You are on page 1of 9

ARTIKEL ILMIAH

PRAKTIKUM BIOKIMIA II
SEMESTER IV TAHUN AKADEMIK 2013/2014

UJI AKTIVITAS ENZIM LIPASE DAN PROTEASE DARI BELUT (Monopterus albus)
LIPASE AND PROTEASE ACTIVITY TEST FROM EEL (Monopterus albus)

Oleh :
Hani Nurliyani (NPM. 26011010025)
Eni Herdiani (NPM. 260110120026)
Tazyinul Qoriah A. (NPM. 26010120027)
Novia Eka Putri (NPM. 260110120028)
Riza Yuniar (NPM. 260110120029)
Sani Asmi R.L. (NPM. 260110120030)
Erinna Rachma A. (NPM. 260110120032)

LABORATORIUM BIOKIMIA II
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014

UJI AKTIVITAS ENZIM LIPASE DAN PROTEASE DARI BELUT (Monopterus albus)
LIPASE AND PROTEASE ACTIVITY TEST FROM EEL (Monopterus albus)
Hani Nurliyani, Eni Herdiani, Tazyinul Q. Alfauziah, Novia E. Putri, Riza Yuniar, Sani A. R. Lestari,
dan Erinna R. Amadea
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Bandung Sumedang Km.21 Jatinangor Kode Pos 45363
Telp. (022)7996200, Fax.(022) 7796200 e-mail : haninurliyani18@gmail.com
Abstrak
Enzim adalah biokatalisator yang mengatur kecepatan berlangsungnya semua proses fisiologi.
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui aktivitas protease, aktivitas lipase, dan analisis kadar
protein total. Untuk aktivitas protease digunakan metode titrasi formol, untuk aktivitas lipase
digunakan metode titrasi alkalimetri, dan untuk analisis kadar protein total digunakan metode
Lowry. Bahan yang digunakan adalah fraksi belut dengan tingkat konsetrasi 40% dan 80%. Hasil
dari praktikum ini adalah kadar protease, kadar lipase, dan kadar protein total dari fraksi belut
40% dan 80%.
Abstract
Enzyme is a catalyst that regulates the speed of all physiological processes. The aims of this
experiment is find out proteases activity, lipases activity, and analyzes the total protein content.
For proteases activity used formol titration method, for lipases activity used alkalimeter titration
method, and for analyzes the total protein content used Lowrys method. Eel fraction with
concentration 40% and 80% used for this research. The result of this research were protease
content, lipase content, and total protein content from eel fraction 40% and 80%.
PENDAHULUAN

berkembang di Indonesia. Enzim tersusun

Enzim adalah biokatalisator yang

dari protein, fungsi katalis dari enzim ini

berfungsi sebagai katalis dalam proses

ditentukan oleh bentuk strukturnya. Jenis-

biologis (Lehninger, 1982). Enzim yang

jenis

dikenal luas penggunaannya adalah enzim

struktur enzim adalah ikatan peptide,

amilase,

yang

ikatan hidrogen, ikatan hidrofob, ikatan

pemecah

elektrostatik, dan ikatan disulfide (Conn, et.

lipase

merupakan

dan

enzim

protease

hidrolitik

senyawa makromolekul karbohidrat, lemak


dan protein (Page, 1989).
Aplikasi

amilase,

nonpangan

kimia

yang

menstabilkan

al, 1967)
Tujuan dari praktikum ini adalah

lipase

dan

protease dalam bidang industri pangan


maupun

ikatan

sangat

luas

menentukan kadar protease, kadar lipase,


dan kadar protein total.

METODE PENELITIAN

dan indikator fenolftalein 2 tetes pada setiap

Ekstraksi

tabung, lalu dititrasi dengan NaOH 0,049 N.

