You are on page 1of 14

ANTONIO GRAMSCI, HEGEMONI DAN PERADABAN BARAT

Istilah hegemoni berasal dari bahasa yunani, hegeisthai (to lead). Hegemoni ini
dapat didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya,
dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok
dominan terhadap kelompok yang didominasi diterima sebagai sesuatu yang wajar
(common sense). Dalam hegemoni, kelompok yang mendominasi berhasil mempengaruhi
kelompok yang didominasi untuk menerima nilai-nilai moral, politik, dan budaya dari
kelompok dominan (the ruling party, kelompok yang berkuasa).[1]

Berbicara mengenai hegemoni tentu tidak bisa lepas dari nama Antonio Gramsci
(1891-1937), yaitu salah satu teoritisi Marxis terpenting asal Italia pada abad ke-20. Teori
hegemoni ini dapat dikatakan merupakan gagasan sentral dalam pemikiran Gramsci
mengenai strategi perubahan sosial, dimana konsep ini pertama-tama muncul dalam rangka
mengoreksi kegagalan revolusi sosialisme di negara-negara Barat, termasuk Italia,
sekaligus mengevaluasi gagasan dasar Marxisme ortodoks paska Marx dan Engel yang
menyatakan bahwa akibat kontradiksi-kontradiksi internalnya kapitalisme niscaya akan
hancur dengan sendirinya digantikan dengan masyarakat sosialis melalui revolusi
proletariat.[2]
Menurut Antonio Gramsci, hegemoni merupakan sebuah upaya pihak elite penguasa
yang mendominasi untuk menggiring cara berpikir, bersikap, dan menilai masyarakat agar
sesuai kehendaknya. Di sini hegemoni berlangsung secara smooth, tanpa terasa, tetapi

masyarakat dengan sukarela mengikuti/menjalaninya.[3] Lebih lanjut Gramsci menyatakan


bahwa hegemoni ini dapat terjadi melalui media massa, sekolah-sekolah, bahkan melalui
khotbah atau dakwah kaum religius, yang melakukan indoktrinasi sehingga menimbulkan
kesadaran baru bagi kaum buruh.
Bagi Gramsci proses perubahan sosial tersebut tidak semata-mata diartikan sebagai
perebutan kekuasaan politik, melainkan suatu perebutan kekuasaan budaya dan ideologi.
Demikian juga sebuah revolusi sosialis tidak dapat dilakukan dengan sekali jadi melalui
perebutan kekuasaan politik, melainkan memerlukan waktu panjang dalam suatu perang
posisi (war of position) untuk merubah pandangan dan nilai-nilai masyarakat sipil. Jika
masyarakat sipil sudah dihegemoni maka sebenarnya secara de facto kekuasaan itu sudah
berada di tangan kelas buruh, dan kepemimpinan politik bisa diambil alih secara mudah.[4]
Masih menurut Gramsci, sebagaimana dikutip Sayful Muzani, hegemoni juga
merupakan kepemimpinan budaya, dimana cara hidup dan pemikiran dominan digelar ke
masyarakat dan mewujudkan diri dalam bentuk kelembagaan dan penghayatan pribadi,
sehingga seluruh bidang kehidupan masyarakat kapitalis (sosial, politik, ekonomi, budaya,
keagamaan, seni, pendidikan, dsb) selalu mengikuti dan menganggapnya paling benar.[5]
Dengan kata lain, hegemoni berarti universalisasi kepentingan dominan tertentu (misalnya
kelas borjuis), sehingga suatu definisi tentang realitas sosial dan teori sosial yang
menyebar dan berpengaruh luas dalam masyarakat, termasuk komunitas intelektual dan
ilmuwan sosial diterima secara taken for granted, seolah-olah memang sudah seharusnya
begitu. Penerimaan ini dimungkinkan karena para intelektual terkait secara organis dan
dialektis dengan kelas yang dominan. Dalam hal ini, hegemoni berlangsung pada tataran

