You are on page 1of 6

LTM Degenerasi Makula

Oleh Aninda Marina 0806323750


I. PENDAHULUAN
Degenerasi makula adalah suatu keadaan dimana
makula mengalami kemunduran sehingga terjadi
penurunan ketajaman penglihatan dan kemungkinan
akan menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan sentral.
Makula adalah pusat dari retina dan merupakan bagian
yang paling vital dari retina yang memungkinkan mata
melihat detil-detil halus pada pusat lapang pandang.
Tanda utama dari degenerasi pada makula adalah
didapatkan adanya bintik-bintik abu-abu atau hitam
pada pusat lapangan pandang. Kondisi ini biasanya
berkembang secara perlahan-lahan, tetapi kadang
berkembang secara progresif, sehingga menyebabkan
kehilangan penglihatan yang sangat berat pada satu
atau kedua bola mata.1,2
Berdasarkan American Academy of Optalmology
penyebab utama penurunan penglihatan atau kebutaan
di AS yaitu umur yang lebih dari 50 tahun. Data di
Amerika Serikat menunjukkan, 15 persen penduduk usia
75 tahun ke atas mengalami degenerasi makula itu.
Terdapat 2 jenis tipe dasar dari penyakit-penyakit
tersebut yakni Standar Makular Degeneration dan Age
Related Makular Degeneration (ARMD). Bentuk yang
paling sering terjadi adalah ARMD.3,4

Degenerasi makula terkait usia merupakan kondisi


generatif pada makula atau pusat retina. Terdapat 2
macam degenarasi makula yaitu tipe non-eksudatif (noneksudatif) dan tipe basah (eksudatif). Kedua jenis
degenerasi tersebut biasanya mengenai kedua mata
secara bersamaan. Degenerasi makula terjadi sebagai
akibat dari kerusakan pada retina.1,2,3,4
Degenerasi makula menyebabkan kerusakan
penglihatan yang berat (misalnya kehilangan
kemampuan untuk membaca dan mengemudi) tetapi
jarang menyebabkan kebutaan total.
Penglihatan pada tepi luar dari lapang pandang
dan kemampuan untuk melihat biasanya tidak
terpengaruh, yang terkena hanya penglihatan pada
pusat lapang pandang. Gejala klinis biasa ditandai
terjadinya kehilangan fungsi penglihatan secara tiba-tiba
ataupun secara perlahan tanpa rasa nyeri. Kadang gejala
awalnya berupa gangguan penglihatan pada salah satu
mata, dinilai garis yang sesungguhnya lurus terlihar
bergelombang.1,3
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis
dan hasil pemeriksaan mata. Sejauh ini belum ada terapi
untuk degenerasi makula tipe non-eksudatif. Suplemen
seng hanya mampu membantu memperlambat
progresivitas gangguan. Untuk beberapa kasus basah,
terapi laser bisa membersihkan pembuluh darah
abnormal sehingga kekaburan penglihatan dapat
dicegah. Tetapi, tidak semua kasus bisa diatasi dengan
terapi laser. Saat ini sedang dikembangkan berbagai

obat dan prosedur operasi baru antara lain terapi foto


dinamik.2,3,4,5
Faktor resiko gangguan ini selain karena usia tua, juga
riwayat keluarga (genetik), ras kaukasia serta merokok.1,5
II. PATOFISIOLOGI
Degenerasi makula yang terkait usia tipe noneksudatif ditandai oleh adanya atrofi dan degenerasi
retina bagian luar, epitel pigmen retina, membran Bruch,
dan koriokapilaris dengan derajat yang bervariasi. Dari
perubahan-perubahan di epitel pigmen retina dan
membran Bruch yang dapat dilihat secara oftalmoskopi
adalah drusen yang sangat khas. Drusen adalah
endapan putih kuning, bulat, diskret, dengan ukuran
bervariasi di belakang epitel pigmen retina dan tersebar
di seluruh makula dan kutub posterior. Seiring dengan
waktu, drusen dapat membesar, menyatu, mengalami
kalsifikasi dan meningkat jumlahnya. Secara
histopatologis sebagian besar drusen terdiri dari
kumpulan lokal bahan eosinifilik yang terletak di antara
epitel pigmen dan membran Bruch; drusen
mencerminkan pelepasan fokal epitel pigmen.1,4
Walaupun pasien dengan degenerasi makula biasanya
hanya memperlihatkan kelainan non eksudatif, sebagian
besar pasien yang menderita gangguan penglihatan
berat akibat penyakit ini mengalami bentuk eksudatif
akibat terbentuknya neovaskularisasi subretina dan
makulopati eksudatif terkait.