Belut

Monopterus

albus

segar

Uji Aktivitas Lipase

dibersihkan dari kotoran fisik (tanah, debris)

Uji aktivitas lipase dilakukan dengan

dengan cara mencuci cacing di bawah air

minyak zaitun (olive oil) sebagai substrat

mengalir, lalu dengan aquades. Ekstraksi

dalam bentuk emulsi (2,5 g Na-CMC, 75 mL

dilakukan dengan cara mencampur 56,7 gram

aquades, dan 25 mL olive oil). Sebanyak 5 mL

belut dan 50 mL pelarut 5 mM bufer fosat

emulsi dimasukkan ke dalam Erlenmeyer,

(PBS) pH 6,8 pada suhu 4 oC, lalu diblender.

diinkubasi selama 5 menit pada suhu 35oC

Ekstrak disaring dan digenapkan hingga

kemudian ditambah fraksi enzim sebanyak

volume 250 mL pada labu ukur. Ekstrak kasar

0,5 mL. Tabung sampel dan kontrol diinkubasi

dimasukkan ke dalam lemari pendingin.

selama 30 menit pada suhu 35oC. Asam lemak

Fraksinasi

bebas yang dihasilkan dititrasi dengan NaOH

Ekstrak belut dalam 5 mM PBS pH 6,8


dipresipitasi menggunakan ammonium sulfat

0,05 N dengan indikator fenolftalein.


Kadar Protein Total

dengan tingkat kejenuhan 40% dan 80%.

Kadar

protein

total

ditentukan

Proses pengendapan dibantu dengan alat

dengan bantuan pereaksi biuret. Dibuat kurva

sentrifugator, suspensi endapan kemudian

kalibrasi dengan berbagai konsentrasi kasein,

didialisis dengan membran selofan dalam

setiap tabung ditambah 8 mL biuret dan 1 mL

beaker glass yang berisi 50 mL PBS selama 2

aquades, lalu diukur absorbansinya dengan

jam pada suhu 4oC. Fraksi yang dihasilkan

menggunakan

dimasukkan ke dalam lemari pendingin..

Pengukuran

Uji Aktivitas Protease

ditentukan dengan cara yang sama, dengan

spektrofotometer
kadar

protein

UV-Vis.

total

fraksi

Uji aktivitas protease berdasarkan

penambahan 1 mL fraksi protein ke dalam

metode titrasi formol. 0,5 mL substrat kasein

tabung reaksi, lalu diukur absorbansinya

0,5% dan 0,6 mL aqudes dimasukkan ke

dengan panjang gelombang yang sesuai.

dalam tabung sampel dan kontrol, kemudian


diinkubasi selama 5 menit pada suhu 35 oC.

HASIL DAN PEMBAHASAN

0,1 mL larutan enzim ditambahkan pada

Ekstraksi

tabung sampel. Inkubasi dilanjutkan selama

Proses ekstraksi merupakan langkah

30 menit. Lalu reaksi enzimatik semua tabung

awal untuk mendapatkan senyawa yang

dihentikan dengan menambah 5 mL etanol

diinginkankan, yaitu enzim. Enzim merupakan

96%. Aktivitas protease dilakukan dengan

golongan protein yang paling banyak di dalam

cara menambah formaldehid sebanyak 2 mL

sel

hidup

yang

berfungsi

sebagai

biokatalisator reaksi kimia dalam sistem

hidup. Bahan yang akan diekstraksi berasal

tertentu menyebabkan kelarutan protein

dari belut. Belut ini dipilih karena di dalam

menurun (salting out).

tubuhnya banyak mengandung protein yang

Pada

tahap

pertama

dilakukan

tinggi, Omega 3, Vit-A, Vit-C, Vit-E, kalsium,

penghomogenan ekstrak agar zat-zat yang

zat besi dan lain-lain.

akan dicari tidak mengendap dan homogen di

Dalam proses ekstraksi ini digunakan

tiap larutan. Kemudian ekstrak dimasukkan

pelarut PBS (Phosphate Buffered Saline) 5mM

ke

dalam

pH 6,8 dan suhu 40 C. Hal ini dikarenakan PBS

disentrifugasi selama 14 menit dengan

merupakan cairan yang komposisinya hampir

kecepatan 1000 rpm. Filtrat dan endapan

sama dengan cairan tubuh. Pelarut ini juga

dipisahkan.

memerlukan kisaran pH tertentu yaitu 6,8

tabung

sentrifugasi

dan

Filtrat selanjutnya dipindahkan ke

karena untuk menjaga netralitas pada asam

dalam

beaker

glass

amino di dalam protein, mempertahankan

amonium sulfat 40% dan disentrifugasi

struktur protein, karena jika tidak terpenuhi,

dengan kecepatan 5000 rpm selama 5 menit.

maka struktur protein akan terdenaturasi.