sipil, dimana ideologi kelas dominan dalam formasi sosial kapitalisme maju di Barat
disebarkan ke masyarakat lewat konsensus demokratis.[6]
Secara strategis, untuk menciptakan hegemoni, Gramsci memberikan 2 cara, yaitu
melalui war of position (perang posisi) dan war of movement (perang pergerakan).
Perang posisi dilakukan dengan cara memperoleh dukungan melalui propaganda media
massa, membangun aliansi strategis dengan barisan sakit hati, pendidikan pembebasan
melalui sekolah-sekolah yang meningkatkan kesadaran diri dan sosial.[7]
Melalui bahasa media massa, manusia baik individu maupun kelompok dibentuk
seragam dalam menginterpretasikan bahasa. Sebab bahasa di Media memiliki potensi
menghegemoni sebagian masyarakat sehingga mereka harus mengikutinya (membenarkan,
melihat, mendengar dan mendiskusikan). Bahkan uniknya, penyeragaman penafsiran
bahasa ini menjadi ciri khas tersendiri. Tidak heran jika ada manusia latah disekitar kita.
Bahkan, hal ini sudah menjadi tradisi. Akhirnya, lahirlah manusia-manusia pasif secara
sadar atau tidak.[8]
Dan melalui media massa, baik elektronik maupun cetak ini peradaban Barat mulai
menancapkan hegemoninya kepada peradaban lain, termasuk Islam. Dalam hal ini Barat
melakukan hegemoni budaya melalui jaringan komunikasi global. Mereka menggiring cara
berpikir dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai moral, politik, dan budaya Barat. Misalnya,
88 dari 100 film yang beredar di seluruh dunia pada tahun 1993 adalah film-film Amerika
(Hollywood). Dan pada tahun 1994, CNN Internasional menyatakan memiliki 55 juta
pemirsa setia (1% dari seluruh penduduk dunia).[9]
Di AS, ada istilah Seven Deadly Sinners yang meliputi Time, Newsweek, CBS,

NBC, ABC, New York Time, dan Washington Post. Dan tentunya masih banyak lagi
jaringan komunikasi global lainnya yang berasal dari Barat. Jika Pol Pot membunuh jutaan
manusia secara fisik, Seven Deadly Sinners telah menjadi mesin propaganda dan agitasi
pemerintahan AS yang membunuh jutaan (pikiran) manusia.[10] Kita dapat menyaksikan
betapa setiap hari masyarakat khususnya Indonesia disuguhi dengan tayangan-tayangan
yang berkiblat pada life style ala Barat, baik melalui sinetron, film, infotainment, maupun
reality show yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Dalam ranah politik, peradaban Barat juga berusaha menghegemoni peradaban
lainnya, dimana pasca Perang Dingin (Cold war) antara Blok Barat (yang dimotori oleh
Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat) dan Blok Timur (yang dikomandoi oleh
Uni Soviet), ternyata memunculkan anggapan di kalangan masyarakat Barat bahwa
ideologi liberalisme demokratik telah memenangkan perang melawan sosialisme serta
menimbulkan kepercayaan diri yang luar biasa di kalangan masyarakat Barat, sehingga
mereka menganggap ideologinya bersifat universal. Barat, khususnya Amerika Serikat,
kemudian menjadi bangsa misionaris yang memaksa bangsa-bangsa non-Barat mau
menerapkan nilai-nilai demokrasi Barat, pasar bebas, pemerintahan yang terbatas,
menjunjung tinggi HAM, individualisme, aturan hukum, serta pemisahan agama dan
negara. Padahal, nilai-nilai tersebut acapkali tak bergaung dalam budaya Islam, Konghucu,
Jepang, Hindu, Budha, ataupun Ortodoks.[11]
Berangkat dari kenyataan tersebut di atas, dalam latar global masa kini, nampaknya
hegemoni juga dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang ada kaitannya dengan imperialisme
dengan berbagai bentuknya yang baru. Bangsa-bangsa Asia, Amerika Latin, dan Afrika

