You are on page 1of 8

Prosiding Skripsi Semester Genap 2010/2011

SK - 091304

KALOR BIODIESEL HASIL ESTERIFIKASI DENGAN KATALIS Al-MCM-41 DAN


TRANSESTERIFIKASI DENGAN KATALIS KALIUM HIDROKSIDA
MINYAK BIJI NYAMPLUNG (Calophyllum inophyllum)
Bisri Mustafa*, Endang Purwanti. S1
Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
ABSTRAK
Telah dilakukan pembuatan biodiesel dari minyak biji nyamplung (Calophyllum inophyllum) melalui reaksi esterifikasi
dan transesterifikasi. Pada reaksi esterifikasi digunakan katalis Al-MCM-41(17) sedangkan reaksi transesterifikasi digunakan katalis
kalium hidroksida. Jumlah katalis Al-MCM-41 yang optimum yaitu 0,3% (b/b). Biodiesel minyak biji nyamplung yang dihasilkan
dikarakterisasi sifat fisika dan kimianya seperti titik nyala, densitas, viskositas kinematik dan nilai kalor. Nilai kalor biodiesel
minyak biji nyamplung secara eksperimen yang diperoleh melalui bom kalorimeter dibandingkan dengan nilai kalor teori yang
diperoleh melalui program HyperChem. Adapun sifat fisika dan kimia biodiesel minyak biji nyamplung antara lain berwarna
kuning jernih dengan bau yang khas dan memiliki densitas (T=30C) 0,90 g/mL, titik nyala 168C, viskositas kinematik (T=30C)
5,12 cSt, bilangan asam 0,29 mg NaOH/g, bilangan setana 74,6 dan nilai kalor 9062 kal/g. Karakterisasi tersebut sesuai dengan
standar mutu biodiesel SNI-04-7182-2006 kecuali nilai densitas. Nilai Kalor secara teori yang diperoleh melalui program
HyperChem yaitu 9844,04 kal/g.
Kata kunci : Minyak Biji Nyamplung, Biodiesel, Al-MCM-41, Kalor
ABSTRACT
It has been produced biodiesel from nyamplung (Calophyllum inophyllum) seed oil via esterification and
transesterification. In the esterification reaction used catalyst Al-MCM-41(17) while the transesterification reaction used
potassium hydroxide catalyst. Nyamplung seed oil biodiesel produced were characterized physical and chemical properties such
as flash point, density, kinematic viscosity and heat value. Optimum number of catalyst Al-MCM-41 was 0,3% (w/w). Heat value
of nyamplung seed oil biodiesel experimentally obtained from the bomb calorimeter be compared with heat value theoritically
obtained through the program HyperChem. The physical and chemical properties of nyamplung seed oil biodiesel include clear
yellow with a distinctive odor and has a density (T=30C) 0.90 g/ml, flash point 168C, kinematic viscosity (T=30C) 5,12 cSt,
acid number 0,29 mg NaOH/g, cetane number 74.6 and heat value 9062 cal/g. The characterization was suitable with the
biodiesel quality standards SNI-04-7182-2006 unless the value of density. Heat value theoritically obtained through the
HyperChem program that is 9844.04 cal/g.
Keyword : Nyamplung Seed Oil, Biodiesel, Al-MCM-41, Heat

I PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara berpenduduk terpadat


keempat setelah Cina, Amerika dan India. Menurut
publikasi BPS (Badan Pusat Statistika) pada bulan Agustus
2010, jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus
adalah sebanyak 237.556.363 jiwa dengan laju
pertumbuhan penduduk sebesar 1,49 persen per tahun.
Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk tersebut
maka semakin meningkat pula kebutuhan akan energi
bahan bakar. Bahan bakar yang selama ini banyak
digunakan adalah bahan bakar minyak yang bersumber dari
fosil. Sumber bahan bakar fosil ini tidak dapat diperbarui
sehingga lama kelamaan ketersediaan bahan bakar ini
semakin menipis (Jitputti,et al, 2006).
* Corresponding author Phone : +6285655103271, e-mail:
bisrong@chem.its.ac.id
1 Alamat sekarang : Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.

e-mail: endang@chem.its.ac.id

Prosiding KIMIA FMIPA - ITS

Oleh karena itu diperlukan bahan bakar alternatif


sebagai pengganti bahan bakar fosil tersebut, salah satunya
adalah biodiesel. Biodiesel adalah monoalkil ester dari
asam lemak rantai panjang dari minyak nabati atau lemak
hewan (Marchetti et al 2008).
Keunggulan biodiesel dibandingkan dengan bahan
bakar fosil yaitu termasuk bahan bakar yang dapat
diperbarui, dapat langsung digunakan sendiri atau dicampur
dengan petroleum diesel, mempunyai flash point (titik
nyala) yang lebih tinggi dari petroleum diesel sehingga
lebih aman jika disimpan dan digunakan, limbahnya
bersifat ramah lingkungan (Knothe,et al.,2005;Pryde,1983);
tidak beracun; bebas dari logam berat, sulfur dan senyawa
aromatic; menghasilkan emisi CO2, SO2, CO dan
hidrokarbon yang lebih rendah dari bahan petroleum diesel
lainnya. Penggunaan biodiesel dapat memperpanjang usia
mesin diesel karena memberikan pelumasan lebih baik dari
pada bahan bakar petroleum dan tidak memerlukan
modifikasi mesin diesel (Knothe, et al., 2005).
Pada umumnya, biodiesel dibuat dari minyak nabati
yang berasal biji jarak pagar atau kelapa sawit. Namun

