You are on page 1of 29

KESUKSESAN DAN KEGAGALAN IMPLEMENTASI ENTERPRISE

RESOURCE PLANNING (ERP) PADA PERUSAHAAN DAN CONTOH


STUDI KASUS

Sistem Informasi Manajemen


Dosen: Dr. Ir. Arif Imam Suroso, Msc

SHANDRA WIDIYANTI (PO56132542.48E)

PROGRAM PASCASARJANA MANAJEMEN DAN BISNIS


INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2013

DAFTAR ISI

BAB I Pendahuluan ..................................................................................................................1


1.1 Latar Belakang ..................................................................................................................1
1.4 Tujuan Penulisan ...............................................................................................................3

BAB II Tinjauan Pustaka ..........................................................................................................4


2.1 Sistem Informasi Manajemen ..........................................................................................4
2.2 Enterprise Resource Planning (ERP) ..............................................................................6
2.2.1. Defenisi ERP dan Implementasi ERP ........................................................................6
2.2.2. ERP Critical Success Factor & terhadap Implementasi ERP......................................8
2.2.3. Faktor Faktor Penyebab Kegagalan Dalam Implementasi ERP ..............................9
BAB III Pembahasan
3.1. Studi Kasus Implementasi ERP yang sukses (PT Bentoel Prima)...............................13
3.2. Studi Kasus Implementasi ERP yang gagal.................................................................20

BAB IV Kesimpulan dan Saran...............................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................26

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Konsep Dasar ERP ...................................................................................................7


Gambar 2. Gambar 2. PT. Bentoel Prima ISBP (Information System & Business Process)...16
Gambar 3. SAP Core Moduls (modul utama pada system ERP).............................................17
Gambar 4. Be-One ERP System........................................................................................... ..18
Gambar 5. Grafik Peningkatan Revenue Tahun 2008........................................................... ..19
Gambar 6. Grafik Peningkatan Product Volume Tahun 2008.................................................19

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Konsep ERP adalah sebuah sistem yang mengintegrasikan proses setiap line dalam
manajemen perusahaan secara transparasi dan memiliki akuntabilitas yang cukup tinggi.
Untuk memasuki pasar internasional, ERP merupakan salah satu yang menjadi pra-syarat
dasar bagi perusahaan. Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang, dimana
basis perekonomiannya bertumpu di bidang bisnis, makaefisiensi menjadi salah satu faktor
yang cukup penting dalam setiap perusahaan. Pada kenyataannya, masih didapati
banyak perusahaan berskala besar yang masih kurang efisien contohnya saja
dalam penerapan ERP yang merupakan salah satu cara untuk meningkatkan
efisiensi perusahaan. Jika dilihat dari kondisi perusahaan-perusahaan di Indonesia, banyak
perusahaan besar yang belum cukup optimal dalam mengintegrasikansetiap proses dalam
perusahaan tersebut ke dalam suatu sistem komputerisasi. Terlebih lagi pada perusahaanperusahaan yang lebih kecil, pengimplementasian ERP terasa sulit untuk diaplikasikan
bahkan pemikiran untuk menerapkan sistem yang terintegrasi tersebut seolah-olah
masih menjadi suatu hal yang baru. Oleh karena itu, dalam paper ini akan dilakukan
observasi untuk menganalisadan mengevaluasi mengenai penerapan ERP di
perusahaan-perusahaan yang saat ini telah menggunakan sistem ERP dalam
perusahaannya. Dari paper ini diharapkan dapat memberi gambaran dan masukan bagi
perusahaan-perusahaan yang belum menerapkan ERP untuk mengenal sistem yang
terintegrasi dan keuntungan yang diperoleh dalam pengimplementasian ERP. Selain
itu dari paper ini diharapkan dapat memberi evaluasi yang cukup berguna bagi
perusahaan yang telah mengimplementasikan ERP serta memberikan informasi
yang cukup penting mengenai pengaruh ERP terhadap efisiensidalam sistem di perusahaan.
Pada suatu organisasi yang kompleks dengan banyak departemen yang menjalankan
fungsi dan objekttif masing-masing, kerap kali terjadi bias informasi.persepsi dan
pengambilan keputusan antara satu unit departemen dengan unit yang lain.ERP merupakan
sebuah konsep, teknik, ataupun metode guna mengintegrasikan seluruhdepartemen dan fungsi
suatu perusahaan ke dalam suatu sistem automasi keseluruhan proses bisnis guna
meningkatkan efektivitas dan efisiensi perusahaan. Manfaat dari ERP ini adalah integrasi
bisnis secara keseluruhan, fleksibilitias dalam organisasi untuk bertransfomasi dan
meningkatkan turn-overnya, menciptakan analisa dan peningkatankapabilitas yang lebih baik,
serta penggunaan teknologi terbaru.
Pada ERP sendiri terjadi perubahan paradigma dari sistem konvensional yang serba
terisolasi ke arah penggunaan informasi teknologi yang lebih terintegrasi menghasilkan aliran
informasi yang lebih lancar pada level organisasional maupun departemental. Untuk
melakukan implementasi ERP yang sukses, ERP sebenarnya bertujuan menyatukan semua
department/divisi dan seluruh fungsi dalam perusahaan anda menjadi sebuah perusahaan
yang mampu dipantau melalui sistem terkomputerisasi dan terlayani dengan sebuah sistem
yang meminimalkan biaya dengan efisiensi proses yang terkomputerisasi.

1
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

Sebuah implementasi ERP, meskipun pada ideal-nya akan membantu dalam


mendapatkan informasi planning/perencanaan dan fungsi advance (lanjut) yang dapat
mempridiksi apapun, tentunya-memiliki syarat untuk sampai pada titik ideal tersebut. Ketika
melakukan implementasi penting untuk mengerti bahwa akan ada efek baik yang positif
maupun kurang menyenangkan bagi pengguna dan perusahaan, sehingga yang terbaik yang
bisa dilakukan adalah merancang implementasi sebaik mungkin untuk mengurangi side effect
yang kurang menguntungkan. Adalah penting untuk mengerti bahwa masing-masing
perusahaan memiliki keunikan dalam melakukan implementasi ERP, namun hal terbaik yang
bisa dilakukan adalah impelementasi secara bertahap berdasarkan kebutuhan dasar dan
kemampuan perusahaan, termasuk budget dan kemampuan SDM, atau jika perusahaan benarbenar mempertimbangkan merombak keseluruhan proses bisnis, maka cara big bang atau
full modul implement secara berkesinambungan.
Ketika perusahaan menganggarkan sejumlah dana untuk mengimplementasikan ERP,
penting untuk melakukan pemilihan terhadap ERP yang paling cocok dengan kebutuhan
perusahaan. Lebih penting lagi adalah keputusan, apakah perusahaan mampu
mengimplementasikannya sendiri, atau menggunakan jasa konsultan yang sudah
berpengalaman menerapkan implementasi ERP.
Ada faktor-faktor keberhasilan dan faktor-faktor kegagalan antara lain : pertama,
kemampuan untuk mempersingkat bisnis proses atau operasi sehingga kustomisasi berkurang
pada perusahaan; kedua, keberhasilan tim proyek yang didukung oleh manajemen, konsultan
dan vendor; ketiga, adanya pelatihan yang berkelanjutan saat implementasi ERP pada
perusahaan; keempat, menyesuaikan budaya organisasi yang sama untuk menghindari caracara tersendiri dalam mengerjakan hal-hal dan setiap fungsi/departemen beroperasi dengan
prosedur berbeda dan ketentuan bisnis berbeda, maka perlu dilakukan wadah untuk sharing
knowledge ERP pada perusahaan. Kelima, merencanakan biaya pada saat implementasi dan
pengembangan ERP untuk menghindari pemakaian biaya yang melebihi dari kemampuan
perusahaan. Keenam, pengujian sistem yang terbukti untuk jadi unsur sukses bagi beberapa
perusahaan dan penyebab langsung kegagalan implementasi ERP pada perusahaan
Karena itu, kualifikasi yang diperlukan untuk implementasi ERP dapat sukses adalah:
1. Flexibility, untuk mendukung keunikan business process perusahaan, penting untuk
memilih ERP yang paling dekat dengan solusi yang dibutuhkan di perusahaan, namun
juga tidak kehilangan flexibilitas untuk mengakomodasi kebutuhan perusahaan.
2. Open System, jika perusahaan telah memiliki data pada system sebelumnya, dan
menginginkan data tersebut akan dimasukan ke dalam ERP anda yang baru, maka,
ERP yang akan diimplementasikan penting memiliki kemampuan untuk melakukan
proses import data tersebut. Jika terlalu banyak software pihak ketiga yang harus
perusahaan harus membeli sebagai tambahan proses import tersebut, maka ERP
tersebut semakin tidak open dan akan berpotensi menyulitkan perusahaan di depan,
semisal perusahaan mengganti ERP, sementara ERP sebelumnya tidak memiliki
kemampuan Export data dari ERP lama.
3. Best Business Practises, otak dari semua ERP adalah Best Practises yang dibawa
sesuai dengan business process dari jenis business perusahaan, semakin banyak
sertifikasi yang diterima dan diakui dunia, semakin baiklah software tersebut.
4. Standard & Minimum Customization, semakin plug and play ERP perusahaan,
semakin standard jenis ERP tersebut, namun semakin banyak customization yang
2
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

harus dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan ERP perusahaan, semakin sulitlah


ERP tersebut dan mempunyai kemungkinan berhasil cepat.
5. Mampu melakukan End to End integration demo, simak dengan baik proses mulai
dari ujung yang satu ke ujung yang lain, apakah informasi tersebut tidak terputus,
membutuhkan proses re-entry ulang atau tidak terintegrasi dengan modul lainnya?