kontemporer secara politis memang merdeka tetapi dalam banyak hal terkuasai dan
mengalami ketergantungan dengan kekuatan-kekuatan yang berasal dari peradaban Barat.
[12] Hal ini berarti bangsa-bangsa tersebut, disadari ataupun tidak telah terhegemoni oleh
peradaban Barat.
Hegemoni dapat juga berwujud truth claim yang universal dan mutlak atas segala
ilmu yang berkembang yang bukan berasal dari tradisi Barat. Hal ini dapat dilihat sejak
abad pencerahan, di mana sejak saat itu representasi kebudayaan Barat yang dominan
cenderung menyubordinasikan apa yang bisa disebut sebagai aspek-aspek kebudayaan dan
tradisi Dionysian (lawan Appolonian), yakni suatu kecenderungan yang dipahami sebagai
puitis, mistis, irasional, tidak beradab, dan feminin. Hegemoni seperti itu telah memberi
karakteristik stereotip tentang Barat versus Timur dalam berbagai ranah kehidupan,
khususnya dalam bidang otoritas kebenaran atas klaim saintis, dimana mereka tidak
mengakui atau meragukan kesahihan sains yang berkembang dari teks agama. Pandangan
ini masih dipegang teguh oleh para penganutnya sehingga dengan klaim sains yang ilmiah
dan obyektif serta rasional telah menimbulkan sikap dominasi kebenaran obyektif atas
bidang keilmuan yang berkembang di berbagai belahan dunia akhir-akhir ini.[13]
Dari semua hal tersebut di atas, sebenarnya kepentingan global Barat adalah
dominasi ekonomi dan politik atas seluruh negara non-Barat. Dan untuk melancarkan
kepentingannya itu, Barat memakai banyak cara, dari yang paling halus sampai yang paling
berdarah-darah. Cara halus yang dilakukan Barat untuk mengukuhkan hegemoninya antara
lain melalui rezim pengetahuan. Rezim pengetahuan yang diciptakan Barat tidak
memberi ruang yang bebas kepada pengetahuan lain untuk berkembang. Generasi terdidik

di negara berkembang diarahkan sedemikian rupa menjadi agen dan penjaga sistem
pengetahuan Barat. Dan bukan hanya cara berfikir saja yang diarahkan, tetapi gaya
hidupnya pun dikendalikan.
Hegemoni pengetahuan Barat terlihat jelas ketika kaum terdidik di negara
berkembang dengan setia dan tidak sadar menyebarkan dan membela nilai-nilai dan
institusi Barat seperti demokrasi, civil society, hak asasi manusia. Semua yang datang dari
Barat diterima sebagai nilai-nilai universal yang merupakan produk peradaban terbaik yang
harus diikuti.
Ancaman hegemoni dalam dunia pendidikan juga datang dari hegemoni
neoliberalisme. Neoliberalisme menampilkan wajah hegemoniknya lewat simulacra
(pembangunan citra, image) yang dikemas dalam bentuk iklan-iklan, icon (lambang),
merek, termasuk secara sistemik membangun kekuatan antar negara/kawasan dalam
perekonomian liberal.
Dalam dunia pendidikan neoliberalisme melancarkan hegemoni dengan melakukan
kapitalisasi pendidikan, yaitu pendidikan dijadikan sebagai barang dagangan, tanpa melihat
lagi misi mulia pendidikan yang manusiawi. Implikasi dari sekian lamanya neoliberalisme
menghegemoni dunia pendidikan, dengan gampang ditemukan lewat kesadaran palsu, yaitu
pandangan bahwa kesuksesan dan derajat kemuliaan seseoarang diukur dari kuliah, lulus
secepatnya dengan nilai tinggi, kerja pada tempat yang paling banyak menghasilkan uang.
Implikasinya, masyarakat pun cenderung menilai orang dari mobil yang dipakai,
seberapa besar rumahnya, dll. Jiwa dan sikap intelektualitas, suka mengkaji suatu
fenomena, memiliki rasa keingintahuan dan naluri penyelidikan yang tinggi, memegang

