You are on page 1of 42

KETERAMPILAN DASAR KLINIK II

PENGAMBILAN SPESIMEN DARAH VENA PADA NN. BW DI RUANG


KASUARI I RSUD KABUPATEN SORONG

Disusun Sebagai Tugas Individu


Keterampilan Dasar Klinik Semester II

DISUSUN OLEH:
RIRIN AOENG S. POETRI
NIM. 13.032

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN
SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SORONG
PROGRAM STUDI D-IV KEBIDANAN
2014

KETERAMPILAN DASAR KLINIK II

PENGAMBILAN SPESIMEN DARAH VENA PADA NN. BW DI RUANG


KASUARI I RSUD KABUPATEN SORONG

Disusun Sebagai Tugas Individu


Keterampilan Dasar Klinik Semester II

Dosen Pembimbing Institusi


Ariani Pongoh, S.ST, M.Kes

Pembimbing Klinik
Zr. Poppy S, A.MK

DISUSUN OLEH:
RIRIN AOENG S. POETRI
NIM. 13.032

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN
SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SORONG
PROGRAM STUDI D-IV KEBIDANAN
TAHUN 2014

LEMBAR PERSETUJUAN

MAKALAH KETERAMPILAN DASAR KLINIK II

PENGAMBILAN SPESIMEN DARAH VENA PADA NN. BW DI RUANG


KASUARI I RSUD KABUPATEN SORONG

Sorong, 11 April 2014


Pembimbing Klinik

Dosen Pembimbing Institusi

Zr. Poppy S, A.MK

Ariani Pongoh, S.ST, M.Kes

NIP. 140 149 221

NIP. 196601011985032005

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang

telah

melimpahkan

rahmat

sehingga

pengkajian

yang

berjudul

Pengambilan Spesimen Darah Vena pada Nn. Bw di Ruang Kasuari I

RSUD Kabupaten Sorong dapat diselesaikan sesuai target yang ingin dicapai
oleh penulis.
Pengkajian ini dibuat untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca
mengenai perbandingan tekhnik pengambilan spesimen darah vena antara teori di
Institusi dengan pelaksanaan di lapangan. Selain itu, pengkajian ini juga dibuat
untuk menambah wawasan bagi penulis.
Penulis menyadari tak mungkin penulisan pengkajian ini dapat
terselesaikan tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan saran-saran dari berbagai
pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak W. Isir, B.Sc, S.Sos, MM selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Sorong.
2. Ibu M. Wattimena, A.Kp, M.Kes selaku ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Sorong.
3. Ibu Sunaeni, M.Keb selaku ketua Program Studi Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Sorong.
4. Ibu Adriana Egam, S.ST, M.Kes selaku dosen wali tingkat I Program Studi DIV Kebidanan Poltekkes Kemenkes Sorong.
5. Ibu Zr. Poppy S, A.MK selaku pembimbing klinik (CI).
6. Ibu Ariani Pongoh, S.ST, M.Kes selaku dosen pembimbing Institusi..
7. Seluruh pihak yang telah membantu, khususnya pada penyusunan makalah ini.
Semoga usaha pembuatan pengkajian yang telah dikerahkan ini dapat
membuahkan hasil yang maksimal dan bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan pengkajian ini masih terdapat
kekurangan. Untuk itu, penulis mohon maaf, karena sesungguhnya kesempurnaan
itu hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa.
Sorong, 15 Januari 2014
Penulis
Ririn Aoeng S. Poetri

DAFTAR ISI
Halaman Judul ..

ii

Lembar Persetujuan ...

iii

Kata Pengantar .....

iv

Daftar Isi ...

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Pengambilan Kasus .....

D. Manfaat Kasus .

BAB II. KAJIAN TEORI

A. Pengertian ............

B. Tujuan ..

C. Lokasi Pengambilan Spesimen Darah Vena

D. Pengambilan Darah Vena Untuk Berbagai Pemeriksaan

E. Cara Pengambilan Darah Vena

F. Faktor Penyulit dalam Pengambilan Spesimen Darah Vena ...

G. Komplikasi ...

10

H. Faktor yang Harus Diperhatikan ..

14

I. Pengambilan Sampel Darah Vena pada Pasien yang

19

Terpasang Intravena (IV) Lines ..

13

J. Menampung Darah dalam Tabung ..

20

K. Prosedur

Kerja

Berdasarkarkan

Teori

di

Akademi

(Pengambilan Spesimen Darah Vena) .

22

BAB III. TINJAUAN KASUS


A. Pengkajian ....

24

B. Prosedur Kerja di Lahan Praktik .........

29

BAB IV. PEMBAHASAN


A. Persamaan ........

32

B. Kesenjangan .........

32

BAB V. PENUTUP

A. Kesimpulan ..

34

B. Saran ........

34

Daftar Pustaka ...

vi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini banyak penyakit yang bertambah dan merajalela dalam kehidupan
masyarakat. Akan tetapi penyakit infeksi tetap menjadi primadona penyakit
yang paling sering menyerang manusia. Penyakit infeksi yang ditimbul sering
diakibatkan mikroorganisme yang bersifat patogen. Dalam pemeriksaan
penyakit infeksi, biasanya dilakukan pemeriksaan fisik dan anamnese guna
menemukan etiologi penyakit. Cara lain dalam menegakkan diagnosa guna
menemukan mikroorganisme apa yang menjadi penyebab suatu penyakit
adalah dengan cara pemeriksaan spesimen.
Pengambilan spesimen darah merupakan tugas dari petugas laboratorium
akan tetapi dalam kenyataanya semua dilakukan oleh perawat. Untuk itu
diperlukan adanya suatu pengalaman yang lebih dari perawat untuk
mengambil spesimen darah untuk pemeriksaan laboratorium. Hal ini untuk
mencegah spesimen darah tersebut mengalami hemolisis. Persiapan dan
teknik yang baik dalam pengambilan spesimen darah vena sangat
mempengaruhi hasil tes laboratorium. Tujuan pengambilan spesimen darah
vena adalah untuk mendapatkan hasil spesimen darah vena tanpa anti
koagulan yang memenuhi persyaratan untuk pemeriksaan kimia klinik dan
imunoserologi.
Seorang bidan sama halnya dengan perawat yang salah satu tugasnya juga
merawat pasien atau klien, oleh sebab itu bidan juga harus mengetahui tujuan,
persiapan, teknik, faktor penyulit, serta komplikasi dalam pengambilan
spesimen darah vena.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa
permasalahan sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari venipuncture?
2. Apa tujuan dari pengambilan spesimen darah vena?

3. Dimana letak lokasi pengambilan spesimen darah vena?


4. Pemeriksaan apa sajakah yang dapat diperoleh dari spesimen darah vena?
5. Bagaimanakah cara pengambilan spesimen darah vena?
6. Apa sajakah yang dapat menjadi faktor penyulit dalam pengambilan
spesimen darah vena?
7. Komplikasi apa saja yang mungkin terjadi setelah tindakan pengambilan
spesimen darah vena?
8. Faktor apa saja yang harus diperhatikan oleh phlebotomis?
9. Bagaimana cara pengambilan sampel darah vena pada pasien yang
terpasang intravena (IV) lines?
10. Bagaimana ragam jenis tabung penampung sampel darah?
11. Bagaimana prosedur kerja berdasarkan teori di akademi mengenai
pengambilan spesimen darah vena?

