You are on page 1of 35

KETERAMPILAN DASAR KLINIK II

PEMBERIAN INJEKSI INTRAVENA MELALUI SELANG INFUS


(BOLUS) PADA NN. BW DI RUANG KASUARI I RSUD KABUPATEN
SORONG

Disusun Sebagai Tugas Kelompok


Keterampilan Dasar Klinik Semester II

DISUSUN OLEH KELOMPOK II:


1. NOVIA P. M. DIMARA

13.029

2. NUR ASMAYANI ASNUR

13.030

3. PUSFITA R. RASYID

13.031

4. RIRIN AOENG S. POETRI

13.032

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN
SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
POLTEKKES KEMENKES SORONG
PROGDI D-IV KEBIDANAN
2014

KETERAMPILAN DASAR KLINIK II

PEMBERIAN INJEKSI INTRAVENA MELALUI SELANG INFUS


(BOLUS) PADA NN. BW DI RUANG KASUARI I RSUD KABUPATEN
SORONG

Disusun Sebagai Tugas Kelompok


Keterampilan Dasar Klinik Semester II

Dosen Pembimbing Institusi


Ariani Pongoh, S.ST, M.Kes

Pembimbing Klinik
Zr. Poppy S, A.MK

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 2 RSUD KABUPATEN SORONG

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN
SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SORONG
PROGRAM STUDI D-IV KEBIDANAN
2014

LEMBAR PERSETUJUAN

MAKALAH KETERAMPILAN DASAR KLINIK II

PEMBERIAN INJEKSI INTRAVENA MELALUI SELANG INFUS


(BOLUS) PADA NN. BW DI RUANG KASUARI I RSUD KABUPATEN
SORONG

Sorong, 11 April 2014


Pembimbing Klinik

Dosen Pembimbing Institusi

Zr. Poppy S, A.MK

Ariani Pongoh, S.ST, M.Kes

NIP. 140 149 221

NIP. 196601011985032005

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
yang telah melimpahkan rahmat sehingga pengkajian yang berjudul Pemberian

Injeksi Intravena Melalui Selang (Bolus) pada Nn. Bw di Ruang


Kasuari I RSUD Kabupaten Sorong dapat diselesaikan sesuai target yang
ingin dicapai oleh penulis.
Pengkajian ini dibuat untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca
mengenai perbandingan tekhnik pemberian injeksi intravena antara teori di
Institusi dengan pelaksanaan di lapangan. Selain itu, pengkajian ini juga dibuat
untuk menambah wawasan bagi penulis.
Penulis menyadari tak mungkin penulisan pengkajian ini dapat
terselesaikan tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan saran-saran dari berbagai
pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak W. Isir, B.Sc, S.Sos, MM selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Sorong.
2. Ibu M. Wattimena, A.Kp, M.Kes selaku ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Sorong.
3. Ibu Sunaeni, M.Keb selaku ketua Program Studi Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Sorong.
4. Ibu Adriana Egam, S.ST, M.Kes selaku dosen wali tingkat I Program Studi DIV Kebidanan Poltekkes Kemenkes Sorong.
5. Ibu Zr. Poppy S, A.MK selaku pembimbing klinik (CI).
6. Ibu Ariani Pongoh, S.ST, M.Kes selaku dosen pembimbing Institusi.
7. Seluruh pihak yang telah membantu, khususnya pada penyusunan makalah ini.
Semoga usaha pembuatan pengkajian yang telah dikerahkan ini dapat
membuahkan hasil yang maksimal dan bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan pengkajian ini masih terdapat
kekurangan. Untuk itu, penulis mohon maaf, karena sesungguhnya kesempurnaan
itu hanyalah milik Tuhan Yang Maha Esa.
Sorong, 15 Januari 2014
Penulis
Kelompok II

DAFTAR ISI
Halaman Judul ..

ii

Lembar Persetujuan ...

iii

Kata Pengantar .....

iv

Daftar Isi ...

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Pengambilan Kasus .....

D. Manfaat Kasus .

BAB II. KAJIAN TEORI


A. Pengertian Pemberian Obat Secara Parenteral (Injeksi) ..

B. Konsep Dasar Injeksi Intravena


1. Pengertian Injeksi Intravena ....

2. Tujuan Injeksi Intravena ..

3. Lokasi Injeksi Intravena ...

4. Indikasi Pemberian Obat Melalui Jalur Intravena ....

5. Kontraindikasi Pemberian Obat Melalui Jalur Intravena ..

6. Kelebihan dan Kelemahan Injeksi Intravena

7. Cara Pemberian Obat Secara Intravena ....

8. Komplikasi Injeksi Intravena ...

15

C. Prosedur Kerja Berdasarkan Teori di Akademi (Melakukan


Injeksi Intravena) .

16

BAB III. TINJAUAN KASUS


A. Pengkajian ....

19

B. Prosedur Kerja di Lahan Praktik .........

24

BAB IV. PEMBAHASAN


A. Persamaan ........

26

B. Kesenjangan .........

26

BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan ..

28

B. Saran ........

28

Daftar Pustaka ...

