You are on page 1of 2

KENALI POTENSI HERNIA NUKLEUS PULPOSUS SEJAK DINI

Sekar Kinasih Susilo Putri (G1A014076)

Nyeri punggung bawah (Low Back Pain) merupakan keluhan yang sering dijumpai
dalam kehidupan sehari-hari. Masalah Low Back Pain menjadi penting karena
diperkirakan 80% penduduk selama hidup pernah merasakan nyeri punggung bawah. Setiap
saat lebih dari 10 % penduduk menderita sakit punggung bawah. Insiden di beberapa negara
berkembang lebih kurang 15-20% dari total populasi. Diperkirakan 15% dari jumlah
penduduk menderita nyeri punggung bawah (Lubis I,2003). Hasil penelitian yang dilakukan
Pokdi Nyeri PERDOSSI (Persatuan Dokter Saraf Seluruh Indonesia) di Poliklinik Neurologi
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada tahun 2002 menemukan prevalesi
penderita LBP sebanyak 15,6%. Angka ini berada pada urutan kedua tertinggi setelah sefalgia
dan migren yang mencapai 34,8%. Dari hasil penelitian nasional yang dilakukan di 14 kota di
Indonesia juga oelh Pokdi Nyeri PERDOSSI tahun 2002, ditemukan sebnayak 18,13%
penderita LBP dengan rata-rata nilai VAS sebesar 5,462,56 yang bearti nyeri sedang sampai
berat. 50% diantaranya adalah penderita berumur antara 41-60 tahun (Purba JS, Susilawaty
D, 2006).
Disamping itu, penanganan tehadap nyeri punggung bawah terkadang terlambat.
Banyak ditemukan pasien yang baru mendapatkan penanganan medis setelah kronis . Hai ini
dikarenakan ketidaktahuan penderita terhadap nyeri punggungnya yang ternyata bukan
sekedar nyeri punggung biasa.
HNP, sebagai salah satu penyebab yang paling sering terjadi pada nyeri punggung
bawah adalah suatu gangguan yang melibatkan ruptur annulus fibrosus sehingga nukleus
pulposus menonjol (bulging), mengalami herniasi dan menekan akar saraf spinal,
menimbulkan nyeri dan defisit neurologis (Hartwig, MS, Wilson LM,2006). HNP paling
sering terjadi di daerah L4-L5 dan L5-S1, kemudian di leher pada C5-C6. Paling jarang
terjadi di torakal.
HNP bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagaimana yang dikemukakan oleh para
ahli ( Nettina & Mills, 2006; Zeller, 2006; American Academy of Orthopedic Surgeons, 2007;
Simon, 2012; dan Flood, 2013) adalah degenerasi, trauma (cedera punggung), predisposisi
kongenital, faktor biomekanis, pekerjaan yang kurang aktivitas fisik, tekanan pada punggung
secara terus menerus, memakai sepatu hak tinggi, tekanan pada tubuh secara tiba-tiba,
obesitas dan merokok.

HNP dapat digolongkan menjadi 3 berdasarkan letak herniasi, yaitu Hernia


Lumbosacralis, Hernia Servikalis dan Hernia Thoracalis yang masing- masingnya memiliki
gejala yang berbeda-beda.
HNP bisa terjadi tanpa menunjukan gejala, bila ada gejala, manifestasinya bergantung
pada lokasi, ukuran, kecepatan perkembangan, dan efek pada struktur jaringan sekitar
(Nettina & Mills, 2006; Cedars-Sinai, 2013). Kebanyakan, gejala yang timbul adalah nyeri,
perubahan sensori, penurunan refleks dan kelemahan otot, nyeri pada punggung yang
menjalar, kerusakan refleks,
Selain rasa nyeri, sakit dan ketidaknyamanan, terganggunya aktivitas, masih ada
dampak buruk lain, diantaranya adalah terganggunya komplesitas dari jaringan saraf yang
akhirnya menyebabkan kelemahan akut;serta kerusakan jaringan saraf. Komplikasi dari HNP
yang tidak sembuh benar adalah disfungsi neurologis permanen (kelemahan dan mati rasa),
nyeri kronis dengan isi psikososial, cauda equina syndrome (Nettina & Mills, 2006; Ogiela &
Zieve, 2012)
Tes diagnostik untuk HNP adalah myelogram untuk mendemonstrasikan herniasi, MRI
untuk mendemonstrasikan HNP secara lebih akurat, electromyography untuk melokalisasi
saraf spinalis yang terkena ( Nettina & Mills, 2006). Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan
pendukung yaitu spine x-ray (AAOS, 2007), Nerve Conduction Velocity Test (Ogiela dan
Zieve, 2012) serta Bone Scan (AANN,2009)
Perawatan yang paling sering direkomendasikan adalah istirahat total atau
menghentikan semua kegiatan yang dapat memperburuk tekanan di saraf. Namun hal ini
tergantung dari lokasi saraf terjepit.
Obat-obat antiinflamasi non-steroid jadi pilihan, seperti ibuprofen dan naproxen.
Complete bed rest pada matras yang keras selama dua hari, kompres hangat atau es pada
daerah yang terkena, physical therapy serta intervensi pembedahan yang dapat dlakukan jika
ada perkembangan ke arah defisit neurologis atau tidak adanya perbaikan setelah managemen
konservatif dilaksanakan. Selain itu, beberapa terapi dianjurkan untuk penderita HNP lumbar
(Nettina & Mills, 2006).
Pencegahan????