dalam penelitian ini akan dibuat biodiesel yang berasal dari


biji tanaman Nyamplung (Callophylum inophylum) yang
berasal dari Sampang Madura. Tanaman Nyamplung
terdapat hampir di semua negara tropis dan sub tropis,
termasuk Indonesia. Kelebihan biji nyamplung sebagai
bahan baku biodiesel adalah rendemen minyak nyamplung
yang tergolong tinggi dibandingkan jenis tanaman yang
lain (jarak pagar 40-60%, sawit 46-54% dan nyamplung
60-65%) dan dalam pemanfaatannya tidak berkompetisi
dengan kepentingan pangan serta produktivitas biji lebih
tinggi dibandingkan jenis lain (Jarak pagar 5 ton/ha; sawit 6
ton/ha; nyamplung 20 ton/ha) (Andyna, 2009).
Minyak biji nyamplung memiliki kandungan
asam lemak bebas (FFA) yang relatif tinggi yaitu 5,1%
(Crane dkk., 2005). Tingginya kandungan asam lemak
bebas dapat menyebabkan penyabunan pada proses
transesterifikasi yang berakibat biodiesel yang dihasilkan
lebih sedikit (Sahoo dan Das, 2009) sehingga sebelum
ditransesterifikasi, minyak biji nyamplung tersebut harus
diesterifikasi terlebih dahulu. Proses esterifikasi akan
mengubah asam lemak bebas menjadi metil ester dengan
bantuan katalis homogen berupa asam kuat, seperti asam
sulfat dan asam klorida. Penggunaan katalis homogen
tersebut memilki beberapa kelemahan antara lain korosif
dan sulit untuk dipisahkan dengan reaktan dan produk
setelah reaksi (Shu dkk., 2010) sehingga tidak cocok untuk
diterapkan dalam skala industri karena dapat menambah
ongkos produksi dan perawatan alat. Katalis heterogen
dapat dijadikan alternatif pengganti katalis homogen. Hal
ini dikarenakan proses pemisahaan katalis heterogen
dengan sisa reaktan dan produk relatif muda, cukup dengan
penyaringan serta memungkinkan penggunaan reaktor
operasi yang berkelanjutan (Morales dkk., 2010). Katalis
heterogen yang sudah pernah digunakan dalam reaksi
esterifikasi minyak biji nyamplung yaitu -zeolite dengan
persen yield 93% (SathyaSelvabala dkk., 2011). Pada
penelitian lain, Carmo dkk., (2009) melaporkan bahwa
esterifikasi asam palmitat dengan metanol menggunakan
katalis mesopori Al-MCM-41(Si/Al=8) menghasilkan
konversi produk 79% sedangkan Jermy dan Padurangan
(2005) melaporkan bahwa esterifikasi asam asetat dan nbutil alkohol dengan katalis Al-MCM-41 (Si/Al=25)
menghasilkan konversi produk 90,1% dan sampai saat ini
Al-MCM-41 belum pernah diaplikasikan dalam reaksi
esterifikasi minyak biji nyamplung sehingga dalam
penelitian ini akan digunakan Al-MCM-41 sebagai katalis
pada reaksi esterifikasi. Katalis Al-MCM-41 merupakan
katalis asam, adanya ion aluminium pada struktur MCM-41
akan meningkatkan keasaman dari material ini, sehingga
ion logam tersebut akan menjadi sisi asam Lewis dan
berperan sebagai sisi aktif pada proses katalisis
(Bhattacharyya dkk., 2001).
Hasil reaksi esterifikasi dilanjutkan dengan reaksi
transesterifikasi untuk menghasilkan metil ester dengan
bantuan katalis basa kuat. Katalis basa lebih dipilih
dibandingkan katalis asam karena waktu reaksi
transesterifikasi untuk katalis basa relatif lebih cepat
dibandingkan dengan katalis asam (Andyna, 2009). Katalis
basa yang sering digunakan dalam reaksi transesterifikasi
yaitu KOH. Metil ester yang dihasilkan dari reaksi
Prosiding KIMIA FMIPA - ITS

esterifikasi dan transesterifikasi merupakan biodiesel.


Efisiensi jumlah biodiesel yang digunakan dalam mesin
dapat diketahui dari nilai kalornya. Semakin besar nilai
kalornya, maka jumlah biodiesel yang diperlukan akan
semakin sedikit. Nilai kalor eksperimen biodiesel dapat
ditentukan dengan bom kalorimeter sedangkan nilai kalor
teori biodiesel dapat dihitung dengan menggunakan
program HyperChem. HyperChem merupakan suatu
perangkat lunak yang digunakan dalam kimia komputasi
untuk menentukan beberapa sifat struktur antara lain
stabilitas relatif dari beberapa isomer, kalor pembentukan,
energi aktivasi, muatan atom, beda energi homo-lumo dan
lain-lain
(Pranowo,
2006).
Namun
penggunaan
HyperChem dalam penentuan nilai kalor pembentukan
biodiesel belum banyak dikembangkan.
Berawal dari latar belakang tersebut maka perlu
dilakukan penelitian mengenai pembuatan biodiesel dari
minyak biji nyamplung. Biodiesel yang diperoleh nanti
akan dikarakterisasi menggunakan GC-MS untuk
mengetahui senyawa-senyawa penyusun biodiesel minyak
biji nyamplung. Dengan diketahuinya senyawa-senyawa
penyusun biodiesel tersebut, maka dapat ditentutkan nilai
kalor teori yang dapat dihitung menggunakan program
HyperChem. Disamping itu, biodiesel yang dihasilkan
nanti juga akan dikarekterisasi nilai kalor eksperimennya
menggunakan bom kalorimeter dan sifat fisika kimianya
antara lain densitas, bilangan setana, titik nyala, viskositas,
bilangan keasaman dan bilangan penyabunan.
II METODOLOGI PENELITIAN
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat
Perlatan yang digunakan dalam penelitian ini
antara lain peralatan gelas, pengepres biji, oven, botol
timbang, piknometer, refluk, termometer, hot plate,
magnetik stirrer, buret, KG-SM SHIMADZU QP2010S,
cawan porselen, cetane analyzer dan bom kalorimeter IKA
C-200.
2.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini
antara lain biji buah nyamplung Sampang Madura, etanol
(96% p.a./Merck), padatan NaOH (Assay > 98% /
UPT.BPPTK LIPI), indikator phenolftalein (p.a./ Merck),
HCl (37% p.a./Merck, asam oksalat dihidrat (Assay > 98%
/ UPT.BPPTK LIPI), H3PO4 (85% p.a./Merck), Al-MCM41(Si/Al=17, metanol (98% p.a./Merck), padatan KOH dan
aquabidest.
2.2 Prosedur Kerja
2.2.1 Persiapan Bahan Baku
Biji nyamplung sebanyak 5 kg dihaluskan terlebih
dahulu dengan blender lalu ditaruh dalam loyang dan
dimasukkan kedalam oven dengan suhu 100oC sampai
didapatkan berat konstan. Kadar air biji nyamplung
dihitung. Biji nyamplung bebas air dibungkus dengan kain
saringan dan dipress dengan pengepresan ulir. Pengepresan
dilakukan 4-6 kali sehingga dihasilkan minyak biji
nyamplung.

