You are on page 1of 14

Setiap anak juga memiliki gaya belajar yang berbeda-beda.

Ada yang lebih cepat menangkap pelajaran melalui


penjelasan secara visual (penglihatan), auditorial (pendengaran), ataupun kinestetik (gerakan).
Memberikan bacaan untuk dipelajari ataupun presentasi berupa gambar dan tulisan di depan kelas adalah cara
yang ideal bagi anak-anak yang memiliki gaya belajar visual. Sedangkan, membacakan cerita atau menjelaskan
sesuatu secara verbal adalah cara belajar yang paling pas bagi anak yang tergolong auditorial. Lalu bagaimana
dengan tipe pembelajar yang terakhir?
Menurut Brandi Roth, PhD., psikolog sekaligus penulis buku Secrets to School Success: Guiding Your Child
Through a Joyous Learning Experience, dari Beverly Hills, Amerika, anak kinestetik punya ciri mudah
mempelajari sesuatu melalui praktik langsung.
Misalnya, melatih penjumlahan dengan melibatkan benda-benda seperti kelereng, pensil, dll, untuk dijumlahkan
secara langsung. Dengan kata lain, masih dalam konteks permainan yang melibatkan gerakan tetapi sekaligus
sambil mempelajari suatu materi tertentu.
Secara umum, ciri-ciri tipe pembelajar kinestetik adalah sebagai berikut:
-

Suka menyentuh, merasakan, dan memegang sesuatu.


Rentang perhatian pendek.
Menyukai kegiatan yang membuatnya terus bergerak dan bekerja.
Lebih memilih untuk menunjukkan daripada menjelaskan sesuatu.
Mereka dapat mempelajari sesuatu dengan tangan secara lebih baik, suka mencoba segala sesuatu sendiri.

Kecerdasan Kinestetik-Jasmani

Kecerdasan ini merupakan keahlian menggunakan seluruh tubuh


untuk menyampaikan ide dan perasaan, dan keterampilan menggunakan tangan untuk
menciptakan atau mengubah suatu bentuk. Kecerdasan ini meliputi kemampuan fisik
yang khusus, seperti koordinasi, keseimbngan, keterampilan, kekuatan, kelenturan, dan
kecepatan maupun kemampuan menerima rangsangan panca indera.
Kemampuan yang terkait dengan kecerdasan kinestetik jasmani adalah:

Kemampuan menggerakkan anggota tubuh.

Kemampuan mengatur keseimbangan tubuh.

Kemampuan mengatur kelenturan tubuh.

Kemampuan menjaga kesehatan tunuh.

Beberapa bentuk permainan yang digunakan guna mengembangkan kemampuan


kecerdasan kinestetik-jasmani adalah:

1. Permainana Olah Raga

Jalan, lari, berenang, main bola, senam, merupakan contoh permainan


yang dapat mengembangkan kemampuan fisik atau olah tubuh anak. Orang tua dan
pendidik dapat mengajak anak melakukan permainan olah raga secara rutin hari minggu
atau hari-hari tertentu. Olah raga tidak hanya akan melatih kecerdasan kinestetik anak,
melainkan juga bertujuan untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan tubuh anak.
2. Gerak dan Lagu atau Menari
Permainan gerak dan lagu atau menari, bermanfaat bagi anak untuk mengembangkan
kelenturan tubuh anak. Untuk anak usia dini bermain ini dapat dilakukan dengan
gerakan-gerakan yang sederhana dengan tidak meninggalkan unsur gerak dan seninya.
3. Permainan Motorik Halus (dengan otot-otot kecil)

Berbagai kegiatan permainan dapat digunakan untuk


mengembangkan kemampuan motorik halus anak antara lain: mencoret-coret,
menirukan pola gambar tertentu (balon, buku, bola, piring, gelas, dll), meronce, melipat,
bermain plastisin, bermain pasar-pasaran, meletakkan benda-benda misalnya mainan
pada tempatnya. Permainan bongkar pasang, balok kayu da bermain pasir juga bisa
digunakan untk mengembangkan kemampuan motorik halus anak.
4. Permainan Motorik Kasar (dengan otot-otot besar)
Disamping permainan olah raga ada beberapa permainan yang dapat
mengembangkan kemampuan motorik kasar anak, antara lain: bermain ayunan,
jungkat-jungkit, plosotan, panjat-panjatan, gobag sodor, bermain sepeda, dll.

