You are on page 1of 10

RELAKSASI NAFAS DALAM TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA PASIEN

PRE APENDIKTOMI
I Made Mertha
Ni Wayan Arneliasih
Jurusan Keperawatan Poltekkes Denpasar
Email : mertha_69@yahoo.co.id
Abstract :Effectiveness of Relaxation Breath Against The Pain in Pre Appendictomy
Patients. The purpose of this study to determine the effectiveness of deep breathing
relaxation with the intensity of pain in pre apendiktomi patients at Emergency Room BRSU
Tabanan. Type of research was one group pretest-postest design. Using consecutive sampling
method. Amount of sample as many as 15 people. The results of analyzes using paired t-test,
test found that relaxation breathing very effectively used to reduce the pain felt by the pre
apendiktomi patient with p value of 0.001.
Abstrak : Efektifitas Relaksasi Napas Dalam Terhadap Intensitas Nyeri Pada Pasien
Pre Apendiktomi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas relaksasi napas dalam
terhadap intensitas nyeri pada pasien pre apendiktomi di Ruang IRD BRSU Tabanan.
Rancangan penelitian ini adalah one group pretest-postest desain. Tehnik sampling
menggunakan metode consecutive sampling. Jumlah sample sebanyak 15 orang. Hasil
analisis menggunakan uji paired t-test didapatkan ada pengaruh tehnik relaksasi napas dalam
terhadap intensitas nyeri pada pasien pre apendiktomi dengan p value sebesar 0,001.
Kata kunci : Pre apendiktomi, Relaksasi napas dalam, intensitas nyeri.

Apendisitis merupakan kasus gawat abdomen yang paling sering terjadi. Menurut
Sabiston (2002). Apendisitis adalah suatu penyakit prototipe yang berlangsung melalui
peradangan akibat obstruksi dan iskemia dengan gejala utama nyeri mencerminkan keadaan
penyakit (Sabiston, 2002). Alasan utama seseorang yang diduga apendisitis masuk rumah
sakit adalah akibat respon nyeri yang mereka rasakan. Berdasarkan studi pendahuluan yang
dilakukan pada tgl 11- 13 Januari 2012 di Ruang IRD BRSU Tabanan ditemukan data tentang
jumlah pasien apendisitis dengan keluhan nyeri dari bulan Januari - September 2011

mencapai jumlah 48 orang (12%) dari 390 pasien diruang IRD, yang diantaranya sebanyak 25
orang (60%) laki-laki dan 23 orang (40%) perempuan. Nyeri merupakan perasaan yang
sangat subyektif dan paling ditakutkan banyak orang. Rasa nyeri merupakan stresor yang
dapat menimbulkan stres dan ketegangan dimana individu dapat berespon secara biologis dan
perilaku yang menimbulkan respon fisik dan psikis. Respon fisik meliputi perubahan keadaan
umum, wajah, denyut nadi, pernafasan, suhu badan, sikap badan dan apabila nafas makin
berat dapat menyebabkan kolaps kardiovaskuler dan syok, sedangkan respon psikis akibat
nyeri dapat merangsang respon stres yang dapat mengurangi sistem imun dalam peradangan,
serta menghambat penyembuhan, respon yang lebih parah akan mengarah pada ancaman
merusak diri sendiri (Corwin, 2001). Individu yang diduga apendisitis akan menjalani
observasi dan bedrest serta prosedur prosedur diagnostik yang diperlukan dalam upaya
menentukan terapi dan tindakan selanjutnya. Selama pasien menunggu tindakan, keluhan
nyeri yang dirasakan pasien harus dibuat seminimal mungkin (Husin, 2007). Pemberian
analgesik dan pemberian narkotik untuk menghilangkan nyeri tidak dianjurkan karena dapat
mengaburkan diagnosa (Husin, 2007). Tindakan non farmakologis dapat dilakukan oleh
perawat seperti relaksasi nafas dalam guna membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan rasa
nyaman (Husin,2007).
Teknik relaksasi nafas dalam dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri (Smeltzer
2002). Mekanisme penurunan nyeri dengan merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami
spasme yang disebabkan oleh peningkatan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi
pembuluh darah dan akan meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan
iskemia.
Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi karakteristik responden pre
apendiktomi berdasarkan umur, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan; mengidentifikasi
intensitas nyeri pada pasien pre apendiktomi sebelum diberikan relaksasi nafas dalam;
mengidentifikasi intensitas nyeri pada pasien pre apendiktomi setelah diberikan relaksasi
nafas dalam serta menganalisis efektifitas pemberian relaksasi nafas dalam terhadap intensitas
nyeri pasien pre apendiktomi di Ruang IRD BRSU Tabanan.
METODE
Rancangan penelitian yang digunakan adalah studi one group pretest-postest design.
yaitu sampel pada penelitian ini diobservasi terlebih dahulu sebelum diberi perlakuan,
kemudian setelah diberikan perlakuan sampel tersebut diobservasi kembali (Hidayat, 2007).