C. Tujuan Pengambilan Kasus


1. Tujuan Umum
Tujuan penulisan secara umum dari pengkajian kasus ini adalah:
Untuk mengetahui tentang pengambilan spesimen darah vena baik dalam
teori maupun penerapannya di lahan praktik.
2. Tujuan Khusus
Tujuan penulisan secara khusus dari pengkajian kasus ini adalah:
a. Mengetahui pengertian dari venipuncture.
b. Mengetahui tujuan pengambilan spesimen darah vena.
c. Mengetahui letak lokasi pengambilan spesimen darah vena.
d. Mengetahui pengambilan darah vena untuk berbagai pemeriksaan.
e. Memahami cara pengambilan spesimen darah vena.
f. Mengetahui faktor penyulit dalam pengambilan spesimen darah vena.
g. Mengetahui komplikasi mungkin terjadi setelah tindakan pengambilan
spesimen darah vena.
h. Memahami faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pengambilan
spesimen darah vena.

i. Memahami cara pengambilan sampel darah vena pada pasien yang


terpasang intravena (IV) lines.
j. Mengetahui berbagai jenis tabung penampung sampel darah.
k. Memahami prosedur kerja berdasarkan teori di akademi mengenai
pengambilan spesimen darah vena.
l. Membandingkan penerapan pengambilan spesimen darah vena di
klinik dengan teori yang ada.

D. Manfaat Kasus
1. Manfaat Bagi Mahasiswa
Manfaat yang diharapkan dari pengkajian kasus ini adalah:
a. Dapat mengetahui persiapan-persiapan dan prosedur pengambilan
spesimen darah vena dengan baik.
b. Sebagai informasi bahwa pentingnya keterampilan plhebotomis akan
teknik pengambilan spesimen darah vena dalam dunia medis.
c. Melatih kedisiplinan diri.
d. Menjadi pembelajaran bagi penulis agar lebih baik dalam penulisanpenulisan berikutnya.
2. Manfaat Bagi Rumah Sakit
Manfaat yang diharapkan dari pengkajian kasus ini adalah:
a. Dapat membantu tenaga medis dalam pelayanan dan pengobservasian
pasien.
b. Meningkatkan keterampilan dalam membimbing mahasiswa.
3. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan
Manfaat yang diharapkan dari pengkajian kasus ini adalah:
a. Dapat memberikan praktik secara nyata bagi mahasiswa.
b. Meningkatkan kualitas dan keterampilan tenaga pengajar (dosen)
dalam mendidik mahasiswa.

10

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian
Dalam kegiatan pengumpulan sampel darah dikenal istilah phlebotomy
yang berarti proses pengeluaran darah. Dalam praktek laboratorium klinik, ada
3 macam cara memperoleh darah, yaitu melalui tusukan vena (venipuncture),
tusukan kulit (skinpuncture), dan tusukan arteri atau nadi.Venipuncture adalah
cara yang paling umum dilakukan, oleh karena itu istilah phlebotomy sering
dikaitkan dengan venipuncture.
Pada pengambilan darah vena (venipuncture), contoh darah umumnya
diambil dari vena median cubital, pada anterior lengan (sisi dalam lipatan
siku). Vena ini terletak dekat dengan permukaan kulit, cukup besar, dan tidak
ada pasokan saraf besar. Apabila tidak memungkinkan, vena chepalica atau
vena basilica bisa menjadi pilihan berikutnya. Venipuncture pada vena
basilica harus dilakukan dengan hati-hati karena letaknya berdekatan dengan
arteri brachialis dan syaraf median.
Jika vena cephalica dan basilica ternyata tidak bisa digunakan, maka
pengambilan darah dapat dilakukan di vena di daerah pergelangan tangan.
Lakukan pengambilan dengan sangat hati-hati dan menggunakan jarum yang
ukurannya lebih kecil.

B. Tujuan
Mendapatkan spesimen darah vena tanpa anti koagulan yang memenuhi
persyaratan untuk pemeriksaan kimia klinik dan imunoserologi.

C. Lokasi Pengambilan Spesimen Darah Vena


Pengambilan darah vena dapat dilakukan pada lokasi vena yang cukup
besar dan letaknya superfisial. Pada orang dewasa biasa vena di fossa cubiti
sedangkan pada anak-anak dan bayi diambil pada Vena Jugularis Externa,
Vena Femoralis (paha), Vena Sinus Sagitalis Superior (kepala).
Lokasi yang tidak diperbolehkan diambil darah adalah :

11

1. Lengan pada sisi mastectomy


2. Daerah oedema
3. Hematoma
4. Daerah dimana darah sedang ditransfusikan
5. Daerah bekas luka
6. Daerah dengan cannula, fistula atau cangkokan vascular
7. Daerah intra-vena lines. Pengambilan darah di daerah ini dapat
menyebabkan darah menjadi lebih encer dan dapat meningkatkan atau
menurunkan kadar zat tertentu.

(a)

(b)

(c)
Gambar 2.1: Lokasi Venipuncture; (a) vena fossa cubiti, (b) vena jugularris
eksterna, (c) vena femoralis

12

D. Pengambilan Darah Vena Untuk Berbagai Pemeriksaan


Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan yang menggunakan bahan atau
spesimen darah. Pemeriksaan darah vena meliputi:
1. SGPT (serum glutamic piruvic transaminase) atau alanin amonio
transferase merupakan pemeriksaan yang bertujuan mendeteksi adanya
kerusakan hepatoseluler.
2. Albumin. Pemeriksaan albumin dilakukan untuk mendeteksi kemampuan
albumin yang disintesis hepar, yang dapat digunakan untuk menentukan
adanya gangguan hepar seperti sirosis, luka bakar, gangguan ginjal atau
kehilangan protein dalam jumlah banyak.
3. Bilirubin (total, direk dan indirek). Pemeriksaan ini bertujuan untuk
mendeteksi kadar bilirubin, adanya ikterus obstruktif karena batu atau
neoplasma, hepatitis, dan sirosis. Bilirubin indirek dapat mendeteksi
adanya anemia, malaria, dan lain-lain.
4. Gula darah puasa. Pemeriksaan gula darah dilakukan untuk mendeteksi
adanya diabetes, atau reaksi hipoglikemik.
5. Gula darah posprandial. Pemeriksaan gula darah ini bertujuan mendeteksi
adanya diabetes, atau reaksi hipoglikemik, yang dilakukan 2 jam setelah
makan.
6. Hematokrit.

Pemeriksaan

hematokrit

dilakukan

untuk

mengukur

konsentrasi sel-sel darah merah dalam darah, yang dapat mendeteksi


adanya anemia, kehilangan darah, gagal ginjal kronis, defisiensi vitamin B
dan C. Peningkatan kadar hematokrit dapat diidentifikasi pada dehidrasi,
asidosis, trauma, pembedahan, dan lain-lain.
7. Hemoglobin. Pemeriksaan hemoglobin bertujuan untuk mendeteksi
anemia dan penyakit ginjal. Peningkatan hemoglobin dapat terjadi pada
dehidrasi, penyakit paru obstruksi kronis, gagal jantung kongestif, dan
lain-lain.
8. Trombosit. Pemeriksaan trombosit bertujuan untuk mendeteksi adanya
trombositopenia yang berhubungan dengan perdarahan, dan trombositosis
yang menyebabkan peningkatan pembekuan.