Abstrak

Perkembangan jaman dan globalisasi sekarang sudah mulai merambah dunia bocah (anak-anak).
Berbagai jenis permainan anak modern seperti Playstasion menjamur tak terbendung. ironisnya
permainan tersebut sudah banyak dilakukan oleh anak-anak pada usia dini, usia yang seharusnya
diisi dengan pengalaman gerak yang banyak untuk menunjang kecerdasan gerak-kenestetik di masamasa pertumbuhan berikutnya.Tentunya dengan berbagai dampak yang mengikutinya, baik itu
dampak positif atau negatif. Permainan tradisionalpun perlahan namun pasti mulai ditinggalkan,
karena dianggap kuno serta melelahkan. Padahal jika ditinjau lebih dalam, beragam permainan
tradisional secara langsung memberikan pelajaran hidup kepada anak-anak tentang arti toleransi,
interaksi sosial, kerja sama tim dan wawasan. Bisa dibandingkan dengan permainan elektronik
sekarang yang lebih banyak membentuk perilaku anak menjadi penyendiri serta cenderung anti sosial
(susah bergaul, egois dan lain-lain).
Hasil penelitian di bidang neurologi mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak
usia 0 - 4 tahun mencapai 50%, hingga usia 8 tahun mencapai 80%. Maka masa kanak-kanak dari
usia 0 - 8 tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi sekali dalam perkembangan
kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan kecerdasan otak
anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan
pelayanan pendidikan.
Layanan pendidikan untuk perkembangan kecerdasan kinestik pada masa usia emas dapat diberikan
melalui permainan tradisional yang disesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan anak.
Karena di dalam permainan tradisional terkandung nilai-nilai kreatifitas, terapi, dan mengembangkan
kecerdasan majemuk anak.
Kata Kunci: kecerdasan kinestetik, anak usia dini, permainan tradisional

1.

Pendahuluan

Anak-anak sudah tidak mengenali lagi permainan tradisional. Mereka lebih senang mengisi
waktunya dengan permainan modern. Anak-anak sekarang banyak dicekoki sesuatu yang instan,
anak-anak lebih banyak menjadi pemakai, tidak mampu untuk menciptakan.. Hidup mereka menjadi
terdorong serba ingin cepat tanpa mengetahui asal usulnya, yang mana hal ini bisa memupus
kreatifitas anak. Akibatnya, lebih dari 60 persen permainan tradisional Jawa pun punah. Karena
permainan tradisional yang diwariskan nenek moyang memiliki karakter yang berbeda. Dimainkan
secara berkelompok dan sarat pendidikan. Selain mengajarkan kebersamaan, permainan tradisional
juga mendidik anak-anak untuk hidup lebih sportiv, tenggang rasa, jujur dan kreatif. Muatan ini tidak
akan bisa didapat ketika anak memainkan permainan modern, karena permainan modern lebih
cenderung individual.
Ada sekitar 48 jenis permainan tradisional Jawa yang mulai jarang dimainkan. Permainan
tradisional dikelompokan menjadi tiga yakni gerak dan lagu, keterampilan serta permainan atraktif.
Dari ketiga kelompok tersebut hanya gerak dan lagu yang masih eksis karena sering digelar berbagai
festival. Sementara dua kelompok yang lain sudah jarang ditemui. Dicontohkan permainan benthik,
dakon dan gobak sodor.
Untuk anak usia dini permainan tradisional bisa diberikan melalui pendidikan jasmani olahraga
dan kesehatan (Penjasorkes) di kelompok bermain . Karena Penjasorkes merupakan proses
pendidikan melalui penyediaan pengalaman belajar kepada peserta didik berupa aktivitas jasmani,
bermain, dan berolahraga yang direncanakan secara sistematis guna merangsang pertumbuhan dan
perkembangan fisik, organik, keterampilan motorik, keterampilan berfikir emosional, sosial dan moral.

Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina sekaligus membentuk gaya hidup
sehat dan aktif sepanjang hayat.
2.

Pembahasan
A.

Kecerdasan gerak-kinestetik

Kecerdasan gerak-kinestetik berkaitan dengan kemampuan menggunakan gerak seluruh tubuh


untuk mengekspresikan ide dan perasaannya serta keterampilan menggunakan tangan untuk
mencipta atau mengubah sesuatu (Tadkiroatun Musfiroh, 2008: 50). Kecerdasan ini meliputi
kemampuan fisik yang spesifik, seperti koordinasi, keseimbangan, keterampilan, kekuatan,
kelenturan, kecepatan dan keakuratan menerima rangsang, sentuhan, dan tekstur.
Stimulasi kecerdasan kinestetik terjadi pada saat bermain. Pada saat bermain itulah anak
berusaha melatih koordinasi otot dan gerak. Stimulasi terjadi dalam wilayah-wilayah berikut: 1.
Koordinasi mata-tangan dan mata-kaki, seperti menggambar, menulis, memanipulasi objek, menaksir
secara visual, melempar, menendang, menangkap; 2. Keterampilan lokomotor, seperti berjalan,
berlari, melompat, berbaris, meloncat, mencongklak, merayap, berguling, dan merangkak; 3.
Keterampilan nonlokomotor, seperti, membungkuk, menjangkau, memutar tubuh, merentang,
mengayun, berjongkok, duduk, berdiri; 4. Kemampuan mengontrol dan mengatur tubuh seperti
menunjukan kesadaran tubuh, kesadaran ruang, kesadaran ritmik, keseimbangan, kemampuan untuk
mengambil start, kemampuan menghentikan gerak, dan mengubah arah (Catron & Allen, 1999).
Anak yang cerdas dalam gerak-kinestetik terlihat menonjol dalam kemampuan fisik (terlihat lebih
kuat, lebih lincah) daripada anak-anak seusianya. Mereka cenderung suka bergerak, tidak bisa duduk
diam berlama-lama, mengetuk-ngetuk sesuatu, suka menirukan gerak atau tingkah laku orang lain
yang menarik perhatiannya, dan senang pada aktivitas yang mengandalkan kekuatan gerak seperti
memanjat, berlari, melompat, berguling. Selain itu, anak yang cerdas dalam gerak-kinestetik suka
menyentuh barang-barang.
Anak yang memiliki kecerdasan gerak-kinestetik memiliki koordinasi tubuh yang baik. Gerakangerakan mereka terlihat seimbang, luwes, dan cekatan. Mereka cepat menguasai tugas-tugas motoric
halus seperti menggunting, melipat, menjahit, menempel, merajut, menyambung, mengecat dan
menulis. Secara artistic mereka mempunyai kemampuan menari dan menggerakan tubuh mereka
dengan luwes dan lentur. Mereka memerlukan kegiatan belajar yang bersifat kinestetik dan dinamis.
Oleh karena itu proses pembelajaran yang menuntut konsentrasi anak dalam konteks pasif (duduk
tenang di kelas) hendaklah dikurangi.
Menurut Gardner, nkecerdasan gerak kinestetik mempunyai lokasi di otak serebeum (otak kecil),
basal ganglia (otak keseimbangan) dan motor korteks. Kecerdasan ini memiliki wujud relative
bervariasi, bergantung pada komponen-komponen kekuatan dan fleksibilitas serta dominan seperti
tari dan olahraga.
B.