2.2.2 Penentuan Bilangan Asam Minyak Biji


Nyamplung
Minyak nyamplung sebanyak 5 mL dimasukkan
dalam erlenmeyer 50 ml, kemudian ditambahkan dengan 23
mL etanol 96 % dan dipanaskan pada suhu 60oC selama 10
menit sambil di aduk. Setelah itu, campuran tersebut dibagi
menjadi dua bagian dan masing-masing ditambahkan
dengan 3 tetes indikator phenolftalein dan dititrasi dengan
larutan KOH telah yang distandarisasi hingga berwarna
merah jambu. Nilai bilangan asam dihitung dengan
menggunakan rumus dibawah ini.

2.2.3 Bilangan Penyabunan Minyak Biji Nyamplung


Penentuan bilangan penyabunan dilakukan dengan
metode titrimetri yaitu dengan cara mentitrasi larutan
sampel dan larutan blanko. Pertama-tama, ditimbang KOH
dengan botol timbang sebanyak 0,4203 g dan dilarutkan
dalam 96 mL etanol 96%. Larutan yang diperoleh dibagi
menjadi dua, 48 mL digunakan sebagai blanko dan 48 mL
lainnya direaksikan dengan 0,1167 g minyak mentah biji
nyamplung yang akan digunakan sebagai larutan sampel.
Titrasi larutan blanko
Larutan blanko 48 mL dibagi menjadi dua bagian dan
dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang berbeda dan
masing-masing ditambahkan dengan 3 tetes indikator
phenolftalein sehingga larutan blanko tersebut berwarna
merah mudah dan dititrasi dengan larutan HCl 1,0068N
sampai bening tidak berwarna. Volume HCl yang
dibutuhkan dicatat.
Titrasi larutan sampel
Larutan sampel dibuat dengan cara mereaksikan 48 mL
larutan blanko dengan 0,1167 g minyak biji nyamplung.
Larutan sampel dipanaskan selama 10 menit pada suhu
60C. Setelah itu larutan sampel dibagi menjadi dua
bagian dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer yang
berbeda serta ditambahkan tiga tetes indikator
phenolftalein sehingga larutan sampel berwarna merah
muda. Larutan sampel dititrasi dengan larutan HCl
1,0068 N sampai bening tidak berwarna. Volume HCl
yang dibutuhkan dicatat.
Bilangan penyabunan dapat dihitung dengan menggunakan
rumus dibawah ini.
(

..(3.2)

2.2.4 Deguming
Minyak biji nyamplung sebanyak 450 mL
dimasukkan dalam beaker glass dan dipanaskan selama 1
jam pada suhu 65C lalu ditambahkan 5% (v/v) asam fosfat
85%. Larutan campuran tersebut diaduk sampai minyak
berbuah warna menjadi kecoklatan. Setelah itu didiamkan
selama 1x24 jam agar reaksi berlangsung sempurna.
Campuran didekantasi untuk memisahkan antara minyak
hasil deguming gum yang menempel di dasar beaker glass.
2.2.5 Optimasi Jumlah Katalis Al-MCM-41
Minyak hasil degumming sebanyak
10 mL
dimasukkan dalam labu bundar dan ditambahkan 8,64 mL
metanol serta 0,1%(b/b) katalis Al-MCM-41. Campuran
Prosiding KIMIA FMIPA - ITS

tersebut kemudian direfluk pada suhu 60oC selama 2 jam.