13

9. Masa tromboplastin parsial (PTT), adalah masa tromboplastin parsial


teraktivasi (APTT). Pemeriksaan yang bertujuan untuk mendeteksi
defisiensi faktor pembekuan kecuali faktor VII dan VIII, mendeteksi
variasi trombosit, dan memonitor terapi heparin.
Selain pemeriksaan tersebut di atas masih banyak pemeriksaan yang
banyak dilakukan seperti pemeriksaan elektrolit, sel darah putih, laju endap
darah, dan pemeriksaan enzim-enzim lain.

E. Cara Pengambilan Darah Vena


Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara
vakum. Cara manual dilakukan dengan menggunakan alat suntik (syring),
sedangkan cara vakum dengan menggunakan tabung vakum (vacutainer).
1. Pengambilan Darah Vena dengan Syring
Pengambilan darah vena secara manual dengan alat suntik (syring)
merupakan cara yang masih lazim dilakukan di berbagai laboratorium
klinik dan tempat-tempat pelayanan kesehatan. Alat suntik ini adalah
sebuah pompa piston sederhana yang terdiri dari sebuah tabung silinder,
pendorong, dan jarum. Berbagai ukuran jarum yang sering dipergunakan
mulai dari ukuran terbesar sampai dengan terkecil adalah : 21G, 22G, 23G,
24G dan 25G.
Pengambilan darah dengan suntikan ini baik dilakukan pada pasien
usia lanjut dan pasien dengan vena yang tidak dapat diandalkan (rapuh
atau kecil).
2. Pengambilan Darah Vena dengan Tabung Vakum
Tabung vakum pertama kali dipasarkan oleh perusahaan AS BD
(Becton-Dickinson) di bawah nama dagang Vacutainer. Jenis tabung ini
berupa tabung reaksi yang hampa udara, terbuat dari kaca atau plastik.
Ketika tabung dilekatkan pada jarum, darah akan mengalir masuk ke
dalam tabung dan berhenti mengalir ketika sejumlah volume tertentu telah
tercapai.

14

Gambar 2.2: Tabung vakum.

Jarum yang digunakan terdiri dari dua buah jarum yang


dihubungkan oleh sambungan berulir. Jarum pada sisi anterior digunakan
untuk menusuk vena dan jarum pada sisi posterior ditancapkan pada
tabung. Jarum posterior diselubungi oleh bahan dari karet sehingga dapat
mencegah darah dari pasien mengalir keluar. Sambungan berulir berfungsi
untuk melekatkan jarum pada sebuah holder dan memudahkan pada saat
mendorong tabung menancap pada jarum posterior.
Keuntungan menggunakan metode pengambilan ini adalah, tak
perlu membagi-bagi sampel darah ke dalam beberapa tabung. Cukup
sekali penusukan, dapat digunakan untuk beberapa tabung secara
bergantian sesuai dengan jenis tes yang diperlukan. Untuk keperluan tes
biakan kuman, cara ini juga lebih bagus karena darah pasien langsung
dapat mengalir masuk ke dalam tabung yang berisi media biakan kuman.
Jadi, kemungkinan kontaminasi selama pemindahan sampel pada
pengambilan dengan cara manual dapat dihindari.
Kekurangannya sulitnya pengambilan pada orang tua, anak kecil,
bayi, atau jika vena tidak bisa diandalkan (kecil, rapuh), atau jika pasien
gemuk. Untuk mengatasi hal ini mungkin bisa digunakan jarum bersayap
(winged needle).

15

Gambar 2.3: Winged needle

Jarum bersayap atau sering juga dinamakan jarum kupu-kupu


hampir sama dengan jarum vakutainer seperti yang disebutkan di atas.
Perbedaannya adalah, antara jarum anterior dan posterior terdapat dua
buah sayap plastik pada pangkal jarum anterior dan selang yang
menghubungkan jarum anterior dan posterior. Jika penusukan tepat
mengenai vena, darah akan kelihatan masuk pada selang (flash).

F. Faktor Penyulit dalam Pengambilan Spesimen Darah Vena


1. Faktor Fisik Pasien
a. Kegemukan
Pada pasien yang gemuk terkadang phlebotomis sulit untuk
menemukan pembuluh darah vena yang akan ditusuk karena terhalang
oleh jaringan lemak. Orang yang gemuk memiliki vena yang lebih
dalam dan tidak terlihat sehingga sulit untuk dipalpasi.
b. Oedema
Oedema merupakan penimbunan cairan tubuh. Phlebotomis
menjadi sulit untuk menemukan letak vena. Jika darah yang diambil
pada tempat yang oedema, maka darah akan tercampur dengan cairan
oedema sehingga akan terjadi pengenceran. Phlebotomis dapat
mencari pembuluh darah lain yang tidak oedema.
c. Luka bakar

16

Pasien yang mengalami luka bakar, jaringan pada tubuhnya rusak


dan mudah mengalami infeksi. Jangan melakukan pengambilan di
daerah ini. Pasien sangat rentan terhadap infeksi.
2. Faktor Psikologis Pasien
Faktor penderita yang kurang kooperatif disebabkan penderita
merasa

ketakutan

sehingga

penderita

menolak

untuk

dilakukan

pengambilan darah. Cara mengatasinya dengan mencari bantuan petugas


lain dan menenangkan pasien agar pasien mengerti perlunya untuk
dilakukan pengambilan darah. Bila tidak berhasil, jelaskan secara tertulis
pada lembar permintaan laboratorium.
3. Faktor Teknik
Gagal memperoleh darah. Gagal pengambilan darah disebabkan:
a. Cara pengambilan darah vena yang salah oleh phlebotomis
b. Tusukan sudah tepat tetapi darah tidak cukup terhisap, kemungkinan:
1) Kesalahan teknik
a) Arah tusukan tidak tepat
b) Sudut tusukan terlalu kecil atau terlalu besar
c) Salah menentukan vena yang dipilih
d) Tusukan terlalu dalam atau kurang dalam
e) Pembuluh bergeser karena tidak terfiksasi
2) Kesalahan non teknik
Pembuluh darah menyempit (kolaps) karena rasa takut yang
berlebihan dan menyebabkan volume darah berkurang.Volume
darah berkurang karena pendarahan berat, kekurangan cairan
tubuh, dan tekanan darah turun.