Pembelajaran anak usia dini.

Anggapan bahwa pembelajaran secara umum baru bisa dimulai setelah memasuki usia sekolah
dasar yaitu usia tujuh tahun ternyata tidaklah benar. Bahkan pembelajaran yang dimulai pada usia TK
(4-6 tahun) pun sebenarnya sudah terlambat. Hasil penelitian di bidang neurologi yang dilakukan
Benyamin S. Bloom, seorah ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat (Diktentis,
2003: 1), mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0 - 4 tahun mencapai
50%, hingga usia 8 tahun mencapai 80%. Maka masa kanak-kanak dari usia 0 - 8 tahun disebut
masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi sekali dalam perkembangan kehidupan manusia
sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan kecerdasan otak anak dengan

memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan
pendidikan.
Layanan pembelajaran kepada anak-anak usi dini, termasuk juga gerak-gerak dasar kinestetik
merupakan dasar yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak selanjutnya hingga
dewasa. Hal ini diperkuat dengan pendapat Hurlock (1991: 27) bahwa tahun-tahun awal kehidupan
anak merupakan dasar yang cederung bertahan dan mempengaruhi sikap, perilaku dan kecerdasan
gerak kinestetik anak di sepanjang hidupnya.
Menurut Vigotsky dalam ( Sofia Hartati. 2005: 15) berpendapat bahwa pengalaman interaksi
social merupakan hal yang penting bagi perkembangan proses berfikir anak. Aktivitas mental yang
tinggi pada anak dapat terbentuk melalui interaksi dengan orang lain. Dalam hal ini dapat dikatakan
bahwa pembelajaran merupakan kesempatan bagi anak untuk mengkreasi dan memanipulasi objek
atau ide. Greeenberg dalam Sofia Hartati (2005) berpendapat bahwa anak akan terlibat dalam belajar
secara lebih intensif jika ia membangun sesuatu dari pada sekedar melakukan atau menirukan
sesuatu sesuatu yang dibangun olh orang lain. Pembelajaran dapat efektif jika anak dapat belajar
melalui bekerja, bermain dan hidup bersama dengan lingkungannya.
Pada hakekatnya anak belajar sambil bermain, oleh karena itu pembelajaran pada anak usia dini
pada dasarnya adalah bermain. Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif dalam
melakukan berbagai eksplorasi terhadap lingkungannya, maka aktifitas bermain merupakan bagian
dari proses pembelajaran. Pembelajaran diarahkan pada pengembangan dan penyempurnaan
potensi kemampuan yang dimiliki anak seperti kemampuan berbahasa, sosio-emosional, motoric,
dan intelektual. Untuk itu pembelajaran pada usia dini harus dirancang agar anak tidak merasa
terbebani dalam mencapai tugas perkembangannya, suana belajar dibuat secara alami, hangat, dan
menyenangkan. Aktivitas bermain (playful activity) yang memberikan kesempatan pada anak untuk
berinteraksi dengan lingkungannya merupakan hal yang diutamakan. Selain itu, karena anak
merupakan individu yang unik dan sangat variatif, maka unsur variasi individu dan minat anak juga
perlu diperhatikan.
C.

Permainan tradisional

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki berbagai macam suku, ras, budaya, alam
yang indah serta memiliki bermacam cabang permainan tradisional. Permainan tradisional
merupakan simbolik dari pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam fungsi
atau pesan dibaliknya, di mana pada prinsipnya permainan anak tetap merupakan permainan anak.
Dengan demikian bentuk atau wujudnya tetap menyenangkan dan menggembirakan anak karena
tujuannya sebagai media permainan.
Supriyadi (2002; 4) menjelaskan bahwa Bruner dan Danalson dari telaahnya menemukan bahwa
sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling
awal, dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Melalui permainan tradisional,
anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik potensi fisik yang
berhubungan dengan kecerdasan gerak-kinetetik, mental intelektual dan spiritual. Oleh karena itu,
melalui permainan tradisional bagi anak usia dini merupakan jembatan berkembangnya semua
aspek. Adapun manfaat dari permainan tradisional adalah:
a.