Setelah itu dibiarkan dingin dan padatan Al-MCM-41
dipisahkan dengan cara disentrifus sehingga diperoleh
endapan Al-MCM-41 dan filtrat yang terdiri dari dua
lapisan. Lapisan organik dan aquoes dipisahkan lalu lapisan
organik yang merupakan minyak hasil esterifikasi dihitung
bilangan asamnya. Langkah ini juga digunakan untuk
katalis Al-MCM-41 0,3% dan 0,5% (b/b).
2.2.6 Esterifikasi I
Optimasi jumlah katalis Al-MCM-41 yang paling
optimum dalam menurunkan bilangan asam minyak biji
nyamplung yaitu 0,3% (b/b) sehingga esterifikasi dalam
skala besar akan menggunakan katalis Al-MCM-41 dengan
jumlah tersebut. Adapun langkah-langkahnya yaitu minyak
hasil degumming sebanyak 100 mL dimasukkan dalam
labu bundar dan ditambahkan 85,2 mL metanol serta
0,2794 g katalis Al-MCM-41. Campuran tersebut kemudian
direfluk pada suhu 60oC selama 2 jam. Setelah itu dibiarkan
dingin dan padatan Al-MCM-41 dipisahkan dengan cara
disentrifus sehingga diperoleh endapan Al-MCM-41 dan
filtrat yang terdiri dari dua lapisan. Lapisan organik dan
aquoes dipisahkan lalu lapisan organik yang merupakan
minyak hasil esterifikasi I dihitung bilangan asamnya dan
diesterifikasi lagi agar bilangan asamnya turun sampai
kurang dari 2%.
2.2.7 Esterifikasi II
Lapisan organik hasil esterifikasi I sebanyak 87
mL dimasukkan dalam labu bundar dan ditambahkan 75,4
mL metanol serta 0,2428 g katalis Al-MCM-41. Campuran
tersebut kemudian direfluk pada suhu 60oC selama 2 jam.
Setelah itu dibiarkan dingin dan padatan Al-MCM-41
dipisahkan dengan cara disentrifus sehingga diperoleh
endapan Al-MCM-41 dan filtrat yang terdiri dari dua
lapisan. Lapisan organik dan aquoes dipisahkan lalu lapisan
organik yang merupakan minyak hasil esterifikasi II
dihitung bilangan asamnya.
2.2.8 Transesterifikasi
Proses transesterifikasi diawali dengan membuat
larutan CH3OK dengan cara mereaksikan 3,4886 g KOH
dalam 19,4 mL metanol. Larutan kalium metoksida yang
terbentuk kemudian ditambahkan ke dalam 75 mL lapisan
organik hasil esterifikasi II yang ada di dalam labu bundar.
Campuran direfluk pada suhu 60oC selama 1 jam, lalu
didinginkan pada suhu kamar. Setelah dingin, campuran
tersebut dimasukkan ke dalam corong pisah, dikocok kuat
dan didiamkan sampai terbentuk 2 fasa. Lapisan organik
akan berada dibagian atas dari lapisan aquoes. Lapisan
organik adalah metil ester, sedangkan lapisan aquoes
adalah gliserol. Bioidesel (metil ester) yang dihasilkan
dikarakterisasi sifat fisika dan kimianya untuk mengetahui
kesesuaiannya dengan sifat biodiesel berdasarkan standar
mutu biodiesel SNI-04-7182-2006.
2.2.9 Karakterisasi Biodiesel Minyak Biji Nyamplung
Biodiesel yang dihasilkan dikarakterisasi sifat fisika
dan kimianya seperti senyawa-senyawa penyusun biodiesel
yang dianalisa dengan instrument KG-SM, densitas,
bilangan setana, titik nyala, viskositas kinematik, bilangan
asam dan kalor pembakaran. Kalor pembakaran yang

III HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Persiapan Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu biji tanaman Nyamplung (Calophyllum Inophyllum)
yang berasal dari Sampang, Madura. Minyak Nyamplung
diperoleh dari biji tanaman Nyamplung (Calophyllum
Inophyllum) yang berasal dari Sampang, Madura. Sebelum
diambil minyaknya, biji Nyamplung tersebut dikeringkan
terlebih dahulu untuk mengurangi kandungan airnya
dengan cara mengeringkannya dalam oven pada suhu
100C sampai didapat berat konstan. Kadar air yang
terkandung dalam biji nyamplung yaitu 31,18%.
Biji nyamplung yang sudah kering lalu dicincang
kecil dengan meggunakan blender agar pengepresannya
mudah. Selesai diblender, biji nyamplung dimasukkan
dalam kain saringan lalu dipres dengan press ulir untuk
mengambil minyaknya. Minyak biji nyamplung yang
diperoleh berwarna hijau dan masih ada getahnya yang
berwarna kuning didalamnya. Rendemen yang diperoleh
sebesar 33,44%. Minyak biji nyamplung pada penelitian ini
memiliki densitas 0,9303 g/mL. Adapun sifat fisika-kimia
dari minyak biji nyamplung secara keseluruhan bisa dilihat
pada tabel 3.1.
3.2 Bilangan Asam Minyak Biji Nyamplung
Bilangan asam minyak biji nyamplung yang
diperoleh dalam penelitian ini yaitu 42,81 mg NaOH/g
minyak nyamplung. Pada penelitian terdahulu seperti yang
dilakukan Crane dkk (2005) melaporkan bahwa kandungan
asam lemak bebas pada minyak biji nyamplung yaitu
sebesar 22,4 0,6 mg KOH/g sedangkan Bustomi dkk.,
(2008) memperoleh bilangan asam minyak biji nyamplung
sebesar 59,94 mg KOH/g. Kandungan asam lemak bebas
pada minyak biji nyamplung tersebut relatif besar sehingga
dalam proses pembuatan biodiesel harus melalui tahap
esterifikasi untuk mengubah asam lemak bebas menjadi
metil ester sehingga nantinya diharapkan persen yield
biodiesel yang diperoleh besar.
3.3 Bilangan Penyabunan Minyak Biji Nyamplung
Bilangan penyabunan dari minyak biji
nyamplung yaitu 193,60 mg KOH/g dan berat molekul
relatifnya yaitu 869,34 g/mol. Bilangan penyabunan
tersebut tidak jauh beda dengan hasil penelitian terdahulu
seperti yang dilakukan Crane dkk., (2005) menyebutkan
bahwa bilangan penyabunan minyak biji nyamplung yaitu
sebesar 194,4 6 mg KOH/g sedangkan Bustomi dkk.
(2008) memperoleh bilangan penyabunan minyak biji
nyamplung sebesar 198,1 mg KOH/g.
3.4 Deguming
Minyak biji nyamplung yang diperoleh dari
pengepresan biji nyamplung selanjutnya dideguming
dengan tujuan untuk menghilangkan getah. Penambahan
H3PO4 pada proses degumming berfungsi sebagai pengikat
getah dengan membentuk endapan dibagian dasar beaker
glass. Pada proses degumming dihasilkan minyak
nyamplung bersih yang berwarna merah kecoklatan.
Prosiding KIMIA FMIPA - ITS