Cairan serosa dari koroid di bawahnya dapat bocor


melalui defek defek kecil di membran Bruch sehingga
mengakibatkan pelepasan-pelepasan lokal epitel
pigmen. Peningkatan cairan tersebut dapat semakin
menarik retina sensorik di bawahnya dan penglihatan
biasanya menurun apabila fovea terkena. Pelepasan
epitel pigmen retina dapat secara spontan menjadi datar
dengan bermacam-macam akibat penglihatan dan
meninggalkan daerah geografik depigmentasi pada
daerah yang terkena. Dapat terjadi pertumbuhan
pemubulu-pembuluh darah baru ke arah dalam yang
meluas ke koroid sampai ruang subretina dan
merupakan perubahan histopatologik terpenting yang
memudahkan timbulnya pelepasan makula dan
gangguan penglihatan sentral yang bersifat ireversivel
pada pasien dengan drusen..1,4
III. ETIOLOGI1,5
Degenerasi makula dapat disebabkan oleh
beberapa faktor dan dapat diperberat oleh beberapa
faktor resiko, diantaranya :
1. Umur, faktor resiko yang paling berperan pada
terjadinya degenerasi makula adalah umur. Meskipun
degenerasi makula dapat terjadi pada orang muda,
penelitian menunjukkan bahwa umur di atas 60 tahun
beresiko lebih besar terjadi di banding dengan orang
muda. 2% saja yang dapat menderita degenerasi makula
pada orang muda, tapi resiko ini meningkat 30% pada
orang yang berusia di atas 70 tahun.
2. Genetik, penyebab kerusakan makula adalah

CFH, gen yang telah bermutasi atau faktor komplemen H


yang dapat dibawa oleh para keturunan penderita
penyakit ini. CFH terkait dengan bagian dari sistem
kekebalan tubuh yang meregulasi peradangan.
3. Merokok, Merokok dapat meningkatkan
terjadinya degenrasi makula.
4. Ras kulit putih (kaukasia) adalah sangat rentan
terjadinya degenerasi makula di banding dengan orang
Afrika atau yang berkulit hitam.
5. Riwayat keluarga, resiko seumur hidup terhadap
pertumbuhan degenerasi makula adalah 50% pada
orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga
penderita dengan degenerasi makula, dan hanya 12 %
pada mereka yang tidak memiliki hubungan dengan
degenerasi makula.
6. Hipertensi dan diabetes.
Degenerasi Makula menyerang para penderita penyakit
diabetes, atau tekanan darah tinggi karena mudah
pecahnya pembuluh-pembuluh darah kecil (trombosis)
sekitar retina. Trombosis mudah terjadi akibat
penggumpalan sel-sel darah merah dan penebalan
pembuluh darah halus.
7. Paparan terhadap sinar Ultraviolet
8. Obesitas dan kadar kolesterol tinggi
IV. KLASIFIKASI
1. Degenerasi Makula tipe kering (tipe noneksudatif)
Rata-rata 90% kasus degenerasi makula terkait usia
adalah tipe non-eksudatif. Kebanyakan kasus ini bisa

memberikan efek berupa kehilangan penglihatan yang


sedang. Tipe ini bersifat multipel, kecil, bulat, bintik putih
kekuningan yang di sebut drusen dan merupakan kunci
identifikasi untuk tipe non-eksudatif. Bintik tersebut
berlokasi di belakang mata pada level retina bagian luar.
Adapun lesi klasik yang bisa ditemukan adanya atrofi
geografik. Terdapat endapan pigmen di dalam retina
tanpa disertai pembentukan jaringan parut , darah atau
perembesan cairan.
Degenerasi makula terkait usia noneksudatif
ditandai oleh atrofi dan degenerasi retina bagian luar,
epitel pigmen retina, membran Bruch, dan koriokapilaris
dengan derajat yang bervariasi. Dari perubahanperubahan di epitel pigmen retina dan membran Bruch
yang dapat dilihat secara oftalmoskopis, drusen adalah
yang paling khas. Drusen adalah endapan putih kuning,
bulat, diskret, dengan ukuran bervariasi di belakang
epitel pigmen dan tersebar di seluruh makula dan kutub
posterior. Seiring dengan waktu, drusen dapat
membesar, menyatu, mengalami kalsifikasi dan
meningkat jumlahnya. Secara histopatologis sebagian
besar drusen terdiri dari kumpulan lokal bahan eosinifilik
yang terletak di antara epitel pigmen dan membran
Bruch; drusen mencerminkan pelepasan fokal epitel
pigmen.
Drusen dapat di bagi berdasarkan klinik dan
histopatologi yakni drusen keras ( nodular), drusen diffus
( konfluent), drusen halus ( granular ), dan drusen
kalsifikasi . Selain drusen, dapat muncul secara progresif
gumpalan-gumpalan pigmen yang tersebar secara tidak