Penambahan amonium sulfat dimaksudkan

Suhu juga berpengaruh pada sifat protein,

untuk mendesak protein keluar dengan

dimana protein tidak tahan terhadap suhu

melarut bersama air, sehingga protein keluar

yang tinggi akibatnya protein juga akan

dalam bentuk solidnya dan terbentuk protein

terdenaturasi.

yang terendapkan, karena protein memiliki

Fraksinasi

tingkat

kelarutan

dan

yang

ditambahkan

tinggi

daripada

Fraksinasi adalah proses pemisahan

protein. Filtrat kembali dipisahkan dengan

suatu kuantitas tertentu dari campuran,

endapannya dan endapan disimpan (endapan

dibagi dalam beberapa jumlah kecil (fraksi)

40%).

komposisi perubahan menurut kelandaian.

ditambahkan lagi ammonium sulfat sebanyak

Proses

40% dan disentrifugasi kembali dengan

fraksinasi

kelarutan

protein.

dilakukan

berdasarkan

Prinsip

pengendapan

dengan garam berdasarkan pada kelarutan


protein yang berinteraksi polar dengan

Selanjutnya,

perlakuan

yang

ke

sama.

dalam

Dan

filtrat

didapatkan

endapan 40% dan 80%.


Kemudian

dari

endapan

yang

molekul air, interaksi ionik protein dengan

didapatkan dilakukan pendialisisan endapan

garam, dan daya tolak menolak protein yang

untuk menghilangkan garam berlebih yang

bermuatan sama. Kelarutan protein, pada pH

terdapat dalam larutan enzim setelah tahap

dan suhu tertentu, akan meningkat pada

fraksinasi.

kenaikan konsentrasi garam (salting in). dan

pemindahan endapan ke dalam kantung

pada penambahan garam dengan konsentrasi

selofan sebagai sarana keluarnya molekul

Dialisis

dilakukan

dengan

yang berukuran kecil (garam) dan molekul

besar (protein) tertahan didalam kantung.

molekul minyak sehingga ia teremulsi di

Lalu, kantung dimasukkan ke dalam beaker

dalamnya. Pengadukan dilakukan dengan

glass berisi PBS dingin dan dilakukan selama 2

kecepatan yang konstan agar emulsi tidak

jam. Setiap 1 jam PBS diganti dengan yang

pecah. Na CMC merupakan suatu emulgator

baru. Hasil suspensi dimasukkan kedalam

yang akan menurunkan tegangan permukaan

botol vial dan disimpan di lemari pendingin.

air dan minyak serta membentuk lapisan film

Uji Aktivitas Lipase

pada

permukaan

globul-globul

fase

Pengujian aktivitas enzim lipase ini

terdispersinya. Lalu sedikit demi sedikit

dilakukan dengan ditambahkannya fraksi

dimasukkan minyak zaitun pada emulsi

protein pada emulsi minyak zaitun. Reaksi

tersebut. Emulsi yang terbentuk kemudian

yang diamati adalah reaksi hidrolisis minyak

dimasukkan kedalam 3 tabung reaksi. Tabung

zaitun dalam sistem emulsi minyak-air. Lipase

reaksi 1 untuk kontrol, tabung reaksi 2 untuk

sendiri merupakan enzim yang menghidrolisis

uji 1 dan tabung reaksi 3 untuk uji 2. Tabung

lipid dimana terdapat ester yang terikat pada

kontrol berisi 5 mL emulsi, tabung uji 1 berisi

trigliserida untuk membentuk suatu asam

5 mL emulsi dan 0,5 mL fraksi protein 40%,

lemak dan gliserol. Minyak zaitun sendiri

tabung uji 2 berisi 5 mL emulsi dan 0,5 mL

terdiri dari trigliserida atau lemak dan

fraksi

mengandung sejumlah kecil asam lemak

dihomogenkan agar fraksi protein dan emulsi

bebas, gliserol, fosfatida, pigmen, senyawa

menyatu.

flavon, dan sterol. Minyak zaitun merupakan

batang pengaduk, karena apabila dengan alat

molekul yang berasal dari esterifikasi alami

yang tajam dikhawatirkan akan merusak

dari 3 molekul asam lemak dan molekul

protein. Lalu ketiga tabung diinkubasi pada

gliserol. Keberadaan lipase akan memecah

suhu 35oC selama 30 menit. Fungsi inkubasi

minyak zaitun tersebut menjadi suatu asam

adalah agar enzim bekerja optimal dan

lemak. Keberadaan asam lemak dideteksi

hidrolisis emulsi minyak akan berlangsung

dengan cara titrasi asam basa dengan

secara maksimal. Selama inkubasi asam

indikator fenolftalein sehingga ditentukanlah

lemak bebas dilepaskan dan mengalami

ada tidaknya aktivitas lipase.

penurunan pH. Dan akan menghasilkan

Minyak harus diemulsikan sehingga

protein

80%.

