You are on page 1of 2

PENYEBAB KEKERINGAN DI KALIMANTAN BARAT,

KEPULAUAN RIAU DAN SEKITARNYA


Nurul Puspitasari / Klimatologi Semester 8

Memasuki awal tahun 2014 wilayah Indonesia banyak mengalami musibah yang
disebabkan oleh cuaca dan iklim. Namun terdapat beberapa keanehan yang terjadi sehingga
menimbulkan pertanyaan di masyarakat. Kepulauan Riau, Kalimantan Barat dan sekitarnya
tak pernah diguyur hujan dengan intensitas di atas sedang. Ketika di beberapa kota di Pulau
Jawa dilanda banjir karena curah hujan yang bisa dibilang berlebih, tentu hal ini menjadi
suatu keunikan untuk wilayah tropis seperti Kepulauan Riau yang seharusnya kini tengah
berada pada musim hujan, meskipun belum memasuki puncaknya. Secara geografis posisi
dari Kepri, sangat memungkinkan untuk mendapatkan hujan yang lebat sepanjang tahun.
Dikarenakan dilalui oleh garis lintang nol derajat (Khatulistiwa). Namun mengapa saat ini
Kepri justru terancam akan dilanda kekeringan.
Berdasarkan data pantauan BMKG pada tanggal 18 Februari 2014 terdapat 72 titik
api. Kabupaten yang paling banyak titik api ialah ketapang, di Kecamatan Pesaguan terdapat
32 titik api. Menyusul Kabupaten Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Sambas, Bengkayang,
Pontianak dan Landak.
Berdasarkan analisa klimatologis, kekeringan yang terjadi di wilayah Kalimantan
Barat, Kepri dan disekitarnya disebabkan oleh tiga hal. Yang pertama adalah suhu muka laut
di timur Sumatra dan Barat kalimantan dingin. Sehingga kandungan uap air di atmosfer di
wilayah tersebut sedikit. Yang kedua adalah adanya desakan massa udara yang bergerak dari
utara yang bersifat dingin dan kering menyebabkan atmosfer wilayah tersebut semakin
kering. Dan yang terakhir adalah karena adanya penguatan zona downdraft yang
menyebabkan udara tidak dapat terangkat naik sehingga tidak terjadi pertumbuhan awanawan konvektif yang dapat menghasilkan hujan. Ketiga hal inilah yang menyebabkan
kekeringan di wilayah tersebut.
Kekeringan ini diperkirakan akan terjadi hingga pertengahan maret dan akan
berkurang di awal april. Mengapa demikian? Berdasarkan data klimatologis, wilayah
Kalimantan Barat, Kepulauan Riau dan sekitarnya memiliki pola hujan ekuatorial di mana

puncak hujan berada pada bulan April. Hal ini disebabkan karena wilayah tersebut terletak di
wilayah katulistiwa (ekuatorial) sehingga kondisi atmosfer di wilayah tersebut bergantung
pada gerak semu matahari. Matahari bergerak dari Selatan dan berada tepat di atas ekuator
pada tanggal 23 Maret, sehingga ITCZ akan mulai bergerak ke utara dan akan melemahkan
zona downdraft dan berubah menjadi zona updraft, sehingga berpotensi membentuk awanawan konvektif yang akan menghasilkan hujan dan akan mengurangi kekeringan yang terjadi
di wilayah tersebut.