merata di daerah-daerah depigmentasi atrofi di seluruh


makula.1,2,4,5
2. Degenerasi Makula tipe eksudatif ( tipe basah)
Degenerasi makula tipe ini adalah jarang terjadi
namun lebih berbahaya di bandingkan dengan tipe noneksudatif. Kira kira didapatkan adanya 10% dari semua
degenerasi makula terkait usia dan 90% dapat
menyebabkan kebutaan. Tipe ini ditandai dengan adanya
neovaskularisasi subretina dengan tanda-tanda
degenerasi makula terkait usia yang mendada atau baru
mengalami gangguan penglihatan sentral termasuk
penglihatan kabur, distorsi atau suatu skotoma baru.

2. Garis-garis lurus mengalami distorsi (membengkok)


terutama dibagian pusat penglihatan
3. Kehilangan kemampuan membedakan warna dengan
jelas
4. Ada daerah kosong atau gelap di pusat penglihatan
5. Kesulitan membaca, kata-kata terlihat kabur atau
berbayang
6. Secara tiba-tiba ataupun secara perlahan akan terjadi
kehilangan fungsi penglihatan tanpa rasa nyeri.

Pada pemeriksaan fundus, terlihat darah subretina,


eksudat, lesi koroid hijau abu-abu di makula.
Neovaskularisasi koroid merupakan perkembangan
abnormal dari pembuluh darah pada epitel pigmen retina
pada lapisan retina. Pembuluh darah ini bisa mengalami
perdarahan dan menyebabkan terjadinya scar yang
dapat menghasilkan kehilangan pusat penglihatan. Scar
ini disebut dengan Scar Disciform dan biasanya terletak
di bagian sentral dan menimbulkan gangguan
penglihatan sentral permanen.1,2,4,5

VI. DIAGNOSIS1,2
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala
klinik dan hasil pemeriksaan oftalmoskopi yang
mencakup ruang lingkup pemeriksaan sebagai berikut :
1. Test Amsler Grid, dimana pasien diminta suatu
halaman uji yang mirip dengan kertas milimeter grafis
untuk memeriksa luar titik yang terganggu fungsi
penglihatannya. Kemudian retina diteropong melalui
lampu senter kecil dengan lensa khusus.
2. Test penglihatan warna, untuk melihat apakah
penderita masih dapat membedakan warna, dan tes-tes
lain untuk menemukan keadaan yang dapat
menyebabkan kerusakan pada makula.
3. angiograf dengan zat warna fluoresein.

V. GEJALA KLINIS 1,2


Gejala-gejala klinik yang biasa didapatkan pada
penderita degenerasi makula antara lain :
1. Distorsi penglihatan, obyek-obyek terlihat salah
ukuran atau bentuk

VII. DIAGNOSIS BANDING1,2


Degenerasi makula khususnya tipe eksudat dapat di
diagnosis banding dengan:
1. Makroneurisme
2. Vaskulopati koroid polipoid

3. Khorioretinopati serous sentral


4. Kasus inflamasi
5. Tumor kecil seperti melanoma koroid
VIII. PENATALAKSANAAN
Tidak ada terapi khusus untuk AMD noneksudatif.
Penglihatan dimaksimalkan dengan alat bantu
penglihatan termasuk alat pembesar dan teleskop.
Pasien diyakinkan bahwa meski penglihatan sentral
menghilang, penyakit ini tidak menyebabkan hilangnya
penglihatan perifer. Ini penting karena banyak pasien
takut mereka akan menjadi buta total. 1,6
Pada sebagian kecil pasien dengan AMD
eksudatif ,pada angiogram fluorosen memperlihatkan
membran neovaskular subretina yang terletak eksentrik
(tidak sepusat) terhadap fovea, mungkin dapat dilakukan
obliterasi membrane tersebut dengan terapi laser argon.
Membrane vascular subfovea dapat diobliterasi dengan
terapi fotodinamik (PDT) karena laser argon
konvensional akan merusak fotoreseptor di atasnya. PDT
dilakukan dengan menyuntikkan secara intravena bahan
kimia serupa porfirin yang diaktivasi oleh sinar laser
nontermal saat sinar laser berjalan melalui pembuluh
darah di membrane subfovea. Molekul yang teraktivasi
menghancurkan pembuluh darah namun tidak merusak
fotoreseptor. Sayangnya kondisi ini dapat terjadi kembali
bahkan setelah terapi laser. 6
Apabila tidak ada neovaskularisasi retina, tidak ada
terapi medis atau bedah untuk pelepasan epitel pigmen
retina serosa yang terbukti bermanfaat. Pemakaian