1.2. Tujuan Penulisan


Penulisan Makalah ini bertujuan untuk :
1. Menjelaskan secara umum faktor-faktor yang menyebabkan kesuksesan atau kegagalan
dalam implementasi sistem Enterprise Resource Planning (ERP)
2. Memberikan contoh studi kasus implementasi ERP pada PT Bentoel Prima dan perusahaan
yang gagal mengimplementasikan ERP serta kendala yang terjadi pada saat penerapan
ERP

3
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sistem Informasi Manajemen


Menurut Turban, McLean, dan Wetherbe (1999) Sistem informasi adalah sebuah
sistem informasi yang mempunyai fungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan,
menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan yang spesifik.
Menurut Bodnar dan HopWood (1993) Sistem informasi adalah kumpulan perangkat
keras dan lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi
yang berguna.
Menurut Alter (1992) Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja,
informasi, orang, dan teknologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam
sebuah perusahaan.
Menurut Ferdinand Magaline, suatu sistem pada dasarnya adalah sekolompok unsur
yang erat hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai
tujuan tertentu.Secara sederhana, suatu sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau
himpunan dari unsur, komponen, atau variabel yang terorganisir, saling berinteraksi, saling
tergantung satu sama lain, dan terpadu. Dari defenisi ini dapat dirinci lebih lanjut pengertian
sistem secara umum, yaitu
a. Setiap sistem terdiri dari unsur-unsur
b.
Unsur-unsur tersebut merupakan bagian terpadu sistem yang bersangkutan.
c. Unsur sistem tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan sistem.
d.
Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar.
Secara umum informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam
suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan
suatu kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Informasi
merupakan data yang telah diklasifikasikan atau diolah atau diinterpretasi untuk digunakan
dalam proses pengabilan keputusan.
Sistem informasi adalah suatu sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukan
kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang
bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu organisasi untuk dapat menyediakan
kepada pihak luar tertentu dengan informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan.
Sistem informasi dalam suatu organisasi dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang
menyediakan informasi bagi semua tingkatan dalam organisasi tersebut kapan saja
diperlukan. Sistem ini menyimpan, mengambil, mengubah, mengolah dan
mengkomunikasikan informasi yang diterima dengan menggunakan sistem informasi atau
peralatan sistem lainnya.
Secara umum informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam
suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan
suatu kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan.
4
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

Sumber dari informasi adalah data. Data adalah kenyataan yang menggambarkan
suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata. Kejadian-kejadian adalah sesuatu yang terjadi
pada saat tertentu. Di dalam dunia bisnis, kejadian-kejadian yang sering terjadi adalah
transaksi perubahan dari suatu nilai yang disebut transaksi. Kesatuan nyata adalah berupa
suatu obyek nyata seperti tempat, benda dan orang yang betul-betul ada dan terjadi.
Data merupakan bentuk yang masih mentah, belum dapat bercerita banyak sehingga
perlu diolah lebih lanjut. Data diolah melalui suatu metode untuk menghasilkan informasi.
Data dapat berbentuk simbol-simbol semacam huruf, angka, bentuk suara, sinyak, gambar,
dsb.
Data yang diolah melalui suatu model menjadi informasi, penerima kemudian
menerima informasi tersebut, membuat suatu keputusan dan melakukan tindakan, yang
berarti menghasilkan suatu tindakan yang lain yang akan membuat sejumlah data kembali.
Data tersebut akan ditangkap sabagai input, diproses kembali lewat suatu model dan
seterusnya membentuk suatu siklus.
Menurut Barry E.Cushing, SIM adalah Suatu sistem informasi manajemen adalah
Kumpulan dari manusia dan sumber daya modal di dalam suatu organisasi yang bertanggung
jawab mengumpulkan dan mengolah data untuk mengahasilkan informasi yang berguna
untuk semua tingkatan manajemen di dalam kegiatan perencanaan dan pengendalian.
(Jogiyanto,2005,14).
Menurut Frederick H.Wu SIM adalah Sistem Informasi Manajemen adalah kumpulankumpulan dari sistem-sistem yang menyediakan informasi untuk mendukung manajemen.
(Jogiyanto,2005,14).
Menurut Gordon B.Davis (1985) SIM adalah Sistem Informasi Manajemen adalah
Suatu serapan teknologi baru kepada persoalan keorganisasian dalam pengolahan transaksi
dan pemberian informasi bagi kepentingan keorganisasian.
Menurut George M.Scott, dalam buku Prinsip-prinsip SIM adalah Sistem Informasi
Manajemen adalah serangkaian Sub-sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan
secara rasional terpadu yang mampu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi
informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya
dan sifat manajer atas dasar criteria mutu yang telah ditetapkan.
Dari ruang lingkup di atas, beberapa ahli telah memberikan rumusan tentang sistem
informasi manajemen, antara lain :
1. SIM adalah pengembagan dan penggunaan sistem-sistem informasi yang efektif dalam
organisasi-organisasi (Kroenke, David, 1989)
2. SIM didefinisikan sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi
bagi beberapa pemakai yang mempunyai kebutuhan yang serupa. Informasi menjelaskan
perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang telah terjadi di masa lalu,
apa yang sedang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa depan. Informasi
tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan output dari simulasi
5
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

matematika. Informasi digunakan oleh pengelola maupun staf lainnya pada saat mereka
membuat keputusan untuk memecahkan masalah (Mc. Leod, 1995)
3. SIM merupakan metode formal yang menyediakan informasi yag akurat dan tepat waktu
kepada manajemen untuk mempermudah proses pengambilan keputusan dan membuat
organisasi dapat melakukan fungsi perencanaan , operasi secara efektif dan pengendalian
(Stoner, 1996)
Dari definisi-definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa Sistem Informasi
Manajemen adalah suatu sistem yang dirancang untuk menyediakan informasi guna
mendukung pengambilan keputusan pada kegiatan manajemen dalam suatu organisasi.
Atau bisa dijabarkan bahwa Sistem Informasi Manajemen adalah serangkaian sub sistem
informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu
mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan
produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah
ditetapkan.
2.2. Enterprise Resource Planning (ERP)
2.2.1. Defenisi ERP dan Implementasi ERP
Pengertian ERP atau Enterprise Resources Planning, memiliki banyak versi. Berikut ini
merupakan beberapa pengertian tentang Enterprise Resources Planning. Diantaranya :
ERP adalah suatu proses perencanaan bisnis terintegrasi beserta eksekusinya guna
mencapai fungsi-fungsi dari proses bisnis itu. ERP mengelola operasi dan fungsifungsi pendukung dari industri manufaktur dengan harus memperhatikan sumbersumber daya kritis dari perusahaan.
ERP adalah suatu tulang punggung lintas fungsi perusahaan yang mengintegrasikan
dan mengotomatisasikan banyak proses interal dan sistem informasi dalam hal fungsi
produksi, logistik, distribusi, akutansi, keuangan dan sumber daya manusia pada
perusahaan.( OBrien, 2006)
ERP adalah sebuah konsep untuk merencanakan dan mengelola sumber daya
perusahaan meliputi dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan
kapasitas yang berpengaruh luas mulai dari manajemen paling atas hingga operasional
di sebuah perusahaan agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan
nilai tambah bagi seluruh pihak yang berkepentingan (stake holder) atas perusahaan
tersebut.
ERP adalah tulang punggung teknologi dari e-bisnis, sebuah kerangka kerja transaksi
keseluruhan perusahaan dengan berbagai hubungan pemrosesan pesanan penjualan,
manajemen dan pengendalian persediaan, perencanaan produksi dan distribusi serta
keuangan.
Enterprise Resources Planning (ERP) adalah sebuah sistem yang membantu untuk
mengatur proses bisnis dalam suatu kesatuan yang terintegrasi seperti marketting, produksi,
pembelian dan accounting dan menyimpan semua transaksi dalam suatu database yang
6
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

digunakan perusahaan serta menyediakan manajemen reporting tools.(Brady, Monk dan


Wagner 2001).
Konsep dasar ERP
1.