vii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau
binatang sebagai perawatan, pengobatan, atau bahkan pencegahan terhadap
berbagai gangguan yang terjadi di dalam tubuhnya. Seorang bidan atau
perawat yang akan bekerja secara langsung sangat membutuhkan keterampilan
dalam tindakan medis berupa pengobatan. Mengingat tindakan ini bukan
merupakan tindakan independen dari bidan atau perawat, akan tetapi tindakan
yang bersifat dependen (kolaboratif), maka bidan atau perawat membutuhkan
suatu peran tersendiri. Tenaga medis dalam melaksanakan tugasnya, memiliki
tanggung jawab dalam keamanan obat dan pemberian secara langsung kepada
pasien (Hidayat, 2008).
Bidan sebagai salah satu tenaga medis yang melaksanakan terapi
berpotensi melakukan suatu kesalahan jika tidak mempunyai tingkat
pengetahuan dan kesadaran yang tinggi bahwa tindakan yang dilakukan akan
memberikan efek pada pasien. Salah satu kegiatan rutinitas bidan atau perawat
dalam tindakan keperawatan ialah memberikan obat terutama injeksi melalui
selang intravena.
Pemberian obat melalui selang intravena biasanya dilakukan dengan cara
menghentikan aliran infus atau diklem, namun cara ini mempunyai efek
samping rasa sakit/nyeri, karena obat-obatan yang diinjeksikan langsung
masuk ke pembuluh darah, selain itu nyeri juga dapat ditimbulkan akibat
peningkatan proporsi jumlah infiltrasi (Potter dan Perry, 2005). Cara ini tidak
dianjurkan apabila menginjeksikan obat-obatan yang agak keras seperti
antibiotik dan antiemetik. Lebih lanjut lagi, apabila hal ini dilakukan terus
menerus, akan mempercepat terjadinya flebitis/ peradangan, karena dinding
pembuluh darah vena dapat teriritasi oleh obat (Burner, 2009).
Selain itu, pemberian injeksi melalui selang intravena juga dapat dilakukan
dengan cara tanpa diklem atau tanpa menghentikan aliran infus, namun cara
ini sangat jarang sekali dilakukan oleh tenaga medis karena dianggap kurang

efektif, walaupun secara teoritis tindakan ini memiliki beberapa keuntungan


yang utama, karena obat dimasukkan secara bersamaan dengan cairan infus,
viskositas obat menjadi turun sehingga pasien tidak begitu merasa nyeri
(Burner, 2009).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa
permasalahan sebagai berikut:
1. Apa pengertian dari pemberian obat secara parenteral (injeksi)?
2. Apa pengertian injeksi intravena?
3. Apa saja tujuan injeksi intravena?
4. Dimana lokasi intravena?
5. Bagaimana indikasi pemberian obat melalui jalur intravena?
6. Bagaimana kontraindikasi pemberian obat melalui jalur intravena?
7. Apa kelebihan dan kelemahan injeksi intravena?
8. Bagaimana cara pemberian obat secara intravena?
9. Apa saja komplikasi injeksi intravena?
10. Bagaimana prosedur kerja melakukan injeksi intravena berdasarkan teori
di akademi?

C. Tujuan Pengambilan Kasus


1. Tujuan Umum
Tujuan penulisan secara umum dari pengkajian kasus ini adalah:
Untuk mengetahui tentang pemberian injeksi intravena melalui selang
infus (bolus) baik dalam teori maupun penerapannya di lahan praktik.
2. Tujuan Khusus
Tujuan penulisan secara khusus dari pengkajian kasus ini adalah:
a. Mengetahui pengertian dari pemberian obat secara parenteral (injeksi)
b. Mengetahui pengertian injeksi intravena
c. Mengetahui tujuan injeksi intravena
d. Mengetahui lokasi intravena
e. Memahami indikasi pemberian obat melalui jalur intravena

f. Memahami kontraindikasi pemberian obat melalui jalur intravena


g. Mengetahui kelebihan dan kelemahan injeksi intravena
h. Memahami cara pemberian obat secara intravena
i. Mengetahui komplikasi injeksi intravena
j. Memahami prosedur kerja melakukan injeksi intravena berdasarkan
teori di akademi
k. Membandingkan penerapan pemberian injeksi intravena di klinik
dengan teori yang ada

D. Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dari makalah ini adalah:
1. Dapat mengetahui tentang pengelolaan program KIA/KB.
2. Sebagai informasi bahwa pentingnya Pemantauan Wilayah Setempat
Kesehatan Ibu Dan Anak (PWS-KIA).
3. Melatih kedisiplinan diri.
4. Menjadi pembelajaran bagi penulis agar lebih baik dalam penulisanpenulisan berikutnya.

10

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Pemberian Obat Secara Parenteral (Injeksi)


Menurut Ambarawati (2009), pemberian obat secara injeksi (parenteral)
merupakan pemberian obat yang dilakukan dengan menyuntikkan obat
tersebut ke jaringan tubuh atau pembuluh darah dengan menggunakan spuit.
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk
yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan
yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui
kulit atau selaput lendir dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan
alat suntik.
1.

Keuntungan, Kerugian, dan Tujuan Injeksi


a. Keuntungan
1) Terapi parenteral dapat memperbaiki kerusakan serius pada

keseimbangan cairan dan elektrolit


2) Bila makanan tidak dapat diberikan melalui mulut, nutrisi total

diharapkan dapat dipenuhi melalui rute parenteral


3) Aksi obat biasanya lebih cepat
b. Kerugian
1) Obat yang diberikan secara parenteral menjadi sulit untuk

mengembalikan efek fisiologisnya


2) Pada pemberian dan pengemasan, bentuk sediaan parenteral lebih

mahal dibandingkan metode rute yang lain.


3) Beberapa rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh

pasien
c. Tujuan

Tujuannya antara lain:


1) Mendapatkan reaksi yang lebih cepat dibandingkan dengan cara
yang lain.
2) Memperoleh reaksi setempat (tes alergi)
3) Membantu menegakkan diagnosa (penyuntikkan zat kontras)

11

Pemberian obat melalui injeksi (parenteral) dapat dilakukan dengan cara:


