You are on page 1of 7

keunggulan modulasi FM dibandingkan AM,DAN keunggulan sinyal digaital

daripada analog

Kenapa Gelombang FM Lebih Jernih Dibanding AM?


Gelombang AM sudah lama ditinggal. Nyaris semua radio bermain di jalur FM. Kenapa sih FM
lebih jernih?
Hingga tahun delapan puluhan, stasiun radio broadcast (siaran) banyak menggunakan modulasi
AM (Amplitude Modulation). Pada saat itu, umumnya enggak ada siaran radio yang mampu
menampilkan suara bening, apalagi stereo. Belum lagi kalau cuaca sedang enggak mendukung.
Wah, pokoknya kita enggak bisa menikmati indahnya suara musik senyaman saat ini.
Setelah periode itu, mulai bermunculan stasiun radio siaran pengusung modulasi FM (Frequency
Modulation). Jenis modulasi ini mampu memanjakan pendengar siaran karena menghasilkan
suara yang lebih bening. Selain itu, ia dapat diterima dengan pola mono atau stereo. Maksudnya,
jika radio penerima kita hanya bisa menerima siaran mode mono, maka ia menampilkan suara
mono. Sedang radio penerima tipe stereo punya pilihan untuk menampilkan suara mono atau
stereo beneran (real stereo) sesuai dengan yang dipancarkan oleh stasiun radio siaran.
Sebelum kita membahas lebih detail keuntungan dan kerugian modulasi fm dan am,,,alangkah
baiknya kita mempelajari apa sih modulasi fm dan am itu?
Analogi modulasi
Dalam istilah teknik, kata modulasi mempunyai definisi yang cukup panjang. Tapi, hal itu dapat
dijelaskan dengan analogi sederhana berikut: kalau kita ingin pergi ke tempat lain yang jauh
(yang tidak bisa di lakukan dengan jalan kaki atau berenang), kita harus menumpang sesuatu.
Sinyal informasi (suara, gambar, data) juga begitu. Agar dapat dikirim ke tempat lain, sinyal
informasi harus ditumpangkan pada sinyal lain. Dalam konteks radio siaran, sinyal yang
menumpang adalah sinyal suara, sedangkan yang ditumpangi adalah sinyal radio yang disebut
sinyal pembawa (carrier).
Jenis dan cara penumpangan sangat beragam. Dari tinjauan penumpang, cara menumpangkan
manusia pasti berbeda dengan paket barang atau surat. Hal serupa berlaku untuk penumpangan
sinyal analog yang berbeda dengan sinyal digital. Penumpangan sinyal suara juga akan berbeda
dengan penumpangan sinyal gambar, sinyal film, atau sinyal lain.
Dari sisi pembawa, cara menumpang di pesawat terbang akan berbeda dengan menumpang di
mobil, bus, truk, kapal laut, perahu, atau kuda. Hal yang sama juga terjadi pada modulasi. Di
mana cara menumpang ke amplitudo gelombang carrier akan berbeda dengan cara menumpang
di frekuensi gelombang carrier.

Gelombang/sinyal carrier
Gelombang/sinyal carrier adalah gelombang radio yang mempunyai frekuensi jauh lebih tinggi
dari frekuensi sinyal informasi. Berbeda dengan sinyal suara yang mempunyai frekuensi