2.

Perencanaan sumber daya perusahaan, atau sering disingkat ERP dari istilah bahasa
Inggrisnya, enterprise resource planning, adalah sistem informasi yang diperuntukkan
bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan
mengotomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi
maupun distribusi di perusahaan bersangkutan.
ERP sering disebut sebagai Back Office System yang mengindikasikan bahwa pelanggan
dan publik secara umum tidak dilibatkan dalam sistem ini. Berbeda dengan Front Office
System yang langsung berurusan dengan pelanggan seperti sistem untuk e-Commerce,
Customer Relationship Management (CRM), e-Government dan lain-lain.

GAMBAR I. KONSEP DASAR ERP

Sistem ERP adalah solusi bisnis yang terintegrasi bagi perusahaan untuk mencapai sasaran
bersaing yang kuat dengan kompetitor. Sistem ERP memungkinkan perusahaan untuk
mengintegrasikan fungsi-fungsi bisnis ke dalam proses bisnis yang unified dan terintegrasi.
Bagi perusahaan yang mengimplementasikan sistem ERP, masalah yang sulit dan besar
dihadapi adalah mengintegrasikan sistem yang terpisah-pisah diperusahaan, berpindah area
fungsional yang terpisah menjadi sebuah sistem komputer yang dapat melayani kebutuhan
antar departemen yang berbeda (Ethie dan Madsen, (2005) dalam Amaranti (2006).
Sayangnya, kebanyakan implementasi sistem ERP tidak dapat memenuhi harapan.
Banyak perusahaan yang telah mengeluarkan biaya besar untuk implementasi sistem ERP
akan tetapi tidak berhasil memperoleh manfaat dan keuntungan dari implementasi sistem
ERP tersebut. Kegagalan dalam implementasi sistem ERP pada dasarnya bukan terletak pada
kesalahan instalasi software tapi sebagianbesar disebabkan oleh kesalahan yang dilakukan
perusahaan untuk menentukan sistem yang tepat untuk menyelesaikan masalah bisnis dan
kebutuhan yang sebenarnya (Brynjolfsson, et.al, 1993 dalam Amaranti (2006)). Hal lain yang
menyebabkan tidak diperolehnya manfaat dan keuntungan darisistem ERP adalah adanya
7
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

keengganan dan penolakan dari user dan ketidakmampuan perusahaan-perusahaan untuk


menentukan perubahan pada desain dan struktur organisasi sesuai dengan manfaat teknologi
yang dipilih (Ethie dan Madsen, 2005 dalam Amaranti, 2006).
Penggunaan sistem ERP adalah keharusan bagi user atau sering disebut sebagai
penggunaan
yang bersifat mandatory. Keengganan atau penolakan user untuk mengadopsi atau
menggunakan sistem baru (sistem ERP) adalah salah satu alasan kegagalan implementasi
yang harus diperhatikan perusahaan (Barker & Frolick, 2003; Krasner, 2000; Scott & Vessey,
2002; Umble & Umble, 2002; Wah, 2000 dalam Nah et al, (2004)). Kurangnya penerimaan
User tersebut dapat menyebabkan user hanya sekedar terpaksa menggunakan dan tanpa
diimbangi dengan penggunaan yang handal pada sistem ERP. Selain itu juga dapat
menyebabkan masalah ketidakpuasan bagi user terhadap sistem ERP.
Beberapa literatur review yang mengkaji penerimaan user pada sistem implementasi
sistem ERP adalah sedikit dan belum ada yang memasukkan pengaruh variabel yang
berkaitan dengan konteks individu dan organisasi untuk mengkaji penerimaan end-user pada
sistem ERP.
2.3.2. ERP Critical Success Factor & terhadap Implementasi ERP
Critical Success Factor (CSF) merupakan suatu parameter pengukuran dalam
mengukurkinerja dari suatu fungsi ERP dalam perusahaan. Asumsi yang
dipergunakan adalah bahwa fungsi ERP yang dikembangkan oleh perusahaan secara
otodidak sendiri tanpamelibatkan konsultan ataupun pihak ketiga tetap dianggap sebagai
aplikasi ERP.Berdasarkan metode CSF (Critical Success Factor ), faktor-faktor
kesuksesan dalam ERP dibagi menjadi 5 kelompok yaitu:
1 Management/organisasi;meliputi komitmen, edukasi, keterlibatan, pemilihan
tim, pelatihan, serta peran dan tanggung jawab.
2. Proses; meliputi ; alignment , dokumentasi, integrasi, dan re-desain proses.
3. Teknologi; meliputi : hardware, software, manajemen sistem, dan interface.
4. Data; meliputi ;file utama, file transaksi, struktur data, dan maintenance dan integrasi data.
5. Personel; meliputi ; edukasi, pelatihan, pengembangan skill, dan pengembangan
pengetahuan.
Turbit (2005) menyatakan bahwa kunci kesuksesan dalam implementasi ERP adalah :
1.

Manajemen perubahan yang baik. Manajemen perubahan sangat diperlukan untuk


memberikan pendidikan kepada user yang akan bersentuhan langsung dengan sistem
yang baru. Secara praktek, untuk mengelola perubahan-perubahan tersebut perusahaan
dapat mengadopsi beberapa metode yang ada diantaranya Change Acceleration Project
(CAP) atau model yang diusulkan oleh Aladwani (2001). Dari penjelasan pada sub bab
implementasi ERP dapat dilihat bahwa perusahaan tersebut telah mengelola perubahanperubahan dengan cukup baik, terbukti dengan dilakukannya aktivitas berikut :

2.

Mengelola perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat implementasi dengan


mengadopsi CAP.

3.

Melakukan pendekatan-pendekatan kepada departemen yang akan diimplementasi untuk


mendapatkan komitmen. Komitmen ini sangat penting untuk meyakinkan bahwa mereka
akan menggunakan dan mendukung sistem ERP. Disamping itu pendekatan kepada
departemen dilakukan untuk mengatasi kendala politis yang diakibatkan ketakutan akan
kehilangan pekerjaan, keraguan akan manfaat dari implementasi sistem tersebut dan
8
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

sebagainya.
Aktivitas Dalam Pemilihan ERP
1. Analisa Strategi Usaha

Bagaimana level kompetisi di pasar dan apa harapan dari customers?

Adakah keuntungan kompetitif yang ingin dicapai?

Apa strategi bisnis perusahaan dan objectives yang ingin dicapai?

Bagaimana proses bisnis yang sekarang berjalan vs proses bisnis yang diinginkan?

Adakah proses bisnis yang harus diperbaiki?

Apa dan bagaimana prioritas bisnis yang ada dan adakah rencana kerja yang disusun
untuk mencapai objektif dan prioritas tersebut?

Target bisnis seperti apa yang harus dicapai dan kapan?

2. Analisa Sumberdaya Manusia

Bagaimana komitment top management thd usaha untuk implementasi ERP?

Siapa yg akan mengimplementasikan ERP dan siapa yg akan menggunakannya?

Bagaimana komitmen dari tim implementasi?

Apa yg diharapkan para calon user thd ERP?

Adakah ERP champion yg menghubungkan top management dgn tim?

Adakah konsultan dari luar yg disiapkan untuk membantu proses persiapan?

3. Analisa Infrastruktur

Bagaimanakah kelengkapan infrastruktur yang sudah ada (overall networks,


permanent office systems, communication system dan auxiliary system)

Seberapa besar budget untuk infrastruktur?

Apa infrastruktur yang harus disiapkan?

Analisa Perangkat Lunak

Apakah perangkat lunak tersebut cukup fleksibel dan mudah disesuaikan dengan
kondisi perusahaan?