Penelitian dilaksanakan di Ruang IRD BRSU Tabanan. Pengumpulan data dilaksanakan pada
bulan April sampai bulan Mei 2012.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pre apendiktomi di Ruang IRD
BRSU Tabanan. Sampel dipilih dengan metoda consecutive sampling yaitu pemilihan sampel
dengan menetapkan subyek yang memenuhi kriteria penelitian dimasukkan dalam penelitian
sampai kurun waktu tertentu, sehingga jumlah responden yang diperlukan terpenuhi
(Nursalam, 2003). Pengambilan sampel dilakukan selama dua bulan yaitu pada bulan April
sampai bulan Mei 2012 di dapatkan sampel sebanyak 15 orang.
Data dikumpulkan dengan kuesioner Bourbanis, berdasarkan data numerik yaitu
pasien dianjurkan untuk mengungkapkan rasa nyeri berdasarkan angka 1-10. Instrumen ini
merupakan instrumen yang valid dan dapat dipercaya karena sudah merupakan instrumen
baku yang sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas.
Data diolah dengan menggunakan 2 (dua) analisis, yaitu analisis univariat dan analisis
bivariat. Dalam penelitian ini analisa univariat yang di gunakan adalah distribusi frekuensi.
Analisa ini dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan tiap variabel yang di teliti secara
terpisah dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi dan proporsi dari masing-masing
variabel. Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau
berpengaruh (Notoatmodjo, 2005). Untuk mengetahui efektifitas relaksasi nafas dalam
terhadap intensitas nyeri pasien pre apendiktomi dilakukan uji statistik paired t test.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik responden berdasarkan Umur seperti gambar 1 di bawah.

Gambar 1: Distribusi Responden Berdasarkan Umur di Ruang IRD BRSU Tabanan Tahun
2012

Berdasarkan gambar 1 di atas didapatkan umur responden terbanyak adalah rentang


umur 20-30 tahun yaitu sebanyak 8 orang atau 53,0%. Kejadian appendicitis bila dilihat dari
karakteristik pasien menurut Anton (2009) mengatakan appendicitis dapat ditemukan pada
semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang dilaporkan. Insidensi tertinggi
pada kelompok umur 20-30 tahun.
Appendisitis pada umumnya menyerang orang di bawah usia 40 tahun, dengan puncak
pada umur 10-30 tahun. Karena pada orang usia 10 tahun omentum lebih pendek dan
appendiks lebih panjang, dinding appendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan
daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadianya perforasi. Sedangkan pada
orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada ganguan pembuluh darah. Kejadiannya
juga dapat dipengaruhi oleh faktor pola makan yang kurang serat (diit rendah serat).
Kebiasaan yang kurang dalam mengkonsumsi serat ini sering mengakibatkan tinja mengeras.
Tinja yang mengeras pada umumnya dapat mengakibatkan tekanan di dalam sekum. Hal ini
berakibat timbulnya sumbatan fungsional appendiks dan meninggkatkan pertumbuhan kuman,
sehingga terjadi peradangan pada appendiks (appendisitis) (Anton, 2009).
Karakteristik responden berdasarkan Jenis kelamin seperti gambar 2 di bawah.