beragam/variabel dengan range 20 Hz hingga 20 kHz, sinyal carrier ditentukan pada satu
frekuensi saja. Frekuensi sinyal carrier ditetapkan dalam suatu alokasi frekuensi yang ditentukan
oleh badan yang berwewenang.
Di Indonesia, alokasi frekuensi sinyal carrier untuk siaran FM ditetapkan pada frekuensi 87,5
MHz hingga 108 MHz. Alokasi itu terbagi untuk 204 kanal dengan penganalan kelipatan 100
kHz. Kanal pertama berada pada frekuensi 87,6 MHz, sedangkan kanal ke 204 berada pada
frekuensi 107,9 MHz. Penetapan tersebut dan aturan lainnya tertuang dalam Keputusan Menteri
Perhubungan Nomor KM 15 Tahun 2003.
Frekuensi carrier inilah yang disebutkan oleh stasiun radio untuk menunjukkan keberadaannya.
Misalnya, Radio XYZ 100,2 FM atau Radio ABC 98,2 FM. 100,2 Mhz dan 98,2 MHz adalah
frekuensi carrier yang dialokasikan untuk stasiun bersangkutan.
Karena berupa gelombang sinusoida, sinyal carrier mempunyai beberapa parameter yang dapat
berubah. Perubahan itu dapat terjadi pada amplitudo, frekuensi, atau parameter lain. Contoh
perubahan amplitudo dan perubahan frekuensi dari suatu sinyal asal ditunjukkan dalam gambar.
Kemampuan untuk diubah inilah yang menjadi ide dari teknik-teknik modulasi.
Modulasi AM
Dari banyak teknik modulasi, AM dan FM adalah modulasi yang banyak diterapkan pada radio
siaran. Keduanya dipakai karena tekniknya relatif lebih mudah dibandingkan dengan teknikteknik lain. Dengan begitu, rangkaian pemancar dan penerima radionya lebih sederhana dan
mudah dibuat.
Di pemancar radio dengan teknik AM, amplitudo gelombang carrier akan diubah seiring dengan
perubahan sinyal informasi (suara) yang dimasukkan. Frekuensi gelombang carrier-nya relatif
tetap. Kemudian, sinyal dilewatkan ke RF (Radio Frequency) Amplifier untuk dikuatkan agar
bisa dikirim ke jarak yang jauh. Setelah itu, dipancarkan melalui antena.
Tentu saja dalam perjalanannya mencapai penerima, gelombang akan mengalami redaman
(fading) oleh udara, mendapat interferensi dari frekuensi-frekuensi lain, noise, atau bentukbentuk gangguan lainnya. Gangguan-gangguan itu umumnya berupa variasi amplitudo sehingga
mau tidak mau akan memengaruhi amplitudo gelombang yang terkirim.
Akibatnya, informasi yang terkirim pun akan berubah dan ujung-ujungnya mutu informasi yang
diterima jelas berkurang. Efek yang kita rasakan sangat nyata. Suara merdu Andien yang
mendayu akan terdengar serak, aransemen Dewa yang bagus itu jadi terdengar enggak karuan,
dan suara Iwan Fals benar-benar jadi fals.
Cara mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh redaman, noise, dan interferensi cukup sulit.
Pengurangan amplitudo gangguan (yang mempunyai amplitudo lebih kecil), akan berdampak
pada pengurangan sinyal asli. Sementara, peningkatan amplitudo sinyal asli juga menyebabkan
peningkatan amplitudo gangguan. Dilema itu bisa saja diatasi dengan menggunakan teknik lain
yang lebih rumit. Tapi, rangkaian penerima akan menjadi mahal, sementara hasil yang diperoleh
belum kualitas Hi Fi dan belum tentu setara dengan harga yang harus dibayar.
Itulah barangkali yang menyebabkan banyak stasiun radio siaran bermodulasi AM pindah ke
modulasi FM. Konsekuensinya, mereka juga harus pindah frekuensi carrier karena aturan alokasi
frekuensi carrier untuk siaran AM berbeda dengan siaran FM. Frekuensi carrier untuk siaran AM

terletak di Medium Frequency (300 kHz - 3 MHz/MF), sedangkan frekuensi carrier siaran FM
terletak di Very High Frequency (30 MHz - 300 MHz/VHF).
Modulasi FM
Di pemancar radio dengan teknik modulasi FM, frekuensi gelombang carrier akan berubah
seiring perubahan sinyal suara atau informasi lainnya. Amplitudo gelombang carrier relatif tetap.
Setelah dilakukan penguatan daya sinyal (agar bisa dikirim jauh), gelombang yang telah
tercampur tadi dipancarkan melalui antena.
Seperti halnya gelombang termodulasi AM, gelombang ini pun akan mengalami redaman oleh
udara dan mendapat interferensi dari frekuensi-frekuensi lain, noise, atau bentuk-bentuk
gangguan lainnya. Tetapi, karena gangguan itu umumnya berbentuk variasi amplitudo, kecil
kemungkinan dapat memengaruhi informasi yang menumpang dalam frekuensi gelombang
carrier.
Akibatnya, mutu informasi yang diterima tetap baik. Dan, kualitas audio yang diterima juga lebih
tinggi daripada kualitas audio yang dimodulasi dengan AM. Jadi, musik yang kita dengar akan
serupa dengan kualitas musik yang dikirim oleh stasiun radio sehingga enggak salah kalau
stasiun-stasiun radio siaran lama (yang dulunya AM) pindah ke teknik modulasi ini. Sementara
stasiun-stasiun radio baru juga langsung memilih FM.

