You are on page 1of 5

BAB V

DISKUSI

5.1 Pengetahuan Responden Mengenai Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD


Pengetahuan merupakan komponen penting yang mempengaruhi sikap dan perilaku
sesorang. Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan adalah dengan memberikan
penyuluhan, dalam hal ini pengetahuan mengenai PSN DBD. Peningkatan pengetahuan
tersebut diharapkan dapat membuat masyarakat mengenal cara PSN yang benar sehingga
dapat melakukan pemberantasan DBD dengan baik.
Benthem et al meneliti tingkat pengetahuan masyarakat di Thailand mengenai
pemberantasan dan pencegahan DBD. Hasilnya menunjukkan masyarakat yang memiliki
pengetahuan yang lebih baik mengenai DBD memiliki upaya pencegahan yang jauh lebih
baik.21 Penelitian yang dilakukan oleh Konraadt et al juga menyebutkan bahwa terdapat
hubungan langsung antara pengetahuan mengenai pencegahan DBD dengan upaya
melakukan PSN.25
Pada penelitian ini, mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan sedang
mengenai PSN DBD, yaitu sebanyak 53,8%. Responden yang memiliki pengetahuan buruk
(27,9%) lebih banyak daripada yang memiliki pengetahuan baik (18,3%). Hasil tersebut tidak
sesuai dengan yang diharapkan peneliti karena siswa telah mendapat penyuluhan satu bulan
sebelum survei. Hal itu mungkin disebabkan oleh kurangnya frekuensi penyuluhan (hanya
dilakukan satu kali) sehingga banyak siswa yang lupa. Kemungkinan lainnya adalah
penyuluhan diberikan oleh mahasiswa yang belum berpengalaman dalam memberikan
penyuluhan sehingga materi yang disampaikan kurang dimengerti.
5.2 Pengetahuan Responden Mengenai PSN dan Hubugannya dengan Jenis Kelamin
Pada umumnya, perempuan lebih sering bercakap-cakap dan bertukar informasi
sehingga pengetahuan mereka lebih baik daripada laki-laki termasuk dalam hal PSN. Di
samping itu, perempuan lebih sering berada di rumah sehingga lebih sering memperoleh
informasi mengenai PSN dari media televisi yang merupakan salah satu media yang cukup
efektif dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat.
Penelitian yang dilakukan oleh Benthem et al bertujuan untuk menilai tingkat

pengetahuan terhadap pencegahan DBD pada 1650 orang yang bertempat tinggal di tiga area
berbeda di Thailand Utara. Penelitian tersebut menemukan adanya hubungan antara tingkat
pengetahuan dengan jenis kelamin yaitu perempuan memiliki tingkat pengetahuan yang
lebih baik daripada laki-laki.21
Pada penelitian ini, hasil uji chi-square menunjukkan tidak terdapat perbedaan
bermakna antara jenis kelamin dengan pengetahuan mengenai PSN (p > 0,05). Hal itu
disebabkan oleh aktivitas antara siswa laki-laki dan perempuan yang hampir sama
(bersekolah), sehingga pertukaran informasi terjadi merata pada kedua kelompok.
Berdasarkan hal tersebut, penyuluhan yang dilakukan sebaiknya diberikan secara merata
kepada seluruh siswa tanpa membedakan jenis kelamin.
5.3

Pengetahuan Responden Mengenai PSN dan Hubunganya dengan Jumlah

Sumber Informasi
Pada umumnya, jumlah sumber informasi berbanding lurus dengan tingkat
pengetahuan sesorang. Semakin banyak sumber informasi yang dipaparkan pada seseorang,
semakin meningkat pengetahuannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Khynn et al di Myanmar menilai pengetahuan
masyarakat tentang DBD. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa responden yang
terpapar pada berbagai media kesehatan seperti pamflet/poster, televisi, surat kabar dan jurnal
memiliki tingkat pengetahuan yang lebih baik daripada responden yang tidak terpapar sama
sekali.22 Didapati pula responden yang mendapat informasi dari televisi memiliki tingkat
pengetahuan yang lebih baik daripada yang tidak.
Pada penelitian ini hasil analisis data menunjukkan bahwa jumlah sumber informasi
yang diterima responden mengenai PSN tidak berhubungan dengan tingkat pengetahuan
mereka (p > 0,05). Hasil itu bukan berarti jumlah sumber informasi adalah hal yang kurang
penting dalam penyuluhan PSN, namun ada faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan
munculnya hasil tersebut. Salah satu faktor penyebabnya adalah banyaknya informasi yang
harus diserap oleh siswa terutama pelajaran di sekolah sehingga informasi mengenai PSN
banyak yang terlupakan. Semakin banyaknya informasi yang harus diingat dapat
menyebabkan informasi yang sudah diterima sebelumnya menjadi terlupakan.
Berdasarkan data tersebut, pemberian penyuluhan sebaiknya dilakukan kepada
seluruh siswa tanpa memandang jumlah sumber informasi yang diterima.