Apakah ada dukungan layanan dari penyedia, tidak hanya secara teknis tapi juga
untuk kebutuhan pengembangan sistem di kemudian hari

Seberapa banyak waktu untuk implementasi yang tersedia

Apakah perabgkat lunak memiliki fungsi yang bisa meningkatkan proses bisnis
perusahaan

2.2.3. Faktor Faktor Penyebab Kegagalan Dalam Implementasi ERP


9
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

Beberapa penyebab kegagalan implementasi ERP adalah :


1. Manajemen perubahan dan training. Kesulitan terletak pada perubahan praktek pekerjaan
yang dilakukan. Training yang melibatkan banyak modul harus dilaksanakan seawal
mungkin.
2. To BPR* or not to BPR. Perusahaan harus memilih antara merubah bisnis proses untuk
menyesuaikan sistem atau sebaliknya, dengan implikasi berupa biaya dan waktu untuk
merubah sistem. (* Business Process Reengineering)
3. Perencanaan yang buruk. Perencanaan harus mencakup beberapa area seperti hal-hal
bisnis dan ketersediaan user untuk membuat keputusan pada konfigurasi sistem.
4. Meremehkan keahlian IT. Implementasi ERP membutuhkan keahlian staff ditingkatkan
dengan baik.
5. Manajemen proyek yang buruk. Hanya sedikit organisasi yang mengimplementasi ERP
tanpa melibatkan konsultan. Namun sering kali konsultan melakukan perbuatan yang
merugikan kliennya dengan tidak membagi tanggung jawab.
6. Percobaan-percobaan teknologi. Usaha-usaha untuk membangun interface, merubah
laporan-laporan, menyesuaikan software dan merubah data biasanya diremehkan.
7. Rendahnya keterlibatan Eksekutif. Implementasi membutuhkan keterlibatan eksekutif
senior untuk memastikan adaya partisipasi yang terdiri dari bisnis dan IT dan membantu
penyelesaian konflik-konflik.
8. Meremehkan sumber daya. Sebagian besar budget melebihi target terutama untuk
manajemen perubahan dan training user, pengujian integrasi, proses-proses pengerjaan
ulang, kustomisasi laporan dan biaya konsultan.
9. Evaluasi software yang tidak mencukupi.Organisasi biasanya tidak cukup memahami
apa dan bagaimana software ERP bekerja sampai mereka sepakat untuk membeli. Untuk
mengatasi tersebut ada dua cara yang disarankan oleh Turbit (2005) yaitu melakukan
perubahan budaya dan manajemen perubahan yang baik.
10. Beberapa perubahan budaya yang harus dilakukan organisasi diantaranya :
o Karyawan / user harus merubah fokus dari pekerjaan milik saya menjadi pekerjaan
keseluruhan organisasi.
o Perubahan budaya biasanya memerlukan waktu beberapa waktu.
o Perubahan dari sistem lama yang mempunyai fleksibilitas tinggi (misal dalam
pengambilan keputusan) dan tidak menaruh perhatian pada konsistensi menjadi sistem
baru yang menaruh perhatian pada konsistensi.
Sedangkan literatur-literatur yang membahas mengenai manajemen perubahan dalam
implementasi ERP juga sudah cukup banyak diantaranya Aladwani (2001). Membuat sebuah
kerangka konseptual dan model untuk mengelola perubahan-perubahan dalam implementasi
ERP.
Parr and Shanks (2000) mengatakan bahwa alasan mengapa implementasi ERP gagal yaitu :
1. Strategi operasi tidak mendorong perencanaan dan pengembangan bisnis proses.
2. Waktu implementasi lebih lama dari yang diharapkan.
3. Aktivitas persiapan pra-implementasi tidak berjalan dengan baik.
4. Orang tidak dipersiapkan dengan baik untuk menerima dan mengoperasikan sistem baru.
5. Biaya implementasi lebih besar daripada yang diantisipasi.
10
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

6.
7.

8.

9.

Komitmen manajemen agar implementasi berhasil sehingga yang dipertimbangkan tidak


lagi apakah Software tersebut yang The Best.
Proses mapping dilakukan karena bisnis proses curent dan to be. Tahap selanjutnya yang
dilakukan adalah mengkaji efek dalam jangka panjang dan pendek terhadap pemilihan
bisnis proses yang akan dipakai.
Perubahan bisnis proses dan implementasi ERP menyebabkan perubahan-perubahan
dalam struktur organisasi berupa bertambahnya job discription dan unit-unit kerja baru
yang berfungsi untuk mendukung implementasi ERP.
Aplikasi Change Management untuk mengelola perubahan-perubahan yang terjadi
dengan adanya implementasi ERP.

Beberapa kendala yang dihadapi dalam implementasi dikategorikan menjadi 3 aspek :


1. Teknis, Diantaranya masalah bahasa dan perubahan dari model hard copy menjadi model
display.
o Penggunaan Software ERP menuntut terminologi istilah yang sama sehingga istilahistilah dalam produksi, penjualan, dll yang digunakan harus dirubah sesuai istilahistilah dalam ERP yang berbahasa Inggris.
o Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pihak manajemen secara tradisional
dilakukan dengan menggunakan model hard copy dimana Manajer menandatangani
tumpukan kertas yang dimejanya dipaksa untuk membuka komputer karena proses
Approval dilakukan melalui media tersebut (model display).
2. Budaya, Implementasi ERP yang berbasis penggunaan teknologi menuntut perubahanperubahan yang harus dilakukan karyawan diantaranya harus aware terhadap
penggunaan software tersebut (sebagai contoh selalu update data).
3. Politik, Kendala yang menghambat implementasi berasal dari dalam tubuh departemen
IT sendiri dan dari luar departemen.
o Sebagian besar karyawan IT merasa pekerjaannya akan hilang karena digantikan oleh
sistem tersebut. Hal ini dikarenakan sebelum penerapan sistem ERP, bagian IT inilah
yang bertanggung jawab untuk membuat aplikasi-aplikasi sesuai dengan kebutuhan
user disemua departemen. Beberapa karyawan di luar departemen IT juga merasa
terancam dengan berkurangnya kekuasaan karena sebagian pekerjaan akan dilakukan
oleh software ERP.
o Dengan alasan politis tertentu, beberapa unit kerja yang sebenarnya bisa dihapus tidak
dapat dilakukan.
o Keengganan user atau karyawan departemen lain pada saat diimplementasikan
software karena adanya unsur ketidakpercayaan terhadap departemen IT.
Ketidakpercayaan tersebut timbul karena ketakutan bahwa data-data atau laporanlaporan rahasia mereka akan diketahui oleh bagian IT selaku administrator.

Menurut Turbit (2005), salah satu penyebab kegagalan implementasi ERP adalah :
1. Bisnis Proses.
Dengan menerapkan ERP, maka perusahaan harus memilih antara merubah bisnis proses
yang dimilikinya untuk menyesuaikan dengan sistem ERP atau sebaliknya. Agar dapat
memilih, perusahaan yang akan mengimplementasikan ERP tentunya harus sudah
11
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

mempunyai bisnis proses sehingga dapat membandingkan dengan bisnis proses dari
sistem ERP. Dari perbandingan tersebut, jika bisnis proses yang dimiliki perusahaan
sudah matang maka tidak banyak perubahan yang dilakukan.
2. Dengan implementasi ERP maka diperlukan perubahan-perubahan budaya organisasi
terutama dikaitkan dengan cara bekerja.
Beberapa contoh perubahan yang ada diantaranya adalah proses approval dari model
hardcopy menjadi model display sehingga menuntut manajer tidak gaptek dengan
teknologi. Perubahan yang lain misalnya karyawan dituntut terus menerus untuk
mengupdate data karena informasinya diberikan oleh sistem ini harus bersifat real time.
Dengan berjalannya waktu ternyata semua pihak dapat melakukan perubahan budaya
organisasi sehingga user lebih siap dalam mengoperasikan sistem yang baru.