Tabel 3.1 Sifat Fisika dan Kimia Minyak Biji Nyamplung


Sifat fisika dan kimia

Nilai

Densitas (g/mL)
Bilangan Asam (mg NaOH/g)

0,9303
42,81

Bilangan Penyabunan (mg KOH/g)


Kadar Asam Lemak Bebas (%)
Rendemen (%)

193,5955
21,4
33,44

Penampakan

Hijau gelap dan kental


dengan bau menyengat

3.5

Optimasi Jumlah Katalis Al-MCM-41 Pada


Esterifikasi
Optimasi jumlah katalis Al-MCM-41(Si/Al=17)
pada proses esterifikasi minyak biji nyamplung belum
pernah dilakukan sebelumnya sehingga pada penelitian ini
dilakukan optimasi dengan variasi persen berat katalis AlMCM-41 yaitu 0,1%; 0,3% dan 0,5%. Pada Gambar 4.4
terlihat bahwa jumlah katalis Al-MCM-41 yang paling
optimum pada proses esterifikasi minyak biji nyamplung
yaitu 0,3% (b/b) dengan persen konversi FFA sebesar
85,5%. Jika jumlah katalis yang digunakan kurang maka
tidak semua asam lemak terkonversi menjadi metil ester
sehingga persen yield yang dihasilkan akan semakin kecil
sedangkan jika jumlah katalis yang digunakan berlebih juga
tidak baik untuk reaksi esterifikasi karena persen
konversinya akan semakin menurun. Hal ini disebabkan
dengan semakin banyaknya jumlah katalis yang digunakan
maka reaksi esterifikasi cepat berlangsung dan air yang
terbentuk juga akan semakin cepat. Air yang terbentuk ini
dapat menyebabkan hidrasi pada gugus OH (sisi asam
Brnsted) sehingga dapat mendeaktifkan keasaman katalis
(Shu dkk., 2010).

Konversi FFA (%)

diperoleh dibandingkan dengan kalor pembentukan yang


diperoleh melalui progrom HyperChem 8.0.8 dengan
metode semi empiris.

85.5

86
84
82
80
78
76

82.5
79.4

0.1

0.3

0.5

% (b/b) Katalis Al-MCM-41


Gambar 3.1 Grafik Konversi FFA terhadap % (b/b)
Katalis Al-MCM-41
3.6 Esterifikasi
Proses esterifikasi yaitu proses perubahan asam
lemak bebas menjadi metil ester dan air dengan cara
mereaksikan asam lemak bebas yang terkandung dalam
minyak biji nyamplung dengan metanol yang dibantu
dengan suatu katalis. Katalis yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu katalis heterogen Al-MCM-41

(Si/Al=17) yang berupa padatan berwarna putih. Katalis ini


bersifat asam karena adanya ion aluminium pada struktur
MCM-41 akan meningkatkan asam dari material ini,
sehingga ion logam tersebut akan menjadi sisi asam Lewis
dan berperan sebagai sisi aktif pada proses katalisis
(Bhattacharyya, 2001). Katalis yang digunakan dalam
esterifikasi kebanyakan menggunakan katalis asam karena
katalis asam tidak menyebabkan penyabunan dan
membutuhkan waktu reaksi yang relatif lebih cepat bila
dibandingkan dengan katalis basa.
Mekanisme kerja katalis heterogen untuk AlMCM-41 sendiri belum diketahui secara pasti, namun
mekanisme kerja dari katalis heterogen pada umumnya
seperti yang dilaporkan oleh Laidler (1987) yaitu pertamatama reaktan akan terserap (adsorption) pada permukaan
katalis, selanjutnya akan terjadi interaksi baik berupa reaksi
pada permukaan katalis atau terjadi pelemahan ikatan dari
molekul yang terserap. Setelah reaksi terjadi, molekul hasil
reaksi akan dilepas dari permukaan katalis.
Pada penelitian ini dilakukan esterifikasi karena
bilangan asam dari minyak biji nyamplung relatif tinggi
yaitu 42,81 mg NaOH/g atau setara dengan 21,4%. Sahoo
dan Das (2009) melaporkan bahwa tingginya kandungan
asam lemak bebas berakibat biodiesel yang dihasilkan lebih
sedikit dan Bustomi dkk., (2008) melaporkan jika
kandungan asam lemak lebih besar dari 20% maka
esterifikasi dilakukan sebanyak dua kali sehingga pada
penelitian ini dilakukan esterifikasi sebanyak dua kali.
Esterifikasi pada penelitian ini menggunakan rasio molar
minyak/metanol 1:20 yang menurut Bustomi dkk., (2008)
merupakan rasio molar minyak/metanol yang optimum
dalam reaksi esterifikasi minyak biji nyamplung.
Disamping itu juga digunakan katalis Al-MCM-41 0,3%
(b/b) yang merupakan persen jumlah katalis optimum yang
dapat digunakan pada proses esterifikasi (Gambar 4.4).
Pada proses esterifikasi pertama diperoleh penurunan
bilangan asam dari 42,81 mg NaOH/g menjadi 6,19 mg
NaOH/g dan setelah esterifikasi kedua, bilangan asam
menurun menjadi 1,31 mg NaOH/g sehingga minyak hasil
esterifikasi dapat ditransetsrifikasi.
3.7 Transesterifikasi
Proses transesterifikasi merupakan reaksi antara
trigliserida dengan alkohol membentuk ester dan gliserol.
Reaksi transesterifikasi bersifat reversible sehingga
semakin banyak alkohol yang digunakan maka akan
menggeser kesetimbangan ke arak produk (Ma dan Hanna,
1999). Reaksi transestrifikasi terdiri dari tiga tahap seperti
yang telah dilaporkan oleh Singh dan Singh (2009) pada
Gambar 4.5.
Trigliserida