Selain itu, teknik pengiriman suara stereonya juga tidak terlalu rumit. Jadinya, rangkaian penerima FM
stereo mudah dibuat, sampai-sampai dapat dibuat seukuran kotak korek api. Produk FM autotuner
seukuran kotak korek api ini sudah gampang diperoleh di kaki lima dengan harga yang murah.
Kualitasnya cukup memadai untuk peralatan semurah dan sekecil itu.

fidelitas yang tinggi. Jika dibandingkan dengan sistem AM, maka FM memiliki beberapa
keunggulan, diantaranya :
Lebih tahan noise Di antara keuntungan FM adalah bebas dari pengaruh gangguan udara,
bandwidth (lebar pita) yang lebih besar, dan
Frekuensi yang dialokasikan untuk siaran FM berada diantara 88 108 MHz, dimana pada
wilayah frekuensi ini secara relatif bebas dari gangguan baik atmosfir maupun interferensi yang
tidak diharapkan. Jangkauan dari sistem modulasi ini tidak sejauh, jika dibandingkan pada sistem
modulasi AM dimana panjang gelombangnya lebih panjang. Sehingga noise yang diakibatkan
oleh penurunan daya hampir tidak berpengaruh karena dipancarkan secara LOS (Line Of Sight).

Bandwith yang Lebih Lebar


Saluran siar FM standar menduduki lebih dari sepuluh kali lebar bandwidth (lebar pita) saluran
siar AM. Hal ini disebabkan oleh struktur sideband nonlinear yang lebih kompleks dengan
adanya efek-efek (deviasi) sehingga memerlukan bandwidth yang lebih lebar dibanding
distribusi linear yang sederhana dari sideband-sideband dalam sistem AM. Band siar FM terletak
pada bagian VHF (Very High Frequency) dari spektrum frekuensi di mana tersedia bandwidth
yang lebih lebar daripada gelombang dengan panjang medium (MW) pada band siar AM.
Fidelitas Tinggi
Respon yang seragam terhadap frekuensi audio (paling tidak pada interval 50 Hz sampai 15
KHz), distorsi (harmonik dan intermodulasi) dengan amplitudo sangat rendah, tingkat noise yang
sangat rendah, dan respon transien yang bagus sangat diperlukan untuk kinerja Hi-Fi yang baik.
Pemakaian saluran FM memberikan respon yang cukup untuk frekuensi audio dan menyediakan
hubungan radio dengan noise rendah. Karakteristik yang lain hanyalah ditentukan oleh masalah
rancangan perangkatnya saja.
Transmisi Stereo
Alokasi saluran yang lebar dan kemampuan FM untuk menyatukan dengan harmonis beberapa
saluran audio pada satu gelombang pembawa, memungkinkan pengembangan sistem penyiaran
stereo yang praktis. Ini merupakan sebuah cara bagi industri penyiaran untuk memberikan
kualitas reproduksi sebaik atau bahkan lebih baik daripada yang tersedia pada rekaman atau pita
stereo. Munculnya compact disc dan perangkat audio digital lainnya akan terus mendorong
kalangan industri peralatan dan teknisi siaran lebih jauh untuk memperbaiki kinerja rantai siaran
FM secara keseluruhan.
Hak komunikasi Tambahan
Bandwidth yang lebar pada saluran siar FM juga memungkinkan untuk memuat dua saluran data
atau audio tambahan, sering disebut Subsidiary Communication Authorization (SCA), bersama
dengan transmisi stereo. Saluran SCA menyediakan sumber penerimaan yang penting bagi
kebanyakan stasiun radio dan sekaligus sebagai media penyediaan jasa digital dan audio yang
berguna untuk khalayak.

ISTILAH digital yang selalu kamu dengar sehari-hari itu berarti apa sih? Mulai dari jam digital,
apa bedanya dengan jam analog ? Apakah pesawat telpon kamu yang sudah memiliki tomboltomol angka berarti sudah digital? (bandingkan dengan pesawat telp yang menggunakan
piringan dial apakah itu diesbut Analog? Lantas bagaimana dengan album musik kamu yang
masih berupa pita kaset atau keping disk? Apakah termasuk kategori analog atau digital juga ?
Atau bagaimana juga dengan kamera film (selulosa) dan juga kamera digital kamu?