1. Intradermal (ID) atau Intrakutan (IC)
Injeksi intradermal atau intrakutan merupakan cara memberikan atau
memasukkan obat ke dalam jaringan kulit, tujuannya adalah untuk
melakukan tes terhadap reaksi alergi jenis obat yang akan digunakan.
Pemberian intrakutan pada dasarnya di bawah dermis atau epidermis,
secara umum pada daerah lengan bagian ventral.
2. Intramuscular (IM)
Injeksi intramuskular adalah pemberian obat dengan cara memasukkan
obat ke dalam jaringan otot dengan mengguanakan spuit. Lokasi
penyuntikan adalah pada daerah paha (vastus lateralis), ventrogluteal
(dengan posisi berbaring), dorsogluteal (posisi tengkurap), atau lengan
atas (deltoid). Tujuan pemberian obat dengan cara ini adalah agar
absorbsi obat lebih cepat.
3. Subcutaneus (Sc)
Injeksi subcutaneous adalah pemberian obat melalui suntikan ke bawah
kulit yang dapat dilakukan pada daerah lengan atas sebelah luar atau 1/3
bagian dari bahu, paha sebelah luar, daerah dada, dan daerah sekitar
umbilikus (abdomen). Pemberian obat melalui subkutan ini pada
umumnya dilakukan dalam program pemberian insulin yang digunakan
untuk mengontrol kadar gula darah. Pemberian insulin terdapat dua tipe
larutan, yaitu larutan yang jernih dan larutan yang keruh. Larutan yang
jernih adalah insulin tipe reaksi cepat (insulin reguler) dan larutan keruh
adalah

tipe

lambat

karena

adanya

penambahan

protein

yang

memperlambat absorbsi obat.


4. Intravenous (IV)
Injeksi intravena adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat
ke dalam pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit.

12

Gambar 2.1: Intra Muscular, Subcutaneus, Intravenous, dan Intradermal

B. Konsep Dasar Injeksi Intravena


1. Pengertian Injeksi Intravena
Injeksi intravena adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat
ke dalam pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit. Sedangkan
pembuluh darah vena adalah pembuluh darah yang menghantarkan darah
ke jantung. Injeksi intravena bertujuan untuk memperoleh reaksi obat yang
cepat diabsorpsi dari pada dengan injeksi perenteral lain, menghindari
terjadinya kerusakan jaringan serta memasukkan obat dalam jumlah yang
lebih besar.

Gambar 2.2: Injeksi Intravena

13

2. Tujuan Injeksi Intravena


a. Mendapatkan reaksi obat yang cepat diabsorbsi daripada injeksi
parenteral lain
b. Mempertahankan atau mengganti cairan tubuh yang mengandung air,
elektrolit, vitamin, protein, lemak dan kalori yang tidak dapat
dipertahankan melalui oral.
c. Mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dan elektrolit
d. Menghindari terjadinya kerusakan jaringan.
e. Memperbaiki keseimbangan asam basa
f. Memasukkan obat dalam jumlah yang besar
g. Memberikan tranfusi darah
h. Menyediakan medium untuk pemberian obat intravena
i. Membantu pemberian nutrisi parenteral
j. Memonitor Tekanan Vena Sentral (CVP)

3. Lokasi Injeksi Intravena


a. Pada lengan : Vena mediana cubiti, vena sefalika, vena basilica
b. Pada tungkai : Vena dorsalis pedis, vena saphenous
c. Pada leher : Vena Jugularis
d. Pada kepala : Vena frontalis, vena femoralis

Gambar 2.3: Lokasi injeksi pada lengan dan leher

14

4. Indikasi Pemberian Obat Melalui Jalur Intravena


a. Pasien dengan penyakit berat diperlukan pemberian obat secara
langsung masuk ke pembuluh darah agar kadar puncaknya segera
tercapai. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah
(sepsis), sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan
memberikan obat oral.
b. Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral yang terbatas
c. Hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik)
d. Pasien tidak dapat minum obat karena muntah atau tidak dapat
menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas).
e. Kesadaran menurun dan berisiko terjadinya aspirasi apabila diberi
obat secara oral seperti tersedak pada saat minum obat masuk ke
saluran pernapasan.
f. Kadar puncak obat dalam darah harus segera dicapai sehingga perlu
diberikan dalam injeksi bolus sehingga peningkatan cepat konsentrasi
obat dalam darah mudah dicapai. Misalnya pada orang yang
mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa seperti pada
penderita diabetes mellitus.

5. Kontraindikasi Pemberian Obat Melalui Jalur Intravena


a. Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi injeksi
intravena.
b. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan
digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (AV Shunt) pada
tindakan hemodialisis.
c. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh darah vena
kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di
tungkai dan kaki), contoh obat ranitidin, petidin hidroklorida,
eritromisin, protamin sulfat dan fitomenadion.

6. Kelebihan dan Kelemahan Injeksi Intravena


a. Kelebihan

15

Tidak mengalami tahap absorbsi, maka kadar obat dalam darah


diperoleh secara cepat, tepat dan dapat disesuaikam langsung dengan
respon penderita. Larutan tertentu yang iriatif hanya dapat diberikan
dengan cara ini karena dinding pembuluh darah relative tidak sensitive
dan bila di suntikkan perlahan lahan obat segera diencerkan oleh
darah.
b. Kelemahan
Efek toksik mudah terjadi karena keadaan obat yang tinggi segera
mencapai darah dan jaringan. Disamping itu, obat yang di suntikkan
tidak dapat di tarik kembali. Obat dalam larutan minyak yang
mengendapkan konstituen darah dan yang menyebakan hemolisis.

7. Cara Pemberian Obat Secara Intravena


Pemberian obat melalui intravena dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu pemberian obat intravena langsung dan pemberian obat intravena
secara tidak langsung.
a. Pemberian Obat Intravena Secara Langsung
Pemberian obat intravena langsung merupakan pemberian obat
dengan cara memasukkan obat ke dalam pembuluh darah vena,
diantaranya vena mediana cubiti atau cephalika (lengan), vena
saphenous (tungkai), vena jugularis (leher), dan vena frontalis atau
temporalis (kepala), serta bertujuan memberikan obat dengan reaksi
cepat dan langsung masuk pada pembuluh darah (Hidayat, 2006).
b. Pemberian Obat Intravena Secara Tidak Langsung
Pemberian obat intravena secara tidak langsung dilakukan dengan
menggunakan infus sehingga cairan dapat dimasukkan ke dalam
pembuluh vena. Cairan yang di masukkan dengan cara demikian ini
harus di alirkan perlahan-lahan masuk ke dalam pembuluh vena
bersangkutan. Pemberian obat yang cepat cenderung menyebabkan:
1) Trauma pada vena.
2) Reaksi hipersensitivitas yang berat.
3) Efek samping yang serius.

