You are on page 1of 12

PERPINDAHAN PANAS DAN MASSA

CRUDE DISTILLATION UNIT (CDU)

DISUSUN OLEH :
Aditya Herlambang Saputra (12.01.101)
Arif Hardiansyah (12.01.094)
Febrian Angga Saputra (12.01.136)
Nabila Mona Oktaviani (12.01.170)
Raditya Riefky Rahessa (12.01.084)
Sofyan Putra Hermawan (12.01.103)

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS BUMI


BALIKPAPAN
2014

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan YME, karena rahmat dan hidayah-Nya
sehingga pada kesempatan ini kami dapat menyusun makalah ini sebagaimana mestinya.
Dalam upaya penulisan makalah ini tidak sedikit hambatan yang kami alami, namun karena
kebesaran-Nya dan bantuan atau dorongan dari berbagai pihak sehingga hambatan-hambatan
tersebut dapat diatasi.
Dalam pembuatan makalah ini,

sebagai penghargaan sebesar besarnya kami

mengucapkan banyak terima kasih kepada :


1. Nishia Waya Meray, Msi, selaku dosen mata kuliah dan pembimbing
2. Kedua Orang tua kami , dan
3. Teman-teman yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari bahwa makalah yang dibuat ini sangatlah jauh dari kesempurnaan dan
banyak kekurangannya, oleh karena itu saya mengharapkan saran dan kritik yang
membangun agar dapat meningkatkan kualitas penulisan. Akhir kata saya berharap semoga
Makalah ini bermanfaat bagi yang memerlukan dalam menambah wawasan tentang Crude
Distillation Unit (CDU). Semoga kita semua berada didalam lindungan-Nya.

Balikpapan, 9 Desember 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR ................................................................................................. 2
DAFTAR ISI................................................................................................................ 3
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................... 4
BAB 2 PEMBAHASAN ...............................................................................................5
2.1 Crude Oil Composition ......................................................................................5
2.2 Desalter ..............................................................................................................8
2.3 Feed dan Produk Crude Distillation Unit...........................................................9
2.4 Aliran Proses Crude Distillation Unit ..............................................................10
2.5 Variabel Proses Crude Distilation Unit............................................................10
BAB 3 PENUTUP ......................................................................................................12

BAB 1
PENDAHULUAN

Crude Distillation Unit (CDU) beroperasi dengan prinsip dasar pemisahan berdasarkan
titik didih komponen penyusunnya. Kolom CDU memproduksi produk LPG, naphtha,
kerosene, dan diesel sebesar 50-60% volume feed, sedangkan produk lainnya sebesar 40-50%
volume feed berupa atmospheric residue.
Atmospheric residue pada kilang lama, yang tidak memiliki Vacuum Distillation Unit
atau VDU, biasanya hanya dijadikan fuel oil yang value-nya sangat rendah atau dijual ke
kilang lain untuk dioleh lebih lanjut di VDU. Sedangkan pada kilang modern, atmospheric
residue dikirim sebagai feed Vacuum Distillation Unit atau sebagai feed Residuel Catalytic
Cracking (setelah sebagiannya di-treating di Atmospheric Residue Hydro Demetalization unit
untuk menghilangkan kandungan metal atmospheric residue).

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Crude Oil Composition


Crude oil terdiri dari atom carbon dan hydrogen yang bergabung membentuk
molekul

hydrocarbon.

Berdasarkan

struktur

molekuler

umum,

hydrocarbon

dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu paraffin, naphthene, aromatic, dan olefin.


1. Parafin
Senyawa paraffin paling simple adalah methane (CH4). Contoh senyawa parafin
lain adalah ethane (C2H6) atau biasa disebut dry gas, propane (C3H8), butane
(C4H10), pentane (C5H12), hexane (C6H14), heptane (C7H16), octane (C8H18)
dan seterusnya. Molekul paraffin mempunyai formula standard CnH

dengan n

adalah jumlah atom carbon. Penamaan senyawa parafin mempunyai keunikan, yaitu
diberi akhiran -ane.
2. Naphthene
Struktur hydrocarbon jenis ini lebih kompleks daripada struktur hydrocarbon
jenis paraffine karena atom carbon tersusun dalam suatu cincin. Contoh struktur
hydrocarbon jenis naphthene adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1. Cyclohexane

3. Aromatic
Senyawa aromatik yang paling sederhana dan yang memiliki boiling point
paling rendah adalah benzene (C6H6). Senyawa ini serupa dengan senyawa
naphthene dalam hal struktur ring namun berbeda dalam hal jumlah atom hydrogen
yang hanya satu yang terikat pada atom carbon (naphthene memiliki 2 atom
hydrogen yang terikat pada atom carbon).