prinsip kebenaran ilmiah dan rasa keadilan, justru merupakan "musuh" bagi neoliberalisme.
[14]
Jika hegemoni berarti kemampuan untuk mendikte, mendominasi, mengatur, dan
merancang konstelasi dan geopolitik internasional, maka AS bisa dikatakan telah
menghegemoni. Coba perhatikan laporan New York Times (08/03/1992) yang melaporkan
paradigma kebijakan luar negeri AS. Ketika itu, pada bulan Maret, sekumpulan pejabat
penting pada masa pemerintahan Bush senior dimotori Dick Cheney dan Paul Wolfowitz
mengeluarkan Draf Pedoman dan Rencana Pertahanan (Defence Planning Guidance Draft)
yang mengharuskan dominasi militer dalam kebijakan AS di masa depan. Dokumen itu,
yang di kemudian hari dinamai Pentagon Paper menganjurkan pre-emptive force untuk
melindungi AS dari senjata pemusnah massal (WMD) serta melakukannya sendirian jika
perlu. Strategi kita (pascajatuhnya Uni Sovyet) harus difokuskan pada pemusnahan segala
potensi timbulnya kompetitor global di masa depan.[15]
Dan untuk melanggengkan hegemoni itu, George W. Bush secara tegas
menyampaikan hal ini ketika ia berpidato pada pelepasan kadet baru West Point 1 Juni
2002: Amerika harus bisa memastikan kekuatan militernya mampu mengatasi berbagai
tantangan, meskipun harus merusak stabilitas perlombaan senjata dunia. AS juga harus
membatasi kekuatan negara lain meskipun kekuatan itu ditujukan untuk perdamaian.[16]

DAFTAR PUSTAKA
Huntington, Samuel P., Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia, terj. M.
Sadat Ismail, Yogyakarta: Qalam, Cet. VIII, 2004
Muzani, Sayful, Islam dalam Hegemoni Teori Modernisasi, dalam Edy A. Effendy (ed),
Dekontruksi Islam Madzhab Ciputat, Bandung: Zaman Wacana Ilmu, 1999
Said, Edward W., Kebudayaan dan Kekuasaan; Membongkar Mitos Hegemoni Barat, terj.
Rahmani Astuti, Bandung: Mizan, Cet. II, 1996
Huda, Nurul, Perihal Hegemoni dan Perang Posisi dalam http://nurulhuda.wordpress.com
/2006/11/21/perihal-hegemoni-dan-perang-posisi
Harahap, Oky Syeiful R., Pengaruh Hegemoni dalam Dunia Pendidikan dalam
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/02/1106.htm
Bilfagih, Muhammad Taufiq, Media dan Hegemoni dalam http://billfagih.blogspot.com/
2007/09/media-dan-hegemoni.html
Hasan,

Misbahul,

Membincang

Benturan

Antar

Peradaban

dalam

http://www.lakpesdam.or. id/index.php?id=105
Kurniawan, Wawan, Amerika Serikat, Hegemoni Global dan Dominasi Militer dalam
http://kainsa.wordpress.com/amerika-serikat-hegemoni-global-dan-dominasi-militer
Duija, I Nengah, Hegemoni Orientalis dan Pengembangan Ilmu Kemanusiaan dalam
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/10/opini/288298.htm
Pengantar Hegemoni dalam http://synaps.wordpress.com/2005/12/01/pengantarhegemoni

[1] Pengantar Hegemoni dalam http://synaps.wordpress.com/2005/12/01/pengantarhegemoni


[2] Nurul Huda, Perihal Hegemoni dan Perang Posisi dalam
http://nurulhuda.wordpress.com
/2006/11/21/perihal-hegemoni-dan-perang-posisi
[3] Oky Syeiful R. Harahap, Pengaruh Hegemoni dalam Dunia Pendidikan dalam
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/02/1106.htm
[4] Nurul Huda, Loc. Cit.
[5] Sayful Muzani, Islam dalam Hegemoni Teori Modernisasi, dalam Edy A.
Effendy (ed), Dekontruksi Islam Madzhab Ciputat, Bandung: Zaman Wacana Ilmu, 1999,
hlm. 276
[6] Ibid., hlm. 277
[7] Pengantar Hegemoni dalam http://synaps.wordpress.com/2005/12/01/pengantarhegemoni
[8] Muhammad Taufiq Bilfagih, Media dan Hegemoni dalam
http://billfagih.blogspot.com/
2007/09/media-dan-hegemoni.html
[9] Misbahul Hasan, Membincang Benturan Antar Peradaban dalam
http://www.lakpesdam.or. id/index.php?id=105
[10] Wawan Kurniawan, Amerika Serikat, Hegemoni Global dan Dominasi Militer
dalam http://kainsa.wordpress.com/amerika-serikat-hegemoni-global-dan-dominasi-militer
[11] Samuel P. Huntington, Op. Cit., hlm. 336
[12] Edward W. Said, Kebudayaan dan Kekuasaan; Membongkar Mitos Hegemoni
Barat, terj. Rahmani Astuti, Bandung: Mizan, Cet. II, 1996, hlm. 52
[13] I Nengah Duija, Hegemoni Orientalis dan Pengembangan Ilmu Kemanusiaan
dalam http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/10/opini/288298.htm
[14] Oky Syeiful R. Harahap, Loc. Cit.
[15] Wawan Kurniawan, Loc. Cit.
[16] Ibid.
FUNGSI RUANG PUBLIK
BAGI MASYARAKAT DEMOKRATIS
Tidak ada demokrasi tanpa ruang publik yang kritis! Pernyataan itu kiranya tidak
berlebihan, terutama jika sadar pentingnya peran partisipasi masyarakat keseluruhan didalam
proses pengaturan politik dan ekonomi yang adil.
Partisipasi masyarakat yang kritis tersebut dapat menemukan salurannya didalam konsep
ruang publik. Memang, ruang publik ini bukanlah konsep khas dari teori demokrasi modern,
tetapi sudah ada sejak dahulu, namun perkembangan kesadaran masyarakat akan kontrol
terhadap negara dan ekonomi semakin menunjukkan betapa penting ruang publik ini dijaga
fungsi kritisnya.
Di negara-negara demokrasi modern, komunikasi dalam ruang publik dapat dibagi