Gambar 2: Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Ruang IRD BRSU Tabanan
Tahun 2012
Berdasarkan gambar 2 di atas didapatkan jenis kelamin pasien terbanyak adalah lakilaki yaitu sebanyak 9 orang atau 60,0%. Insidensi pada laki-laki dan perempuan umumnya
sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, insidensi lelaki lebih tinggi, (Anton, 2009)
Intensitas nyeri responden sebelum diberikan relaksasi nafas dalam di Ruang IRD
BRSU Tabanan tahun 2012, seperti tabel 1 di bawah.

Tabel 1: Distribusi Intensitas Nyeri Sebelum Diberikan Relaksasi Nafas Dalam di Ruang IRD
BRSU Tabanan Tahun 2012

Variabel N Mean
Intensitas 15 8,07

Min
6

Max
10

Nyeri
Sebelum
Perlakuan
Berdasarkan tabel 1 di atas didapatkan dari 15 responden nilai maksimum intensitas
nyeri adalah 10 dan nilai minimum adalah 6 dengan rata-rata intensitas nyeri abdomen
sebelum perlakuan sebesar 8,07.
Nyeri merupakan perasaan yang sangat subyektif dan paling ditakutkan banyak orang.
Nyeri pada pasien appendiksitis adalah sensasi subjektif, rasa yang tidak nyaman biasanya
berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial (Corwin, 2001). Ketika suatu
jaringan mengalami cedera, atau kerusakan mengakibatkan dilepasnya bahan yang dapat
menstimulus reseptor nyeri seperti serotinin, histamin, ion kalium, bradikinin, prostaglandine
dan substansi P yang akan mengakibatkan respon nyeri. Nyeri juga dapat disebabkan stimulus
mekanik seperti pembengkakan jaringan yang menekan pada reseptor nyeri (Smeltzer, 2002).
Rasa nyeri merupakan stresor yang dapat menimbulkan stres dan ketegangan dimana
individu dapat berespon secara biologis dan perilaku yang menimbulkan respon fisik dan
psikis. Respon fisik meliputi perubahan keadaan umum, wajah, denyut nadi, pernafasan, suhu
badan, sikap badan dan apabila nafas makin berat dapat menyebabkan kolaps kardiovaskuler
dan syok, sedangkan respon psikis akibat nyeri dapat merangsang respon stres yang dapat
mengurangi sistem imun dalam peradangan, serta menghambat penyembuhan, respon yang
lebih parah akan mengarah pada ancaman merusak diri sendiri (Corwin, 2001).
Individu yang diduga apendisitis akan menjalani observasi dan bedrest serta prosedur
prosedur diagnostik yang diperlukan dalam upaya menentukan terapi dan tindakan
selanjutnya. Selama klien menunggu tindakan, keluhan nyeri yang dirasakan klien harus
dibuat seminimal mungkin (Husin, 2007). Pemberian analgesik dan pemberian narkotik untuk
menghilangkan nyeri tidak dianjurkan karena dapat mengaburkan diagnosa (Husin, 2007).
Perawat berperan dalam mengidentifikasikan kebutuhan klien dan membantu klien dalam
memenuhi kebutuhan tersebut (Husin,2007).
Intensitas nyeri responden setelah diberikan relaksasi nafas dalam di Ruang IRD
BRSU Tabanan tahun 2012, seperti tabel 2 di bawah.
Tabel 2: Distribusi Intensitas Nyeri Setelah Diberikan Relaksasi Nafas Dalam di Ruang IRD
BRSU Tabanan Tahun 2012