G. Komplikasi
Dalam pengambilan darah vena yang salah dapat menyebabkan
komplikasi, antara lain:
1. Pingsan (Syncope)
Pingsan adalah keadaan dimana pasien kehilangan kesadaran beberapa
saat karena penurunan tekanan darah. Gejala dapat berupa rasa pusing,

17

keringat dingin, pengelihatan kabur, nadi cepat, bahkan bisa sampai


muntah. Pingsan dapat disebabkan karena pasien mengalami rasa takut
yang berlebihan atau karena pasien puasa terlalu lama.
Sebelum dilakukan phlebotomi hendaknya seorang phlebotomis
menanyakan apakah pasien memiliki kecenderungan untuk pingsan saat
dilakukan pengambilan darah. Jika benar maka pasien diminta untuk
berbaring. Phlebotomis hendaknya memberikan pengertian kepada pasien
agar pasien merasa nyaman dan tidak takut. Agar pasien tidak takut,
phlebotomist sebaiknya mengajak pasien berbicara agar perhatiannya
teralihkan.
Pengambilan darah vena pada orang pingsan harus diberi oksigen agar
pembuluh darah membuka, sebab pada orang pingsan pembuluh darahnya
menutup.
Cara Mengatasi:
a. Hentikan pengambilan darah
b. Pasien dibaringkan di tempat tidur, kepala dimiringkan ke salah satu
sisi
c. Tungkai bawah ditinggikan (lebih tinggi dari posisi kepala)
d. Longgarkan baju dan ikat pinggang pasien
e. Minta pasien untuk menarik nafas panjang
f. Minta bantuan kepada dokter
g. Jika pasien belum sempat dibaringkan, minta pasien menundukkan
kepala diantara kedua kakinya dan menarik nafas panjang
2. Hematoma
Terjadi karena :
a. Vena terlalu kecil untuk jarum yang dipakai
b. Jarum menembus seluruh dinding vena
c. Jarum dilepaskan pada saat tourniquet masih dipasang
d. Tusukan berkali-kali
e. Tusukan tidak tepat
f. Pembuluh darah yang rapuh
Cara mengatasi:

18

Jika terjadi hematoma lepaskan jarum dan tekan dengan kuat sehingga
darah tidak menyebar dan mencegah pembengkakan. Apabila ingin cepat
hilang, kompres dengan air hangat seraya diurut dan diberi salep
trombopop.
3. Petechiae
Bintik kecil merah dapat muncul karena pendarahan kapiler di
bawah kulit. Ini karena kelainan pembuluh darah. Jika terjadi setelah
dibendung dapat dikarenakan pembendungan yang terlalu lama.
4. Nyeri pada bekas tusukan
Rasa nyeri berlangsung tidak lama sehingga tidak memerlukan
penanganan khusus. Nyeri bisa timbul akibat alkohol yang belum kering
atau akibat penarikan jarum yang terlalu kuat.
Cara pencegahan :
a. Setelah kulit didesinfeksi, tunggu alkohol hingga mengering sebelum
dilakukan pengambilan darah.
b. Penarikan jarum jangan terlalu kuat.
5. Vena kolaps
Terjadi karena penarikan plunger terlalu lama atau terlalu cepat.

6. Pendarahan berlebihan
Pendarahan yang berlebihan terjadi karena terganggunya sistem
koagulasi darah pada pasien. Hal ini bisa terjadi karena :
a. Pasien melakukan pengobatan dengan obat antikoagulan sehingga
menghambat pembekuan darah.
b. Pasien menderita gangguan pembekuan darah.
c. Pasien mengidap penyakit hati kronis sehingga pembentukan
protrombin dan fibrinogennya terganggu.
Cara mengatasi :
a. Menekan kuat pada tempat pendarahan
b. Memanggil dokter untuk penanganan selanjutnya
7. Kerusakan vena

19

Terjadi karena pengambilan darah yang berulang kali pada tempat


yang sama sehingga meyebabkan kerusakan dan peradangan setempat. Hal
ini mengakibatkan pembuluh darah menutup.
Pencegahannya dengan menghindari pengambilan berulang kali
pada tempat yang sama.
8. Komplikasi neurologis
Komplikasi neurologis dapat bersifat lokal karena tertusuknya
syaraf dilokasi penusukan. Hal ini dapat menimbulkan keluhan nyeri atau
kesemutan yang menjalar ke lengan. Serangan kejang juga dapat terjadi.
Cara mengatasi :
a. Hentikan pengambilan darah
b. Baringkan pasien dengan kepala dimiringkan ke salah satu sisi,
bebaskan jalan nafas dan hindari agar lidah tidak tergigit
c. Hubungi dokter
9. Terambilnya darah arteri
Salah penusukan dapat mengakibatkan terambilnya darah arteri
karena phlebotomis menusuk pembuluh darah arteri. Jadi, seorang
phlebotomis harus bisa menentukan pembuluh darah yang akan ditusuk.
10. Alergi
Alergi bisa terjadi karena bahan-bahan yang dipakai dalam
phlebotomi, misalnya alergi terhadap antiseptik dan plester. Gejala alergi
bisa ringan atau berat, berupa kemerahan dan gatal.
Phlebotomis hendaknya menanyakan apakah pasien memiliki
riwayat alergi terhadap bahan-bahan yang akan digunakan dalam proses
pengambilan darah. Jika pasien alergi terhadap alkohol 70% maka dapat
diganti dengan larutan iodium atau dengan betadine.
Cara mengatasi :
a. Tenangkan pasien dan beri penjelasan
b. Panggil dokter untuk penanganan selanjutnya

20

H. Faktor yang Harus Diperhatikan


Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan seorang phlebotomis dalam
pengambilan darah, antara lain :
1. Keadaan basal
Keadaan basal mengacu pada kondisi fisik pasien di pagi hari.
Pasien dianjurkan untuk puasa kurang lebih 12 jam. Keadaan ini biasa
dipakai untuk penentuan nilai normal.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keadaan basal :
a.

Usia

b. Jenis kelamin
c.

Kehamilan

d. Dehidrasi
e.

Diet

f.

Obat-obatan

g. Stress
2. Persyaratan pemeriksaan
a. Persiapan pasien
Beritahukan kepada pasien tentang hal-hal yang perlu dilakukan
dan tidak perlu dilakukan oleh pasien sebelum dilakukan pengambilan
darah.
Persiapan secara umum, seperti : puasa selama 10-12 jam sebelum
pengambilan darah (untuk pemeriksaan glukosa darah puasa,
cholesterol, trigliserid, ureum, dan kreatinin) tidak melakukan aktifitas
fisik yang berat, tidak merokok, tidak minum alkohol.
b. Waktu pengambilan
Waktu pengambilan darah pada pasien harus dicatat karena dapat
digunakan untuk menentukan hasil dari pemeriksaan tersebut. Jika
terjadi kesalahan hasil maka dapat dilacak letak kesalahannya dari
waktu pengambilan.
c. Peralatan yang digunakan

21

Pastikan bahwa semua peralatan yang digunakan untuk proses


phlebotomi sudah tersedia di dekat phlebotomis. Peralatan yang
digunakan harus memenuhi persyaratan, seperti:
3) Bersih
4) Kering
5) Tidak mengandung bahan kimia
6) Steril
7) Sekali pakai (disposable)
8) Wadah tidak pecah atau retak
Alat alat yang dipergunakan untuk pengambilan darah vena :
1) Spuit

Gambar 2.4: Spuit

Adalah alat yang digunakan untuk pengambilan darah atau


pemberian injeksi intravena dengan volume tertentu. Spuit
mempunyai skala yang dapat digunakan untuk mengukur jumlah
darah yang akan diambil, volume spuit bervariasi dari 1ml, 3ml,
5ml bahkan ada yang sampai 50ml yang biasanya digunakan untuk
pemberian cairan sonde atau syring pump.
2) Tourniquet

Gambar 2.5: Tourniquet

22

Merupakan bahan mekanis yang fleksibel, biasanya terbuat


dari karet sintetis yang bisa merenggang. Digunakan untuk
pengebat atau pembendung pembuluh darah pada organ yang akan
dilakukan penusukan plebotomy. Adapun tujuan pembendungan ini
adalah untuk fiksasi, pengukuhan vena yang akan diambil. Dan
juga untuk menambah tekanan vena yang akan diambil, sehingga
akan mempermudah proses penyedotan darah kedalam spuit.
8. Kapas alkohol

Gambar 2.6: Kapas alkohol

Merupakan bahan dari wool atau kapas yang mudah menyerap


dan dibasahi dengan antiseptic berupa etil alkohol. Tujuan
penggunaan kapas alkohol adalah untuk menghilangkan kotoran
yang dapat mengganggu pengamatan letak vena sekaligus
mensterilkan area penusukan agar resiko infeksi bisa ditekan.
9. Needle, Wing Needle

Gambar 2.7: Wing needle

Ialah ujung spuit atau jarum yang digunakan untuk


pengambilan secara vakum. Needle ini bersifat non fixed atau
mobile sehingga mudah dilepas dari spuit serta container vacuum.