12
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Studi Kasus Implementasi ERP yang sukses (PT Bentoel Prima)
3.1.1. Latar Belakang Implementasi ERP pada PT. Bentoel Prima
Perseroan didirikan dengan nama PT Rimba Niaga Idola pada tanggal 11 April 1987
dan berdasarkan keputusan rapat umum pemegang saham luar biasa yang diadakan pada
tanggal 27 Desember 1996, nama Perseroan diubah menjadi PT Transindo Multi Prima Tbk.
Pada tanggal 29 Agustus 2000, nama PT Transindo Multi Prima Tbk dirubah menjadi PT
Bentoel Internasional Investama Tbk.
Dengan berjalannya perkembangan bentoel, Hingga Sekarang BentoelGroup dikenal
sebagai perusahaan rokok terbesar di Malang yang di kelola secaraprofesional dan modern
lebih dari 75 tahun dan telah memproduksi beberapa brand terkenal antara lain, Bentoel Biru,
Star Mild, X Mild, Bentoel Sejati, Tali Jagad, Bintang Buana, Neo Mild, Country, One Mild,
dan lain-lain.
Visi, Misi, Nilai Perusahaan dan Strategi Korporasi merupakan komponen dari The
Winning Formula (TWF) yang disusun berdasarkan cetak biruperusahaan yaitu Bentoel
Strategic Scenario (BSS). BSS merupakan landasandalam menyusun rencana jangka panjang,
jangka menengah maupun jangkapendek supaya rencana dan pelaksanaannya dapat berjalan
secara terarah dan berkesinambungan.
Tidak bisa disangkal apabila industri rokok nasional mengalami penurunan. Hal ini
dikarenakan berbagai kebijakan pemerintah telah menekan kinerja perusahaan rokok,
terutama yang terkait dengan upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Faktor lainnya, rokok
menjadi penyebab utama berbagai penyakit yang mematikan. Oleh karena itu, untuk
menyiasati tekanan tersebut perusahaan rokok biasanya mencari berbagai terobosan yang
inovatif guna mendongkrak penjualan. Tidak hanya lewat promosi, tapi yang lebih penting
adalah kelengkapan infrastruktur, terutama sistem. Kenapa sistem? karena sistem akan mendrive organisasi dan tanpa sistem yang terintegrasi, kinerja perusahaan akan sulit mengalami
peningkatan dalam menjalankan proses bisnisnya.
Menurut Paul Ong, Chief Information Officer Bentoel Group, sebelumnya masingmasing divisi di Bentoel memiliki modul aplikasi sendiri-sendiri, seperti di bagian keuangan,
bagian pergudangan, bagian penjualan ataupun kantor pusat. Karena sistem aplikasi masingmasing bagian itu berbeda, sulit untuk berkomunikasi atau mengintegrasikan data dan tidak
realtime. Buntutnya adalah keterlambatan dalam integrasi dan penyesuaian data.
Pada saat tersebut, proses budgeting pada Bentoel masih dilakukan secara manual
dengan menggunakan Microsoft Excel. Padahal industri rokok di Indonesia sangat
kompetitif, sehingga pihaknya membutuhkan analisis situasi pasar yang dapat dilakukan
dengan cepat untuk mengambil tindakan yang tepat dan cepat, sehingga dibutuhkan sistem
yang bisa mengintegrasikan seluruh bisnis proses dalam perusahaan. Selain itu, karena
datanya belum realtime, maka meskipun sudah terjadi transaksi penjualan atau pengiriman
barang, tak secara otomatis mengurangi posisistok barang dagangan. Begitu pula, posisi
13
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

piutang atau account receivable juga belum bertambah. Manajemen informasi yang terpisahpisah seperti ini jelas berpotensi mengacaukan manajemen keuangan, karena data tak sesuai
dengan fakta. Bahkan, ini juga berimbas pada kultur organisasi.
3.2.2 Pemilihan ERP
Pada tahun 2003 Bentoel melakukan beberapa langkah awal yaitu assessment dan
pengkajian sistem TI beserta penentuan kebutuhan TI-nya, perumusan blue print dan road
map pembenahan sistem TI. Langkah selanjutnya pun Bentoel kemudian menunjuk konsultan
dan memilih perusahaan software. Setelah melalui proses penyeleksian beberapa paket
software yang berkaitan dengan Corporate Perfomance Management, tim evaluasi Bentoel
pun akhirnya memilih SAP Planning and Consolidation. Pemilihan didasari atas
pertimbangan bahwa sistem ini sangat mudah digunakan (friendly user) dan didukung dengan
fitur-fitur yag canggih serta lengkap.
SAP Business Planning and Consolidation merupakan suatu aplikasi perencanaan dan
konsolidasi yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan perusahaan mengenai perencanaan,
konsolidasi, pengelolaan anggaran belanja dan pelaporan. Sistem ini mendukung seluruh
kebutuhan perencanaan anggaran keuangan dan perencanaan operasional secara top-down
dan bottom-up serta mendukung proses konsolidasi untuk memastikan pengelolaan keuangan
berjalan lancar dan tepat waktu.
Proyek ini mulai dijalankan pada Agustus 2003. Sistem ERP itu go live pada 1 Mei
2004. Keputusan untuk mengimplementasikan SAP didasarkan pada hasil evaluasi terhadap
beberapa paket software yang berkaitan dengan pengelolaan kinerja perusahaan.
Implementasi tersebut akan memaksimalkan integrasi perencanaan dan fleksibilitas bisnis.
Pengimplementasiannya juga mempertimbangkan potensi dari solusi yang telah terpasang
yang juga bagian dari solusi SAP. Intinya, Bentoel lebih fokus untuk mencari the most
appropriate up-to-date technology, bukan the most sophisticated.

3.2.3 Sistem Informasi Terintegrasi


Penerapan sistem ERP (enterprise resource planning) berbasis SAP yang
diimplementasikan di PT Bentoel Prima dinamakan Be One Enterprise (BOE) atau B-1 yang
mempunyai makna sistem pemersatu dimana seluruh elemen sistem informasi yang ada
masing-masing akan terintegrasi satu dengan lain menjadi suatu sistem informasi enterprise
yang terintegrasi secara total dengan media data, suara dan video yang terkonvergen
(convergence) secara digital.
Sistem B1 membantu efisiensi melalui penguatan kemampuan manajemen perusahaan
untuk memonitor dan mengontrol secara dekat proses yang ada. Hal ini dikarenakan semua
proses, mulai dari pembelian, inventori, produksi, dan distribusi dikontrol dengan baik anak
perusahaan dapat melihat setiap biaya dan selalu dalam keadaan tahu untuk menentukan
waktu dan strategi yang tepat untuk efisiensi. Bentoel melakukan tahapan persiapan tahun
2004 dalam lingkup Keuangan dan Control, Manajemen Bahan, Rencana Produksi, Distribusi
dan Penjualan, Manajemen Dana, dan Konsolidasi.

14
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

Sebelum akhir 2004, Bentoel mengenalkan sistem SAP penuh. Satu tahun setelah
implementasinya, sistem baru ini sudah beroperasi penuh mendukung berbagai departemen.
Sistem baru ini telah meningkatkan produktivas dengan memangkas beban administrasi
manual dan meningkatkan sistem kontrol sehingga pada akhirnya secara keseluruhan
meningkatkan efisiensi. Dan untuk memaksimalkan potensi B-1 sistem, departemen
penjualan dan distribusi serta sistem informasi membawa ide tentang perlunya bantuan
komputerisasi pada jalur distribusi dan penjualan di lapangan yang pada akhirnya dipilih
untuk menggunakan Personal Digital Assistants (PDA).

3.2.4 Tahap-Tahap BOE


Tahap pertama.
Dengan mengintegrasikan perencanaan korporasi dan perencanaan departemen, implementasi
BOE difokuskan pada proses budgeting, kemudian manajemen membuat rancangan model
biaya, dan menampilkan analisis yang akurat untuk penetuan anggaran operasional sesuai
dengan perencanaan dan asumsi strategis. Implementasi proses penyusunan anggaran
ditargetkan selesai dan go live pada awal Juli 2008.
Tahap berikutnya
Bentoel mengembangkan dan memperluas modul SAPnya untuk meningkatkan performa
perusahaan.
Adapun modul ERP lainnya yang telah diimplementasikan oleh Bentoel adalah Sales and
Distribution, Fleet Management and ECCS, Production Planning, Material Management,
Finance and Controlling.

3.2.5 Implementasi BEO atau B-1


Dalam proyek pembenahan TI di Bentoel, terdapat dua agenda penting yang telah
diselesaikan, yaitu Online Data Transaction (ODT) dan Sales Force Automation (SFA).
Berhasilnya tahap pengembangan ODT, menjelaskan bahwa semua divisi telah terkoneksi
secara online dan tidak ada lagi gap informasi antar bagian. Informasi yang tersedia menjadi
seragam sehingga tidak perlu penyesuaian dan konsolidasi data antar bagian. Selain itu,
kontrol manajemen dari para direksi menjadi lebih mudah pelaksanaannya.
Penerapan ODT merupakan kemajuan besar bagi Bentoel. Namun satu hal yang
paling istimewa adalah program SFA dan pemanfaatan TI untuk pengontrolan bahan baku
(tembakau). Dapat dikatakan, program SFA merupakan terobosan yang belum dilakukan
pemain lain, khususnya di industri rokok. Tujuan Bentoel menggunakan program ini adalah
menguatkan lini penjualan dengan memanfaatkan TI. Pada praktiknya, kini salesman Bentoel
dipersenjatai satu unit PDA (personnal digital assistance) untuk mendukung kinerja mereka,
baik untuk melihat informasi harian dan mengevaluasi kinerja mereka. Data-data yang ada di
PDA mereka, selalu akurat karena selalu terjadi proses download dan upload dari atau ke
sistem TI di masing-masing kantor cabang atau Area Sales and Marketing.
Terobosan ini dikenal dengan sistem B1 Mobile dan B1 ASMO yang membuat para
salesman dapat memonitor dan memadukan informasi penjualan hingga level retailer. B1
Mobile merupakan sistem yang memberikan hasil statistik market berkualitas tinggi dan
15
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

akurat, sehingga beban administrasi manajemen berkurang dan efisiensi kinerja meningkat.
Dengan strategi ini, Bentoel menjadi industri pertama yang menggunakan PDA untuk
mendukung penjualannya. Sedangkan ASMO merupakan sistem yang menghubungkan
kantor-kantor cabangnya secara online dengan jaringan berbasis internet protocol melalui
Wide Area Network. Sistem ini menghubungkan semua kantor cabang dengan kantor utama
sehingga semua data dari cabang dapat dikompilasi.
Selain itu, Bentoel juga memiliki B1 Communication yang digunakan untuk
komunikasi suara antar kantor Bentoel. Penerapan sistem ini meningkatkan produktivitas dan
efisiensi di berbagai divisi yang semula manual menjadi otomatis, sesuai dengan tujuan
jangka panjang Bentoel dalam Desain Bisnis Digital (Digital Business Design)..

