofisiologi I :
Jaringan pembentuk darah ditandai oleh pergantian sel yang sangat cepat normalnya
produksi sel darah tertentu dari sel yang di atur sesuai kebutuhan tubuh. Apabila mekanisme
yang mengatur produksi sel yang terganggu, sel akan membelah diri sampai ketingkat sel
yang membahayakan

( proliferasi neoplastik). Profilerasi dapat terjadi karena kerusakan

sum sum tulang akibat radiasi, virus onkogenik.


Sel polimorfonuklear dan monosit normalnya hanya dibentuk dalam sum sum tulang,
sedangkan limfosit dan sel plasma dihasilkan dalam berbagai organ limfogen ( Kelenjar
Limfe, Limfa, Tymus, Tonsil ). Beberapa sel darah putih yang dibentuk dalam sum sum
tulang, khususnya granulosit, disimpan dalam sum sum tulang sampai mereka dibutuhkan
dalam sirkulasi. Bila terjadi kerusakan sum sum tulang, misalnya akibat radiasi atau bahan
kimia, maka akan terjadi proliferasi sel sel darah putih yang berlebihan dan imatur.
Akibat proliferasi mieloid yang neoslastik, maka produksi eleman darah lain tertekan
karena terjadikompetisi nutrisi untuk proses metabolisme. Sel sel leukimia, menginvasi
tulang di sekeliling nya yang menyebabkan nyeri tulang dan cendrung mudah patah tulang.
Dalam organ mengakibatkan gejala tambahan : Nyeri akibat pembesaran limfa atau hati,
masalah kelenjar limfa, sakit kepala atau muntah akibat leukimia meningeal.
Patofisiologi II :
Leukimia adalah jenis gangguan pada sistem hemapoetik yang fatal dan terkait
dengan sum sum tulang dan pembuluh limfe di tandai dengan tidak terkendalinya
proliferasi dari leukosit.jumlah besar dari sel pertama tama mengumpal pada tempat
asalnya ( granulosit dallam sum sum tulang ,limfosit didalam limfe node ) dan
menyebar ke organ hemapoetik dan berlanjut keorgan yang lebih besar sehingga
mengakibatkan hematomegali splenomegali.limfosit imatur berferassi dalam sum sum
tulang dan jarinngan ferifer serta mengganggu pengembangan sel normal akibatnya
,hematopoesis normal terhambat.mengakibatkan penurunan jumlah leukosit,eritrosit
dan trombosit.erirosit dan trombosit jumanya dapat rendah atau tinggi tetapi selalu
terdapat sel imatur

Proliferasi dari satu jenis sel sering menggangu produksi normal sel
hematopoetik lainya dan mengarah ke pembelahan sel yang cepat dan sitopenia atau
penurunan jumlah ,pembelahan dari sel darah putih meningkatnya kemungkinan
terjadi infeksi karena penuruna imun.
Trombositopeni mengakibatkan pendarahan yang dinyatakan oleh ptekie dan
ekimosis atau pendarahan dalam kulit,epistaksis atau pendarahan hidung ,ematoma
dalam membrane mukosa serta pendarahan saluran cerna dan saluran kemih. Tulang
mungkin sakit dan lunak yang disebabkan oleh infark tulang.
5. Faktor Resiko
1.Tingkatan radiasi yang sangat tinggi.
Orang yang terpapar tingkatan radiasi yang sangat tinggi sangat mungkin
untuk mendapatkan penyakit leukimia.Tingkatan radiasi yang sangat tinggi bisa
muncul ,misalnya karena adanya ledakan bom atom dan kecelakaan rector
nuklir.selain itu perawatan medis yang menggunakan radiassi juga dapat menjadi
sumber munculnya dari paparan tingkat tinggi.
2.Bekerja dengan bahan bahan kimia tertentu.
Paparan dari tingakat yang tinggi dari benzene dan formal dehyde dapat
menyebatkan leukimia.Benzene dan formaldehyde digunakan secara luas oleh
industri kimia.oleh kareana para pekerja disana memiliki kemungkinan lebih besar
beresikio untuk menderita leukimia.
3.Kemotrapi.
Pasien kanker yang dirawat mengunkan obat obatan melawan kanker kadang
kadang kemudia justru menderita leukimia. Misalnya , obat obatan yang
dikenal sebagai alkylating dibhubungkan dengan penderita leukimia bertahun
tahun.
4.Dwon Ssyndrome dan penyakit Genetis tertentu.
Beberapa penyakit disebabkan oleh kormosom kormosom abnormal bisa
menjadi pendorong bagi peningkatan penderita leukimia.