23

Penggantian needle dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan


besarnya vena yang akan diambil atau untuk kenyamanan pasien
yang menghendaki pengambilan dengan jarum kecil.
10. Vacuum Tube

Gambar 28.: Vacum tube

Tabung vakum pertama kali dipasarkan dengan nama dagang


Vacutainer. Jenis tabung ini berupa tabung reaksi yang hampa
udara, terbuat dari kaca atau plastik. Ketika tabung dilekatkan pada
jarum, darah akan mengalir masuk ke dalam tabung dan berhenti
mengalir ketika sejumlah volume tertentu telah tercapai.
11. Blood Container

Gambar 2.9: Blood container

Tabung tempat penampungan darah yang tidak bersifat vakum


udara. Ini biasa digunakan untuk pemeriksaan manual, dan dengan
keperluan tertentu misalnya pembuatan tampungan sendiri untuk
efisiensi biaya.
12. Plester

24

Gambar 2.10: Plester

Digunakan untuk fiksasi akhir penutupan luka bekas


plebotomi, sehingga membantu proses penyembuhan luka dan
mencegah adanya infeksi akibat perlukaan atau trauma akibat
penusukan.

d. Antikoagulan
Antikoagulan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah
pembekuan darah. Beberapa antikoagulan yang sering dipakai adalah
EDTA (Ethylene Diamine Tetraacetic Acid), citrat, dan heparin.
Pemilihan antikoagulan harus sesuai dengan jenis pemeriksaan dan
takarannya harus sesuai.
e. Faktor teknik
1) Pada umumnya vena yang baik adalah vena yang besar, letaknya
superfisial, dan terfiksasi.
2) Lokasi penusukan harus diperhatikan. Phlebotomis tidak boleh
menusuk pada bagian yang terdapat luka, hematoma, infeksi,
oedema. Untuk pengambilan darah, selain tidak dilakukan
pengambilan pada tempat-tempat tersebut juga tidak boleh
dilakukan pada daerah yang sedang dipasang infus.
3) Pada waktu penusukan posisi kemiringan jarum yang dibentuk
adalah 15 - 20.
4) Bila tusukan sudah dalam tetapi tidak mengenai vena maka jangan
sekali-kali membelokkan jarum kearah vena karena dapat
menimbulkan rasa sakit. Tindakan yang benar adalah jarum ditarik
jangan sampai lepas kemudian ditusukkan ke arah vena.

25

5) Pembendungan vena dengan tourniquet jangan terlalu lama karena


dapat menyebabkan hemokonsentrasi setempat.
6) Jangan melepas tourniquet sesudah jarum dilepaskan karena
menyebabkan hematoma.
7) Kulit yang ditusuk masih basah oleh alkohol maka dapat
menyebabkan darah hemolisis.
f. Pemeriksaan CITO
Pengambilan dan informasi harus segera (medical emergency).
Spesimen terjadwal (glukosa 2 jam PP, GTT, Cortisol, Enzim-enzim
jantung).
g. ASAP (As Soon As Possible)
Hasil pemeriksaan segera diminta oleh dokter tetapi kondisi pasien
tidak kritis.

I. Pengambilan Sampel Darah Vena pada Pasien yang Terpasang Intravena


(IV) Lines
Agar dapat diperoleh spesimen darah yang memenuhi syarat uji
laboratorium, maka prosedur pengambilan sampel darah harus dilakukan
dengan benar, mulai dari persiapan peralatan, pemilihan jenis antikoagulan,
pemilihan letak vena, teknik pengambilan sampai dengan pelabelan.
Pemilihan letak vena menjadi perhatian penting ketika pasien terpasang
intravena (IV) line, misalnya infus. Prinsipnya, pengambilan sampel darah
tidak boleh dilakukan pada lengan yang terpasang infus. Jika salah satu lengan
terpasang infus, maka pengambilan darah dilakukan pada lengan yang tidak
terpasang infus. Jika kedua lengan terpasang infus, lakukan pengambilan pada
vena kaki.
Jika tidak ada akses vena di tempat lain, lakukan pengambilan sampel
darah pada lengan yang terpasang infus dengan cara:
1. Menghentikan aliran infus selama minimal 2 menit sebelum pengambilan.
2. Pasang tourniquet pada bagian sebelah bawah jarum infus.
3. Lakukan pengambilan sampel darah pada vena yang berbeda dari yang
terpasang infus atau di bagian bawah vena yang terpasang infus.

26

4. Me-restart infus setelah spesimen dikumpulkan.


5. Buatlah catatan bahwa spesimen dikumpulkan dari lengan yang terpasangi
infus beserta jenis cairan infus yang diberikan. Tulis informasi ini pada
lembar permintaan lab.

Jika hanya ada satu saja akses vena di tempat yang terpasang infus, maka:
1. Hentikan aliran infus seperti cara di atas
2. Keluarkan darah dari vena tersebut, buang 2-5 ml pertama, dan tampung
aliran sampel darah selanjutnya dalam tabung.
3. Me-restart infus setelah spesimen dikumpulkan.
4. Buatlah catatan bahwa spesimen dikumpulkan dari lengan yang terpasangi
infus beserta jenis cairan infus yang diberikan. Tulislah informasi ini pada
lembar permintaan lab.