Analog berarti kuno dan digital berarti moderen, analaog murah, digital mahal, atau analog
berarti tidak seperti digital yang identik dengan angka-angka. Begitulah anggapan awam
tentang analog dan digital. Coba saja kamu lihat istilah jam analog dan jam digital, perbedaannya
adalah yang menggunakan jarum adalah analog, dan yang berupa display angka-angka
adalah digital.
Analog dan digital sebenarnya lebih kepada istilah dalam
penyimpanan dan penyebaran data. Data Analog
disebarluaskan melalui gelombang elekromagnetik
(gelombang radio) secara terus menerus, yang banyak
dipengaruhi oleh faktor pengganggu, sementara data
digital adalah merubah data menjadi sederhana yaitu
hanya terdiri dari 0 dan 1, yang akan lebih mudah
untuk di sebarkan secara
mudah tanpa terjadi
gangguan.
Pemahaman yang mudah
tentang analog dan digital
adalah pada pita kaset
lagu dan file MP3 kamu.
Jika kamu meng-copy (menyalin) atau merekam pita
kaset, tentu hasilnya banyak ditentukan oleh alat perekamnya, kebersihan head rekam nya, dan
sebagainya, semakin banyak kamu merekam ke tempat lain, kualitas suaranya akan berubah.
Tapi dengan meng-copy file MP3, kamu akan mendapat salinannya sama persis dengan aslinya,
berapapun banyaknya kamu menggandakannya.Kini ada juga yang menyalin lagu-lagu dari pita
kaset menjadi file, atau disebut juga "men-digital-isasi"
Namun dalam bidang audio ini, sistem analog masih memiliki
beberapa keunggulan dibanding sistem digital, yang
menyebabkan masih ada beberapa penggemar fanatik yang lebih
menyukai rekaman analog.
Perbedaan kamera analog (manual) dan kamera digital hanya
terletak pada media penyimpanannya, kalau kamera sebelumnya
menyimpan data gambar dalam bentuk filem yang harus kamu
proses dulu untuk bisa mendapatkan foto nya, sementara kamrea digital menyimpan data
gambarnya dalam bentuk data digital yang bisa langsung kamu nikmati sesaat setelah
dijepret
Dalam bidang telekomunikasi, perbedaan telepon analog dan digital, bukan berdasarkan jenis
pesawat teleponnya, namun kepada sistem di sentral teleponnya, walaupun untuk mendukung
sistem sentra yang digital, diperlukan pesawat telepon khusus. Begitu juga dengan siaran televisi
analog dan digital. Siaran Analog kadang terganggu oleh cuaca, letak bangunan, dan penyebab
lainnya, sementara siaran digital memiliki kualitas suara dan gambar yang lebih bagus, karena
data-nya tidak mengalami gangguan saat dikirim ke TV penerima.
System digital merupakan bentuk sampling dari sytem analog. digital pada dasarnya di code-kan
dalam bentuk biner (atau Hexa). besarnya nilai suatu system digital dibatasi oleh lebarnya /
jumlah bit (bandwidth). jumlah bit juga sangat memengaruhi nilai akurasi system digital.

Contoh kasus. ada system digital dengan lebar 1 byte (8 bit). maka nilai-nilai yang dapat dikenali
oleh system adalah bilangan bulat dari 0 - 255 (256 nilai : 2 pangkat 8).
Kita bandingkan dengan system analog -- di antara angka 0 s/d 255 --... system analaog dapat
menghasilkan nilai sebanyak tidak terhingga (0..0,0002... dst).
Namun dengan semakin lebarnya bandwith digital (bisa hampir 3 GByte) dijaman sekarang ini
membuat semakin tipisnya perbedaan antara digital dan analog system.

Signal digital ini memiliki berbagai keistimewaan yang unik yang tidak dapat ditemukan pada
teknologi analog yaitu :

Mampu mengirimkan informasi dengan kecepatan cahaya yang dapat membuat informasi dapat
dikirim dengan kecepatan tinggi.

Penggunaan yang berulang ulang terhadap informasi tidak memengaruhi kualitas dan kuantitas
informsi itu sendiri.

Informasi dapat dengan mudah diproses dan dimodifikasi ke dalam berbagai bentuk.

Dapat memproses informasi dalam jumlah yang sangat besar dan mengirimnya secara interaktif.