5.Human T-cell leukimia virus-I ( HTLV I )


Virus ini adlah penyebab leukimia limpositis kronis. Karena disebabkan oleh
virus , leukimia sering tidak tampak bisa menular.
6.Myelodysplastic syndrome.
Orang dengan penyait darah ini berveda pada resiko yang tinggi terhada
kemungkinan menderita leukimia akut myeloid.
7.Medan Elektromagnet.
Suatu tipe dari bertenaga rendah yang datang dari kabel kabel listrik dan
elektris . walaupun sejumlah studi menujukkan bahwa medan elektromagnet tidak
cukup kuat faktor resiko bagi leukimia.tetapi kita harus tetap berhati hati.

6. Komplikasi

Kelelahan (fatigue). Jika leukosit yang abnormal menekan sel-sel darah merah, maka
anemia dapat terjadi. Kelelahan merupakan akibat dari kedaan anemia tersebut. Proses

terapi LGK juga dapat meyebabkan penurunan jumlah sel darah merah.
Pendarahan (bleeding). Penurunan jumlah trombosit dalam darah (trombositopenia) pada
keadaan LGK dapat mengganggu proses hemostasis. Keadaan ini dapat menyebabkan

pasien mengalami epistaksis, pendarahan dari gusi, ptechiae, dan hematom.


Rasa sakit (pain). Rasa sakit pada LGK dapat timbul dari tulang atau sendi. Keadaan ini
disebabkan oleh ekspansi sum-sum tulang dengan leukosit abnormal yang berkembang

pesat.
Pembesaran Limpa (splenomegali). Kelebihan sel-sel darah yang diproduksi saat keadaan
LGK sebagian berakumulasi di limpa. Hal ini menyebabkan limpa bertambah besar, bahkan

beresiko untuk pecah.


Stroke atau clotting yang berlebihan (excess clotting). Beberapa pasien dengan kasus
LGK memproduksi trombosit secara berlebihan. Jika tidak dikendalikan, kadar trombosit yang
berlebihan dalam darah (trombositosis) dapat menyebabkan clot yang abnormal dan

mengakibatkan stroke.
Infeksi. Leukosit yang diproduksi saat keadaan LGK adalah abnormal, tidak menjalankan
fungsi imun yang seharusnya. Hal ini menyebabkan pasien menjadi lebih rentan terhadap
infeksi. Selain itu pengobatan LGK juga dapat menurunkan kadar leukosit hingga terlalu

rendah, sehingga sistem imun tidak efektif.


Kematian.

7. Pemeriksaan Fisik
1. Kesadaran : biasanya kesadaran klien tidak terganggu.
2. Tanda-tanda vital
Biasanya semua tanda-tanda vital pada klien tidak ada yang normal.
3. Pemeriksaan fisik head to toe
Kepala

: biasanya tidak ada benjolan

Rambut

: biasanya rambut hitam dan rontok

Mata

: biasaya konjungtiva anemis


Sklera ikhterik

Hidung

: biasanya adanya secret , mimisan

Telinga

: biasanya telinga bersih

Mulut

: biasanya membran mukosa pucat

Leher

: biasanya pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe

Thoraks
-

PARU
Inspeksi

: biasanya retraksi dada sama

Palapasi

: biasanya primitus kanan dan kiri sama

Perkusi

: biasanya bunyi paru sonor

Auskultasi

: biasanya tidak ada wheezing

JANTUNG
Inspeksi

: biasanya ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: biasanya ictus cordis teraba pada intercostae V 2 cm

dari midclavicula sinistra

Perkusi

: biasanya tidak ada pembesaran jantung

Auskultasi

: biasanya bunyi jantung normal

ABDOMEN
Inspeksi

: biasanya datar

Palapasi

: biasanya tidak adapembesaran hepar

Perkusi

: biasanya timpani

Auskultasi

: biasanya bising usus

EKSTERMITAS : Akral dingin

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Darah
Hasil pemeriksaan laboratorium akan melakukan hitung darah lengkap untuk
memeriksa sel darah putih (leukosit), sel darah merah (eritrosit) dan trombosit.
Leukemia menyebabkan jumlah sel darah putih meningkat dan jadar trombosit
dan hemoglobin yang rendah dalam sel darah merah.
b. Biopsi
Biopsi merupakan satu-satunya cara pasti untuk mengetahui keberadaan sel-sel
leukemia di dalam sum-sum tulang.
c. Sitogenetik
Pemeriksaan ini akan meneliti kromosom dari sampel sel darah, sum-sum
tulang atau kelenjer getah bening. Jika ditemukan kromosom abnormal, hasil
tes dapat menunjukkan jenis leukimia yang diderita.
d. Spinal Tap
Dilakukan dengan cara mengambil beberapa cairan serebrospinal, yaitu cairan
yang mengisi ruang di dalam serta sekitar otak dan sum-sum tulang belakang.
Tujuan pemeriksaan ini untuk mengetahui adanya sel-sel leukemia atau tandatanda lain dari masalah.
e. X-ray Dada
Pemeriksaan x-ray dapat menunjukkan pembengkakan kelenjer getah bening
atau tanda-tanda lain dari penyakit di dalam dada.