16

4) Oedema paru atau embolisasi jika volume cairan yang


disuntikkan cukup besar.
Pasien yang terpasang infus mendapatkan obat yang dimasukkan
secara intravena sehingga tidak perlu membuat tusukan baru tetapi
memasukan obat melaui karet pada pipa infus yang dirancang untuk
memasukan obat atau melalui botol infus.
Pemberian obat secara tidak langsung terdiri dari dua cara, yaitu:
a. Pemberian Obat Secara Intravena Melalui Selang Infus (Bolus)
Pemberian obat intravena melalui intra selang atau melalui
selang infus merupakan cara memasukkan obat ke dalam pembuluh
darah vena melalui karet selang infus dengan maksud sebagai
pengganti injeksi intravena secara berulang pada pasien rawat inap,
tujuannya mencegah atau mengurangi rasa sakit dari penyuntikan
berulang (Burner, 2009).
Kekurangan

cara

pemberian

bolus

adalah

lajak

takar

(overdosis) sering terjadi terutama pada obat-obat dengan indeks


terapeutik sempit. Setelah pemberian intravena, dosis tidak dapat
dikurangi. Rekomendasi penghasil obat dalam hal ini sering
mengejutkan, bahwa obatnya harus diberikan secara intravena
dalam waktu sampai 1-2 menit.
Suntikan dapat dilakukan langsung pada pembuluh vena atau
pada selang infuse (per kap). Penyuntikan langsung ke dalam vena
biasanya dihindari dengan alasan:
a) Penggunaan jarum baja untuk penyuntikan IV yang berkalikali membawa risiko ekstravasasi dan kerusakan jaringan.
b) Tanpa akses vena yang kontinu, setiap reaksi yang merugikan
akan sulit ditangani.
Hal terpenting yang harus diperhatikan dan dilakukan pada
waktu injeksi lewat karet selang infus adalah:
a) Selalu cek kelancaran tetesan infus sebelum melakukan injeksi
pada pasien.

17

Hal pertama yang dilakukan pada waktu akan


melakukan injeksi pada pasien yaitu cek ulang tetesan infus
dan perhatikan 6 benar diantaranya: benar obat, benar dosis,
benar klien, benar rute pemberian, benar waktu, dan benar
pendokumentasian (Ambarwati, 2009).
b) Pergunakan teknik yang tepat dalam injeksi atau menyuntik.
c) Perhatikan durasi penyuntikan.
Lama waktu injeksi disamakan dengan kebiasaan aliran
infus. Injeksi intra selang pada dasarnya dilakukan sebagai
pengganti intravena (IV) jangka panjang, yang mana beresiko
lebih nyeri, maupun injeksi/penyuntikan berulang. Infus yang
dipasang biasanya berkecepatan 20 tetes/menit atau 1 cc/menit
(untuk dewasa/macrodrip). Oleh karena itu injeksi dengan
kecepatan 20 tetes/menit atau 1 cc/menit (Burner, 2009).
Apabila yang diinjeksikan hanya obat yang umum,
seperti antibiotik standar (cefotaxim) dengan cairan yang
umum dipakai (RL, NACL) tindakan menginjeksi obat dengan
tanpa klem atau tidak menghentikan aliran infus bisa menjadi
pilihan yang lebih baik, karena tidak mengakibatkan nyeri
kepada pasien, itu berarti mengurangi resiko terjadinya flebitis
(Burner, 2009)
Infus adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk
memasukkan obat atau cairan ke dalam tubuh pasien. Infeksi dapat
menjadi komplikasi utama dari terapi intravena (IV) dengan
berbagai macam cara. Mayoritas masalah yang berhubungan
dengan intravena terletak pada sistem infus atau tempat penusukan
vena, termasuk komplikasi lokal atau sistemik. Salah satu
komplikasi lokal yaitu flebitis (Potter & Perry, 2005).
Kata intra selang sendiri merupakan istilah baru yang tercipta
dikalangan

perawat

untuk

mendefinisikan

suatu

tindakan

penyuntikan melalui karet selang infus, yang merupakan bagian


dari teknik penyuntikan intravena. Hanya karena penyuntikannya

18

melalui karet selang infus. Pada dasarnya, ada dua cara untuk
injeksi intra selang menurut Burner (2009), yaitu:
a) Injeksi intra selang atau melalui selang dengan cara mengklem
selang infus atau menghentikan aliran infus.
Injeksi intravena melalui intra selang dengan cara diklem
atau menghentikan aliran infuse (Hidayat, 2006), yaitu:
(1) Alat dan Bahan
(a) Spuit dan jarum sesuai ukuran.
(b) Obat dalam tempatnya.
(c) Selang intravena.
(d) Kapas alkohol.
(2) Prosedur Kerja
(a) Cuci tangan.
(b) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
(c) Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian
masukkan ke dalam spuit.
(d) Cari tempat penyuntikan obat pada daerah selang intra
selang.
(e) Lakukan desinfeksi dengan kapas alkohol dan stop
aliran
(f) Lakukan penyuntikan dengan memasukkan jarum
spuit hingga menembus bagian tengah dan masukkan
obat perlahan-lahan ke dalam selang intravena.
(g) Setelah selesai tarik spuit.
(h) Periksa kecepatan infuse dan observasi reaksi obat.
(i) Cuci tangan.
(j) Catat obat yang telah diberikan dan dosisnya.
(3) Kelebihan dan kekurangan dengan cara diklem yaitu:
(a) Kelebihan
Obat-obatan langsung masuk, tidak naik ke atas,
hal ini sangat penting untuk memastikan obat masuk
dengan cepat. Lebih lanjut, dalam keadaan emergensi,