Anak menjadi lebih kreatif

Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh pemainnya. Menggunakan barang-barang,


benda-benda, atau tumbuh-tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar. Hal ini mendorong anak lebih
kreatif menciptakan alat-alat permainan. Selain itu, permainan tradisional tidak memiliki aturan secara
tertulis. Biasanya, aturan yang berlaku, selain aturan yang sudah biasa digunakan, ditambah dengan

aturan aturan yang disesuaikan dengan kesepakatan para pemain. Di sini juga juga terlihat bahwa
pemain dituntut untuk kreatif menciptakan aturan-aturan yang sesuai dengan keadaan mereka.
b.

Dapat digunakan sebagai terapi kepada anak

Saat bermain, anak-anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa, dan bergerak.
Kegiatan semacam ini dapat digunakan sebagai terapi untuk anak-anak yang memerlukan kondisi
tersebut.
c. Mengembangkan kecerdasan majemuk anak, yaitu kecerdasan; intelektual, emosional dan
personal, kinestetik, natural, spasial, musikal dan spiritual
Adapun permainan tradisional yang akan dibahas penulis adalah permainan tradisional yang
lebih banyak menggunakan aktivitas fisik, diantaranya:
1.

Gotri legendri,

Anak anak bermain melingkar, jongkok di tanah. Mereka saling menggilirkan batu ke sebelahnya
sambil menyanyikan lagu. Gotri legendri nogosari thiwul uwal awul jadah mbantul.dolan awan awan
nggolek kodok titenana besok gedhe dadi apa apadha mbako enak mbako sedhep dhempo ewa ewo
kaya kodok. Kemudian, yang mendapatkan batu terakhir dia jadi kodok.(menirukan gerakan katak
melompat)
2. Tawonan
Permainan berkelompok, dimainkan dengan membuat lingkaran besar di tanah tempat
memenjarakan pemain lawan yang tertangkap.
3.

Udan barat

Permainan menggunakan gacuk, bisa dari pecahan tegel atau kereweng. Dimainkan dengan
melemparkan batu ke garis, yang paling dekat dengan garis dia yang mulai main. Gacuk dipasang di
kaki, kemudian orang berjalan jingkat jingkat dengan gacuk terpasang disatu kaki.Yang kalah
menggendong yang menang, dari garis ke garis
4. Jamuran
Dimainkan berkelompok beramai ramai bergandengan tangan melingari seorang di tengah, sambil
menyanyikan lagu lagu. Jamuran, yo ge gethok, jamur apa, yo ge gethok, semprat semprit jamur
apa? lalu pemain yang ditengah menyebutkan sesuatu, seperti:
Jamur parut, maka pemain yang melingkar harus mengangkat kakinya untuk dikili kitik dengan
kereweng, jika tertawa maka dia jadi yang ditengah Jamur kendhil borot, semua pemain harus
kencing (wakakakakkaakakaka marahi kemekelen) dan jamur jamur lainnya
5.

Ancak-ancak alis

Permainan yang juga dimainkan beramai ramai. Dua orang anak menggabungkan kedua tangan
mereka dan diangkat tinggi. Anak-anak yang lain membuat rangkaian satu persatu memasuki
melewati kedua anak tadi, sambil menyanyikan lagu. Ancak-ancak alis, si alis kabotan kidang
anak-anak kebondungkul si dhungkul...
6.

Dhingklik oglak aglik.

Permainan dimainkan dengan saling mengaitkan salah satu kaki ke kaki teman dalam sebuah
lingkaran kecil dengan kaki lain bertumpu di tanah dan melakukan gerakan berjalan seperti berjingkat
bersama. Masing-masing tangan pemain memegang pundak atau tangan pemain lainnya.
7.

Cublak-cublak suweng

Satu orang diminta melakukan posisi seperti orang bersujud, ndhekem. Kemudian empat atau lima
anak lainnya bermain menggilirkan sebuah kerikil ditangan mereka. Setelah selesai, anak yang
ndhekem tadi menebak kerikil di tangan siapa. Cublak cublak suweng, suwenge ting gelenter, mambu
ketundhung gudel pak gemppng lela legung sapa ngguyu ndhelikake sirpon dhele kosong sir, sirpong
dhele kosong
8.

Petak jongkok

Dimainkan oleh banyak anak dan tidak memerlukan alat bantu. Tentukan satu orang yang akan
mengejar, setiap anak boleh jongkok. Bila jongkok berarti dia tidak dapat disentuh oleh pengejar.
Anak yang berdiri dapat membangunkan anak yang jongkok. Tetapi anak yang terakhir jongkok
berarti akan menjadi pengejar menggantikan pengejar yang lama. Begitu juga dengan anak yang
tidak jongkok namun berhasil disentuh oleh pengejar akan menjadi pengejar selanjutnya.
9.

Engklek

Pemain harus mengangkat satu kaki dan melompat dengan satu kaki melewati kotak-kotak dalam
engklek. Permainan ini membutuhkan gacon (bisa pecahan genting atau sejenisnya) untuk dilempar.
Dalam tingkatan yang lebih tinggi pemain harus membawa gacob di atas telapak tangan dan
menaruh di atas kepala sambil sambil melompat dengan satu kaki. Ada beberapa variasi dalam hal
aturan permainan dan prosedur engklek. Variasi ini juga terjadi dalam bentuk engklek yang berbeda
misalnya engklek gunung, engklek tangga, engklek lingkaran.