Gambar 2. PT. Bentoel Prima ISBP (Information System & Business Process)
Sistem Be-one ini diimplementasikan pada tahun 2004 dan berpusat pada aplikasi
Enterprise Resource Planning (ERP) dari SAP. di dalam ERP yang sistem nya
diimplementasikan oleh Soltius Indonesia ini ada beberapa modul utama antara lain Material
Manajement, Sales and Distribution, Production Planning, Fund Managemet, Controlling dan
Financial accounting. Dengan sistem ini data bisa seragam dan menjadi acuan dari semua
kegiatan transaksi.
Sistem Be-one ini adalah sistem yang terintegrasi dari hulu sampai ke hilir, dari transaksi
hingga pelaporan untuk manajemen. Sebagai contohnya, data penjualan yang dilakukan
tenaga penjualan dimasukan ke dalam PDA di lapangan saat melakukan transaksi penjualan.
Pada akhir hari, seluruh transaksi di upload secara otomatis ke sistem di Area Sales dan
Marketing Office (ASMO), untuk selanjutnya akan terkirim secara otomatis juga ke sistem
yang ada di kantor pusat, dan semua data tersebut yang terkena dampak dari transaksi
penjualan pun akan ter-update.

16
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

Gambar 3. SAP Core Moduls (modul utama pada system ERP)


1. Fund Management (FM).
Tugas Fund Management Dana adalah :

Untuk membuat anggaran seluruh pendapatan relevan dan pengeluaran


Untuk Mengontrol gerakan dana di masa depan sesuai dengan anggaran terdistribusi
Untuk Mencegah anggaran yang berlebih.

2. Material Management
Tujuan dari modul ini adalah mengoptimasi semua proses yang terkait dengan perencanaan,
pengadaan, pembelian hingga penyimpanan material.
Manfaat yang diperoleh antara lain:

Otomasi evaluasi pemasok


Tingkat biaya pengadaan dan penyimpanan yang lebih rendah pada inventory dan
manajemen pergudangan.
Terintegrasi dengan verifikasi penagihan (invoice)

3. Sales & Distribution


Modul ini bertujuan untuk membantu meningkatkan efisiensi kegiatan operasional berkaitan
dengan proses pengelolaan customer order (proses sales, shipping dan billing).
4. Production Planning
Modul ini bertujuan untuk membantu proses perencanaan dan kontrol daripada kegiatan
produksi (manufacturing) suatu perusahaan.
5. Controlling
17
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

Modul ini bertujuan untuk :

Sebagai pengendali capital investment.


Sebagai pengendali aktivitas keuangan perusahaan, memonitor dan merencanakan
pembayaran
Sebagai pengendali pendanaan terhadap pembelian, pengadaan dan penggunaan dana
di setiap area
Sebagai pengendali biaya dan profit berdasarkan semua aktivitas perusahaan

6. Financial Accounting
Modul ini bertujuan untuk :

Menyediakan pengukuran berkelanjutan terhadap keuntungan perusahaan.


Mengukur kinerja keuangan perusahaan, berdasarkan pada data transaksi intenal
maupun eksternal.
Menyediakan dokumen keuangan yang mampu melacak (mengaudit) setiap angka
yang terdapat dalam suatu laporan keuangan hingga ke data transaksi awalnya.

Modul-modul dari Be-one system tersebut antara lain adalah ;

Be-one Portal, menyediakan fitur knowledge management dan knowledge sharing


yang bisa dinikmati oleh seluruh karyawan
Be-one ASMO & Mobile meliputi (Sales Administration & Management System serta
Sales Force automation & Mobile Management.
Be-one Deal untuk pembayaran
Be-one Synergy (HRMS) untuk pengelolaan karyawan
Be-one Poli untuk Healt care
Be-one Intellegence (Business Intelegence) untuk menganalisa pasar
Be-one Business Planning & Simulation untuk Perencanaan Perusahaan
Be-one War Map & War Room. untuk menganalisa pasar

Semua itu terintegrasi dengan system ERP sebagai satu kesatuan sistem.

Gambar 4. Be-One ERP System


18
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

Dampak bisnis dari penerapan ERP di PT.Bentoel Prima tersebut terasa dengan
meningkatnya produktivitas bisnis seperti meningkatnya kecepatan proses data dan kecepatan
proses bisnis itu sendiri. Misalkan data penjualan dari kira-kira 1000 tenaga penjualan di
seluruh Indonesia dapat dikumpulkan dan dilaporkan pada hari yang sama, dengan begitu
manajemen Bentoel dapat segera mengetahui situasi pasar dan hasi dari aksi-aksi yang
dilakukan, dan untuk selanjutnya bisa melakukan langkah penyesuaian yang dibutuhkan.
Selain itu tidak ada lagi inkonsistensi di antara unit-unit dalam perusahaan. Dengan demikian
pengambilan keputusan bisa menjadi cepat dan efektif.
Contoh lain adalah dengan adanya modul business intellegence, bagianpemasaran dapat
mengetahui produk, profil serta value seperti apa produk yang laku di suatu pasar. Hal ini
telah dibuktikan dengan kesuksesannya Bentoel memasarkan salah satu produk barunya yang
mampu terjualhingga dua kali lipat dari produk yang di luncurkan sebelumnya. Waktu dari
produksi produk tersebut pun dapat dipangkas menjadi lebih singkat karena positioning
maupun segmentasinya dapat diketahui dengan pas berdasarkan informasi yang dikumpulkan
dari business Intellegence tersebut.
Penerapan ERP di PT.Bentoel Prima tersebut. Revenue Bentoel mengalami kenaikan
yang signifikan. Terhitung revenue di tahun 2005 hanya Rp.2 triliun, lalu setelah menerapkan
ERP mampu meningkat hingga Rp.6,9 triliun pada tahun 2008.Dari sisi Volume produksi
juga mengalami peningkatan, yang sebelumnya hanya 6,6 miliar batang di tahun 2005
menjadi 17,5 miliar batang di tahun 2008. Market share nya pun meningkat dua kali lipat.

Gambar 5. Grafik Peningkatan Revenue Tahun 2008

19
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

Gambar 6. Grafik Peningkatan Product Volume Tahun 2008


Penerapan ERP di PT. Bentoel Prima memberikan keuntungan diantaranya :

1. Instant Feedback, Business Intellegence, serta Operational Excellence terciptanya data


penjualan yang bisa diterima pada hari yang sama mulai dari Sales Supervisor hingga
direksi bisa diketahui.
2. Efektifitas Sales Performance dapat diketahui.
3. Bisa mengetahui dengan cepat masalah / kesulitan peneterasi di suatu daerah sehingga
dapat cepat diambil keputusan.
4. Dapat memantau kompetitor.
5. Sisi operational Excellence Effectiveness bisa terpangkas karena menggunakan
aplikasi lewat PDA
6. Peningkatan produktifitas hingga 15%
7. Peningkatan penjualan
8. Stok level dapat terkontrol mulai dari pabrik sampai dengan penjual
9. Financial Intern juga dapat terkontrol
10. Dapat mengetahui produk, profil dan value seperti apa yang laku di pasar.
11. Waktu produksi jauh lebih singkat
12. Rencana yang akan datang setelah penerapan ERP, PT.Bentoel Prima akan
meningkatkan lagi sistem administrasi manajemen penjualan dan mobile
management, yang tadinya 1200 PDA di seluruh Indonesia maka jumlah nya akan
ditambah menjadi 1600.

