You are on page 1of 12

TERAPI BERMAIN DAN PENILAIAN PERKEMBANGAN ANAK

DI RUANG BAITUL ATHFAL RSISA

DI SUSUN OLEH :
1.
2.
3.
4.

MASYKUR KHAIR
TUHFATUL LAILY
WIDHAMAR
WAHYU DIAN WISMIARTI

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat
bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat menjadi malas bekerja dan
bodoh. Anggapan ini kurang bijaksana, karena beberapa ahli psikolog mengatakan bahwa
permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak (noname, 2006).
Ketika masa anak sudah memasuki masa todler anak selalu membutuhkan
kesenangan pada dirinya dan anak membutuhkan suatu permainan. Aktivitas bermain
merupakan salah satu stimulus bagi perkembangan anak. Sekarang banyak dijual macammacam alat permainan, jika orang tua tidak selektif dan kurang memahami fungsinya
maka alat permainan yang dibelinya tidak akan berfungsi efektif. Alat permainan
hendaknya disesuaikan dengan jenis kelamin dan usia anak, sehingga dapat merangsang
perkembangan anak dengan optimal. Dalam kondisi sakitpun aktivitas bermaian tetap
perlu dilaksanakan namun harus disesuaikan dengan kondisi anak.
Ruangan yang digunakan adalah di ruangan terapi bermaian Rumah Sakit Islam
Sultan Agung Semarang.. Dimana di ruang tersebut terdapat alat-alat bermain yang
disesuaikan dengan usia anak. Terapi bermaian ini bertujun untuk mempraktekkan
keterampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi kreatif dan merupakan
suatu aktifitas yang memberikan stimulasi dalam kemampuan keterampilan kognitif dan
afektif.

B. TUJUAN
Tujuan Umum
Untuk melanjutkan tumbuh kembang anak dan meminimalkan hospitalisasi pada anak.

Tujuan Khusus
Untuk melatih keterampilan kognitif dan afektif, anak bebas mengekpresikan
perasaannya, orang tua dapat mengetahui stuasi hati anak, memahami kemampuan diri,
kelemahan dan tingkah laku terhadap orang lain, merupakan alat komunikasi terutama
bagi anak yang belum dapat mengatakan secara verbal.

BAB II
DESKRIPSI KASUS

A. KARAKTERISTIK SASARAN
Anak usia todler yang sedang menjalani terapi rawat inap di Rumah Sakit Islam Sultan
Agung dengan jumlah anak 1 anak.

B. PRINSIP BERMAIN MENURUT TEORI


Pengertian
Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam dirinya
yang tidak disadari. (Wholey and wong, 1991).
Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan untuk
memperoleh kesenangan (Foster, 1989).
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan
tanpa mempertimbangkan hasil akhir (Hurlock).
Jadi kesimpulannya bermain adalah cara untuk memperoleh kesenangan tanpa
mempertimbangkan hasil akhir.

Kategori Bermain
1 Bermain aktif
Yaitu anak banyak menggunakan energi inisiatif dari anak sendiri, contohnya : bermain
sepak bola.

2 Bermain Pasif
Yaitu energi yang dikeluarkan sedikit, anak tidak perlu melakukan aktivitas (hanya
melihat) contoh : memberi support.

Ciri-ciri Bermain

1) Selalu bermaian dengan suatu benda.


2) Selalu ada timbal balik interaksi

3) Selalu dinamis
4) Ada aturan tertentu
5) Menuntut ruangan tertentu

Konsep Dasar Todler


Usia todler (1 3 tahun)

1) Mulai berjalan, memanjat, lari


2) Dapat memainkan sesuatu dengan tangannya
3) Senang melempar, mendorong, mengambil sesuatu
4) Perhatiannya singkat
5) Mulai mengerti memiliki ini milikku
6) Karakteristik bermain paralel play
7) Todler selalu bertengkar memeperebutkan mainan
8) Senang musik atau irama

Mainan untuk todler

1) Mainan yang dapat ditarik dan didorong


2) Alat masak
3) Malam, lilin
4) Boneka, telephone, gambar dalam buku, bola, drum yang dapat dipukul, krayon,
kertas

Bermain di Rumah Sakit

Prinsip kegiatan

1) Tidak banyak energi, singkat dan sederhana


2) Mempertimbangkan keamanan dan infeksi silang

3) Kelompok umur sama


4) Melibatkan keluarga atau orang tua

BAB III
METODOLOGI BERMAIN

A. JUDUL PERMAINAN
Mewarnai gambar dengan pensil warna/spidol/pastel pada kertas gambar yang telah
tersedia.
B. ALAT YANG DIPERLUKAN
1. Kertas gambar yang sudah siap diwarnai
2. Alat untuk menggambar (pensil warna/spidol/pastel)
3. Benang
4. Alat untuk melubangi kertas
5. penggaris
C. WAKTU PELAKSANAAN
Hari/tanggal