19

dimana obat-obatan seperti adrenalin harus langsung


masuk.
(b) Kekurangan
Menimbulkan rasa sakit. Nyeri atau sakit
merupakan salah satu diagnosa keperawatan aktual
yang paling sering ditemukan. Injeksi dengan cara
menghentikan aliran infus mempunyai rasa sakit
karena, obat-obatan yang diinjeksikan langsung
masuk ke aliran darah. Hal ini tidak dianjurkan
apabila menginjeksi obat-obatan yang agak keras,
seperti antibiotik dan antimetik. Lebih lanjut lagi,
apabila hal ini dilakukan terus menerus, akan
mempercepat terjadinya flebitis atau peradangan,
karena dinding pembuluh darah vena dapat teriritasi
oleh obat.
b) Injeksi intra selang atau melalui selang dengan tidak diklem
atau tidak menghentikan aliran infus.
Pemberian Injeksi intravena melalui intra selang atau
lewat

selang

dengan

cara

tanpa

diklem

atau

tidak

menghentikan aliran infus (Burner, 2009), yaitu:


(1) Alat dan Bahan:
(a) Spuit dan jarum sesuai dengan ukuran.
(b) Obat dalam tempatnya.selang intravena.
(c) Kapas alkohol.
(2) Prosedur Kerja:
(a)

Cuci tangan.

(b)

Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.

(c)

Periksa identitas pasien dan ambil obat kemudian


masukkan ke dalam spuit.

(d)

Cari tempat penyuntikan pada selang intravena.

(e)

Lakukan desinfeksi dengan kapas alkohol.

20

(f)

Lakukan penyuntikan dengan memasukkan jarum


spuit hingga menembus bagian tengah dan obat
perlahan-lahan ke dalam selang intravena.

(g)

Setelah selesai tarik spuit.

(h)

Periksa kecepatan infus dan observasi reaksi obat.

(i)

Cuci tangan.

(j)

Catat obat yang telah diberikan.

(3) Kelebihan dan kekurangan dengan cara diklem yaitu:


(a)

Kelebihan:
i.

Obat dimasukkan bersamaan dengan cairan


infus.

ii.

Viskositas obat menjadi turun.

iii.

Pasien tidak begitu merasa nyeri.

iv.

Dan dapat mengurangi tekanan, hal ini


mengurangi iritasi obat terhadap dinding vena
dan menekan resiko terjadinya flebitis.

(b)

Kelemahan:
Apabila terlalu cepat dalam melakukan injeksi,
maka cairan akan naik ke atas. Dan tindakan ini,
tidak boleh dilakukan untuk pemberian obat secara
cepat, seperti pemberian adrenalin pada saat
emergensi.

b. Pemberian Obat Intravena Secara Drip


Cara pemberian obat intravena melalui drip yaitu :
a) Melakukan tindakan aseptik
b) Pada sediaan larutan infus tertutup karet, obat bisa langsung
disuntikkan dengan menusukkan jarum pada karet untuk
selanjutnya larutan infus dikocok sekali dua kali untuk
memastikan meratanya obat larut.
c) Pada sediaan larutan infuse tanpa tutup karet, maka selang
infus harus dipisahkan dulu dari botol cairal infus. Jarum

21

ditusukkan pada mulut botol infus sama dengan lokasi tusukan


selang infus.
d) Periksa kecepatan infus dan observasi reaksi obat.
e) Mencatat obat yang telah diinjeksikan dan catat dosisnya

8. Komplikasi Injeksi Intravena Melalui Selang Infus (Bolus)


a. Hematoma, yaitu darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat
pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat
penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum atau tusukan
berulang pada pembuluh darah. Tanda dan gejala hematoma yaitu
ekimosis, pembengkakkan segera pada tempat penusukan dan
kebocoran darah apada tempat penusukan.
b. Infiltrasi, yaitu masuknya cairan ke dalam jaringan sekitarnya (bukan
pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus menembus
pembuluh

darah.

Infiltrasi

ditunjukkan

dengan

adanya

pembengkakkan (akibat peningkatan cairan di jaringan), palor


(disebabkan oleh sirkulasi yang menurun) di sekitar area insersi,
ketidaknyamanan dan penurunan kecepatan aliran secara nyata.
Infiltrasi mudah dikenali jika tempat penusukan lebih besar daripada
tempat yang sama di ekstremitas yang berlawanan.
c. Tromboflebitis atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi
akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar.
Flebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi
kimia maupun mekanik. Kondisi ini dikarakteristikkan dengan adanya
daerah yang memerah dan hangat di sekitar daerah insersi/penusukan
atau sepanjang vena dan pembengkakkan. Insiden flebitis meningkat
sesuai dengan lamanya pemasangan jalur intravena, komposisi cairan
atau obat yang diinfuskan (terutama pH dan tonisitasnya, ukuran dan
tempat kanula dimasukkan, pemasangan jalur IV yang tidak sesuai
dan masuknya mikroorganisme saat penusukan.
Tromboflebitis

menggambarkan

adanya

bekuan

ditambah

peradangan dalam vena. Karakteristik tromboflebitis adalah adanya

22

nyeri yang terlokalisasi, kemerahan, rasa hangat, dan pembengkakkan


di sekitar area insersi atau sepanjang vena, imobilisasi ekstremitas
karena adanya rasa tidak nyaman dan pembengkakkan, kecepatan
aliran yang tersendat, demam, malaise dan leukositosis.
d. Occlusion, ditandai dengan tidak adanya penambahan aliran ketika
botol dinaikkan, aliran balik darah di selang infus dan tidak nyaman
pada area pemasangan/insersi. Occlusion disebabkan oleh gangguan
aliran IV, aliran balik darah ketika pasien berjalan dan selang diklem
terlalu lama.
e. Spasme vena, kondisi ini ditandai dengan nyeri sepanjang vena, kulit
pucat di sekitar vena, aliran berhenti meskipun klem sudah dibuka
maksimal. Spasme vena dapat disebabkan oleh pemberian darah atau
cairan yang dingin, iritasi vena oleh obat atau cairan yang mudah
mengiritasi vena dan aliran yang terlalu cepat.
f. Emboli udara, masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam
pembuluh darah.
g. Reaksi vasovagal, kondisi ini digambarkan dengan pasien tiba-tiba
terjadi kollaps pada vena, dingin, berkeringat, pingsan, pusing, mual,
dan penurunan tekanan darah
h. Alergi, apabila obat yang diberikan tidak cocok dengan pasien,
sehingga pasien merasa gatal, panas, merah dan bengkak. Apabila
alerginya berlebihan dapat mengakibatkan mual, muntah, pusing dan
keringat dingin.
i. Perdarahan
j. Rasa perih