5.4

Pengetahuan Responden Mengenai PSN dan Hubungannya dengan Sumber

Informasi yang Paling Berkesan


Secara umum, informasi dari sumber yang paling menarik dan berkesan akan
membuat penerimanya lebih ingat akan informasi tersebut. Jenis sumber informasi yang
menarik biasanya adalah media audio visual seperti televisi karena memiliki gambar yang
bergerak, suara dan warna. Media audio visual juga lebih banyak melibatkan panca indra
daripada media lain seperti buku atau majalah yang hanya mellibatkan satu panca indra.
Media yang lebih banyak melibatkan panca indra biasanya akan lebih mudah diingat.16
Penelitian yang dilakukan oleh Itrat et al tentang pengetahuan sikap dan perilaku
terkait DBD di Pakistan mendapati bahwa sumber informasi mengenai DBD yang paling
penting dan berguna adalah televisi.20 Hal tersebut sesuai dengan penelitian ini, yaitu
responden cukup banyak yang mendapat sumber informasi dari media elektronik seperti
televisi.
Metode ceramah juga terbukti efektif untuk meningkatkan pengetahuan seseorang.
Penelitian Pulungan menyatakan bahwa murid yang mendapatkan penyuluhan mengenai PSN
DBD melalui metode ceramah dan film (audio visual) memiliki peningkatan pengetahuan
yang signifikan daripada sebelum diberikan penyuluhan.16 Dalam konteks yang agak
berbeda, penelitian yang dilakukan oleh Luciawaty menyimpulkan bahwa metode ceramah
disertai latihan menyikat gigi lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap dan status
kebersihan gigi dan mulut siswa.24
Berdasarkan hasil analisis data, tidak terdapat hubungan antara sumber informasi
yang paling berkesan dengan tingkat pengetahuan responden (p > 0,05). Hal itu mungkin
disebabkan siswa hanya terkesan pada cara dan teknik penyampaian informasi tanpa disertai
ketertarikan pada isi informasi sehingga materi yang harus disampaikan menjadi terlupakan.
Kemungkinan lainnya adalah penyuluhan tidak dilakukan dengan frekuensi yang cukup,
rutin dan teratur. Jika penyuluhan hanya dilakukan sekali-sekali dan tidak teratur, maka
informasi yang diperoleh hanya bersifat jangka pendek (short term memory) dan sulit diingat
untuk jangka waktu lama (long term memory). Terlebih lagi pada penelitian ini, penyuluhan
diberikan sudah satu bulan sebelumnya sehingga banyak di antara responden yang sudah lupa
walaupun sumber itu berkesan bagi mereka. Dengan demikian, penyuluhan mengenai PSN
sebaiknya tidak memandang media apa yang paling menarik bagi siswa. Semua media
diberdayakan untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai PSN. Penyuluhan juga

sebaiknya dilakukan dengan frekuensi yang lebih sering, rutin dan teratur.
5.2.4 Pengetahuan Responden Mengenai PSN dan Hubungannya dengan Riwayat
Sakit DBD
Pengalaman yang didapatkan oleh seseorang akan membuat pengetahuannya
mengenai hal tersebut meningkat, termasuk dalam hal pengalaman menderita atau
menghadapi penderita penyakit tertentu seperti DBD. Peningkatan pengetahuan tersebut
dapat diperoleh dari petugas kesehatan atau dokter saat melakukan konsultasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Kittigul et al di Thailand membandingkan
pengetahuan, sikap dan perilaku terhadap DBD pada tiga kelompok ibu yang juga bertindak
sebagai pengasuh (care takers) utama siswa berusia di bawah 15 tahun. Ketiga kelompok itu
adalah ibu dari siswa yang menderita DBD, tidak menderita DBD dan ibu dari siswa yang
sehat. Hasilnya menunjukkan bahwa ibu dari penderita DBD memiliki pengetahuan, sikap
dan perilaku PSN yang lebih baik jika dibandingkan dengan dua kelompok lainnya.23 Hal
tersebut karena mereka mendapatkan pengalaman langsung dengan DBD dan memperoleh
informasi dari dokter ketika anak mereka dirawat di rumah sakit.
Penelitian yang dilakukan oleh Ibrahim et al mengenai pengetahuan DBD di Jeddah
menemukan bahwa responden yang memiliki riwayat keluarga menderita DBD mempunyai
tingkat pengetahuan yang lebih baik daripada yang tidak memiliki riwayat DBD.19 Penelitian
Itrat et al et al juga menemukan bahwa tingkat pengetahuan yang kurang mengenai DBD
lebih banyak ditemukan pada kelompok responden yang tidak memiliki riwayat sakit DBD
(80,5%) daripada yang memiliki riwayat sakit (19,5%).20
Pada penelitian ini berdasarkan uji Kolmogorov-Smirnov, tidak terdapat perbedaan
signifikan antara tingkat pengetahuan mengenai PSN responden yang pernah sakit DBD dan
yang belum pernah sakit (p = 1,00). Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa sebagian besar
responden (89,4%) belum pernah memiliki riwayat sakit DBD di keluarganya, artinya dapat
disimpulkan mereka belum pernah memiliki pengalaman langsung dengan DBD.
Salah satu kemungkinan penyebab tidak adanya perbedaan yang signifikan ini adalah
kurangnya edukasi kepada responden dan keluarganya mengenai PSN sewaktu sakit. Jika
responden atau keluarganya hanya ditatalaksana saja tanpa diberikan edukasi, maka tingkat
pengetahuan mereka tidak akan meningkat.

Kurangnya penyebaran informasi di antara keluarga juga diperkirakan menjadi faktor


penyebab. Mungkin saja keluarga diberikan edukasi mengenai PSN, namun informasi ini
tidak disampaikan kepada responden yang sedang sakit sehingga tingkat pengetahuan
responden tidak meningkat. Dalam hal ini keluarga mungkin menganggap pasien masih
terlalu muda untuk diberi tahu mengenai PSN.
Berdasarkan hasil tersebut, dalam melaksanakan penyuluhan sebaiknya tidak
dibedakan apakah siswa memiliki riwayat sakit DBD atau tidak. Penyuluhan sebaiknya
dilakukan secara merata kepada seluruh siswa.