menjadi dua aliran besar (Dahlgren, 1995), yakni melalui media-media yang demokratis, yang
juga melibatkan proses komunikasi berbasiskan komputer (CMC), dan gerakan-gerakan sosial
yang menggunakan media ini secara efektif untuk menciptakan perubahan sosial. Pada tulisan
ini, saya akan memfokuskan diri pada yang pertama.
Untuk memperdalam wacana sampai menyentuh akar-akar epistemologis maupun
ontologisnya, saya akan menggunakan kerangka pemikiran filsuf Jerman Jrgen Habermas,
terutama dalam karyanya The Structural Transformation of Public Sphere.
I.

Ruang public
Habermas merumuskan unsur normatif dari ruang publik, yakni sebagai bagian
dari kehidupan sosial, dimana setiap warga negara dapat saling berargumentasi tentang
berbagai masalah yang terkait dengan kehidupan publik dan kebaikan bersama, sehingga
opini publik dapat terbentuk. Ruang publik ini dapat terwujud, ketika warga berkumpul
bersama untuk berdiskusi tentang masalah-masalah politik.
Refleksi Habermas tentang ruang publik berdasarkan deskripsi historisnya selama
abad ke-17 dan ke-18, ketika cafe-cafe, komunitas-komunitas diskusi, dan salon menjadi
pusat berkumpul dan berdebat tentang masalah-masalah politik. Refleksi atas deskripsi
historis tersebut diperluas Habermas untuk merumuskan konsep ideal partisipasi publik
didalam masyarakat demokratis dewasa ini.
Arti penting dari refleksi Habermas ini terletak pada konsepsinya tentang proses
diskursus, yang diidealkannya haruslah berbentuk perdebatan yang rasional dan kritis.
Perdebatan ini dipagari oleh aturan-aturan yang melarang penggunaan bahasa yang
bersifat emotif, dan fokus terhadap isi serta kerangka yang rasional saja.
Partisipan debat juga diharuskan memiliki kepentingan bersama atas kebenaran,
yang berarti mereka juga harus dapat menunda perbedaan status, sehingga mereka
berbicara dalam keadaan setara. Sikap kritis juga merupakan salah satu unsur kunci yang
memegang peranan, sehingga berbagai bentuk argumentasi yang disodorkan dapat diuji
melalui debat publik, dan partisipan dapat menemukan makna secara bersama sebagai
hasil dari proses debat rasional kritis tersebut (calhoun, 1993).

II.