3.2. Studi Kasus Implementasi ERP yang gagal


Sebuah Enterprise Resource Planning (ERP) sistem meliputi teknik dan konsep yang
digunakan untuk pengelolaan terpadu bisnis secara keseluruhan dari sudut pandang
penggunaan sumber daya secara efektif manajemen, untuk meningkatkan efisiensi
perusahaan. Mereka memiliki banyak keuntungan baik langsung maupun tidak langsung.
Keuntungan langsung termasuk peningkatan efisiensi, integrasi informasi untuk pengambilan
keputusan yang lebih baik, lebih cepat waktu respon untuk permintaan pelanggan dll Manfaat
langsung termasuk citra perusahaan yang lebih baik, goodwill pelanggan yang meningkat,
kepuasan pelanggan, dan sebagainya.
Banyak organisasi dan bisnis di dunia saat ini sebagai bagian dari rencana
pengembangan strategis mereka, advokasi untuk solusi ERP yang akan membantu insinyur
ulang proses bisnis mereka untuk mencapai tujuan jangka panjang mereka. Pasar ERP sangat
kompetitif dan cepat pasar yang berkembang, yang disebabkan oleh tiga faktor utama:
a) vendor ERP yang terus memperluas kehadiran pasar dengan menawarkan aplikasi baru
seperti manajemen rantai suplai (SCM), otomasi tenaga penjualan, manajemen hubungan
pelanggan (CRM) dan sumber daya manusia.
b) Untuk mempertahankan pertumbuhan cepat mereka, vendor ERP menjual lisensi lebih
ke dasar terinstal mereka.

20
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

c) Sedangkan ERP berasal di pasar manufaktur, penggunaan ERP telah menyebar ke


hampir setiap jenis usaha termasuk ritel, utilitas, sektor publik dan organisasi kesehatan.
Di antara pemain industri termasuk SAP (Systeme Anwendungen Produkte), Oracle,
QAD, SSA, Jenzabar, Datatel, PeopleSoft, Baan, JD Edwards, Scala, Navision, SunGard
hanya untuk menyebutkan tapi beberapa. Bahkan di dalam diri mereka satu sama lain
mengkategorikan ke High-end dan low-end jangkauan. Dalam Kenya penampang perusahaan
memang pada sifat suka berperang dari melakukan atau berencana untuk berinvestasi dalam
solusi bisnis ERP. Masa depan akan melihat pertempuran sengit untuk pangsa pasar beralih
ke merger dan akuisisi untuk keuntungan strategis dan kompetitif.
Ada banyak hype saat vendor untuk memindahkan produk mereka, dan selalu akan
menjual dan bercerita tentang kisah sukses mereka dan bagaimana akan melompati ke dalam
visi Anda. Mereka tidak pernah mengatakan kepada dari setiap kegagalan proyek ERP
tersebut, dan tampaknya tidak ada perhatian dibayar untuk pelajaran yang dipetik dari
skenario terkenal FoxMeyer Corporation, yang menyebabkan kebangkrutan dan pertempuran
hukum yang panjang di ruang sidang dengan konsultan mereka setelahnya.
Jika tidak benar direncanakan untuk, investasi dapat mendorong perusahaan keluar dari
bisnis. Pusat untuk masalah yang rock dunia usaha sejauh ERP atau secara umum kegagalan
proyek IT menyangkut masih tetap sama selama bertahun-tahun. Contoh berikut adalah
tipikal dari proyek yang gagal dari statistik yang tersedia dari kekacauan kelompok Standish
database
1.

The Hershey makanan sistem ERP menyebabkan kegagalan implementasi masalah


distribusi besar dan hilangnya pasar 27%.

2.

The obat FoxMeyer sistem ERP menyebabkan kegagalan implementasi runtuhnya


seluruh perusahaan.

3.

The IRS proyek pada kepatuhan wajib pajak mengambil alih satu dasawarsa untuk
menyelesaikan dan biaya tak terduga negara $ 50000000000

4.

The Oregon Departemen konversi Kendaraan Bermotor untuk software baru


mengambil delapan tahun untuk menyelesaikan dan kemarahan publik akhirnya
membunuh seluruh proyek

5.

Negara sistem kesejahteraan Florida terganggu dengan kesalahan komputasi banyak


dan $ 260.000.000 di lebih bayar.

6.

AMR Corp, Budget Rent A Car, Hiltons Corporation, Marriott "pastikan" proyek
hancur karena menghabiskan lebih dari $ 125.000.000 selama empat tahun

7.

Proyek Snap-On Inc dikonversi ke entri orde baru dihitung biayanya perusahaan alat
sebesar $ 50 juta kehilangan penjualan untuk paruh pertama tahun 1998

8.

Greyhound Lines Inc "Perjalanan" reservasi dan bus-dispatch sistem "gagal setelah
menghabiskan $ 6.000.000

21
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

9.

Norfolk Southern Corp "Sistem integrasi dengan target merger Laporan Rail Corp".
gagal
karena
kehilangan
lebih
dari
$
113,000,000
dalam
bisnis

10.

Oxford Kesehatan Operator Inc "penagihan Baru dan sistem-pemrosesan klaim


berdasarkan Unix Internasional dan Oracle Corp database" menghasilkan gerombolan
dokter dan pasien marah tentang penundaan pembayaran dan kesalahan.

11.

Produk Minyak Universal Proyek "Software untuk memperkirakan biaya proyek dan
mencari spesifikasi teknik" mengakibatkan sistem tidak dapat digunakan.

Proyek risiko The Corporation FoxMeyer proyek Delta III memiliki risiko proyek berikut:
1. Lingkungan-manajemen memiliki kontrol sedikit atau tidak ada. Mereka tergantung
100% pada konsultan dan vendor yang menutupi mereka dari mendapatkan kontrol.
Fokus dari proyek ini secara dramatis berubah mendorong biaya proyek meningkat
2. Pelaksanaan proyek ini kekurangan tenaga terampil dan berpengetahuan. FoxMeyer
tidak memiliki keahlian dalam-rumah dan mengandalkan Andersen konsultasi
untuk mengimplementasikan SAP R / 3 dan mengintegrasikannya dengan sistem
gudang otomatis dari Pinnacle. Lebih dari 50 konsultan yang berpengalaman dan
omset mereka tinggi.
3. Lingkup-FoxMeyer adalah adopter awal SAP R / 3. Setelah proyek dimulai,
FoxMeyer menandatangani kontrak besar untuk memasok sistem konsorsium
universitas kesehatan (UHC). Acara ini diperburuk kebutuhan volume transaksi
belum pernah terjadi sebelumnya pada server mereka HP yang mereka tidak bisa
mengatasi
4. Mandat Pelanggan - komitmen dari manajemen puncak dan user. Ini bukan kasus
untuk beberapa manajemen senior. Ada masalah moral antara beberapa pekerja
gudang tersebut. Otomatisasi gudang puncak terintegrasi dengan SAP R / 3
mengancam pekerjaan mereka. Dengan penutupan tiga gudang, transisi ke gudang
otomatis pertama bencana. pekerja kecewa persediaan rusak, dan pesanan tidak
dipenuhi, dan kesalahan terjadi karena sistem baru berjuang dengan volume
transaksi.
Faktor Proyek
Faktor-faktor

yang atribut untuk eskalasi biaya termasuk tetapi tidak terbatas.

1.

Proyek faktor-ada persepsi bahwa investasi terus bisa menghasilkan hasil besar.
FoxMeyer diharapkan penghematan sebesar $ 40 juta per tahun.

2.

Faktor-faktor psikologis para konsultan memiliki sejarah sebelum keberhasilan yang


mendorong mereka untuk melanjutkan proyek tersebut. "Kami menyampaikan sistem
yang efektif, seperti yang kita miliki untuk ribuan klien lain" (Computergram
internasional 1998). Hal ini menciptakan kesan bahwa proyek tersebut secara radikal
akan meningkatkan operasi kritis perusahaan. FoxMeyer sedikit lebih bahwa apa yang
bisa mengunyah tetapi memulai proyek jalur cepat dengan staf tidak terampil.
22
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

3.

Faktor Sosial-perusahaan konsultan eksternal tidak membenarkan proyek. De-eskalasi


proyek melalui pengabaian akan berarti publisitas buruk.

4.

Organisasi-faktor pendukung untuk proyek tersebut kemudian dipaksa untuk


mengundurkan diri karena penundaan dalam mewujudkan tabungan diproyeksikan.
Perubahan dalam manajemen diperlukan dalam rangka untuk mengontrol biaya
peningkatan - yang sudah terlambat.

Faktor-faktor penyebab kegagalan :


Ketika manajemen tidak mengendalikan ruang lingkup proyek ini terutama bila
mengharapkan konsultan untuk menyediakan peluru sihir.
1.