Gambar 2.2. Benzene

4. Olefin
Olefin sangat jarang ditemukan dalam crude oil karena komponen ini
merupakan produk dekomposisi dari jenis hydrocarbon lainnya. Konsentrasi olefin
terbesar ditemukan dalam produk thermal cracking dan catalytic cracking.

Gambar 2.3. Butene

Mempunyai keunikan. Jika senyawa memiliki 1 ikatan rangkap disebut dengan


akhiran -ene (seperti propene, butene) dan jika senyawa memiliki 2 ikatan rangkap
disebut dengan akhiran -adiene (seperti butadiene, propadiene).

5. Senyawa lain
Selain mengandung senyawa-senyawa hydrocarbon seperti tersebut di atas,
crude oil juga mengandung senyawa-senyawa lain dalam jumlah kecil yang
dikelompokkan sebagai impurities, seperti sebagai berikut :
A. Salts atau Garam
Senyawa garam yang paling banyak adalah senyawa chloride, seperti
sodium chloride, magnesium chloride, dan calcium chloride. Senyawa garam ini
dapat membentuk asam yang dapat menimbulkan korosi pada bagian atas kolom
CDU. Senyawa garam juga bisa menyebabkan plugging pada peralatan seperti
heat exchanger dan tray kolom fraksinasi.
B. Senyawa sulfur
Jika sulfur content suatu crude tinggi disebut sour crude. Senyawa sulfur
yang paling ringan adalah hydrogen sulfide (H2S) yang selain korosif juga
merupakan deadly gas. Senyawa lain adalah mercaptan yang merupakan nama
umum untuk paraffinic hydrocarbon yang satu atom hydrogennya diganti
dengan radikal SH. Senyawa sulfur lainnya mempunyai struktur ring olefin
dan biasanya diberi nama depan thio.
C. Metal
Jenis metal yang biasa ditemukan di crude oil adalah arsenic, lead (timbal),
vanadium, nikel, dan besi. Sebagian besar metal dalam umpan CDU akan keluar
bersama atmospheric residue. Arsenic dan lead merupakan racun paling
mematikan dari katalis unit catalytic reforming, sedangkan vanadium, nikel, dan
besi akan mendeaktivasi katalis catalytic cracking.

D. Sand, Mineral Matter and Water


Senyawa-senyawa ini dikelompokkan bersama sebagai Base Sediment and
Water (BS&W), dan biasanya berjumlah kurang dari 0,5 % wt total crude.

2.2. Desalter
Seperti telah dijelaskan di atas, crude oil mengandung salt water dan sediment. Salt
content crude oil biasanya dilaporkan sebagai pounds salt (diukur sebagai sodium
chloride) per thousand barrels minyak (ptb). Range salt content bervariasi antara 0 s/d
1000 ptb, biasanya antara 10 s/d 200 ptb.
Pada sebagian besar crude oil, sekitar 95% total salt content ditemukan dalam
BS&W crude oil. Salt terjadi dalam bentuk highly concentrated brine droplet yang
terdispersi dalam crude oil. Droplet ini sangat kecil dan sangat susah terpisah dari crude
oil. Proses desalting berfungsi untuk mengencerkan high salt content brine dengan
menambahkan fresh water pada crude oil untuk memproduksi low salt content water.
Agar fresh water dapat berkontak dengan efektif dengan concentrated brine atau
BS&W, suatu emulsi harus terbentuk untuk mendispersi air yang ada pada crude. Emulsi
diproduksi dengan melewatkan liquid pada kecepatan tinggi melalui orifice kecil yang
kemudian melalui mixing valve. Setelah demulsifikasi dan settling, BS&W yang tersisa
dalam crude adalah diluted water, bukan lagi concentrated brine.