Media dan Demokrasi


Habermas juga sangat menekankan peran kritis dari media didalam ruang publik.
Ia membedakan antara media dimasa-masa awal yang memusatkan diri pada berbagai isu
kontroversi dan debat politik rasional, dan media dewasa ini yang seringkali menjadikan
berita sebagai barang dagangan saja.
Ia kemudian mendeskripsikan perkembangan surat kabar pada awal abad ke-17 di
Jerman, dan berkomentar pers telah pertama kali dalam sejarah menciptakan badan
publik yang kritis yang terlibat dalam debat kritis tentang masalah-masalah politik
(Habermas, 1989) Kondisi semacam itu tidak bertahan lama.
Kontroversi semakin berkurang didalam media dewasa ini. Media tidak lagi
mengambil posisi dan berargumentasi atas posisinya, melainkan menghindar, karena
menurut mereka, semakin mereka mengambil jarak, semakin berita itu akan mengandung

kebenaran.
Editorial diberbagai media jarang sekali menyediakan ruang yang kondunsif untuk
menciptakan debat politik rasional kritis yang melibatkan warga negara lainnya.
(Calhoun, 1993)
III.

Masalah Peran Media


Peran dari media tradisional, seperti televisi, majalah, dan surat kabar, didalam
masyarakat demokratis tampak semakin problematik. Problematikanya terletak pada
sejauh mana media tersebut mampu menjadi tempat bagi sikap kritis publik ataupun
debat rasional tentang berbagai problem yang berkaitan dengan kehidupan bersama.
Demokrasi memang telah menjadi ideologi dominan didalam kehidupan politik
modern. Akan tetapi, jarak antara perumusan ideologi yang luhur dengan implementasi
praktisnya tampak sangat jelas, sehingga semakin banyak orang yang bertanya, apakah
cita-cita ideal demokrasi dapat tercapai, terutama dengan meningkatkan peran praksis
komunikatif didalam ruang publik? (Blumler dan Gurevitch)
Banyak pusat dari ruang publik masih ada sampai sekarang, seperti cafe, salon,
tetapi kini tempat tersebut tidak lagi menjadi ruang untuk partisipasi masyarakat untuk
melakukan debat rasional. Habermas sendiri juga menyatakan bahwa televisi dan
berbagai media elektronik telah mengisolasikan warga negara dari warga negara lainnya,
sehingga ruang publik telah kehilangan fungsi politiknya. (Poster, 1993)
Alih-alih menjadi ruang bagi partisipasi masyarakat didalam debat rasional, media
telah melakukan proses reifikasi terhadap berita-berita yang mereka tayangkan, yakni
menjadikan media sebagai ruang iklan, dimana politisi dapat menjual ide-ide mereka
untuk dibeli oleh rakyat. Konsekuensinya, politisi jujur yang tidak sering tampil di media
serta secara aktif menjual ide-idenya di televisi akan cepat kehilangan pamornya,
seberapapun jenius ide-ide yang dikembangkannya.
Politisi yang tidak bisa menjadi selebriti media akan mendapatkan nasib yang
sama. Dengan demikian, berbagai debat publik di televisi ataupun di koran tidak
memenuhi syarat-syarat dari debat rasional kritis yang dirumuskan oleh Habermas.

IV.

Partisipasi tanpa Perubahan


Berbagai peristiwa dimanipulasi sedemikian rupa untuk memenuhi standar tayang
yang memukau penonton. Perdebatan telah diatur terlebih dahulu, sehingga dapat
menimbulkan efek dramatis terhadap para penontonnya, dapat meningkatkan rating,
tetapi tidak memberikan kontribusi nyata bagi pemahaman publik tentang inti
permasalahan, ataupun menyumbang didalam proses pembentukan opini publik yang
otentik.
Tema-tema politik yang diperdebatkan bukanlah yang penting bagi masyarakat,
tetapi topik yang paling laku dijual, yang paling banyak menyerap penonton, dan paling
banyak menyerap iklan. Semua hal ini membuat debat publik di televisi dan surat kabar
menjadi sebentuk partisipasi semu, yang tidak menyumbangkan apapun bagi
perkembangan kesadaran publik.

Program debat politik pun dapat juga ditelaah sebagai upaya untuk menciptakan
semacam ilusi kolektif dari partisipasi kritis publik, yang membuat warga seolah-olah
merasa bahwa hak-hak politik demokratis mereka telah terpenuhi. (Dahlgren, 1995)
V.