Variabel
N
Intensitas 15

Mean
4,60

Min Max
3
6

Nyeri
Setelah
Perlakuan
Berdasarkan tabel 2 di atas didapatkan dari 15 responden nilai maksimum intensitas
nyeri adalah 6 dan nilai minimum adalah 3, dengan rata-rata intensitas nyeri abdomen setelah
perlakuan sebesar 4,60.
Kebutuhann rasa nyaman adalah suatu keadaan yang membuat seseorang merasa
nyaman, terlidung dari ancaman psikologis, bebas dari rasa sakit terutama nyeri. Perubahan
rasa nyaman akan menimbulkan perasaan yang tidak enak atau tidak nyaman dalam berespon
terhadap stimulus yang berbahaya (Capernito, 2002). Proses dalam memenuhi kebutuhan rasa
nyaman, terutama akibat nyeri merupakan hal yang harus diatasi secepatnya karena dapat
menimbulkan respon berupa perubahan fisik dan psikis seseorang (Guyton, 2001).
Teknik relaksasi nafas dalam dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri melalui
mekanisme merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami spasme yang disebabkan oleh
peningkatan prostaglandin sehingga terjadi vasodilatasi pembuluh darah dan akan
meningkatkan aliran darah ke daerah yang mengalami spasme dan iskemia. Teknik relaksasi
napas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh untuk melepaskan opoiod endogen yaitu
endorphin dan enkefalin (Smeltzer, 2002)
Efektivitas pemberian relaksasi napas dalam terhadap intensitas nyeri pasien pre
appendiktomi
Tabel 3: Efektifitas Pemberian Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Intensitas Nyeri Pasien Pre
Apendiktomi di Ruang IRD BRSU Tabanan Tahun 2012
Variabel N Mean
Sebelum 15 8,07
perlakuan
Setelah

T
-

p
0,001

6.102
4,60

perlakuan
Berdasarkan data pada tabel 3 diketahui bahwa t hitung -6.102 dan dari analisis
tersebut juga didapat nilai p = 0,001 yang artinya bahwa nilai p< 0,05, maka H0 ditolak
atau hipotesa

penelitian (Ha) diterima, artinya relaksasi nafas dalam efektif terhadap

intensitas nyeri pada pasien pre apendiktomi. Nilai negatif t hitung (-6.102) menunjukkan

intensitas nyeri sebelum pemberian relaksasi nafas dalam lebih besar dari intensitas nyeri
setelah pemberian relaksasi nafas dalam, sehingga pemberian relaksasi nafas dalam efektif
untuk menurunkan intensitas nyeri pada pasien pre apendiktomi.
Jangka waktu yang belum jelas untuk observasi dan menunggu tindakan apendiktomi,
keluhan nyeri yang dirasakan pasien harus dibuat seminimal mungkin (Husin, 2007).
Pemberian analgesik dan pemberian narkotik untuk menghilangkan nyeri tidak dianjurkan
karena

dapat

mengaburkan

diagnosa

(Husin,

2007).

Perawat

berperan

dalam

mengidentifikasikan kebutuhan klien dan membantu klien dalam memenuhi kebutuhan


tersebut (Husin,2007). Proses dalam memenuhi kebutuhan rasa nyaman, terutama akibat nyeri
merupakan hal yang harus diatasi secepatnya karena dapat menimbulkan respon berupa
perubahan fisik dan psikis seseorang (Husin, 2007).
Menurut Potter & Perry (2006) untuk mengurangi atau menurunkan perasaan nyeri
dapat diberikan tindakan non farmakologi yaitu berupa teknik relaksasi nafas dalam yang
merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan. Teknik relaksasi nafas dalam juga dapat
meningkatkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah (Smeltzer, 2002).
Menurut Smeltzer (2002) dan Price & Wilson (2005) teknik relaksasi napas dalam
dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri melalui tiga (3) mekanisme yaitu dengan
merelaksasikan otot-otot skelet yang mengalami spasme yang disebabakan oleh insisi
(trauma) jaringan pada saat pembedahan. Relaksasi otot-otot skelet akan meningkatkan aliran
darah ke daerah yang mengalami trauma sehingga mempercepat penyembuhan dan
menurunkan (menghilangkan) sensasi nyeri karena nyeri paska bedah merupakan nyeri yang
disebabkan oleh trauma jaringan oleh karena itu jika trauma (insisi) sembuh maka nyeri juga
akan berkurang (hilang). Teknik relaksasi napas dalam dipercayai mampu merangsang tubuh
untuk melepaskan opoiod endogen yaitu endorfin dan enkefalin.
Secara umum nyeri adalah suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan maupun berat.
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya
diketahui bila seseorang pernah mengalaminya. Menurut International Association for Study
of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman perasaan emosional yang tidak menyenangkan
akibat terjadinya kerusakan aktual maupun potensial atau menggambarkan kondisi terjadinya
kerusakan.
Banyak faktor yang mempengaruhi nyeri, antara lain: lingkungan, umur, kelelahan,
riwayat nyeri sebelumnya, mekanisme pemecahan masalah pribadi, kepercayaan, budaya dan
tersedianya orang-orang yang memberi dukungan. Sebagian besar rasa nyeri hebat oleh
karena: trauma, iskemia atau inflamasi disertai kerusakan jaringan. Hal ini mengakibatkan