J. Menampung Darah dalam Tabung


Beberapa jenis tabung sampel darah yang digunakan dalam praktek
laboratorium klinik adalah sebagai berikut :
1. Tabung tutup merah. Tabung ini tanpa penambahan zat additive, darah
akan menjadi beku dan serum dipisahkan dengan pemusingan. Umumnya
digunakan untuk pemeriksaan kimia darah, imunologi, serologi dan bank
darah (crossmatching test).
2. Tabung tutup kuning. Tabung ini berisi gel separator (serum separator
tube/SST) yang fungsinya memisahkan serum dan sel darah. Setelah
pemusingan, serum akan berada di bagian atas gel dan sel darah berada di
bawah gel. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah,
imunologi dan serologi.
3. Tabung tutup hijau terang. Tabung ini berisi gel separator (plasma
separator tube/PST) dengan antikoagulan lithium heparin. Setelah
pemusingan, plasma akan berada di bagian atas gel dan sel darah berada di
bawah gel. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah.
4. Tabung tutup ungu atau lavender. Tabung ini berisi EDTA. Umumnya
digunakan untuk pemeriksaan darah lengkap dan bank darah (crossmatch)

27

5. Tabung tutup biru. Tabung ini berisi natrium sitrat. Umumnya digunakan
untuk pemeriksaan koagulasi (mis. PPT, APTT)
6. Tabung tutup hijau. Tabung ini berisi natrium atau lithium heparin,
umumnya digunakan untuk pemeriksaan fragilitas osmotik eritrosit, kimia
darah.
7. Tabung tutup biru gelap. Tabung ini berisi EDTA yang bebas logam,
umumnya digunakan untuk pemeriksaan trace element (zink, copper,
mercury) dan toksikologi.
8. Tabung tutup abu-abu terang. Tabung ini berisi natrium fluoride dan
kalium oksalat, digunakan untuk pemeriksaan glukosa.
9. Tabung tutup hitam ; berisi bufer sodium sitrat, digunakan untuk
pemeriksaan LED (ESR).
10. Tabung tutup pink ; berisi potassium EDTA, digunakan untuk
pemeriksaan imunohematologi.
11. Tabung tutup putih ; potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan
molekuler/PCR dan bDNA.
12. Tabung tutup kuning dengan warna hitam di bagian atas; berisi media
biakan, digunakan untuk pemeriksaan mikrobiologi - aerob, anaerob dan
jamur.

Beberapa hal penting dalam menampung sampel darah adalah :

Darah dari syring atau suntikan harus dimasukkan ke dalam tabung dengan
cara melepas jarum lalu mengalirkan darah perlahan-lahan melalui dinding
tabung. Memasukkan darah dengan cara disemprotkan, apalagi tanpa
melepas jarum, berpotensi menyebabkan hemolisis. Memasukkan darah ke
dalam tabung vakum dengan cara menusukkan jarum pada tutup tabung,
biarkan darah mengalir sampai berhenti sendiri ketika volume telah
terpenuhi.

Homogenisasi sampel jika menggunakan antikoagulan dengan cara


memutar-mutar tabung 4-5 kali atau membolak-balikkan tabung 5-10 kali
dengan lembut. Mengocok sampel berpotensi menyebabkan hemolisis.

28

Urutan memasukkan sampel darah ke dalam tabung vakum adalah:


Pertama - botol biakan (culture) darah atau tabung tutup kuning, hitam,
kedua - tes koagulasi (tabung tutup biru), ketiga - tabung non additive
(tutup merah), keempat - tabung tutup merah atau kuning dengan gel
separator atau clot activator, tabung tutup ungu/lavendet (EDTA), tabung
tutup hijau (heparin), tabung tutup abu-abu (NaF dan Na oksalat).

K. Prosedur Kerja Berdasarkarkan Teori di Akademi (Pengambilan


Spesimen Darah Vena)
1. Memberitahu dan menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan.
2. Menyiapkan alat dan bahan, secara ergonomis:
a. Bak instrument
b. Spuit 3 cc atau 5 cc
c. Bengkok
d. Sarung tangan steril
e. Aqua destilata
f. Plester
g. Gunting plester
h. Perlak
i. Kapas alkohol
j. Tourniquet
k. Botol-botol tertutup yang bersih dan kering untuk tempat spesimen
atau bahan.
l. Waskom larutan chlorine 0,5%
3. Memasang sampiran.
4. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin.
5. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan
handuk bersih.
6. Memakai sarung tangan.
7. Membebaskan daerah yang akan disuntik dari pakaian.
8. Mencari daerah yang terlihat jelas venanya.

29

9. Memasang pengalas dibawah daerah atau tempat yang akan diambil


darahya.
10. Mengikat bagian di atas daerah yang akan disuntik atau diambil darahnya
dengan karet pembendung atau tourniquet, pasien dianjurkan mengepalkan
tangannya.
11. Menghapushamakan atau mendesinfeksi kulit dengan kapas alkohol secara
sirkular dengan diameter + 5 cm.
12. Menegangkan kulit dengan tangan yang tidak dominan.
13. Menusukkan jarum kedalam vena, dengan tangan dominan (jarum dan
kulit membentuk sudut + 20o).
14. Menarik sedikit penghisap untuk aspirasi apakah jarum sudah masuk vena.
15. Membuka karet pembendung, anjurkan pasien membuka kepalan tangan
(bila darah telah terlihat pada tabung spuit).
16. Menarik penghisap sehingga darah masuk ke dalam tabung spuit, hisap
sebanyak kebutuhan.
17. Menarik jarum keluar, dengan meletakkan kapas alkohol di atas jarum dan
tarik jarum keluar.
18. Masukkan darah dalam spuit ke dalam botol yang tersedia (memasukkan
agak miring, dan tidak terlalu keras menyemprotkannya).
19. Memberi label pada botol, dan siap dibawa ke laboratorium untuk
pemeriksaan.
20. Membereskan alat, buang alat suntik dengan benar.
21. Mencuci sarung tangan dalam larutan chlorine 0,5% lepas sarung tangan
secara terbalik dan merendam dalam larutan chlorine selama 10 menit.
22. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan
handuk bersih.
23. Melakukan dokumentasi tindakan yang dilakukan.

30

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
No. Med Record : 08-16-22
Diagnosa Medical : Dispepsia Syndrome
Tgl Masuk RS

: Selasa, 01-04-2014 Jam 11.00 WIT

Tgl Pengkajian

: Rabu, 02-04-2014

Waktu Anamnesa : 11.08 WIT


Ruang

: Kasuari I Bed 4 (Interna)

Nama Pengkaji

: 1. Ririn Aoeng S. Poetri


2. Nur Asmayani Asnur

1. Data Subjektif
a. Identitas
1) Identitas Pasien
Nama

: Nn. BW

Umur

: 16 Tahun

Suku

: Serui

Agama

: Kristen Protestan

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Jl. Nuri HBM

Jenis Kelamin : Perempuan (P)

2) Identitas Penanggung Jawab


Nama

: Ny. YI

Umur

: 50 Tahun

Suku

: Serui

Agama

: Kristen Protestan

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: SP 2

31

Jenis Kelamin : Perempuan (P)


Status

: Ibu Kandung

b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Pasien mengatakan bahwa uluh hati dan lambung terasa
sakit saat usai makan dan saat berkemih.

2) Riwayat Keluhan Utama


Pasien mengatakan gejala uluh hati dan perut terasa sakit
baru pertama kali dialami. Pasien merasakan gejala ini pada dua
hari sebelum akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Kabupaten
Sorong pada tanggal 1 April 2014 jam 11.00.

3) Keluhan yang Menyertai


Adapun keluhan lain yaitu perut pasien terasa semakin sakit
jika memakan makanan pokok seperti nasi, jagung, dan lain-lain.

4) Riwayat Penyakit yang Lalu


Pasien mengatakan tidak menderita penyakit sebelumnya.

5) Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien mengatakan keluarga tidak memiliki riwayat
penyakit keturunan.

6) Data Psikologis
Pasien merasa takut jika disuntik dan di ambil darahnya. Pasien
juga merasa jenuh dan malas bergerak karena tidak bertemu dengan
teman-teman sekolahnya.

32

7) Data Sosial
Hubungan pasien dengan ayahnya baik. Namun, hubungan pasien
dengan ibu, saudara kandung, dan tetangga kurang baik karena sering
tidak akur. Hubungan pasien dengan teman-temannya baik.