C. Prosedur Kerja Berdasarkarkan Teori di Akademi (Melakukan Injeksi


Intravena Melalui Bolus)
1. Memberikan dan menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan.
2. Menyiapkan alat dan bahan, membawa ke dekat pasien:
a. Sarung tangan satu pasang
b. Spuit steril 3 ml atau 5 ml atau spuit imunisasi

23

c. Bak instrument
d. Kom
e. Perlak dan alasnya
f. Bengkok
g. Wastafel atau tempat cuci tangan
h. Kapas alkohol
i. Obat injeksi dalam vial atau ampul
j. Daftar pemberian obat
k. Waskom berisi larutan chlorine 0,5%
3. Memasang sampiran
4. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
5. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan
handuk bersih
6. Memakai sarung tangan
7. Memastikan tidak ada gelembung udara pada spuit dengan cara mengutikngutik spuit
8. Mencari tempat penyuntikan obat pada karet selang
9. Memasang pengalas dibawah daerah yang akan disuntik
10. Menghapushamakan atau mendesinfeksi karet selang infus (bolus) dengan
kapas alkohol, secara sirkular dengan diameter + 5 cm
11. Mengklem cairan infuse.
12. Menusukkan jarum ke dalam karet selang infus (bolus) dengan tangan
yang dominan
13. Menarik sedikit penghisap untuk aspirasi apakah jarum sudah masuk
selang infus
14. Memasukkan obat perlahan-lahan ke dalam vena
15. Menarik jarum keluar setelah obat dimasukkan, dengan meletakkan kapas
alkohol di atas jarum kemudian tarik jarum keluar.
16. Periksa kecepatan tetesan cairan infuse.
17. Membereskan alat, buang alat suntik dan bekas tempat obat dengan benar
18. Melepas sarung tangan, merendam dengan larutan chlorine 0,5% selama
10 menit

24

19. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan
handuk bersih
20. Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan

25

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
No. Med Record : 08-16-22
Diagnosa Medical : Dispepsia Syndrome
Tgl Masuk RS

: Selasa, 01-04-2014 Jam 11.00 WIT

Tgl Pengkajian

: Rabu, 02-04-2014

Waktu Anamnesa : 11.08 WIT


Ruang

: Kasuari I Bed 4 (Interna)

Nama Pengkaji

: 1. Ririn Aoeng S. Poetri


2. Nur Asmayani Asnur

1. Data Subjektif
a. Identitas
1) Identitas Pasien
Nama

: Nn. BW

Umur

: 16 Tahun

Suku

: Serui

Agama

: Kristen Protestan

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Jl. Nuri HBM

Jenis Kelamin : Perempuan (P)

2) Identitas Penanggung Jawab


Nama

: Ny. YI

Umur

: 50 Tahun

Suku

: Serui

Agama

: Kristen Protestan

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: SP 2

26

Jenis Kelamin : Perempuan (P)


Status

: Ibu Kandung

b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Pasien mengatakan bahwa uluh hati dan lambung terasa
sakit saat usai makan dan saat berkemih.

2) Riwayat Keluhan Utama


Pasien mengatakan gejala uluh hati dan perut terasa sakit
baru pertama kali dialami. Pasien merasakan gejala ini pada dua
hari sebelum akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Umum Kabupaten
Sorong pada tanggal 1 April 2014 jam 11.00.

3) Keluhan yang Menyertai


Adapun keluhan lain yaitu perut pasien terasa semakin sakit
jika memakan makanan pokok seperti nasi, jagung, dan lain-lain.

4) Riwayat Penyakit yang Lalu


Pasien mengatakan tidak menderita penyakit sebelumnya.

5) Riwayat Penyakit Keluarga


Pasien mengatakan keluarga tidak memiliki riwayat
penyakit keturunan.

6) Data Psikologis
Pasien merasa takut jika disuntik dan di ambil darahnya. Pasien
juga merasa jenuh dan malas bergerak karena tidak bertemu dengan
teman-teman sekolahnya.

27

7) Data Sosial
Hubungan pasien dengan ayahnya baik. Namun, hubungan pasien
dengan ibu, saudara kandung, dan tetangga kurang baik karena sering
tidak akur. Hubungan pasien dengan teman-temannya baik.

8) Data Spiritual
Selama sakit, pasien jarang berdoa. Pada saat sehat pun pasien
jarang beribadah di Gereja.

9) Kebiasaan Sehari-hari
Kebutuhan
Nutrisi
- Makan
Frekuensi
Jenis
Keluhan

- Minum
Frekuensi
Jenis
Keluhan
Eliminasi
- Buang air kecil (BAK)
Frekuensi
Warna
Bau
Keluhan

- Buang air besar


(BAB)
Frekuensi
Konsistensi
Warna
Bau
Keluhan

Sebelum Sakit

Saat Sakit

Kurang baik
1piring per hari
Nasi dan makanan
ringan
Susah makan, lebih
sering ngemil
dibanding makan nasi,
dan sering makan yang
asam-asam seperti
buah-buahan.

Menurun
4 sendok nasi per hari
Bubur dan makanan
ringan
Susah makan karena
tidak ada nafsu makan,
terasa sakit tiap usai
makan terutama makan
nasi atau bubur.