Peran Ruang publik didalam demokrasi


Habermas menekankan bahwa pendapat pribadi seseorang, setelah
disosialisasikan secara publik, belumlah dapat dijadikan sebagai opini publik hasil proses
debat didalam ruang publik. Opini semacam itu belumlah menempuh proses
pembentukan opini melalui debat kritis rasional.
Ia juga menyatakan bahwa jika demokrasi ingin diterapkan didalam masyarakat
kompleks dan majemuk seperti dewasa ini, proses mencapai kesepakatan bersama
melalui kehadiran fisik partisipaan haruslah dilampaui, yakni warga negara, yang karena
berbagai alasan tidak bisa hadir secara fisik didalam proses deliberasi, dapat
menyumbangkan opininya secara tidak langsung, yakni secara virtual. (Habermas, 1990)
Virtualitas kehadiran partisipan tersebut bukanlah tanpa kritik. Habermas sendiri
melihat kemunduran akibat rekayasa media atas subyek partisipan, dan kemudian
menjatuhkan semua tanggungjawab pada para wartawan, yang kerap kali memanipulasi
data untuk mendapatkan berita yang lebih sensional, dan lebih menjual.
Kondisi semacam itu tidak akan pernah dapat menciptakan suatu bentuk opini
publik yang otentik, yang sungguh-sungguh mengena ke inti permasalahan, dan
kemudian mencari solusi dari inti permasalah tersebut. Opini publik yang otentik hanya
dapat terbentuk, jika partisipan rasional ikut serta didalam debat politik rasional, yang
menyangkut kepentingan bersama diantara pihak-pihak yang berbeda secara rasional.
Proses komunikasi masyarakat, sesuai dengan ide akarnya, adalah sebuah prinsip
demokrasi yang tidak hanya mengandaikan bahwa semua orang dapat berbicara, dengan
kesempatan yang sama, tentang persoalan pribadinya, keinginan dan keyakinannya,
proses komunikasi yang otentik hanya dapat dicapai didalam kerangka bahwa semua
pendapat pribadi ataupun kelompok dapat berkembang didalam debat rasional kritis dan
kemudian membentuk opini publik. (Habermas, 1989)
Pada awal abad ke-19, opini publik yang terbentuk dari debat rasional kritis
menjadi proses resmi didalam parlemen-parlemen di Jerman dan Inggris. Berbagai pidato
politik dibacakan didepan parlemen, seperti yang juga dilakukan sekarang, dengan
pertimbangan rasional atas kepentingan publik sebagai keseluruhan, sehingga
pengaruhnya semakin besar didalam kehidupan masyarakat untuk mendorong kemajuan
di semua bidang kehidupan sosial. (Habermas, 1989)
Pembentukan opini publik dengan segala mekanismenya melampaui periklanan
belaka. Opini publik dapat terbentuk dengan secara sistematis menciptakan isu-isu krusial
dan substansial yang menyangkut kepentingan masyarakat sebagai keseluruhan
(Habermas, 1989)
Didalam upayanya untuk membentuk opini publik yang otentik, media tampak
belum maksimal menjalankan fungsinya, terutama karena media tidak memberikan ruang
yang cukup untuk proses debat rasional, dan proses diskursif didalam pembentukan opini,