D.

Peranan permainan tradisional bagi kecerdasan gerak-kinestetik anak

Menurut Skinner dalam Sofia Hartati (2005: 24) beranggapan bahwa perilaku manusia yang
dapat diamati secara langsung adalah akibat konsekuensi dari perbuatan sebelumnya. Kalau
konsekuensinya menyenangkan maka hal itu akan diulangi lagi. Hal, tersebut sejalan dengan
permainan tradisional yang prosesnya sangat digemari anak-anak. Permainan tradisional dapat
mempermudah dalam pembelajaran gerak pada anak usia dini, proses pembelajarannya dapat
digunakan di dalam pemanasan, inti, ataupun penenangan. Selain itu permainan tradisional juga
memenuhi prinsip-prinsip belajar pada anak usia dini, yaitu; berangkat dari yang dimiliki anak, harus
menantang pemahaman anak, dilakukan sambil bemain, menggunakan alam sebagai sarana
pembelajarannya, dilakukan melalui sensorinya, membekali keterampilan hidup, dan belajar sambil
melakukan.
Dalam permainan: Gotri legendri; Stimulasi kinestetik terjadi pada saat anak
mengilirkan/memindahkan batu secara estafet kesebelahnya sambil bernyanyi ini dibutuhkan
konsentrasi tinggi, jongkok di tanah dan gerakan melompat menirukan gerakan katak (kodok). Dalam
permainan ini koordinasi mata-tangan, mata-kaki dan keterampilan lokomotor serta keterampilan non
lokomotor berjalan.
Tawonan; Stimulasi kinestetik terjadi pada saat anak membuat lingkaran menaksir secara visul
dengan memenjarakan teman. Dalam hal ini keterampilan koordinasi berjalan.
Udan barat; Stimulasi kinestetik terjadi pada saat menggunakan gacuk, melemparkan batu ke garis,
memasang gacuk di kaki, berjalan, jingkat jingkat dengan gacuk terpasang disatu kaki, dan
menggendong. Keterampilan koordinasi, keterampilan lokomotor dan non lokomotor, kemampuan
mengatur dan mengontrol tubuh berjalan.
Jamuran; Stimulasi kinestetik terjadi pada saat beramai ramai bergandengan tangan membuat
lingkaran menyanyikan lagu lagu, mengangkat kakinya untuk dikili kitik dengan kereweng.

Ancak-ancak alis; Stimulasi kinestetik terjadi pada saat anak menggabungkan kedua tangan mereka
dan mengangkat tangan tinggi, anak membuat rangkaian satu persatu memasuki melewati kedua
anak tadi, sambil menyanyikan lagu.
Dhingklik oglak aglik; Stimulasi kinestetik terjadi pada saat anak saling mengaitkan salah satu kaki
ke kaki teman dalam sebuah lingkaran kecil dengan kaki lain bertumpu di tanah dan melakukan
gerakan berjalan seperti berjingkat bersama.
Cublak-cublak suweng; Stimulasi kinestetik terjadi pada saat anak melakukan posisi seperti orang
bersujud (ndhekem), empat atau lima anak lainnya bermain menggilirkan sebuah kerikil ditangan
mereka. Anak menebak kerikil di tangan siapa.
Petak jongkok; Dimainkan oleh banyak anak dan tidak memerlukan alat bantu. Stimulasi kinestetik
terjadi pada saat anak mengejar, jongkok. anak membantu membangunkan anak yang jongkok.
Engklek Stimulasi kinestetik terjadi pada saat anak mengangkat satu kaki dan melompat dengan
satu kaki melewati kotak-kotak dalam engklek, melempar.
Secara umum permainan-permainan tradisional di atas memuat unsur-unsur gerak koordinasi,
keterampilan lokomotor, keterampilan non lokomotorr, dan kemampuan mengontrol serta mengatur
tubuh, sehingga dapat merangsang terhadap kecerdasan gerak-kinestik anak, yang pada akhirnya
membantu perkembangan dan pertumbuhannya. Jadi, tidak ada alasan bagi pendidik, tidak bisa
melaksanakan pembelajaran dengan materi permainan tradisional karena jelas-jelas permainan
tradisional mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan permainan modern.
3.

Penutup

Permainan tradisional memberikan penyadaran bahwa ketika ekspansi permaianan modern,


yang tersaji di dalam playstation, internet, tablet dan sebagainnya. Yang pada gilirannya hanya
membangun egoisme individual, melakukan berbagai hal untuk dapat meraih keinginannya secara
instan, bahkan ada yang dengan menampilkan adegan kekerasan di dalam permaianan itu.
Permainan tradisional bisa hadir kembali menjdai solusi untuk menanamkan nilai kerjasama,
solidaritas, kreatifitas, keuletan, fair play. Keberanian, rasa percaya diri.
Permainan tradsional yang inklut di dalam pembelajaran penjasorkes, akan memberikan dasardasar gerak-kinestetik yang komplit pada anak usia dini, sehingga dikemudian hari pertumbuhan dan
perkembangan anak akan berjalan optimal selaras, serasi dan seimbang antara jiwa dan raga
sebagai satu kesatuan yang utuh.