Baik
+ 2 liter per hari atau 9
gelas per hari
Air putih, minuman
bersoda, susu, dan
sirop
Tidak ada

Menurun
+1 liter per hari atau 4
gelas per hari
Air putih

Baik
+ 4 kali per hari
Kuning jernih
Khas urine
Tidak ada

Menurun
+ 2 kali per hari
Kuning pekat
Berbau obat
Terasa nyeri saat
berkemih

Baik
1 kali per hari
Padat
Khas feses
Khas feses
Tidak ada

Menurun
1 kali per 3 hari
Padat
Khas feses
Khas feses
Perut terasa sakit saat
melakukan BAB

Tidak ada

28

Istirahat dan tidur


- Tidur Siang

+ 6 jam. Dari jam


13.30 p.m. sampai jam
18.30 p.m.

+ 1 jam. Dari jam


14.00 p.m. sampai jam
15.00 p.m.

- Tidur malam

+ 8 jam . Dari jam


23.00 p.m. sampai jam
07.00 a.m.

+ 5 jam. Dari jam


01.00 a.m sampai jam
06.00 a.m.

- Keluhan

Tidak ada

Terasa kurang nyaman


tidur di Rumah Sakit
karena belum terbiasa
dengan suasananya

Bermain game, tidur,


dan nonton TV

Berbaring

- Di luar rumah

Bermain dan jalanjalan dengan temanteman

Jalan-jalan di ruang
perawatan

- Keluhan

Tidak ada

Gerakan lebih pasif


karena tidak nyaman
menggunakan infus

2 kali per hari,


memakai sabun mandi.

1 kali per hari, badan


hanya di lap dengan
kain yang direndam di
air hangat tanpa sabun.

- Gosok gigi

1 kali per hari dengan


menggunakan odol

Tidak pernah

- Keramas

1 kali per 2 hari dengan


menggunakan sampo

Tidak pernah

- Keluhan

Tidak ada

Seksual
Kebiasaan Hidup

Tidak dilakukan
Jalan-jalan dan
menyanyi

Merasa tidak nyaman


karena kebutuhan
pasien tidak terpenuhi
Tidak dilakukan
Tidak ada

Aktivitas
- Di dalam rumah

Personal Hygiene
- Mandi

2. Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum
1) Keadaan Umum

: Baik

2) Status Emosional

: Pasien merasa cemas akan penyakitnya

3) Kesadaran

: Compos Mentis (CM), dalam kesadaran

29

normal, sadar sepenuhnya.


4) Tanda-tanda Vital
a) Nadi

: 80 kali/menit

b) Suhu

: 36,6 oC

c) Respirasi

: 20 kali/menit

d) Tekanan darah (TD)

: 110/70 mmHg

5) BB (Berat Badan)

: 48 kg

6) TB (Tinggi Badan)

: 150 cm

7) Lila

: Tidak dilakukan pemeriksaan

b. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala
a) Rambut

: Keriting dan tidak ada ketombe.

b) Muka

: Bulat dan tidak pucat

c) Mata

Conjungtiva

: Berwarna merah muda cerah (Normal)

Sclera

: Putih (Normal)

d) Hidung

: Tidak ada polip, bentuk simetris, tidak ada


sinusitis, tidak ada cuping hidung, dan
tidak ada secret.

e) Telinga

: Normal, bentuk simetris, ada sedikit secret,


pendengaran baik, ada daun telinga, dan
tidak ada serumen.

f) Mulut

: Warna gusi merah muda, gigi agak


kekuningan, gigi berlubang, terdapat karies,
dan tidak terdapat jamur pada lidah.

g) Leher

: tidak ada pembesaran kelenjar getah


bening,

kelenjar

thyroid,

dan

vena

jugularis.
2) Dada

: Datar, simetris, dan pergerakan nafas teratur.

3) Mammae

: Normal, bentuk simetris.

4) Perut

: Bagian perut dibawah pusat tampak buncit, terasa

30

nyeri jika disentuh, dan perut terasa lunak.


5) Punggung

: Normal, bentuk tulang simetris.

6) Genitalia

: Tidak dilakukan pemeriksaan.

7) Ekstremitas

a) Atas

: Tangan berfungsi dengan baik, tidak ada oedema,


dan jari-jari tangan lengkap.

b) Bawah

: Kaki berfungsi dengan baik, tidak ada oedema, dan


jari-jari kaki lengkap.

c. Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium : Dilakukan hasil kolaborasi petugas ruangan
dengan

petugas

Laboratorium.

Dilakukan

pemeriksaan darah lengkap dan hasil HB (12 gr%).


2) USG

: Tidak dilakukan.

3) Rontgen

: Tidak dilakukan.

4) EKG

: Tidak dilakukan.

d. Tindakan Pemberian Injeksi Intravena Melalui Bolus


Waktu Pemberian

: 10.30 WIT

Nama Obat Injeksi

1) Cefotaxime 1 vial + 5 cc aquadest IV/12 jam (dicampurkan


dengan cara diaplos terlebih dulu)
2) Ranitidin 1 ampul IV/12 jam

e. Riwayat Pemberian Terapi Obat


1) Cefotaxime I vial + 5 cc aquadest per IV
2) Ranitidin 1 ampul per IV
3) Metronidazol 500 mg 3x1 per oral
4) Redacid 250 mg 1x1 per oral
3) Antasida 200 mg 3x1 per oral