Pengadukan

Lalu

isi

dibantu

tabung

dengan

produk asam lemak.

dalam pelarutan fraksi protein tidak terlalu

Setelah ketiga tabung diinkubasi, isi

sulit. Pembuatan emulsi dilakukan pada

tabung

dimasukkan

ke

dalam

labu

mortir panas dan menggunakan stamper

erlenmeyer kemudian ditambahkan aquafes

yang panas juga. Na CMC dikembangkan

sebanyak 10 mL untuk memperpanjang titik

terlebih dahulu agar terbentuk mucilago.

akhir titrasi dan fenolftalein sebagai indikator

Mucilago inilah yang akan mengelilingi

sebanyak 2 tetes. Kemudian ketiga labu

dititrasi dengan NaOH 0,05 N yang telah

Yang berpengaruh terhadap aktivitas

dibakukan sebelumnya. Kemudian dicatat

lipase adalah senyawa pengemulsi yang

berapa banyak NaOH yang diperlukan untuk

digunakan karena lipase hanya bekerja pada

mengubah warna campuran menjadi merah

fasa antara miyak dan air, sehingga substrat

muda. Untuk labu erlenmeyer yang berisi

perlu diubah terlebih dahulu menjadi emulsi

kontrol dibutuhkan volume NaOH 0,05 mL.

minyak-air. Peningkatan temperatur juga

5,7 mL untuk labu yang berisi campuran

akan mengubah kecepatan reaksi kimia

emulsi dan fraksi protein 40% dan 2,3 mL

akibat

untuk labu yang berisi campuran emulsi dan

molekul

fraksi protein 80%.

antarmolekul

peningkatan

jumlah

reaktan

sehingga

per

satuan

energi

bagi

tumbukan
waktu

lebih

Pada proses ini banyaknya asam

produktif. Namun temperatur yang terlalu

lemak yang dilepaskan akan dititrasi oleh

tinggi akan menyebabkan enzim sangat

NaOH

mudah terinaktivasi karena ezim mudah

sehingga

volume

NaOH

yang

dibutuhkan untuk mentitrasi akan sama

terdenaturasi.

dengan volume asam lemak yang dihasilkan

berpengaruh karena jika jumlah air dikurangi

oleh enzim lipase. Pada proses titrasi larutan

inaktivasi

diamati perubaan warna dari bening menjadi

diperlambat dan stabilitas termal enzim

merah muda dan apabila larutan tidak

dapat meningkat. pH juga mempengaruhi

berubah warna kembali (warna stabil) maka

dimana enzim akan mengkatalisis reaksi pada

asam lemak yang dihasilkan dari enzim telah

pH yang optimum.

habis dititrasi. Aktivitas lipase yang semakin

Uji Aktivitas Protease

tinggi ditunjukkan oleh semakin banyaknya


volume NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi.
Kemudian setelah diketahui volume
NaOH

yang

dibutuhkan

kita

Jumlah

enzim

oleh

air

juga

panas

dapat

dapat

Uji aktivitas protease ini dilakukan


dengan metode titrasi formol. Prinsipnya
protease merupakan enzim yang dapat

dapat

menghidrolisis protein menjadi asam amino,

menghitung kadar lipase dengan rumus

dimana asam amino memiliki gugus asam


karboksil dan amin pada strukturnya. Gugus

kemudian

dilanjutkan

dengan

rumus

asam inilah yang kemudian akan bereaksi


dengan basa pentiter, sehingga jumlah basa

sehingga didappatkan hasil untuk fraksi 40%

akan berbanding lurus dengan jumlah asam

adalah 5,65 mL volume lipase dengan

yang terikat, maka dapat diketahui jumlah

molaritas 0,2305 mol. Dan untuk fraksi 80%

asam amino yang ada. Uji ini dilakukan

didapatkan 2,25 mL volume lipase dengan

dengan menggunakan substrat kasein 0,5%

molaritas 0,0918 mol.