: Kamis, 20 November 2014

Waktu

: Pukul 10.00 wib

Tempat

: Ruang Baitul Athfal RSISA

D. PROSES BERMAIN
a. Persiapan : 5 Menit
a. Menyiapkan ruangan
b. Menyiapkan alat
c. Menyiapkan peserta
b. Pembukaan : 5 Menit
a. Perkenalan dengan anak dan keluarga
b. Anak yang akan bermain saling berkenalan
c. Menjelaskan maksud dan tujuan
d. Menjelaskan kontrak waktu
c. Kegiatan : 20 Menit
a. Anak diminta untuk memilih gambar yang ingin diwarnai yang sudah tersedia

b. Kemudian anak dianjurkan untuk mewarnai gambar dengan warna yang disukai
c. Setelah selesai mewarnai gambar, anak dibantu untuk melubangi bagian atas kertas
gambar.
d. Dipasang benang sepanjang +/- 10 cm pada bagian atas yang dilubangi
e. Gantungkan hasil mewarnai gambar di dekat tempat tidur anak
f. Penutup : 5 Menit
Memberikan reward pada anak atas hasil karyanya.

E. KETERAMPILAN YANG DIBUTUHKAN


Penguasaan materi yang akan disampaikan, penggunaan kata-kata yang mudah dipahami
dan komunikatif, persiapan media yang matang, kesiapan mental saat menyampaikan
materi, kemampuan diskusi yang menarik.untuk menjawab setiap pertanyaan dari
audiens, keterampilan untuk menciptakan suasana.

F. HAL-HAL YANG PERLU DIWASPADAI


1) Anak kurang kooperatif
2) Orang tua tidak mendukung
3) Jam-jam tertentu seperti : kunjungan dokter, terapi dan waktu istirahat
4) Tidak semua rumah sakit mempunyai fasilitas bermain.

G. ANTISIPASI HAMBATAN
1) Pendekatan kepada anak lebih ditingkatkan
2) Memberikan penjelasan yang mudah dimengerti orang tua, sehingga timbul rasa
percaya
3) Membatasi waktu bermain
4) Bermain dilakukan dirawat inap tanpa menggangu proses terapi pengobatan

H. PENGORGANISASIAN
1) Leader

: 1 Orang

2) Fasilitator

: 1 orang

3) Observer

: 1 orang

4) Anak

: 1 orang

Setting tempat

Ket :
1

1 = Fasilitator
2 = Leader

3 = Observer
4 = Anak/Klien

I. KRITERIA EVALUASI
Setelah dilakukan terapi bermain dapat disimpulkan bahwa : keseluruhan anak menikmati
dan mau melakukan kegiatan menggambar . anak anak cukup kooperatif dengan
fasilitator .
Hambatan yang terjadi dalam proses terapi bermain yaitu : komunikasi antara yang satu
dengan yang lainnya kurang . Anak anak asik dengan kegiatannya sendiri atau
aktivitasnya sendiri . Kurang memahami terapi bermain atau kegiatan menggambarkan ,
mayoritas dari mereka hanya mencoret coret kertas tanpa mengerti apa maksudnya .
EVALUASI
Struktur
1. Satuan Acara Pembelajaran(SAP) dibuat 3 hari sebelum Terapi bermain
2. Media telah disediakan 1 hari sebelumnya
3. Telah dibuat suatu kontrak perjanjian

4. Pembimbing telah dihubungi


Proses
1. Penyaji menyampaikan materi dengan baik
2. Petugas menjalankan tugasnya dengan baik
3. Audien tidak meninggalkan terapi bermain sampai acara selesai
4. Audien menghadiri acara tepat pada waktunya
Hasil
1. 80% peserta mampu mewarnai dengan baik.

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Bermain adalah cara untuk memperoleh kesenangan tanpa mempertimbangkan hasil
akhir.
Tujuan bermain untuk melatih keterampilan kognitif dan afektif, anak bebas
mengekpresikan perasaannya, orang tua dapat mengetahui stuasi hati anak, memahami
kemampuan diri, kelemahan dan tingkah laku terhadap orang lain, merupakan alat
komunikasi terutama bagi anak yang belum dapat mengatakan secara verbal.

B. SARAN
Saran kepada orang tua dan pelayanan kesehatan diharapkan orang tua lebih selektif dan
memahami fungsi dari alat permainan yang akan diberikan kepada anak . dapat
menyesuaikan kepada umur anak sehingga dapat merangsang tumbuh kembang secara
optimal .

DAFTAR PUSTAKA

Foster and humsberger . 2003 . Family Centered Nursing Care of Children . WB sauders
Company . Philadelpia USA
Hurlock E B . 2001 . Perkembangan Anak Jilid 1 . Erlangga . Jakarta
Whaley and Wong . 2001 . Nursing Care Infants and Children . Fourth Edition . Mosby
Year Book . Toronto . Canada
Noname . 2006 . Pengaruh Permainan pada Perkembangan Anak .