*Aris Priyanto, Pengawas Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta

Daftar pustaka
Catron, Carol E. & Allen, Jan (1999). Early Childhood Curriculum A creative-Play Modell. New Jersey:
Prentice-Hall.
Direktorat Tenaga Teknis. (2003). Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 0 - 6 Tahun, Jakarta:
PT Grasindo.
Hartati, S. (2005). Perkembangan Belajar pada Anak Usia Dini. Depdiknas Dirjen Dikti. Jakarta
http://www.anneahira.com/permainan/permainan-tradisional.html

Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan, terjemahan Istiwidayanti dan Soejarwo. Jakarta:


Erlangga, 1996
Musfiroh, T. (2008). Cerdas Melalui Bermain, Jakarta: PT Grasindo
Supriyadi, D. (2001). Kreativitas Kebudayaan & Perkembangan Iptek, Bandung: Alfabeta
- See more at: http://www.pendidikandiy.go.id/dinas_v4/?view=v_artikel&id=28#sthash.bnOC9MNx.dpuf

Gaya belajar kinestetik (Taktual learners) merupakan aktivitas belajar dengan


cara bergerak, becerja dan menyentuh. Pembelajar tipe ini mempunyai keunikan
dalam belajar selalu bergerak, aktivitas panca indera, dan menyentuh. Pembelajar
ini sulit untuk duduk diam berjam jam karena keinginan siswa untuk beraktivitas
sangatlah kuat.
Individu yang memiliki kemampuan belajar kinestetik yang baik ditandai dengan ciri
ciri perilaku sebagai berikut:
1. Berbicara dengan perlahan
2. Menanggapi perhatian fisik, banyak gerak fisik
3. Berdiri dekat ketika sedang berbicara dengan orang lain
4. Belajar melalui praktek langsung atau manipulasi
5. Menghapalkan sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung
6. Menggunakan jari untuk menunjuk kata yang dibaca ketika sedang membaca
7. Tidak dapat duduk diam di suatu tempat untuk waktu yang lama
8. Sulit membaca peta kecuali pernah ke tempat tersebut
9. Pada umumnya tulisannya jelek
10. Menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan (secara fisik)
11. Banyak menggunakan isyarat tubuh
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam jam
2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasikan lingkungannya (contohnya
: ajak dia belajar sambil bersepeda, gunakan objek sesungguhnya untuk
belajar konsep baru).
3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.
4. Gunakan warna terang untuk menggaris bawahi hal hal penting dalam
bacaan
5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik

Anak yang menonjol dalam kecerdasan ini pandai dalam keterampilan olah tubuh dan gerak.Di
bawah ini adalah contoh-contoh keterampilan yang bisa dilakukan di rumah untuk mengasah

kecerdasan kinestetik-jasmani anak:


1. Karyaku: anak dibiasakan membuat kerajinan tangan berbagai karya,baik yang terbuat dari
tanah liat atau play doh atau dari barang-barang lain.
2. My sport; anak difokuskan untuk menyenangi dan melakukan olah raga rutin yang disenangi
anak.
3. Sang penari: bersama-sama berolahraga ditemani musik atau lakukan tarian unik yang
diciptakan sendiri.
4. Sang pesulap: menunjukkan permainan sulap dan mengajak anak mempraktekannya.Mulailah
dari yang sederhana dulu
5. Permainan rakyat: bermain bersama dengan permainan rakyat,contoh: engrang, bakiak dll
6. Layang-layang: bermain layang-layang pada hari libur
7. Permainan olahraga: bola sepak,boling, mainan golf dll
8. mainan rumah-rumahan, trampolin,hula hoop, permainan lompat tali,sepeda, skateboard dll
9. Outbond
10. Creative Hands : Jenis permainan yang menggunakan jari tangan untuk membuat berbagai
macam bentuk dari karet gelang.
Source: Homeschooling course, by Munif Chatib, In their own way:discovering and encouraging
your childs mulitiple intelligences by Thomas Amstrong, PHD
Tips: pilih salah satu atau beberapa kegiatan saja. Masing-masing proyek di beri time
frame.Contoh: Minggu ke 1; Karyaku, Minggu ke 2; Layang-layang dst. Sesuaikan tiap proyek
kreatif tersebut dengan usia dan kemampuan anak.
Penting, untuk mengapresiasi setiap proyek kreatif tersebut. Pujilah bila ia berhasil, bimbinglah
untuk mencapai kesempurnaan, dan simpan semua rekapitulasi kegiatan tersebut.
(Ummu Aufa)

