You are on page 1of 4

Obat Vasodilator dan Digitalis

Sasaran Belajar :
1. Menjelaskan perbedaan mula kerja dan lama kerja berbagai vasodilator.
2. Menjelaskan dan mengamati efek vasodilator kerja cepat (amilnitrit secara inhalasi), kerja
sedang (isosorbid dinitrat, secara sub-lingual) dan kerja lambat (penta-eritritol-tetra-nitrat, secara
oral) yang diberikan pada orang percobaan.
3. Menjelaskan farmakodinamik obat-obat vasodilator.
4. Membangun kerjasama yang dinamis dalam kelompok selama pengamatan.
Persiapan :
1. Tiap kelompok menyiapkan 2 orang percobaan yang siap puasa 4 jam sebelum praktikum
dimulai.
2. Satu orang percobaan lain disiapkan untuk demontrasi dan tidak perlu puasa.
Sebaiknya orang percobaan berkulit watna putih/kuning, agar efek vasodilatasi kulit jelas
terlihat.
3. Alat-alat yang dibutuhkan : tensimeter, stetoskop, termometer kulit, arloji dan saputangan.
4. Obat-obat vasodilator :
a. Amilnitril

: Inhalasi

b. Isosorbid dinitrat

: Sub-lingual

c. Nitrogliserin

: Oral

Tatalaksana
1. Percobaan inhalasi amilnitril (demonstrasi)
Orang percobaan yang telah disiapkan diminta berbaring di atas meja laboratorium dengan
tenang. Setelah berbaring 5 menit, lakukanlah pengukuran tekanan darah, denyut jantung, frekuensi
nafas dan suhu kulit. Ulangi sekali lagi pengukuran ini dengan jeda 5 menit, dan hitung rata-rata
dari pengukuran tadi sebagai nilai parameter basal.
Sebelum memecahkan ampul amilnitril, bagilah tugas sehingga hanya seorang mahasiswa
untuk mengamati satu pengukuran yaitu, tekanan darah, denyut jantung, frekuensi nafas dan suhu
kulit muka dan warna kulit muka.
Jika semua pengamat telah siap, instruktur akan memecahkan satu ampul amilnitril yang
terbungkus sapu tangan di depan hidung orang pencobaan dan mintalah ia segera menghirup uap
yang keluar dari ampul dengan cepat, lalu menahan nafasnya selama ia sanggup.
Masing-masing mahasiswa yang bertugas mengamati parameter tadi, segera melakukan
pengukuran pertama ketika orang percobaan menghirup amilnitril yang dipecahkan di depan
hidungnya. Agar pengukuran lebih mudah dilakukan, sebaiknya manset tensi meter dalam keadaan

terpasang dan stetoskop siap di fosa kubiti dan di apex jantung (untuk mendengarkan denyut
jantung). Lakukanlah pengukuran seluruh parameter tadi tiap meit sampai seluruh parameter tadi
kembali ke keadaan basal.
Catatlah waktu terjadinya perubahan parameter, sebagai mula kerja obat vasodilator kerja cepat
dan waktu sampai parameter, sebagai mula kerja obat vasodilator kerja cepat dan waktu sampai
parameter kembali ke basal, sebagai lama kerja obat. Selain itu tanyakan dan catat semua gejala lain
yang terjadi pada orang percobaan sesudah praktikum sampai 24 jam sesudahnya, untuk mengenali
efek samping dan efek lainnya.
Perhatikan : Ampul amilnitril hanya boleh dipecahkan oleh/atau dibawah pengawasan
instruktur. Bila orang percobaan mengeluh pusing, pengelihatan gelap, segera letakkan kepalanya
lebih rendah dari badan dan mintalah untuk bernafas dalam.
2. Percobaan obat vasodilator oral dan sublingual
Dua orang percobaan dari masing-masing kelompok yang telah mempersiapkan diri tidak
makan 4 jam sebelum percobaan, berbaring di atas meja laboratorium dengan tenang. Lakukanlah
pengukuran parameter basal, tekanan darah, denyut jantung/nadi, frekuensi nafas dan suhu kulit
sebnyak 2 kali dengan interval 5 menit dan hitung rata-ratanya.
Jika pengamatan parameter telah selesai mintalah obat vasodilator pada instruktur, serta
perhatikan baik-baik cara penggunaannya apakah harus ditaruh dibawah lidah (sublingual) atau
ditelan dengan segelas air. Jangan tertukar.
Lakukanlah pengamatan parameter diatas untuk orang percobaan :
a. Yang mendapat obat sublingual, dilakukan tiap 3 menit selama jam.
b. Yang mendapat obat oral, dilakukan tiap 15 menit selama 2 jam atau bila parameter telah
kembali ke nilai basal.
Tanyakan gejala-gejala apa yang dirasakan oelh orang percobaan selama percobaan dan 24 jam
setelahnya.
Bandingkanlah data-data yang diperoleh kelompok lain, apatkah ada beda mula kerja, lama
kerja dari masing-masing obat vasodilator yang diberikan.
3. Digitalis
selain mempelajari efek vasodilator pada orang percobaan, pada praktikum ini uga dapat
dipelajari efek digitalis pada manusia malalui pengamatan yang dilakukan pada jantung kodok.
Pada akhir praktikum ini, mahasiswa dapat :