8) Data Spiritual
Selama sakit, pasien jarang berdoa. Pada saat sehat pun pasien
jarang beribadah di Gereja.

9) Kebiasaan Sehari-hari
Kebutuhan
Nutrisi
- Makan
Frekuensi
Jenis
Keluhan

- Minum
Frekuensi
Jenis
Keluhan
Eliminasi
- Buang air kecil (BAK)
Frekuensi
Warna
Bau
Keluhan

- Buang air besar


(BAB)
Frekuensi
Konsistensi
Warna
Bau
Keluhan

Sebelum Sakit

Saat Sakit

Kurang baik
1piring per hari
Nasi dan makanan
ringan
Susah makan, lebih
sering ngemil
dibanding makan nasi,
dan sering makan yang
asam-asam seperti
buah-buahan.

Menurun
4 sendok nasi per hari
Bubur dan makanan
ringan
Susah makan karena
tidak ada nafsu makan,
terasa sakit tiap usai
makan terutama makan
nasi atau bubur.

Baik
+ 2 liter per hari atau 9
gelas per hari
Air putih, minuman
bersoda, susu, dan
sirop
Tidak ada

Menurun
+1 liter per hari atau 4
gelas per hari
Air putih

Baik
+ 4 kali per hari
Kuning jernih
Khas urine
Tidak ada

Menurun
+ 2 kali per hari
Kuning pekat
Berbau obat
Terasa nyeri saat
berkemih

Baik
1 kali per hari
Padat
Khas feses
Khas feses
Tidak ada

Menurun
1 kali per 3 hari
Padat
Khas feses
Khas feses
Perut terasa sakit saat
melakukan BAB

Tidak ada

33

Istirahat dan tidur


- Tidur Siang

+ 6 jam. Dari jam


13.30 p.m. sampai jam
18.30 p.m.

+ 1 jam. Dari jam


14.00 p.m. sampai jam
15.00 p.m.

- Tidur malam

+ 8 jam . Dari jam


23.00 p.m. sampai jam
07.00 a.m.

+ 5 jam. Dari jam


01.00 a.m sampai jam
06.00 a.m.

- Keluhan

Tidak ada

Terasa kurang nyaman


tidur di Rumah Sakit
karena belum terbiasa
dengan suasananya

Bermain game, tidur,


dan nonton TV

Berbaring

- Di luar rumah

Bermain dan jalanjalan dengan temanteman

Jalan-jalan di ruang
perawatan

- Keluhan

Tidak ada

Gerakan lebih pasif


karena tidak nyaman
menggunakan infus

2 kali per hari,


memakai sabun mandi.

1 kali per hari, badan


hanya di lap dengan
kain yang direndam di
air hangat tanpa sabun.

- Gosok gigi

1 kali per hari dengan


menggunakan odol

Tidak pernah

- Keramas

1 kali per 2 hari dengan


menggunakan sampo

Tidak pernah

- Keluhan

Tidak ada

Seksual
Kebiasaan Hidup

Tidak dilakukan
Jalan-jalan dan
menyanyi

Merasa tidak nyaman


karena kebutuhan
pasien tidak terpenuhi
Tidak dilakukan
Tidak ada

Aktivitas
- Di dalam rumah

Personal Hygiene
- Mandi

2. Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan Umum

: Baik

2) Status Emosional

: Pasien merasa cemas akan penyakitnya

3) Kesadaran

: Compos Mentis (CM), dalam kesadaran

34

normal, sadar sepenuhnya.


4) Tanda-tanda Vital
a) Nadi

: 80 kali/menit

b) Suhu

: 36,6 oC

c) Respirasi

: 20 kali/menit

d) Tekanan darah (TD)

: 110/70 mmHg

5) BB (Berat Badan)

: 48 kg

6) TB (Tinggi Badan)

: 150 cm

7) Lila

: Tidak dilakukan pemeriksaan

b. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala
a) Rambut

: Keriting dan tidak ada ketombe.

b) Muka

: Bulat dan tidak pucat

c) Mata

Conjungtiva

: Berwarna merah muda cerah (Normal)

Sclera

: Putih (Normal)

d) Hidung

: Tidak ada polip, bentuk simetris, tidak ada


sinusitis, tidak ada cuping hidung, dan
tidak ada secret.

e) Telinga

: Normal, bentuk simetris, ada sedikit secret,


pendengaran baik, ada daun telinga, dan
tidak ada serumen.

f) Mulut

: Warna gusi merah muda, gigi agak


kekuningan, gigi berlubang, terdapat karies,
dan tidak terdapat jamur pada lidah.

g) Leher

: tidak ada pembesaran kelenjar getah


bening,

kelenjar

thyroid,

dan

vena

jugularis.
2) Dada

: Datar, simetris, dan pergerakan nafas teratur.

3) Mammae

: Normal, bentuk simetris.

4) Perut

: Bagian perut dibawah pusat tampak buncit, terasa

35

nyeri jika disentuh, dan perut terasa lunak.


5) Punggung

: Normal, bentuk tulang simetris.

6) Genitalia

: Tidak dilakukan pemeriksaan.

7) Ekstremitas

a) Atas

: Tangan berfungsi dengan baik, tidak ada oedema,


dan jari-jari tangan lengkap.

b) Bawah

: Kaki berfungsi dengan baik, tidak ada oedema, dan


jari-jari kaki lengkap.

c. Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium : Dilakukan hasil kolaborasi petugas ruangan
dengan

petugas

Laboratorium.

Dilakukan

pemeriksaan darah lengkap dan hasil HB (12 gr%).


2) USG

: Tidak dilakukan.

3) Rontgen

: Tidak dilakukan.

4) EKG

: Tidak dilakukan.

d. Riwayat Pemberian Terapi Obat


1) Metronidazol 500 mg 3x1 per oral
2) Redacid 250 mg 1x1 per oral
3) Antasida 200 mg 3x1 per oral

B. Prosedur Kerja di Lahan Praktik


Adapun prosedur kerja di lahan praktik yaitu:
1. Menyiapkan alat dan bahan:
a. Keranjang kecil berbentuk persegi panjang
b. Spuit 5 cc dan spuit 1 cc
c. Tabung darah
d. Sarung tangan biasa
e. Kapas alkohol
2. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan
handuk bersih.