CH3OH

Digliserida

CH3OH

Monogliserida

CH3OH

KOH
KOH
KOH

Digliserida

R1COOCH 3

Monogliserida

R2COOCH 3

Gliserol

R3COOCH 3

Gambar 3.1 Tahap-Tahap Reaksi Transesterifikasi

Prosiding KIMIA FMIPA - ITS

Pada proses ini diperoleh larutan yang terdiri atas


dua lapisan, lapisan organik dan lapisan aquoes. Hal ini
sesuai dengan yang dilaporkan oleh Vyas dkk (2009) yang
menyebutkan bahwa proses transesterifikasi akan
menghasilkan filtrat yang terdiri dari dua lapisan yaitu
lapisan organik dan lapisan aquoes. Lapisan organik terdiri
atas metil ester dan trigliserida yang tidak bereaksi
sedangkan lapisan aquoes terdiri atas gliserol dan metanol
yang tidak bereaksi. Lapisan organik dipisahkan dan
dikarakterisasi sifat fisika dan kiminya. Persen yield yang
diperoleh pada penelitian ini yaitu sebesar 69%.
3.7 Karakterisasi Biodiesel Minyak Biji Nyamplung
Pada gambar 3.2 dibawah ini dapat dilihat
kromatogram biodiesel minyak biji nyamplung.
3
4

5
6 7

Gambar 3.2 Kromatogram Biodiesel Minyak Biji Nyamplung


Berdasarkan interpretasi hasil KG-SM dapat diketahui
senyawa-senyawa penyusun biodiesel minyak biji
nyamplung seperti yang tertulis pada tabel 3.2 di bawah ini.
Puncak

Fraksi
(%)

Waktu
Retensi
(Menit)
22,275

Nama Senyawa

13,30

Metil Palmitat

2
3
4

22,933
24,900
25,158

1,15
62,97
16,14

Asam Palmitat
Metil Oleat
Metil Stearat

25,425

4,53

Vinyl pentadeca-8,14-dienoate

6
7

25,667
27,642

1,15
0,77

Asam Stearat
Metil Arakidat

Tabel 3.2 Kandungan Senyawa yang ada di dalam


Biodiesel Minyak Biji Nyamplung
Pada
karakterisasi
dengan
menggunakan
kromatografi gas-spektrometri massa (KG-SM) dapat
diketahui bahwa senyawa penyusun biodiesel minyak biji
nyamplung yaitu metil oleat, metil stearat, metil palmitat,
metil arakidat, Vinyl pentadeca-8,14-dienoate. Senyawasenyawa penyusun biodiesel minyak biji nyamplung
tersebut nantinya akan digunakan untuk menghitung nilai
kalor teori dari biodiesel minyak biji nyamplung melalui
program HyperChem dengan metode semi empiris. Pada
biodiesel yag dihasilkan pada penelitian ini masih
ditemukan sedikit asam yang tidak bereaksi yaitu asam
stearat dan asam palmitat. Metil ester yang paling banyak
terkandung dalam biodiesel minyak biji nyamplung yaitu
metil oleat sehingga memungkinkan jika kandungan asam

lemak terbesar pada minyak biji nyamplung yaitu asam


oleat. Hal ini sesuai dengan penelitan yang dilakukan oleh
Crane dkk., (2005) dan Bustomi dkk., (2008) yang
menyebutkan bahwa kandungan asam lemak terbesar pada
minyak biji nyamplung yaitu asam oleat.
Pada penentuan kadar metil ester dalam biodiesel
minyak biji nyamplung menggunakan kromatografi gas HP
5890 diketahui jika kadar metil ester dalam biodiesel
minyak biji nyamplung yaitu sebesar 66,16% dan sisanya
adalah metanol dan gliserol karena transesterifikasi adalah
reaksi reversible sehingga memungkinkan untuk metanol
dan gliserol terbentuk kembali. Trigliserida yang tidak
bereaksi tidak dapat dianalisa dengan menggunakan
kromatografi gas ini karena titik didih dari trigliserida
sangat tinggi sehingga tidak muda menguap.
Berdasarkan tabel 3.3 dapat diketahui sifat-sifat
biodiesel minyak biji nyamplung yang memenuhi standar
mutu biodiesel SNI-04-7182-2006 yaitu viskositas
kinematik, titik nyala, bilangan setana dan bilangan asam
sedangkan yang tidak memenuhi stndar mutu biodiesel
adalah densitas. Densitas berkaitan erat dengan viskositas
kinematik karena densitas berbanding lurus dengan
viskositas kinematik. Pada umumnya, bahan bakar harus
mempunyai viskositas yang relatif rendah agar dapat
mudah mengalir dan teratomisasi Hal ini dikarenakan