Terlibat dalam proyek-proyek perusahaan lainnya bersaing untuk keuangan tengah


sedikit.

2.

Tidak memiliki kebijakan manajemen perubahan yang tepat dan prosedur.

3.

Menggunakan konsultan tanpa pengalaman sebelumnya atau solusi ERP di mana


perusahaan adalah satu-satunya perusahaan dalam industri

4.

Tidak memiliki transfer pengetahuan yang tertulis dalam kontrak konsultasi

5.

Jika vendor tidak memahami bisnis perusahaan

6.

Jika proyek tidak memiliki tahap yang jelas, kiriman dan komponen pengendalian mutu

7.

Jika perusahaan belum rekayasa ulang proses bisnis agar kompatibel dengan kemampuan
teknologi

8.

Tidak memiliki komite proyek audit eksternal

9.

Tidak memiliki program pelatihan pengguna akhir yang jelas untuk mentransfer
keterampilan untuk karyawan

10. Memiliki manajemen over-berkomitmen (terlalu ambisius, mendorong tenggat waktu


realistis)
11. Anggota Tim tidak bertanggung jawab atas tindakan.
12. Moral rendah dalam tim
13. Tidak menggunakan metodologi penerapan standar
14. Persyaratan definisi yang tidak memadai (proses saat ini tidak memadai)
15. Tidak memadai sumber daya yang digunakan oleh klien
16. Resistensi internal untuk mengubah 'lama' proses
17. Sebuah pendekatan bottom up digunakan (proses ini tidak dipandang sebagai top

Jika ada kesenjangan fungsional belum teridentifikasi (GAP analisis)

23
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan

Pelajaran yang dipelajari dari proyek ERP harus gagal panggilan bangun tidur bagi
perusahaan-perusahaan saat ini dalam proyek-proyek ERP atau memikirkan untuk pergi ke
arah sana. Dari pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa faktor kunci
kesuksesan implementasi ERP yaitu :
1. Bisnis Proses yang matang.
Syarat mutlak bagi sebuah perusahaan yang akan mengimplementasikan ERP. ERP
tidak akan dapat diimplementasikan di sebuah perusahaan yang tidak memiliki bisnis
proses yang jelas.
2. Manajemen Perubahan yang baik.
Implementasi sistem ERP akan selalu diikuti dengan perubahan dalam perusahaan
tersebut. Manajemen perubahan sangat diperlukan untuk memberikan pendidikan
kepada user yang akan bersentuhan langsung dengan sistem yang baru. Pendidikan
dan penjelasan yang perlu diberikan diantaranya mengenai alasan perusahaan tersebut
perlu mengganti sistem, seberapa efektif sistem baru ini jika diimplementasikan dan
masalah-masalah apa di sistem lama yang akan bisa diselesaikan dengan sistem baru
tersebut.
3. Komitmen mulai dari level manajemen sampai ke user.
Implementasi ERP dalam sebuah perusahaan akan membutuhkan waktu, tenaga dan
pikiran yang banyak sehingga komitmen dari manajemen puncak sampai user yang
akan bersentuhan langsung dengan sistem menjadi mutlak diperlukan.
4. Perubahan budaya organisasi.
4.2. Saran
ERP adalah bagian dari infrastruktur perusahaan, dan sangat penting untuk kelangsungan
hidup perusahaan. Semua orang dan bagian yang akan terpengaruh oleh adanya ERP harus
terlibat dan memberikan dukungan. ERP ada untuk mendukung fungsi bisnis dan
meningkatkan produktivitas, bukan sebaliknya. Tujuan implementasi ERP adalah untuk
meningkatkan daya saing perusahaan. Pelajari kesuksesan dan kegagalan implementasi ERP,
jangan berusaha membuat sendiri praktek implementasi ERP. Ada metodologi tertentu untuk
implementasi ERP yang lebih terjamin keberhasilannya
Yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi risiko-risiko yang terdapat dalam
implementasi ERP dan kemudian bagaimana mengelolanya. Potensi kesuksesan
implementasi akan semakin besar jika risiko-risiko tersebut dapat diminimalisasi. Pertama,
adalah terkait komitmen dan dukungan dari manajemen senior terhadap proyek implementasi
ERP ini. Faktor ini sangat menentukan keberhasilan implementasi ERP. Proyek implementasi
ERP mesti dipandang sebagai sebuah proyek bisnis, bukan proyek IT. Risikonya pun
merupakan risiko bisnis. Komitmen dan dukungan manajemen senior ini akan berpengaruh
antara lain pada:
24
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

1. Kecepatan pengambilan keputusan strategis,


2. Dukungan terhadap implementasi perubahan pada bisnis yang diakibatkan oleh
implementasi sistem,
3. Endorsement (atau mungkin juga enforcement) terhadap manajemen eksekutif dan
jajaran yang ada di bawahnya untuk juga mendukung apa yang dibutuhkan untuk
kesuksesan implementasi ERP ini
4. Resolusi terhadap konflik yang mungkin timbul dalam proses implementasi
5. Dukungan sumber daya terhadap program-program yang direncanakan dalam rangka
kesuksesan proyek
Kedua, adalah soal manajemen proyek. Faktor risiko yang ini merupakan faktor yang
sangat kritikal dan amat sering menjadi penyebab kegagalan implementasi. Manajemen
proyek yang maksud disini termasuk pada sisi implementer ERP maupun manajemen proyek
dari sisi pemilik proyek (project owner). Untuk mengatasinya, sebaiknya :
a. Menguatkan kemampuan implementer untuk mengestimasi sumber daya dan waktu
yang dibutuhkan untuk melaksanakan task-task dalam proyek implementasi ERP.
Ketidakmampuan ini umumnya disebabkan oleh perencanaan yang kurang detail,
yang biasanya disebabkan karena kurangnya pengalaman dan pengetahuan tim project
management implementer mengenai pekerjaan sejenis. Bisa juga karena kesalahan
persepsi implementer terhadap lingkup pekerjaan yang dituangkan dalam TOR karena
berbagai sebab. Atau karena perencanaan awal yang dibuat hanya untuk kebutuhan
pemenuhan compliance administratif saja, misalnya untuk kebutuhan seleksi lelang,
project charter, penagihan, dan sejenisnya.
b. Menguatkan koordinasi antar bagian (stream) dalam tim proyek. Biasanya intensitas
dan tingkat stress yang cukup tinggi pada setiap bagian tim proyek membuat
koordinasi dengan tim lain menjadi terabaikan/kurang diperhatikan. Semakin jauh
permasalahan koordinasi ini tidak serius ditangani maka akan semakin besar risiko
yang ditimbulkan di akhirnya dan akan semakin besar pula effort yang dibutuhkan
untuk mensolusikannya.
c. Meningkatkan penyediaan SDM dan ekspertis yang dibutuhkan proyek pada waktu
dibutuhkan. Dampaknya tidak tersedianya SDM akan lebih besar jika terletak pada
project critical path.
d. Meningkatkan kontrol dari manajemen proyek dari perusahaan pemilik pekerjaan
terhadap manajemen proyek implementer. Lemahnya kontrol akan berdampak pada
aspek waktu pelaksanaan task sesuai project plan, kualtias hasil dari setiap task, dan
yang kritikal juga adalah soal kesesuaian kualitas SDM yang diterjunkan oleh
implementer pada proyek dengan kualitas dan kuantitas yang dijanjikan atau
direncanakan.
e. Mengurangi kesenjangan kompetensi antara SDM dalam organisasi proyek
perusahaan pemilik pekerjaan dengan SDM dari implementer. Agar komunikasi
berimbang.

25
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48

DAFTAR PUSTAKA

OBrien JA, Marakas G. 2005. Management Information sistem. Ninth edition. Boston: Mc
Graw Hill, Inc.
Amaranti, Reni. 2006, Faktor Kritis Dalam Proyek Implementasi ERP Dan
Pengaruhnya Terhadap Perubahan Dalam Organisasi (Studi Kasus: PT Telekomunikasi
Indonesia Tbk), Tesis Magister Teknik dan Manajemen Industri; Institut Teknologi Bandung.
.
Compeau, D. R., Higgins, C.A. 1995, Computer Self-Efficacy: Development of a
measurement and Initial Tes, MIS Quarterly
Davis, fred D. 1989, Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, and User Acceptance of
Information Technology, MIS Quarterly
Leon, Alexis, 2000, ERP Demystified
Scott, E Judy, 2004 , Kepailitan The Narkoba FoxMeyer
Lloyd, Hujan, 2005, Kegagalan Proyek IT
Computerworld, 2000, Top 10 Kegagalan Teknologi Informasi Perusahaan

26
Shandra Widiyanti, MB-IPB, E-48