1. Menjelaskan efek farmakodinamik digitalis terhadap frekuensi denyut atrium dan ventrikel,
interval denyut atrium dan ventrikel. (efek kronotropik, intropik dan dromotropik), dan
mengamatinya pada jantung kodok.
2. Menjelaskan dan memperhatikan dan mengamati efek toksik dan letal digitalis.
3. Memahami pengertian ecilnya margin of safety (perbedaan antara dosis terapetik dan dosis
letal) digitalis dan implikasi klinisnya.
Persiapan
1. Hewan percobaan : kodok (Rana), berukuran agak besar.
2. Alat-alat : tempat fiksasi kodok, jarum pentul, gunting anatomis dan chirurgis, pinset,
semprit tuberkulin.
3. Bahan / zat

: larutan uretan 10% dan larutan ringer.

Obat

: larutan tinktura digitalis 10%

Tatalaksana
1. Pilih satu kodok untuk satu kelompok, suntikan ke dalam saccus lymphaticus dorsalisnya
larutan uretan 10% sebanyak 2 ml.
2. Bila sudah terjadi anestesi pada kodok, fiksasilah kodok pada papan fiksasi dengan posisi
terlentang, dengan telapak tangan dan kaki terfiksasi dengan jarum pentul.
3. Bukalah toraks kodok dimulai dengan kulit, dilanjutkan dengan lapisan dibawahnya, dengan
irisan berbentuk V, dimulai dari bawah prosesus ensiformis ke lateral, sampai jantung terlihat jelas
dn hindari tindakan yang menyebabkan banyak pendarahan.
4. Bila jantungg telah tampak singkirkan jaringan yang menutupinya, dan bukalah secara hatihati perikard jantung kodok yang tampak sebagai selubing jantung berwarna perak.
5. Sekarang jantung tamapak utuh, teteskan secara setetes larutan ringer laktat untuk
membasahi jantung, lalu perhatikan dengan teliti siklus jantung antara sistol dan siastol, terutama
dengan memperhatikan bentuk dan warna ventrikel.
6. Tetapkan frekuensi dneyut jantung per-menit sebanyak 3 kali, dan ambil rata-ratanya.
7. Teteskan larutan tinktura digitalis 10% dengan tetesan kecil melalui semprit tuberkulin yang
dilepas jarumnya, langsung pada permukaan jantung, tiap 2 menit dan hitung frekuensi denyut
jantungnya tiap selesai meneteskan digitalis.
8. Pelajarilah perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus jantung (sistol-diastol) dan
perubahan warna jantung. Pemberian digitalis akan menyebabkan penurunan frekuensi jantung,
ventrikel akan berwarna lebih merah pada saat diastolik dan menjadi lebih putih pada saat sisto,
serta amati juga interval A-V yang makin besar. Hal-hal tadi sesuai dengan efek terapi digitalis pada
manusia. Penetesan digitalis diteruskan tiap 2 menit, sampai terjadi keadaan keracunan yang
teramati sebagai terjadinya hambatan jantung parsial, disusul terjadinya hambatan mutlak dan

berakhir dengan berhentinya dneyut ventrikel, baisanya dalam keadaan sistol (asistole).
9. Tentukan apakah jantung yang telah berhenti berdenyut tadi masih bisa di rangsang dengan
rangsangan mekanis, yaitu dengan menyentuh permukaan dengan pinset.
10.

Buatlah catatan dari seluruh pengamatan tadi, dan buatlah kurva yang

menggambarkan hubungan antara frekuensi denyut jantung dengan jumlah tetesan digitalis yang
dipakai.