putaran mesin yang cepat membutuhkan injeksi bahan


bakar yang cepat pula. Namun tetap ada batas minimal
karena diperlukan sifat pelumasan yang cukup baik untuk
mencegah terjadinya keausan akibat gerakan piston yang
cepat (Shreve, 1956).
Titik nyala merupakan suhu terendah dimana
biodiesel dapat menyala. Titik nyala berhubungan langsung
dengan penyimpanan dan penanganan suatu bahan bakar
(Shreve, 1956). Titik nyala yang tinggi akan memudahkan
penyimpanan bahan bakar, karena bahan bakar tidak akan
mudah terbakar pada temperatur ruang. Namun titik nyala
yang rendah akan berbahaya dalam hal penyimpanannya
karena resiko penyalaan.
Bilangan setana menunjukkan kemampuan bahan
bakar untuk menyala sendiri. Bilangan setana yang tinggi
menunjukkan bahwa bahan bakar dapat menyala pada
temperatur yang relatif rendah dan sebaliknya bilangan
setana rendah menunjukkan bahan bakar baru dapat
menyala pada temperatur yang relatif tinggi (Shreve, 1956).
Secara umum bahan bakar biodiesel memiliki bilangan
setana yang lebih tinggi dibandingkan dengan solar.
Biodiesel pada umumnya memiliki rentang bilangan setana
dari 46-70, sedangkan bahan bakar diesel (solar) memiliki
bilangan setana antara 47-55 (Harahap, 2008).

Tabel 3.3 Sifat fisika dan Kimia Biodiesel Minyak Biji Nyamplung
Sifat fisika dan kimia
Standar SNI*
Nilai
% Yield
69
Densitas T=30C (g/mL)
0,85 0,89
0,90
Titik Nyala (C)
Min. 100
168
Viskositas Kinematik T=30C (cSt)
2,3 6
5,12
Bilangan Setana
Min. 51
74,6
Bilangan Asam (mg NaOH/g)
Maks. 0,8
0,29
Nilai Kalor (kal/g)
9062
*standar mutu biodiesel SNI-04-7182-2006
Pada penelitian ini nilai kalor ditentukan secara
eksperimen dan teori. Nilai kalor biodiesel minyak biji
nyamplung secara eksperimen ditentukan dengan
menggunakan bom kalorimeter IKA C-200 sesuai dengan
metode ASTM D240 sedangkan yang secara teori dihitung
menggunakan program HyperChem dengan metode semi
empiris. HyperChem merupakan program yang handal
dari pemodelan molekul yang telah diakui mudah
digunakan, fleksibel dan berkualitas. Dengan menggunakan
visualisasi dan animasi tiga dimensi hasil perhitungan
kimia kuantum, mekanika dan dinamika. molekular,
menjadikan HyperChem terasa sangat mudah digunakan
dibandingkan dengan program kimia kuantum yang lain
(Pranowo, 2006). Pada perhitungan ini digunakan metode
semi empiris dikarenakan metode semi empiris dapat
melakukan perhitungan pada molekul besar dan waktu
yang dibutuhkan lebih singkat. Kelebihan ini tidak dimiliki
oleh metode Ab initio (Gotwals dan Sendinger, 2007).
Biodiesel yang diukur kalornya tersebut merupakan
biodiesel yang pada proses esterifikasi menggunakan
persen berat katalis Al-MCM-41 yang optimum yaitu 0,3%.
Jika pada esterifikasi menggunakan persen berat katalis AlMCM-41 0,1% atau 0,5% yang tidak maksimal dalam
mengkonversi asam lemak bebas menjadi metil ester maka
kalor yang dihasilkan akan semakin kecil karena kadar
Prosiding KIMIA FMIPA - ITS

metil ester yang dihasilkan akan lebih rendah jika


dibandingkan dengan menggunakan 0,3%(b/b). Nilai kalor
teori biodiesel minyak biji nyamplung diperoleh yaitu
9856,43 kal/g sedangkan kalor eksperimen diperoleh
sebesar 9062 kal/g. Nilai kalor eksperimen biodiesel
minyak biji nyamplung lebih kecil dari pada nilai kalor
teorinya. Hal ini dikarenakan sampel biodiesel pada
penentuan kalor eksperimen berwujud cair sedangkan
penentuan kalor teori dengan program HyperChem
dalam wujud gas (Birczynska dan Rutkowska, 2000).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan
dapat disimpulkan bahwa :
1. Biodiesel dapat dibuat dari minyak biji nyamplung
melalui reaksi esterifikasi dua kali dengan bantuan
katalis
Al-MCM-41(Si/Al=17)
dan
reaksi
transesterifikasi dengan bantuan katalis KOH.
2. Jumlah katalis Al-MCM-41 (Si/Al=17) yang paling
optimum untuk reaksi esterifikasi yaitu 0,3% (b/b).
3. Sifat fisika dan kimia dari biodiesel minyak biji
nyamplung yang dihasilkan yaitu berwarna kuning
jernih dengan bau yang khas dan memiliki densitas