36

3. Memakai sarung tangan dan masker.


4. Memberitahu dan menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan.
5. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
6. Mencari daerah yang terlihat jelas venanya.
7. Membendung bagian di atas daerah yang akan disuntik dengan tourniquet
atau karet pembendung, pasien dianjurkan mengepalkan tangannya.
8. Menghapushamakan atau mendesinfeksi kulit dengan kapas alkohol
dengan gerakan dari atas ke bawah.
9. Menegangkan kulit dengan tangan yang tidak dominan.
10. Menusukkan jarum ke dalam vena, dengan tangan dominan (jarum dan
kulit membentuk sudut + 20o)
11. Menarik sedikit penghisap untuk aspirasi apakah jarum sudah masuk vena.
12. Tangan petugas lain yang membendung tangan pasien dilepas, anjurkan
pasien membuka kepalan tangan (bila darah telah terlihat pada tabung
spuit).
13. Menarik penghisap sehingga darah masuk ke dalam tabung spuit 5 cc,
hisap sebanyak 6 cc.
14. Menarik jarum keluar, dengan meletakkan kapas alkohol di atas jarum dan
tarik jarum keluar.
15. Masukkan darah dari dalam spuit 5 cc ke dalam tabung darah sebanyak 2
cc (memasukkan agak miring, dan tidak terlalu keras menyemprotkannya)
16. Mengambil darah yang tersisa di dalam spuit 5 cc dengan menggunakan
spuit 1 cc. (Membuka jarum pada spuit 5 cc, memasukkan jarum spuit 1
cc, kemudian menarik penghisap spuit 1 cc sehingga darah masuk ke
dalam tabung spuit 1 cc, hisap sebanyak 1 cc).
17. Memasang kembali jarum pada spuit 5 cc. (darah yang tersisa pada spuit 5
cc yaitu sebanyak 3 cc).
18. Memberi tanda atau label pada tabung darah, spuit 5 cc, dan spuit 1 cc, dan
siap dibawa ke laboratorium untuk pemeriksaan.
19. Membereskan alat.
20. Mencuci sarung tangan dengan air mengalir dan sabun, lepas sarung
tangan secara terbalik, dan buang ke tempat sampah.

37

21. Mencuci tangan dengan sabundan air mengalir, mengeringkan dengan


handuk bersih.
22. Melakukan dokumentasi tindakan yang dilakukan.

38

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Persamaan
Adapun persamaan antara tindakan mengambil spesimen darah vena di
lapangan dengan teori mengambil spesimen darah vena yang didapat di
akademi yaitu:
1. Pasien dianjurkan mengepalkan tangan.
2. Menggunakan tourniquet untuk membendung tangan pasien.
3. Menegangkan kulit dengan tangan yang tidak dominan.
4. Menusukkan jarum ke dalam vena, dengan tangan dominan (jarum dan
kulit membentuk sudut + 20o).
5. Menarik sedikit penghisap untuk aspirasi apakah jarum sudah masuk vena.
6. Menarik penghisap sehingga darah masuk ke dalam tabung spuit, hisap
sebanyak kebutuhan.
7. Menarik jarum keluar, dengan meletakkan kapas alkohol di atas jarum dan
tarik jarum keluar.
8. Masukkan darah dari dalam spuit ke dalam tabung yang tersedia
(memasukkan agak miring, dan tidak terlalu keras menyemprotkannya).
9. Memberi tanda atau label pada tabung darah, spuit 5 cc, dan spuit 1 cc, dan
siap dibawa ke laboratorium untuk pemeriksaan.
10. Membereskan alat.
11. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan
handuk bersih.
12. Melakukan dokumentasi tindakan yang dilakukan.

B. Kesenjangan
Setelah dilakukan praktik, maka penulis dapat mengetahui adanya
perbedaan tata cara pengambilan spesimen darah vena yang penulis dapatkan
antara teori di akademi dengan di lahan praktik Ruang Kasuari 2 (Interna)
RSUD Kabupaten Sorong. Perbedaannya yaitu terdapat pada:

39

1. Penjelasan pada pasien mengenai tindakan yang akan dilakukan dijelaskan


setelah perawat memakai sarung tangan dan masker.
2. Alat dan bahan yang disiapkan tidak lengkap, karena tidak menyiapkan
bak instrument, bengkok, sarung tangan steril, aqua destilata, plester,
gunting plester, perlak, tourniquet, dan Waskom larutan chlorine 0,5%.
3. Tidak menutup sampiran.
4. Mencuci tangan dilakukan sebelum menyapa pasien, dan mengeringkan
tangan

bukan

menggunakan

handuk

milik

pribadi,

melainkan

menggunakan handuk umum yang digunakan untuk beberapa orang.


5. Sarung tangan yang digunakan bukan sarung tangan steril, melainkan
hanya sarung tangan biasa.
6. Tidak memasang pengalas di bawah daerah atau tempat yang akan diambil
darahnya.
7. Tidak mendesinfeksi kulit

dengan kapas alkohol secara sirkular,

melainkan dilakukan secara gerakan satu arah dari atas ke bawah.


8. Tidak semua spesimen darah dimasukkan kedalam tabung darah, hanya
sebanyak 2 cc spesimen darah yang dimasukkan dalam tabung, sedangkan
sisanya diletakkan dalam spuit (darah 1 cc pada spuit 1 cc dan darah 3 cc
pada spuit 5 cc).
9. Sarung tangan setelah dipakai tidak dicuci dan direndam dalam larutan
chlorine 0,5%, melainkan sarung tangan dicuci dan langsung dibuang ke
tempat sampah.

40

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Praktik yang penulis dapatkan dilahan praktik yaitu di RSUD Kabupaten
Sorong dengan teori yang diajarkan kepada penulis di lahan institusi pada
dasarnya semua tindakan yang dilakukan sama, namun terdapat sedikit
perbedaan. Dengan adanya perbedaan ini, maka kita harus dapat
menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada pada lahan praktik dimana kita
berada.
Venipuncture (pengambilan darah melalui vena) merupakan tindakan yang
penting dilakukan untuk mengumpulkan sampel yang digunakan untuk
pemeriksaan laboratorium. Keadaan basal pasien, persiapan pasien, waktu
pengambilan spesimen darah, peralatan yang digunakan, teknik pengambilan,
pemeriksaan CITO, dan ASAP (As Soon As Possible) perlu diperhatikan oleh
phlebotomis, untuk itu phlebotomis harus memiliki pengetahuan dan skill
yang cukup mengenai pengambilan spesimen darah. Hal ini bertujuan untuk
mendapatkan spesimen darah vena tanpa anti koagulan yang memenuhi
persyaratan untuk pemeriksaan kimia klinik dan imunoserologi dan agar
dapat memperkecil tingkat kemungkinan terjadinya komplikasi.

B. Saran
1. Untuk institusi, metode pembelajaran yang diterapkan sudah baik, namun
lebih di tingkatkan pada praktik di laboratorium agar mahasiswi lebih
terampil saat melakukan tindakan dan melaksanakan prosedur dengan
benar saat akan turun praktik di rumah sakit. Pemberian target penilaian
daftar tilik KDK I dan KDK II terlalu banyak, sehingga pembimbing
klinik (CI) sedikit kesulitan dalam memberikan penilaian.
2. Untuk Rumah sakit, diharapkan agar dalam setiap praktik baik diruang
manapun di RSUD Kabupaten Sorong dapat tersedia alat dan bahan yang
sesuai dengan teori, sehingga mahasiswi dan para perawat dapat
melakukan tindakan atau melaksanakan prosedur dengan baik.

41

3. Untuk Mahasiswi, diharapkan setelah melakukan praktik, mahasiswi


dapat melakukan tindakan pengambilan spesimen darah vena sesuai
prosedur yang benar, selalu melakukan tindakan pencegahan infeksi, lebih
disiplin dan aktif dalam mengikuti praktik di lapangan.

42

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Laboratorium Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2004. Pedoman


Praktek Laboratorium yang Benar (Good Laboratory Practice). Jakarta:
_____.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Buku Saku Praktikum Keperawatan Anak.
Jakarta: EGC.
Joyce Lefever Kee. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik.
Jakarta: EGC.