dan yang lebih penting lagi didalam proses pembentukan kehendak politik. Proses
komunikasi didalam ruang publik berarti proses pembentukan opini publik yang otentik,
yang dimatangkan didalam proses debat kritis itu sendiri.
Keputusan politik yang otentik tidak mencerminkan kehendak dari semua,
melainkan hasil dari pertimbangan semua pihak. Ini adalah proses dimana kehendak
semua orang dibentuk dan dirundingkan untuk menjamin legitimitas dari hasilnya,
daripada kumpulan semua kehendak yang sudah ada sebelumnya. (Habermas, 1989)
Menurut Habermas, upaya untuk merevitalisasi ruang publik terletak pada upaya
pembentukan konsensus rasional bersama, daripada memanipulasi opini masyarakat
umum demi kepentingan kekuasaan ataupun peraihan keuntungan finansial semata.
Untuk itu, ia membedakan dua macam opini publik, yakni sebagai opini publik yang
bersikap kritis terhadap kekuatan politik dan ekonomi, dan opini publik yang dapat
dimanipulasi untuk mendukung orang-orang, institusi, ataupun ideologi tertentu, yang
notabene ini bukanlah opini publik sama sekali.
Ruang publik memiliki fungsi yang sangat besar didalam masyarakat demokratis,
yakni sebagai ruang dimana opini publik yang otentik, yang bersikap kritis terhadap
kekuatan politik maupun ekonomi demi mencapai keseimbangan dan keadilan sosial,
dapat terbentuk dan tersebar luas kepada seluruh warga negara, sekaligus sebagai
penekan terhadap segala bentuk manipulasi ruang publik, yang seringkali digunakan
untuk membenarkan aspek kekuasaan tertentu, dan itu juga berarti, membenarkan
ketidakadilan tertentu.
a. Pemikiran Filosofis
Jurgen Habermas merupakan tokoh terakhir dari Mazhab Frankfurt dan juga yang
masih hidup sampai sekarang. Ketika Mazhab Frankfurt secara resmi sudah tidak ada lagi
dan teori yang ditawarkan kepada masyarakat berakhir dengan sikap yang
pesimis.Namun, Jurgen Habermas telah menghidupkan kembali Mazhab Frankfurt dan
melanjutkan kembali teori kritis yang menjadi proyek dari para pendahulunya (Max
Horkheimer,Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse). Bukan hanya teori krits yang
dilanjutkan oleh Jurgen Habermas, ada banyak hal yang diberikan oleh Jurgen Habermas
dalam dunia filsafat dewasa ini.
b. Teori Kritis
Menurut Jurgen Habermas, teori kritis bukanlah teori ilmiah, yang biasa dikenal
dikalangan publik akademis dalam masyarakat kita. Jurgen Habermas menggambarkan
Teori kritis sebagai suatu metodologi yang berdiri di dalam ketegangan dialektis antara
filsafat dan ilmu pengetahuan (sosiologi). Teori Kritis tidak hanya berhenti pada faktafakta objektif, yang umumnya dianut oleh aliran positivistik. Teori krtis berusaha
menembus realitas sosial sebagai fakta sosiologis, untuk menemukan kondisi yang
bersifat trasendental yang melampaui data empiris.Dapat dikatakan, Teori kritis
merupakan kritik ideolog.Teori kitis ini dilahirkan oleh Mazhab Frankfurt memiliki
maksud membuka seluruh selubung ideologis dan irasionalisme yang telah melenyapkan

kebebasan dan kejernihan berpikir manusia modern.Akan tetapi, semua itu konsep Teori
Kritis yang ditawarkan oleh para pendahulu Jurgen Habermas (Max Horkheimer,
Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse) mengalami sebuah kemacetan atau berakhir
dengan kepesimisan. Akan tetapi, teori ini tidak berakhir begitu saja, Jurgen Habermas
sebagai penerus Mazhab Frankfurt akan membangkitkan kembali teori tersebut dengan
sebuah paradigma baru.
c. Teori Kritis Dengan Paradigma Baru
Jurgen Habermas menambahkan konsep komunikasi di dalam Teori Kritis
tersebut. Menurut Jurgen Habermas, komunikasi dapat menyelesaikan kemacetan Teori
kritis yang ditawarkan oleh pendahulunya. Jurgen Habermas membedakan antara
pekerjaan dan komunikasi (interaksi). Pekerjaan merupakan tindakan instrumental, jadi
sebuah tindakan yang bertujuan untuk mencapai sesuatu. Sedangkan komunikasi adalah
tindakan saling pengertian. Dalam tradisi Mazhab Frankfurt, teori dan praksis tidak dapat
dipisahkan. Praksis dilandasi kesadaran rasional, rasio tidak hanya tampak dalam
kegiatan-kegiatan yang berkerja melulu, melainkan interaksi dengan orang lain
menggunakan bahasa sehari-hari. Selain itu juga, para pendahulunya memandang
rasionalitas sebagai penaklukan, kekuasaan.
Kedua hal itulah yang membuat kemacetan dalam Teori Kritis menurut Jurgen
Habermas. Pandangan ini telah membuat sudut pandang masyarakat tentang krtik dengan
penaklukan itu sama dan praksis dengan penaklukan itu sama. Jurgen Habermas
berpendirian kritik hanya dapat maju dengan rasio komunikatif yang dimengerti sebagai
praksis komunikatif atau tindakan komunikatif. Masyarakat komunikatif bukanlah
masyarakat yang melakukan kritik melalui revolusi atau kekersan, tetapi melalui
argumentasi. Kemudian Habermas membedakan dua macam argumentasi, yaitu:
perbincangan atau diskursus dan kritik