(T=30C) 0,90 g/mL, titik nyala 168C, viskositas


kinematik (T=30C) 5,12 cSt, bilangan setana 74,6 dan
bilangan asam 0,29 mg NaOH/g. Karakteristik biodiesel
minyak biji nyamplung yang dihasilkan sesuai dengan
standar mutu biodiesel SNI-04-7182-2006 kecuali
untuk densitas.
4. Nilai kalor pembakaran biodiesel minyak biji
nyamplung secara eksperimen dengan menggunakan
bom kalorimeter diperoleh sebesar 9062 kal/g,
sedangkan nilai kalor pembentukan secara teori yang
diperoleh dengan menggunakan komputasi kimia
program HyperChem dengan metode semi empiris
yaitu 9844,04 kal/g.
4.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai
penggunaan kromatografi gas yang dapat menganalisa
trigliserida sehingga dapat diketahui trigliserida yang
tidak bereaksi pada reaksi transesterifikasi.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk penentuan
kalor pembentukan biodiesel minyak biji nyamplung
dengan menggunakan metode Ab-Initio sebagai
pembanding metode semi empiris.
UCAPAN TERIMA KASIH
1. Ir. Endang Purwanti S.,MT, selaku dosen pembimbing
yang telah berkenan memberikan bimbingan dan saran
2. Drs. Hendro Juwono M.Si , selaku mantan dosen wali
yang telah berkenan memberikan bimbingan, motivasi,
saran dan nasehat-nasehat
3. Drs. Muhammad Nadjib,M.S selaku dosen wali atas
semua nasehat dan kemudahan dalam proses akademik
4. Lukman Atmaja, Ph.D, selaku Ketua Jurusan Kimia
FMIPA-ITS
5. Dra. Yulfi Zetra, MS. selaku koordinator Tugas Akhir
Program S1
6. Ayah, ibu dan kakak-adik yang telah memberikan
dukungan penuh selama mengerjakan Skripsi ini
7. Teman-teman angkatan 2007 Kimia ITS (terutama
Ndaru C.S. dan Muhibbudin Abbas) serta semua pihak
yang telah membantu terselesaikannya Skripsi ini.
Daftar Pustaka
Andyna, JY Nurin, (2009), Pembuatan Biodiesel dari
Minyak Biji Nyamplung (Caliphyllum Inophyllum),
Program studi kimia, FMIPA, ITB, Bandung
Bhattachrrya. et al., (2001), Acetylation of Phenol with AlMCM-41, Catalysis Communication., Vol.2. hal.
105-111
Birczynska, A. Weselucha., Rutkowska, M. Ciechanowicz.,
(2000), Experimental and Calculated Structure of
Vibrational Spectra of Cinchonine, Journal of
Molecular Structure 555 vol. 391395
Bustomi, Sofyan, dkk.,(2008), Nyamplung (Calophyllum
Inophy Llum L.)Sumber Energi Biofuel Yang
Potensial, Badan Litbang Kehutanan, Jakarta
Carmo. et al., (2009), Production of biodiesel by
esterification of palmitic acid over mesopori
Prosiding KIMIA FMIPA - ITS

aluminosilicate Al-MCM-41, Fuel. Vol. 88. hal.


461-468
Crane, Sylvie et al, (2005), Composition of fatty acids
triacylglycerols and unsaponifiable matter in
Calophyllum calaba L. oil from Guadeloupe,
Phytochemistry, vol.66, hal.1825 1831
Gotwals, Robert, R., dan Sendinger, Shawn, C.,(2007), A
Chemistry Educators Guide to Molecular
Modeling, The North Carolina School of Science
and Mathematics
Harahap, Hendar, (2008), Optimasi Transesterifikasi
Refinery Bleached Deodorized Palm Oil Menjadi
Metil Ester Menggunakan Katalis Lithium
Hidroksida, Sekolah Pasca Sarjan, Universitas
Sumatera Utara, Medan
Jermy, BR., Pandurangan, A., (2005), Catalytic Application
of Al-MCM-41 in The Esterification of Acetic Acid
with Various Alcohols, Applied Catalysis A:
General 288, hal 2533
Jitputti,J ,et al, (2006), Transesterification of crude palm
kernel oil and crude coconut oil by different solid
catalysts, Chemical Engineering Journal vol.116
page 6166
Knothe, G, et al. (2005), The Biodiesel Handbook,
Champaign, illnois, AOCS Press
Ma, Fangrui; Hanna, M.,(1999), Biodiesel Production: A
Review, Bioresource Technology, 70:11-15
Marchetti, J.M, Errazu,A.F., (2008). Technoeconomic study
of supercritical biodiesel production plant
Morales, et al.,(2101), Zirconium doped MCM-41
supported WO3 solid acid catalysts for the
esterification of oleic acid with methanol, Applied
Catalysis A: General 379, hal. 6168
Pranowo, Harno D., (2006), Kimia Komputasi, Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta
Pryde, E.H., (1983), Vegetable oil as diesel fuel :
Overview. JAOCS 60, 15571558
Ramadhas, A.S., Mulareedharan, C., Jayaraj, S., (2005),
Performance and emission evaluation of a diesel
engine fueled with methyls esters of rubber seed oil,
Renewable Energy, 30, 1789 1800
Sahoo, P.K., Das, L.M., (2009), Process Optimization for
Biodiesel Production from Jatropha, Karanja and
Polanga Oils, Fuel 88 Hal 15881594
SathyaSelvabala, V., Selvaraj, DK., Kalimuthu J.,
Periyaraman PM., Subramanian, S., (2011), TwoStep Biodiesel Production from Calophyllum
Inophyllum Oil: Optimization of Modified -Zeolite

Catalyzed Pre-Treatment, Bioresource Technology


102, hal 10661072
Shreve, R.N. (1956), Chemical engineering series, The
chemical process industries. 2nd eds, New York,
Toronto, London
Shu, et al., (2010), Synthesis of biodiesel from a model
waste oil feedstock using a carbon-based solid acid
catalyst: Reaction and separation, Bioresource
Technology 101, hal. 53745384
Singh SP, Singh D.( 2009), Biodiesel Production Through
The Use Of Different Sources And Characterization
Of Oils And Their Esters As The Substitute Of
Diesel: a review. Renewable and Sustainable
Energy Reviews 14:20016
Vyas, AP., Subrahmanyam N., Patel, PA., (2009),
Production
Of
Biodiesel
Through
Transesterification of Jatropha Oil Using
KNO3/Al2O3 Solid Catalyst, Fuel 88, 625628

Prosiding KIMIA FMIPA - ITS