9. Penatalaksanaan
a. Kemoterapi
Sebagian besar orang yang menderita leukimia menjalani kemotrapi untuk
membunuh sel-sel kanker. Pengobatan ini tergantung pada jenis leukimia yang
diderita. Penderita leukimia dapat menerima obat tunggal atau kombinasi dari dua
atau lebih obat-obatan. Kemotrapi dapat diberikan dengan beberapa cara yang
berbeda, seperti melalui kateter, injeksi langsung ke cairan, serebrospinal, atau
injeksi ke dalam tulang belakang atau reservoir ommaya.
Tahap 1 ( Tahap Induksi )

Untuk membunuh sebagian besar sel trauma di dalam darah dan sum sum tulang,
dengan memberikan kemoterapi kombinasi
Tahap 2 ( Terapi Konsolidasi / Intersivikasi )
Untuk mengeliminasi sel leukimia residual untuk mencegah relaps dan juga
timbulnya sel resisten terhadap obat.
Tahap 3 ( Profilaksis SSP )
Diberikan untuk mencegah kekambuhan untuk sistem saraf pusat, sering diberikan
dosis yang lebih rendah, menggunkan obat kemoterapi yang berbeda.

b. Radioterapi
Radioterapi merupakan pengobatan menggunakan sinar berenergi tinggi untuk
membunuh sel-sel leukemia. Beberapa orang menerima radiasi dari sebuah mesin
besar yang ditujukan ke organ pankreas, otak, atau bagian tubuh lain tempat
menumpuknya sel-sel leukemia. Bahkan ad orang yang mungkin menerima radiasi
di seluruh tubuh.
Jenis terapi ada yang berlangsung selama lima hari setiap minggu dan
dilaksanakan selama beberapa minggu. Radiasi biasanya diberikan sekali atau dua
kali sehari selama beberapa hari dan biasanya dilakukan sebelum transplantasi sel
induk.
c. Transplantasi Sel Induk
Ada beberapa penderita leukemia yang menerima kemoterapi dosis tinggi, terapi
radiasi atau keduanya.pasien akan menerima sel-sel induk yang sehat melalui
pembuluh darah besar. Sel induk tersebut dapat berasal dari diri pasien, dari
kembar identik atau seorang donor. Setelah transplantasi sel induk, pasien
mungkin harus tinggal di rumah sakit selama beberpa minggu bahkan beberpa
bulan.
Pasien akan beresiko tinggi terkena infeksi dan perdarahan karena dosis besar
kemoterapi atau radiasi yang diterima. Dibutuhkan beberapa saat bagi sel-sel
induk yang ditransplantasikan untuk mulai menghasilkan sel darah yang sehat.
Masalah lain yang biasa timbul setelah dilakukan transplantasi sel induk adalah
terjadinya penyakit graft-versus-host (GVHD), yaitu sel-sel darah putih yang
disumbangkan bereaksi terhadap jaringan normal pasien dan paling sering

menyerang hati, kulit atau saluran pencernaan. GVHD dapat bersifat ringan atau
sangat parah dan dapat terjadi setiap saat setelah transplantasi. Bahkan terjadi
bertahun-tahun kemudian.
d. Terapi Biologi Interferon
Terapi biologi untuk penderita leukemia biasanya berupa terpi dengan
meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit. Salah satunya menggunakan
antibodi monoklonal (protein buatan) yang diberikan melalui infus. Beberpa orang
yang mengendap CML akan diberi terapi biologi menggunakan obat interferon
alfa (INFA) yang membantu sel-sel normal untuk membuat protein anti virus,
mengurangi proliferasi (pertumbuhan dan reproduksi) sel leukemia, serta
memperkuat respon kekebalan tubuh.
e. Target Terapi
Target terpi merupakan pengobatan menggunakan obat-obatan yang dapat
menghambat pertumbuhan sel-sel leukemia. Imatinib (Gleevec) merupakan target
terapi pertama yang disetujui untuk pengobatan CML.
Efek samping target terapi diantaranya pembengkakan, kembung, kenaikan bobot
badan secara tiba-tiba. Selain itu juga menyebabkan anemia, mual, muntah, diare,
kram otot, ruam.