Kinestetik adalah rasa gerakan kita.. Artinya ini hanya mengacu pada
kesadaran perubahan momentum, keseimbangan, tekanan dan posisi tubuh pada
umumnya. Ini memberitahu kita semua tentang bagaimana kita bergerak tubuh
kita. Kinesthetic intelligence termasuk kontrol dari gerakan tubuh, kemampuan
untuk menangani objek terampil dan hadiah untuk menggunakan gerakan seluruh
tubuh.
Anda akan melihat atau Anda bisa menjadi salah satu dari orang-orang, yang selalu
bergerak, yang belajar sambil berjalan, yang tubuhnya selamanya aktif terlepas dari
apa yang mereka lakukan, bahkan saat menonton TV. Untuk jenis kinestetik,
bergerak adalah fundamental dan mereka sering gelisah jika tidak ada lagi. Ini
membantu mereka berkonsentrasi lebih baik.Ini "tubuh pintar" kelompok
sebagaimana mereka disebut sayang termasuk orang yang terlalu aktif yang
menikmati diri fisik dan untuk siapa belajar adalah pengalaman fisik.
Kecerdasan ini merupakan keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk
menyampaikan ide dan perasaan, dan keterampilan menggunakan tangan untuk
menciptakan atau mengubah suatu bentuk. Kecerdasan ini meliputi kemampuan
fisik yang khusus, seperti koordinasi, keseimbngan, keterampilan, kekuatan,

kelenturan, dan kecepatan maupun kemampuan menerima rangsangan panca


indera.
Kemampuan yang terkait dengan kecerdasan kinestetik jasmani adalah:

Kemampuan menggerakkan anggota tubuh.


Kemampuan mengatur keseimbangan tubuh.
Kemampuan mengatur kelenturan tubuh.
Kemampuan menjaga kesehatan tunuh.
Beberapa bentuk permainan yang digunakan
kemampuan kecerdasan kinestetik adalah:

guna

mengembangkan

1. Permainanan Olah Raga

Jalan, lari, berenang, main bola, senam, merupakan contoh permainan yang dapat
mengembangkan kemampuan fisik atau olah tubuh anak. Orang tua dan pendidik
dapat mengajak anak melakukan permainan olah raga secara rutin hari minggu atau
hari-hari tertentu. Olah raga tidak hanya akan melatih kecerdasan kinestetik anak,
melainkan juga bertujuan untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan tubuh anak.

2. Gerak dan Lagu atau Menari


Permainan gerak dan lagu atau menari, bermanfaat bagi anak untuk
mengembangkan kelenturan tubuh anak. Untuk anak usia dini bermain ini dapat
dilakukan dengan gerakan-gerakan yang sederhana dengan tidak meninggalkan
unsur gerak dan seninya.
3. Permainan Motorik Halus (dengan otot-otot kecil)
Berbagai kegiatan permainan dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan
motorik halus anak antara lain: mencoret-coret, menirukan pola gambar tertentu
(balon, buku, bola, piring, gelas, dll), meronce, melipat, bermain plastisin, bermain
pasar-pasaran, meletakkan benda-benda misalnya mainan pada tempatnya.
Permainan bongkar pasang, balok kayu da bermain pasir juga bisa digunakan untk
mengembangkan kemampuan motorik halus anak.

4. Permainan Motorik Kasar (dengan otot-otot besar)


Disamping permainan olah raga ada beberapa permainan yang dapat
mengembangkan kemampuan motorik kasar anak, antara lain: bermain ayunan,
jungkat-jungkit, plosotan, panjat-panjatan, gobag sodor, bermain sepeda, dll.
Kinestetik

Kecerdasan

dan

Otak

Kita

Bidang kecerdasan kinestetik terletak di otak kecil dan menyangkut thalamus,


ganglion utama dan bagian lain dari otak. Korteks motor otak mengontrol gerak
tubuh dan orang-orang dengan kecerdasan ini menampilkan ketangkasan dan
keterampilan
untuk
gerakan
motorik
halus.
Mengidentifikasi

Kinestetik

Kecerdasan

Hal ini sangat mudah untuk mengidentifikasi orang-orang dengan kecerdasan


kinestetik. Mereka menikmati dan biasanya terlihat sukses dalam olahraga aktif,
membangun, menari, tangan-tugas, bekerja sama dengan probe ilmiah dan
mikroskop, robotika, digital dan kamera video dll Kegiatan ini melibatkan kemahiran
dan koordinasi fisik dan menggunakan halus dan keterampilan motorik kasar,
orang-orang dengan kecerdasan kinestetik terlibat dalam belajar dan
mengekspresikan
diri
mereka
melalui
berbagai
kegiatan
fisik.
Kinestetik

Perilaku

Orang dengan kecerdasan kinestetik berperilaku berbeda kepada mereka yang


benar-benar mengikuti norma-norma yang ditetapkan oleh masyarakat. Orangorang suka mencari tahu bagaimana segala sesuatu bekerja dan tidak perlu orang
lain untuk memberitahu mereka. Mereka hal yang terjadi dengan naluri mereka dan
mendapatkan "usus perasaan" untuk hal-hal di sekitar mereka. Mereka memiliki
banyak energi fisik dan gerakan fisik cinta. Mereka tidak bisa tinggal diam untuk
waktu yang lama dan sering digambarkan sebagai "di mana saja." Anak-anak
menggeliat di meja sarapan atau bahkan di meja mereka di sekolah. Mereka
menikmati tari, olahraga dan setiap pengalaman menggembirakan. Mereka sangat
baik dalam menciptakan hal-hal dan mereka selalu aktif dan cinta di luar
ruangan. Keterampilan motorik mereka sangat baik dan mereka sangat menyadari
tubuh mereka. Mereka belajar dengan baik melalui gerakan dan "melakukan" dan
lebih
menyentuh
daripada
mencari.
Kami menjaga hal-hal seperti mendengar, "Pikiranku bekerja lebih baik ketika saya
melakukan sesuatu yang fisik, seperti berlari atau berjalan." "Saya suka
menghabiskan waktu di luar rumah gratis saya." "Saya menikmati bekerja dengan
tangan
saya."
Semua
ini
merupakan
kinesthetic
intelligence .
Kreativitas
Ini semacam kecerdasan kinestetik tinggi yang menciptakan para ilmuwan, penulis,
seniman, musisi, penari, penyanyi dan orang-orang kreatif lainnya yang
memungkinkan pikiran dan tangan mereka untuk bergerak tanpa format yang telah