interferon alfa parenteral, misalnya, belum terbukti


efektif untuk penyakit ini. Namun apabila terdapat
membrane neovaskular subretina ekstrafovea yang
berbatas tegas, diindikasikan fotokoagulasi laser.
Dengan angiografi dapat ditentukan dengan tepat
lokasi dan batas-batas membrane neovaskular yang
kemudian diablasi secara total oleh luka-luka bakar yang
ditimbulkan oleh laser. Fotokoagulasi juga
menghancurkan retina di atasnya tetapi bermanfaat
apabila membrane subretina dapat dihentikan tanpa
mengenai fovea. 4,6
Fotokoagulasi laser krypton terhadap
neovaskularisasi subretina avaskular fovea ,dianjurkan
untuk pasien nonhipertensif. Setelah fotokoagulasi
membrane neovaskular subretina berhasil dilakukan,
neovaskularisasi rekuren di dekat atau jauh dari jaringan
parut laser dapat terjadi pada separuh kasus dalam 2
tahun. Rekurensi sering disertai penurunan penglihatan
berat sehingga pemantauan yang cermat dengan Amsler
grid, oftalmoskopi dan angiografi perlu dilakukan. Pasien
dengan gangguan penglihatan sentral di kedua matanya
mungkin memperoleh manfaat dari pemakaian berbagai
alat bantu penglihatan.6
Selain itu terapi juga dapat dilakukan di rumah
berupa pembatasan kegiatan dan follow up pasien
dengan mengevaluasi daya penglihatan yang rendah.
Selain itu dengan mengkomsumsi multivitamin dan
antioksidan ( berupa vitamin E , vitamin C, beta caroten,
asam cupric dan zinc), karena diduga dapat

memperbaiki dan mencegah terjadinya degenerasi


makula. Sayuran hijau terbukti bisa mencegah terjadinya
degenerasi makula tipe non-eksudatif. Selain itu
kebiasaan merokok dikurangi dan dan pengontrolan
hipertensi.1,6
IX. PROGNOSIS
Bentuk degenerasi makula yang progresif dapat
menyebakan kebutaan total sehingga aktivitas dapat
menurun. Prognosis dari degenerasi makula dengan tipe
eksudat lebih buruk di banding dengan degenerasi
makula tipe non eksudat. Prognosis dapat didasarkan
pada terapi, tetapi belum ada terapi yang bernilai efektif
sehingga kemungkinan untuk sembuh total sangat kecil.1
DAFTAR PUSTAKA
1. Hardy RA. Retina dan Tumor Intraokuler. Dalam :
Vaughan D.G, Asbury T. Riordan E.P, Editor.
Oftalmologi Umum Edisi 16. Jakarta : Widya
Medika. 2005.
2. Liesegang TJ, Skuta GL, Cantor LB,. Retina and
Vitreous. Basic and Clinical Course.Section 12 . San
Fransisco, California : American Academy of
Ophthalmology. 2003-2004
3. Sidarta I, Retina. Dalam : Ilmu Penyakit Mata Edisi
kedua. Jakarta : BP-FKUI. 2002

4. Sarks SH, Killingsworth MC, Penfold PH, Driei DV,.


Patterns in Makular Degeneration. In: Ryan SJ.,
Dawson AK., Little HL,Editor. Retinal Diseases. 10th
Edition. New York : Grune & Stratton, Inc. 2005.
5. Makular Degeneration. [Online]. [ diunduh 2011,
Februari 20] URL:
http://www.emedicinehealth.com/.
6. Image of Eye, Retina, and Laser Theraphy of
Makular Degeneration. [Online].[ [ diunduh 2011,
Februari 20 ] URL:
http://www.mayoclinic.com/health/maculardegeneration/DS00284