terlepasnya zat kimia tertentu yang berperan dalam merangsang ujung-ujung saraf perifer
(Corwin, 2001).
Nyeri dapat diperberat dengan adanya rangsangan dari lingkungan yang berlebihan,
misalnya: kebisingan, cahaya yang sangat terang dan kesendirian. Kelelahan juga
meningkatkan nyeri sehingga banyak orang merasa lebih nyaman setelah tidur. Riwayat nyeri
sebelumnya dan mekanisme pemecahan masalah pribadi berpengaruh pula terhadap seseorang
dalam mengatasi nyeri, misalnya: ada beberapa kalangan yang menganggap nyeri sebagai
suatu kutukan (Corwin, 2001). Tersedianya orang-orang yang memberi dukungan sangat
berguna bagi seseorang dalam menghadapi nyeri, misalnya: anak-anak akan merasa lebih
nyaman bila dekat dengan orang tua. Faktor kognitif (seperti: kepercayaan seseorang) dapat
meningkatkan ataupun menahan nyeri, terutama pemahaman tentang nyeri yang dimiliki
individu merupakan penyebab yang mungkin atau implikasinya (Corwin, 2001).
Dalam suatu penelitian yang dilakukan Woodrow et al, ditemukan bahwa toleransi
terhadap nyeri meningkat sesuai dengan pertambahan umur, misalnya semakin bertambah
usia seseorang maka semakin bertambah pula pemahaman terhadap nyeri dan usaha
mengatasinya. Toleransi terhadap nyeri lebih besar pada pria daripada wanita.
Teknik relaksasi napas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan pra bedah,
yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada pasien bagaimana cara melakukan napas
dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan
napas secara perlahan. Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi napas dalam
juga dapat meningkatkkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah (Smeltzer,
2002).
SIMPULAN
Karakteristik responden didapatkan sebagian besar ada pada rentang umur 20-30 tahun
yaitu sebesar 53,0%, laki-laki yaitu sebesar 60,0%, tingkat pendidikan pasien terbanyak
adalah PT yaitu sebesar 40,0% dan sebagian besar pasien bekerja sebagai PNS/ABRI yaitu
sebesar 33,0%.
Rata-rata intensitas nyeri abdomen sebelum diberikan relaksasi napas dalam adalah
8,07, dengan nilai maksimum 10 dan nilai minimum adalah 6.
Rata-rata intensitas nyeri abdomen setelah diberikan relaksasi napas dalam adalah 4,
60, dengan nilai maksimum 6 dan nilai minimum adalah 3.
Relaksasi nafas dalam efektif terhadap intensitas nyeri pada pasien pre apendiktomi.
(p = 0,001; = 0,05)

DAFTAR RUJUKAN
Anton, 2009, Referat Appendicitis Acute. Bagian Ilmu Bedah. Jakarta: FK UI
Carpenito, L., 2002, Rencana Asuhan Keperawan dan Dokumentasi, Edisi 2 Jakarta: EGC

Corwin, 2001, Buku Saku Patofisiologi, Jakarta: EGC.


Guyton, H., 2001, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Jakarta: EGC.
Hidayat, A., 2007, Riset keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah, Edisi 2, Jakarta : Salemba
Medika
Husin, M., 2007, Perkembangan Keperawatan : Disampaikan Pada Pelatihan Kemampuan
Guru Diploma III Keperawatan Dan SPK Dalam Pemberdayaan Laboratorium
Keperawatan Instalasi Pendidikan Akper Depkes. Bandung.
Notoatmodjo, S., 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT. Rineka Cipta
Nursalam, 2003, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan :
Pedoman Skripsi. Tesis dan Instrumen Penelitian, Jakarta: Salemba Medika
Potter & Perry, 2005, Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses Dan Praktik,
Jakarta: EGC.
Price & Wilson, 2005, Patofisiologi, Edisi 4, Buku 2, Jakarta: EGC.
Smeltzer, 2002, Keperawatan Medikal-Bedah, Edisi ke delapan, Jakarta: EGC