31

B. Prosedur Kerja di Lahan Praktik


Adapun prosedur kerja di lahan praktik yaitu:
1. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan
handuk bersih.
2. Menyiapkan alat dan bahan, membawa ke dekat pasien:
a. Spuit steril 3 ml atau 5 ml
b. Keranjang berbentuk persegi panjang (baki)
c. Kapas alkohol
d. Obat injeksi dalam vial atau ampul
3. Memberikan dan menjelaskan pada pasien tindakan yang akan dilakukan.
4. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin.
5. Memastikan tidak ada gelembung udara pada spuit dengan cara mengutikngutik spuit.
6. Mencari daerah penyuntikan pada daerah selang intravena.
7. Menghapushamakan atau mendesinfeksi selang intravena dengan kapas
alkohol secara satu arah dari atas ke bawah.
8. Menusukkan jarum ke dalam selang intravena dengan tangan yang
dominan (jarum dan selang intravena membentuk sudut 15-20o)
9. Menekuk selang intravena bagian di atas daerah yang akan disuntik agar
cairan infuse tidak masuk ke dalam vena.
10. Menusukkan obat secara perlahan-lahan ke dalam selang intravena.
11. Menarik jarum keluar setelah obat dimasukkan, dengan meletakkan kapas
alkohol di atas jarum kemudian tarik jarum keluar.
12. Membereskan alat, buang alat suntik dan bekas tempat obat dengan benar.
13. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan
handuk bersih.
14. Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.

32

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Persamaan
Adapun persamaan antara tindakan memberi injeksi intra vena di lapangan
dengan teori memberi injeksi intra vena yang didapat di akademi yaitu:
1. Mengatur posisi pasien senyaman mungkin.
2. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, mengeringkan dengan
handuk bersih.
3. Mencari daerah penyuntikan obat pada karet selang infus (bolus)
4. Menarik jarum keluar setelah obat dimasukkan, dengan meletakkan kapas
alkohol di atas jarum kemudian tarik jarum keluar.
5. Membereskan alat, buang alat suntik dan bekas tempat obat dengan benar.
6. Melakukan dokumentasi tindakan yang telah dilakukan.

B. Kesenjangan
Setelah dilakukan praktik, maka penulis dapat mengetahui adanya
perbedaan tata cara pemberian injeksi intra vena yang penulis dapatkan antara
teori di akademi dengan di lahan praktik Ruang Kasuari 2 (Interna) RSUD
Kabupaten Sorong. Perbedaannya yaitu terdapat pada:
1. Alat dan bahan yang disiapkan tidak lengkap, karena tidak menyiapkan
sarung tangan, bak instrument, kom, perlak dan alasnya, bengkok, daftar
pemberian obat, dan Waskom larutan chlorine 0,5%.
2. Tidak memasang sampiran.
3. Tidak memakai sarung tangan.
4. Tidak memasang pengalas pada daerah yang akan disuntik.
5. Tidak mendesinfeksi dengan kapas alkohol secara sirkular, melainkan
dilakukan secara gerakan satu arah dari atas ke bawah.
6. Tidak menarik sedikit penghisap untuk aspirasi.
7. Selang intravena bagian di atas daerah yang akan disuntik harus di tekuk
sebelum obat injeksi dimasukkan agar cairan infuse tertahan dan tidak
masuk ke dalam vena.

33

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Praktik yang penulis dapatkan dilahan praktik yaitu di RSUD Kabupaten
Sorong dengan teori yang diajarkan kepada penulis di lahan institusi pada
dasarnya semua tindakan yang dilakukan sama, namun terdapat sedikit
perbedaan. Dengan adanya perbedaan ini, maka kita harus dapat
menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada pada lahan praktik dimana kita
berada.
Injeksi intravena adalah pemberian obat dengan cara memasukkan obat ke
dalam pembuluh darah vena dengan menggunakan spuit. Pemberian obat
melalui intravena dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pemberian obat
intravena secara langsung dan pemberian obat intravena secara tidak langsung.
Pemberian obat secara tidak langsung terdiri dari dua cara, yaitu melalui intra
selang (baik mengklem atau tidak mengklem selang infuse) dan secara drip.
Untuk memberi kenyamanan pada pasien, maka bidan yang juga bertugas
merawat harus dapat memilih cara pemberian injeksi intravena dengan baik,
sebisa mungkin cara yang diambil adalah cara penginjeksian dengan rasa nyeri
dan komplikasi yang rendah.

B. Saran
1. Untuk institusi, metode pembelajaran yang diterapkan sudah baik, namun
lebih di tingkatkan pada praktik di laboratorium agar mahasiswi lebih
terampil saat melakukan tindakan dan melaksanakan prosedur dengan
benar saat akan turun praktik di rumah sakit. Pemberian target penilaian
daftar tilik KDK I dan KDK II terlalu banyak, sehingga pembimbing
klinik (CI) sedikit kesulitan dalam memberikan penilaian
2. Untuk Rumah sakit, diharapkan agar dalam setiap praktik baik diruang
manapun di RSUD Kabupaten Sorong dapat tersedia alat dan bahan yang
sesuai dengan teori, sehingga mahasiswi dan para perawat dapat
melakukan tindakan atau melaksanakan prosedur dengan baik.

34

3. Untuk Mahasiswi, diharapkan setelah melakukan praktik, mahasiswi


dapat melakukan tindakan pemberian injeksi intra vena sesuai prosedur
yang benar, selalu melakukan tindakan pencegahan infeksi, lebih disiplin
dan aktif dalam mengikuti praktik di lapangan.

35

DAFTAR PUSTAKA

Aslam M, Tan CK, dan Prayitno A. 2003. Farmasi Klinis. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.
Hidayat, A.Aziz Alimul. Uliyah, dan Musrifatul. 2008 . Keterampilan Dasar
Praktik Klinik . Jakarta : Salemba Medika
Jordan, Sue. 2004. Farmakologi Kebidanan. Jakarta: EGC.
Mutholib, Handoyo, dan Arnika Dwi Asti. 2008. Perbedaan Tingkat Nyeri Pada
Penyuntikan deksamethason 5 Mg per Bolus Intravena dengan
Cara Mengalirkan dan Mengentikan Aliran Infus di BP RSUD
Kebumen. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume 4, No. 2:
01-102.
Potter dan Perry. 1997. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses,
dan Praktik, Vol.1. Asih. 2005. Alih Bahasa. Jakarta: EGC.