Gambar 2.4. Two Stage Desalter

2.3. Feed dan Produk Crude Distillation Unit


Jenis umpan CDU dapat berupa sour crude atau sweet crude tergantung dari
disainnya. Penggunaan crude non-disain tetap dimungkinkan namun terlebih dahulu
harus dilakukan uji coba pemakaian untuk mengetahui efeknya terhadap unit-unit
dowstream.
Typical produk CDU adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1. Typical Produk CDU

Tingkat ketajaman pemisahan ditentukan berdasarkan gap antara 95% temperatur


distilasi ASTM fraksi dengan boiling point lebih rendah dan 5% temperatur distilasi
ASTM fraksi dengan boiling point lebih tinggi. Best practice gap tersebut adalah sebagai
berikut:
A. Straight run naphtha atau Kerosene : 20 oF (11 oC).
B. Kerosene atau Diesel

: 10 oF (5,6 oC).

2.4. Aliran Proses Crude Distillation Unit


Process Flow Diagram CDU dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2.5. Proses Flow Diagram Crude Distillation Unit

2.5. Variabel Proses Crude Distillation Unit


Beberapa variabel proses yang berpengaruh pada operasi CDU adalah sebagai
berikut :
1.

Flash Zone Temperature


Semakin tinggi flash zone temperature maka semakin banyak yield produk yang
dihasilkan, dan sebaliknya semakin sedikit yield bottom CDU. Namun flash zone
temperatue tidak boleh terlalu tinggi karena dapat mengakibatkan terjadinya thermal
decomposition atau cracking umpan. Temperature thermal decomposition atau
cracking

tergantung

jenis

umpan.

Pada

umumnya

temperature

thermal

decomposition atau cracking crude adalah sekitar 370 C (UOP menyebutkan 385
C). Flash zone temperature diatur secara tidak langsung, yaitu dengan mengatur
Combined Outlet Temperatur atau COT fired heater.
10

2.

Temperature Top Kolom CDU


Temperature top kolom CDU diatur dengan mengembalikan sebagian naphtha
yang telah dikondensasi sebagai reflux kembali ke top kolom CDU. Jika temperature
flash zone dinaikkan, maka reflux rate harus dinaikkan untuk menjaga temperature
top tetap. Temperature top kolom merupakan salah satu petunjuk endpoint naphtha.
Untuk memperoleh endpoint overhead produk yang lebih rendah maka top
temperature harus diturunkan dengan cara menambah jumlah top reflux.

3.

Tekanan Top Kolom CDU


Meskipun tekanan top kolom tidak pernah divariasikan, namun perubahan kecil
pada tekanan top kolom akan menghasilkan perubahan besar pada temperature pada
komposisi umpan yang tetap. Jika tekanan top kolom tidak dapat dijaga tetap dan
operasi CDU hanya mengandalkan quality control produk hanya berdasarkan
pengaturan temperature tray atau temperature draw off, maka komposisi produk
akan berubah cukup signifikan. Pressure swing yang sangat sering akan membuat
operasi CDU menjadi tidak stabil. Untuk menjaga stabilitas tekanan top kolom maka
dipasang temperature controller yang di-cascade dengan flow top reflux.

4.

Stripping Steam
Jumlah stripping steam (superheated) yang dimasukkan ke bottom tiap side cut
product stripper digunakan untuk menghilangkan uap ringan yang terlarut dalam
produk, yang akan menentukan flash point produk. Stripping steam dapat juga
dimasukkan ke bagian bawah/bottom kolom CDU sebagai pengganti reboiler dengan
fungsi sama, yaitu menghilangkan fraksi ringan yang ada dalam produk bottom
kolom CDU.

11

BAB 3
PENUTUP

Kesimpulan yang dapat kami ambil dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1.

Crude oil terdiri dari atom carbon dan hydrogen yang bergabung membentuk molekul
hydrocarbon. Berdasarkan struktur molekuler umum, hydrocarbon dikelompokkan
menjadi 4 macam, yaitu paraffin, naphthene, aromatic, dan olefin.

2.

Crude Distillation Unit (CDU) beroperasi dengan prinsip dasar pemisahan berdasarkan
titik didih komponen penyusunnya. Kolom CDU memproduksi produk LPG, naphtha,
kerosene, dan diesel sebesar 50-60% volume feed, sedangkan produk lainnya sebesar 4050% volume feed berupa atmospheric residue.

3.

Jenis umpan CDU dapat berupa sour crude atau sweet crude tergantung dari
disainnya. Penggunaan crude non-disain tetap dimungkinkan namun terlebih dahulu
harus dilakukan uji coba pemakaian untuk mengetahui efeknya terhadap unit-unit
dowstream.

4.

Beberapa variabel proses yang berpengaruh pada operasi CDU yaitu flash zone
temperature, temperature top kolom CDU, tekanan top kolom CDU, dan sripping stream

12