yang diberi fraksi enzim 40%, 80% dan


kontrol. Secara teoritis jika dalam fraksi

mengandung enzim protese yang dapat

Kadar Protein Total

memecah protein menjadi asam amino, akan

Penentuan kadar protein total dari

menunjukkan volume titrasi yang lebih

ekstrak belut merupakan hal yang mendasar

banyak daripada kontrol, karena akibat

sebab enzim-enzim merupakan suatu protein.

aktivitas enzim terbentuk asam amino yang

Walaupun

lebih banyak. Pada struktur asam amino

percobaan semikuantitatif, penetapan kadar

terdapat gugus R yang dapat berikatan

protein total ini menghasilkan suatu nilai.

dengan apapun dan pemberi ciri khas pada

Dengan

setiap asam amino, pada substrat kasein ini

setidaknya, dapat dipastikan bahwa di dalam

karena tidak dapat terprediksi gugus apa saja

ekstrak belut tersebut terdapat protein

yang terikat pada gugus R tersebut sehingga

sehingga perhitungan keberadaan enzim-

dalam

metode

enzim (protease dan lipase) benar adanya.

faktor

konversi,

perhitungannya terdapat
dimana

setiap

protein

percobaan

diketahuinya

Metode

yang

ini

merupakan

nilai

tersebut,

dilakukan

adalah

memilki nilai yang berbeda sebagai suatu

metode yang menggabungkan reaksi ion

konstanta tetap. Kasein memiliki faktor

tembaga dengan ikatan peptida dalam

konversi 1,63, yang dikalikan dengan volume

kondisi basa. Hasil tersebut akan dideteksi

titrasi

dengan

sampel

dikurangi

spektrofotometer

visibel.

kontrol. Pada sisi lain, asam amino memiliki

Penggunaan spektrofotometer

visibel ini

gugus fungsi amin, dimana untuk mencegah

dapat mengukur jumlah penyerapan zat

adanya gangguan dari gugus amin pada reaksi

suatu senyawa, maka dari itu, instrumen

yang berlangsung antara basa pentiter

tersebut

dengan gugus karboksil, maka dilakukan

konsentrasi larutan atau senyawa secara

penambahan

kuantitatif.

formaldehid

volume

yang

titrasi

dapat

bereaksi dan membentuk ikatan bersama


gugus

amin

menjadi

dimetilol.

digunakan

untuk

penentuan

Dalam pembuatan pereaksi biuret,

Setelah

terkandung 3 reagen didalamnya yaitu CuSO4

substrat direaksikan dengan fraksi enzim,

dalam aquades dimana reagen ini berfungsi

kemudian dititrasi dengan basa NaOH dengan

sebagai penyedia Cu2+ yang nantinya akan

hasil akhir diperoleh nilai aktivitas enzim

membentuk

pada fraksi 40% yaitu 14,51 dan pada fraksi

Reagen yang kedua adalah K-Na- tartrat yang

80% yaitu 11,57 ini menunjukkan bahwa

berfungsi untuk mencegah terjadinya reduksi

aktivitas enzim protease mencapai aktivitas

pada Cu2+ sehingga tidak mengendap. Reagen

maksimal pada fraksi 40%.

yang ketiga adalah NaOH dimana fungsinya

kompleks

dengan

protein.

adalah memuat suasana larutan menjadi


basa.

Suasana

basa

akan

membantu

pembentukan Cu(OH)2 yang nantinya akan


menjadi Cu2+ dan 2 OH-.
Selanjutnya

Data yang didapat adalah sebagai


berikut.

adalah

penetapan

Konsentrasi kasein

Absobansi

panjang gelombang maksimum. Penetapan

0.0046

panjang gelombang maksimum ini dilakukan

50

0.0098

untuk

absorbansi

100

0.0102

mencapai maksimum sehingga meningkatkan

150

0.0145

proses absorbansi sinar terhadap sinar.

200

0.0177

mengetahui

ketika

Penentuan panjang gelombang maksimum ini


sangat menentukan dalam percobaan ini.

