You are on page 1of 3

Al Qur'an memaparkan Teori Evolusi sekaligus Teori Penciptaan

" Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah
menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali,
kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan ". - Qs : Al Baqarah : 28
Pada ringkas bahasan Teori Evolusi memang meniadakan "Penciptaan", sebab
kosmos ada, dan tidak berawal, juga tidak berakhir. Dalam pemahaman esoteris
keagamaan dipahami bila alam adalah maujudnya sifat Tuhan dalam kesadaran,
dan Tuhan adalah "Ada", tidak bermula, dan juga tidak berakhir. Sedangkan
dalam Teori Penciptaan ringkas pembahasan adalah adanya "mula mula" dan ada
"akhir".
Dua teori ini seringkali menjadi sumber perdebatan dalam bahasan filosofis
agama dan sains. Akan tetapi ternyata Tuhan menyatakan dalam Al Qur'an bila
dua teori itu ada, tidak membatalkan satu di antara yang lain seperti ayat di atas.
Lalu, bagaimana manusia mengambil suatu konklusi?. Apakah dua teori itu
sendiri sebenarnya hanya akan menjadi realita bagi siapa yang menghayati dan

menempuh jalan kesadaran pada teori itu?. Tetapi bukankan dualitas itu
dianggap bathil dalam teori teori kebenaran yang dipahami dalam jagad agama.
Bingung?, nah, sudah saatnya menilik kembali dasar atau kerangka pikir agama
agama itu sendiri. Ya, bahasan kosmologi bukanlah bahasan moral, tetapi moral
adalah keteraturan dan harmoni dalam kosmos. Lantas apa dan bagaimana
tentang seluk beluk susunan doktrin-doktrin yang ada hingga periode zaman kini
bila jagad kemanusiaan sebenarnya juga di starter kitab kitab suci untuk
berevolusi dalam ranah "pikir-Nya".
Dari sini kita mengetahui bila manusia sebenarnya menuangkan pikirnya dalam
agama-agama. Akan tetapi sudah tentu seharusnya antara manusia dan wahyu
Tuhan saling terjadi dialog yang hidup dalam rentang pertumbuhan peradaban
dalam jagad kemanusiaan. Sudahkah itu terjadi?, dan antara kubu pikir manusia
dan wahyu Tuhan apakah saling berebut untuk dominasi atau terjadi dialog?.
Ayat di atas menyatakan adanya evolusi dimana manusia berubah-ubah kondisi
yang dsebut sebagai hidup dan mati yang silih berganti. Tetapi sekaligus ada
pentawaqufannya, yaitu pada Allah sendiri.
Bila dua teori itu benar benar ada, dan tidak saling menggagalkan antara satu
dengan yang lain, lalu apakah dari manusia itu ada yang kekal sekaligus ada yang
fana, dan kekalan itulah Tuhan. Apakah ada Tuhan dalam diri manusia?, bila
dijawab :"Ya", lalu bagaimana menyadari kesadaran ini yang padahal
kebanyakan manusia terjebak pada ego ontologis.
Bila ego mitik adalah jawaban bagi penyatuan dua teori ini, apakah manusia
masih menyadari kemanusiaannya yang butuh makan nimum, perlindungan,
materi, seks dan berkembang biak, sebab ketuhanannya dalam diri pasti
menguasai dan meniadakan ego ontologis manusia. Maha Suci Dia. Lalu
kemanusiaan yang sudah mengadung lahut seperti itu apa akan bisa terjadi di
alam materi ini ketika hakikatnya hakikat materi adalah zat Tuhan yang "Ada"?
Meski hal ini belumlah bisa terjawab, tetapi setidaknya menjadi ilustrasi pikir bila
sebenarnya manusia pasti bergerak menuju suatu titik kesempurnaan yang telah

ditentukan menurut kadar masing masing meski itu membutuhkan waktu yang
tidak diketahui hitungannya termasuk dimensi yang mesti dilaluinya. Hanya yang
pasti, itu tidak akan terjadi di dunia ini, sebab kita masih akan mengalami
kematian, dan itu baru satu langkah dari proses yang terjadi. Mungkin kita kelak
dalam kehidupan pasca dunia akan mengetahui teori lain lagi dan yang akan
membawa menuju hidup dengan bentuk yang belum bisa kita pahami sekarang.
Tetapi yang jelas moral atau akhlaqul karimah-lah yang akan membentuk
kesadaran yang baik, dan setiap orang yang mati akan membawa kesadaran
yang terbentuk ketika menjalani kehidupan di dunia ini, dan itu adalah "Pintu
Kosmos" dimensi yang baik.

Oleh : Kang Arya


https://www.facebook.com/kang.arya.1800
Kunjungi posting kami yang lain di Blogger The Journey
http://singularination.blogspot.com/
Kategori : Kosmologi