direncanakan. Sementara beberapa diberkati dengan kemampuan atletik, yang lain


berbakat dalam keterampilan motorik, seperti menggambar dan kerajinan.
Banyak penulis kreatif menggunakan gaya penulisan gratis untuk mendapatkan ide
dan komposer musik akhirnya bermain potongan dadakan. Ini adalah contoh dari
memungkinkan tubuh untuk mengambil alih dan memainkan peran utama dalam
datang dengan ide-ide baru. Tindakan ini tidak direncanakan sebelumnya dan itu
hanya gerakan tubuh sebelum proses berpikir.Seseorang dengan kecerdasan
kinestetik dikatakan menulis indah dan dapat membuat tulisan terasa nyata, lucu,
turun ke bumi dan fisik. Jika kecerdasan ini kuat dalam sepotong tulisan, maka
kemungkinan untuk mempengaruhi pembaca pada tingkat usus. Tulisan ini
mungkin juga memiliki rasa alami gerakan, jenis tulisan yang orang mungkin
mengatakan,
"bernafas."
Reaksi

Masyarakat

Masyarakat hampir kaget dengan apa yang dianggapnya sebagai hiperaktif, dipanggil
"intelijen." Kinestetik-intelijen adalah salah satu kecerdasan dasar manusia yang
belum dihargai dalam budaya kita dan selalu ditindas oleh peradaban. Ini adalah
pengkondisian sosial yang negatif yang menyebabkan orang untuk menekan
kecerdasan
kinestetik
tubuh.
Albert Einstein pernah menyatakan bahwa ia merasa otot-ototnya, ketika ia sedang
memikirkan sesuatu yang kemudian terbukti menjadi sangat signifikan. Ini akal
kinestetik tinggi memberitahu kita bahwa membantu mengembangkan kepekaan ini
kinestetik sejak usia dini, bukan menekannya, akan membantu orang berubah
menjadi
individu
yang
lebih
kreatif.
Keputusasaan
Anak-anak tumbuh sebagai dikondisikan oleh masyarakat.Tanpa menyadari apa itu,
kebanyakan orang, termasuk orang tua dan guru, membatasi anak-anak melakukan
banyak hal hanya karena itu bukan cara mereka seharusnya dilakukan. Di sekolah
unggul siswa selalu salah satu yang besar di menyalin urutan gerakan dalam
menulis, menari, olahraga, dalam pidato dan perilaku bahkan sosial. Hal-hal ini
mengajarkan siswa untuk memperhatikan sesuatu yang sedang diajarkan dan
kemudian melakukan mereka sesuai. Padahal, orang kinesthetically kreatif
memungkinkan memimpin tubuh dan bergerak secara independen tanpa mengikuti
rencana terbentuk sebelumnya. Kombinasi gratis dapat menghasilkan keunggulan
dalam berbagai bidang. Siapa tahu mungkin ada individu yang sangat kreatif
tersembunyi pada anak Anda juga. Tapi itu butuh dewasa cerdas untuk mengenali
dan
memahami
kegiatan
kinestetik.
Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa ini adalah seperti menempatkan kereta
di depan kuda. Sebuah contoh dari Volkswagen diberikan ketika membandingkan
orang kinestetik.Di Volkswagen, motor di belakang kendaraan dan ini adalah inovasi
Jerman. Demikian pula, dalam penciptaan individu cerdas dan kreatif, anak-anak
harus diperbolehkan untuk berinovasi tanpa harus mengikuti kursus direncanakan.
Cara

Mendorong

Kinestetik

Intelijen?

Daripada ejekan anak-anak dengan kecerdasan kinestetik dan yang sangat gelisah,
lebih baik untuk memberi mereka alat dan peralatan untuk memanipulasi di
kelas. Daripada menghentikan mereka dari bergerak, lebih baik untuk membiarkan
tubuh mereka berkembang melalui ekspresi, memungkinkan mereka untuk tumbuh
menjadi
individu
yang
kreatif.
Mereka membutuhkan kesempatan untuk belajar dengan bertindak hal-hal atau
bergerak, karena mereka adalah "hands-on" peserta didik. Mengharapkan mereka
untuk duduk tenang untuk waktu yang lama dan mendengarkan sesuatu tanpa
mengalami
secara
fisik
tidak
realistis.
Orang dengan kecerdasan kinestetik dapat menjadi sangat baik dengan keterampilan
motorik atau motorik kasar, atau bahkan keduanya. Orang-orang seperti ahli bedah,
atlet, penari sangat dihargai, baik untuk keterampilan mereka, bakat mereka atau
hal-hal yang mereka hasilkan. Kinesthetic intelligence perlu dipahami lebih baik
untuk dapat memberikan kesempatan yang lebih baik untuk orang-orang seperti,
dalam rangka untuk membawa keluar talenta tersembunyi mereka.