Kurva Kalibrasi

Apabila terjadi penyimpangan yang kecil


percobaan

akan

kesalahan yang kecil dalam pengukuran. Jika


pemilihan

panjang

spektrum

perubahan

0.02

mengakibatkan

gelombang
besar

memiliki

pada

nilai

Absorbansi

selama

0.015
0.01
0.005
0

absorbansi saat panjang gelombang sempit

maka apabila terjadi penyimpangan kecil


pada

cahaya

r = 0,9794

50 100 150 200


Konsentrasi (g/mL)

yang

masuk

akan

kesalahan

besar

dalam

pengukuran fraksi protein dimana fraksi

gelombang

protein (40% dan 80%) dimasukkan masing-

maksimum yang didapatkan pada percobaan

masing ke dalam tabung reaksi, kemudian

ini adalah sebesar 635 nm dengan absorbansi

ditambah reagen biuret dan aquades. Dalam

sebesar 0.0028.

fraksi protein terdapat berbagi macam dan

mengakibatkan
pengukuran.

Nilai

panjang

Tahap

selanjutnya

adalah

Selanjutnya adalah pembuatan kurva

jenis protein. Protein-protein tersebut terdiri

kalibrasi. Larutan yang digunakan untuk

dari asam-asam amino yang dihubungakan

membut kurva kalibrasi ini adalah larutan

atau terikat dengan ikatan peptida. Ikatan

kasein dalam berbagai konsentrasi. Larutan

peptida tersebut dapat membentuk senyawa

kasein tersebut digunakan sebagai kontrol

kompleks dengan penambahan garam kupri

dalam percobaan ini

sebagai nilai 100%

dalam suasana basa (Biuret). Reaksi biuret

transmitan. Pembuatan kurva standar ini

terdiri dari campuran protein dengan NaOH

bertujuan

hubungan

dan tembaga sulfat. Reaksi ini positif untuk 2

antara konsentrasi larutan dengan nilai

atau lebih ikatan peptida. Kompleks tersebut

absorbansinya sehingga konsentrasi sampel

akan

dapat diketahui.

tersebutlah

untuk

mengetahui

berwarna

menggunakan

violet

yang

sehingga

diukur

warna

absorbansinya

spektrofotometer

visibel.

Penyerapan cahaya oleh protein terutama

sebanyak 3885,44

disebabkan oleh ikatan peptida residu tirosil,

736,08

untuk fraksi 40% &

untuk fraksi 80%.

triptofonil, fenilalanin. Juga turut mengaruhi


gugus-gugus non-protein yang mempunyai
sifat menyerap cahaya.

Penulis

Reaksi yang terjadi

menyampaikan

ucapan

terima kasih kepada Ibu Nyi Mekar dan dosen

CuSO4.5H2O + 2NaOH -> Cu(OH)2 + Na2SO4 +5H2O


2+

UCAPAN TERIMA KASIH

Cu(OH)2 -> Cu + 2 OH

mata kuliah Biokimia II, Asisten, dan Laboran


Laboratorium Biokimia II, serta semua pihak

Hasil yang didapat adalah absorbansi

yang telah meluangkan waktunya untuk

pada fraksi protein 40% 0.2454; 0.2459;

memberikan bimbingan, dorongan, dan saran

0.2453 yang memberikan rata-rata sebesar

semenjak penyusunan artikel ilmiah ini

0.245367. sedangkan fraksi protein belut 80%

hingga selesai.

memberikan nilai absorbansi 0.0503; 0.0506;


0.051 dan memberikan nilai rata-rata sebesar
DAFTAR PUSTAKA

0.05067.
Dari

kurva

kalibrasi

diatas,

didapatkan

persamaan

Dari nilai absorbansi fraksi protein


yang didapat, maka didapatkanlah kadar
protein total pada fraksi protein 40% adalah
3885,44
sebanyak 736,08

dan fraksi protein 80%


. Dari hasil tersebut,

kadar protein total pada fraksi protein 40 %


lebih banyak dibanding dengan fraksi protein
80%.

KESIMPULAN DAN SARAN


Hasil dari praktikum ini didapatkan kadar
protease sebanyak 14,51 untuk fraksi 40% &
11,57 untuk fraksi 80%, kadar lipase sebanyak
5,65 mL volume lipase dengan molaritas
0,2305 mol untuk fraksi 40% & 2,25 mL
volume lipase dengan molaritas 0,0918 mol
untuk fraksi 80%, dan kadar protein total

Conn, E.E., and Stumpf, P.K.. 1967. Outlines of


Biochemistry. Second edition. United
States of America: John Willey and
Sons, inc. p.87-88.
Lehninger, A. L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia
Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Page, D. S. 1989. Prinsip-Primsip Biokimia
(Terjemahan). Jakarta: Erlangga.